Anda di halaman 1dari 1

PENATALAKSANAAN INFERTILITAS ec. TRICHOMONIASIS Penanganan infertilitas pada prinsipnya didasarkan atas 2 hal yaitu: 1.

Mengatasi faktor penyebab / etiologi (dalam hal ini Trichomonas vaginalis) (Pada penderita dan pasangan) Dosis yang disarankan untuk trichomoniasis ini adalah : 2 gram, dosis sekali minum (single dose) 250 mg 3 kali sehari selama 7-10 hari 500 mg 2 kali sehari selama 5-7 hari Pada kasus-kasus gagal terapi maka dapat diberikan dosis 2 gram metronidazole sehari sekali selama 3-5 hari. (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3501/1/06001195.pdf) 2. Meningkatkan peluang untuk hamil Tindakan untuk mengatasi faktor penyebab infertilitas misalnya adalah dengan melakukan induksi ovulasi (pada kasus anovulasi), reanastomosis tuba (oklusi tuba fallopii) dan pemberian obat-obatan secara terbatas pada kasus faktor sperma. Namun seringkali tindakan mengatasi faktor penyebab memberikan hasil yang tidak efektif karena itu berbagai metoda dikembangkan untuk meningkatkan peluang satu pasangan mendapatkan kehamilan, seperti -stimulasi ovarium : Tindakan stimulasi ovarium akan berdampak pada unit fungsional organ reproduksi wanita. Melalui Komunikasi intra seluler, signaling intraseluler dan up-regulasi steroidogenesis, stimulasi oavrium akan menghasilkan banyak oosit yang siap fertilisasi dan dengan berkualitas baik. -inseminasi proses pembuahan dengan cara memasukkan sperma ke dalam rahim. Kesempatan hamil dengan program ini rata-rata berkisar 5-25%. -fertilisasi in vitro teknik pembuahan yang terjadi diluar tubuh sang ibu. Dilakukan dengan cara mengambil sel telur dari sang istri dan sperma dari suami untuk selanjutnya disatukan didalam tabung khusus dengan harapan akan terjadi pembuahan. Setelah embrio yang diharapkan dari hasil pembuahan terbentuk dengan baik, embrio itu selanjutnya dimasukkan pada rahim istri. Selanjutnya istri akan mengalami proses kehamilan yang sama dengan wanita lain pada umumnya apabila embrio telah berkembang dengan baik di rahimnya. Tindakan fertilisasi in vitro terutama dilakukan atas indikasi: 1 Faktor sperma yang berat dan tidak dapat dikoreksi 2 Oklusi tuba bilateral 3 Endometriosis derajat sedang-berat 4 Infertilitas idiopatik yang telah menjalani IIU 4-6 x dan belum berhasil hamil 5 Gangguan ovulasi yang tidak berhasil dengan induksi ovulasi lini pertama dan lini kedua (http://pogijaya.or.id/blog/2013/02/21/diagnosis-dan-penanganan-infertilitas-yang-rasional/)