Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkah dan petunjuk-Nya sehingga laporan kasus kepaniteraan klinuk program profesi dokter ini dapat diselesaikan dengan semaksimal mungkin. Laporan kasus ini mengangkat topik Fraktur kompleks mengenai Fraktur ompresi !ertebra. Penulis menyadari bah$a penulisan laporan kasus ini masih jauh dari sempurna# baik dari segi isi maupun sistematika penulisan. %leh karena itu# dengan segala kerendahan hati# penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan laporan kasus ini kedepannya nanti. ompresi !ertebra. "iharapkan dengan membahas laporan kasus ini# diperoleh pula pemahaman yang lebih

&ambi# '( )pril *+'*

Penulis

DAFTAR ISI

)T) PEN,)NT)-...................................................................................' ")FT)- ./...................................................................................................* 0)0 . PEN")12L2)N..............................................................................3 0)0 .. L)P%-)N )/2/..........................................................................4 0)0 ... T.N&)2)N P2/T) ).................................................................'+ 3.' "EF.N./. F-) T2- %MP-E/. !E-TE0-).........................'+ 3.* )N)T%M. ")N F./.%L%,. T2L)N, 0EL) )N,...............'+ 3.3 &EN./ F-) T2- P)") !E-TE0-).......................................'* 3.5 .N/."EN/......................................................................................'5 3.4 ET.%L%,......................................................................................'4 3.( ,E&)L) ")N %N/E 2EN/................................................... '( 3.6 ".),N%/./..................................................................................'7 3.7 P-.N/.P PEN)T)L) /)N))N F-) T2- %MP-E/. !E-TE0-)...................................................................................*' 0)0 .! E/.MP2L)N.......................................................................*5 ")FT)- P2/T) )............................................................................*4

BAB I PENDAHULUAN
2

.nsiden karsinoma kolon di .ndonesia 8ukup tinggi# demikian juga dengan angka kematiannya. pada kolon.' Penyebaran karsinoma kolon mulai berkembang pada mukosa dan bertumbuh sambil menembus dinding dan meluas se8ara sirkuler ke arah oral dan aboral. &alur penyebaran karsinoma kolon9 '#* '. Penyebaran lokal Mula-mula menyebar di dalam dinding usus# kanker mengelilingi sirkumferensia dinding usus satu kali memerlukan * tahun# setelah mengin:asi tunika muskularis mudah timbul penyebaran hematogen. usus ke8il# hati# lambuung# pankreas# dll<. *. Penyebaran limfogen ;menempati (+=< /el kanker kolon melalui jaringan limfatik submukosa menembus dinding usus ke kelenjar limfe permukaan dinding usus ke kelenjar limfe parakolon ke kelenjar limfe media ke kelenjar limfe sentral ;kelenjar limfe primer< ke kelenjar limfe paraaorta ke kelenjar limfe suprakla:ikular. anker juga dapat mengin:asi seluruh dinding usus hingga organ sekitar usus ; seperti kandung kemih# prostat# uterus# arsinoma kolon adalah suatu bentuk keganasan yang terjadi

3. Metastasis hematogen ; menempati 35=< 2mumnya ke hati# di susul ke paru# lalu tulang# otak# o:arium. /angat sedikit ke adrenal dan ginjal.

5. Metastasis implantasi /el kanker lepas terimplantasi pada peritoneum rongga abdomen atau pel:is membentuk nodul.

Pada kasus ini akan membahas salah satu

metastasis hematogen dari

karsinoma kolon yaitu menyebabkan fraktur kompresi :ertebra.

BAB II LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


4

Nama 2mur &enis elamin Pekerjaan )gama )lamat M-/ 2.2 Anamnesa

9 Nn. /9 '( tahun 9 Perempuan 9 Pelajar 9 .slam 9 /ukadarma /ukatani 9 '' /eptember *+'3

1. Kelu an Utama

! Tidak dapat berjalan sejak > ' hari /M-/

2. Ri"a#at Pen#a$it Se$a%an& %s mengeluh tiba-tiba kedua tungkai tidak dapat digerakan sejak ' hari /M-/. eluhan disertai dengan kedua kaki terasa baal. /ebelumnya %s mengaku jatuh dalam posisi terduduk dengan posisi bokong membentur lantai pada saat ia berada dikamar mandi# %s juga mengataka sempat pingsan selama kira-kira 4 menit disertai mual dan muntah. /etelah kejadian tersebut %s mengeluh tidak dapat 0) dan 0)0. '. Ri"a#at Pen#a$it Da ulu %s tidak pernah mengalami kejadian ini sebelumnya (. Ri"a#at Pen#a$it Kelua%&a - "M disangkal - 1ipertensi disangkal

2.' Peme%i$saan Fisi$ A. Status Gene%alisata Tanggal '' /eptember *+'3 eadaan 2mum 9 Tampak sakit sedang esadaran ,?/ Tanda !ital 9 ?ompos Mentis 9 E5M(!4 9 T" @ ''+A6+mm1g -- @ *+BAmenit epala Mata 9 0entuk simetris 9 onjungti:a anemis ;-<# sklera ikterik ;-<# pupil isokor# reflek 8ahaya ;C< 1idung Mulut Tht Leher Thorak o .nspeksi o )uskultasi Paru &antung 9 !esikuler normal# ronkhi ;-<# $heeDing ;-< 9 0& .# .. reguler# murmur ;-<# gallops ;-< 9 Fremitus sama kanan dan kiri 9 /onor pada kedua lapangan paru 9 /imetris kanan dan kiri ;C< -etraksi selaiga ;-< 9 Nafas 8uping hidung ;-<# epistaksis ;-< 9 "bn 9 "bn 9 Pembesaran ,0 ;-<# &!P ;4-*<8m1*% N @ 7+BAmenit T @ 3( o?

o Palpasi o Perkusi )bdomen o .nspeksi o )uskultasi o Palpasi o Perkusi Ekstremitas /uperior

9 /imetris 9 02 ;C< normal 9 Nyeri tekan ;-< 9 Timpani

9 akral hangat# edema ;-<# kekuatan motorik

4
6

.nferior 2.) Peme%i$saan Penun*an& a. La+,%at,%ium

9 akral hangat# edema ;-<# kekuatan motorik

"arah -utin9 Tanggal '' september *+'3 Leukosit Eritrosit 1b 1t Tromobosit imia "arah /,%T /,PT 2r ?r Na ?l 2rine Garna 0& p1 2robilinogen Leukosit Eritrosit Epitel b. -o 9 uning# &ernih 9 '.+'+ 9( 9 +.3 9 '-* 9 +-' 9 positi:e A C 9 'E 9 '4 9 '+ 9 +#4 9 '54 9 5.* 9 '6+ N9 F 5+ N9 F5' 9 E*++ L '+3Amm3 9 5.3 9 '3#4 gAdl 9 36.7 = 9 5*3 ribu

2.) Dia&n,sis Ke%*a Fraktur ompresi !ertebra L4- /'


7

2.- Penatala$sanaan .!F" -L *+ tetesAmenit Pemsangan kateter .nj.-anitidin .nj. ?iprofloBaBin .nj. Metil prednisolon

2.. P%,&n,sis Huo ad :itam Huo ad fun8tionam Huo ad sanationam 9 dubia ad malam 9 dubia ad malam 9 dubia ad malam

BAB III TIN/AUAN PUSTAKA

'.1 DEFINISI FRAKTUR KO0PRESI 1ERTEBRA Fraktur kompresi adalah diskontinuitas dari jaringan tulang akibat dari suatu penekanan atau tindihan yang melebihi kemampuan dari tulang tersebut.Fraktur kompresi :ertebra terjadi jika berat beban melebihi kemampuan :ertebra dalam menopang beban tersebut# seperti pada kasus terjadinya trauma.Pada osteoporosis# fraktur kompresi dapat terjadi gerakan yang sederhana# seperti terjatuh pada kamar mandi# bersin atau mengangkat beban yang berat.3 )danya kompresi pada bagian depan 8orpus :ertebralis yang tertekan dan membentuk patahan irisan. Fraktur kompresi adalah fraktur tersering yang mempengaruhi kolumna :ertebra. Fraktur ini dapat disebabkan oleh ke8elakaan jatuh dari ketinggian dengan posisi terduduk ataupun mendapat pukulan di kepala# osteoporosis dan adanya metastase kanker dari tempat lain ke :ertebra kemudian membuat bagian :ertebra tersebut menjadi lemah dan akhirnya mudah mengalami fraktur kompresi. 5 !ertebra dengan fraktur kompresi akan menjadi lebih pendek ukurannya daripada ukuran :ertebra sebenarnya. 5 '.2 ANATO0I DAN FISIOLOGI TULANG BELAKANG !ertebra dimulai dari 8ranium sampai pada apeB 8o88igeus# membentuk skeleton dari leher# punggung dan bagian utama dari skeleton ;tulang 8ranium# 8osta dan sternum<. Fungsi :ertebra yaitu melindungi medulla spinalis dan serabut syaraf# menyokong berat badan dan berperan dalam perubahan posisi tubuh. !ertebra terdiri dari 33 :ertebra dengan pembagian 4 regio yaitu 6 8er:i8al# '* thora8al# 4 lumbal# 4 sa8ral# 5 8o88igeal.4

!ertebra manusia terbentuk oleh dua jenis tulang yaitu tipe kortikal dan kalselus. Tulang kortikal menutupi bagian luar :ertebra dan men8akup sekitar 7+= masa tulang. Tulang kalselus berada pada bagian dalam dan mengisi *+= masa tulang :ertebra. Tulang kalselus memberikan bentuk arsitektur dan komponen struktural dari :ertebra. Proses remodeling tulang merupakan proses normal dari aktifitas osteoklas ;menghan8urkan< dan osteoblas ;pembentukan<# '+ I *+= tulang orang de$asa normal mengalami remodeling setiap tahun. Pada osteoporosis# kehilangan masa tulang disebabkan oleh karena meningkatnya aktifitas osteoklas dan menurunnya aktifitas osteoblas. ehilangan masa tulang merununkan keseluruhan integritas dari :ertebra dengan pengurangan densitas dari pusat tulang kalselus. 0egitu juga pada orang tua# pengurangan masa tulang disebabkan oleh penipisan 8akram :ertebra oleh karena proses degenerasi. Penguranagan massa tulang ini akan menyebabkan ketidakseimbangan dalam menahan beban antar :ertebra endplates. ombinasi dari pengurangan massa tulang dan kelemahan tulang :ertebra akibat proses penuaan akan mengakibatkan kelainan bentuk dari :ertebra.3 '.' /ENIS FRAKTUR PADA 1ERTEBRA Tulang belakang merupakan satu kesatuan yang kuat yang diikat oleh ligamen didepan dan dibelakang# serta dilengkapi diskus inter:ertebralis yang mempunyai daya absorpsi terhadap tekanan atau trauma yang memberikan sifat fleksibilitas dan elastis. /emua trauma tulang belakang harus dianggap suatu trauma
10

yang hebat # sehingga sejak a$al pertolongan pertama dan transportasi kerumah sakit penderita harus se8ara hati-hati. Trauma pada tulang belakang dapat mengenai 94 '. *. 3. &aringan lunak pada tulang belakang# yaitu ligamen# diskus dan faset. Tulang belakang sendiri /um-sum tulang belakang.

Mekanisme trauma pada tulang belakang9 '. Fleksi Trauma terjadi akibat fleksi dan disertai dengan sedikit kompresi pada :erttebra. !ertebra mengalami tekanan terbentuk remuk yang dapat menyebabkan kerusakan atau tanpa kerusakan ligamen posterior. )pabila terdapat kerusakan ligamen posterior# maka fraktur bersifat tidak stabil dan dapat terjadi subluksasi.

,ambar '9 Fraktur akibat fleksi

*.

Fleksi dan rotasi Trauma jenis ini merupakan trauma fleksi yang bersama-sama dengan rotasi.

Terdapat strain dari ligamen dan kapsul# juga ditemukan fraktur faset. Pada keadaan ini terjadi pergerakan ke depanAdislokasi :ertebra diatasnya. /emua fraktur dislokasi bersifat tidak stabil.

11

,ambar * 9Fraktur akibat rotasi

3.

ompresi :ertikal ;aksial< /uatu trauma :ertikal yang se8ara langsung mengenai :ertebra yang akan

menyebabkan kompresi aksial. Nukleus piulposus akan meme8ahakan permukaan serta badan :ertebra se8ara :ertikal. Material diskus akan masuk dalam badan :ertebra dan menyebabkan :ertebra menjadi rekah ;pe8ah<. Pada trauma ini elemen posterior masih intak sehingga fraktur yang terjadi bersifat stabil.

,ambar 3 9 Fraktur kompresi

5.

1iperekstensi atau retrofleksi 0iasanya terjadi hiperekstensi sehingga terjadi kombinasi distraksi dan eadaan ini sering ditemukan pada :ertebra ser:ikal dan jarang pada

ekstensi.

:ertebra torakolumbal. Ligamen anterior dan diskus dapat mengalami kerusakan atau terjadi fraktur pada arkus neuralis. Frkatur ini biasanya bersifat stabil.

12

,ambar 5 9 Fraktur akibat hiperekstensi

4.

Fleksi lateral ompresi atau trauma distraksi yang menimbulkan fleksi lateral akan

menyebabkan fraktur pada komponen lateral yaitu pedikel# foramen :ertebra dan sendi faset.4 Pem+a&ian T%auma 1e%te+%a Menurut 0E)T/%N ;'E(3< membedakan atas 5 grade9

,rade . @ /imple ?ompression Fraktur ,rade .. @ 2nilateral Fraktur "islo8ation ,rade ... @ 0ilateral Fraktur "islo8ation ,rade .! @ -otational Fraktur "islo8ation

'.( INSIDENSI Fraktur kompresi :ertebra merupakan jenis fraktur yang sering terjadi dan merupakan masalah yang serius. /etiap tahun sekitar 6++.+++ insidensi di )meika /erikat# dimana pre:alensinya meningkat *4= pada $anita yang berumur diatas 4+ tahun. /atu dari dua $anita dan satu dari empat laki-laki berumur lebih dari 4+ tahun menderita osteoporosis berhubungan dengan fraktur. .nsidensi fraktur kompresi :ertebra meningkat se8ara progresif berdasarkan semakin bertambahnya usia# dan pre:alensinya sama antara laki-laki ;*'#4=< dan $anita ;*3#4=<# yang diukur berdasarkan suatu studi pemeriksaan radiologi. Meskipun hanya sekitar sepertiga menunjukkan gejala akut# a$alnya semua berhubungan dengan angka yang
13

signifikan meningkatkan mortalitas dan gangguan fungsional dan psikologis.3 '.) ETIOLOGI '. Trauma Trauma merupakan penyebab terbanyak pada pasien yang berusia diba$ah 4+ tahun# oleh karena itu fraktur yang terjadi lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan sampai usia (+ tahun. ?ontoh fraktur yang terjadi akibat trauma adalah fraktur kompresi baji ?3 I T' dan fraktur kompresi baji torakolumbal. Fraktur kompresi baji merupakan suatu 8edera fleksi# korpus terkompresi tetapi lagamen posterior tetap utuh dan fraktur biasanya bersifat stabil. *. Posmenopausal osteoporosis Merupakan penyebab tersering pada $anita yang berumur diatas (+ tahun. 3. eganasan /emakin bertambahnya usia begitu juga peningkatan resiko terjadinya fraktur patologis akibat keganasan# dan multiple mieloma# nekrosis a:askular# limpoma atau metastasis keganasan lain atau adanya infeksi juga ikut berperan. Fraktur kompresi :ertebra terjadi pada 4+= sampai 6+= pasien dengan multipel myeloma. 5. %steoporosis sekunder 0eberapa pasien ditemukan memiliiki densitas tulang diba$ah nilai normal berdasarkan usia. Pada kasus ini penyebab sekunder dari kehilangan masa tulang harus diperhatikan# seperti penggunaan terapi glukokortikosteroid# pengguna al8ohol# hipogonadisme# dan endokrinopati seperti hipertiroid# dan penyakit 8husing# hiperparatiroid# dan diabetes mellitus.3 '.- GE/ALA DAN KONSEKUENSI Pada sebagian besar kasus# pasien tidak men8eritakan adanya trauma yang signifikan# meskipun mereka kadang-kadang menjelaskan aktifitas yang meningkatkan tarikan pada tulang belakang# seperti mengangkat jendela# mengangkat anak ke8il dari tempat tidur# atau gerakan melenturkan badan se8ara berlebihan.
14

Trauma dengan energi yang besar biasanya ditemukan pada pasien berusia muda# terutama pada laki-laki dengan densitas tulang yang normal.3 1anya sepertiga kasus kompresi :ertebra yang menunjukkan gejala. Pada saat fraktur terasa nyeri# biasanya dirasakan seperti nyeri yang dalam pada sisi fraktur. &arang sekali menyebabkan kompresi pada medulla spinalis# tampilan klinis menunjukkan mielopatik fraktur dengan tanda dan gejala nyeri radikuller yang nyata. -asa nyeri pada fraktur disebabkan oleh banyak gerak# dan pasien biasanya merasa lebih nyaman dengan beristirahat.3 Fraktur kompresi biasanya bersifat insidental# menunjukkan gejala nyeri tulang belakang ringan sampai berat. "apat mengakibatkan perubahan postur tubuh karena terjadinya kiposis dan skoliosis. Pasien juga menunjukkan gejala-gejala pada abdomen seperti rasa perut tertekan# rasa 8epat kenyang# anoreksia dan penurunan berat badan. ,ejala pada sistem pernafasan dapat terjadi akibat berkurangnya kapasitas paru. 3 onsekuensi Fraktur ompresi !ertebra9 )pakah fraktur kompresi :ertebra menunjukkan gejala atau tidak# komplikasi jangka panjangnya sangat penting. '. 0iomekanik Nyeri tulang belakang persisten dalam kaitannya dengan fa8tor-faktor mekanik dan kelemahan otot akibat terjadinya kiphosis. ,ejala-gejala pada abdomen# kiphosis progresif# terutama dengan fraktur kompresi multiple# menyebabkan pemendekan tulang belakang thorak sehingga menyebabkan penekanan pada abdomen# dimana dapat menyebabkan gejala gastrointestinal seperti rasa 8epat kenyang dan tekanan abdomen. Pada beberapa pasien yang mengalami pemendekan segmen torakolumbal yang signifikan# 8osta bagian terba$ah akan bersandar pada pe:is# menyebabkan terjadinya abdominal dis8omfort. ,ejala-gejala pada gangguan abdomen dapat berupa anoreksia yang dapat mengikibatkan penurunan berat badan# terutama pada pasien yang berusia lanjut. onsekuensi pada paru akibat adanya fraktur kompresi pada :ertebra dan kyposis umumnya ditandai dengan penyakit paru restriktif dengan penurunan kapasitas :ital paru. "alam persamaan# setiap fraktur menurunkan kapasitas :ital E=. Meningkatkan resiko terjadinya fraktur. arena
15

onsekuensinya dapat dikategorikan sebagai

biomekanik# fungsional# dan psikologis. 3

terjadinya kyposis# maka beban berlebih akan ditopang oleh tulang disekitarnya# ditambah lagi dengan adanya osteoporosis semakin meningkatkan resiko terjadinya fraktur. )danya satu atau lebih :ertebra mengalami fraktur kompresi semakin meningkatkan adanya fraktur tambahan lima kali lipat dalam satu tahun. 3 *. Fungsional Pasien yang mengalami fraktur kompresi memiliki le:el yang lebih rendah dalam performa fungsional dibandingkan dengan 8ontrol# lebih banyak membutuhkan pembantu# pengalaman lebih sering mengalami sakit saat bekerja# dan mengalami kesulitan dalam menjalani akti:itas sehari-hari. Penelitian terbaru pada pasien-pasien ini memiliki nilai yang rendah pada indeks kulalitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan berdasarkan fungi fisik# status emosi# gejala klinis dan keseluruhan performa fungsional. %leh karena itu# banyak pasien yang mengalami fraktur kompresi :ertebra akan menjadi tidak aktif# dengan berbagai alasan antara lain rasa nyeri akan berkurang dengan terlentang# takut jatuh sehingga terjadi patah tulang lagi. /ehingga kurang aktif atau malas bergerak pada akhirnya akan mengakibatkan semakin buruknya kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari. 3 3. Psikologis ejadian depresi meningkat sampai 5-+= pada pasien yang menderita fraktur kompresi :ertebra# akibat nyeri kronis# perubahan bentuk tubuh# detorientasi dalam kemampuan untuk mera$at diri sendiri# dan akibat bedrest yang lama. Pasien yang mengalami depresi biasanya yang mengalami lebih dari satu fraktur dan akan menjadi 8epat tua dan terisolasi se8ara sosial.3 '.. DIAGNOSIS '. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan dengan 8ara pasien berdiri# sehingga tanda-tanda osteoporosis seperti kiposkoliosis akan lebih tampak. emudian pemeriksaan dilakukan dengan menekan :ertebra dengan ibu jari mulai dari atas sampai keba$ah yaitu pada prosesus spinosus. Fraktur kompresi :ertebra dapat terjadi mulai dari oksiput sampai dengan sa8rum# biasanya terjadi pada region pertengahan torak ;T6-T7< dan pada thorakolumbal jun8tion. 2langi lagi
16

pemeriksaan sampai benar-benar ditemukan lokasi nyeri yang tepat. Nyeri yang berhubungan dengan pemeriksaan palpasi :ertebra mungkin disebabkan oleh adanya fraktur kompresi :ertebra. 3 )danya deformitas pada tulang belakang tidak mengindikasikan adanya fraktur. &ika tidak ditemukan nyeri yang tajam# kemungkinan hal tersebut merupakan suatu kelainan tulang belakang yang berkaitan dengan umur. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan dengan membantu pasien melakukan gerakan fleksi dan ekstensi pada tulang belakang# gerakan ini akan menyebabkan rasa nyeri yang disebabkan oleh adanya fraktur kompresi :ertebra. 3 /pasme otot atau kekakuan otot dapat terjadi sebagai akibat dari kekuatan otot mela$an gra:itasi pada bagian anterior dari :ertebra. Pemeriksaan neurologis perlu dilakukan. Tidak jarang pada kasus osteomielitis mempunyai gejala yang mirip dengan fraktur kompresi :ertebra.3 *. -adiologi /elama pemeriksaan fisik# marker radioopak mungkin ditempatkan pada kulit pada daerah yang paling terasa nyeri# karena bagimanapun juga perlu juga difikirkan juga adanya neoplasma atau adanya erosi pada endplate akibat osteomielitis. Posisi anteroposterior dan lateral dilakukan untuk mengetahui adanya fraktur kompresi :ertebra. Fraktur kompresi :ertebra asimtomatik tidak selalu menunjukkan kolaps :ertebra pada gambaran radiologi. Faktur kompresi :ertebra se8ara radiografi digambarkan sebagai penurunan panjang :ertebra lebih dari '4=# umumnya ditemukan pada :ertebra thorakolumbal se8ara anteroposterior dan lateral. 0agian thorakoloumbal yang biasa terkena adalah T7#T'*#L'# dan lumbah bagian ba$ah# terbanyak pada L5.(

17

,ambar ( 9 -ontgen fraktur kompresi :ertebra

3. M-. ;Magneti8 -esonan8e .maging< &ika sumber nyeri tidak dapat ditemukan# M-. dapat menunjukkan adanya keganasan# mengidentifikasi adanya fraktur dan membantu dalam menentukan terapi yang tepat. Pada T' yang mengalami fraktur akan tampak lebih gelap dibandingkan dengan :ertebra lainnya# T* dan selanjutnya akan tampak lebih terang. )danya short tau in:ersion re8o:ery ;/T.-< paling ideal diperiksa dengan M-.# karena sangat sensiti:e terhadap adanya edema tulang yang disebabkan oleh fraktur kompresi. Pemeriksaan M-. rutin untuk setiap tulang belakang tidak dianjurkan karena biayanya yang mahal. &ika pada pemeriksaan M-. tidak ditemukan adanya edema# fraktur telah sembuh dan rasa nyeri yang timbul bukan berasal dari fraktur.(

,ambar 6 9 M-. fraktur kompresi :ertebra

5. ?T /8an
18

?T s8an sangat berguna dalam menggambarkan adanya fraktur dan dapat memberikan informasi jika tentang adanya kelainan densitas tulang. ?T s8an dan M-. juga sangat penting dalam menentukan diferensial diagnosis karena adanya penyempitan kanalis spinal# dan komposisi spesifik :ertebra dapat digambarkan.(

,ambar 7 9 ?T /8an Fraktur kompresi :ertebra

4. /ingle-photon emission 8omputed tomography ;/PE?T< "apat juga digunakan dalam menentukan adanya fraktur dan tingkat adanya osteoporosis karena kemampuannya dalam menggambarkan densitas tulang. ( (. /8intigraphy Merupakan suatu metode diagnostik yang menggunakan deteksi radiasi sinar gamma untuk menggambarkan kondisi dari jaringan atau organ# juga merupakan metode yang penting untuk memprediksikan hasil ;out8ome< dari beberapa teknik operasi. (

'.2 PRINSIP PENATALAKSANAAN FRAKTUR KO0PRESI 1ERTEBRA &ika pada pasien tidak ditemukan kelainan neurologis# pengobatan pada pasien dengan akut fraktur harus menekankan pada pengurangan rasa nyeri# dengan pembatasan bedrest# penggunaan analgetik# bran8ing dan latihan fisik. a.Menghindari bedrest yang terlalu lama.
19

0ahaya dari bedrest yang terlalu lama pada orang tua adalah# meningkatkan kehilangan densitas tulang# de8onditioning# thrombosis# pneumonia# ulkus dekubitus# disorientasi dan depresi. b. )nalgetik

)nalgetik digunakan untuk mengurangi rasa nyeri# biasa diberikan sebagai terapi a$al untuk menghindari dari bedrest yang terlalu lama. )nalgetik opioid mungkin diberikan pada beberapa pasien untuk mengurangi rasa nyeri yang lebih adekuat. 0agimanapun juga pada pasien yang sudah tua# pasien dengan imobilisasi# opioid yang berhubungan dengan konstipasi dan penurunan fungsi kognitif harus diperhatikan dan penggunaan profilaksis laksatif harus segera dimulai pada saat opioid mulai diberikan. 1indari pemberian nonsteridal anti-inflamatory drugs ;N/)."s<. /e8ara umum# penggunaan analgetik opioid atau non opioid# adalah lebih baik dibandingkan dengan N/)."s# terutama pada pasien usia lanjut yang mengalami fraktur kompresi :ertebra. -esiko pemberian N/)."s berhubungan dengan gastropati# insufisiensi ginjal# dan penyakit jantung kongestif meningkat se8ara signifikan pada pasien usia lanjut.

8.

?al8itonin "iberikan se8ara subkutan# intranasal# atau perrektal mempunyai efek

analgetik pada fraktur kompresi yang disebabkan oleh osteoporosis dan pasien dengan nyeri tulang akibat metastasis. )ktifitas analgetik dari 8al8itonin yaitu dengan meningkatkan kadar endorphins dalam plasma. Pada fraktur kompresi :ertebra yang disebabkan oleh osteoporosis# 8al8itonin juga menghambat fungsi dari osteoklast# sehingga men8egah terjadinya penyerapan tulang. d. 0ra8ing 0ra8ing merupakan terapi yang biasa dilakukan pada manegemen akut non operatif. %rtose membantu dalam mengontrol rasa nyeri dan membantu penyembuhan dengan menstabilkan tulang belakang. "engan mengistirahatkan pada
20

posisi fleksi# maka akan mengurangi takanan pada kolumna anterior dan rangka tulang belakang. 0ra8ing dapat digunakan segera# tetapi hanya dapat digunakan untuk dua sampai tiga bulan. Terdapat beberapa tipe ortose yang tersedia untuk
pengobatan.

arena sebagian besar fraktur kompresi terjadi pada daerah

torakolumbal# sebagian besar ortosis dibuat beradasarkan area tersebut pada tulang belakang. Thorakolumbosa8ral orthosis ;TL/%< tipe shell tipe bra8es digunakan untuk memberikan stabilitas selama rotasi# fleksi dan ekstensi. &enis ini sangat berguna dalam pengobatan oleh karena fraktur akibat energy yang besar# fraktur multiple dan kiposis berat. arena ortose didesain dengan pembungkus plastik# harganya mahal dan pasien kadang-kadang mengeluhkan adanya gatal dan berkeringat diba$ah ortose. Tipe 0oston sangat mirip dengan tipe shell tetapi lebih lembut karena terbuat dari plasti8 semi fleksibel. ( e. !ertebroplasty

!ertebroplasty dilakukan dengan menempatkan jarum biopsy tulang belakang kedalam :ertebra yang mengalami kompresi dengan bimbingan fluoros8opy atau 8omputed tomography. emudian diinjeksikan Methylmetha8rylate kedalam tulang yang mengalami kompresi. Prosedur ini dapat menstabilkan fraktur dan megurangi rasa nyeri dengan 8epat. Tetapi prosedur ini tidak dapat memperbaiki deformitas yang terjadi pada tulang belakang. omplikasi terjadi kurang dari '+= pasien antara lain berupa radikulopati# infeksi dan kompresi medulla spinalis. Pada saat semen diinjeksikan diba$ah tekanan tinggi# kebo8oran ke bagian luar :ertebra sering terjadi pada 4+= - (6= pasien. (

,ambar '+. Teknik :ertebroplasty

21

f.

ypoplasty ypoplasty diperkenalkan pada tahun 'E77 dalam mengobati fraktur

kompresi. Prosedur ini dilakukan dengan menyuntikkan jarum yang berisikan tampon kedalam tulang yang mengalami fraktur. .nsersi jarum tersebut akan membentuk suatu ka:itas pada tulang :ertebra. emudian ka:itas tersebut diisi omplikasi jarang dengan 8ampuran methylmeta8rylate diba$ah tekanan rendah. :ertebroplasty. (

terjadi dan terjadinya kebo8oran semen lebih jarang dibandingkan dengan

,ambar ''. Teknik yphoplasty dan gambaran radiologis

BAB I1 KESI0PULAN Fraktur kompresi adalah diskontinuitas dari jaringan tulang akibat dari suatu penekanan atau tindihan yang melebihi kemampuan dari tulang tersebut.Fraktur kompresi :ertebra terjadi jika berat beban melebihi kemampuan :ertebra dalam menopang beban tersebut# seperti pada kasus terjadinya trauma.Pada osteoporosis# fraktur kompresi dapat terjadi gerakan yang sederhana# seperti terjatuh pada kamar mandi# bersin atau mengangkat beban yang berat.3 Etiologi dari fraktur kompresi :ertebra ini dapat dikarenakan oleh trauma# posmenopausal osteoporosis# keganasan# ataupun osteoporosis. Fraktur kompresi biasanya bersifat insidental# menunjukkan gejala nyeri tulang belakang ringan sampai berat. "apat mengakibatkan perubahan postur tubuh karena terjadinya kiposis dan skoliosis. Pasien juga menunjukkan gejala-gejala pada
22

abdomen seperti rasa perut tertekan# rasa 8epat kenyang# anoreksia dan penurunan berat badan. ,ejala pada sistem pernafasan dapat terjadi akibat berkurangnya kapasitas paru. 3

Da3ta% Pusta$a '. /jamsuhidajat - . 0uku ajar ilmu bedah. Edisi ke-dua. &akarta9 E,?J *++4. hal (47-4E. *. "esen G. 0uku ajar onkologi klinis. Edisi ke-dua. &akarta9 F 2.9 *++5. hal 5*E-3+. 3. 1anna &# LetiDia M. )pril *+'*<J yphoplasty9 ) treatment for osteoporoti8 :ertebral "unduh dari9 2-L9 8ompression fra8tures. nursing journal 8enter ;serial online< *++6 ; diakses '+ http9AA$$$.nursing8enter.8omAlibraryAjournalarti8le.aspKarti8leLid@6447EE. 5. Young G. /pinal 8ord injury le:el and 8lassifi8ation ; serial online< *+++ ;diakses '+ )pril *+'*<J "iunduh dari9 2-L9 http9AA$$$.neurosurgery.ufl.eduAPatientsAfra8ture.shtml. 4. Lestari T. Fraktur :ertebra ;serial online< ;diakses '+ )pril *+'*<J "iunduh dari9 2-L9http9AA$$$.s8ribd.8omAdo8A'*657*'3AFraktur-!ertebra. (. )ron 0# Galter ?%. !ertebral 8ompreesion fra8tures 9 treatment and e:aluation ;serial online< *++( ; diakses '+ )pril *+'*<J "iunduh dari9 2-L9 http9AAbjr.birjournals.orgA8giAreprintA64A7E'A*+6.pdf.
23