Anda di halaman 1dari 23

SEJARAH FOTOGRAFI DUNIA http://www.pasarkreasi.com/news/detail/photography/67/sejarah-fotografi-dunia Fotografi ialah lukisan melalui cahaya.

Tanpa cahaya seni foto ini tidak akan berfungsi. Istilah Photography dicipta pada tahun 1839. Ketika teknologi seni foto terus berkembang bersama dengan kemajuan manusia, ilmu sangat penting bagi menjamin mutu kerja seorang seniman foto (Photografer). Dalam buku The History of Photography karya Alma Davenport, terbitan University of New Mexico Press tahun 1991, disebutkan bahwa pada abad ke-5 Sebelum Masehi (SM), seorang lelaki berkebangsaan Cina bernama Mo Ti sudah mengamati sebuah gejala fotografi. Apabila pada dinding ruangan yang gelap terdapat lubang kecil (pinhole), maka di bagian dalam ruang itu pemandangan yang ada di luar akan terefleksikan secara terbalik lewat lubang tadi. Selang beberapa abad kemudian, banyak ilmuwan menyadari serta mengagumi fenomena pinhole tadi. Bahkan pada abad ke-3 SM, Aristoteles mencoba menjabarkan fenomena pinhole tadi dengan segala ide yang ia miliki, lalu memperkenalkannya kepada kyalayak ramai. Aristoteles merentangkan kulit yang diberi lubang kecil, lalu digelar di atas tanah dan memberinya jarak untuk menangkap bayangan matahari. Dalam eksperimennya itu, cahaya dapat menembus dan memantul di atas tanah sehingga gerhana matahari dapat diamati. Khalayak pun dibuat terperangah. Selanjutnya, pada abad ke-10 Masehi, seorang ilmuwan muslim asal Irak yang bernama Ibnu Al-Haitham juga menemukan prinsip kerja kamera seperti yang ditemukan Mo Ti. Ia pun mulai meneliti berbagai ragam fenomena cahaya, termasuk sistem penglihatan manusia. Lalu, Haitham bersama muridnya, Kamal ad-Din, untuk pertama kali memperkenalkan fenomena obscura kepada orang-orang di sekelilingnya. Waktu itu, obscura yang ia maksud adalah sebuah ruangan tertutup yang di salah satu sisinya terdapat sebuah lubang kecil sehingga seberkas cahaya dapat masuk dan membuat bayangan dari benda-benda yang ada di depannya. Tak heran, pada abad ke-11 M, orang-orang Arab sudah memakainya sebagai hiburan dengan menjadikan tenda mereka sebagai kamera obscura. Kemudian kamera obscura mulai diteliti lagi oleh Leonardo da Vinci, seorang pelukis dan ilmuwan, pada akhir abad ke-15. Ia menggambar rincian sistem kerja alat yang menjadi asal muasal kata "kamera" itu dan mulai menyempurnakannya. Pada mulanya kamera ini tidak begitu

diminati karena cahaya yang masuk amat sedikit, sehingga bayangan yang terbentuk pun samarsamar. Penggunaan kamera ini baru populer setelah lensa ditemukan pada tahun 1550. Dengan lensa pada kamera ini, maka cahaya yang masuk ke kamera dapat diperbanyak, dan gambar dapat dipusatkan sehingga menjadi lebih sempurna. Pada tahun 1575, para ilmuwan berhasil membuat kamera portable yang pertama. Tapi kamera buatan yang sangat kuno ini tetap hanya bisa digunakan untuk menggambar. Lalu pada tahun 1680 lahir kamera refleks pertama yang penggunaannya juga masih untuk menggambar, tapi sudah memiliki sedikit kemajuan. Tapi, lantaran bahan baku untuk mengabadikan bendabenda yang berada di depan lensa belum ditemukan, maka kamera ini juga masih dipakai untuk mempermudah proses penggambaran benda.

Joseph Nicephore Niepce Sejarah penemuan film baru dimulai pada tahun 1826. Joseph Nicephore Niepce, seorang veteran Perancis, bereksperimen menggunakan kamera obscura dan plat logam yang dilapisi bahan aspal untuk mengabadikan gambar sebuah obyek. Setelah 8 jam mengekspos pemandangan dari jendela kamarnya melalui proses Heliogravure, ia berhasil melahirkan sebuah imaji yang agak kabur dan mempertahankan gambar secara permanen. Keberhasilannya itu dianggap sebagai awal dari sejarah fotografi. Gambar yang dibuat oleh Niepce itu diberi judul View from The Window at Le Gras dan menjadi foto pertama yang pernah ada di dunia. Kalau nama Niepce tercatat sebagai fotografer pertama yang mengabadikan sebuah gambar, Louis J.M. Daguerre adalah orang yang pertama kali membuat foto yang di dalamnya terdapat sosok manusia. Pada foto yang diambil dari jarak jauh di tahun 1839 itu, tampak seseorang lelaki sedang berdiri dan mengangkat salah satu kaki saat sepatunya sedang

dibersihkan oleh orang lain di pinggir sebuah jalan raya. Daguerre dinobatkan sebagai orang pertama yang berhasil membuat gambar permanen pada lembaran plat tembaga perak yang dilapisi larutan iodin, lalu disinari selama satu setengah jam dengan pemanas mercuri (neon). Proses ini disebut daguerreotype. Untuk membuat gambar permanen, pelat itu dicuci dengan larutan garam dapur dan air suling. Percobaan-demi percobaan terus berlanjut, sampai akhirnya William Henry Talbott dari Inggris pada 25 Januari 1839 memperkenalkan lukisan fotografi yang juga menggunakan kamera obscura, tapi ia membuat foto positifnya pada sehelai kertas chlorida perak. Kemudian, pada tahun yang sama Talbot menemukan cikal bakal film negatif modern yang terbuat dari lembar kertas beremulsi, yang bisa digunakan untuk mencetak foto dengan cara contact print. Teknik ini juga bisa digunakan untuk cetak ulang layaknya film negatif modern. Proses ini disebut Calotype yang kemudian dikembangkan menjadi Talbotypes. Untuk menghasilkan gambar positif, Talbot menggunakan proses Saltprint. Gambar dengan film negatif pertama yang dibuat Talbot pada Agustus 1835 adalah pemandangan pintu perpustakaan di rumahnya di Hacock Abbey, Wiltshire, Inggris. Penemuan-penemuan teknologi pun semakin bermunculan seiring dengan masuknya fotografi ke dunia jurnalistik. Tapi, lantaran orang-orang jurnalistik belum bisa memasukkan foto ke dalam proses cetak, mereka menyalin foto yang ada dengan menggambarnya memakai tangan. Surat kabar pertama yang memuat gambar dengan teknik ini adalah The Daily Graphic, yakni pada 16 April 1877. Gambar berita pertama dalam surat kabar itu adalah sebuah peristiwa kebakaran. Kemudian, ditemukanlah proses cetak half tone pada tahun 1880 yang memungkinkan foto dimasukkan ke dalam surat kabar. Foto paling pertama yang ada di surat kabar adalah foto tambang pengeboran minyak Shantytown yang muncul di surat kabar New York Daily Graphic di Amerika Serikat pada tanggal 4 Maret 1880. Foto itu adalah karya Henry J Newton. Fotografi kemudian berkembang dengan sangat cepat. Menurut Szarkowski dalam Hartoyo (2004: 22), arsitek utama dunia fotografi modern adalah seorang pengusaha bernama George Eastman. Melalui perusahaannya yang bernama Kodak Eastman, George Eastman

mengembangkan fotografi dengan menciptakan serta menjual roll film dan kamera boks yang praktis. Saat itu, dunia fotografi sudah mengenal perbaikan lensa, shutter, film, dan kertas foto. Penemuan-penemuan tersebut telah mempermudah orang mengabadikan benda-benda yang

berada di depan lensa dan mereproduksinya. Dengan demikian, para fotografer, baik amatir maupun profesional, bisa menghasilkan suatu karya seni tinggi tanpa terhalang oleh keterbatasan teknologi. Pada Tahun 1900 seorang juru gambar telah menciptakan kamera Mammoth. Ukuran kamera ini amat besar. Beratnya 1,400 pon, sedangkan lensanya memiliki berat 500 pon. Untuk mengoperasikan atau memindahkannya, sang fotografer membutuhkan bantuan 15 orang. Kamera ini menggunakan film sebesar 4,5 x 8 kaki dan membutuhkan bahan kimia sebanyak 10 galon ketika memprosesnya.

Orang paling pertama yang ada di foto sejak kamera dibuat.

Lalu, pada tahun 1950, pemakaian prisma untuk memudahkan pembidikan pada kamera Single Lens Reflex (SLR) mulai ramai. Dan di tahun yang sama, Jepang mulai memasuki dunia fotografi dengan memproduksi kamera NIKON. Di tahun 1972, kamera Polaroid yang ditemukan oleh Edwin Land mulai dipasarkan. Kamera Polaroid ini mampu menghasilkan gambar tanpa melalui proses pengembangan dan pencetakan film.

Kemajuan teknologi turut memacu fotografi dengan sangat cepat. Kalau dulu kamera sebesar tenda hanya bisa menghasilkan gambar yang tidak terlalu tajam, kini kamera digital yang cuma sebesar dompet mampu membuat foto yang sangat tajam dalam ukuran sebesar koran.

SEJARAH FOTOGRAFI INDONESIA Perkembangan fotografi di Indonesia selalu berkaitan dan mengalir bersama momentum sosial-politik perjalanan bangsa ini, mulai dari momentum perubahan kebijakan politik kolonial, revolusi kemerdekaan, ledakan ekonomi di awal 1980-an, sampai Reformasi 1998. Pada tahun 1841, seorang pegawai kesehatan Belanda bernama Juriaan Munich mendapat perintah dari Kementerian Kolonial untuk mendarat di Batavia dengan membawa dauguerreotype. Munich diberi tugas mengabadikan tanaman-tanaman serta kondisi alam yang ada di Indonesia sebagai cara untuk mendapatkan informasi seputar kondisi alam. Sejak saat itu, kamera menjadi bagian dari teknologi modern yang dipakai Pemerintah Belanda untuk menjalankan kebijakan barunya. Penguasaan dan kontrol terhadap tanah jajahan tidak lagi dilakukan dengan membangun benteng pertahanan atau penempatan pasukan dan meriam, melainkan dengan cara menguasai teknologi transportasi dan komunikasi modern. Dalam kerangka ini, fotografi menjalankan fungsinya lewat pekerja administratif kolonial, pegawai pengadilan, opsir militer, dan misionaris. Latar itulah yang menjelaskan mengapa selama 100 tahun keberadaan fotografi di Indonesia (1841-1941) penguasaan alat ini secara eksklusif ada di tangan orang Eropa, sedikit orang Cina, dan Jepang. Berdasarkan survei dan hasil riset di studio foto-foto komersial di Hindia Belanda tentang foto-foto yang ada sejak tahun 1850 hingga 1940, dari 540 studio foto di 75 kota besar dan kecil, terdapat 315 nama orang Eropa, 186 orang Cina, 45 orang Jepang, dan hanya empat orang lokal Indonesia, salah satunya adalah Kasian Cephas. Kasian Cephas adalah warga lokal asli. Ia dilahirkan pada tanggal 15 Februari 1844 di Yogyakarta. Cephas sebenarnya adalah asli pribumi yang kemudian diangkat sebagai anak oleh pasangan Adrianus Schalk dan Eta philipina Kreeft, lalu disekolahkan ke Belanda. Cephas-lah yang pertama kali mengenalkan dunia fotografi ke Indonesia. Meski demikian, literatur-literatur sejarah Indonesia sangat jarang menyebut namanya sebagai pribumi pertama yang berkarir

sebagai fotografer profesional. Nama Kassian Cephas mulai terlacak dengan karya fotografi tertuanya buatan tahun 1875. Dibutuhkan waktu hampir seratus tahun bagi bangsa ini untuk benar-benar mengenal dunia fotografi. Masuknya Jepang pada tahun 1942 telah menciptakan kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk menyerap teknologi ini. Demi kebutuhan propagandanya, Jepang mulai melatih orang Indonesia menjadi fotografer untuk bekerja di kantor berita mereka, Domei. Pada saat itulah muncul nama Mendur Bersaudara. Merekalah yang membentuk imaji baru tentang bangsa Indonesia. Lewat fotografi, Mendur bersaudara berusaha menggiring mental bangsa ini menjadi bermental sama tinggi dan sederajat. Frans Mendur bersama kakaknya, Alex Mendur, juga menjadi icon bagi dunia fotografer nasional. Mereka kerap merekam peristiwa-peristiwa penting bagi negeri ini, salah satunya adalah mengabadikan detik-detik pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Inilah momentum ketika fotografi benar-benar "sampai" ke Indonesia, ketika kamera berpindah tangan dan orang Indonesia mulai merepresentasikan dirinya sendiri.

SEJARAH FOTOGRAFI INDONESIA http://photographhistory.blogspot.com/ Sejarah fotografi di Indonesia dimulai pada tahun 1857, pada saat 2 orang juru foto Woodbury dan Page membuka sebuah studio foto di Harmonie, Batavia. Masuknya fotografi ke Indonesia tepat 18 tahun setelah Daguerre mengumumkan hasil penelitiannya yang kemudian disebut-sebut sebagai awal perkembangan fotografi komersil. Studio fotopun semakin ramai di Batavia. Dan kemudian banyak fotografer professional maupun amatir mendokumentasikan hiruk pikuk dan keragaman etnis di Batavia.

Kamera Daguerre

Masuknya fotografi di Indonesia adalah tahun awal dari lahirnya teknologi fotografi, maka kamera yang adapun masih berat dan menggunakan teknologi yang sederhana. Teknologi kamera pada masa itu hanya mampun merekam gambar yang statis. Karena itu kebanyakan foto kota hasil karya Woodbury dan Page terlihat sepi karena belum memungkinkan untuk merekam gambar yang bergerak. Terkadang fotografer harus menggiring pedagang dan pembelinya ke dalam studio untuk dapat merekam suasana hirup pikuk pusat perbelanjaan. Oleh sebab itu telihat bahwa pedagang dan pembelinya beraktifitas membelakangi sebuah layar. Ini karena teknologi kamera masih sederhana dan masih riskan jika terlalu sering dibawa kemana-mana. Pada tahun 1900an, muncul penemuan kamera yang lebih sederhana dan mudah untuk dibawa kemana-mana sehingga memungkinkan para fotografer untuk melakukan pemotretan outdoor. Bisa dibilang ini adalah awal munculnya kamera modern.Karena bentuknya yang lebih sederhana, kamera kemudian tidak dimiliki oleh fotografer saja tetapi juga dimiliki oleh masyarakat awam. Banyak karya-karya fotografer maupun masyarakat awam yang dibuat pada masa awal perkembangan fotografi di Indonesia tersimpan di Museum Sejarah Jakarta. Seperti namanya, museum ini hanya menghadirkan foto-foto kota Jakarta pada jaman penjajahan Belanda saja. Karena memang perkembangan teknologi fotografi belum masuk ke daerah. Salah satu foto yang dipamerkan adalah suasana Pasar Pagi, Glodok, Jakarta pada tahun 1930an. Pada awal dibangun,

pasar ini hanya diisi oleh beberapa lapak pedagang saja. Ini berbeda dengan kondisi sekarang dimana Glodok merupakan pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta.

Kassian Cephas (1844-1912): Yang Pertama, yang Terlupakan Cephas lahir pada 15 Januari 1845 dari pasangan Kartodrono dan Minah. Ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah anak angkat dari orang Belanda yang bernama Frederik Bernard Fr. Schalk. Cephas banyak menghabiskan masa kanak-kanaknya di rumah Christina Petronella Steven (siapa). Cephas mulai belajar menjadi fotografer profesional pada tahun 1860-an. Ia sempat magang pada Isidore van Kinsbergen, fotografer yang bekerja di Jawa Tengah sekitar 1863-1875. Tapi berita kematian Cephas di tahun 1912 menyebutkan bahwa ia belajar fotografi kepada seseorang yang bernama Simon Willem Camerik.

Kassian Cephas

Kassian Cephas memang bukan tokoh nasional yang dulunya menenteng senjata atau berdiplomasi menentang penjajahan bersama politikus pada zaman sebelum dan sesudah kemerdekaan. Ia hanyalah seorang fotografer asal Yogyakarta yang eksis di ujung abad ke-19, di mana dunia fotografi masih sangat asing dan tak tersentuh oleh penduduk pribumi kala itu. Nama Kassian Cephas mungkin baru disebut bila foto-foto tentang Sultan Hamengku Buwono VII diangkat sebagai bahan perbincangan.Dulu, Cephas pernah menjadi fotografer khusus Keraton pada masa kekuasaan Sultan Hamengku Buwono VII. Karena kedekatannya dengan pihak Keraton, maka ia bisa memotret momen-momen khusus yang hanya diadakan di Keraton pada

waktu itu. Hasil karya foto-fotonya itu ada yang dimuat di dalam buku karya Isaac Groneman (seorang dokter yang banyak membuat buku-buku tentang kebudayaan Jawa) dan buku karangan Gerrit Knaap (sejarawan Belanda yang berjudul "Cephas, Yogyakarta: Photography in the Service of the Sultan".

Sultan Hamengku Buwono VII karya Kassian Cephas

Dari foto-fotonya tersebut, bisa dibilang bahwa Cephas telah memotret banyak hal tentang kehidupan di dalam Keraton, mulai dari foto Sultan Hamengku Buwono VII dan keluarganya, bangunan-bangunan sekitar Keraton, upacara Garebeg di alun-alun, iring-iringan benda untuk keperluan upacara, tari-tarian, hingga pemandangan Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Tidak itu saja, bahkan Cephas juga diketahui banyak memotret candi dan bangunan bersejarah lainnya, terutama yang ada di sekitar Yogyakarta. Berkaitan dengan kegiatan Cephas memotret kalangan bangsawan Keraton, ada cerita yang cukup menarik. Zaman dulu, dari sekian banyak penduduk Jawa waktu itu, hanya segelintir saja rakyat yang bisa atau pernah melihat wajah rajanya. Tapi, dengan foto-foto yang dibuat Cephas, maka wajah-wajah raja dan bangsawan bisa dikenali rakyatnya.

Masa-Masa Keemasan Cephas

Cephas pernah terlibat dalam proyek pemotretan untuk penelitian monumen kuno peninggalan zaman Hindu-Jawa, yaitu kompleks Candi Loro Jonggrang di Prambanan, yang dilakukan oleh Archeological Union di Yogyakarta pada tahun 1889-1890. Saat bekerja, Cephas banyak dibantu oleh Sem, anak laki-lakinya yang juga tertarik pada dunia fotografi. Cephas juga membantu memotret untuk lembaga yang sama ketika dasar tersembunyi Candi Borobudur mulai ditemukan. Ada sekitar 300 foto yang dibuat Cephas dalam proyek penggalian itu. Pemerintah Belanda mengalokasikan dana 9.000 gulden untuk penelitian tersebut. Cephas dibayar 10 gulden per lembar fotonya. Ia mengantongi 3.000 gulden (sepertiga dari seluruh uang penelitian), jumlah yang sangat besar untuk ukuran waktu itu.

Beberapa foto seputar candi tersebut dijual Cephas. Alhasil, foto-foto buah karyanya itu menyebar dan terkenal. Ada yang digunakan sebagai suvenir atau oleh-oleh bagi para elite Belanda yang akan pergi ke luar kota atau ke Eropa. Album-album yang berisi foto-foto Sultan dan keluarganya juga kerap diberikan sebagai hadiah untuk pejabat pemerintahan seperti presiden. Hal itu tentunya membuat Cephas dikenal luas oleh masyarakat kelas tinggi, dan memberinya keleluasaan bergaul di lingkungan mereka. Karena kedekatan dengan lingkungan elite itulah sejak tahun 1888 Cephas memulai prosedur untuk mendapatkan status "equivalent to Europeans" (sama dengan orang Eropa) untuk dirinya sendiri dan anak laki-lakinya: Sem dan Fares.

Cephas adalah salah satu dari segelintir pribumi yang waktu itu bisa menikmati keistimewaan-keistimewaan dan penghargaan dari masyarakat elite Eropa di Yogyakarta.

Mungkin itu sebabnya karya-karya foto Cephas sarat dengan suasana menyenangkan dan indah. Model-model cantik, tari-tarian, upacara-upacara, arsitektur rumah tempo dulu, dan semua hal yang enak dilihat selalu menjadi sasaran bidik kameranya. Bahkan, rumah dan toko milik orangorang Belanda, lengkap dengan tuan-tuan dan noni-noni Belanda yang duduk-duduk di teras rumah, juga sering menjadi obyek fotonya. Sekitar tahun 1863-1875, Cephas sempat magang di sebuah kantor milik Isidore van Kinsbergen, fotografer yang bekerja di Jawa Tengah. Status sebagai fotografer resmi baru ia sandang saat bekerja di Kesultanan Yogyakarta. Sejak menjadi fotografer khusus Kesultanan itulah namanya mulai dikenal hingga ke Eropa.

Terlindas Semangat Revolusi Meski demikian, dalam khazanah fotografi Indonesia, nama Kassian Cephas tidak seharum nama Mendur bersaudara, yakni Frans Mendur dan Alex Mendur. Mereka berdua adalah fotografer yang dianggap sangat berjasa bagi perjalanan bangsa ini. Merekalah yang mengabadikan momen-momen penting saat Soekarno membacakan proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Karya-karya mereka lebih disorot masyarakat Indonesia karena dianggap kental dengan suasana heroik yang memang pada masa itu sangat dibutuhkan. Foto-foto monumental karya Mendur Bersaudara, mulai dari foto Bung Tomo yang sedang berpidato dengan semangat berapi-api di bawah payung, foto Jenderal Sudirman yang tak lepas dari tandunya, foto sengitnya pertempuran di Surabaya, hingga foto penyobekan bendera Belanda di Hotel Savoy, menjadi alat perjuangan bangsa dan menjadi bukti sejarah terbentuknya negara ini. Di awal-awal kemerdekaan dan revolusi, tentu saja foto-foto Mendur Bersaudara tadi terus diproduksi oleh penguasa dan pelaku sejarah untuk mengawal semangat bangsa ini. Fotofoto karya mereka dicetak dalam buku-buku sejarah dan menjadi bacaan wajib siswa sekolah, mulai dari tingkat dasar sampai tingkat doktoral. Sementara foto-foto Cephas yang penyebarannya sangat terbatas lebih cocok masuk ke museum atau dikoleksi oleh orang-orang yang menjadi kliennya atau para kolektor. Kandungan foto karya Cephas dinilai tidak mendukung suasana pergolakan yang tengah berlangsung saat itu. Bahkan foto-fotonya yang menonjolkan tentang keindahan Indonesia, potret raja-raja dan

londo-londo, serta para bangsawan dipandang sebagai pro status quo. Makanya fotonya jarang dilirik. Perbedaan zamanlah yang membuat foto-foto karya Cephas dan Mendur Bersaudara saling bertolak belakang. Kalau foto karya Mendur Bersaudara memperlihatkan sosok Bung Karno yang hangat, flamboyan, dan penuh semangat kerakyatan, justru foto buatan Cephas menampilkan sosok raja yang dingin, sombong, dan sangat feodal. Bila foto-foto para pejuang wanita yang juga anggota palang merah di kancah pertempuran disuguhkan Mendur Bersaudara, justru foto-foto gadis cantik, manja, dan ayulah yang ditawarkan Cephas. Maka wajar bila fotofoto Mendur Bersaudara dicari dan dilirik orang, sedangkan foto-foto Cephas tenggelam dalam pelukan para kolektor. Kini Kassian Cephas hanya tinggal kenangan. Foto-foto tentang dirinya pun tersembunyi entah di mana. Hanya ada satu buah foto yang menjadi bukti bahwa ia pernah ada, yakni foto dirinya setelah menerima bintang jasa Orange-Nassau dari Ratu Wilhelmina pada tahun 1901

Sejarah fotografi http://id.wikipedia.org/wiki/Fotografi Kronologi perkembangan fotografi dimulai dengan:

1822 Joseph Nicphore Nipce membuat foto Heliografi yang pertama dengan subyek Paus Pius VII, menggunakan proses heliografik. Salah satu foto yang bertahan hingga sekarang dibuat pada tahun 1825.[1]

1826 Joseph Nicphore Nipce membuat foto pemandangan yang pertama,[1] yang dibuat dengan pajanan selama 8 jam. 1835 William Henry Fox Talbot menemukan proses fotografi yang baru. 1839 Louis Daguerre mematenkan daguerreotype. 1839 William Henry Fox Talbot menemukan proses positif/negatif yang disebut Tabotype.

1839

John

Herschel

menemukan

film

negatif

dengan

larutan

Sodium

thiosulfate/hyposulfite of soda yang disebut hypo atau fixer.

1851 Frederick Scott Archer memperkenalkan proses koloid.

1854 Andr Adolphe Eugne Disdri memperkenalkan rotating camera yang dapat merekam 8 citra berbeda dalam satu film. Setelah hasilnya dicetak di atas kertas albumen, citra tersebut dipotong menjadi 8 bagian terpisah dan direkatkan pada lembaran kartu. Kartu ini menjadi inspirasi penyebutan (fr:carte de visite, bahasa Inggris:visiting card)

1861 Foto berwarna yang pertama diperkenalkan James Clerk Maxwell. 1868 Louis Ducos du Hauron mematenkan metode subtractive color photography. 1871 Richard Maddox menemukan film fotografis dari emulsi gelatin. 1876 F. Hurter & V. C. Driffield memulai evaluasi sistematis pada kepekaan emulsi fotografis yang kemudian dikenal dengan istilah sensitometri. 1878 Eadweard Muybridge membuat sebuah foto high-speed photographic dari seekor kuda yang berlari. 1887 Film Seluloid yang pertama diperkenalkan. 1888 Kodak memasarkan box camera n1, kamera easy-to-use yang pertama. 1887 Gabriel Lippmann menemukan reproduksi warna pada foto. 1891 Thomas Alva Edison mematenkan kamera kinetoskopis (motion pictures). 1895 Auguste and Louis Lumire menemukan cinmatographe. 1898 Kodak memperkenalkan produk kamera folding Pocket Kodak. 1900 Kodak memperkenalkan produk kamera Brownie. 1901 Kodak memperkenalkan 120 film. 1902 Arthur Korn membuat teknologi phototelegraphy;; yang mengubah citra menjadi sinyal yang dapat ditransmisikan melalui kabel. Wire-Photos digunakan luas di daratan Eropa pada tahun 1910 dan transmisi antarbenua dimulai sejak 1922.

1907 Autochrome Lumire merupakan pemasaran proses fotografi berwarna yang pertama. 1912 Vest Pocket Kodak menggunakan 127 film. 1913 Kinemacolor, sebuah sistem "natural color" untuk penayangan komersial, ditemukan. 1914 Kodak memperkenalkan sistem autographic film. 1920s Yasujiro Niwa menemukan peralatan untuk transmisi phototelegraphic melalui gelombang radio. 1923 Doc Harold Edgerton menemukan xenon flash lamp dan strobe photography.

1925 Leica memperkenalkan format film 35mm pada still photography. 1932 Tayangan berwarna pertama dari Technicolor bertajuk Flowers and Trees dibuat oleh Disney. 1934 Kartrid film 135 diperkenalkan, membuat kamera 35mm mudah digunakan. 1936 IHAGEE membuat Ihagee Kine Exakta 1. Kamera SLR 35mm yang pertama. 1936 Kodachrome mengembangkan multi-layered reversal color film yang pertama. 1937 Agfacolor-Neu mengembangkan reversal color film. 1939 Agfacolor membuat "print" film modern yang pertama dengan materi warna positif/negatif. 1939 View-Master memperkenalkan kamera stereo viewer. 1942 Kodacolor memasarkan "print" film Kodak yang pertama. 1947 Dennis Gabor menemukan holography. 1947 Harold Edgerton mengembangkan rapatronic camera untuk pemerintah Amerika Serikat. 1948 Kamera Hasselblad mulai dipasarkan. 1948 Edwin H. Land membuat kamera instan yang pertama dengan merk Polaroid. 1952 Era 3-D film dimulai. 1954 Leica M diperkenalkan. 1957 Asahi Pentax memperkenalkan kamera SLRnya yang pertama. 1957 Citra digital yang pertama dibuat dengan komputer oleh Russell Kirsch di U.S. National Bureau of Standards (sekarang bernama National Institute of Standards and Technology, NIST). [2]

1959 Nikon F diperkenalkan. 1959 AGFA memperkenalkan kamera otomatis yang pertama, Optima. 1963 Kodak memperkenalkan Instamatic. 1964 Kamera Pentax Spotmatic SLR diperkenalkan. 1973 Fairchild Semiconductor memproduksi sensor CCD skala besar yang terdiri dari 100 baris dan 100 kolom. 1975 Bryce Bayer dari Kodak mengembangkan pola mosaic filter Bayer untuk CCD color image sensor. 1986 Ilmuwan Kodak menemukan sensor dengan kapasitas megapiksel yang pertama.

2005 AgfaPhoto menyatakan bangkrut. Produksi film konsumen bermerk Agfa terhenti. 2006 Dalsa membuat sensor CCD dengan kapasitas 111 megapixel, yang terbesar saat itu. 2008 Polaroid mengumumkan penghentian semua produksi produk film instan berkaitan dengan semakin berkembangnya teknologi citra digital. 2009 - Kodak mengumumkan penghentian film Kodachrome.[2]

Sejarah Ringkas Fotografi Oleh Hasnuddin Abu Samah untuk FOTOTEACHER.COM http://www.fototeacher.com/blog/artikel-kreativiti/sejarah-ringkas-fotografi/

Adalah penting untuk kita mengetahui sedikit sejarah mengenai fotografi agar kita lebih menghargai dan memahami asas mengenai bidang ini. Pada zaman awal fotografi, manusia lebih memberi tumpuan kepada proses penciptaan kamera itu sendiri. Berbagai proses telah dicipta dan diperkenalkan. Ciptaan-ciptaan awal ini mempunyai berbagai kelemahan yang kemudiannya sentiasa diperbaiki oleh ciptaan-ciptaan lain yang lebih baik. Setelah beberapa lama, apabila kamera menjadi semakin mudah digunakan dan menghasilkan kualiti yang lebih baik, dunia fotografi terus berkembang dengan lahirnya jurufoto-jurufoto yang menggunakan kamera sebagai alat untuk berkarya. Fotografi juga telah berkembang menjadi satu bentuk media visual yang mempunyai nilai seni yang tersendiri. Ianya juga turut memberi faedah yang besar dalam berbagai bidang seperti kewartawanan, pengiklanan, perubatan, pendidikan, pemetaan dan sebagainya.

Penciptaan Kamera Siapakah yang mencipta kamera? Sebenarnya, penciptaan kamera tidak dilakukan oleh seorang individu sahaja. Proses penciptaan kamera ini berlaku secara beransur-ansur selama ratusan tahun melibatkan berbagai pengetahuan dalam ilmu fizik, kimia dan optik. Beberapa orang individu penting telah mencipta beberapa perkara yang akhirnya menyumbang kepada terciptanya kamera pertama yang boleh merakam imej kekal.

Manusia telah lama mengetahui prinsip asas berkaitan fotografi, iaitu sekitar tahun 300 sebelum masihi dimana Aristotle (ahli falsafah Greek) telah menulis mengenai fenomena pembentukan imej yang merupakan asas kepada fungsi sebuah kamera. Pada sekitar abad yang sama, Mo Ti (ahli falsafah Cina) telah mencipta sebuah alat yang berfungsi sebagai sebuah kamera yang ringkas. Tetapi, kamera ini tidak boleh merakam gambar. Seorang lagi tokoh penting yang menyumbang ke arah penciptaan kamera ialah Ibn AlHaytham (Dunia Barat mengenalinya sebagai Alhazen). Beliau adalah seorang saintis muslim yang dianggap sebagai Bapa Optik Moden dan jasanya diiktiraf oleh sarjana Barat. Pada sekitar tahun 1000 masehi, Ibn Al-Haytham telah membina camera obscura dan telah menerangkan secara saintifik mengenai camera obscura, sifat cahaya dan beberapa perkara mengenai optik. Hasil kajian dan penemuan oleh Ibn Al-Haytham dikembangkan lagi oleh saintis barat selepas itu. Pada zaman awal ini, kamera yang dicipta tidak boleh digunakan untuk merakam imej secara kekal. Kamera yang dikenali sebagai camera obscura ini cuma boleh memaparkan imej yang hanya boleh dilihat sahaja. Selepas beberapa lama, kamera ini diperbaiki lagi lalu membolehkan imej yang dilihat itu boleh ditekap bagi dijadikan lukisan. Perkataan camera obscura adalah perkataan yang berasal dari Bahasa Latin dimana camera bermaksud bilik dan obscura bermaksud gelap. Oleh itu, camera obscura bermaksud bilik gelap. Memang pada asalnya, kamera adalah merupakan sebuah bilik yang tertutup dan gelap. Satu lubang kecil akan dibuat pada satu dinding di bilik tersebut bagi membolehkan cahaya masuk. Cahaya yang masuk melalui lubang kecil ini akan membentukkan imej pada satu permukaan yang bertentangan di dalam bilik ini. Kamera yang bersaiz sebuah bilik ini kemudian telah dikecilkan saiznya sehingga ia menjadi mudah alih. Camera obscura seterusnya menjadi semakin popular apabila ianya dijadikan dalam bentuk kotak yang dibuat dari kayu dan bersaiz lebih kecil.

Camera obscura yang telah diperbaiki bersaiz lebih kecil dan mudah alih. Alat ini digunakan untuk menekap imej yang dihasilkan untuk dijadikan lukisan. Sumber foto dari Wikimedia Commons

Penciptaan Kaedah untuk Merakam Imej Foto Kekal Untuk mencipta sebuah kamera adalah tidak begitu sukar. Apa yang lebih sukar adalah untuk merakam imej secara kekal. Pada sekitar tahun 1800, Thomas Wedgewood telah berjaya merakam gambar foto, tetapi gambar tersebut tidak kekal. Foto yang dirakam hanya bertahan selama beberapa saat sahaja sebelum ianya pudar dan terus lenyap. Setelah lebih dari 800 tahun sejak wujudnya camera obscura, manusia masih belum boleh merakam foto yang kekal. Akhirnya, pada tahun 1826(1), Nicephore Niepce telah berjaya merakam foto alam semulajadi(1) yang pertama di dunia secara kekal! Untuk mendapatkan foto ini, Niepce telah menggunakan proses yang diberi nama Heliograph dan telah membuat dedahan cahaya selama 8 jam untuk merakam imej (kamera sekarang boleh merakam foto dengan dedahan cahaya hanya selama 1/125 saat atau lebih cepat) Huraian: (1) Di bahagian belakang foto ini tertera tulisan tahun 1827. Ada pendapat yang mengatakan foto ini dirakam pada tahun tersebut. Ada pula pendapat lain mengatakan, tahun 1827 yang ditulis di bahagian belakang foto itu adalah tahun dimana Niepce menghadiahkan foto itu kepada rakannya, tetapi foto ini sebenarnya dirakam pada tahun 1826. (2) Foto yang lebih awal sebenarnya telah dihasilkan pada tahun 1822 dari objek bukan alam semulajadi, iaitu foto salinan dari lithograph (litograph ialah sejenis teknik cetakan menggunakan goresan) Sumber rujukan: Harry Ransom Center, University of Texas at Austin

Foto yang diberi nama View from the Window ini telah dikenali sebagai foto kekal yang pertama di dunia yang telah dirakam oleh Nicephore Niepce di rumahnya di Perancis. Sumber foto dari Wikimedia Commons Pada tahun 1837, Louis Daguerre telah menunjukkan proses yang dikenali dengan nama Daguerreotype dimana foto boleh dirakam dengan dedahan yang lebih pendek iaitu kurang dari 30 minit. Proses Daguerreotype ini boleh menghasilkan foto yang cantik dan merupakan satu proses yang popular di seluruh dunia pada zaman itu.

Kamera yang digunakan untuk menghasilkan foto dengan proses Daguerreotype. Foto oleh Liudmila & Nelson, Wikimedia Commons Pada tahun 1839, satu lagi penemuan besar dalam fotografi telah dibuat oleh William Henry Fox Talbot. Beliau telah mencipta satu proses yang dinamakan Calotype dimana proses ini boleh menghasilkan imej negatif. Imej negatif ini boleh digunakan untuk mencetak semula imej-imej positif. Ini bermaksud, foto yang dirakam boleh dicetak semula sebanyak mana yang dikehendaki. Proses Calotype ini telah memberi idea asas kepada proses negatif-positif yang

telah digunakan secara meluas dalam era fotografi analog selama lebih dari 100 tahun selepas itu. Selepas proses Calotype diperkenalkan, ada banyak lagi proses lain telah dicipta antaranya ialah Wet Plate Collodion, Ambrotype (Collodion Positive), Tintype, Cyanotype dan beberapa proses lagi. Namun, kesemua proses ini masih tidak cukup sempurna dan ianya tidak begitu mesra pengguna. Kamera yang digunakan bersaiz besar dan berat. Proses menghasilkan foto juga adalah remeh dan memakan masa. Sehinggalah pada tahun 1888, George Eastman menerusi syarikatnya Kodak telah mengeluarkan kamera yang lebih mesra pengguna. Kamera yang diberi nama Kodak No. 1 ini dikilangkan secara besar-besaran untuk kegunaan orang ramai. Kamera ini menggunakan filem negatif dan boleh merakam sehingga 100 keping foto untuk setiap kali isian.

Kamera Kodak No. 2A (Brownie) yang telah diperbaharui dari kamera sebelumnya, iaitu Kodak No. 1. Penghasilan kamera jenis ini telah menjadikan fotografi lebih popular di kalangan orang awam. Foto oleh John Kratz, Wikimedia Commons

Perkembangan Fotografi Analog Kodak telah mencetuskan perubahan dimana fotografi boleh dipraktikkan secara lebih meluas terutamanya di kalangan jurufoto amatur. Dari sini, fotografi semakin berkembang dimana kamera semakin mampu dimiliki dan proses merakam gambar menjadi lebih mudah. Kamera terus menjadi semakin canggih. Secara beransur-ansur, kamera yang beroperasi secara mekanikal diperbaiki dengan penggunaan komponen elektronik. Berbagai kawalan automatik ditambah untuk memudahkan pengguna.

Teknologi fotografi analog (menggunakan filem) digunakan selama lebih dari 100 tahun lamanya. Dalam tempoh ini, bidang fotografi telah menjadi cukup matang, baik dari segi teknologinya mahupun dari segi perkembangan artistiknya.

Kamera Canon New F1, antara kamera analog yang termasyhur di zamannya. Kamera seperti ini banyak digunakan oleh jurufoto profesional pada sekitar tahun 1980an. Foto oleh Richard Hilber, Wikimedia Commons. Fotografi Digital Menurut rekod yang sah, kamera digital pertama dicipta pada tahun 1975 oleh Steve Sasson, seorang jurutera Kodak. Kamera ini boleh menangkap gambar menggunakan CCD (Charge-Coupled Device) dengan 10,000 piksel. Namun, fotografi digital juga dikatakan telah mula digunakan oleh NASA (National Aeronautics and Space Adiministration) sejak tahun 1960an lagi untuk menerima isyarat imej digital yang dirakam oleh pesawat di angkasa lepas. Asas kepada fotografi digital ini juga sebenarnya telah wujud sejak tahun 1950an berasaskan dari teknologi kamera video.

Antara kamera digital yang terawal Kodak DCS 420 yang menggunakan badan kamera analog Nikon F90. Sistem ini mempunyai sensor dengan 1.2 megapixel sahaja dan mula diperkenalkan pada tahun 1994. Sumber foto dari Wikimedia Commons Apa pun, fotografi digital tidak digunakan oleh orang ramai secara meluas sehinggalah pada sekitar tahun 2002 apabila kamera digital mula dipasarkan secara komersial. Perkembangan teknologi fotografi digital berlaku dengan begitu pesat sejak dari itu. Dengan ini, bermulalah satu era baru dalam sejarah fotografi.

Sejarah Awal Mula Fotografi Dunia


www.elib.unikom.ac.id/download.php?id=103471

SIAPA yang tidak mengenal kamera? Anak kecil zaman sekarang pun sudah terbiasa memegang dan bergaya di hadapan kamera. Yang perlu dilakukan hanyalah menekan satu tombol, momen yang ingin disimpan dapat tertangkap oleh kamera. Pada hakikatnya, fotografi merupakan teknik untuk menghasilkan gambar yang tahan lama melalui suatu reaksi kimia yang terjadi, ketika cahaya menyentuh permukaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sejarah fotografi saat ini, berhutang banyak p ada beberapa nama yang memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan fotografi sampai era digital sekarang. Kita mencatat nama Al Hazen, seorang pelajar berkebangsaan Arab yang menulis bahwa citra dapat dibentuk dari cahaya yang melewati sebuah lubang kecil pada tahun /000 M. Kurang lebih 400 tahun kemudian, Leonardo da Vinci, juga menulis mengenai fenomena yang sama. Namun, Battista Delta Porta, juga menulis hal tersebut, sehingga dia yang dianggap sebagai penemu prinsip kerja kamera melalui bukunya, Camera Obscura. Awal abad 17, Ilmuwan Italia, Angelo Sala menemukan bahwa bila serbuk perak nitrat dikenai cahaya, warnanya akan berubah menjadi hitam. Bahkan saat itu, dengan komponen kimia tersebut, ia telah berhasil merekam gambar - gambar yang tak bertahan lama. Hanya saja masalah yang dihadapinya adalah menyelesaikan proses kimia setelah gambar-gambar itu terekam sehingga permanen. Pada 1727, Johann Heinrich Schuize, profesor farmasi dari Universitas di Jerman, juga menemukan hal yang sama pada percobaan yang tak berhubungan dengan fotografi. Ia memastikan bahwa komponen perak nitrat menjadi hitam karena cahaya dan bukan oleh panas.

Sekitar tahun 1800, Thomas Wedgwood, seorang Inggris, bereksperimen untuk merekam gambar positif dari citra yang telah melalui lensa pada kamer a obscurayang sekarang ini disebut kamera, tapi hasilnya sangat mengecewakan. Akhirnya ia berkonsentrasi sebagaimana juga Schuize, membuat gambar-gambar negatif, pada kulit atau kertas putih yang telah disaputi komponen perak dan menggunakan cahaya matahari sebagai penyinaran. Tahun 1824, setelah melalui berbagai proses penyempurnaan oleh berbagai orang dengan berbagai jenis pekerjaan dari berbagai negara. Akhirnya Joseph Nieephore Niepee, seorang lithograf berhasil membuat gambar permanen pertama yang dapat disebut "FOTO" dengan tidak menggunakan kamera, melalui proses yang disebutnya Heliogravure atau proses kerjanya mirip lithograf dengan menggunakan sejenis aspal yang disebutnya Bitumen of judea, sebagai bahan kimia dasarnya. Kemudian dicobanya menggunakan kamera, namun ada sumber yang menyebutkan Niepee sebagai orang pertama yang menggunakan lensa pada camera obscura. Pada masa itu lazimnya camera obscura hanya berlubang kecil, juga bahan kimia lainnya, tapi hasilnya tidak memuaskan. Agustus 1827, Setelah saling menyurati beberapa waktu sebelumnya, Niepee berjumpa dengan Louis Daguerre, pria Perancis dengan beragam ketrampilan tapi dikenal sebagai pelukis. Mereka merencanakan kerjasama untuk menghasilkan foto melalui penggunaan kamera. Tahun 1829, Niepee secara resmi bekerja sama dengan Daguerre, tapi Niepee meninggal dunia pada tahun 1833. Dan tanggal 7 Januari 1839 , dengan bantuan seorang ilmuwan untuk memaparkan secara ilmiah, Daguerre mengumumkan hasil penelitian. Penelitiannya selama ini kepada Akademi Ilmu Pengetahuan Perancis. Hasil kerjanya yang berupa foto- foto yang permanen itu disebut DAGUERRETYPE, yang tak dapat diperbanyak atau reprint atau repro. Tanggal 25 Januari 1839, William Henry Fox Talbot, seorang ilmuwan Inggris, memaparkan hasil penemuannya berupa proses fotografi modern kepada Institut Kerajaan Inggris. Berbeda dengan Daguerre, ia menemuk an sistem negatif-positif (bahan dasar : perak nitrat, diatas kertas). Walau telah menggunakan kamera, sistem itu masih sederhana seperti apa yang sekarang kita istilahkan : Contactprint (print yang dibuat tanpa pembesaran atau pengecilan). Juni 1840, Talbot memperkenalkan Calotype, perbaikan dari sistem sebelumnya, juga menghasilkan negatif diatas kertas. Dan pada Oktober 1847. Abel Niepee de St Victor, keponakan Niepee, memperkenalkan pengunaan kaca sebagai base negatif menggantikan kertas.

Pada Januari 1850 . Seorang ahli kimia Inggris, Robert Bingham , memperkenalkan penggunaan Collodion sebagai emulsi foto, yang saat itu cukup populer dengan sebutan WETPLATE Fotografi. Setelah berbagai perkembangan dan penyempurnaan, penggunaan roll film mulai dikenal. Juni 1888, George Eastman, seorang Amerika, menciptakan revolusi fotografi dunia hasilpenelitiannya sejak 1877. Ia menjual produk baru dengan merek KODAK berupa sebuah kamera box kecil dan ringan, yang telah berisi roll film (dengan bahan kimia Perak Bromida) untuk /00 exposure. Bila seluruh film digunakan, kamera ini yang diisi film dikirim keperusahaan Eastman untuk diproses. Setelah itu kamera dikirimkan kembali dan telah berisi roll film yang baru. Berbeda dengan kamera masa itu yang besar dan kurang praktis, produk baru tersebut memungkinkan siapa saja dapat memotret dengan leluasa.Hingga kini perkembangan fotografi terus mengalami perkembangan dan berevolusi menjadi film-film digital yang mutakhir tanpa menggunakan roll Film. Selanjutnya, secara bertahap fotografi berkembang ke arah penyempurnaan teknik dan kualitas gambarnya sampai pada akhir abad ke -19, fotografi telah mencapai kualitas hasil yang mendekati seperti yang dikenal sekarang. Namun, sebenarnya perkembangan foto seni di Indonesia sendiri telah berkembang di akhir abad ke /8, ada orang Indonesia yang telah membuat foto-foto indah menawan di dalam studio maupun di alam bebas, foto -foto itu jelas sekali bernapaskan seni seperti yang dikenal sekarang. Objek, lighting, dan komposisinya jelas sekali diperhitungkan dengan masak saat pemotretan. Pencetakan fotonya pun sangat brilian, sehingga hasil fotonya menjadi indah menawan bagaikan lukisan-foto piktorial. Perbedaan yang dapat dilihat dengan jelas adalah sebagian besar foto terekam beku. Jika memotret manusia, maka si model diwajibkan diam beberapa saat. Hal ini dapat dimaklumi karena teknologi fotografi saat itu masih sederhana, body kamera berukuran besar, sedangkan filmnya masih dalam bentuk lembaran (bukan rol), bahkan bahan dasarnya kaca atau seluloid, dengan kepekaan (ASA) yang masih rendah. Mekanis pada lensa juga sangat sederhana, bahkan banyak lensa yang mempunyai satu bukaan diafragma dan tidak disertai lembaran daun di afragma, sehingga pemotretan dilakukan dengan cara membuka dan menutup lensa.