Anda di halaman 1dari 8

BUDIDAYA ANGGREK BULAN (Phalaenopsis amabilis L.

Blume)

Oleh : Marifah Herlina Tiara sani Purwaningtias Fityanddini Dwi Agustina B1J011111 B1J011109 B1J011131 B1J011171

TUGAS TERSTRUKTUR ORCHIDOLOGI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2014

I.

PENDAHULUAN

Anggrek merupakan anggota dari keluarga orchidaceae yang memiliki sekitar 50.000 spesies yang terhimpun dalam 1.200 genus. Anggrek bisa ditemukan di seluruh dunia, baik di daerah tropis maupun subtropis, kecuali di benua Antartika. Spesies anggrek paling banyak berasal dari daerah tropis karena adanya agroklimat yang cocok untuk pertumbuhannya. Budidaya anggrek di Eropa mulai dikembangkan dalam skala besar pada abad ke-19 sampai sekarang. Tanaman anggrek banyak digemari sebagai tanaman hias yang memiliki warna bunga, bentuk, dan ukurannya beragam (Parnata, 2005). Budidaya tanaman anggrek dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu melalui metode konvensional dan metode kultur in vitro (Purnami et al., 2014). Phalaenopsis sp. merupakan salah satu jenis anggrek terindah yang sangat disukai oleh konsumen karena memiliki warna, corak, keunikan bentuk dan tekstur serta aroma tersendiri (Setiawan, 2006). Phalaenopsis memiliki kurang lebih 46 jenis yang tersebar di beberapa negara, termasuk di Indonesia yang memiliki lebih dari 30 spesies (Djaafarer, 2008). Selain anggrek Dendrobium sp., permintaan konsumen terhadap jenis anggrek Phalaenopsis sp. dalam pot juga sangat tinggi (Dinas Pertanian dan Perkebunan, 2007). Menurut Ferziana dan Lisa (2013), Phalaenopsis sp. lebih dikenal dengan sebutan anggrek bulan karena memiliki keindahan, bentuk seperti bulan dan apabila berbunga memiliki waktu yang lebih lama bisa mencapai tiga bulan lebih (Amiarsi, Syaifullah dan Yulianingsih, 1999) sehingga tidak salah pemerintah menetapkan salah satu spesiesnya yaitu Phalaenopsis amabilis ditetapkan sebagai salah satu bunga nasional dengan sebutan Puspa Pesona (Djaafarer, 2008). Phalaenopsis memiliki kekhasan sebagai anggrek golongan epifit yaitu memiliki akar yang menempel dengan kuat di batang kayu atau dinding bebatuan. Tipe pertumbuhannya termasuk monopodial yaitu berbatang tunggal. Hal tersebut mempengaruhi cara perbanyakannya, sehingga perbanyakan melalui anakan lebih sulit karena tanaman tidak memiliki anakan. Perbanyakan dapat dilakukan menggunakan bagian vegetatif melalui teknik kultur jaringan atau secara generatif melalui biji hasil persilangan untuk mendapatkan jenis baru atau untuk melestarikan spesies. Phalaenopsis memiliki potensi yang sangat besar untuk

menghasilkan jenis-jenis baru meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama karena anggrek ini akan berbunga setelah tanaman berumur tiga tahun (Ferziana dan Lisa, 2013).

II. PEMBAHASAN Phalaenopsis amabilis merupakan salah satu tanaman berbunga yang sangat diminati semua kalangan masyarakat. Menumbuhkan biji anggrek biasanya dilakukan secara in vitro, hal ini disebabkan karena biji anggrek sulit berkecambah secara alami. Menurut Pierik (1987), biji anggrek sulit berkecambah secara alami karena ukuran biji yang sangat kecil dan hanya terdiri dari embrio dan beberapa ratus sel. Biji anggrek tidak memiliki cadangan makanan, jika memiliki cadangan makanan jumlahnya sangat sedikit . Oleh karena itu media untuk menumbuhkan biji harus dilengkapi dengan unsur hara makro, mikro serta karbohidrat sebagai sumber karbon (Gunawan, 2004). Berbagai komposisi media telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman dengan memodifikasi media baik untuk media perkecambahan biji atau media untuk pembesaran kecambah anggrek. Menurut Gunawan (2004), media Knudson C dapat diganti dengan media yang lebih sederhana yaitu media pupuk daun. Hasil penelitian Bety (2004), melaporkan bahwa media pupuk daun Hyponex dapat memberi hasil jumlah daun terbanyak pada anggrek Vanda tricolor dibandingkan media Vacint dan Went, Murashige and Skoog dan Knudson C. Hal ini menunjukkan bahwa media pupuk daun dapat digunakan sebagai media dasar untuk pembesaran bibit anggrek karena lebih praktis dan ekonomis dibandingkan dengan media Vacint dan Went, Murashige and Skoog dan Knudson C(Ferziana dan Lisa, 2013). Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh Erfa (2005), menunjukkan bahwa penggunaan pupuk Vitabloom 2 g/lt memberikan pertumbuhan yang paling baik dan lebih cepat pada sub kultur kecambah anggrek Dendrobium. Penambahan bahan organik komplek seperti air kelapa, pisang, tripton juga diinformasikan dapat meningkatkan pertumbuhan plantlet anggrek yang dikulturkan (Widiastoety, 2001). Metode kultur in vitro merupakan salah satu metode yang banyak digunakan untuk perbanyakan tanaman anggrek, seperti anggrek Phalaenopsis amabilis. Pemeliharaan bibit Phalaenopsis amabilis menjadi tanaman dewasa masih menemukan banyak kendala pada fase aklimatisasi. Bibit anggrek hasil kultur jaringan umumnya masih bersifat heterotrof dan masih rentan terhadap perubahan

kondisi lingkungan, hama serta penyakit, sehingga dibutuhkan tahap aklimatisasi atau proses adaptasi terhadap kondisi ex vivo (Suciati, 2007). Vitamin B1 merupakan salah satu senyawa yang dapat digunakan untuk mengurangi syok tanaman pada saat aklimatisasi dan memacu pertumbuhan akar tanaman anggrek yang baru dikeluarkan dari botol kultur jaringan. Dalam metabolisme tanaman, vitamin B1 mengkonversikan karbohidrat menjadi energi untuk menggerakkan aktifitas di dalam tanaman. Tanaman yang mengalami stres atau selama masa aklimatisasi dapat segera melakukan aktifitas metabolisme untuk beradaptasi dengan lingkungan ataupun media yang baru. Salah satu limbah yang mengandung vitamin B1 adalah leri, yakni air sisa cucian beras rumah tangga yang jarang dimanfaatkan. Andrianto (2007) menyatakan bahwan air leri dapat merangsang pertumbuhan akar tanaman Adenium sp.. Selain mengandung vitamin B1, leri juga mengandung unsur hara sulfur, kalsium dan besi. Sedangkan cairan beras memiliki kandungan unsur hara nitrogen, fosfor, dan magnesium. Sulfur yang terkandung dalam leri secara tidak langsung akan mensintesis thiamin termasuk vitamin B1 (Wulandari et al., 2012). Meningkatnya kandungan thiamin dapat menginisiasi pertumbuhan akar tanaman anggrek. Kandungan kalsium yang tinggi pada beras merah berperan memacu pembentukan akar, meningkatkan ketegaran batang, berperan pada proses perpanjangan sel, sintesis protein, pembelahan sel dan memperkuat dinding sel (Anonim, 2010). Kehadiran unsur hara lain yang terdapat dalam leri sangat berperan penting di dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman anggrek pasca aklimatisasi. Fospor merupakan senyawa pembentuk gula fospat yang esensial pada reaksi fase gelap, fotosintesis, respirasi, dan proses metabolisme lainnya (Purnami et al., 2014). Magnesium merupakan unsur esensial penyusun klorofil serta berperan sebagai kofaktor enzim dalam proses fosforilasi, sebagai jembatan antara struktur pirofosfat dari ATP dan ADP dan menstabilkan partikel dalam konfigurasi untuk sintesis protein (Utami, 2003). Umumnya, tanaman memerlukan unsur hara dalam jumlah optimal agar dapat menunjang pertumbuhan tanaman. Pemberian unsur hara yang terkandung dalam leri dengan jmlah yang cukup akan meningkatkan potensi genetik tanaman anggrek, seperti: bentuk, ukuran, dan berat organ yang dihasilkan (Sutrisno, 1989).

III. KESIMPULAN Budidaya anggrek Phalaenopsis amabilis dapat dilakukan dengan menggunakan metode kultur jaringan in vitro. Tahap aklimatisasi anggrek Phalaenopsis amabilis ke madia baru harus ditambahkan dengan vitamin B1 untuk mengurangi syok atau stres pada tanaman. Leri atau air sisa cucian beras merupakan limbah rumah tangga yang dapat digunakan dalam proses aklimatisasi karena air leri mengandung vitamin B1 dan senyawa hara (sulfur, kalsium, besi, dan magnesium) yang berfungsi untuk memacu pertumbuhan tanaman.

DAFTAR REFERENSI Andrianto, H. 2007. Pengaruh air cucian beras pada Adenium. Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhamadiyah Surakarta. <http://etd.eprints.ums.ac.id/2132/1/A420032058.pdf>. Diakses tanggal 27 Mei 2011. Anonim. 2010. Apa Manfaat Air Cucian Beras Bagi Tanaman. http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20100408012347AApNCfl diakses pada tanggal 8 maret 2011. Amiarsi D, Syaifullah, dan Yulianingsih, 1999. Komposisi Terbaik untuk Larutan Perendam Bunga Anggrek Potong Dendrobium Sonia Deep Pink. J.Hort. 9(1).45-50. Arditti, J. dan R. Ernst. 1991. Micropropagation of Orchids. New York. Jhon Wiley and Sons. 682p. Bety, Y.A, 2004.Media Sapih Alternatif Untuk Plantlet Anggrek Vanda. J. Hort.14 (1): 5-14 Dinas Pertanian dan Kehutanan, 2007. Permasalahan Anggrek di Indonesia. Htpp://www.distan Jakarta.go.id/today/arrtikel view. Htm. Djaafarer, R. 2008. Phalaenopsis species. Cetakan II. Penebar Swadaya. Jakarta. Erfa, L. 2005. Pertumbuhan bibit anggrek Dendrobium dalam botol pada beberapa komposisi media sub kultur. Jurnal Penelitian Terapan. Vol.5 No.2. Unit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Politeknik Negeri Lampung.174-179. Ferziana dan Lisa, E. 2013. Pengaruh Tripton dan Arang Aktif pada Pembesaran Bibit Anggrek Phalaenopsis In Vitro. Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol. 13 (1) : 45-51. Gunawan,L.W. 2004. Budidaya Anggrek. Penebar Swadaya. Jakarta. Istiqomah, N. 2012. Efektivitas Pemberian Air Cucian Beras Coklat Terhadap Produktivitas Tanaman Kacang Hijau (Phaseolus Radiatus L.) Pada Lahan Rawa Lebak. ZIRAAAH. 1 ( 33): 99-108. Lakitan, B. 2001. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. RajaGrafindo persada. Jakarta Pierik, RLM. 1987. In vitro culture of Higher Plants.ordrecht/Boston/Laucaster. Martinus Nijjhof. Publishers. Puspitaningtyas, D.M., S..Mursidawati dan S. Wijayanti, 2006. Studi fertilitas anggrek Paraphaleinopsis serpentilim (J.J.Sm) A.D. Hawkes.Biodiversitas.

Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Hal 237-241 Pranata, S.A. 2005. Panduan Budidaya dan Perawatan Anggrek. Agro Media Pustaka. Jakarta. Purnami, W.G.L.N., Hestin, Y., AA. Made, A. 2014. Pengaruh Jenis dan Frekuensi Penyemprotan Leri Terhadap Pertumbuhan Bibit Anggrek Phalaeonopsis sp. Pasca Aklimatisasi. E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika Vol. 3 (1) : 22-31. Setiawan Herman, 2006. Merawat Phalaenopsis. Seri Agrihobi. Jakarta. Sianipar, O.P. 2004. Pengaruh Frekuensi Pemberian Vitamin B1 dan Konsentrasi Pupuk KNO3 terhadap Pertumbuhan Vegetative Bibit Anggrek Dendrobium (Sakura white). Skripsi. Program Studi Agronomi Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Denpasar Suciati, N.M.N. 2007. Pengaruh Media Tumbuh terhadap Pertumbuhan Vegetatif Bibit Anggrek Dendrobium (Dendrobium sp.). Skripsi. Program Studi Agronomi Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Denpasar. Utami S.N.H. 2003. Nutrisi Tanaman. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Wulandari C. G.M, S. Muhartini, dan S. Trisnowati. 2012. Pengaruh Air Cucian Beras Merah Dan Beras Putih Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Selada (Lactuca sativa L.). Vegetalika 1 (2) 24 35. Widiastoety, D. 2001. Penambahan Persenyawaan organic kompleks dalam media kultur In Vitro pada anggrek. East Java Orchid Show 2001. Purwodadi .Botanical Garden May. Hal 40-47. Yusnita, 2010. Perbanyakan In Vitro Tanaman Anggrek. Penerbit Universitas Lampung, Bandar Lampung. 127 hal.