Anda di halaman 1dari 15

SINTAKSIS TATARAN LINGUISTIK (3) SINTAKSIS Dalam pembahasan sintaksis yang bisa dibicarakan adalah (1) struktur sintaksis,

mencakup masalah fungsi, kategori, dan peran sintaksis; serta alat-alat yang digunakan yang digunakan dalam membangun struktur sintaksis itu; (2) satuan-satuan sintaksis yang berupa kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana; dan (3) hal- hal lain yang berkenaan dengan sintaksis, seperti masalah modus, aspek, dan sebagiannya. 6.1 STRUKTUR SINTAKSIS Secara umum struktur sintaksis itu terdiri dari susunan subjek(S),predikat(P),objek(O),dan keterangan(K). Fungsi sintaksis itu yang terdiri dari susunan S,P,O,dan K itu merupakan kotak-kotak kosong atau tempat-tempat kosong yang tidak mempunyai arti apa-apa karena kekosongannya.Pengisi fungsi-fungsi itu berupa kategori sintaksis yang mempunyai peran-peran sintaksis. Misalnya kalimat: Dia tinggal di Jakarta. Frase di Jakarta yang memnduduki fungsi keterangan tidak dapat dihilangkan sebab konstruksi *Dia tinggal di Jakarta berterima. Ada pakar lain, yaitu chafe (1970) yang menyatakan bahwa yang paling penting dalam struktur sintaksis adalah fungsi predikat.Munculnya fungsi-fungsi lain sangat tergantung pada tipe atau jenis vebra itu. Mengenai harus munculnya sebuah objek pada kalimat yang predikatnya berupa vebra tarnsitif, ternyata dalam bahsa Indonesia ada sejumlah vebra transitif yang objeknya tidak selalu ada atau keberadaannya dapat ditinggalkan. Verba transitif yang objeknya tidak perlu muncul atau dapat ditanggalkan ini adalah vebra yang secara semantik menyatakan kebiasaan atau verba itu mengenai orang pertama tunggal atau orang banyak secara uum. Akibat lain dari konsep bahwa subjek harus selalu di isi oleh nomina, misalnya kata berenang pada kalimat berenang menyehatkan tubuh dianggap sebagai kategori nomina. Mengenai kategori kata,sudah di bicarakan pada bab morfologi menjadi pertikaian terutama bahasa Indonesia, namun konsep bahwa setiap subjek harus nominal dan predikat berkategori verba. Makna gramatikal unsur-unsur leksikal yang mengisi fungsi sintaksis sangat tergantung pada tipe atau jenis kategori kata yang mengisi fungsi predikat dalam struktur sintaksis itu. Pengisi fungsi subjek akan memiliki peran yang mengelami . Pengisi fungsi itu sendiri dapat memberi peranaktif seperti dalam kalimat berikut; Nenek menghitamkan rambutnyaaktif Rambutnya itu di hitamkanpasif Kulitnya mulai menghitamproses Rambutnya sangat hitamkeadaan Pengisi fungsi subjek dan objek, antara lain dapat memiliki peran pelaku, Eksistensi struktur sintaksis terkecil di topang oleh,kita sebut saja urutan kata,bentuk kata,dan intonasi. Hal ini juga ditambah konektor yang biasanya berupa konjungsi.Peranan ketiga alat sintaksis

itu(yaitu urutan kata,bentuk kata, dan intonasi). Tampaknya tidak sama antara bahasa yang lain. Ada bahasa mementingkan urutan, bentuk kata, tetapi juga lebih,mementingkan intonasi. Urutan kata ialah letak atau posisi kata yang satu dengan kata yang lain dalam suatu konstruksi sintaksis. Dalam bahasa Indonesia ini sangat penting. Perbedaan kata dapat menimbulkan perbedaan makna,umpanya dalam kalimat pialang makan petola kita mengetahui makna gramatikal tersebut. Pialang adalah pelaku dan petola adalah sasaran.meskipun kalimat pialang makan petola perubahan urutan kata menyebabkan terjadinya perubahan makna gramatikal kalimat tersebut. Misalnya, tadi pagi nenek melirik kakek, di pindah menjadi nenek melirik kakek tadi pagi. Yakni hubungan antara fungsi predikat dan fungsi objek dalam kalimat transitif aktif sangat erat, tidak mungkin di pisahkan. Dalam bahasa kata ini sangat penting, tetapi dalam bahasa lain terutama bahasa berfleksi seperti latin , urutan kata ini sangat tidak penting, artinya urutan kata itu dapat di pertukarkan tanpa mengubah makna gramatikal kalimat tersebut. Bahasa latin berperan mutlak, bahasa Indonesia tidak, karena hampir tidak mempunyai peranan sedangkan bahasa Indonesia mempunyai peranan yang penting. Fungsi objek dalam bahasa Indonesia lebih umum ditentukan urutan kata atau posisi. Alat sintaksis ketiga, yang di dalam bahasa tulis tidak dapat di gambarkan secara akurat dan teliti. Yang akibatnya seringkali menimbulkan kesalahpahaman adalah intonasi. Bahasa tampaknya intonasi sangat penting, juga dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa belanda untuk membentuk kalimat bermodus interogatif , selain intonasi juga ada perubahan posisi atau urutan fungsi subjek-predikat menjadi predikat subjek. Batas antara subjek dan predikat dalam bahasa Indonesia di tandai dengan intonasi berupa nada naik dan tekanan. Kelompok kata atau frase dalam bahasa Indonesia batasnya juga sering di tandai dengan tekana pada kata terakhir, seringkali terjadi kesalahpahaman akibatnya dari kesalahan menafsirkan kontruksi tersebut , yakni memberi tekanan pada tempat yang berbeda. Alat sintaksis yang keempat adalah konektor, biasanya berupa sebuah morfem atau gabungan morfem yang secara kuantitas merupakan kelas yang tertutup. Satu konstituen dengan konstituen lain baik yang berada dalam kalimat maupun yang erada di luar kalimat. Dilihat dari sifat hubungannya dibedakan adanya dua macam konektor, yaitu konektor koordinatif dan konektor subordinatif. Konektor koordinatif adalah konektor yang menghubungkan dua buah konstituen yang sama kedudukannya atau yang sederajat. Konjungsi koordinatif seperti dan, atau, dan tetapi dalam bahasa Indonesia adalah konektor koordinatifr Contoh : Nenek dan kakek pergi berburu Konektor subordinatif adalah konektor yang menghubungkan dua buah konstituen yang kedudukannya tidak sederajat. Maksudnya, konstituen yang satu merupakan konstituen atasan dan konstituen yang lain merupakan konstituen bawahan. Konjungsi kalau, meskipun, dan karena dalam bahasa Indonesia adalah konektor subordinatif. Contoh :Kalau diundang, saya tentu akan datang

6.2 Kata Sebagai Satuan Sintaksis Dalam tataran morfologi kata merupakan satuan terbesar (satuan terkecilnya adalah morfem); tetapi dalam tataran sintaksis kata merupakan satuan terkecil, yang secara hirekial menjadi komponenn pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frase.Sebagai satuan terkecil dalam sintaksisi, kata berperan sebagai pengisi fungsi sintaksis, sebagai penanda kategori sintaksis, dan sebagai perangkai dalam penyatuan satuan satuan dari sintaksis. Kata sebagai pengisi satuan sintaksis dibedakan menjadi dua macam, yaitu kata penuh (fullword) dan kata tugas (funcionword).Kata penuh adalah kata yang secara leksisal memiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalamai proses morfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat bersendiri sebagai sebuah tuturan. Sedangkan kata tugas adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup, dan di dalam peraturan dia tidak dapat bersendiri. Yang merupakan kata penuh adalah kata kata yang termasuk kategori nomina, verbal, adjektiva, adverbial, dan numeralia.Sedangkan yang termasuk kata tugas adalah kata p kata yang berkategori preposisi dan konjungsi. 6.3 Frase Dalam sejarah studi linguistik istilah frase banyak digunakan dengan pengertian yang berbeda beda. Di sini istilah frase tersebut digunakan sebagai satuan sintaksis yang satu tingkat berada di bawah satuan klausa, atau satu tingkat berada di atas satuan kata. 6.3.1 Pengertian Frase Frase lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. Frase terdiri lebih dari satu kata. Pembentuk frase harus berupa morfem bebas, bukan berupa morfem terikat. Konstruksi belum makan dan tanah tinggi adalah frase karena morfemnya bebas (tidak terikat). Frase adalah konstruksi nonpredikatif, artinya hubungan antara kedua unsur yang membentuk frase itu tidak berstruktur subjek predikat atau berstruktur predikat objek. Oleh karena itu, konstruksi seperti adik mandi dan menjual sepeda bukan frase; tetapi konstruksi kamar mandi dan bukan sepeda adalah frase. Frase adalah konstituen pengisi fungsi fungsi sintaksis. Satu unsur frase itu tidak dapat dipindahkan sendirian.Jika ingin dipindahkan, maka harus dipindahkan secara keseluruhan sebagai satu kesatuan. Kata majemuk sebagai komposisi yang memiliki makna baru atau memiliki suatu makna. Sedangkan frase tidak memiliki makna baru,melainkan makna sintaktik atau makna gramatikal.contoh bentuk meja hijau yang berarti pengadilan adalah kata majemuk sedangkan meja saya yang berarti saya punya meja adalah sebuah frase.Satu atu dua komponen kata majemuk berupa morfem dasar terikat,bedanya dengan frase bahwa kedua komponen frase selalu terdiri dari morfem bebas atau bentuk yang benar-benar bersetatus kata.

6.3.2 Jenis Frase Frase bisa dibedakan dalam beberapa jenis, yaitu: 6.3.2.1 Frase Eksosentrik Frase eksosentrik adalah frase yangkomponen-komponennya tidak prilaku sintaksis yang sama degan keseluruhannya. contoh: frase di pasar,yang terdiri dari komponen di dan komponen pasar. Frase eksosentrik biasanya dibedakan atas frase eksosentrik direktif dan frase eksosentrik nondirektif. Frase eksosentrik direktif komponen pertamanya berupa preposisi, seperti di, ke, dan dari, dan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata, yang biasanya berkatagori nomina.sedangkan frase eksosentrik nondirektif komponen pertamanyan berupa artikulasi,seperti si dan sang atau kata lain seperti yang,para,dan kaum, sedangkan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata berkatagori nomina, ajektifa atau verb. Misalnya:si miskin,sng ,mertua, yang kepalanya botak,para remaja masjid. 6.3.2.2 Frase Endosentrik Frase endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya memiliki perilaku sinaksis yang sama dengan keseluruhannya.artinya,slaha satu komponennya itu dapat menggantikan kedudukan keseluruhananya.misalnya,sedang membaca,komponen keduanya yaitu membaca dan dapat mengantikan kedudukan frase tersebut, sehinga menjadi kalimat: nenek sedang membaca komik dika komar,nenek membaca komik dikamar. Frase ini disebut juga frase modifikatisif karena komponen keduanya, yaitu komponen yang bukan inti atau hulu (Inggrishead) mengubah atau membatasi makna komponen inti atau hulunya. Dilihat dari katagori intinya dapat dibedakan antara frase nominal, verbal, ajektival dan numeral.yang dimksut dengan frasa nominal adalah frase yang intinya berupa nomina atau Promina. Umpamanya, bus sekolah, kecap manis, karya besar dan guru muda.frase nominal dalam sintaksis dapat mengantikan kedududkan kata nominal sebagai pengisi salah satu fungsi sintaksis.yang dimaksut dengan frase verbal adalah frase yang intinya berupa kata verb; maka oleh karena itu,frase ini dapat mengantikan kedudukan kata verbal didalam sintaksis.contoh : sedang membaca,sudah mandi,makan lagi dan tidak akan datang. Yang dimaksut dengan frase ajektifa yang intinya berupa kata ajektifa.contoh: sangat cantik,indah sekali, merah jambu,dan kurang baik.yang dimaksut dengan frase numeral adalah frase yang intinya berupa kata numral.misalnya ,tiga belas,seratus dua puluh lima,satu setangah terliun. 6.3.2.3 Frase Koordinatif Frase kordinatif adalah frase yang komponen pembentukannya terdiri dari dua komponen atau yang lebih sama dan sederajat,dan secara potensial yang dapat dihubungakan oleh konjungsi koordinatif,baik yang tugal seperti dan,atau,tetapi,maupun konjungsi terbagi seperti baik..baik,makinmakin,dan baikmaupun. mempunyai

6.3.2.4 Frase Aspositif Frase aspositif adalah frase koordinatif yang kedua komponennya merunjuksesamanya,dan oleh karena itu,urutan komponenya dapat dipertukarkan. Misalnya, frase apositif Pak Ahmad guru saya, dapat di ubah susunanya menjadi Pak Ahmad,guru saya,rajin sekali Guru saya,Pak Ahmad,rajin sekali 6.3.3 Perluasan Frase Salah satu ciri frase adalah bahwa frase itu dapat diperluas .maksutnya,frase itu dapat diberi tambahan komponen baru sesuai dengan konsep atau pengertian yang akan ditampilkan. Contohnya,frase di kamar tidur dapat diperluas dengan di beri komponen baru, misalnya, berupa kata saya,ayah, atau belakang sehingga menjadi di kamar tidur saya,di kamar tidur ayah,dan di kamar tidur belakang. Dalam bahasa Indonessia perluasan frase ini tampaknya sangat produktif.Karena pertama, untuk menyatakan konsep-konsep khusus,atau sangat khusus,atau sangat khusus sekali, dan biasanya diterangkan secara leksial. Faktor kedua yang menyebabkan perluasaan prase dalam bahasa indonesia ini sangat produktif adalah mengungkapkan konsep kala,modalitas,aspek,jeis jumlah, ingkar,dan pembatas tidak dinyataakan dengan afisk seperti dalam bahasa-bahasa fleksi,melainkan dinyatakan dengan unsur leksikal.Misalnya , dalam frase tidak akan hadir,dalam frase bukan hanya tidak akan hadir sekaligus ada pengungkapan konsep ingkar nominal dengan kata bukan. Berapa panjang frase dalam bahas indonesia yang mungin dpat terjadi sebagai akibat penumpukan berbagai konsep didalam frase itu? Tergantung kepada keperluan konsep apa saja yang ingin diugkapan dalam sebuah frase. Faktor lainn yang menyebakan produktifnya perluasan frase dalam bahasa indonesia aadlah keprlun untuk memberi dekripsi secar terperinci terhadap suatau konsep,terutama untuk konsep nomina. 6.4 Klausa Klausa merupakan tataran didalam sintaksis yang berbeda diatas tataran frase dan dibawah tataran kalimat. 6.4.1 Pengertian Klausa Klausa adalah satuan sintaksi bderupa runtunan kata-kata berkontruksi pedikatif.Artinya, didalam kontruksi itu ada komponen berupa kata atau frase,yang berfungnsi sebagia saling

predikat; dan yang lain berfungsi sebgai subjek, objek dan sebagia keterangan. Dapat disimpulkan bahwa klausa memang berpotensi untuk menjadi kalimat tunggal karena di dalamnya tidak ada fungsi sintaksis wajib, yaitu subjek dan predikat. Istilah istilah fungsi sintaksis yaitu, subjek, predikat, objek, dan keterangan.Subjek adalah sebagai pokok dasar atau hal, yang ingin dinyatakan oleh pembicara atau penulis.Predikat adalah pernyataan mengenai subjek itu.Sedangkan objek terbagi menjadi dua, yaitu objek langsung adalah objek yang merupakan sasaran dari tindakan yang dinyatakan oleh predikat tersebut, dan objek tak langsung adalah objek yang memperoleh manfaat dari tindakan itu. Keterangan merupakan bagian dari klausa yang memberi informasi tambahan, misalnya; mengenai waktu terjadi, tempatnya, tujuannya, dan sebagiannya yang disebut predikat. 6.4.2 Jenis Klausa Jenis klausa dapat dibedakan berdasarkan strukturnya dan berdasarkan kategori segmental yang menjadi predikat.Berdasarkan strukturnya dapat dibedakan adanya klausa bebas dan klausa terikat.Klausa bebas adalah klausa yang mempunyai unsur unsur lengkap, sekurang kurangnya mempunyai subjek dan predikat; dank arena itu, mempunyai potensi menjadi kalimat mayor.Contohnya nenek masih cantik dan kakekku gagah berani. Berbeda dengan klausa bebas yang mempunyai struktur lengkap, maka klausa terikat memiliki struktur yang tidak lengkap.Klausa terikat ini tidak mempunyai potensi untuk menjadi kalimat mayor.contohnya: kontruksi tadi yang bisa menjadi kalimat jawaban untuk kalimat tanya: kapan nenek membaca komik? ; atau kontruksi membaca komik yang bisa menjadi kalimat jawaban untuk kalimat taya. Klausa terikat dapat dikenali dengan adanya konjungsi subordinatif di depannya.contohya: klausa terikat ketika kami sedang belajar di dalam kalimat Dia pingsan ketika kami belajar. Klausa terikat yang di awali dengan konjungsi suburdinatif biasanya dikenal dengan namaklausa suburdinatif atau klausa bawaan. Sedangkan klausa lain yang hadir bersama dengan klausa bawahan daslam sebuah kalimat majemuk disebut klausa atasan atau klausa utama.Berdasarkan usur segmental yang menjadi predikat dapat di bedakan adanya klausa yaitu: klausa verbal adalah klausa yang predikatnya berkatagori verba: misalnya,klausa nenek mandi,kakek menari,sapi itu berlari dan matahari itu terbit Berbagai tipe verba yaitu: 1. Klausa transitip, yaitu klausa yang predikatnyaberupa verba transitif,contoh nenek menulis surat. 2. Klausa intransitif,yaitu klausa yang predikatya berupa verba intransitif,contoh nenek menangis 3. Klausa refliksif,yaitu kalusa yang predikatnya berupa verba refliksif,contoh Nenek sedang berdandan 4. Klausa resiprokal yaitu klausa yang predikatnya berupa verbal resiplokal contoh mereka bertengkar sejak kemarin

Klausa nominnal adalah klausa yang predikatnya berupa nominal atau frase nominal contoh : Kakeknya petani di desa itu Dia dulu dosen linguistik Pacarnya satpam bank swasta Jika contoh di atas diberi kataadalah atau ialah maka klausa- klausa tersebut bukanlah klausa nominal. Contoh kata yang di beri kata adalah dan kata yang tidak diberi adalah. Yang perlu di kerjakan pada massa orde baru sekarang menjelang PJPT 11 peningkatan kegiatan pembagunan Yang perlu di kerjakan pada massa orde baru sekarang menjelang PJPT 11 adalah peningkatan kegiatan pembagunan. Karena verba kopula adalah dan ialah kalimat yang unsur objeknya cukup panjang ,maka kata adalah dan ialah sebagai kata pemisah. Klausa ejektifal adalah klausa yang predikatnya berkatagori ajektifa baik berupa kata atau frase.contoh: Ibu dosen itu cantik,gedung itu sudah tua sekali Klausa adverbial adalah klausa yang predikatnya berupa adverbia misalnya,klausabandelnya teramat sangat . Klausa preposisional adalah klausa yang predikatnya berupa frase berkatagori preposisi. Contohya: nenek di kamar, dia dari medan. Klausa numeral adalah klausa klausa yang predikatnya berupa kata atau frase numeralia.contohnya: gajih lima juta satu sebulan,anaknya dua belas. Klausa berpusat adalah klausa yang sobjeknya terikat di dalam predikatnya, meskipun ditempat lain ada nomina yang berlaku sebagain objek seperti bahasa arab dan bahasa latin.contohya: Aqrq ul qurqn saya mambaca quran Ana aqra ul quran Amavi 6.5 KALIMAT Sintaksis adalah ilmu tentang kalimat .atau ilmu mengenai penataan kalimat. 6.5.1 Pengertian kalimat Kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap merupakan definisi umum yang bisa kita jumpai.kalimat adalah lafal yang tersusun dari dua buah kata atau lebih yang mengandung arti serta berbahasa arab dianggap sebagai devinisi yang sudah saya mambaca quran saya sudah cinta

baku. Menurut konsep kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun konstituen dasar,yang berupa klausa,dengan konjungsi bila diperlukan,serta dengan intonasi final. Dari rumus di atas dapat kita simpulkan bahwa yang menjadi dasar kalimat adalah konstitue dasar biasanya beruapa klausa.Dari rumus itu disimpulkan bahwa konstituen dasar itu bisa juga tidak berupa klausa. Contoh kalimat yang baik dalam bahasa Indonesia : Nenek membaca komik di kamar, sedangkan kakek membaca buku lupus di kebun. Ketika nenek membaca di kamar, kakek merokok di kebun Nenek saya! (sebagai kalimat jawab terhadap kalimat taya: Siapa yang duduk disana?) Komik! (sebagai kalimat terhadap kalimat taya: Buku apa yang dibaca nenek?) Intonasi final yang memberi ciri kalimat ada tiga buah, yaitu intonasi deklaratif (di lambangkan dengan tanda titik). Intonasi interogatif (yang ditandai dengan tanda taya) dan intonasi seru (ditandai dengan tanda seru). 6.5.2 Jenis Kalimat Jenis kalimat dapat dibedakan berdasarkan berbagai kriteria atau sudut pandang. 6.5.2.1 Kalimat Inti dan Kalimat Non-Inti Kalimat inti juga bisa disebut kalimat dasar,adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif,aktif atau netral,dan afircmatif. Contohnya : a. FN+FV b.FN+FV+FN c. FN+FV+FN+FN d. FN+FN e. FN+FA f. FN+Fnum g. FN+FP Keterangan : a) FN= Frase Nominal : Nenek datang :Nenek membaca komik :Nenek membacakan kakek komik :Nenek dokter :Nenek cantik :Uang dua juta :Uangnya di dompet

FV= Frase Verbal

FA= Frase Ajektifal FNum= Frase Numeral FP= Frase Preposisi b) FN dapat di isiolehsebuah kata nominal,FVdapatdiisiolehsebuah kata verbal,FAdapatdiisiolehsebuah kata AjektifdanFNumdapatdiisiolehsebuah kata numeral. Kalimatinidapatdiubahmenjadikalimatnonontidenganberbagaiprosesetransformasi,seperti transformasi pemasifan,pengingkaran,penayaan,pemerintahan,penginversian,pelepasan,dan penambahan. 6.5.2.2 Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk Perbedaan kalimat tunggal dan kalimat majemuk berdasarkan banyaknya kalusa yang ada di dalam kalimat itu.Kalau klausanya hanya satu, maka kalimat tersebut disebut kalimat tunggal. Kalau klausa di dalam kalimat terdapat lebih dari satu, maka kalimat itu disebut kalimat majemuk.Berkenaan dengan sifat hubungan klausa klausa di dalam kalimat, maka dibedakan adanya kalimatmajemuk koordinatif (kalimat majemuk setara) yaitu kalimat majemuk yang klausa klausanya memiliki status yang sama, yang setara, atau yang sederajat. Yang kedua adalah kalimat majemuk subordinatif(kalimat majemuk bertingkat) yaitu kalimat majemuk yang hubungan antara klausa klausanya tidak setara atau sederajat.Yang terakhir adalah kalimat majemuk kompleks (kalimat majemuk campuran) yaitu kalimat yang terdiri dari tiga klausa atau lebih, di mana ada yang dihubungkan secara koordinatif da nada pula yang dihubungkan secara subordinatif. 6.5.2.3 Kalimat Mayor dan Kalimat Minor Pembedaan kalimat mayor dan kalimat minor dilakukan berdasarkan lengkap dan tidaknya klausa yang menjadi konstituen dasar kalimat itu.Kalu kalimatnya lengkap sekurangkurangnya memiliki unsure subjek dan predikat, maka kalimat itu disebut kalimat mayor. Contoh kalimat mayor Nenek berlari pagi Bu dosen itu cantik sekali Irak dan Iran sudah berdamai Kalau klausanya tidak lengkap entah hanya terdiri dari subjek saja, predikat saja, objek saja ataukah keterangan saja, maka kalimat tersebut disebut kalimat minor.Kalimat minor ini walaupun strukturnya tidak lengkap namun bisa dipahami karena konteksnya dapat dipahami oleh pendengar maupun pembicara konteks ini bisa berupa konteks kalimat, konteks situasi atau juga konteks topick pembicara. Jadi, kalimat-kalimat jawaban singkat, kalimat seruan,

kalimat perintah,kalimat salam dan sebagainya adalah termasuk kalimat minor. Contoh kalimat minor Sedang makan ( sebagai kalimat jawaban dari kalimat Tanya : Nenek sedang apa ? Halo ! Dilarang merokok 6.5.2.4 Kalimat Verbal dan Kalimat non-Verbal Secara umum dapat dikatakan kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal, atau kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang berkaegori verba.Sedangkan kalimat nonverbal adalah kalimat yang predikatnya bukan kata atau frase vebal, bisa nominal, adjektfal, adverbial, atau juga numeralia. Berkenaan dengan banyaknya jenis verba, maka biasanya dibedakan pula adanya kalimat transitif, kalimat intransitive, kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat dinamis, kalimat statis,kalimat refleksif, kalimat resiprokal, dan kalimat ekuatif. Kalimat transitif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba transitif, yaitu verba yang biasanya diikuti oleh sebuah objek kalau verba tersebut bersifat monotransitif, dan diikuti oleh dua buah objek kalau verbanya berupa verba bitransitif. Contoh kalimat monotransitif : Dika menendang bola Contoh kalimat bitransitif : Dika membelikan Nita sebuah kamus bahasa Jepang

Ada sejumlah verba transitif yang tidak perlu diikuti objek tanpa disebutkan objeknya kalimat tersebut sudah gramatikal dan bisa dipahami.Contohnya : Nita sedang minum Nenek belum makan Untuk contoh kalimat (1) objeknya sudah jelas adalah air dan untuk kalimat (2) objeknya adalah nasi. Kalimat intransitif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba intransitif, yaitu verba yang tidak memiliki objek.Contohnya : Nenek menari Kakek berlari ke kamar mandi Ayah belum dating Kalimat aktif adalah kalimat yang predikatya kata kerja aktif.Verba aktif biasanya ditandai dengan preiks me- atau memper-. Contoh kalimat aktif : Surat ditulis kakek

Siaran sepak bola didengarkan nenek Kalimat pasif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba pasif.Verba pasif biasanya ditandai dengan prefiks di- atau diper-. Contoh kalimat pasif : Surat ditulis kakek Siaran sepak bola ditonton nenek Dalam linguistik ada kalimat pasif yang tidak dapat dijadikan aktif.Cotohnya : Kakek kecopetan tadi pagi Contoh kalimat aktif yang tidak dapat dijadikan pasif : Dia tidak menyerupai ibunya Kalimat dinamis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis menyatakan tindakan atau gerakan.Contohnya : Mahasiswa itu pulang Dia pergi begitu saja Kalimat statis adalah kalimat yang preikatnya berupa verba yang secara semantic tidak menyatakan tindakan atau gerakan.Contohnya : Anaknya sakit keras Dia tidur dikursi 6.5.2.4 Kalimat Verbal dan Kalimat non-Verbal Kalimat nonverbal adalah kalimat yang predikatnya bukan verba ; bisa nomina atau frase nominal,bisa ajektifa atau frase ajektifal, bisa kelas numeral dan bisa juga berupa frase preposisional. Contoh kalimat nonverbal : Mereka bukan pendudukan desa sini Mereka rajin sekali Penduduk Indonesia185 juta jiwa 6.5.2.5 Kalimat Bebas dan Kalimat Terikat Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap lengkap atau dapat memulai sebuah paragraph atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konteks lain yang menjelaskannya. Sedangkan kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap atau menjadi pembuka paragraph atau wacana tanpa bantuan konteks.Biasanya kalimat terikat ini menggunakan tanda ketergantungan.Perhatikan teks berikut. Sekarang di Riau amat sukar mencari terubuk (1).Jangankan ikannya, telurnya pun sangat sukar diperoleh (2). Kalau pun bisa diperoleh, harganya melambung selangit(3).

Makanya ada kecemasan masyrakat nelayan di sana bahwa terubuk yang spesifik itu akan punah (4). Kalimat (1) pada teks di atas Sekarang di Riau amat sukar mencari terubuk adalah salah satu kalimat bebas tanpa harus diikuti oleh kalimat (2), (3), dan (4), kalimat tersebut sudah dapat menjadi ujaran lengkap yang bisa dipahami. Sedangkan kalimat (2),(3), dan (4) pada teks itu adalah kalimat terikat, ketiga kalimat itu secara sendiri-sendiri tidak dapat dipahami sehingga tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran. Bukti keterkaitan ketiga kalimat tersebut ditandai dengan penanda anaforis berupa nya da konjugasi antarkalimat makanya, oleh karena itu dan jadi. 6.5.3 Intonasi Kalimat Intonasi merupakan salah satu alat sintaksis yang sangat penting, dapat berwujud tekanan, nada, dan tempo, dapat bersifat fonemis pada bahasa bahsa tertentu.Artinya, ketiga unsur supragmental itu dapat membedakan makna kata karena berlaku nada, tekanan atau tempo pada bahasa bahsa tertentu berssifat morfemis, artinya berlaku sebagai morfem. Sebuah klausa yang sama, artinya terdiri dari unsur segmental yang sama, dapat menjadi kalimat deklaratif atau kalimat interogatif hanya dengan mengubah intonasinya. Intonasi merupakan ciri utama yang membedakan kalimat dari sebuah klausa, sebab bisa dikatakan: kalimat minus intonasi sama dengan klausa; atau kalau dibalik: klausa plus intonasi sama dengan kalimat. Jadi, kalau intonasi dari sebuah kalimat ditanggalkan maka sisanya yang tinggal adalah klausa. Ciri-ciri intonasi: tekanan, tempo, dan nada. Tekanan adalah ciri-ciri suprasegmental yang menyertai bunyi ujaran.Tempo adalah waktu yang dibutuhkan untuk melafalkan suatu arus ujaran.Nada adalah unsur suprasegmental yang diukur berdasarkan kenyaringan suatu segmen dalam suatu arus ujaran. Penelitian intonasi sintaksis bahasa Indonesia yang cukup komprehensif telah dilakukan oleh Halim (1974); Alieva juga telah melakukannya dengan cukup baik (1991). Dalam bahasa Inggris ada Lieberman (1975); dan OConnor dan Arnold (1974, cetakan pertama 1961).Tanda yang digunakan untuk menggambarkan intonasi itu berbeda-beda.Ada yang menggunakan skema grafiks seperti Alieva (1991); ada yang menggunakan angka seperti contoh dari Halim diatas.Sedangkan OConnor dan Arnold menggunakan bulatan titik bertangkai yang besarnya berbeda. 6.5.4 Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus, dan Diatesis Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara atau sikap pembicara tentang apa yang diucapkannya. Ada beberapa macam modus, antara lain: (1) modus indikatif atau modus atau modus deklaratif, yaitu modus yang menunjukan sikap objektif atau netral; (2) modus optatif, yaitu modus yang menunjukan harapan atau keinginan; (3) modus imperatif, yaitu modus yang menyatakan perintah, larangan, atau tegahan; (4) modus interogatif, yaitu modus yang menyatakan pertanyaan; (5) modus obligatif, yaitu modus yang menyatakan keharusan; (6) modus

desideratif, yaitu modus yang menyatakan keinginan atau kemauan; dan (7) modus kondisional, yaitu modus yang menyatakan persyaratan. Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian, atau proses. Berbagai macam aspek, antara lain: (1) aspek kontinuatif, yaitu yang menyatakan perbuatan terus berlangsung; (2) aspek inseptik, yaitu yang menyatakan peristiwa atau kejadian baru mulai; (3) aspek progresif, yaitu aspek yang menyatakan perbuatan sedang berlangsung; (4) aspek repetitif. Yaitu yang menyatakan perbuatan itu terjadi berulang-ulang; (5) aspek perfektif, yaitu yang menyatakan perbuatan sudah selesai; (6) aspek imperfektif, yaitu yang menyatakan perbuatan yang berlangsung sebentar, dan (8) aspek sesatif, yaitu yang menyatakan perbuatan berakhir. 6.5.4.3 Kala Kala atau tenses adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya yang disebutkan dalam predikat. Kala lazimnya menyatakan waktu sekarang,lampau, dan akan dating. Kala itu secara morfemis artinya, pernyataan kala ditandai dengan bentuk kata tertentu pada verbanya. Perhatikan bahasa jepang berikut,sebelah kiri kala sekarang, dan sebelah kanan kata lampau.

Dalam bahasa Indonesia banyak orang mengelirukan konsep kala dengan konsep keterangan waktu sebagai fungsi sintaksis; sehingga mereka mengatakan kata sudah,sedang dan akan adalah keterangan waktu.Padahal keterangan waktu dan lainnya pada fungsi sintaksis memberi keterangan keseluruhan kalimat.Posisinya dapat dipindah keawal kalimat atau lainnya; sedangkan kala terikat pada predikatnya.Ada satu kekeliruan lagi,yaitu dalam tata bahasa tradisional istilah keterangan digunakan untuk dua konsep,yaitu konsep fungsi sintaksis dan konsep kategori sintaksis,maka konstruksi seperti dirumah,kemarin dulu,dan nanti malam disebut berkategori kata keterangan (adverbia).Ketiganya dapat mengisi fungsi keterangan tetapi bukan keterangan (adverbial). 6.5.4.4 Modalitas Modalitas adalah keterangan yang menyatakan sikap pembicara yaitu mengenai perrbuatan,keaddaan dan peristiwa atau juga sikap kepada lawan bicara.Dapat berupa pernyataan kemungkinan,keinginan atau keizinan.Dalam bahasa Indonesia dan bahasa lain modalitas dinyatakan secara leksikal.Contoh : (190) Barangkali dia tidak akan hadir. Petani Indonesia sebaiknya mendirikan koperasi. Anda seharusnyatidak datang terlambat. Kalian boleh tidur disini.

Saya ingin anda membantu anak-anak itu. Ada beberapa jenis modalitas; (1) modalitas intensional,yaitu yang keinginan,harapan,permintaan dan ajakan; (2) modalitas epistemic,yaitu yang kemungkinan,kepastian dan keharusan; (3) modalitas deontik,yaitu yang keizinan dan keperkenanan; dan (4) modalitas dinamik,yaitu yang kemampuan.Contoh keempat modalitas secara berurutan : (191) Nenek ingin menunaikan ibadah haji. (192) Kalau tidak hujan kakek pasti datang. (193) Anda boleh tinggal disini sampai besok. (194) Dia bisa melakukan hal itu kalau diberi kesempatan. 6.5.4.5 Fokus Fokus adalah unsure yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar dan pembaca tertuju pada bagian itu.Ada bahasa yang mengungkapkan fokus ini secara mofemis dengan menggunakan afiks tertentu,ada pula dengan cara lain.Dalam bahasa Tagalog di Filipina yang menempati fungsi subjek ditandai dengan artikulus ang.Contoh : (195) Bumili ang Nanay ng saging sa tindahan para sa bata. (196) Binili ng Nanay ang saging sa tindahan para sa bata. (197) Binilhan ng Nanay ng saging ang tindahan para sa bata. (198) Ibinili ng Nanay ng saging sa tindahan ang bata. menyatakan menyatakan menyatakan menyatakan

Terjemahan untuk kalimat (195) Ibu membeli pisang ditoko untuk anak.Kata pertama adalah kata kerja. Arti kata yang lain: Nanay ibu, saging pisang, tindahan toko, dan bata anak. Yang bercetak tebal adalah subjek. Pertama, memberi tekanan pada yang difokuskan. Umpamanya dalam kalimat Dia menangkap ayam saya, kalau memberi tekanan pada kata dia berarti yang melakukan adalah dia bukan orang lain. Kalau pada kata menangkap berarti yang dilakukan adalah menangkap bukan memotong atau mencuri.Kalau pada kata ayam berarti yang ditangkap adalah ayam bukan itik. Kedua, dengan mengedepankan bagian kalimat yang difokuskan.Umpamanya kalimat hal itu telah disampaikan kepada DPR oleh pemerintah adalah susunan biasa. Jika difokuskan pada pelakunya,yaituoleh pemerintah hal itu telah disampaikan kepada DPR. Ketiga, dengan cara memakai partikel pun,yang,tentang,danadalah pada bagian kalimat yang difokuskan. Contoh : (199) Membaca pun aku belum biasa.

(200) Yang tidak berkepentingan dilarang masuk. (201) Tentang anak-anak itu,biarlah kami urus nanti. (202) Adalah tidak pantas kalau hal itu kau katakan kepadanya. Keempat, dengan mengontraskan dua bagian kalimat.Misalnya : (203) Bukan dia yang datang, melainkan istrinya. (204) Ini jendela, bukan pintu.

(205) anak Bapak bukan bodoh, melainkan kurang rajin. Kelima, dengan menggunakan konstruksi posesif anaforis beranteseden.Misalnya : (206) Bu dosen linguistik itu pacarnya seorang konglomerat. (207) Ayah saya sepedanya bannya kempes Namun, konstruksi (206) dan (207) ini sangat diharamkan oleh banyak guru bahasa. Konstruksi itu menurut mereka seharusnya : (206a) Pacar Bu dosen linguistik itu seorang konglomerat. (207a) Ban sepeda ayah saya kempes. 6.5.4.6 Diatesis Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku atau peserta dengan perbuatan yang dikemukakan.beberapa macam diathesis; (1) diatesis aktif,subjek yang melakukan perbuatan; (2) diatesis pasif,subjek menjadi sasaran perbuatan; (3) diatesis refleksif,jika subjek melakukan sesuatu terhadap dirinya sendiri; (4) diatesis resipokal,subjek yang terdiri dari dua pihak berbuat tindakan berbalasan; (5) diatesis kausatuf, subjek menjadi penyebab terjadinya sesuatu. Contoh berurutan : (208) Mereka merampas uang kami (209) Uang kami dirampasnya (210) Nenek kami sedang berhias (211) Kiranya mereka akan berdamai juga

(212) Kakek menghitamkan rambutnya