Anda di halaman 1dari 8

Pemeriksaan Fraktur Terbuka

Sadilah Mursyid 201210330311131

Anamnesis
Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatik, fraktur).yang perlu di tanyain adalah menggunakan metode secret seven dan menanyakan riwayat penyakit pada penderita.

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:
Deformitas (perubahan bentuk) Bengkak/edema Echimosis (Memar) Spasme otot (otot mengencang) Nyeri Kurang/hilang sensasi Krepitasi Pergerakan abnormal (gerakan tidak normal) Rongten abnormal

Pemeriksaan lokal
1. Inspeksi (Look) 2.Palpasi (Feel) 3.Pergerakan (Move)

Tingkat keparahan
Grade I : kulit < 1 cm Grade II : kulit > 1 cm Grade III : terkena banyak.

Pemeriksaan neurologis
Merupakan pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris serta gradasi kelelahan neurologis, yaitu neuropraksia, aksonotmesis atau neurotmesis. Kelaianan saraf yang didapatkan harus dicatat dengan baik karena dapat menimbulkan masalah asuransi dan tuntutan (klaim) penderita serta merupakan patokan untuk pengobatan selanjutnya

Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Untuk menghindarkan nyeri serta kerusakan jaringan lunak selanjutnya, maka sebaliknya kita mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis.

Sumber
Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi,cetakan ke-V. Jakarta: Yarsif Watampone, 2008. 332-334. Sjamsuhidajat R, Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. Jakarta: EGC, 2005. 840-841. Newton CD. Etiology, Classification, and Diagnosis of Fracture. http://www.ivis.org [diakses 14 Mei 2011]. Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius, 2000.346-370 Brinker. Review Of Orthopaedic Trauma, Pennsylvania: Saunders Company, 2001. 127-135. Putz R, Pabst R. Atlas Anatomi Manusia Sobotta, Jilid 2. Jakarta: EGC, 2000.284.