Anda di halaman 1dari 10

Kontrol Kualitas dan Pengendaliannya pada Program Fortifikasi Pangan

Oleh : Andreas Agung R G1H011023

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROGRAM STUDI ILMU GIZI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2014

BAB I PENDAHULUAN

Fortifikasi pangan adalah penambahan satu atau lebih zat gizi ke dalam pangan. Tujuan utama dari fortifikasi pangan adalah untuk meningkatkan tingkat konsumsi dari zat gizi yang ditambahkan, sehingga terjadi peningkatkan status gizi populasi. Harus diperhatikan bahwa peran pokok dari fortifikasi pangan adalah pencegahan defisiensi zat gizi. Dengan demikian menghindari terjadinya gangguan yang menyebabkan terjadinya penderitaan manusia dan kerugian sosio ekonomis. Selain itu, fortifikasi pangan juga digunakan untuk menghapus dan mengendalikan defisiensi zat gizi dan gangguan kesehatan yang diakibatkanya (Siagian, 2003). The Joint Food and Agricuktural Organization World Health Organization(FAOIWO) Expert Commitee on Nutrition menganggap bahwa istilah fortifikasi paling tepat menggambarkan proses dimana zat gizi makro dan zat gizi mikro ditambahkan kepada pangan yang dikonsumsi secara umum. Untuk mempertahankan dan untuk memperbaiki kualitas gizi, masingmasing ditambahkan kepada pangan atau sebagai campuran pangan (Siagian, 2003). Program fortifikasi merupakan salah satu program yang dirancang untuk mengatasi masalah kekurangan zat gizi khususnya gizi mikro yang terjadi di masyarakat, sehingga program ini di harapkan dapat mengurangi prevalensi terjadinya defisiensi zat gizi mikro di masyarakat. Sebagai contoh program fortifikasi pangan yang sedang dijalankan oleh pemerintah saat ini diantaranya adalah fortifikasi Iodium pada garam dan vitamin A pada

minyak, lemak, margarin, gula, susu, serta fortifikasi zat besi pada tepung terigu, mie instan dan permen. Contoh fortifikasi lainnya yaitu fortifikasi tepung ketela (mocav) dengan vitamin B kompleks, besi, dan kalsium. Fortifikasi hampir sama maknanya dengan pengayaan atau enrichment dan lebih berimplikasi ke penambahan substansial dibanding dengan istilah suplementasi (makfoeld., et al, 2012)

Program fortifikasi memiliki peranan yang sangat penting, tentunya tidak sebatas pemenuhan gizi masyarakat tetapi juga mempunyai arti peningkatan kualitas perekonomian suatu negara. Begitu pentingnya program fortifikasi, sehingga baru-baru ini dibuatlah suatu wacana penelitian untuk memulai melakukan biofortifikasi pangan. Biofortifikasi pangan bisa

diterjemahkan sebagai fortifikasi prematur, yakni fortifikasi bukan diberikan pada produk tapi bahan-bahan hasil pertanian seperti padi sudah memiliki kandungan zat gizi yang sengaja ditambahkan mulai dari saat budidaya. Biofortifikasi baru mulai dilakukan penelitiannya terhadap padi. Oleh karena itu, dengan melihat begitu besar pengaruh fortifikasi pangan terhadap perbaikan gizi masyarakat maka diperlukan kontrol dan pengendalian terhadap program fortifikasi pangan agar dapat berjalan dengan baik.

BAB II ISI

A. Pengendalian Program Fortifikasi Pangan Melihat dari pentingnya dilakukan fortifikasi pangan, maka fortifikasi zat gizi mikro merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan untuk menangani gizi buruk serta meningkatkan status mikronutrien dalam pangan. Fortifikasi harus dipandang sebagai suatu upaya kongkrit dalam rangka perbaikan kualitas pangan, perbaikan praktik pertanian yang baik, perbaikan pengolahan makanan dan penyimpanan pangan, dan memperbaiki pendidikan konsumen dalam mengadopsi praktik penyediaan pangan yang baik. Dalam menetapkan strategi fortifikasi yang baik diperlukan perumusan kebijakan yang di dalamnya terdapat kolaborasi antara pemerintah, industri pangan, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk mengembangkan sistem jaminan mutu. Partisipasi aktif dari para pemegang kebijakan yang didukung oleh promosi dan edukasi untuk mencapai populasi sasaran sangatlah penting dalam mengatasi masalah gizi nasional. Pihak pemerintah pusat dan pemerintah daerah sebaiknya membenahi tata kelola fortifikasi, terutama yang menyangkut pemeriksaan dan audit. Pelaksanaan fortifikasi oleh produsen pangan juga tidak boleh egois, tetapi harus didasarkan pada metode analisi kualitatif. Pada akhirnya, semua pihak harus memastikan bahwa program fortifikasi berjalan dengan semestinya sesuai dengan rencana demi pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) dan demi kehidupan bangsa yang lebih sehat. 1. Peran pemerintah dalam program fortifikasi pangan Program perbaikan gizi sebenarnya sudah dilakukan oleh pemerintah sejak pemerintahan orde baru. Pada orde baru program perbaikan gizi dicantumkan dalam rancangan rencana pembangunan lima tahun (Repelita). Program perbaikan gizi selama Repelita VI

diprioritaskan untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat dalam menangulangi gizi kurang khususnya yang terjadi pada masyarakat di desa-desa miskin dan tertinggal. Dalam pelaksanaannya program

perbaikan gizi meliputi upaya peningkatan mutu dari produk-produk makanan baik yang dihasilkan oleh industri maupun hasil olahan masyarakat dan melindungi masyarakat dari bahan makanan yang berbahaya bagi kesehatan. Program perbaikan gizi dilaksanankan melalui kegiatan-kegiatan penyuluhan gizi masyarakat, usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK), usaha perbaikan gizi institusi (UPGI), fortifikasi pangan, dan penerapan pengembangan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (Depkes RI, 1999). Pada umumnya penduduk yang tinggal di negara berkembang memiliki akses yang rendah terhadap makanan. Rendahnya akses pangan ini berkaitan dengan rendahnya daya beli akibat kemiskinan. Masalah yang timbul jika fortifikasi dilaksanakan pada keadaan yang demikian adalah bagaimana caranya agar fortifikasi dapat menjangkau masyarakat miskin meskipun fortifikasi sendiri akan menaikan biaya produksi yang berimplikasi pada kenaikan harga jual pangan. Fortifikasi merupakan program yang harus diselesaikan bersama dari semua sektor tidak hanya sektor kesehatan saja. Keefektifan dan keberlanjutan dari program fortifikasi akan sesuai dengan harapan jika terjadi kerjasama yang baik antara pemerintah, sektor swasta, sektor publik dan sektor sosial. Pada program fortifikasi peran swasta dan masyarakat cuckup besar dalam menentukan keberhasilan dari program tersebut. Fortifikasi yang telah dijadikan kebijakan oleh pemerintah akan membuat penangulangan kesehatan memiliki cost-effective yang tinggi. Pemerintah perlu melakukan pengembangan dan penelitian lebih banyak lagi agar fortifikasi dapat dilakukan pada pangan lain yang sangat berkompeten. Sebagai contoh, di Indonesia fortifikasi zat besi telah wajib diberlakukan pada beberapa produk pangan seperti mie instan, susu bubuk dan terigu. Meskipun demikian, sampai sekarang ini fortifikasi masih belum terlihat secara jelas dampaknya terhadap penanggulangan anemia, terlihat dari tingginya angka kejadian anemia di masyarakat. Berdasarkan data Riskesdas 2013, proporsi anemia pada ibu hamil menurut tempat

tinggal di Indonesia ialah 37,1 persen. Dan berdasarkan WHO Worldwide Prevalence of Anemia 1993 2005, Indonesia termasuk dalam negara dengan masalah anemia pada wanita hamil dengan tingkat keparahan yang tinggi (severe). Penyebabnya adalah karena bahan pangan yang dijadikan sebagai tunggangan belum dikonsumsi secara merata oleh masyarakat Indonesia. Agar program ini dapat terlaksana dengan baik maka diperlukan adanya pergantian bahan pangan pembawa (vehicle) yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat indonesia. Beberapa aspek program fortifikasi pangan, seperti penentuan prevalensi kekurangan zat gizi, pemilihan intervensi yang tepat, penghitungan taraf asupan makanan (zat gizi), konsumsi pangan pembawa sehari-hari dan fortifikan yang akan ditambahkan, dan juga teknologinya sebaiknya diawasi dan dievaluasi oleh otoritas kesehatan. 2. Peran Industri dalam Fortifikasi Pangan Seiring dengan semakin majunya dunia tehnologi global, industri pangan di Indonesia pun ikut berkembang dengan cukup pesat. Kemajuan ini telah berhasil membawa perubahan terhadap kebiasaan dan pola makan masyarakat. Kemajuan industri pangan juga dapat terlihat dari begitu praktisnya cara pengkonsumsian produk-produk pangan. Cara hidup yang sudah maju membuat masyarakat menuntut industri-industri pangan membuat produk pangan yang bisa dikonsumsi secara instan. Namun demikian, perlu dikaji lebih jauh lagi apakah perubahan kebiasaan dan pola makan tersebut dapat meningkatkan status gizi dan memberikan manfaat terhadap kesehatan masyarakat. Industri pangan mempunyai peran yang besar dalam pelaksanaan program fortifikasi. Industri pangan memegang peran yang penting dan strategis dalam membentuk kebiasaan dan pola makan masyarakat. Peran tersebut didukung oleh promosi yang menggunakan dana begitu besar sehingga industri pangan dapat mempengaruhi status gizi konsumennya baik secara positif maupun negatif. Promosi yang dilakukan oleh industri pangan pun sudah menjamur di berbagai media massa baik elektronik maupun media cetak.

Pelaksana fortifikasi pangan merupakan tugas dari industri pangan dan pemerintah memiliki kewajiban untuk mengendalikannya. Namun, dalam pelaksanaanya pemerintah dalam hal ini yaitu departemen kesehatan tidak mau ataupun tidak mampu dalam mengendalikan dan memotivasi semua industri pangan. Pemerintah seharusnya dapat menjadi penasehat, konsultan, koordinartor dan supervisior yang memungkinkan industri pangan melaksanakan fortifikasi pangan secara efektif dan efisien.

B. Kontrol Kualitas Program Fortifikasi Pangan 1. Persyaratan bahan pangan pembawa Pada umumnya ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih bahan pembawa (vehicle) yang digunakan untuk program fortifikasi. Faktor-faktor tersebut yaitu: Bahan pangan pembawa (vehicle) harus merupakan bahan yang dikonsumsi dalam jumlah yang besar dan sering dikonsumsi oleh kelompok target. Hal ini ditujukan agar produk pangan yang dihasilkan dapat diakses oleh semua kelompok target. Bahan pangan pembawa (vehicle) harus diproduksi secara terpusat dan didistribusikan melalui jalur yang jelas agar dapat dimonitor dan dikontrol. Perbaikan infrastruktur jalan akan membuat pendistribusian produk pangan dapat merata. Bahan pangan pembawa (vehicle) merupakan bahan pangan yang stabil dan tidak banyak mengalami perubahan aspek sensoris. Perubahan sensoris akan dapat merubah penerimaan produk oleh konsumen target. Oleh karena itu, diperlukan tehnik fortifikasi yang tidak merubah aspek sensoris dan tingkat penyerapan makanan dalam tubuh atau bioavabilitasnya. Senyawa fortifikan yang ditambahkan kedalam bahan pangan pembawa (vehicle) harus tidak mengalami perubahan selama proses penyimpanan. Perubahan yang dimaksud adalah terjadinya

pengendapan zat gizi yang dijadikan fortifikan. Harga bahan pangan murah dan terjangkau

2. Strategi Fortifikasi Dalam melakukan kontrol program fortifikasi juga diperlukan beberapa strategi untuk menjamin keberhasilan produk hasil. Strategistrategi tersebut yaitu: Pemilihan pangan pembawa Pangan pembawa merupakan media yang dijadikan sebagai pembawa zat gizi yang difortifikasi. Untuk melakukan fortifikasi harus mempertimbangkan terlebih dahulu bahan pangan yang ingin dijadikan bahan pangan pembawa (vehicle). Sebagai contoh yaitu tepung terigu, gula, garam dan minyak goreng adalah contoh dari bahan pangan pembawa yang potensial. Tepung terigu, minyak, gula dan garam adalah bumbu dapur yang hampir selalu dijumpai di semua keluarga dalam masyarakat. Pemilihan senyawa fortifikan Fortifikan adalah zat gizi yang ditambahnkan ke dalam bahan pangan pada proses fortifikasi. Beberapa faktor penting dalam pemilihan fortifikan yaitu fortifikan tidak mempengaruhi hasil akhir, tidak bereaksi dengan bahan-bahan lain, terjangkau, tidak menghambat proses fortifikasi, jumlahnya tidak berkurang secara drastis pada akhir proses. Pengkombinasian program fortifikasi dengan program perbaikan gizi Untuk menjamin keberhasilan program perbaikan gizi, program fortifikasi gizi harus dikombinasikan juga dengan program perbaikan gizi lainnya. Program gizi lain yang bisa dikombinasikan dengan program fortifikasi adalah pendidikan gizi, suplementasi, diversifikasi pangan. Sebagai contoh, melalui pemahaman tentang perlunya mengkonsumsi zat besi dan dampaknya terhadap kesehatan, diharapkan akan merubah perilaku pemilihan makanan yang dikonsumsi

(Prihananto, 2004).

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Fortifikasi pangan adalah penambahan satu atau lebih zat gizi ke dalam pangan dengan tujuan untuk meningkatkan tingkat konsumsi dari zat gizi yang ditambahkan, sehingga terjadi peningkatkan status gizi kelompok target. Program fortifikasi memiliki peranan yang sangat penting, tentunya tidak sebatas pemenuhan gizi masyarakat tetapi juga mempunyai arti peningkatan kualitas perekonomian suatu negara. Dalam menetapkan strategi fortifikasi yang baik diperlukan perumusan kebijakan yang di dalamnya terdapat kolaborasi antara pemerintah, industri pangan, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk mengembangkan sistem jaminan mutu. Pelaksana fortifikasi pangan merupakan tugas dari industri pangan dan pemerintah memiliki kewajiban

mengendalikannya. Dalam pelaksanaanya, industri pangan sebagai pelaku fortifikasi harus melakukan kontrol dan membuat strategi yang tepat terhadap program fortifikasi agar program fortifikasi dapat berjalan sesuai dengan harapan.

DAFTAR PUSTAKA

Albiner, Siagian. 2003, Pendekatan Fortifikasi Pangan untuk Mengatasi Masalah Kekurangan Zat Gizimikro. Jurnal (Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara,) Depkes RI. 1999. Buku Usaha Perbaikan Gizi Keluarga. Depkes RI. Jakarta. Makfoeld, Djarir DKK. 2002. Kamus Istilah Pangan dan Nutrisi. Kaninus. Yogyakarta. Prihananto. 2004. Fortifikasi Pangan Sebagai Upaya Penanggulangan Anemi Zat Gizi Besi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.