Anda di halaman 1dari 82

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ruang lingkup yang berkaitan dengan manajemen perawatan adalah bagaimana melakukan serangakaian aktivitas yang bertujuan untuk menjaga alat berat yang dimiliki selalu berada dalam kondisi terbaiknya, meminimalkan atau bahkan menghilangkan berhentinya unit karena kerusakan mendadak. Untuk menjamin agar mesin bisa beroperasi dengan baik dan optimal diperlukan adanya suatu sistem perawatan yang baik pula. Sistem perawatan yang kurang baik akan mengakibatkan mesin mudah rusak dan proses produksi akan terganggu dan bahkan berhenti total. Ini merupakan suatu kerugian bagi perusahaan baik output yang dihasilkan tidak optimal dan waktu terbuang sehingga target yang diinginkan tidak tercapai. Bagi perusahaan, mesin memegang peranan yang sangat penting dan vital untuk mendukung jalannya proses produksi yang berlangsung menggunakan alat bantu mesin. Jadi setiap kerusakan atau gangguan yang terjadi pada mesin dapat menyebabkan proses produksi berhenti. leh sebab itu perawatan yang terencana dan baik merupakan hal yang sangat penting agar proses produksi berjalan dengan lancar. !arena seperti kita ketahui bahwa kerusakan mesin atau peralatan produksi adalah salah satu hal yang tidak bisa ditebak, dan dapat terjadi sewaktu"waktu sehingga si#atnya adalah probabilistik. Salah satu elemen manajemen alat berat adalah manajemen perawatan alat berat. $ujuan dari suatu manajemen perawatan alat berat adalah untuk menjaga agar kondisi dan unjuk kerja alat berat tersebut selalu dalam kondisi prima sesuai dengan spesi#ikasinya.

1.2

Perumusan Masalah &ada dasarnya preventive maintenance '&() ditujukan untuk mengurangi

banyaknya unit yang mengalami down time akibat kerusakan yang terjadi seketika. *ktivitas yang dilakukan antara lain pemeriksaan, penggantian, pengesetan, perbaikan, pembersihan, dan pengambilan data. +engan melakukan berbagai kegiatan tersebut down time atas unit dapat dicegah karena kita dapat memonitor keadaan unit setelah beroperasi, dengan begitu usia peralatan dapat dimaksimalkan. 1.3. Batasan Masalah *gar permasalahan yang menjadi pokok dan jelas, maka perlu adanya pembatasan masalah yaitu sebagai berikut, %. &engambilan contoh oli - Schedule Oil Sampling ' S. .S ) dari kompartemen engine, hydraulic, transmisi, dan final drive di unit +%%R +. //0. 1.4. Tujuan erja Praktek

*dapun tujuan !erja &raktek yang dilaksanakan ini adalah , $ujuan umum , %. (emberikan &engetahuan praktis tentang teknologi yang digunakan di &$. 1ewmont 1usa $enggara. 2. (emberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk membandingkan antara teori yang diperoleh selama perkuliahan dengan praktek yang sebenarnya. 3. (enambah pengalaman dan keterampilan dalam menyesuaikan diri dengan dunia kerja yang pro#esional yang kelak akan dihadapi. $ujuan khusus , 4(enganalisa kerusakan yang terjadi di dalam kompartemen pada 5*$ +%%R +..//0 dari hasil pemeriksaan Scheduling Oil Sample (S.O.S).6

1.!.

Met"#"l"g$ Penul$san 7aporan kerja praktek ini disusun dalam bentuk bab dan sub bab. Secara garis

besar laporan ini terdiri dari beberapa bab, dengan rincian sebagai berikut , B*B I &81+*9U7U*1 Bab pertama ini berisi pendahuluan yang memuat latar belakang penulisan, pembatasan masalah, maksud dan tujuan, metodologi penelitian serta sistematika penulisan. B*B II $I1J*U*1 U(U( &ada bab ini berisikan tentang tinjauan umum yang meliputi sejarah perusahaan, lokasi daerah penelitian, keadaan topogra#i, geologi daerah pengamatan, iklim dan curah hujan, kegiatan perawatan berkala - preventive maintenance (PM). B*B III 7*1+*S*1 $8 RI Bab ketiga ini berisikan tentang dasar"dasar teori yang mendukung asumsi data penelitian dan pembahasannya, seperti kegiatan pengambilan contoh oli dari berbagai kompartemen. B*B I: 9*SI7 &81;*(*$*1 +*1 &8(B*9*S*1 pengolahan data kegiatan di lapangan , Bab keempat berisikan tentang &raktek. B*B : !8SI(&U7*1 +*1 S*R*1 Bab ini berisikan tentang kesimpulan dari hasil pengamatan yang dilakukan di lapangan, data pengamatan dan perhitungan serta saran"saran yang si#atnya membangun.

pengamatan, serta pembahasan masalah yang dilakukan selama kegiatan !erja

BAB II TIN%AUAN UMUM PE&U'AHAAN


2.1. Latar Belakang Pr"(ek Batu H$jau Newmont Metals Company merupakan produsen emas terbesar di *S dan terbesar kedua di dunia yang memiliki komitmen yang kuat terhadap lingkungan. &erjanjian kemitraan ditanda tangani tanggal 2 juli %<<=. 1ewmont (etals 5ompany %// > 1ewmont Indonesia 7imited 0=.20 > ?3.@0 > 1usa $enggara &artnership Sumitomo 5orporation %// > 1usa $enggara (ining 5orporation

A/ > &$. 1ewmont 1usa $enggara 2/ > &$. Bukua#u Indah

)am*ar 2. 1. 'truktur ke+em$l$kan +r"(ek &royek Batu 9ijau merupakan kontrak karya generasi ke ? yang ditanda tangani pada tanggal 2 +esember %<<=. Batu hijau ditemukan pada bulan (ei %<</. studi kelayakan proyek senilai %,< milyar dolar *S ini disetujui pada bulan agustus

%<<=. Jadwal konstruksi 3= bulan dan awal produksi dilaksanakan pada triwulan ketiga tahun %<<<. &royek Batu hijau &$. 1ewmont 1usa $enggara terletak di pulau Sumbawa, Indonesia. &royek ini adalah proyek penambangan bijih menjadi konsentrat dan akhirnya konsentrat yang dihasilkan dikapalkan ke konsumen di seluruh dunia. !onsentrator dirancang untuk mengolah rata"rata %2/./// ton bijih per hari selama 3=0 hari per tahun, atau sama dengan ?3.A//./// ton per tahun. +engan ketersediaan produksi pabrik pengolahan (plant) sebesar <2 persen, plant ini dirancang untuk memproses %2/./// ton metrik bijih kering per hari. Bijih tersebut mengandung rata"rata /.03 persen tembaga dan /.? gram emas per ton 'g-mt). Sekitar <% persen tembaga diperoleh selama operasi pengolahan mineral dengan kadar rata"rata 33 persen tembaga. $embaga ini diperoleh dalam bentuk konsentrat #lotasi yang juga mengandung sebagian besar emas dan tembaga sekitar A/ ton per jam. !onsentrat yang dihasilkan melalui #lotasi disalurkan secara berurutan dengan menggunakan jaringan pipa sepanjang %@,= km menuju #asilitas di pelabuhan. +i pelabuhan, konsentrat kemudian dikeringkan dan disimpan di tempat penyimpanan tertutup dengan volume kerja sebesar ?/./// ($ dan tempat penyimpanan darurat tambahan sebesar 2/./// ($ dari stoc pile 'penumpukan konsentrat) ini, konsentrat selanjutnya di"reclaim dan dimuat kapal untuk diangkut ke konsumen yang ada di luar negeri. &royek Batu 9ijau mempunyai areal yang terbentang dari Jereweh hingga 7unyuk, &ulau Sumbawa, 1$B. 7ima daerah utama &$. 1ewmont 1usa $enggara adalah !enete Port yang merupakan pelabuhan utama. "ownsite yang merupakan pusat perumahan, Camp serta di#asilitasi dengan rumah makan, teater, lapangan olahraga, supermarket dan sekolah. Consentrator merupakan pabrik pengolahan bijih menjadi konsentrat. Mining (Crusher Site) yang merupakan tempat peledakan bebatuan gunung dan tempat penghancuran awal bebatuan. +an yang terakhir adalah

"ongolo a #aste $ump yang merupakan tempat pembuangan sampah dan limbah (tailing) dengan kedalaman 3./// m di bawah laut. 2.1.1 L"kas$ Daerah &royek Batu 9ijau yang dikerjakan oleh &$. 1ewmont 1usa $enggara terletak di sebelah Barat +aya &ulau Sumbawa berjarak %0 km dari &antai Barat dan %/ km dari &antai Selatan. +i !ecamatan Jereweh !abupaten Sumbawa Barat &ropinsi 1usa $enggara Barat '1$B). Untuk dapat mencapai lokasi penambangan dapat ditempuh melalui perjalanan darat dari !ota (ataram selama dua jam menuju &elabuhan !ayangan, 7ombok $imur. !emudian dilanjutkan dengan penyeberangan laut menggunakan boat milik &$. 1ewmont 1usa $enggara menuju &ort Benete yang merupakan pelabuhan &$. 1ewmont 1usa $enggara. +ari &ort Benete yang berjarak 20 !m dari lokasi tambang perjalanan dapat dilanjutkan melalui perjalanan darat selama %,0 jam atau menggunakan helikopter selama tujuh menit. Sedangkan bila menggunakan helikopter dari !ota (ataram dapat ditempuh selama ?0 menit. +aerah proyek Batu 9ijau terdiri atas perbukitan dengan elevasi antara 3//" =// meter di atas permukaan laut dan sebagian besar daerah sekitar lokasi penambangan masih berupa hutan.

)am*ar 2.2 T"+"gra,$ #aerah +r"(ek

2.1.2 '+es$,$kas$ Pr"(ek +esain &royek &$. 1ewmont 1usa $enggara , a. 7aju pemrosesan , sampai dengan %=/./// tph b. &embuangan batuan limbah , %,0 milyar ton c. &enempatan tailing 'limbah), 3 km lepas pantai, kedalaman 3./// m yang berlokasi di $ongoloka d. Basilitas &elabuhan #. konsentrat g. $ownsite h. &embangkit listrik , bagi 0./// penghuni , berbahan bakar batu bara dengan daya %=/ (C dan tegangan %% !:. !ebutuhan konstruksi dan desain , a. =20/ gambar teknik b. %@= spesi#ikasi tekhnik c. %.///./// jam kerja tekhnik d. 20 km jalan e. %/3./// m3 beton #. %0./// metrik ton baja g. 20/./// meter pipa &roses h. %.0 juta m kawat dan kabel i. 7ebih dari 0/.///./// jam kerja orang 'termasuk subkontraktor). &$. 1ewmont 1usa $enggara membangun prasarana #isik dan manusia yang besar untuk menunjang bisnis penambangan tembaga dan emas di Batu 9ijau. &rasarana tersebut antara lain , a. *dministrasi yang terletak di (ataram dan Sumbawa b. $ransportasi , boat, sea plane, bis, mobil, helikopter, truk c. Sarana &elabuhan , Jetty, tempat penampung kendaraan, gudang , $eluk Benete e. &enyimpanan dan pengapalan, ?/./// ton di tempat tertutup

d. !antor Surabaya , purchasing e. !omunikasi , computer, telepon, radio, jaringan microwave #. &endukung medis, klinik, stasiun &3!, bantuan medis dan evakuasi g. !ontraktor , meliputi kegiatan kerja #isik dengan spesi#ikasi lebih dari 0/ kontraktor, 8D. $rakindo, &BU, +;, $hiess, dll h. $enaga kerja terampil , menyediakan makanan akomodasi, dsb. i. $im respon keadaan darurat j. &embangkit listrik k. &engolahan air l. Sarana rekreasi m. &endidikan yang terdiri dari Sekolah 1asional dan Internasional n. &erumahan dan 5amp. 2.1.3 e*$jakan Perumahanesehatan #an eselamatan Batu hijau memiliki #iloso#i yang merupakan komitmen perusahaan untuk mengelolah program yang bertujuan untuk mengurangi cidera pada karyawan, kerugian peralatan, proses dan lingkungan. Biloso#i ini membuktikan bahwa karyawan adalah aset yang paling berharga dan seluruh jajaran manager bertanggung jawab untuk membantu mereka dalam pemahaman tanggung jawab mereka sesuai dengan kebijaksanaan, prosedur dan program perusahaan. &ara manager dan supervisor harus menjamin bahwa semua karyawan yang berada langsung di bawah pengawasannya telah memenuhi standar kerja perusahaan, dimana mereka telah mengerjakan sesuatu yang biasa mencelakai diri sendiri, kerusakan peralatan, proses dan lingkungan. !epemimpinan yang e#ekti# dalam kesehatan dan keselamatan kerja dan pencegahan kerugian adalah kunci sukses yang penting bagi kesuksesan tambang batu hijau. !esuksesan ini tercapai bilamana tidak terjadi kecelakaan pada karyawan, kerusakan peralatan, proses dan lingkungan. Setiap atasan dan karyawan bertanggung jawab untuk mencapai tujuan itu.

(anajemen &$. 1ewmont 1usa $enggara tidak percaya bahwa kecelakaan terjadi begitu saja. *rtinya, program !3 dan pencegahan kerugian harus dikelola secara utuh sebagai bagian dari produksi. $ujuan &$. 1ewmont 1usa $enggara adalah menjadi tambang yang paling e#isien di seluruh dunia. 2.1.4 e*$jakan L$ngkungan Sebagai perusahaan Indonesia yang merupakan a#iliasi dari 1ewmont (ining 5oorporation '1ewmont), &$. 1ewmont 1usa $enggara berpegang pada seluruh peraturan dan perundangan Republik Indonesia yang berlaku, serta semua kebijakan korporasi &$. 1ewmont 1usa $enggara mengenai lingkungan. Salah satu kutipan kebijakan korporasi adalah &$. 1ewmont 1usa $enggara akan menerapkan standar terbaik disegala bidang lingkungan. 2.1.! e.aj$*an PT. Ne.m"nt Nusa Tenggara &$ 1ewmont 1usa $enggara memiliki beberapa kewajiban terhadap karyawan antara lain , %. (enyediakan pelatihan berikut bagi pekerja tambang , a. Bagi karyawan baru '&elatihan Orientasi dan %nduction) b. Untuk mengantisipasi bahaya c. Untuk menyelenggarakan pelatihan dan penyegaran tahunan d. &endidikan atau pelatihan lain sesuai dengan ketetapan pemerintah '&impinan 8ksekusi Inspekti# $ambang) 2. &elatihan harus mencakup sejumlah topik, seperti , a. $anggung jawab pekerja tambang b. Cewenang dan tanggung jawab Supervisor c. &engenalan lingkungan kerja d. &erencanaan penyelamatan dan evakuasi darurat, pengumuman kebakaran dan penggunaan alat pemadam kebakaran e. &engenalan aspek kesehatan dan keselamatan kerja #. &engenalan ancaman bahaya dan cara untuk menghindarinya g. Bahaya kelistrikan

<

h. Bahaya suara bising, debu, panas dan tindakan perlindungannya 3. &$. 1ewmont 1usa $enggara harus menyediakan klinik perawatan kesehatan dan &3! yang dilengkapi dengan baik, di dekat kantor tambang ?. &$. 1ewmont 1usa $enggara harus menyediakan kendaraan khusus atau ambulan untuk keperluan gawat darurat 0. &etugas &3! harus selalu siap setiap saat. &etugas pengganti yang sama kemampuannya harus siap bertugas bila dibutuhkan =. Stasiun &3! harus dipimpin oleh seorang perawat, ahli kesehatan atau petugas lain yang sekurang"kurangnya memiliki serti#ikasi &3! @. Untuk pekerja khusus, atas dasar pertimbangan kesehatan, karyawan harus mengganti pakaian dan membersihkan tubuhnya sebelum meninggalkan tempat kerja A. &$. 1ewmont 1usa $enggara harus menjamin agar tersedia suplai air bersih untuk minum dan mencuci serta air limbah dibuang dengan benar sesuai dengan peraturan <. $oilet yang sesuai dengan ketentuan kesehatan tersedia di lokasi tambang. 2.1./ 0$s$ (enciptakan dan memaksimalkan nilai aset &$. 1ewmont 1usa $enggara dengan menetapkan dan mencapai standar terbaik dalam semua aspek bisnis. 2.1.1 N$la$ Bertindak atas dasar integritas, kepercayaan dan rasa hormat. (enjadi yang terdepan di bidang keselamatan, lingkungan dan tanggung jawab sosial. (elakukan perubahan positi# secara terus"menerus dengan mencari dan menerapkan praktek terbaik, mengutamakan kerja tim, komunikasi yang jujur, keadilan dan keterbukaan. (elanjutkan komitmen pada pengembangan sumber daya manusia melalui alih teknologi, partisipasi akti# serta integrasi budaya. 2.1.2 Tenaga erja #an Pelat$han $enaga kerja yang ada pada masa konstruksi terdiri dari %=./// orang termasuk karyawan kontraktor. Sekitar 3A// karyawan 1ewmont dengan beberapa

%/

ribu karyawan kontraktor dan terus bekerja selama operasi batu hijau yang diperkirakan berlangsung selama 20 tahun. 7ebih dari </ > terdiri dari karyawan 1asional, dengan prioritas penerimaan karyawan berada pada mereka yang berasal dari Sumbawa dan 7ombok. &elatihan $enaga !erja lokal adalah aspek kunci keberhasilan. &rogram pelatihan ekspensi# &$. 1ewmont 1usa $enggara mencakup berbagai bidang , a. Bangunan b. tomoti# dan +iesel c. &engoperasian &abrik d. !elistrikan e. *dministrasi !antor #. *ccounting g. 5omputing h. &rogram Bahasa Indonesia bagi tenaga kerja asing i. Bahasa Inggris bagi tenaga kerja Indonesia. 2.2 2.2.1 Ura$an Umum Pr"ses Preventive Maintenance Pera.atan Berkala 3 Preventive Maintenance 8lemen pertama dari manajemen perawatan adalah perawatan berkala atau sering yang disebut sebagai preventive maintenance disingkat menjadi &(. Preventive maintenance adalah perawatan minimum yang dilaksanakan berkala secara tepat waktu. Berkala artinya dilakukan secara rutin dalam selang waktu tertentu dan tepat waktu artinya dilakukan tepat sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. $ujuan dilaksanakannya &( ini adalah untuk mencegah timbulnya kerusakan pada sistem atau komponen pendukung sistem dengan cara melakukan perbaikan atau penggantian tepat waktu. $entu bisa dimengerti apabila tiap komponen dalam sistem memiliki usia kerja yang terbatas, kerana itu maka &( perlu dilakukan agar komponen yang bekerja dalam sistem selalu dalam kondisi prima.

%%

*pabila elemen &( secara disiplin dilakukan mak akan didapatkan hasil"hasil sabagai berikut , tinggi. Untuk dapat melakukan aktivitas &( dengan benar baik prosedur maupun suplay untuk melakukannya maka diperlukan suatu rujukan yang baku. &ada mesin dan engine 5aterpillar rujukan yang dapat digunakan adalah buku bila perlu maka dapat dibuatkan tambahan khusus berupa chec list. +engan melihat re#erensi yang telah baku maka secara general ada tiga elemen dasar yang menjadi pondasi dalam pelaksanaan &( yaitu , oli ). 5aterpillar S S ' pengambilan contoh oli secara berkala ). 5aterpillar Bluids ' Eat alir yang digunakan sebagai penunjang sistem pada engine dan machine. (isalnya , air, solar, oli, udara ). 5aterpillar Bilter ' penyaring pada sistem udara, bahan bakar, ((, 7(; atau Biaya akan menjadi lebih ringan. &erencanaan waktu untuk unit tidak bekerja. Usia komponen menjadi lebih optimum. Jangka panjangnya akan didapat nilai jual unit bekas yang

!etiga elemen tersebut harus terpenuhi agar progarm &( yang dilakukan bisa memberikan hasil yang diharapkan. +alam pelaksanaannya suatu aktivitas &( secara umum meliputi kegiatan"kegiatan , pemeriksaan, penggantian, pengesetan, perbaikan, pembersihan dan pengambilan data. Semua aktivitas tersebut dilakukan sesuai dengan selang waktu yang telah ditentukan sebelumnya, pada unit 5aterpillar acuan yang dipergunakan acuan jam kerja dimana unit tersebut dihidupakan. Biasanya dilakukan dalam selang waktu setiap %/ jam atau harian, 20/ jam, 0// jam, %/// jam, 2/// jam, 3/// jam, separuh usia overhaul atau overhaul itu sendiri.

%2

BAB III LANDA'AN TE4&I


3.1 5ungs$ Dasar Pelumas Pa#a Alat Berat Sebelum kita bahas mengenai Schedule Oil Sampling ' S. .S ), kita perlu memahami tentang sistem pelumasan. &elumas pada alat berat memiliki berbagai macam #ungsi. Bungsi yang spesi#ik untuk masing"masing pelumas tergantung dari kebutuhan dari komponen di dalam kompartemen yang dilumasi. Beberapa #ungsi dari pelumas adalah sebagai berikut, dilumasi. (emindahkan panas. (encegah korosi. (eneruskan tenaga. (eredam beban kejut. (engurangi ketegangan pada bidang kontak. (engontrol deposit. (engontrol kontaminan. (engontrol gesekan. (elawan oksidasi. li engine harus mampu untuk mengendalikan produk berbahaya dari hasil li engine juga harus mengontrol

!ompartemen engine merupakan kompartemen yang paling sulit untuk pembakaran yang masuk ke oli. Sisa pembakaran ini dapat meningkatkan keausan dan membentuk Eat bersi#at asam penyebab karat. deposit yang terbentuk di ruang bakar. li engine harus mampu tetap mengalir pada

suhu yang rendah saat engine baru dihidupkan tapi oli yang sama juga harus mampu menahan jangan sampai teroksidasi pada saat engine mencapai suhu kerjanya.

%3

)am*ar 3.1 Eng$ne 6at D11& &elumas drive train harus mampu melindungi gear dan &earing dari keausan yang berlebihan. Beberapa dari kompartemen ini tidak memiliki sistem pendingin, sehingga oli drive train harus bisa juga menahan oksidasi saat beroperasi pada suhu kerja yang tinggi. Bungsi tambahan dari dari pelumas drive train adalah untuk mengontrol gesekan. $ransmisi powershift dan sistem pengereman tipe basah memiliki kebutuhan spesi#ik oli untuk menangani gesekan yang terjadi. &elumas hendaknya mengiEinkan clutch untuk engage penuh sambil pada saat yang bersamaan oli juga mendinginkan komponen tersebut dan meminimalkan keausan yang terjadi. Sistem hidrolik banyak diaplikasikan pada mesin atau engine 5aterpillar. 9idrolik digunakan untuk, ground engaging tool, steering dan menggerakan mesin 'transmisi hidrostatik). li hidrolik harus mampu menahan timbulanya oksidasi dan li tersebut juga mencegah timbulnya karat pada komponen"komponen yang vital. tinggi. 3.2 "m+"s$s$ Pelumas

harus menyediakan perlindungan terhadap karat untuk pompa hidrolik bertekanan

%?

&elumas alat berat dibuat dengan cara menggabungkan &ase stoc s dan additives. Secara umum komposisi campurannya adalah A0> &ase stoc s dan %0> additives.

)am*ar 3.2 7am+uran 8at98at +en(usun 7a$ran +elumas !ase stoc merupakan bahan baku utama yang menyusun suatu cairan pelumas. Banyak proses yang harus dilalui untuk meng"ekstrak &ase stoc pelumas dari sumber crude oil. !walitas dari crude oil dan proses pengolahannya akan menentukan unjuk kerja dari &ase stoc s tersebut. &ada beberapa kasus &ase stoc s merupakan hasil sintesa dari sumber minyak yang lain selain crude oil sehingga disebut &ase stoc s sintetik. !ase stoc s sintetik ini biaya produksinya lebih tinggi. Untuk pelumas alat berat, &ase stoc s harus ditambah oleh Eat additives untuk melindungi komponen yang berkerak, mengontrol deposit dan menambah kemampuan gesekan. Secara umum terdapat tiga jenis &ase stoc s yang dikenal saat ini, yaitu, !onvensional 'ighly refined conventional Sintetik

(asing"masing jenis &ase stoc s memerlukan jenis additives tertentu agar mampu memberikan unjuk kerja yang maksimum. !ase stoc s konvensional dan highly refined menggunakan crude oil sebagai bahan baku. Jenis dan proses pemurnian yang dilakukan akan menentukan kwalitas dari &ase stoc s tersebut. !ase

%0

stoc s sintetik terbuat dari berbagai macam sumber minyak. !arakteristik &ase stoc s jenis ini adalah memiliki ketahanan oksidasi pada suhu yang tinggi dan memiliki kemampuan alir yang baik saat suhu rendah. !ase stoc s sintetik tetap masih memerlukan additives apabila akan dipergunakan sebagai pelumas pada alat berat. (dditives untuk pelumas alat berat dicampurkan ke dalam &ase stoc s pada suatu kondisi yang terkontrol di pabrik pencampurnya. (dditives untuk pelumas alat berat diproduksi oleh empat pemasok utama, yaitu, F Detergents F Dispersant (fton %nfinum )u&ri*ol Oronite , , (engurangi timbulnya deposit, mengotrol korosi. (enjaga agar jelaga 'soot) tidak menggumpal, mengontrol F Anti-oxidants F Anti-Wear , , keausan, mengurangi timbulnya lumpur

Jenis additives yang biasa digunakan adalah,

'sludge), mengontrol peningkatan viskositas. (enghambat oksidasi. (engurangi keausan dengan cara melapisi permukaan dengan oil #ilm. F Viscosities modifier , F Friction modifier , (eningkatkan viskositas pada suhu tinggi. (eningkatkan unjuk kerja clutch dan rem.

(dditives oli merupakan campuran kimia yang rumit dan secara spesi#ik dirancang untuk meningkatkan unjuk kerja oli. Umumnya instrumen yang terdapat di laboratorium oli dapat mendeteksi beberapa komponen yang menyusun campuran additives tersebut. 8lemen yang bisa ditemukan pada additives adalah, 5a, (g, .n, &, Si, (o, B, Ba.

%=

Jenis"jenis additivies yang terdapat pada berbagai macam oli dapat dilihat pada tabel di bawah ini ,

Ta*el 3.1 %en$s9jen$s a##$t$:$es 3.3 las$,$kas$ Unjuk erja 4l$ 3 Pelumas

Unjuk kerja pelumas ditentukan oleh suatu sistem yang terdiri dari, pembuat minyak pelumas, pembuat alat kerja 'otomoti# atau alat berat), perusahaan pembuat additives, laboratorium penguji dan asosiasi pekerja teknis atau insinyur. !elompok ini selanjutnya yang menentukan berbagai macam spesi#ikasi oli yang digunakan pada peralatan alat berat. +isamping merujuk pada standar industri 5aterpillar juga secara internal membuat spesi#ikasi untuk menentukan pelumas yang direkomendasikan khusus untuk machine atau engine yang diproduksi oleh 5aterpillar. Secara akti# 5aterpillar juga ikut serta dalam membuat standarisasi dan menjadi sponsor pengujian untuk pelumas industri. 3.3.1 Engine Oil

%@

5aterpillar menggunakan sistem klasi#ikasi oli *&I '(merica Petrolium %nstitute) dan spesi#ikasi 5at 85B"% dalam menentukan pelumas untuk 5at diesel engine. *&I sistem ditentukan oleh serangkaian pegujian operasi engine dan pengetesan di test &ench. Sedangkan spesi#ikasi 5at 85B"% mencakup adanya beberapa pengujian tambahan dan pengujian batasan kimiawi. *&I mengatur lisensi dan melakukan program serti#ikasi untuk pelumas engine diesel dan bensin. F li yang memenuhi unjuk kerja *&I dapat mencantumkan *&I simbol sebagai bukti telah lolos uji serti#ikasi. li kategori *&I 4S6 adalah oli yang di desain untuk engine gasoline 'bensin). 4S6 adalah singkatan dari spar yang berarti percikan api. !arena motor bensin menggunakan percikan bunga api dari busi untuk menyalakan pembakaran. F li kategori *&I 456 adalah oli yang di desain untuk engine diesel alat berat. 456 adalah singkatan dari compress yang berarti tekanan. !arena motor diesel menggunakan kompresi untuk menghasilkan panas yang menyalakan pembakaran. F li universal dengan kategori 456 dan 4S6 dapat digunakan baik pada diesel maupun gasoline. li diesel engine klasi#ikasi 5I"? telah memenuhi lima pengujian yang dilakukan. +ua pengujian diantaranya dibuat oleh 5aterpillar. &engujian 5at dirancang untuk menguji kemampuan oli dalam mengontrol deposit dan menjaga agar konsumsi oli tetap berada pada level yang dapat diterima. &embuat engine yang lain biasanya juga membuat pengujian tambahan untuk klasi#ikasi *&I yang telah ada. Secara ideal klasi#ikasi *&I harus mampu menyediakan oli untuk semua diesel engine modern. $etapi banyak pembuat diesel engine masih membutuhkan oli dengan unjuk kerja yang lebih tinggi. !arena itulah maka para pembuat engine diesel masih mengeluarkan spesi#ikasi khusus untuk engine yang mereka buat dengan kode spesi#ikasi khusus.

%A

5aterpillar +8

secara khusus dibuat untuk memenuhi kebutuhan dari diesel harus memenuhi semua

engine 5aterpillar dengan unjuk kerja yang tinggi. 5at +8

persyaratan terakhir yang digariskan oleh spesi#ikasi *&I, 5at 85B"% dan lulus dari serangkain pengujian yang dilakukan pada engine 5at. &engujian pada unjuk kerja oli dilakukan baik pada engine yang diaplikasikan di on+highway maupun off+highway. 5at +8 3.3.2 tersedia baik yang menggunakan konvesional &ase stoc s ataupun full synthetic &ase stoc s. Transmission Oil 5aterpillar secara mandiri telah membuat oli spesi#ikasi $ "? untuk memenuhi kebutuhan yang beraneka ragam pada komponen drive train. $ "? harus memiliki karakteristik khusus untuk menangani gesekan yang presisi dengan berbagai macam bahan atau material gesek. Bahan bergesekan ini digunakan pada transmisi powershift dan sistem pengereman basah. $ "? juga harus memiliki kemampuan melindungi keausan yang tinggi untuk melindungi komponen differential dan final drive. Spesi#ikasi yang dimiliki oleh oli 5aterpillar $ "? adalah sebagai berikut, F +irancang untuk mencapai keseimbangan antara gesekan statik dan dinamik pada clutch transmisi dan rem basah. F $elah diuji pada enam jenis material clutch dan rem yang berbeda. F $elah diuji untuk keausan gear, ketahana terhadap korosi dan keausan pada pompa hidrolik. F Spesi#ikasi $ "? tidak mengijinkan penggunaan oli multigrade. 9anya oli single grade yang bisa digunakan untuk memberikan perlindungan keausan untuk &earing dan gear pada differential dan final drive. F li $ "? juga direkomendasikan untuk, transmisi powershift, final drive, differential dan bevel gear. li $ "? juga memiliki unjuk kerja yang baik apabila digunakan pada sistem hidrolik 5aterpillar.

%<

Spesi#ikasi yang dimiliki oleh oli 5aterpillar $ "?( adalah sebagai berikut, F li drivetrain khusus multigrade yang dibuat oleh 5aterpillar untuk digunakan pada, transmisi powershift, sistem rem basah dan sistem hidrolik. F $ "?( digunakan apabila karena disebabkan oleh #aktor cuaca atau iklim diperlukan pemakaian oli grade S*8 %/C di musim dingin dan grade S*8 3/ dimusim panas. F li $ "?( tidak dapat digunakan di kompartemen #inal drive atau di##erential dikarenakan oli tersebut tidak dapat menyediakan perlindungan yang memadai untuk gear yang ada di kompartemen tersebut. li 5aterpillar $+$ memiliki unjuk kerja diatas dari yang dimintakan oleh spesi#ikasi oli $ "?, F Unjuk kerjanya telah terbukti melalui serangkaian evaluasi pada mesin 5aterpillar yang menguji, keausan, shi#ting transmisi dan kemampuan pengereman basah. F 7olos pengujian penuh pada semua tingkatan di laboratorium baik untuk mengevaluasi keausan gear pada #inal drive maupun unjuk kerja transmisi. F :ersi multi"grade untuk oli 5aterpillar $+$ adalah $+$ $(S. 3.3.3 H dra!lic Oil (achine 5aterpillar membutuhkan oli hidrolik yang pada perkembangannya spesi#ikasi oli untuk aplikasi ini merujuk pada teknologi oli engine. F li engine menyediakan jumlah yang memadai untuk detergents, dispensants dan additives penahan keausan 'anti+wear) untuk melindungi 5at hidrolik sistem. F li diesel engine harus mengandung senyawa Einc setidaknya sebanyak <// ppm untuk melindungi pompa bertekanan tinggi dari timbulanya lecet 'scu##ing). F li hidrolik standar industri tidak dapat digunakan digunakan pada mesin 5at. li hidrolik standar industri tidak dapat digunakan karena umumnya oli

2/

tersebut tidak mengandung additives dispersants dan anti+wear yang memadai. +ua additives tersebut sangat diperlukan pada oli hidrolik karena, F $ispersants menjaga agar molekul air yang menjadi kontaminan dalam oli hidrolik tetap terpisah untuk mencegah timbulnya lecet dan korosi. F ,inc diperlukan untuk melindungi pompa dari timbulnya lecet dan keausan. li hidrolik &iodegrada&le bisa juga digunakan apabila memenuhi spesi#ikasi 5at BB" %. li yang memenuhi spesi#ikasi BB"% telah melampaui tes yang disyaratkan untuk, F !eausan pompa hidrolik. F !eausan gear. F !eausan four+&all. F !ecocokan seal. F !etahanan terhadap timbulnya busa oli '#oaming resistance). Spesi#ikasi yang dimiliki oleh oli 9idrolik 5aterpillar adalah sebagai berikut, F 5at 9G+ dibuat dan diuji untuk memastikan usia optimum dari 5at hidrolik sistem bisa tercapat. 5at 9G+ telah terbukti mampu untuk diganti tiap ?/// jam di sistem hidrolik 5at. F *pabila 5at 9G+ tidak ada maka oli produksi 5aterpillar berikut ini juga memiliki unjuk kerja yang sama, +8 , $+$ , $+$ $(S H ($ . F 5at 988S adalah produk &iodegrada&le yang melebihi kebutuhan spesi#ikasi 5at BB"% dan memenuhi kebutuhan biodegrability yang telah digariskan oleh 8&* dan 85+. 3.3.4 Final Drive " Axle Oil 5aterpillar juga merancang oli khusus yang bisa memenuhi kebutuhan dari final drive dan differential. Spesi#ikasi dari oli 5at B+"% telah mamasukkan #aktor keausan gear, keausan bearing dan si#at viskositas untuk class oli jenis baru. B+"% oli

2%

memiliki unjuk kerja yang melebihi $ "? pada komponen differential dan final drive. Gang harus dipatuhi adalah bahwa oli B+"% hanya bisa dipakai pada kompartemen yang memiliki gear. !ompartemen dengan komponen rem basah dan clutch basah harus menggunakan oli $ "?. 5at B+* memiliki spesi#ikasi sebagai berikut, F 5at B+* melebihi kemampuan yang dimiliki oleh spesi#ikasi 5at B+"%. F 5at B+* adalah oli yang disarankan oleh pabrik untuk dipakan pada machine off+highway truc dan trac type tractor besar. F &ada off+highway truc , penggunaan oli dapat diperpanjang dari yang sebelumnya 2/// jam menjadi ?/// jam apabila menggunakan B+* . 3.4. '$,at ; arakter$st$k Pent$ng Pelumas. !arakteristik aliran 'flow characteristic). -iscocity %nde. ( -% ) !emampuan memisahkan kontaminan 'dispersion of contaminants). &engontrolan deposit 'deposit control). !etahanan terhadap karat 'corrosion reistance)

Si#at dari pelumas yang akan dibahas pada bagian ini meliputi,

!eempat properti ini harus ada pada semua pelumas yang digunakan di alat berat. 8mpat si#at ini didesain untuk mengurangi keausan dan menjaga agar masing" masing kompartemen dapat bekerja pada unjuk kerja terbaiknya. 3.4.1. arakter$st$k Al$ran F !arakteristik *liran, pelumas alat berat harus mampu mengalir untuk menjangkau komponen vital saat mesin atau engine dihidupkan pada kondisi yang dingin. &elumas tersebut juga harus mampu menyediakan selapis tipis oli yang disebut oil film pada komponen tersebut saat beroperasi pada suhu tinggi.

22

F !arakteristik aliran dari suatu oli diukur dengan angka viskositas. +imana viskositas atau kekentalan dide#inisikan sebagai tahanan #luida untuk mengalir. Unjuk kerja viskositas dari pelumas alat berat di identi#ikasi dengan grade viskositas 'viscosity grade). 5aterpillar merujuk pada 4Society of (utomotive /ngineers6 'S*8) viscosity grades dalam menentukan spesi#ikasi kekentalan yang dibutuhkan pada suatu kompartemen. S*8 %0C?/ digunakan untuk menentukan kekentalan yang dibutuhkan untuk oli engine, oli drive train dan oli hidrolik. S*8 J3/= digunakan untuk menentukan kekentalan yang dibutuhkan untuk oli gear. $abel dibawah ini menunjukan kekentalan yang dibutuhkan menurut spesi#ikasi S*8 J3//. 0rade dengan huru# 4C6 ditujukan untuk oli yang digunakan pada suhu rendah, yang lainnya adalah oli yang diuji unjuk kerjanya pada suhu tinggi.

Ta*el 3.2. :$sk"s$tas "l$ menurut s+es$,$kas$ 'AE %3<< &ada S*8 J3// sistem viskositas yang digunakan adalah, F F li single grade hanya memenuhi satu grade viscosity saja. li multi+grade memenuhi kebutuhan baik untuk yang 1#2 grade dan 1non+#2 grade.

23

9ampir semua oli multi+grade menggunakan additives viscosity modifier untuk meningkatkan viskositi pada suhu tinggi. &ada kasus tertentu viscosity modifier ini bisa saja rusak sehingga viskoitas oli akan turun saat bekerja pada suhu tinggi.

S*8 J3/= menentukan grade viskositi untuk oli gear. Seperti S*8 J3//, S*8 J3/= juga memiliki grade 4C6 untuk musim dingin dan grade 4non"C6 untuk beroperasi pada suhu tinggi.

)ra,$k 3.1. :$sk"s$tas "l$ *er#asarkan mus$m S*8 J3/= hanya melakukan dua pengujian saja sedangkan S*8 J3// melakukan empat jenis pengujian untuk menetukan viscosity grade"nya.

2?

Ta*el 3.3. :$sk"s$tas "l$ menurut s+es$,$kas$ 'AE %3</ 9ampir semua lab mampu melakukan pengukuran inematic viscosity pada oli baru dan bekas. &engukuran inematic viscosities mampu menemukan indikasi adanya kontaminasi ataupun oksidasi pada oli bekas. &engukuran viskositas pada suhu rendah ataupun 1high shear rate viscosity2 jarang dilakukan di lab. analisis. &engukuran dua satuan tersebut lebih rumit dan membutuhkan alat pengetesan khusus. 3.4.2 0$s7"s$t( In#e=

)ra,$k 3.2. 0$s7"s$t( In#e= -iscosity inde. ':I) adalah sebuah ukuran dari perubahan kekentalan sebuah cairan berhubungan dengan perubahan suhu. Jika konsistensi sebuah cairan relati# sama dengan perubahan temperatur, cairan tersebut memiliki :I yang tinggi. Jika sebuah cairan berubah menjadi kental pada temperatur rendah dan sangat encer pada temperatur tinggi, cairan tersebut memiliki :I yang rendah. menyediakan perlindungan yang cukup untuk mencegah keausan. 3.4.3 >at Pengura$ "ntam$nan Banyak Eat kontaminan yang masuk ke oli dan tidak dapat dilarutkan. $anpa dispersants maka kontaminan ini akan bergabung dan membesar ukurannya. &ada akhirnya kontaminan yang menggumpal ini dapat merusak sistem pelumasan dan meningkatkan keausan. Jenis kontaminan yang umum ditemukan adalah, F Jelaga 'soot) pada engine diesel. il yang encer tidak

20

F Udara. F Coolant. F !low&y gasses 'udara dari ruang bakar)

)am*ar 3.3. 8at +engura$ k"ntam$nan &engukuran dan unjuk kerja dari dispersants. F $ingkat dispersant tidak dapat dengan mudah diukur baik pada oli baru maupun bekas. F Unjuk kerja oli yang dilihat melalui tes yang standar dapat digunakan untuk menentukan ke"e#ekti#an dari dispersant. F $ispersant di dalam oli menjaga agar jelaga jangan sampai menggumpal. 9al ini dapat mengurangi keausan, timbulnya lumpur dan peningkatan kekentalan yang diakibatkan oleh jelaga. F $ispersant pada oli hidrolik menjaga agar molekuk air tetap saling terpisah sehingga mengurangi korosi dan melindungi pompa tekanan tinggi. 3.4.4 Meng"ntr"l De+"s$t +eposit dapat terbentuk pada semua kompartemen yang dilumasi. (dditives detergent telah dirancang untuk mengontrol atau membatasi pembentukan deposit di kompartemen pelumasan. Jenis problem yang diakibatkan oleh deposit antara lain adalah, F 7engketnya piston ring dan hilangnya pengontrolan oli di engine.

2=

F 4-alve guttering6 . F 7engketnya 4control valve6 di transmisi powershift H sistem hidrolik. Unjuk kerja dan pengukuran dari additives detergents F (dditives detergents adalah campuran kimia pada oli yang biasanya mengandung kalsium dan magnesium. F Umumnya analisa yang dilakukan hanya mengukur jumlah dari atom kalsium atau magnesium di dalam oli. Unjuk kerja sesungguhnya dari campuran additives didalam oli hanya bisa diukur melalui pengujian standar laboratorium. F (dditives detergents bertanggung jawab terhadap munculnya deposit debu pada ruang bakar di gas dan diesel engine. !eseimbangan yang tidak tepat dari additives detergents ini justru bisa menghasilkan deposit yang berlebihan di area ini. 3.4.! etahanan Terha#a+ "r"s$ !ombinasi antara kontaminan dan air di dalam oli dapat menghasilkan asam yang mampu merusak oli dan mempercepat keausan. *sam tersebut akan menyerang, F *sam di ruang bakar dapat mengakibatkan karat pada permukaan cylinder liner. F *sam pada oli hidrolik akan meningkatkan oksidasi dan menjadi pencetus makin cepatnya keausan pada pompa. F &ada final drive, korosi kemungkinan akan menghasilakn serbuk karat di case dan gear.

2@

)am*ar 3.4. ?corrosion pit@ +a#a *ag$an ?piston ring-land@. &engukuran dan unjuk kerja oli, F &elumas alat berat dicampur juga dengan additives yang memiliki kandungan alkali. *dditives yang mengandung alkali ini ber#ungsi untuk menetralkan asam di dalam oli. (dditives tersebut juga akan membentuk lapisan yang melindungi permukaan metal. F &ada banyak oli, additive detergents juga menghasilkan alkali sama seperti additives yang terbuat dari campuran Einc yang akan melindungi permukaan logam. F &engujian 4$otal Base 1umber6 '$B1) dilakukan untuk mengukur kandungan alkali pada oli baru dan bekas. F &engukuran 4$otal *cid 1umber6 '$*1) dilakukan untuk mengetahui jumlah asam yang ada pada oli baru dan bekas. 3.!. #c$ed!le Oil #ampling A'.4.'B Schedule Oil Sampling merupakan suatu program yang dibuat 5aterpillar untuk membantu pelanggan dalam mengetahui kerusakan alat secara dini dengan mengambil contoh oli guna mengurangi biaya perbaikan dan downtime. $ujuan dilaksanakannya S. .S ini adalah untuk mengetahui kondisi oli dan kondisi komponen"komponen dimana oli tesebut bekerja. &engambilan contoh olinya dilakukan secara berkala dari tiap sistem ' engine, hydraulic, transmission, final drive )untuk diperiksa di laboratorium S. .S 5aterpillar yang saat ini ada di dua lokasi di Indonesia yaitu di Jakarta dan di Balikpapan. &rosedur pengambilan contoh oli dan pengisian label in#ormasi yang benar dan sangat penting untuk memastikan keakuratan pemeriksaan, analisa dan pemberian rekomendasinya. *pabila elemen S. .S ini secara disiplin dilakukan maka akan didapatkan hasil"hasil sebagai berikut ,

2A

(enekan H( Cost dengan melakukan , o &erbaikan sebelum rusak. o &enjadwalan perbaikan.

mungkin. pemeriksaan terhadap ,

(endeteksi adanya kerusakan pada komponen sedini

Rekomendasi langkah"langkah apa yang dilakukan untuk memperbaiki masalah. (encegah timbulnya kerusakan parah.

&roses pemeriksaan terhadap oli yang dikirim ke labotorium S. .S meliputi *nalisa laju keausan. *nalisa kebersihan oli. *nalisa kontaminasi oli. *nalisa kondisi oli.

+alam melakukan analisa terhadap contoh oli maka proses yang terjadi adalah membandingkan antara kondisi contoh oli tersebut dengan kondisi oli yang diperoleh dari uji empiris yang dilakukan di pabrik sebelum machine atau engine tersebut dijual ke pasar bebas. Setelah pabrik melakukan serangkaian uji empiris terhadap kondisi saat digunakan pada machine atau engine maka data tersebut disimpan secara elektronik dalam suatu sistem database in#ormasi yang ada di tiap 5at S. .S laboratorium. #.O.# F%&D A'A()#&# (A*O+ATO+&E# sample +ata empiris dari 5aterpillar " Cear rate table " il condition " contaminan

5omputeriEed database

S. .S #luid analysis laboratories

customer 2<

)am*ar 3.!. urutan anal$sa has$l '.4.' +ari gambar di atas bisa dilihat bahwa unit 5aterpillar baik machine maupun engine sebelumnya telah melalui serangakaian pengujian untuk mendapatkan data empiris dari karakter laju keausan, kondisi oli dan kontaminasi. +ari data tersebut maka segera bisa diketahui apabila terjadi suatu kondisi yang tidak normal. Sebagai ilustrasi tambahan bisa dilihat pada gambar di bawah ini yaitu contoh dari pola laju keausan komponen yang dideteksi dari serbuk logam pada oli. &ola laju keausan pada tiap"tiap unsur komponen seperti Be, 1i, 5o memiliki kesamaan bentuk menyerupai seperti bentuk bak mandi ' &ath tu& curva ). $entu saja laju keausannya parts per million' ppm ) yang memiliki nilai berbeda. +engan merujuk pada in#ormasi wear ta&le specification tersebut maka apabila kita melakukan pemeriksaan terhadap laju keausan dari suatu contoh oli, hasilnya bisa kita masukkan ke dalam gra#ik tersebut. Untuk suatu waktu ' S(U ) tertentu maka bisa ditentukan apakah keausan yang timbul masih dalam nilai spesi#ikasi normal atau tidak ' masih masuk di antara nilai maD dan min ). *pabila pemeriksaan dilakukan secara periodik sesuai dengan jadwal maka bisa didapat suatu rangkaian nilai aktual keausan yang berbentuk trend. +engan trend curve yang didapat maka dapat diambil suatu tindakan pencegahan apabila trend yang didapat menunjukkan ada kecenderungan nilai keausan akan keluar dari spesi#ikasi yang ada. &ada gambar di bawah dapat diambil tindakan setelah melihat hasil pemeriksaan oli yang ketiga ' I3 )karena dari garis trend terlihat kecenderungan laju keausan akan berada diluar nilai spesi#ikasi setelah melewati pemeriksaan yang ketiga tersebut.

3/

Anal$sa Laju

eausan
(aDimum
Cear $able Speci#ication 'Bath $ub 5urve)

Caktu e au sa n x1
x2

*ctual Cear x4 x3

(inimum

)ra,$k 3.3. anal$sa laju keausan In#ormasi yang bisa didapatkan dari hasil pemeriksaan empiris oleh pabrik tersebut adalah kemampuan untuk memberikan rekomendasi komponen apa yang harus diperiksa apabila ditemukan laju keausan yang berlebih dari suatu unsur . pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui secara pasti apakah keausan yang berlebih tersebut berasal dari komponen yang dicurigai. Selain dari memahami mengenai hasil pemeriksaan dari S. .S laboratorium, dan rekomendasi teknis yang bisa diberikan terdapat hal lain yang tidak kalah pentingnya yaitu bagaimana mengkomunikasikannya kepada pemilik unit. +alam hal mengkomunikasikan hasil dari pemeriksaan contoh oli maka yang menjadi tanggung jawab dealer dalam hal ini &$. $rankindo, adalah , (emberikan lapoaran tertulis atau elektronik yang berisi , o 9asil observasi. o *nalisa.

3%

o 8valuasi. o Rekomendasi. jawab sebagai berikut , (emberikan cacatan perawatan yang akurat dengan cacatan Service Meter 3nit ' S(U ) - jarak. 9al ini diperlukan unutuk mendata riwayatdari unit yang bersangkutan. (elakukakan pengambilan sample oli dengan prosedur dan selang waktu yang benar. &rosedur pengambilan sample oli sangat mempengaruhi keakuratan dari hasil analisa yang dilakukan. (emberikan in#ormasi sample oli dan penambahan oli kalau ada dengan benar dan lengkap. &enambahan oli saat unit beroperasi akan memberikan pengaruh berupa penambahan #aktor koreksi pada perhitungan dan analisa yang dilakukan di laboratorium. (engin#ormasikan perubahan kondisi dan unjuk kerja unit. !ondisi unjuk kerja menjadi #aktor atau parameter yang menentukan rekomendasi yang akan diberikan. (elakukan pemeriksaan filter oli bekas. &emotongan filter dan pemeriksaan #ilter bekas merupakan pemeriksaan lapis pertama yang mampu mendeteksi partikel kontaminan berukuran besar yang tidak mampu dideteksi oleh laboratorium S. .S. (emeriksa adanya kebocoran. !ekurangan oli akibat kebocoran dapat dengan cepat merusak sistem. !erja sama antara dealer sebagai penyedia layanan pemeriksaan S. .S dan pelanggan sebagai pemilik unit harus berjalan dengan baik. 9al ini sangat penting +alam kondisi darurat maka laporan harus tiba dalam waktu maksimum 2? jam. $indak lanjut dari rekomendasi.

Sedangkan pihak &$. 11$ sebagai pemilik alat berat memiliki tanggung

32

karena laboratorium S. .S sendiri memiliki beberapa keterbatasan yaitu tidak mampu mendeteksi beberapa hal sebagai berikut , !elelahan material - fati4ue. Serpihan metal ' di atas ?/ mikron ). !urang oli. !easlian oli.

3.!.1. Pr"se#ur Pengam*$lan 6"nt"h 4l$ 9al utama yang harus diperhatikan selama melakukan pengambilan contoh oli adalah , a. (elakukan pengambilan oli yang representative untuk memudahkan proses pemeriksaan material yang terdapat pada sistem akibat keausan dan material asing yang masuk kedalam sistem. b. (elakukan pengambilan sample tepat waktu dan secara berkala sangat penting untuk mengetahui problem secara dini dan mempertimbangkan waktu yang optimal untuk melakukan perbaikan. c. (enjaga masuknya kontaminan selama proses pengambilan sample. 3.!.2. Peralatan Dang D$gunakan "ools yang dipergunakan untuk pengambilan sample adalah ,

33

)am*ar 3./. tools (ang #$gunakan untuk mengam*$l !eterangan E %. %=<"A3@3 Bottle ;roup, 3// per boD 2. %=2"AA@3 &robe, 9older 3. %@@"<3?3 5ap and &robe ;roup, 0// per boD ?. ?5"?=// (ailer 5ontainer " reusable 0. %U"A@0@ $ube " =.30 mm '%-? in) .+. D 3/.0 m '%//#t) rolls, 0 rolls per boD =. ?5"?/0= $ube " @.< mm '0-%= in) D 3/.0 m '%// #t) rolls, 0 rolls per boD @. %=<"@3@3 5lear Bottle, @%g '2 %-2 oE), 2// per boD A. %=<"@3@2 5lear Bottle, %%?g '? oE), 2// per boD <. %U"0@%A :acuum &ump %U" 0@%< Seal !it #or %U"0@%A &ump %/. A$"<2/A &robe, purging %%. %U"@=?A $ube 5utter %U"A0A< Replacement Blades %2. A5"A?0= Sealed 5ap'#or temporary sealing o# leaky sample valve) %3. A5"3??= il Sampling :alve '@-%= inch"2/ " eDt. thread) 3J" @30? "Ring Seal #or A5"3??= %?. @I"33A@ il Sampling :alve '%-? inch"%A 1&$B " eDt. thread) %0. A5"33?0 il Sampling :alve ((%/ D % " eDt. thread) A$"@A@= "Ring Seal #or A5"33?0 %=. A5"3??0 +ust 5ap '8ngine) A5"3??@ +ust 5ap '$ransmission) A5" 3?0% +ust 5ap '9ydraulic) =:"/A02 +ust 5ap 'Blank) %@. ?5"3=/2 Brosted Bottle,0@g '2oE), &er boD 3.!.3. Met"#e Pengam*$lan #ample. a. (etode sampling valve

3?

(etode sampling valve merupakan metode pengambilan sample oil dari sampling valve yang dipasang pada sistem yang bertekanan. &rosedur pengambilan sample oil menggunakan metode ini adalah , " " (enggunakan sampling &ottle '%=<"A3@3), sampling pro&e 5 tu&ing '%@@" <3?3) dan pro&e holder '%=2"AA@3). Selalu lakukan pengambilan sample mulai dari sistem yang paling bersih terlebih dahulu seperti hydraulic, transmisi dan engine dan lakukan pengambilan sample sewaktu oil masih panas. " " Jangan menggunakan sampling pro&e yang sama untuk setiap jenis oil dan tubing harus selalu baru untuk masing"masing pengambilan. Isi label botol S S dengan lengkap sebelum memulai pengambilan sample.

)am*ar 3.1. +engam*$lan sample "l$ menggunakan sampling pro,e " t!,ing " perasikan alat selama lima belas menit sehinga oil mengalir kesemua tempat pada sistem dan turunkan R&( engine ke low idle, buka dust cup sampling valve dan bersihkan sekelilingnya. 9al ini dilakukan untuk mendapatkan sample yang betul betul mewakili kondisi sebenarnya. " $ekan pro&e ke sampling valve dan tampung sekitar %// ml oil ke tempat oil bekas seperti gambar diatas, *pabila oil tidak keluar pada kondisi low idle maka dibutuhkan orang lain untuk menaikkan sedikit putaran engine hingga

30

oil keluar. 9al ini dilakukan untuk meyakinkan oil betul betul terbebas dari contaminant yang mengendap pada valve dan mendapatkan sample yang representative. " $ekan kembali pro&e pada sampling valve dan isi botol hingga tiga perempat bagian, jangan sampai penuh dan jangan biarkan masuknya debu atau kotoran ke dalam botol atau tutupnya. " 7epas tubing dan pasang tutup botol, kemudian pasang label yang sudah disiapkan sebelumnya. b. " (etode pengambilan sample menggunakan vacuum e.traction &rosedur pengambilan sample menggunakan metode ini adalah , &engambilan sample dengan menggunakan sebuah -acuum Pump'%U0@%A) dan tubing '?5"?/0=). +irekomendasikan untuk menggunakan "u&e Cutter '%U@=?A), yang dapat dipergunakan untuk melakukan pemotongan tu&e dengan sebelah tangan. " " " " " " ;unakan metode ini pada sistem yang tidak dilengkapi sampling valve. ;unakan tubing baru setiap melakukan pengambilan sample guna mencegah contaminant. ;unakan vacuum pump tersendiri untuk masing"masing sistem. Isi label terlebih dahulu sebelum mengambil sampel. perasikan alat selama lima belas menit lalu matikan dan potong selang sepanjang minimal setengah kedalaman oil pada dipstik. (asukkan selang pada pada kepala vacuum pump dan kencangkan retaining nut. Jarak ujung selang dari &ase vacuum pump sepanjang empat sentimeter.

3=

)am*ar 3.2. +engam*$lan sample "l$ menggunakan vac!!m p!mp " (asukkan selang pada pipa dipstik dan pasang botol sample. $arik handle vacuum pump untuk menghasilkan kevakuman, tahan pegangan dan jangan diputar karena oil dapat masuk kedalam ruangan pompa dan memungkinkan contaminant masuk. Jika oil masuk kedalam ruang pompa, maka pompa harus dibersihkan sebelum melakukan pengambilan sample selanjutnya. Isi botol hingga tiga perempat. " 7epas selang dan pasang tutup botol beserta label yang telah disiapkan sebelumnya. 3.!.4. Pemasangan #ampling Valve *pabila pada alat tidak terdapat sampling valve dapat dilakukan pemasangan dengan petunjuk sebagai berikut , a. b. &asang sampling valve disetiap sistem yang bertekanan pada posisi yang mudah dijangkau dan aman. Idealnya pasang sampling valve pada tempat yang dapat dijangkau dari permukaan tanah atau pada dari tempat pijakan diluar rangka utama alat. c. Setiap sampling valve hanya boleh dipasang pada daerah yang bertekanan 0/"0// &si dan idealnya pada tempat yang bertekanan 0/ "%0/ &si. d. &emasangan sampling valve harus pada tempat dimana oil mengalir bukan ditempat yang buntu atau diujung saluran karena pada daerah ini biasanya terdapat endapan kotoran. e. Idealnya Sampling valve ditempatkan sebelum filter dan setelah pompa yang biasanya pada filter &ase. 3./. Tes D$agn"st$k

3@

&rogram pemeriksaan oli berkala atau S. .S dari 5aterpillar adalah serangkaian tes diagnostik yang dirancang untuk mengidenti#ikasi serta mengukur kontaminasi dan degradasi pada contoh oli yang diambil yang mencakup 3 tes dasar , %) *nalisa keausan. 2) $es kimiawi dan tes #isika. 3) *nalisa kondisi oli. &enjelasan singkat dari masing"masing tes tersebut di atas adalah sebagai berikut , 3./.1. Anal$sa eausan *nalisa kesausan dilakukan dengan spectrophotometer penyerapan atom. &rinsip kerja tes ini memantau tingkat keausan pada komponen tertentu dengan mengidenti#ikasi keausan elemen tertentu dalam oli. +ari data konsentrasi normal yang berlaku dapat ditetapkan batas maksimum keausan elemen. Setelah 3 kali contoh diambil, dapat dilihat garis kecenderungan keausan elemen untuk suatu motor penggerak tertentu. *ncaman kerusakan bisa diidenti#ikasi manakala garis kecenderungan menyimpang dari norma yang ditetapkan. $etapi analisa keausan ini #ungsinya terbatas hanya melacak keausan komponen serta kontaminasi keausan kotoran secara bertahap. Jika keausan timbul akibat kelelahan komponen, kekurangan pelumasan secara mendadak atau terja#i pemasukan kotoran secaraserentak, maka kondisi demekian tidak dapat dilacak melalui tes ini.

)am*ar 3.2. anal$sa sample "l$ melalu$ spectrop$otometer 3./.2 Tes $m$a #an Tes 5$s$ka

3A

&engujian kimiawi dan #isika melacak kandungan air, bahan bakar serta antibeku di dalam oli untuk menentukan apakah konsentrasinya melebihi atau tidak dari batas maksimum yang ditetapakan. $erdapatnya kandungan air dan dalam jumlah kadar berapa dapat dilacak melalui uji percikan 4 sputter test 6. Setetes oli ditempatkan di atas cawan panas bersuhu antara 23/ / B sampai 20// B. jika timbul gelembung"gelembung menunjukkan gejala positi# ' batas kelayakan /.%> sampai /.0> ). *danya kandungan bahan bakar dapat diamati melaui Setaflash "ester. *lat pengetes ini dikalibrasikan untuk menentukan jumlah persentase dilusi bahan bakar ' konsentrasi yang dibolehkan maksimum 3> ). !andungan bahan anti"beku juga dapat dihitung dengan tes kimiawi ' indikasi yang menunjuk ke positi# berarti dapat diterima ).

)am*ar 3.F. +engamatan kan#ungan a$r melau$ #p!tter Test

3<

)am*ar 3.1<. +engamatan kan#ungan *ahan *akar melalu$ #etaflas$ Tester 3./.3. Anal$sa "n#$s$ 4l$ &enganalisaan kondisi oli dilakukan melalui analisis in#ramerah. $es ini untuk menetukan dan mengukur jumlah pertikel pencemar seperti jelaga dan belerang, produk"produk oksidasi dan nitrasi. Calaupun tes ini dapat dapat melacak kandungan air dan anti beku di dalam oli, analisa in#ramerah harus selalu disertai dengan analisis keausan dan tes kimia serta #isika guna meyakinkan diagnosis yang tepat. Begitupun analisis in#ramerah pada kondisi dan aplikasi tertentu dapat pula dipakai untuk 4 customi*e6 ' mengurangi, menahan atau menambah ) interval penggantian oli.

?/

)am*ar 3.11. Anal$sa $n,ramerah meru+akan met"#e untuk mengamat$ k"n#$s$ #ar$ "l$ *ekas. 3.1. '$stem Penentuan +ating Untuk Has$l '.4.'. Sebelum menentukan peratingan terhadap hasil dari analisa S. .S perlu diketahui bahwa penentuan tersebut berdasarkan batas yang diiEinkan. +ibawah ini ada beberapa tabel yang menunjukkan batas keausan untuk peratingan pada masing" masing kompartemen untuk unit doEer +%%R. (anu#actur Bamily M"#el &roduct I+ pre#iD 6"m+artement :alid 8Juipment :alid Samples 0al$# 5lu$# H"urs Element 5aterpillar *ll D11& @&., A.R, <$R, <IR, **B EN)INE 2// 3/2A 2!< N" A7t$"n &eGu$re# m"n$t"r

A7t$"n

5opper / to %% %% to %? over %? Iron / to ?0 ?= to 0= over 0= 5hromium / to % % to % over % *lumunium / to ? 0 to 0 over 0 7ead / to = @ to A over A Silicon / to %/ %% to %3 over %3 $in / to ? 0 to 0 over 0 Ta*el 3.4. range untuk keausan +a#a k"m+artemen engine (anu#actur Bamily M"#el &roduct I+ pre#iD 6"m+artement :alid 8Juipment :alid Samples 0al$# 5lu$# H"urs Element 5opper 5aterpillar *ll D2&11 @&., A.R, <$R, <IR, **B T&AN'MI''I4N P4CE& 'HI5T %32 %2=@ 1<<< N" A7t$"n &eGu$re# m"n$t"r / to %/ %% to %2

A7t$"n over %2

?%

Iron / to 0A 0< to @% over @% 5hromium / to % 2 to 2 over 2 *lumunium / to 3 3 to 3 over 3 7ead / to ? 0 to 0 over 0 Silicon / to < %/ to %2 over %2 $in / to 3 ? to 0 over 0 Ta*el 3.!. range untuk keausan +a#a k"m+artemen transmisi-n (anu#actur Bamily M"#el &roduct I+ pre#iD 6"m+artement :alid 8Juipment :alid Samples 0al$# 5lu$# H"urs Element 5opper Iron 5hromium *lumunium 7ead Silicon $in 5aterpillar *ll D2&11 @&., A.R, <$R, <IR, **B HDD&AULI6 'D'TEM %/< A0? 2<<< N" A7t$"n &eGu$re# m"n$t"r

A7t$"n

/ to 3/ 3% to ?/ over ?/ / to 2< 3/ to 3A over 3A / to % 2 to 2 over 2 / to A < to %% over %% / to 3 ? to ? over ? / to %@ %A to 22 over 22 / to 3 ? to 0 over 0 Ta*el 3.!. range untuk keausan +a#a k"m+artemen $ dra!lic 5aterpillar *ll D2&11 @&., A.R, <$R, <IR, **B 5INAL D&I0E LH- 5INAL D&I0E &H %%< 22@@ !<< N" A7t$"n &eGu$re# m"n$t"r A7t$"n / to %/ / to %%2 / to 2 / to A / to 3 / to ?2 %% to %0 %%3 to %0/ 3 to 3 < to %% ? to 0 ?3 to 0? over %0 over %0/ over 3 over %% over 0 over 0?

(anu#actur Bamily M"#el &roduct I+ pre#iD 6"m+artement :alid 8Juipment :alid Samples 0al$# 5lu$# H"urs Element 5opper Iron 5hromium *lumunium 7ead Silicon

?2

$in / to 3 ? to ? over ? Ta*el 3.!. range untuk keausan +a#a k"m+artemen final drive LH- final drive &H 3.1.1. T$ngkatan Has$l '.4.' +eport. Setelah kita melihat tabel keausan barulah kita dapat menentukan tingkatan untuk setiap sample oli dari masing"masing kompartemen. Berikut , * B 5 I K K K K Normal '(esin dalam keadaan normal). 6eporta&le '(esin ada diatas normal tetapi belum ada yang harus ditindaklanjuti). (&normal '(esin ada yang harus ditindaklanjuti ). Critical '(esin diharuskan berhenti bekerja).

1o 5omment '+ata tidak lengkap pada label) &arameter"parameter yang ditunjukkan dari hasil feed+&ac dari labotorium S. .S ,

Ta*el 3./. 7"nt"h has$l anal$sa sample "l$ !eterangan , 7ab 1umber , berisikan tentang jumlah sample oli yang telah diuji. Sample +ate , tanggal dilakukannya pengujian atau analisa terhadap sample oli. (eter Read il 9rs il *dd , angka yang menunjukkan lamanya beroperasi suatu unit berdasarkan satuan jam. , , menunjukkan apakah ada penambahan oli pada saat service.

?3

il 5hg Bilter 5hg

, menunjukkan apakah ada penggantian oli atau tidak pada saat service. , menunjukkan apakah ada penggantian filter oil atau tidak pada saat service.

8val (o

, tingkatan yang diberikan berdasarkan hasil analisa sample oli. , kadar molybdenum yang tinggi menunjukkan keausan pada top ring piston.

Si, 5r dan Be

, !ombinasi logam ini mengindikasikan kotoran masuk melalui sistem (ir %nduction, dapat menyebabkan kerusakan pada ring dan liner.

.n

, additive ant+ wear.

&b, Si, Be, H *l , !ombinasi logam ini menunjukan adanya kotoran dibagian bawah mesin dapat menyebabkan kerusakan pada cran shaft dan &earing.

(g 5u *l 1a

, (dditives anti+foaming. , bahan yang berasal dari 5lutch +iscs, Bushings, $orJue 5onverter, il 5oolers, $hrust Cashers, dll. , !eausan pada &earing. , !enaikan mendadak mengindikasikan kebocoran pada cooling system menghasilkan lumpur yang menyebabkan ring lengket dan filter tersumbat.

C ' #ater )

, 5ampuran *ir dan oli membentuk emulsi yang dapat menyumbat filter, juga dapat membentuk asam, kemungkinan adanya kondensasi dalam cran case.

??

S$ ' Soot )

, Jelaga yang dapat menyumbat filter oli disebabkan kualitas bahan bakar, perawatan mesin, dan pengoperasian mesin yang tidak baik.

II

, Reaksi kimia antara oli dan oksigen, menyebabkan oli mengental, membentuk asam organik, menyumbat #ilter, dan deposit terhadap piston.

1I$ SU7

, (asalah hanya terjadi pada mesin natural gas. , Indikasi adanya korosi pada semua bagian mesin, berasal dari bahan bakan yang kurang baik dan menyebabkan korosi pada valve guides, ring dan liner.

IS +B

, parameter ini menunjukkan angka tentang kebersihan oli. , item yang menunjukkan apakah ada kebocoran bahan bakar yang bercampur dengan oli. Untuk item +B dimaksudkan bahwa unit tersebut memakai bahan bakar solar.

;B

, item yang menunjukkan apakah ada kebocoran bahan bakar yang bercampur dengan oli. Untuk item +B dimaksudkan bahwa unit tersebut memakai bahan bakar gas.

$B1

, *ngka yang menunjukkan jumlah kandungan alkalin dalam besar. oli, semakin tinggi nilai $B1 maka kemampuan alkalin sebagai penetral asam semakin

:%//

, *ngka yang menunjukkan tingkat kekentalan oli dengan satuan ' poise ) K L 2./A< D %/ "= lb#.S - #t2 M D L /.% 1.S - m2 M.

?0

3.2.

6"nt"h

erusakan

"m+"nen Mes$n Ak$*at Pemaka$an 4l$

3.2.1. *earing !erusakan bearing biasanya diakibatkan oleh salah satunya adalah kekurangan pelumasan atau olinya yang kotor. !urangnya pelumasan atau terjadinya pengeringan oli akan mengakibatkan penyusutan lapisan tipis oli ' oil film ) antara cran shaft dengan &earing. (esin yang dioperasikan terus menerus dengan lapisan oil film yang sudah susut dapat merusak mesin karena ketika metal to metal contact apabila tidak terdapat oil film maka keausan &earing akan cepat terjadi. Biasanya tahap awal jenis pengrusakan ini ditandai dengan pengotoran pada &earing. 7alu ditandai dengan menumpuknya partikel timah, biasanya di bagian tengah &earing. $ahap pengrusakan kedua, &earing digerogoti partikel alumunium yang mulai menyebar dari bagian tengah &earing. $ahap pengrusakan terakhir, pengeroposan &earing setelah seluruh &earing digerogoti. Jadi oli yang terkontaminasi dapat menyebabkan pengikisan dan menimbulakan goresan pada permukaan &earing akibat tersapunya lapisan oli tipis. &artikel"partikel besi, baja, alumunium, palstik, kayu, dsb, bisa juga menyerang permukaan jurnal. Begitu &earing dan permukaan jurnal mulai aus, kerenggangannya meningakat sementara ketebalan lapisan oli tidak lagi memiliki daya lindung terhadap permukaan.

?=

!earing tampa

tergores, ge7ala

pengeropoosan &earing, tahap a hir pengrusa an a i&at pelumasan ta memadai

tahap awal ter7adinya pengerusa an a i&at pelumasan ta memadai

)am*ar 3.12. kerusakan +a#a ,earing. Sumber utama dari pengikisan dalam oli adalah #ilter yang jebol. !erusakan #ilter ini disebabkan oleh masuknya oli yang tidak tersaring yang sudah dicemari partikel"partikel hasil komponen yang telah aus, kotoran serta gram"gram yang menuju &earing, menggores dan merusak permukaan. li yang kotor akibatnya sangat #atal, meskipun diganti dengan oli yang baru, sisa"sisa bahan abrasi# msih menempel di sekitar &earing dan bisa menggores cran shaft. 3.2.2. 6ranksha,t li yang mengalir ke &earing membentuk lapisan tipis antara cran shaft 7ournal dan &earing. &utaran dari cran shaft 7ournal cenderung memberikan gaya tekan kepada oli dibawah 7ournal menuju &earing dan selama operasi normal dapat mencegah metal to metal contact. !ekurangan pelumasan mengakibatkan gesekan metal to metal contact dan panas meninggi akibat pergesekan. +alam kondisi ektrim, permukaan &earing akan lengket dengan permukaan cran shaft sehingga permukaan cran shaft menjadi rusak.

?@

li yang tercemar dapat mengakibatkan keausan luar biasa pada cran shaft. 9al ini selalu disebabkan oleh kotoran yang terdapat dalam &earing.

( i&at dari e urangan oli

goresan yang

dalam

dan dalam

meling ar permu aan

menun7u an a i&at dari &ahan asah tertanam &earing )am*ar 3.13. kerusakan +a#a cran.s$aft. 3.2.3. P$st"n- &$ng #an L$ner !erusakan piston akibat pemakaian oli, pada umumnya disebabkan oleh korosi atau bahan"asah yang terdapat dalam oli yang sudah tercemar, yang dapat mengakibatkan keausan pada piston s irt. $anda"tandanya meliputi permukaan piston yang telah atau berwaran abu"abu, keausan lapisan chrome pada permukaan ring, keausan rel ring, keausan luar"biasanya pada alur dan keausan sebagian liner. &iston yang lecet terjadi karena gesekan pada pinggir piston terutama di daerah lubang pin serta lecet yang terjadi pada sisi atas piston, diperkirakan akibat dari kekurangan pelumasan liner. !erusakan lapisan tipis pada oli juga bisa mengakibatkan bekas"bekas kelecetan.

?A

!erusakan liner dapat diakibatkan oleh kurangnya pelumasan atau bahan"asah yang dapat menggosok permukaan bagian dalam liner dan menghasilkan permukaan yang licin dan mengkilap.

"anda+tanda lecet dari atas e &awah menun7u an erusa an sistem pendingin atau sistem pelumasan

8erusa an piston s irt oleh &ahan asah

)am*ar 3.14. kerusakan +a#a +$st"n. 3.2.4. T!r,oc$arger !erusakan tur&ocharger yang berkaitan dengan oli adalah diakibatkan oleh pengotoran oli atau kekurangan oli. Jika bahan"asah mengotori oli, umumnya keausan akan terjadi pada beberapa bagian. &engotoran oli dapat mengikis lubang oli pada thrust washers. !erusakan 7ournal &earing hampir selalu disebabkan oleh bahan" asah. !eausan yag diakibatkan karena kurangnya pelumsan selalu disertai oleh perubahan warna akibat panas yang tinggi. &anas dapat mengakibatkan bopeng, gumpil dan dalam kejadian gawat, material dapat terkelupas. 5ara menghidupkan dan mematikan mesin yang salah dapat mempercepat kerusakan &earing tur&ocharger. 9al ini dapat dicegah dengan membiarkan engine menjadi dingin terlebih dahulu sebelum dimatikan, sehingga oli tidak mendidih dan

?<

menjadi kering dalam &earing tur&ocharger sesudah engine dimatikan secara mendadak ketika keadaannya masih panas. &engotoran oli akan menimbulkan goresan dan keausan pada &earing tur&ocharger, akhirnya mengakibatkan kerusakan yang sama seperti ketika kekurangan oli, shaft menjadi goyang disertai kerusakan yang lainnya seperti wheel bersinggungan dengan housing atau shaft bengkok atau patah. &engotoran dapat juga menyumbat saluran lubang oli dan mengakibatkan kerusakan oleh karean kekurangan oli.

8e urangan

pelumas

menga i&at an

erusa an lu&ang oli pada diameter &agian luar dan &er urangnya u uran pada diameter &agian dalam dari 7ournal &earing dise&a& an oleh

peru&ahan &entu 7ournal &earing

e urangan pelumas )am*ar 3.1!. kerusakan +a#a t!r,oc$arger. 3.2.!. Valve atau atu+ !erusakan katup yang berhubung dengan oli umumnya diakibatkan dari terbentuknya endapan atau kekurangan oli. &enyebab umum dari lecetnya valve stem adalah menumpuknya endapan di antara valve stem dan guide. &enumpukan endapan oli tidak secara langsung menyebabkan lecet. 7ebih spesi#ik, endapan menumpuk dari

0/

pembusukan produk pelumasan menjadi residu yang teroksidasi dan sampah normal yang terjadi pada proses pembakaran. (eningkatnya endapan dapat menyebabkan kelonjongan guide. ;esekan atau goresan valve stem dapat juga diakibatakn oleh kekurangan pada valve dan valve guide. 8ndapan karbon pada valve seat dapat menimbulkan masalah jika endapan tersebut berlebihan. Sedikit pelumasan diperlukan untuk mencegah keausan berlebihan pada valve seat dan insert di kepalanya. $etapi endapan berlebihan yang terbentuk dapat menyebabkan terbentuknya karbon tebal pada valve seat yang kemudian akan rontok atau terkelupas dan menyebabkan kebocoran gas pembakaran .kebocoran gas panas ini ' berupa saluran ) menghasilkan panas tinggi melewati permukaan valve sehingga menyebabkan valve retak dan terjadai pelumeran. Jenis kerusakan valve ini dapat terjadi dalam engine dengan bahan bakar gas atau cair. !ecenderungan terbentuknya karbon dari oli, dan tingkat sulfated ash dari oli akan mengakibatkan terbentuknya karbon pada valve seat.

valve stem tergores atau lecet )am*ar 3.1/. kerusakan +a#a valve.

0%

3.F. 3.F.1.

Elemen Dasar Dang Ter#eteks$ #an 'um*ern(a "ntam$nas$ &rogram S. .S. mengidenti#ikasi dan mengukur berbagai partikel pencemar di

dalam oli yang mengakibatkan kerusakan mesin. (isalnya adanya konsentrasti tinggi kandungan temabaga menunjukkan 4 thrust washer6 atau keausan bushing. !onsentrasi chromium menunjukkan kerusakan pada ring piston 'terkecuali pada ring"ring yang berlapis plasma). Jadi S. .S. memberi peluang kapada kita untuk meneliti kondisi masing"masing komponen itu dan mengambil tindakan untuk mencegah kerusakan lebih parah. Berikut ini beberapa contoh partikel pencemar yang dapat terjadi dan apa akibat yang ditimbulakan pada kondisi mesin. Pen(e*a* Ak$*at besar. , Silikon , Ukuran silikon di atas normal menunjukkan adanya problem li yang mengandung silikon dapat mengakibatkan timbulnya

gumpalan pengikis yang dapat mengikis permukaan logam komponen selama mesin beroperasi. Pen(e*a* Ak$*at liner. Pen(e*a* Ak$*at , Silikon, Besi, 9ead, *lumunium , kombinasi pertikel ini menunjukkan terjadinya pengotoran , Silikon, 5hromium, Besi , &erpaduan dari masuknya gejala"gejala kotoran ini melewati

sistem induksi, dapat dipakai sebagai petunjuk adanya keausan pada ring dan

dalam porsi rendah pada mesin dan dapat dipakai sebagai penunjuk adanya keausan pada poros engkol ' cran shaft ) dan bearing. Pen(e*a* Ak$*at , *lumunium , Boleh jadi kritis. !onsentrasi kandungan alumunium

mengarah ke bearing. (eskipun relati# kecil peningkatan kandingan elemen ini hrus segera diperhatikan, sebab sekali keausan menggerogoti cranksha#t

02

akan menimbulkan partikel logam dalam jumlah besar yang terperangklap dalam #ilter oli. Pen(e*a* Ak$*at , besi , besi dapat berasal dari berbagai sumber. Besi bisa berubah

menjadi karat begitu mesin disimpan. Seringkali apabila diikuti dengan kelalaian dalam mengontrol oli, peningkatan kontaminasi besi dapat memperburuk liner. Pen(e*a* Ak$*at , jelaga , kandungan jelaga dalam kadar tinggi biasanya tidak langsung

menyebabkan kerusakan mesin tetapi pertikel ini tidak mudah terurai, sehingga daapt menyumbat #ilter oli dan menyusutkanj bahan aditi# dispersant. Jelaga terlihat pada terjadinya akselerasi kotoran dari gumpalan asap akibat penyetelan kurang pas. 9al inio juga menunjukkan pemakaian bahan bakar berkualitas rendah. Pen(e*a* Ak$*at , produk"produk oksidasi , oksidasi merupakan reaksi kimia antara oli dan oksigen, sama

seperti pengkaratan akibat reaksi kimia antara besi dan oksigen. &roses oksidasi terkendali oleh bahan aditi# penahan oksidasi. $etapi oksidasi dapat pula terjadi kapan saja jika oli berhubungan dengan udara. &engoksidasian timbul dari unsure" unsur dalam gas pembakaran dalam mesein disel, tinggi rendahnya temperatur, serta partikel"partikel pencemar tertentu 'seperti tembaga dan glycol) sehingga menimbulkan oksidasi. (eningkatkan proses oksidasi oli menurunkan daya pelumasan oli, akibatnya oli akan mengental, membentuk Pen(e*a* Ak$*at asam organic, menyumbat #ilter, dan pada akhirnya merenggangkan ring, menumpukkan deposit serta lapisan lain pada piston. , produk"produk nitrasi , nitrasi terjadi dari semua jenis mesin dan menjadi problema

besar terutama pada mesin berbahan bakar gas alam. Bahan"bahan campuran nitrogen berasal dari proses pembakaran, oli menjadi encer, kehilangan daya

03

pelumasan dan cenderung menimbulkan sembatan pada #ilter, menumpukkan deposit dalam jumlah besar serta lapisan"lapisan tertentu. Pen(e*a* Ak$*at , air , air yang bercampur dengan oli akan membentuk emulsi yang

akan menyumbat #ilter. *ir dan oli dapat pula membentuk asam penggerogot logam yang berbahaya. &ada kebanyakan kontaminasi air mengakibatkan pemampatan dalam bak engkol. !ontaminasi lebih gawat lagi terjdi jika ada kebocoran pada sistem pendinginan yang mengakibatkan air masuk kebagian luar sistem oli mesin. Pen(e*a* Ak$*at pelumas oli. , bahan bakar , kontaminsi bahan bakar menurunkan kadar kandungan li tidak memilliki lapisan penguat yang dibutuhkan untuk

memperkuat ketahanan gesekan logam ke logam. *kibatnya dapat merusak &earing dan melonggarkan piston. Pen(e*a* Ak$*at , belerang , adanya belerang menandakan bahaya terhadap semua

komponen mesin. Jenis keausan korosi# akibat kandungan belerang yang tinggi dapat menyebabkan pemakaian oli yang boros. Juga lebih banyak pemakaian bahan bakar selama interval penggantian oli, lebih besar jumlah kandungan belerang yang membentuk asam. !arana itu, jika mesin beroperasi dengan berat harus lebih sering diperiksa. Begitupun $B1"nya harus sesering mungkin dicek. &encemaran belerang bahan baker dapat menimbulkan regangan pada ring piston, dan keausan korosi# pada permukaan logam dari tangkai katup, ring piston serta liner. !ondisi pengoperasian mesin juga bisa berperan dasar terhadap jenis dan tingkat kontaminasi pada oli. (isalnya saja pada suasana yang kering dapat berpengaruh terhadap kadar silicon. 5ontoh lain misalnya mesin yang menganggur pada suatu saat dalam jangka waktu lama. 7iner pada mesin ini akan cepat sekali berkarat, contoh oli akan memperlihatkan kadar kandungan besi yang tinggi.

0?

3.F.2. Degra#as$ *ncaman kerusakan mesin dapat pula terjadi karena penyebab lain selain kontaminasi. Baktor lain itu bisa berasal dari degradasi pada oli. 5oba kita amati satu persatu dan apa akibat terjadinya degradasi oli terhadap mesin. Pen(e*a* Ak$*at , rendahnya temperatur jaket air , suhu udara di luar jaket air mempengaruhi pembentukan asam

korosi# pada mesin. &ertama, meskipun kadar belerang bahan bakar kurang dari /,0 > tetapi suhu udara di bawah @</5 ' %@0/B ), memudahkan terbentuknya asam vapor dan terjadi serangan korosi#. !edua, rendahnya suhu udara yang bereaksi dengan bahan aditi#, serta melemahkan #ungsi aditi# dan mengurangi daya lindung pada oli. Ini bisa mengakibatkan penumpukan deposit, pembentukan lumpur, pelapisan serta pengkarbonan yang pada gilirannya berakibat meningkatkan letupan, pelapisan lubang liner dan peregangan pada ring. Pen(e*a* Ak$*at , tingginya kelembaban udara , pada saat kondisi pengoperasian pada tingkat kelembaban

A0> atau lebih, besar kemungkinan terbentuknya gas asam akibat besarnya kadar kandungan air di udara. Ini sangat memungkinkan terjadinya serangan korosi#. Pen(e*a* Ak$*at , pemakaian oli , batas kapasitas konsumsi oli bisa memberikan in#ormasi

tentang mesin. &enggantian oli, baik bertahap maupun sekaligus merupakan gejala adanya keausan pada ring dan liner atau terjadinya regangan pada ring. &erlu diperhatikan bahwa jumlah oli yang cukup ' dengan nilai $B1 yang memadai atau cadangan alkalin yang sesuai ) akan terpompa kedaerah sabuk ring untuk menetralkan asam. Pen(e*a* , rasio beban - kecepatan yang tidak tepat

00

Ak$*at

, beban mesin menempati peranan yang sangat penting dalam

degradasi oli. (esin yang dijalankan dengan kecepatan normal berbeban tinggi akan mencapai e#isiensi optimal baik bagi sistem pelumasan maupun pendinginannya, beban dikurangi dengan mesin beroperasi tetap pada kecepatan normal, maka pelumasan dan sistem pendingin akan tetap ber#ungsi secara e#isien, hanya saja mesin yang terlampau dingin dapat mengakibatkan kondensasi. !ondisi demikian berpengaruh terhadap liner, ring dan menyebabkan peningkatan kepulan asap. Pen(e*a* Ak$*at , bahan bakar yang tidak tepat , motor penggerak 5aterpillar dirancang berbahan bakar diesel

*S$( <@0 1o.2, karenanya kandunga bahan bakarnya haruslah terdiri dari , kadar belerang kurang dari /,0 > no. 5etane minimum ?/, kekentalannya %,< N ?,% centistokes pada ?//5 ' %/?/B ), titik destilasi akhir </> pada suhu 2A2/" 5 ' 0?// B) maksimum. Bahan bakar dengan titik destilasi akhir lebih tinggi bisa merusak sebab materi destilasi yang lebih berat tidak dapat terbakar pada putaran kecepatan diesel. (esin demikian akan menimbulkan penumpukan jelaga dan produk"produk yang sulit atau hanya sebagian yang dapat terbakar, sehingga menyebabkan pembentukan deposit. !ontaminasi kepulan asap akan terangkut turun ke dinding silinder yang bisa memperberat bahan pelumas yang sudah tercemari. Pen(e*a* Ak$*at , kurangnya perawatan , salah satu di anatara contoh kurangnya perawatan yaitu interval penggantian oli beserta #ilternya sehingga

diperpanjangnya

menyebabkan deposit meningkat dan sulit untuk menetapkan kembali interval penggantian oli secara normal.

0=

BAB I0 HA'IL PEN)AMATAN DAN PEMBAHA'AN


4.1 Pengam*$lan 6"nt"h 4l$ &engambilan contoh oli dilakukan pada saat preventive maintenance ' &( ) dengan service meter unit ' S(U ) 0@./?0 dan pada tanggal %2 September 2//@ di &ay A, wor shop 98, ((* $epartment. Service ini dilakukan pada selang waktu setelah =// jam pemakaian unit. Sebelum pengambilan contoh oli ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu , Unit dibersihkan terlebih dahulu, kegiatan ini di maksudkan agar unit terhindar dari kotoran"kotoran yang akan mengganggu aktivitas service yang akan dilakukan, serta untuk menghindari debu atau lumpur yang melekat pada point pengambilan contoh oli di masing"masing kompartemen. (emposisikan unit pada bidang yang rata, agar man power dapat leluasa dalam melakukan aktivitasnya. (empersiapkan alat"alat ' tools ) yang akan digunakan untuk pengambilan contoh oli. Setelah mempersiapkan alat"alat yang akan digunakan, maka pengambilan dapat dilakukan. (enadai nama kompartemen pada semua tutup botol S. .S dengan menggunakan pena ma er dan mengisi data yang lengkap pada label yang telah disediakan untuk masing"masing kompartemen. Sebelum pengambilan sample dilakukan, engine dioperasikan selama lebih kurang %0 menit. !egiatan ini diharapkan agar oli mengalir kesemua tempat dan endapan kontaminan yang berada dalam sistem

0@

dapat teraduk sehingga analisa terhadap sample oli diperoleh hasil yang maksimal. &ada saat mengambil sample oli tidak diperkenankan untuk menggunakan sarung tangan karena apabila menggunakan sarung tangan ditakutkan banyak kontaminan yang menempel di sarung tangan tersebut, seperti debu atau oli. *pabila botol sudah dikeluarkan dari kemasannya, tetapi pengambilan belum dilakukan, maka sebelum mengambil sample oli yang akan dianalisa diharapkan untuk membersihkan bagian dalam botol dengan cara mengambil sample oli dari masing"masing kompartemen yang diisi sekitar seperempat botol atau %// ml lalu mengocoknya. 9al ini dilakukan juga untuk meyakinkan bahwa oli betul"betul terbebas dari kontaminan yang mengendap pada valve dan pada bagian dalam botol agar didapatkan sample yang representative. &ada kompartemen engine, hydraulic, dan transmisi pengambilan sample dilakukan menggunakan metode sampling valve. o &engambilan dilakukan pada saat oli masih panas. o (enggunakan tubing yang berbeda untuk masing"masing kompartemen. o (embuka dust cup sampling valve dan di sekeliling tempat tersebut dibersihkan agar pada saat pengambilan sample oli kotoran tidak ikut masuk kedalam sistem. o Untuk pengambilan sample pada kompartemen ini dilakukan dengan cara menekan pro&e ke sampling valve dan mengisi sample oli yang akan dianalisa sebanyak tiga perempat botol dan dianjurkan tidak mengisinya sampai penuh untuk menghindari oli yang tumpah serta menghindari jangan sampai debu atau kotoran masuk ke dalam botol sampling.

0A

o Setelah itu melepas tubing dan memasang kembali tutup botol sampling, kemudian memasang label yang sudah disiapakan sebelumnya. o Untuk kompartemen engine, sampling valve berada dibagian sisi kiri mesin.

)am*ar 4.1. +engam*$lan sample +a#a k"m+artemen engine. o Untuk kompartemen transmisi, sampling valve berada dibagian belakang mesin.

0<

)am*ar 4.1. +engam*$lan sample +a#a k"m+artemen transmission.

o Untuk kompartemen

hydraulic, sampling valve

berada

dibagian sisi kanan mesin.

)am*ar 4.1. +engam*$lan sample +a#a k"m+artemen $ dra!lic. Untuk kompartemen final drive pengambilan sample dilakukan dengan metode yang menggunakan vacuum e.traction. o &engambilan sample dilakukan dengan menggunakan vacuum pump, tubing dan tu&e cutter. o (etode ini hanya digunakan untuk sistem yang tidak dilengkapi sampling valve. o !arena sample yang akan diambil terdapat dua tempat yaitu final drive R9 dan final drive 79 maka direkomendasikan untuk menggunakan tubing yang berbada guna mencegah kontaminan yang bercampur.

=/

o $etapi untuk mempermudah pekerjaan, digunakan tu&e cutter untuk memotong tubing yang sudah digunakan pada salah satu bagian final drive. o Seperti halnya penggunaan tubing untuk vacuum pump pun diharapkan untuk menggunakan vacuum pump yang berbeda untuk masing"masing sistem. o Untuk mengurangi &udget yang dikeluarkan maka vacuum pump hanya cukup disediakan satu saja, untuk penggunaan pada bagian #inal drive yang lain dianjurkan untuk dibersihkan lagi menggunakan cairan pembersih. o *da beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan vacuum pump ini, yaitu , Sebelum menggunakannya terlebih diharapkan dahulu untuk dengan membersihkannya

menggunakan cairan pembersih. "u&e yang dimasukkan ke kapala vacuum pump panjangnya sekitar 2.0 centimeter dari kepala vacuum pump dan dikencangkan menggunakan retaining nut. (emasang botol sample pada pipa dipstick. !emudian salah satu ujung tu&e dimasukkan ke dalam kompartemen final drive dan diusahakan tidak menyentuh dasar dari kompartemen tersebut, agar sludge tidak ikut terangkat. Untuk pengambilan sample oli dilakukan dengan cara menarik handle vacuum pump untuk menghasilkan kevakuman, handle ditahan dan tidak boleh diputar agar oli tidak masuk ke ruangan pompa dan memungkinkan kontaminan masuk. Jika oli masuk ke

=%

dalam ruang pompa, maka pompa harus dibersihkan menggunakan cairan pembersih sebelum melakukan pangambilan sample selanjutnya dan mengisi botol hingga tiga perempat bagian botol. Untuk melakukan pengambilan sample pada kompartemen lainnya, tu&e yang telah digunakan pada pengambilan sample sebelumnya dipotong menggunakan cutter tu&e sepanjang 2,0 centimeter dan memasang kembali sepanjang 2,0 centimeter juga agar bekas sample dari kompartemen sebelumnya tidak mempengaruhi hasil analisa sample yang akan diambil. Setelah proses pengambilan sample selesai, lepas selang dan pasang kembali tutup botol beserta label yang telah disediakan.

)am*ar 4.1. +engam*$lan sample +a#a k"m+artemen final drive. 4.2. Pengamatan Has$l Anal$sa '.4.'.

=2

4.2.1. #ample 4l$ Engine &ada unit 5aterpillar penggunaan oli sangatlah penting peranannya. leh karena itu oli diesel engine klasi#ikasi 5I"? telah dirancang untuk meningkatkan kemampuan oli dalam mengontrol deposit dan menjaga agar konsumsi oli tetap berada pada level yang dapat diterima. $etapi pada kenyataannya oli yang digunakan adalah oli keluaran perusahaan 5alteD. li yang dikeluarkan pihak 5alteD memiliki li ini telah memenuhi spesi#ikasi +elo ?// dengan -iscosity grade S*8 %0 C ?/. ' +%%R ). !riteria yang telah dipenuhi yaitu antara lain , e( Pr"+ert$es 'AE )ra#e Base N". +2A<=, mg ! 9-g +?@<3, mg ! 9-g Sul#ated *sh, m> 0$s7"s$t( mm2-s O ?//5 mm2-s O %///5 :iscosity IndeD %%< %0.= %3A %%,3 %/,/ %,3 %0C?/

kriteria yang telah direkomendasikan untuk unit 5aterpillar khususnya unit doEer

Untuk hasil analisa sample yang dikirim ke labotorium S. .S dapat diketahui paling lambat satu minggu. +an hasil analisanya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

=3

Ta*el 4.1. particle co!nt keausan k"m+"nen +a#a engine. Untuk lebih detailsnya dapat dilihat pada tabel berikut ini ,

Ta*el 4.2. details analis s untuk k"m+artemen engine. +ari tabel dapat dilihat bahwa untuk kompartemen engine mendapat rating *. Ini menandakan bahwa komponen di dalam kompartemen engine masih normal, artinya tidak mengalami kerusakan komponen seperti keausan ataupun kontaminasi pada oli. +an dianjurkan untuk mengambil sample oli setelah 20/ jam pemakaian unit. Bila kita mengacu pada ambang batas keausan untuk kompartemen engine, kita dapat memastikan rating untuk sample oli pada kompartemen engine. Sebagai contoh, dari tabel hasil analisa sample oli, jumlah particle count untuk besi ' Be ) menunjukkan angka 22 berarti masuk kekriteria 4 no action re4uired 4 atau tidak dibutuhkan tindakan yang khusus atau dengan kata lain keadaan komponen masih baik

=?

(anu#actur Bamily M"#el &roduct I+ pre#iD 6"m+artement :alid 8Juipment :alid Samples 0al$# 5lu$# H"urs Element 5opper Iron 5hromium *lumunium 7ead Silicon $in

5aterpillar *ll D11& @&., A.R, <$R, <IR, **B EN)INE 2// 3/2A 2!< N" A7t$"n &eGu$re# m"n$t"r / to %% / to ?0 / to % / to ? / to = / to %/ / to ? %% to %? ?= to 0= % to % 0 to 0 @ to A %% to %3 0 to 0

A7t$"n over %? over 0= over % over 0 over A over %3 over 0

Ta*el 4.3 range untuk keausan +a#a k"m+artemen engine. 9asil dari analisa S. .S dapat disajikan dalam bentuk gra#ik.

=0

)ra,$k 4.1 particle co!nt keausan k"m+"nen +a#a engine. 4.2.2. #ample 4l$ Transm$s$. Untuk oli transmisi 5aterpillar mengeluarkan oli dengan spesi#ikasi $ "?, tetapi untuk saat ini oli yang digunakan adalah oli keluaran 5alteD dengan spesi#ikasi $B ???. li yang diproduksi oleh 5alteD ini telah memenuhi kriteria yang direkomendasikan oleh pihak 5aterpillar, seperti halnya oli $ "? yang memiliki karateristik khusus untuk menangani gesekan yang presisi dengan berbagai macam bahan atau material gesek. Bahan bergesekan ini digunakan pada transmisi dan sistem pengereman basah. $B ??? juga memiliki kemampuan melindungi keausan yang tinggi untuk melindungi komponen final drive. Untuk spesi#ikasi oli $B ??? dapat di bawah ini. e( Pr"+ert$es )ra#e 'AE )ra#e %3<< :iscosity Brook#ield, cp O ' temperature ) 0$s7"s$t( k$nemat$7 mm2-s O ?//5 mm2-s O %///5 :iscosity IndeD .inc, m> %?2 %?,? << /.%% ??? ?/C =/./// " 2/ /5

9asil analisa untuk kompartemen transmisi dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

==

Ta*el 4.4. particle co!nt keausan k"m+"nen +a#a transm$s$. Untuk detailsnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini ,

Ta*el 4.!. details analis s untuk k"m+artemen transm$s$.

=@

+ari tabel dapat dilihat bahwa untuk kompartemen transmisi mendapat rating 5. Ini menandakan bahwa ada komponen di dalam kompartemen transmisi yang mengalami keausan atau oli telah terkontaminasi. (anu#actur Bamily M"#el &roduct I+ pre#iD 6"m+artement :alid 8Juipment :alid Samples 0al$# 5lu$# H"urs Element 5aterpillar *ll D2&11 @&., A.R, <$R, <IR, **B T&AN'MI''I4N P4CE& 'HI5T %32 %2=@ 1<<< N" A7t$"n &eGu$re# m"n$t"r

A7t$"n

5opper / to %/ %% to %2 over %2 Iron / to 0A 0< to @% over @% 5hromium / to % 2 to 2 over 2 *lumunium / to 3 3 to 3 over 3 7ead / to ? 0 to 0 over 0 Silicon / to < %/ to %2 over %2 $in / to 3 ? to 0 over 0 Ta*el 4./. range untuk keausan +a#a k"m+artemen transmission. Setelah disesuaikan dengan standar angka keausan ternyata ada peningkatan elemen Be dengan jumlah particle count sebanyak @2, elemen 5u dengan jumlah particle count sebanyak ?A, dan elemen &b dengan jumlah particle count sebanyak 0/. 1ilai ini sudah sangat jauh dari nilai ambang batas yang telah ditentukan. &eningkatan ketiga elemen ini disinyalir pompa dan transmission clucth mengalami keausan. Jika hasil dari analisa menunjukkan rating 5 maka kompartemen tersebut harus segera ditindak lanjuti seperti yang dianjurkan oleh interpreter, yaitu mengecek tekanan oli, cek drive yang ada pada stall transmission, melakukan perbaikan yang diperlukan, dan mengganti #ilternya. &engambilan sample dilakukan setelah @0/ jam pemakaian unit dan untuk #ilternya, tutup #ilter dipotong dan periksa apakah ada gram yang besar yang tersaring. Particle count untuk kompartemen transmisi dapat disajikan dalam gra#ik.

=A

)ra,$k 4.2. particle co!nt keausan k"m+"nen +a#a transm$s$. 4.2.3. #ample 4l$ H dra!lic. Unit 5aterpillar membutuhkan oli yang pada perkembangannya, spesi#ikasi oli untuk aplikasi ini merujuk pada teknologi oli engine. tersebut sangat diperlukan pada oli hidrolik karena , dispersants menjaga agar molekul air yang menjadi kontaminan dalam hidrolik tetap terpisah untuk mencegah timbulnya lecet dan korosi. ,inc diperlukan untuk melindungi pompa dari timbulnya lecet dan keausan. li hidrolik yang direkomendasikan untuk unit 5aterpillar harus memenuhi spesi#ikasi 5at BB"%, yang diisyaratkan untuk , li hidrolik harus mengandung additives dispersants dan anti+wear yang memadai. +ua additives

=<

!eausan pompa hidrolik. !eausan gear. !eausan four+&all. !ecocokan seal, dan !etahanan terhadap timbulnya busa oli ' foaming resistance ).

&erusahaan 5alteD yang ditunjuk untuk menyuplai oli hidrolik, telah menyediakan oli dengan spesi#ikasi $B ?%? dan mempunyai karakteristik yang sama seperti BB"%, antara lain , e( Pr"+ert$es )ra#e 'AE )ra#e %3<< :iscosity Brook#ield, cp O ' temperature ) 0$s7"s$t( k$nemat$7 mm2-s O ?//5 mm2-s O %///5 :iscosity IndeD .inc, m> ?/.A =.0 %%/ /.%% ?%? %/C A/./// " 30 /5

9asil analisa untuk kompartemen hidrolik dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

@/

Ta*el 4.1. particle co!nt keausan k"m+"nen +a#a h$#r"l$k. Untuk detailsnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini ,

Ta*el 4.2. details analis s untuk k"m+artemen $ dra!lic. +ari tabel dapat dilihat bahwa untuk kompartemen transmisi mendapat rating B. Untuk rating B termasuk dalam kategori 6eporta&le artinya mesin ada diatas normal tetapi belum ada yang harus ditindaklanjuti. +ari hasil analisa didapatkan feed &ac berupa comments yang berisi bahwa adanya penurunan tingkat kebersihan oli dan dianjurkan untuk mengambil sample setelah 2/// jam pemakaian unit. Setelah kita mendapatkan hasil analisa dari sample oli untuk meyakinkan kita dalam menentukan peratingan kita dapat mengacu dari stPndar keausan yang terdapat di bawah ini.

@%

(anu#actur Bamily M"#el &roduct I+ pre#iD 6"m+artement :alid 8Juipment :alid Samples 0al$# 5lu$# H"urs Element 5opper Iron 5hromium *lumunium 7ead Silicon $in

5aterpillar *ll D2&11 @&., A.R, <$R, <IR, **B HDD&AULI6 'D'TEM %/< A0? 2<<< N" A7t$"n &eGu$re# m"n$t"r

A7t$"n

/ to 3/ 3% to ?/ over ?/ / to 2< 3/ to 3A over 3A / to % 2 to 2 over 2 / to A < to %% over %% / to 3 ? to ? over ? / to %@ %A to 22 over 22 / to 3 ? to 0 over 0 Ta*el 4.F. range keausan untuk k"m+artemen h$#r"l$k.

Untuk hasil analisa keausan komponen dari kompartemen transmisi dapat disajikan ke dalam bentuk gra#ik.

@2

)ra,$k 4.3. particle co!nt keausan k"m+"nen +a#a h$#r"l$k. 4.2.4. #ample 4l$ Final Drive LH #an Final Drive &H. 5aterpillar merancang oli khusus yang bisa memenuhi kebutuhan dari final drive. li final drive yang digunakan pada unit doEer ' +%%R ) adalah dengan spesi#ikasi B+* , karena oli ini dianjurkan untuk trac type tractor besar. 5at B+* memiliki karakteristik sebagai berikut , e( Pr"+ert$es )ra#e 'AE )ra#e IS :iscosity ;rade ;ravity, /*&I ' *S$( +2A@ ) Blash &oint, /5 '/B) ' *S$( +<2 ) &our point, /5 '/B) ' *S$( +<@ ) 0$s7"s$t( A A'TM D44! B c& O %///5 c& O ?//5 :iscosity IndeD ' *S$( +22@/ ) Brook#ield :iscosity c& O "%//5 c& O "%0/5 Sul#ated *sh > wt. ' *S$( +A@? ) $B1 ' *S$( +2A<= ) @0./// " /.%3 3.% 20.= 33A <A B+* =/ 32/ 20 2=/ '0//) min "%A '/) min

5opper Strip '*S$( +%3/, 3 hrs.at %0//5) %*

@3

9asil analisa untuk kompartemen #inal drive 79 dapat dilihat di bawah ini ,

Ta*el 4.1<. particle co!nt keausan k"m+"nen +a#a final drive LH. Untuk detailsnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini ,

Ta*el 4.11. details analis s untuk k"m+artemen final drive LH. +ari hasil analisa sample oli pada kompartemen #inal drive 79 mendapatkan rating B. Seperti halnya hasil analisa pada hidrolik, maka rating untuk final drive

@?

hanya reporta&le atau mesin masih di atas normal dan jika kita melihat feed &ac dari interpreter dijelaskan bahwa ditemukan partikel yang besar, dianjurkan untuk mengecek oli, memeriksa kebocoran oli dan disinyalir metal to metal contact yang terjadi dalam kompartemen tersebut menimbulkan suara yang keras. &engambilan sample dilakukan setelah 20/ jam pemakaian unit. 9asil analisa untuk kompartemen #inal drive 79 dapat dilihat di bawah ini ,

Ta*el 4.12. particle co!nt keausan k"m+"nen +a#a final drive LH. Untuk detailsnya dapat dilihat di bawah ini ,

Ta*el 4.13. has$l anal$sa untuk k"m+artemen final drive &H.

@0

Seperti halnya final drive 79, final drive R9 juga mendapatkan rating B. Untuk comments dari interpreter pun sama, antara lain dianjurkan untuk mengecek oli, memeriksa kebocoran oli dan disinyalir metal to metal contact yang terjadi dalam kompartemen tersebut menimbulkan suara yang keras. &engambilan sample dilakukan setelah 20/ jam pemakaian unit. Untuk nilai ambang batas keausan kompartemen final drive 79 dan R9. (anu#actur Bamily M"#el &roduct I+ pre#iD 6"m+artement :alid 8Juipment :alid Samples 0al$# 5lu$# H"urs Element 5aterpillar *ll D2&11 @&., A.R, <$R, <IR, **B 5INAL D&I0E LH- 5INAL D&I0E &H %%< 22@@ !<< N" A7t$"n &eGu$re# m"n$t"r A7t$"n

5opper / to %/ %% to %0 over %0 Iron / to %%2 %%3 to %0/ over %0/ 5hromium / to 2 3 to 3 over 3 *lumunium / to A < to %% over %% 7ead / to 3 ? to 0 over 0 Silicon / to ?2 ?3 to 0? over 0? $in / to 3 ? to ? over ? Ta*el 4.14. range keausan untuk k"m+artemen final drive LH #an &H. +an bentuk gra#iknya sebagai berikut ,

@=

)ra,$k 4.4. particle co!nt keausan k"m+"nen +a#a final drive LH.

)ra,$k 4.!. particle co!nt keausan k"m+"nen +a#a final drive &H.

@@

B*B : !8SI(&U7*1 +*1 S*R*1


!.1. es$m+ulan. Schedule Oil Sampling ' S. .S ) merupakan kegiatan service rutin pengambilan sample oli yang akan dianalisa yang dilakukan secara rutin oleh manajemen &$. 11$ terhadap alat yang digunakan untuk berproduksi. !egiatan ini lebih dikenal dengan istilah Preventive Maintenance ' &( ) yang dilakukan dengan rentang waktu berdasarkan jam pemakaian unit, misalnya 3// jam, =// jam, %2// jam dan seterusnya. &engambilan sample oli dilakukan pada tanggal %2 September 2//@ bertempat di &ay A, wor shop 98 departemen ((*. Unit yang diambil sample olinya adalah unit doEer ' +%%R) pada &( =// jam. &ada kegiatan &( ini, sample oli diambil dari beberapa kompartemen seperti engine, transmisi, hidrolik, dan final drive. &roses pengambilan contoh oli ini bertujuan untuk manganalisa oli selama pemakaiannya untuk beroperasi. *dapun tujuan dari analisa contoh oli ini adalah sebagai berikut , (enekan H( dengan melakukan , o &erbaikan sebelum rusak. o &enjadwalan perbaikan. (endeteksi adanya kerusakan pada komponen sedini mungkin. Rekomendasi dari interpreter langkah apa saja yang harus dilakukan untuk menangani masalah yang berhubungan dengan pemakaian oli. (encegah timbulnya kerusakan parah. +an hasil pemeriksaan ini meliputi ,

@A

*nalisa laju keausan. *nalisa kebersihan oli. *nalisa kontaminsi oli. *nalisa kondisi oli.

Sample dikirim pada tanggal %2 September 2//@, dan feed &ac nya diterima pada tanggal %@ September 2//@. +an hasilnya sebagai berikut , o Untuk kompartemen engine mendapatkan rating *, dengan comments, 9asilnya normal dan pengambilan sample dilakukan kembali setelah 20/ jam pemakaian unit. o Untuk kompartemen transmisi9n mendapatkan rating 5, dengan comments , *danya peningkatan keausan pada elemen &b, Be, dan 5u. !emungkinan ada keausan pada komponen pompa dan transmission clutch. &eriksa tekanan oli, cek drive yang ada di stall transmission, lakukan perbaikan yang lebih spesi#ik, ganti filter dan pengambilan sample dilakukan setelah @0/ jam pemakaian oli. &ada saat pengambilan sample oli lakukan juga pemotongan filter dan periksa apakah ada particle count yang besar. o unit. Untuk kompartemen #inal drive 79 dan R9, sama"sama mendapatkan rating B, dengan comments , Untuk kompartemen hydraulic mendapatkan rating B, dengan comments , 9asilnya reporta&le karena tingkat kebersihan oli menurun dan pengambilan sample dilakukan setelah 2/// jam pemakaian

@<

*danya peningkatan particle count yang besar, periksa level oli, periksa kebocoran oli yang menimbulkan suara yang keras. &engambilan sample dilakukan setelah 20/ jam pemakaian unit.

!.2.

'aran Rentang waktu yang dibutuhkan untuk menunggu hasil report S. .S terlalu

lama, maka disarankan kepada pihak &$.1ewmont untuk menyediakan labotorium S. .S agar analisa terhadap sample oli dapat dengan segera diketahui hasilnya. +engan begitu segala masalah yang terjadi terhadap unit dapat segera ditangani sebelum unit tersebut release.

A/

LAMPI&AN

)am*ar.Un$t D>.<<! D11&

A%

)am*ar. 6ara +engam*$lan sample "l$ menggunakan sampling pro,e " t!,ing

)am*ar. 6ara +engam*$lan sample "l$ menggunakan vac!!m p!mp.

A2