Anda di halaman 1dari 20

Profesionalisme: Satu set ciri; pengetahuan, kepakaran, sikap, dan nilai dalam sesuatu profesion.

Menurut Lieberman (Sufean Hussein, 1996): Ciri-ciri profesion itu ialah: (1) Menyediakan perkhidmatan yang unik dan penting, serta mempunyai matlamat (1.)yang jelas untuk masyarakat dan negara. (2) Semasa menjalankan tugas, banyak keupayaan dan kebolehan intelek digunakan.

Parkay (1990): Ahli profesional mempraktikkan pekerjaan mereka dengan darjah autonomi (kuasa membuat keputusan) yang tinggi.

Profesionalisme dilihat dari segi mengutamakan mutu perkhidmatan, dedikasi terhadap pekerjaan, dan tidak mementingkan pendapatan atau ganjaran. (INTAN, 1995).

Seseorang profesional hendaklah menjadi ahli kepada sesuatu organisasi yang berkuasa menentukan nilai tara untuk kemasukan, mengawal mutu perkhidmatan, dan penyingkiran ahlinya.

Ahli sesuatu profesion hendaklah mematuhi kod etika yang ditentukan oleh organisasi profesion yang terlibat.

Seseorang yang dikatakan profesional hendaklah sedar bahawa tanggungjawab ialah amanah Allah yang wajib dilaksanakan dan akan dipersoalkan nanti di alam akhirat. (Abdul Halim, 1996).

Profesionalisme (profsionalisme) ialah sifat-sifat (kemampuan, kemahiran, cara pelaksanaan sesuatu) sebagaimana yang sewajarnya terdapat pada atau dilakukan oleh seorang profesional.

Ciri-ciri profesionalisme
Seseorang yang memiliki jiwa profesionalisme senantiasa mendorong dirinya untuk mewujudkan kerja-kerja yang profesional. Kualiti profesionalisme didokong oleh ciri-ciri sebagai berikut: 1. Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati piawai ideal. Seseorang yang memiliki profesionalisme tinggi akan selalu berusaha mewujudkan dirinya sesuai dengan piawai yang telah ditetapkan. Ia akan mengidentifikasi dirinya kepada sesorang yang dipandang memiliki piawaian tersebut. Yang dimaksud dengan piawai ideal ialah suatu perangkat perilaku yang dipandang paling sempurna dan dijadikan sebagai rujukan. 2. Meningkatkan dan memelihara image profesion Profesionalisme yang tinggi ditunjukkan oleh besarnya keinginan untuk selalu meningkatkan dan memelihara image profesion melalui perwujudan perilaku profesional. Perwujudannya dilakukan melalui berbagai-bagai cara misalnya penampilan,

cara percakapan, penggunaan bahasa, sikap tubuh badan, sikap hidup harian, hubungan dengan individu lainnya. 3. Keinginan untuk sentiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat meningkatkan dan meperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampiannya. 4. Mengejar kualiti dan cita-cita dalam profesion Profesionalisme ditandai dengan kualitas rasa bangga dan percaya diri akan profesionnya.

Apakah Profesional itu ?


Profesional adalah seseorang yang memiliki kepandaian khusus dan ketrampilan (skill) dalam pekerjaan yang digelutinya, sehingga ia mengharapkan pembayaran yang setimpal dengan kepedulian terhadap pekerjaannya. Suatu pekerjaan dapat dianggap sebagai profesi, bila apa yang dia kerjakan sesuai dengan latar belakang pendidikan dan ketrampilan yang dimilikinya. Maka tidak semua orang dapat mengerjakan pekerjaan profesi, karena latar pendidikan ikut menentukan.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajardan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya danmasyarakat.

Filosofi pendidikan[sunting | sunting sumber]


Pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran. Bagi sebagian orang, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripadapendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, "Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan [rujukan?] saya." Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam, sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka, walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.

Fungsi pendidikan[sunting | sunting sumber]


Menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang nyata (manifes) berikut: Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah. Mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan pribadi dan bagi kepentingan masyarakat. Melestarikan kebudayaan. Menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipasi dalam demokrasi.

Fungsi lain dari lembaga pendidikan adalah sebagai berikut. Mengurangi pengendalian orang tua. Melalui pendidikan, sekolah orang tua melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam mendidik anak kepada sekolah.

Menyediakan sarana untuk pembangkangan. Sekolah memiliki potensi untuk menanamkan nilai pembangkangan di masyarakat. Hal ini tercermin dengan adanya perbedaan pandangan antara sekolah dan masyarakat tentang sesuatu hal, misalnya pendidikan seks dan sikap terbuka. Mempertahankan sistem kelas sosial. Pendidikan sekolah diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para anak didiknya untuk menerima perbedaan prestise, privilese, dan status yang ada dalam masyarakat. Sekolah juga diharapkan menjadi saluran mobilitas siswa ke status sosial yang lebih tinggi atau paling tidak sesuai dengan status orang tuanya. Memperpanjang masa remaja. Pendidikan sekolah dapat pula memperlambat masa dewasa seseorang karena siswa masih tergantung secara ekonomi pada orang tuanya.

Menurut David Popenoe, ada empat macam fungsi pendidikan yakni sebagai berikut: Transmisi (pemindahan) kebudayaan. Memilih dan mengajarkan peranan sosial. Menjamin integrasi sosial. Sekolah mengajarkan corak kepribadian. Sumber inovasi sosial.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]


Pendidikan di Indonesia

PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT


4. PERANAN GURU DALAM PENDIDIKAN TUGAS GURU Daoed Yoesoef (1980) menyatakan bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan(sivic mission). Jika dikaitkan pembahasan tentang kebudayaan, maka tugas pertama berkaitan dengar logika dan estetika, tugas kedua dan ketiga berkaitan dengan etika. Tugas-tugas profesional dari seorang guru yaitu meneruskan atau transmisi ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahui anak dan seharusnya diketahui oleh anak. Tugas manusiawi adalah tugas-tugas membantu anak didik agar dapat memenuhi tugas-tugas utama dan manusia kelak dengan sebaik-baiknya. Tugas-tugas manusiawi itu adalah transformasi diri, identifikasi diri sendiri dan pengertian tentang diri sendiri. Usaha membantu kearah ini seharusnya diberikan dalam rangka pengertian bahwa manusia hidup dalam satu unit organik dalam keseluruhan integralitasnya seperti yang telah digambarkan di atas. Hal ini berarti bahwa tugas pertama dan kedua harus dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu. Guru seharusnya dengan melalui pendidikan mampu membantu anak didik untuk mengembangkan daya berpikir atau penalaran sedemikian rupa sehingga mampu untuk turut serta secara kreatif dalam proses transformasi kebudayaan ke arah keadaban demi perbaikan hidupnya sendiri dan kehidupan seluruh masyarakat di mana dia hidup. Tugas kemasyarakatan merupakan konsekuensi guru sebagai warga negara yang baik, turut mengemban dan melaksanakan apa-apa yang telah digariskan oleh bangsa dan negara lewat UUD 1945 dan GBHN. Ketiga tugas guru itu harus dilaksanakan secara bersama-sama dalam kesatuan organis harmonis dan dinamis. Seorang guru tidak hanya mengajar di dalam kelas saja tetapi seorang guru harus

mampu menjadi katalisator, motivator dan dinamisator pembangunan tempat di mana ia bertempat tinggal. Ketiga tugas ini jika dipandang dari segi anak didik maka guru harus memberikan nilai-nilai yang berisi pengetahuan masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang, pilihan nilai hidup dan praktek-praktek komunikasi. Pengetahuan yang kita berikan kepada anak didik harus mampu membuat anak didik itu pada akhimya mampu memilih nilai-nilai hidup yang semakin komplek dan harus mampu membuat anak didik berkomunikasi dengan sesamanya di dalam masyarakat, oleh karena anak didik ini tidak akan hidup mengasingkan diri. Kita mengetahui cara manusia berkomunikasi dengan orang lain tidak hanya melalui bahasa tetapi dapat juga melalui gerak, berupa tari-tarian, melalui suara (lagu, nyanyian), dapat melalui warna dan garis-garis (lukisan-lukisan), melalui bentuk berupa ukiran, atau melalui simbul-simbul dan tanda tanda yang biasanya disebut rumus-rumus. Jadi nilai-nilai yang diteruskan oleh guru atau tenaga kependidikan dalam rangka melaksanakan tugasnya, tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan, apabila diutarakan sekaligus merupakan pengetahuan, pilihan hidup dan praktek komunikasi. Jadi walaupun pengutaraannya berbeda namanya, oleh karena dipandang dari sudut guru dan dan sudut siswa, namun yang diberikan itu adalah nilai yang sama, maka pendidikan tenaga kependidikan pada umumnya dan guru pada khususnya sebagai pembinaan prajabatan, bertitik berat sekaligus dan sama beratnya pada tiga hal, yaitu melatih mahasiswa, calon guru atau calon tenaga kependidikan untuk mampu menjadi guru atau tenaga kependidikan yang baik, khususnya dalam hal ini untuk mampu bagi yang bersangkutan untuk melaksanakan tugas profesional. Selanjutnya, pembinaan prajabatan melalui pendidikan guru ini harus mampu mendidik mahasiswa calon guru atau calon tenaga kependidikan untuk menjadi manusia, person (pribadi) dan tidak hanya menjadi teachers (pengajar) atau (pendidik) educator, dan orang ini kita didik untuk menjadi manusia dalam artian menjadi makhluk yang berbudaya. Sebab kebudayaanlah yang membedakan makhluk manusia dengan makhluk hewan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa hewan berbudaya, tetapi kita dapat mengatakan bahwa makhluk manusia adalah berbudaya, artinya di sini jelas kalau yang pertama yaitu training menyiapkan orang itu menjadi guru, membuatnya menjadi terpelajar, aspek yang kedua mendidiknya menjadi manusia yang berbudaya, sebab sesudah terpelajar tidak dengan sendininya orang menjadi berbudaya, sebab seorang yang dididik dengan baik tidak dengan sendininya menjadi manusia yang berbudaya. Memang lebih mudah membuat manusia itu berbudaya kalau ia terdidik atau terpelajar, akan tetapi orang yang terdidik dan terpelajar tidak dengan sendirinya berbudaya. Maka mengingat pendidikan ini sebagai pembinaan pra jabatan yaitu di satu pihak mempersiapkan mereka untuk menjadi guru dan di lain pihak membuat mereka menjadi manusia dalam artian manusia berbudaya, kiranya perlu dikemukakan mengapa guru itu harus menjadi rnanusia berbudaya. Oleh kanena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan; jadi pendidikan dapat berfungsi melaksanakan hakikat sebagai bagian dari kebudayaan kalau yang melaksanakannya juga berbudaya. Untuk menyiapkan guru yang juga manusia berbudaya ini tergantung 3 elemen pokok yaitu : 1. Orang yang disiapkan menjadi guru ini melalui prajabatan (initial training) harus mampu menguasai satu atau beberapa disiplin ilmu yang akan diajarkannya di sekolah melalui jalur pendidikan, paling tidak pendidikan formal. Tidak mungkin seseorang dapat dianggap sebagai guru atau tenaga kependidikan yang baik di satu bidang pengetahuan kalau dia tidak menguasai pengetahuan itu dengan baik. Ini bukan berarti bahwa seseorang yang menguasai ilmu pengetahuan dengan baik dapat menjadi guru yang baik, oleh karena biar bagaimanapun mengajar adalah seni. Tetapi sebaliknya biar bagaimanapun mahirnya orang menguasai seni mengajar (art of teaching), selama ia tidak punya sesuatu yang akan diajarkannya tentu ia tidak akan pantas dianggap menjadi guru.

2. Guru tidak hanya harus menguasai satu atau beberapa disiplin keilmuan yang harus dapat
diajarkannya, ia harus juga mendapat pendidikan kebudayaan yang mendasar untuk aspek manusiawinya. Jadi di samping membiasakan mereka untuk mampu menguasai pengetahuan yang dalam, juga membantu mereka untuk dapat menguasai satu dasar kebudayaan yang kuat. Jadi bagi guru-guru juga perlu diberikan dasar pendidikan umum.

3. Pendidikan terhadap guru atau tenaga kependidikan dalam dirinya seharusnya merupakan satu
pengantar intelektual dan praktis kearah karir pendidikan yang dalam dirinya (secara ideal kita harus mampu melaksanakannya) meliputi pemagangan. Mengapa perlu pemagangan, karena mengajar seperti juga pekerjaan dokter adalah seni. Sehingga ada istilah yang populer di dalam masyarakat tentang dokter yang bertangan dingin dan dokter yang bertangan panas, padahal ilmu yang diberikan sama. Oleh karena mengajar dan pekerjaan dokter merupakan art (kiat), maka diperlukan pemagangan. Karena arttidak dapat diajarkan adalah teknik mengajar, teknik untuk kedokteran. Segala sesuatu yang kita anggap kiat, begitu dapat diajarkan diakalau menjadi teknik. Akan tetapi kalau kiat ini tidak dapat diajarkan bukan berarti tidak dapat dipelajari. Untuk ini orang harus aktif mempelajarinya dan mempelajari kiat ini harus melalui pemagangan dengan jalan memperhatikan orang itu berhasil dan mengapa orang lain tidak berhasil, mengapa yang satu lebih berhasil, mengapa yang lain kurang berhasil. PERAN GURU WF Connell (1972) membedakan tujuh peran seorang guru yaitu (1) pendidik (nurturer), (2) model, (3) pengajar dan pembimbing, (4) pelajar (learner), (5) komunikator terhadap masyarakat setempat, (6) pekerja administrasi, serta (7) kesetiaan terhadap lembaga. Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalamanpengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggungjawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan.untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada. Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila. Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggurfg jawab sosial tingkah laku sosial anak. Kurikulum harus berisi hal-hal tersebut di atas sehingga anak memiliki pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dianut oleh bangsa dan negaranya, mempunyai pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat dan pengetahuan untuk mengembangkan kemampuannya lebih lanjut. Peran guru sebagai pelajar (leamer). Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman. Pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan maupun tugas kemanusiaan. Peran guru sebagai setiawan dalam lembaga pendidikan. Seorang guru diharapkan dapat membantu kawannya yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan kemampuannya. Bantuan dapat secara langsung melalui pertemuan-pertemuan resmi maupun pertemuan insidental. Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan kemampuannya pada bidang-bidang dikuasainya. Guru sebagai administrator. Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga

sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur. Segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu diadministrasikan secara baik. Sebab administrasi yang dikerjakan seperti membuat rencana mengajar, mencatat hasil belajar dan sebagainya merupakan dokumen yang berharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik.

Guru adalah peran yang sangat penting dalam peradaban manusia. Guru menjadi pencetak generasi penerus umat manusia. Guru mengajar dengan asal-asalan dan tidak profesional beresiko menghasilkan generasi penerus yang rusak dan selanjutnya akan menghancurkan peradaban masyarakat. Sehingga guru yang profesional mutlak diperlukan. Selain itu, dari sudut pandang Islam, profesionalisme adalah keharusan bagi tiap profesi dan pengampu amanah. Rasulullah SAW pernah bersabda: Jika urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.. Maka sebagai muslim, selayaknya kita berusaha profesional dalam setiap urusan termasuk jika kita berprofesi sebagai guru. Lalu bagaimanakah cara untuk menjadi guru yang profesional? Sebenarnya pertanyaan ini lebih cocok ditujukan kepada para guru yang telah berpengalaman dan diakui integritasnya oleh pemerintah dalam bentuk penghargaan atau oleh masyarakat dalam bentuk pujian. Tetapi karena artikel ini bersifat obligation/wajib, maka saya akan mencoba menjabarkan kiat-kiat menjadi guru yang profesional berdasarkan pengetahuan yang saya miliki. Namun, karena kiat-kiat ini berdasarkan ilmu dan bukan praktek, akan terasa lebih teoritis dan tidak praktis. Saya mohon maaf untuk itu. Adapun kiat-kiat menjadi guru profesional adalah: (1) meluruskan niat; (2) membetulkan motivasi; (3) mempelajari materi ajar tanpa henti; (4) menerapkan materi ajar dalam kehidupan sehari-hari; (5) mempelajari metode mengajar yang efektif (6) mempelajari murid yang diajar; (7) memperhatikan akhlak murid; dan (8) menerapkan 7 kiat tersebut. Penjabarnnya adalah sebagai berikut 1. Meluruskan Niat Dalam konsep Islam, niat adalah hal yang penting dalam setiap pekerjaan (amal), apakah itu amal ibadah, amal keseharian, maupun profesi. Rasulullah bersabda: Amal-amal itu hanya bergantung kepada niatnya dan setiap orang yang beramal hanya akan mendapatkan sesuai apa yang diniatkannya (Riyadhus-Shalihin Bab I Hadits 1). Oleh karena itu, sebagai muslim kita harus meluruskan niat kita, termasuk dalam profesi kita sebagai guru. Niatkan hanya lillahi Taala. Dengan niat yang ikhlas hanya untuk mencari redha-Nya, secara sukarela kita akan berusaha untuk meningkatkan kualitas pengajaran kita. Karena kita yakin bahwa apa yang kita lakukan adalah untuk persembahan kepada Alloh sehingga kita mempersembahkan apa yang terbaik bagi kita. 2. Membetulkan Motivasi Motivasi yang paling baik, sepengetahuan saya adalah melakukan sesuatu untuk aktualisasi diri. Secara sederhana, aktualisasi diri dirumuskan dalam kalimat: do what you love and love what you do atau lakukanlah apa yang kamu sukai dan sukailah apa yang kamu lakukan. Artinya, pekerjaan terbaik yang kita tekuni adalah yang kita sukai. Maka, sebelum memasuki profesi guru ada baiknya kita nilai, apakah kita mencintai kegiatan mengajar dan mendidik. Jika tidak sebaiknya kita tidak berkecimpung di profesi pendidikan. Tetapi jika kita memang memiliki tekat untuk menjadi seorang guru atau pendidik, atau misalnya kita sudah terlanjur berkecimpung di profesi guru, maka kita bisa berusaha sedikit demi sedikit mencintai kegiatan mendidik dan mengajar tersebut. Para leluhur kita di Jawa meyakini bahwa rasa cinta itu bisa dipelajari. Kata mereka, Witting tresna jalaran saka kulina atau artinya adalah Cinta itu datang karena karena sudah terbiasa/mengenal. Maka kita bisa mulai menari tahu apa keuntungan kegiatan mengajar dan mendidik bagi kita, apa manfaatnya bagi orang lain, kemudian kita berdoa kepada Alloh agar menjadikan kita mencintai kegiatan mengajar. InsyaAlloh dengan usaha, lama kelamaan akan tumbuh rasa cinta pada profesi pendidikan. Kenapa perlu rasa suka pada profesi guru jika ingin menjadi guru yang profesional? Karena jika kita telah suka pada suatu hal, kita akan sukarela mempersembahkan yang terbaik bagi hal tersebut. Jika kita suka mengajar, kita akan secara sukarela berusaha untuk mengajar dengan baik. Selain itu, jika kita menemukan kesulitan, kita tidak akan mudah patah semangat. Sehingga kita terus melakukan peninggakatan kualitas pengajaran menuju profesionalisme. 3. Mempelajari Materi Ajar Tanpa Henti Menjadi guru bukan berarti berhenti dari belajar, terlebih materi yang diajarkan. Sebagai guru kita harus meningkatkan pemahaman dan pengetahuan kita tentang materi yang kita ajarkan. Jika guru paham betul materi ajarnya, ia akan lebih mudah mencari penjelasan yang

gamblang tetapi sederhana kepada muridnya. Selain itu guru yang faham betul meteri ajarnya akan mudah mencari perumpamaan-perumpaan nyata untuk mempermudah penjelasannya kepada murid. Murid tentu akan lebih mudah menangkap penjelasan yang sederhana daripada penjelasan yang njelimet. Selain itu, guru juga harus mengikuti perkembangan-perkembangan terkini tentang materi yang diajarkannya (updating). Updating perkembangan terbaru tentang ilmu yang diajarkan akan meningkatkan dan memperdalam pemahaman guru tentang ilmu tersebut. Pengetahuan yang up to date juga akan menghindarkan guru dari penjelasan yang salah kepada murid. Selain itu, saat murid mencari bahan materi yang diajarkan dari sumber selain guru, misal dari internet atau dari buku, ia tidak akan menemukan penjelasan yang bertentangan dengan penjelasan gurunya. 4. Menerapkan Materi Ajar Dalam Kehidupan Sehari-hari Mengamalkan materi ajar maksudnya adalah menerapkan apa yang diajarkan kepada murid dan esensi ilimu tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari guru. Misal seorang guru yang mengajarkan PPKN, maka dalam kehidupan sehari-harinya guru tersebut harus menerapkan tenggang rasa, naisonalisme, kesadaran akan hak dan kewajiban. Mungkin ada pertanyaaan, lalu bagaimana dengan guru yang mengajarkan matematika? Yang perlu ia terapkan, selain melakukan penghitungan yang benar, juga mengenai cara berfikir matematis yang rasional, cara memecahkan masalah yang dalam matematika menggunakan jalan tertentu dengan runut dan terukur, dll. Ilmu yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari akan melekat pada diri orang yang mengamalkannya tersebut, dalam istilah orang Jawa disebut ngelmu. Selain itu, penerapan ini juga akan menambah luas pemahaman dan kecintaan diri kepada ilmu yang diajarkan. Dengan kecintaan pada ilmu, guru akan secara senang menjelaskan ilmunya kepada murid dengan metode terbaik. Pemahaman yang luas akan sangat membantu guru dalam menjelaskan ilmu yang diajarkannya kepada murid. Selain itu, pengalaman dalam kehidupan sehari-hari akan menjadi contoh nyata bagi murid dan contoh adalah pola pengajaran yang paling baik. 5. Mempelajari Metode Mengajar Yang Efektif Para ahli pendidikan telah menemukan dan mengemukakan berbagai metode pengajaran yang efektif. Metode pengajaran yang baik ini tidak hanya terbatas pada metode pengajaran di dalam kelas, tetapi juga cara menjelaskan yang efektif (face to face), cara menjawab pertanyaan murid dengan efektif, cara mengoreksi kesalahan yang efektif, dll. Seorang guru yang ingin menjadi profesional tentulah perlu untuk mempelajari metode-metode ini dan menerapkannya di dalam kelasnya atau dalam situasi lain saat mengajar kepada murid-muridnya. Cara mengajar, mengatur situasi kelas, mengoreksi yang efektif, dll telah banyak dibahas di bidang ilmu Psikologi Pendidikan dan banyak buku atau artikel yang beredar tentang hal tersebut. 6. Mempelajari Murid Yang Diajar Selain perlu mempelajari metode ajar yang baik, guru juga perlu mempejari aspek-aspek murid yang ia ajar. Pengenalan murid ini baik secara umum maupun secara individu/personal. Misal, seorang guru yang mengajar anak-anak remaja perlu tau semua aspek psikologis remaja secara umum, selain itu ia juga perlu mengenal karakter dan sifat masing-masing murid yang ia didik. Pengenalan ini akan lebih memudahkan guru dalam memilih metode interaksi, metode penjelasan, metode menjawab, saat ia berhadapan dengan muridnya. Selain itu, pengenalan ini akan lebih memudahkan guru dalam mengimproviasi teori metode mengajar efektif yang mungkin kurang cocok diterapkan pada muridnya dan ia bisa menemukan metode yang lebih efektif untuk mengajar murid-murinya. 7. Memperhatikan Akhlak Murid Ilmu tanpa moral adalah buta. Pendidikan yang tidak mengindahkan akhlak peserta didik akan menghasilkan generasi penerus yang berpotensi menghancurkan peradaban masyarakat. Generasi yang suka minteri atau orang pintar yang membodohi orang lain untuk kepentingannya sendiri juga lahir dari pendidikan yang hanya mementingkan prestasi tanpa mengindahkan akhlak peserta didik. Maka, sebagai pendidik, guru perlu memperhatikan akhlak peserta didiknya. Tidak perduli materi ajarnya, apakah guru matematika, sejarah, fisika, guru tetap harus memperhatikan akhlak muridnya. Selain itu, guru tidak hanya bertanggung jawab untuk menyampaikan materi ajar semata. Guru, jika ingin disebut profesional juga bertanggung jawab tentang kualitas penangkapan materi ajar oleh murid atau tingkat pemahaman murid. Imam Waqi, guru Imam Syafii, rahimahumalloh mengajarkan Imam Syafii bahwa ilmu adalah cahaya Alloh yang tidak akan dianugerahkan kepada pelaku maksiat. Artinya, orang yang berakhlak jelek tidak akan mendapatkan ilmu dengan sempurna. Ia mungkin mendapatkan pengetahuan tetapi ia tidak akan menangkap esensi ilmu yang dipelajarinya. Oleh karena itu penting bagi guru untuk memperhatikan akhlak

muridnya. Memperhatikan tidak hanya mengawasi tetapi juga mendidikkan akhlak terpuji dan membetulkan jika terdapat akhlak tidak terpuji. 8. Menerapkan 7 Kiat di Atas Langkah terkahir dan paling penting adalah menerapkan 7 kiat tersebut di atas setiap hari. Ilmu tanpa amal/penerapan seperti pohon tanpa buah, artinya kita tidak akan mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut. Maka, setelah mengetahui kiat-kiat tersebut, kita harus segera menerapkannya. Mungkin di awal-awal kita akan merasa susah dan canggung. Mungkin juga saat awal menerapkan kiat tersebut kita akan melakukan berberapa kesalahan. Itu biasa sebagai proses belajar. Setelah terbiasa melakukan kiatkita tersebut, insyaAlloh akan dirasakan manfaatnya. Amin tandard Guru Malaysia (SGM) menggariskan kompetensi profesional yang patut dicapai oleh guru, dan keperluan yang patut disediakan oleh agensi dan institusi latihan perguruan bagi membantu guru mencapai tahap kompetensi yang ditetapkan. Dokumen ini disediakan sebagai panduan dan rujukan kepada guru, pendidik guru, agensi dan institusi latihan perguruan dalam usaha untuk melahirkan dan melestarikan guru berkualiti. Dokumen ini akan disemak semula secara berkala bagi tujuan penambahbaikan berterusan.

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]


Malaysia memberi penekanan tinggi terhadap pembangunan modal insan kelas pertama di mana bina upaya adalah pendekatan utama ke arah mencapai status negara maju pada tahun 2020. Modal insan adalah harta yang boleh disuntik nilai tambahnya, diinjakkan nilai inteleknya serta diperbanyakkan modal budayanya. Pembangunan modal insan berkualiti bergantung kepada pendidikan berkualiti; yang dapat menghasilkan individu yang mempunyai jati diri yang kukuh, berketerampilan, berkeperibadian mulia, berpengetahuan dan berkemahiran tinggi bagi mengisi keperluan negara maju. Pendidikan juga perlu membentuk modal insan yang mampu berfikiran kritis dan kreatif, berkemahiran menyelesaikan masalah, berkeupayaan mencipta peluang baru, mempunyai daya tahan serta kebolehan untuk berhadapan dengan persekitaran global yang sering berubah. Dalam abad ke-21 ini, negara menghadapi cabaran baru kesan daripada globalisasi, liberalisasi, pengantarabangsaan dan perkembangan Teknologi Maklumat dan Komunikasi (TMK). Sehubungan dengan itu Malaysia memerlukan modal insan yang juga celik TMK, progresif dan mampu bersaing di pasaran kerja global. Pembangunan sistem pendidikan bertaraf dunia mengikut acuan Malaysia adalah agenda utama Kementerian Pelajaran Malaysia (KPM) dan Kementerian Pengajian Tinggi (KPT). Justeru itu, guru perlu memahami, menunjukkan kesungguhan, dan mempunyai iltizam yang tinggi dalam melaksanakan daya usaha dan pendekatan baru ke arah usaha untuk meningkatkan kualiti pendidikan seperti petikan yang berikut: ... as the most significant and costly resource in schools, teachers are central to school improvement efforts. Improving the efficiency and equity of schooling depends, in large measure, on ensuring that competent people want to work as teachers, that their teaching is of high quality, and that all students have access to high quality teaching. (Organization for Economic Co-operation and Development; petikan daripada Pelan Induk Pembangunan Pendidikan KPM 2007; hal. 106 ) Kementerian Pelajaran Malaysia telah melaksanakan pelbagai usaha untuk melahirkan guru yang berkualiti dan memastikan mereka yang berkualiti kekal dalam sistem pendidikan negara dan kekal berkualiti di sepanjang tempoh perkhidmatan. Antara langkah yang telah diusahakan termasuklah memantapkan latihan perguruan, menambah baik sistem pemilihan calon guru, melonjakkan kecemerlangan institusi latihan perguruan, dan menambah baik laluan kerjaya serta kebajikan guru.

Bahagian Pendidikan Guru (BPG), Kementerian Pelajaran Malaysia merupakan peneraju utama latihan perguruan di Malaysia. BPG bersama-sama Institut Pendidikan Guru (IPG) dan Institusi Pendidikan Tinggi Awam (IPTA) bertanggungjawab merancang dan melaksanakan latihan perguruan untuk memenuhi keperluan tenaga pengajar di institusi pendidikan seluruh negara. Bagi menjamin guru yang dihasilkan berkualiti tinggi, tiga aspek utama ditekankan iaitu amalan nilai profesionalisme keguruan, pengetahuan dan kefahaman, serta kemahiran pengajaran dan pembelajaran. Bahagian Pendidian Guru telah mengambil langkah proaktif dalam membangunkan standard guru sebagai panduan dan rujukan kepada guru, pendidik guru, agensi dan institusi latihan perguruan di Malaysia.

Rasional[sunting | sunting sumber]


Standard Guru Malaysia ini digubal berdasarkan rasional yang berikut: guru perlu mempunyai tahap amalan nilai profesionalisme keguruan, pengetahuan dan kefahaman, serta kemahiran pengajaran dan pembelajaran yang tinggi bagi membolehkan mereka berfungsi sebagai guru profesional dengan berkesan, agensi dan institusi latihan perguruan patut menyediakan keperluan yang jelas dan lengkap seperti dasar, kurikulum, infrastruktur, tenaga pengajar, sumber pengajaran dan pembelajaran, serta jaminan kualiti untuk membolehkan proses latihan dijalankan dengan lancar, berkesan dan bermutu tinggi, KPM sedang berusaha untuk melonjakkan kecemerlangan institusi pendidikan guru yang dapat dijadikan showcase. Justeru itu, adalah wajar standard bagi institusi latihan perguruan diwujudkan, dan Standard Guru Malaysia menggariskan kriteria dan standard am guru selaras dengan Malaysian Qualifications Framework (MQF) yang menggariskan kriteria dan standard am pendidikan tinggi.

Tujuan[sunting | sunting sumber]


Standard Guru Malaysia digubal bagi tujuan yang berikut: mengenal pasti tahap kompetensi profesional guru dalam aspek amalan nilai profesionalisme keguruan, pengetahuan dan kefahaman, serta kemahiran pengajaran dan pembelajaran, mengenal pasti tahap penyediaan dan pelaksanaan keperluan latihan oleh agensi dan institusi latihan perguruan bagi menjamin tahap kompetensi guru yang ditetapkan tercapai.

Standard Guru Malaysia akan dapat mengenal pasti dasar dan strategi pembangunan pendidikan guru yang patut ditambahbaik sejajar dengan perkembangan dan cabaran semasa dunia pendidikan.

Penggubalan[sunting | sunting sumber]


Penggubalan SGM adalah berasaskan kepada prinsip dan proses yang berikut: pernyataan Standard dan Keperluan jelas, tepat, relevan, praktikal, adil, dan realistik, Standard dan Keperluan yang dicadangkan adalah berasaskan kajian serta penandaarasan, dan proses penggubalan dilaksanakan secara kolaboratif, telus, terbuka dan persetujuan bersama dengan pihak-pihak berkepentingan.

Penggunaan[sunting | sunting sumber]


Standard Guru Malaysia adalah dokumen rujukan yang patut diguna pakai oleh pihak yang berikut: Guru 1. Membuat refleksi kendiri terhadap tahap pencapaian standard. 2. Mengenal pasti keperluan pembangunan profesionalisme diri

Pendidik Guru di Institusi Latihan Perguruan 1. Membuat refleksi kendiri terhadap tahap pencapaian standard 2. Mengenal pasti keperluan pembangunan profesionalisme diri 3. Mengenal pasti tahap pencapaian standard oleh guru pelatih (guru praperkhidmatan) atau peserta kursus (guru dalam perkhidmatan) 4. Mengenal pasti strategi bagi membantu guru pelatih atau peserta kursus meningkatkan tahap pencapaian standard

Pengurus dan Pentadbir Institusi Latihan Perguruan 1. Mengenal pasti tahap pencapaian standard oleh guru pelatih dan peserta kursus. 2. Mengenal pasti tahap penyediaan dan pelaksanaan keperluan latihan oleh institusi. 3. Mengenal pasti strategi bagi meningkatkan tahap pencapaian standard dan keperluan.

Guru Besar dan Pengetua Sekolah 1. Mengenal pasti tahap pencapaian standard oleh guru. 2. Menyediakan dan melaksanakan strategi bagi meningkatkan tahap pencapaian standard oleh guru.

Agensi Latihan Perguruan 1. Mengenal pasti tahap pencapaian standard oleh guru pelatih dan peserta kursus di institusi latihan perguruan. 2. Mengenal pasti tahap penyediaan dan pelaksanaan keperluan oleh agensi dan institusi latihan perguruan. 3. Mengenal pasti dasar dan strategi pembangunan pendidikan guru yang boleh ditambahbaik.
4. PENDAHULUAN Keguruan ialah satu jawatan professional seperti mana kerjaya-kerjaya lain dalam masyarakat dunia. Sebagai guru yang profesional, guru perlu melaksanakan kerjayanya dengan sepenuh hati, bersedia menanggung semua konsekuen yang sesuai dengan nilai profesion ini. (Dr Ragbir Kaur a/p Joginder Sigh, 2007) Salah satu agenda penting dalam matlamat perancangan pembangunan pendidikan bagi RMK-9 ialah membangunkan istem pendidikan bertaraf dunia. Dalam agenda ini kerajaan akan

memperkukuhkan kurikulum sekolah yang seimbang dari segi jasmani, emosi, rohani dan intelek, mempunyai disipin yang tinggi, bersikap kerjasama, dan mampu memainkan peranan dalam masyarkat, serta melahirkan sejumlah sekolah yang baik dan cemerlang untuk dijadikan show case kepada negara-negara lain di dunia. (Ucapan menteri Pendidikan Malaysia dalam Perhimpunan Bulanan Kementerian Pelajaran Malaysia). Dr Ismail Zain, dalam kertas kerjanya yang bertajuk Pendidikan Bertaraf Dunia Kearah Pembestarian Dalam Proses Pengajaran dan Pembelajaran (selepas ini di tulis p&p) menjelaskan pendidikan bertaraf dunia sebagai wacana dalam dasar pendidikan negara yang meletakkan proses pendidikan sebagai satu bidang yang penting dalam kehidupan seharian khususnya di sekolah-sekolah yang berfungsi sebagai institut perkembangan ilmu. 2.0 CIRI-CIRI GURU BERKUALITI Ciri dalam Kamus Dewan 2007 didefinisikan sebagai sifat (unsure,tanda) yang khusus pada sesuatu atau membezakannya daripada yang lain. John Macdovalo (1993) menyatakan kualiti sebagai memenuhi keperluan atau kehendak pelanggan. Jemaah Nazir Sekolah pula mendefinisikan kualiti sebagai ciri-ciri atau sifat kecemerlangan yang dikehendaki oleh sesuatu barang, alat perkakas, dan perkhidmatan (ISO8402). Maka, dapatlah dikatakan untuk menghasilkan pendidikan bertaraf dunia, ciri-ciri guru yang berkualiti ialah guru yang memenuhi keperluan pelajar dalam pelbagai aspek sama ada dari segi p&p, sahsiah, kemahiran, kepakaran dan pengurusan. Oleh itu antara ciri-ciri yang perlu ada pada guru berkualiti bagi menghasilkan pendidikan bertaraf dunia, guru perlulah: 2.1 Bertindak sebagai penyebar ilmu Menurut Ragbir Kaur (2007), fungsi guru ialah mendidik murid dalam pelbagai ilmu pengetahuan dan kemahiran daripada pelbagai disiplin dalam kurikulum sekolah. Para guru haruslah memiliki sifat-sifat amanah, dedikasi, komited pada tugas, ikhlas, sanggup berkorban masa dan tenaga dan mempunyai sikap membantu dan menyampaikan seberapa banyak ilmu kepada murid-muridnya. Penekanan di sini ialah mengenai sikap dan penampilan guru itu sendiri terhadap konsep ilmu. Guru harus mendalami ilmu sebanyak mungkin supaya dapat menyebarkan ilmu kepada para pelajar bagi melahirkan insan dan warganegara yang berilmu. Dalam era transformasi pendidikan guru hendaklah menghasilkan pelajar yang mampu berfikir secara kreatif dan kritis serta memperkembangkan potensi pelajar dalam semua aspek JERIS (Jasmani, Emosi, Rohani, Intelek dan Sosial) bagi mencapai pendidikan bertaraf antarabangsa. 2.2 Bertindak sebagai Pembentukan Nilai / Role Model Nilai merupakan kriteria penting bagi mengukur mutu sesuatu benda. Menurut Ragbir Kour (2007) guru harus membentuk murid-murid untuk memiliki akhlak yang mulia dan mempunyai nilai-nilai murni yang tinggi. Nilai-nilai yang perlu diterapkan ialah moral, agama, terminal dan instrumental. Jadi, guru seharusnya mempunyai sifat dan kualiti peribadi, profesional, dan sosial yang baik dan murni supaya dapat menjalankan tugas sebagai pendidik dengan sempurna. Sebagai ibu bapa kedua kepada murid-murid, segala nilai dan tingkah laku guru menjadi contoh teladan kepada para pelajar. Nilai-nilai murni yang ditonjolkan oleh guru di sekolah secara tidak langsung akan diterapkan dalam jiwa pelajar. Menurut Ee Ah Meng (2003) guru yang beriltizam akan menjadi role model kepada para pelajarnya. Secara tidak langsung, guru berkenaan akan dapat memupuk beberapa ciri peribadi yang positif melalui amalanamalannya di dalam bilik darjah. 2.3 Bertindak Sebagai Pengamal Budaya Ilmu Menurut Mok Soon Sang 2007, Profesor Syed Muhammad al-Altas menyatakan ilmu merupakan sesuatu yang bermakna dan membawa penyuburan serta semangat kepada jiwa manusia. Hal ini menunjukkan ilmu merangkumi semua aspek kehidupan luaran dan dalam jiwa manusia. Guru sebagai pengamal ilmu perlu mempraktikkan budaya ilmu seperti membaca, berfikir, memerhati, berkarya, bersumbangsaran, dan bertukar fikiran serta

mencari pengalaman baru (Ragbir Kour (2007)). Dalam p&p, guru akan memindahkan ilmu yang baik, meninggikan adab murid, serta memberi petunjuk ke arah kebenaran sebagai seorang pengamal ilmu. Sebagai seorang guru, budaya ilmu harus menjadi kriteria utama dan harus dipupuk dalam diri supaya menjadi teladan bagi para pelajar mencontohinya. Budaya ilmu di kalangan guru dan pelajar adalah sejajar dengan salah satu matlamat yang terkandung dalam Falsafah Pendidikan Kebangsaan iaitu melahirkan generasi yang mencintai ilmu pengetahuan dan seterusnya menjadi teras dan tunjang dalam amalan pendidikan seumur hidup. 2.4 Mengamalkan kemahiran profesional Guru merupakan tenaga ikhtisas di dalam bidang perguruan yang dipertanggungjawabkan untuk mendidik murid-murid di seklah. Oleh itu, guru yang mempunyai kemahiran profesional serta kecerdasan emosi yang tinggi memainkan peranan besar dalam menghasilkan generasi yang berpendidikan, berkemahiran, berbudaya ilmu dan berakhlak selaras dengan Falsafah Pendidikan Negara. Peranan ini penting bagi membawa pendidikan negara Malaysia ke arah pendidikan yang bertaraf dunia (Dr. Ragbir Kaur, 2007). Antara kemahiran yang perlu ditekankan ialah kemahiran berfikir dan pemikiran konstruktif. Para pelajar mestilah dididik menggunakan daya fikir tinggi dan minda untuk melahirkan pelajar-pelajar untuk belajar sepanjang hayat dan mempunyai modal intelektual tinggi menghadapi era globalisasi. Kemahiran berfikir dan pemikiran konstruktif perlu juga terarah kepada pandangan jauh dan luar biasa (Mohamad bin Muda, Ketua Penolong Pengarah Bahagian Pendidikan Guru Kementerian Pendidikan Malaysia). 2.5 Bersifat profesional dan peka dengan segala perkembangan pendidikan Craft (2002) menyarankan bahawa untuk menjadi pendidik yang profesional, seorang guru perlu peka terhadap inisiatif pendidikan yang perkembangan terhadap terkini.. Guru yang kajian-kajian lampau profesional juga sentiasa mengikuti dan terkini bagi mengemaskinikan

pengetahuan dan kemahiran p&p guru. Mak Soon Sang (2007), menegaskan guru hendaklah melengkapkan diri dengan menguasai kemahiran menggunakan internet untuk memperolehi maklumat tentang perkembangan matematik dan pedagogi pengajaran masa kini di samping membimbing murid-murid menggunakan internet sebagai p&p. Selain itu guru perlu mengaplikasikan teknologi maklumat (ICT) di dalam bilik darjah melalui program SLE (Smart Learning Environment) yang bertujuan meningkatkan pengetahuan guru terhadap penggunaan ICT. Antaranya aplikasi word processing, spreadsheet, database, desktop publishing, dan graphing (Dr Ranbir Kaur a/p Joginder Sigh, 2007). 2.6 Mengamalkan pengajaran efektif Mak Soon Sang (2007) mengenalpasti ciri-ciri pengajaran efektif dari segi perancangan, pelaksanaan, dan penilaian pengajaran. 2.5.1 Perancangan pengajaran Clarke dan Cutler (1990) menyatakan keberkesanan pengajaran bergantung kepada perancangan, pelaksanaan, penilaian terhadap proses dan objektif pembelajaran. Oleh itu, mengenalpasti objektif pengajaran merupakan salah satu ciri kualiti pengajaran yang diperlukan dalam perancangan. Cohn et al, (1987) selanjutnya menyokong pendapat ini dengan menyatakan guru harus membuat refleksi kendiri untuk menilai objektif pengajarannya setelah selesai melaksanakan pengajaran. Oleh itu guru harus mempunyai kemahiran dalam memilih strategi p&p yang sesuai kerana ia merupakan suatu rancangan untuk melaksanakan aktiviti p&p juga mahir dalam penggunaan kaedah dan teknik mengajar untuk menyampaikan isi pelajaran dengan cara yang berkesan, kerana pemilihan kaedah dan teknik mengajar yang sesuai akan menjamin keberkesanan pengajaran serta pencapaian objektifnya secara optimum. 2.5.2 Pelaksanaan pengajaran Mok Soon Sang (2002), mengatakan peranan guru dalam pelaksanaan dan kejayaan proses pengajaran dan pembelajaran meliputi tugas-tugas seperti menganalisis objektif dan isi kandungannya, menentukan keperluan pelaksanaan seperti melengkapkan

diri dengan kemahiran mengajar dan penyediaan bahan-bahan pelajaran, merancang dan melaksanakan pengajaran, membuat penilaian untuk mengenalpasti kelemahan dengan tujuan meningkatkan keberkesanan dalam pelaksanaan pengajaran dengan membuat pengubahsuaian dalam rancangan mengajar. 2.5.3 Penilaian pengajaran Yap, Wan, dan Ismail (1985) dalam Kertas Kerja oleh Profesor Dr. Saedah Siraj mentakrifkan penilaian dalam pendidikan dan pembelajaran sebagai satu aktiviti untuk mendapatkan maklumat yang berguna bagi menentukan pencapaian sesuatu objektif p&p. Ingham (dalam Saedah Siraj, 2000) menyarankan supaya pendidik membuat penilaian dan menghargai perbezaan setiap individu kerana setiap perbezaan itulah yang akan menentukan cara setiap individu itu belajar dan juga boleh memberi pengalaman pembelajaran kepada masing-masing. 3.0 KESIMPULAN Oleh itu dalam menuju pendidikan bertaraf dunia, guru adalah agen terpenting dalam merealisasikan pendidikan anak bangsa Malaysia dalam mengharung cabaran di tahap yang lebih tinggi. Pengisian guru yang berkualiti seperti yang di bentangkan iaitu guru perlulah bertindak sebagai penyebar ilmu, pengamal budaya ilmu, guru sebagai role-model, mengamalkan pengajaran efektif, peka dengan segala perkembangan pendidikan, dan mengamalkan kemahiran profesional mampu meyediakan generasi muda untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang berupa masyarakat industri, ekonomi yang global, kebanjiran teknologi tinggi dan sentiasa bertambah canggih, penggunaan komputer sebagai keperluan urusan harian dan limpahan maklumat sejagat. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Mohamad bin Muda, Ketua Penolong Pengarah Bahagian Pendidikan Guru Kementerian Pendidikan Malaysia dalam ucapannya, para pendidik adalah wahana yang boleh menentukan corak manusia yang mampu menghadapi alaf baru, abad ke-21.BIBILIOGRAFI Kamus Dewan, Edisi Keempat. Dewan Bahasa Dan Pustaka Kuala Lumpur 2007. Dr. Ragbir Kaur a/p Joginder Singh (2007). Panduan Ulangkaji Pendidikan Untuk KPLI Sekolah Menengah dan Sekolah Rendah. Kumpulan Budiman Sdn. Bhd. Kuala Lumpur. Dr Wan Shamsuddin Bn Wan Mamat (Disember 1998). Pengisian Wawasan Pendidikan Negara Menuju Abad Dr 21.http://citacita.tripod.com/nota/wawasdidik.htm%20online%20on%2024/02/2008.

Ismail Zain, Pendidikan Bertaraf Dunia Ke Arah Pembestarian Dalam Proses Pengajaran Dan Pembelajaran. http://www.tutor.com.my/ online on 24/02/2008 Mak Soon Sang (2007). Ilmu Pendidikan Untuk KPLI (Komponen 3: Profesional Keguruan) Sekolah Rendah. Kumpulan Budiman Sdn. Bhd., Subang Jaya. Mohamad Bin Muda (1991), Ketua Penolong Pengarah Bahagian Pendidikan Guru Kementerian Pendidikan Malaysia. Cabaran Dan Harapan dalam Pendidikan Menghadapi Alaf Baru. Professor Dr Saedah Siraj dan Nurhayati Ishak (26-28 Disember 2006). Peningkatan Kualiti Pengajaran Di Institut Pengajian Tinggi Di Aceh, Prosiding Persidangan Antarabangsa Pembangunan Aceh, UKM Bangi. http://pkukmweb.ukm.my online on 24/02/2008 5. Anda mungkin juga meminati: endahuluan Pendidikan bertaraf dunia merupakan suatu wacana dalam dasar pendidikan negara yang meletakkan proses pendidikan sebagai institusi perkembangan ilmu..Pengiktirafan yang diberikan terhadap bidang pendidikan membawa satu implikasi atau impak yang serius terhadap profesion perguruan yang secara langsung terlibat di dalam sistem penyampaian ilmu (Dr. Ismail Zain.) Apabila kita membincangkan tentang ilmu dan pendidikan sudah pastilah melibatkan para guru dan pendidik sebagai golongan yang amat penting sebagai agen pembangunan dan pembuka minda anak bangsa (Suara Dari Mimbar). Guru yang baik adalah guru yang mempunyai anjakan minda yang positif dan sentiasa mahu menjadi terbilang atau lebih baik daripada sebelumnya. Guru perlu menjadi pendidik cemerlang sebagai model dalam menangani cabaran kerjaya masa depan. Mereka boleh menjadikan ciri-ciri guru cemerlang sebagai panduan untuk berhadapan dengan tingkah laku, prestasi dan pencapaian akademik yang berbeza (Rohana Man,2002). Pandangan sarjana tentang ciri-ciri seorang guru. Mohan dan Hull (1975)

(http://www.scribd.com/doc/2067734/Guru-Berkualiti-Penjana-Modal-InsanGemilang?query2=ciri-ciri+guru +berkualiti) mengenalpasti ciri-ciri guru berkualiti dapat dilihat dari dua aspek iaitu aspek personaliti guru dan aspek pengajaran guru. Mohamed Bin Muda pula menegaskan guru perlu melengkapkan diri dengan ciri-ciri berikut:

menguasai subjek (kandungan kurikulum) mahir dan bertrampilan dalam pedagogi (pengajaran & pembelajaran) memahami perkembangan murid-murid dan menyayangi mereka memahami psikologi pembelajaran (cognitive psychology) memiliki kemahiran kaunseling menggunakan teknologi terkini dapat menyaring dapatan-dapatan kajian dan penyelidikan mutakhir boleh bekerjasama dengan rakan sejawat dan orang lain, dan memiliki keyakinan terhadap peranan dan sumbangan sebagai pendidik.

Kementerian Pendidikan Malaysia pula menyenaraikan guru cemerlang mempunyai ciri-ciri dari segi kualiti seperti peribadi, pengetahuan dan kemahiran, hasil kerja, komunikasi dan sumbangan kepada kemajuan pendidikan negara. Berdasarkan pandangan sarjana tentang ciri-ciri guru, kami menyimpulkan ciri-ciri guru yang perlu ada bagi membantu menghasilkan pendidikan bertaraf dunia adalah: 2.2 Mahir dalam ciri-ciri pengajaran efektif. Mak Soon Sang (2007) mengatakan ciri-ciri pengajaran efektif boleh dikenal pasti daripada perlakuan mengajar guru, iaitu dari segi perancangan, pelaksanaan, dan penilaian pengajaran. 3.1 Perancangan pengajaran Clarke dan Cutler (1990) menyatakan keberkesanan pengajaran bergantung kepada perancangan, pelaksanaan, penilaian terhadap proses dan objektif pembelajaran. Oleh itu, mengenalpasti objektif pengajaran merupakan salah satu ciri kualiti pengajaran yang diperlukan dalam perancangan. Cohn et al, (1987) selanjutnya menyokong pendapat ini dengan menyatakan guru harus membuat refleksi kendiri untuk menilai objektif pengajarannya setelah selesai melaksanakan pengajaran. (http://www.scribd.com/doc/2067734/Guru-Berkualiti-Penjana-ModalInsan-Gemilang? query2=ciri-ciri+guru+berkualiti). Oleh itu guru harus mempunyai kemahiran dalam memilih strategi pengajaran dan pembelajaran yang sesuai kerana ia merupakan suatu rancangan untuk melaksanakan aktiviti pengajaran dan pembelajaran dan juga mahir dalam penggunaan kaedah dan teknik mengajar untuk menyampaikan isi pelajaran dengan cara yang berkesan, kerana pemilihan kaedah dan teknik mengajar yang sesuai akan menjamin keberkesanan pengajaran serta pencapaian objektifnya secara optimum. 3.2 Pelaksanaan pengajaran Selain itu ciri kemahiran yang perlu ada pada guru adalah kemahiran menyampaikan pengajarannya. Mok Soon Sang (2002), mengatakan peranan guru dalam pelaksanaan dan kejayaan proses pengajaran dan pembelajaran meliputi tugas-tugas seperti menganalisis objektif dan isi kandungannya, menentukan keperluan pelaksanaan seperti melengkapkan diri dengan kemahiran mengajar dan penyediaan bahan-bahan pelajaran, merancang dan melaksanakan pengajaran, membuat penilaian untuk mengenalpasti kelemahan dengan tujuan meningkatkan keberkesanan dalam pelaksanaan pengajaran dengan membuat pengubahsuaian dalam rancangan mengajar. 3.3 Penilaian pengajaran Ciri-ciri guru berkualiti yang seterusnya ialah guru mestilah membuat penilaian pengajaran. Ini ditegaskan oleh Ingham (dalam Profesor Dr Saedah Siraj dan Nurhayati Ishak. Peningkatan Kualiti Pengajaran Di Institut Pengajian Tinggi Aceh. Prosiding Persidangan Antarabangsa Pembangunan Aceh 26-27 Disember 2006, UKM Bangi.) yang menyarankan supaya pendidik membuat penilaian dan menghargai perbezaan setiap individu kerana setiap perbezaan itulah yang akan menentukan cara setiap individu itu belajar dan juga boleh memberi pengalaman

pembelajaran kepada masing-masing. 4. Rumusan Kesimpulannya bagi menghasilkan sistem pendidikan bertaraf dunia, para guru perlulah menguasai dan menggabungkan kemahirankemahiran yang berkaitan untuk melahirkan satu bentuk pendidikan yang lebih bermakna dan bestari. Di samping itu guru dapat mengintegrasikan aspek pedagogi, psikologi dan teknologi dalam proses penyampaian ilmu kearah menghasilkan sistem pendidikan bertaraf dunia (Dr. Ismail Zain). Pendidikan bertaraf dunia mempunyai wawasan ke arah melahirkan generasi mengamalkan budaya fikir, kritis, kreatif dan inovatif. Hanya manusia yang berbudaya fikir dapat bersaing di medan antarabangsa serta menjanakan idea ke arah pembangunan tamadun ilmu, masyarakat, budaya, bangsa dan negara. Dalam meniti pendidikan bertaraf antarabangsa dengan ledakan ilmu dan kemajuan pesat dalam sains dan teknologi telah mendatangkan pelbagai inovasi dalam bidang pendidikan. Dengan itu, guru hendaklah memiliki ciri-ciri tertentu agar matlamat tersebut tercapai. Ciri-ciri guru dapat dibahagikan kepada tiga iaitu dari aspek personaliti guru, ciri guru alaf baru dan ciri guru dari aspek pengajaran. Dengan ciri-ciri yang ada itulah matlamat negara bagi mencapai pendidikan bertaraf dunia akan tercapai. Ini kerana, walau secanggih mana pun teknologi kita, kita tetap tidak dapat menidakkan fungsi seorang guru. BAHAN RUJUKAN Ee Ah Meng, Ilmu Pendidikan Pengetahuan dan Ketrampilan Ikhtisas, Fajar Bakti Sdn. Bhd., Selangor, 2003. Mok Soon Sang, Mtest (Ujian Penilaian Calon Guru Malaysia) Inventori Sahsiah Keguruan INSAK, Multimedia-Es Resources Sdn. Bhd., Selangor, 2007. Dr.Wan Shamsuddin Bin Wan Mamat (Disember 1998), Pengisian Wawasan Pendidikan Negara Menuju Abad 21.http://citacita.tripod.com/nota/wawasdidik.htm online on 24/2/08 Profesor Dr Saedah Siraj dan Nurhayati Ishak. Peningkatan Kualiti Pengajaran Di Institut Pengajian Tinggi Aceh. Prosiding Persidangan Antarabangsa Pembangunan Aceh 26-27 Disember 2006, UKM Bangi.http://pkukmweb.ukm.my/~pkaukm/BUKU%201%20&%202/PDF_buku%202/B8_Pend_Sae dah_Nurhayati_Peningkatan%20Kualiti%20Pengajaran.pdfonline 24/2/08 http://www.brunet.bn/news/pelita/20sept/khutbah.htm (Guru ejen pembangunan dan perubahan minda ummah) online on 28/2/08http://www.pustaka.usm.my/docushare/dsweb/Get/Document8601/KUALITI+%20PERKHIDMATAN+GURU+DI+SEKOLAH+SEKOLAH+MENENGAH+DI+DAERAH+ PULAU+PULAU+PINANG+SALMAH+KASSIM.pdfonline on 28/2/08 http://www.scribd.com/doc/2067734/Guru-Berkualiti-Penjana-Modal-InsanGemilang?query2=ciri-ciri+guru+berkualiti

Profesionalisme
Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.

A women doctor

Profesionalisme (profsionalisme) ialah sifat-sifat (kemampuan, kemahiran, cara pelaksanaan sesuatu dan lain-lain) sebagaimana yang sewajarnya terdapat pada atau dilakukan oleh seorang profesional.[1] Profesionalisme berasal daripada profesion yang bermakna berhubungan dengan profesion dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, (KBBI, 1994). Jadi, profesionalisme adalah tingkah laku, kepakaran atau kualiti dari seseorang yang profesional (Longman, 1987).[2]

Ciri-ciri profesionalisme[sunting | sunting sumber]


Seseorang yang memiliki jiwa profesionalisme senantiasa mendorong dirinya untuk mewujudkan kerjakerja yang profesional. Kualiti profesionalisme didokong oleh ciri-ciri sebagai berikut[3]: 1. Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati piawai ideal. Seseorang yang memiliki profesionalisme tinggi akan selalu berusaha mewujudkan dirinya sesuai dengan piawai yang telah ditetapkan. Ia akan mengidentifikasi dirinya kepada sesorang yang dipandang memiliki piawaian tersebut. Yang dimaksud dengan piawai ideal ialah s uatu perangkat perilaku yang dipandang paling sempurna dan dijadikan sebagai rujukan. 2. Meningkatkan dan memelihara imej profesion Profesionalisme yang tinggi ditunjukkan oleh besarnya keinginan untuk selalu meningkatkan dan memelihara imej profesion melalui perwujudan perilaku profesional. Perwujudannya dilakukan melalui berbagai-bagai cara misalnya penampilan, cara percakapan, penggunaan bahasa, sikap tubuh badan, sikap hidup harian, hubungan dengan individu lainnya. 3. Keinginan untuk sentiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat meningkatkan dan meperbaiki kualiti pengetahuan dan keterampiannya. 4. Mengejar kualiti dan cita-cita dalam profesion Profesionalisme ditandai dengan kualiti darjat rasa bangga akan profesion yang dipegangnya. Dalam hal ini diharapkan agar seseorang itu memiliki rasa bangga dan percaya diri akan profesionnya.

== Catatan ==
1. 2. Jump up Kamus Dewan Edisi Ketiga, ms 1057 Jump up http://www.pdii.lipi.go.id/profesionalisme-karyawan-pdii-lipi.html Profesionalisme Karyawan PDII - LIPI 3. 2. 3. 4. Jump up http://geografi.upi.edu/?mod=article/view/12 | Guru Profesional: Untuk Pendidikan Bermutu eseorang yang memiliki jiwa profesionalisme senantiasa mendorong dirinya untuk mewujudkan kerja-kerja yang profesional. Kualiti profesionalisme didokong oleh ciri-ciri sebagai berikut : 1. Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati piawai ideal. Seseorang yang memiliki profesionalisme tinggi akan selalu berusaha mewujudkan dirinya sesuai dengan piawai yang telah ditetapkan. Ia akan mengidentifikasi dirinya kepada sesorang yang dipandang memiliki piawaian

tersebut. Yang dimaksud dengan piawai ideal ialah suatu perangkat perilaku yang dipandang paling sempurna 5. 6. dan dijadikan sebagai rujukan. 2. Meningkatkan dan memelihara imej profesion Profesionalisme yang tinggi ditunjukkan oleh besarnya keinginan untuk selalu meningkatkan dan memelihara imej profesion melalui perwujudan perilaku profesional. Perwujudannya dilakukan melalui berbagai-bagai cara misalnya penampilan, cara percakapan, penggunaan bahasa, sikap tubuh badan, sikap hidup harian, hubungan dengan individu lainnya. 7. 8. 9. 3. Keinginan untuk sentiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat meningkatkan dan meperbaiki kualiti pengetahuan dan keterampiannya. 4. Mengejar kualiti dan cita-cita dalam profesion Profesionalisme ditandai dengan kualiti darjat rasa bangga akan profesion yang dipegangnya. Dalam hal ini

diharapkan agar seseorang itu memiliki rasa bangga dan percaya diri akan profesionnya. 10. Sumber : http://ms.wikipedia.org/wiki/Profesionalisme
11. TOP

maksud pendidikan oleh beberapa org sarjana islam & barat


Pendidikan merupakan salah satu aspek yang terpenting dalam sesebuah

Negara. Pendidikan dilihat mampu mengubah negara kepada tahap yang lebih baik dari segi peni ngkatan ekonomi, budaya, politik, sosial, dan sebagainya. Dengan pendidikan kehidupan manusia boleh berubah dalam sekelip mata. Pendidikan juga merupakan asas penting kepada setiap individu. Pelbagai usaha yang telah dan akan dilaksanakan oleh pihak kerajaan dalam sesebuah Negara bagi memastikan semua rakyatnya menerima pendidikan.

Justeru itu, apakah yang dimaksudkan dengan pendidikan? Perkataan pendidikan mempunyai tafsiran yang pelbagai dan sentiasa berubah mengikut peredaran zaman, tujuan dan tugasnya. Di sini akan dihuraikan beberapa maksud pendidikan yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli falsafah dan tokoh ilmuan dari Barat pandangan Barat dan Islam

Swift D.F di dalam bukunya Sociology of Education menghuraikan pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh beberapa orang sarjana dan Ilmuan dari Barat berkenaan dengan pendidikan. Antaranya ialah, Plato berpendapat, pendidikan ialah suatu proses untuk membentuk individu yang berakhlak mulia. Beliau menyokong pendapat Socrates bahawa tujuan pendidikan ialah member latihan moral kewarganaegaraan yang baik. Menurut Aristotle

pula, pendidikan ialah ilmu yang bersifat etikal dan politikal. Mengikut beliau, tujuan pendidikan ialah memberikan setiap warganegara peluang untuk mencapai kebahagiaan hidup.

John McDonald menghuraikan perbezaan pendidikan diantara masyarakat primitif dengan masyarakat moden. Pengertian pendidikan dalam masyarakat primitif ialah latihan vokasional dan pelajaran adat resam, kepercayaan serta cara sembahyang, dismapaikan melalui tunjuk ajar dengan secara tidak langsung daripada keluarga dan pergaulan dengan orang dewasa. Manakala pengertian pendidikan bagi masyarakat moden pula merupakan latihan khusus menguasai kemahiran dan memperolehi ilmu pengetahuan yang penting untuk kehidupan disampaikan melalui pengajaran secara langsung daripada guru yang berilmu tinggi serta mempunyai kemahiran mengajar.

John Dewey pula mengatakan bahawa pendidikan adalah satu proses perkembangan individu. Mengikut beliau, pendidikan merupakan usaha mengatur ilmu pengetahuan untuk menambahkan lagi pengetahuan semula jadi yang ada padanya, supaya dapat hidup dengan lebih berguna dan lebih selamat lagi.

Atan Long pula di dalam bukunya bertajuk Psikologi Pendidikan memuatkan di dalamnya beberapa pandangan mengenai pendidikan yang telah dikemukakan oleh beberapa sarjana dan ilmuan Islam. Antaranya ialah; Syed Muhammad Qutb menyatakan bahawa pendidikan adalah proses membentuk manusia secara menyeluruh dan seimbang. Menurut beliau, tujuan utama pendidikan ialah untuk memperkembangkan potensi intelek, fizikal, emosi dan rohani manusia kea rah tahao kesempurnaan.

Amar al-Shaibani berpendapat pendidikan adalah digunakan untuk melatih manusia membuat persiapan bagi kehidupan dunia dan akhirat. Menurut al-Ghazali pula, proses pendidikan hendaklah merangkumi aspek intelek latihan jasmani serta pembinaan akhlak yang mulia, berani dan hormat - menghormati.

Firman Allah di dalam Surah Al-Alaq ayat 1 yang bermaksud : Bacalah!!! Dengan Nama Tuhanmu yang menjadikan, jelas menunjukkan betapa peri pentingnya pendidikan kepada setiap umat manusia dengan tidak mengira jantina, agama, budaya, umur, keturunan dan sebagainya Begitu juga dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang bermaksud : Menuntut ilmu itu wajib bagi bagi setiap lelaki dan perempuan, jelas memberitahu kepada kita bahawa setiap orang tidak kira lelaki atau perempuan dikehendaki menuntut ilmu atau dalam erti kata lainnya mempunyai pendidikan.

Sharifah

Alwiyah

Alsagoff

menghuraikan

di

dalam

bukunya

Falsafah

Pendidikan pengertian pendidikan sebagai satu proses atau aktiviti yang berikut: Pendidikan sebagai proses persekolahan formal. Pendidikan sebagai proses latihan. Pendidikan sebagai proses perkembangan fizikal, intelek, social dan emosi seseorang individu. Pendidikan sebagai proses indoktrinasi dengan tujuan agar pelajar akan mempercayai apa yang disampaikan. Pendidikan sebagai proses yang berterusan untuk kemajuan individu seumur hidup. Pendidikan sebagai aktiviti yang bersepadu untuk mencapai matlamat seperti memperolehi kemahiran pengetahuan dan sikap dengan secara integrasi. Pendidikan sebagai satu disiplin, seni dan sains.

Mok Soon Sang di dalam bukunya Pendidikan di Malaysia merumuskan bahawa pendidikan ialah suatu proses atau aktiviti yang berusaha untuk memperkembangkan fizikal, intelek, social dan emosi seseorang individu serta menambahkan kemahiran, kebolehan, pengetahuan dan pengalaman supaya dapat member kegembiraan, faedah dan kemajuan dalam kehidupannya, membantu dan mendorongnya bertindak dengan cara yang lebih sihat bagi faedah diri sendiri serta masyarakat, bangsa dan negaranya.

Menurut Anuar Ahmad (UKM), sesetengah orang tidak dapat membezakan antara pendidikan asas dan pendidikan menengah. Pendidikan asas adalah satu konsep yang besar dan luas. Tanpa mengira usia atau ruang, pendidikan asas boleh sahaja bermula sama ada di peringkat sekolah rendah, menengah, universiti atau usia tua. Pendidikan asas yang dimaksudkan ialah satu komponen ilmu yang diberikan kepada individu meliputi asas-asas kehidupan sama ada sebagai seorang individu manusia atau sebagai ahli dalam sesebuah Negara. Seringkali pendidikan asas dikaitkan dengan akronim 3M (membaca, menulis dan mengira). Sebenarnya pendidikan asas juga meliputi soal pendidikan kesihatan dan penjagaan diri, kemahiran komunikasi dan berinteraksi serta berkaitan dengan pembangunan moral dan agama.

Kesimpulannya, pendidikan berupaya mengubah corak kehidupan seseorang ahli dalam sesebuah Negara. Melalui pendidikan juga dapat membentuk masyarakat yang berakhlak tinggi, berpengetahuan luas, bijaksana dalam membuat keputusan, dan tegas dalam mengendalikan emosi seterusnya dapat memacu kegemilangan dan kecemerlangan sesebuah Negara.

Rujukan Atan Long (1976-1978), Psikologi Pendidikan, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur Mok Soon Sang (1991), Pendidikan Di Malaysia, Kumpulan Budiman Sdn. Bhd, Kuala Lumpur Sharifah Al-sagoff (1985), Sosiologi Pendidikan, Heinmann(Malaysia) Sdn.Bhd. Petaling Jaya Swift, D.F (1969-1973), The Sociology of Education, Routledge & Keagan Paul, London Portal Pendidikan Utusan, www.tutor.com.my