Anda di halaman 1dari 21

Case: Seorang anak laki-laki usia 7 tahun datang bersama kedua orang tuanya sambil menangis sangat keras

dan tidak mau naik ke dental unit, saat dilakukan pemeriksaan intra oral didapatkan gigi 11 fraktur hingga mencapai 1/3 mahkota vital tampak bayang-bayang pulpa disertai perkusi dan tekan positif dan gigi 21 fraktur hingga mencapai 2/3 mahkota dan non vital. Ketika ditanyakan gigi tersebut patah saat bermain sepeda kemarin. Patahan kedua gigi tersebut diberikan ke dokter gigi. Gigi 64 dan 65 terlihat karies besar dan non vital dengan adanya fistel di regio bukal. Gigi 54 karies mencapai pulpa vital dan terasa sakit kurang lebih 3 hari yang lalu. Pada regio 84 dan 74 gigi tinggal sisa akar. Setelah ditanyakan lebih lanjut dan diperiksa didapatkan kebiasaan bernafas melalui mulut akibat adanya pembesaran tonsil. Orang tua meminta diberikan pencegahan agar tidak terjadi gigi berlubang lagi baik pada gigi sulung dan gigi tetapnya.

Pertanyaan: 1. Pemeriksaan apa saja yang perlu dilakukan pada anak tersebut. Apa diagnosa pada gigi 11 dan 21 serta sebutkan klasifikasinya baik menurut Ellis maupun WHO. Jelaskan secara lengkap teori mengenai perawatan seluruh fraktur gigi kemudian jelaskan secara spesifik pula perawatan untuk gigi 11 dan 21 tersebut. Jelaskan cara-cara melakukan perawatan restorasi follow up untuk gigi 11 dan 21.

2. Sebutkan diagnosa untuk gigi 64, 65, dan 54. Sebutkan pemeriksaan apa saja yang dilakukan untuk menegakkan diagnosa pada gigi tersebut. Sebutkan dan jelaskan secara lengkap jenis-jenis perawatan saluran akar pada anak kemudian jelaskan pula perawatan untuk gigi 64, 65, 54. Sebutkan dan jelaskan langkah-langkah perawatan restorasi yang memungkinkan untuk gigi 64, 65, 54.

3. Sebutkan diagnosa untuk gigi 84 dan 74. Sebutkan pemeriksaan apa saja yang dilakukan untuk merencanakan perawatan pada gigi tersebut. Sebutkan dan jelaskan follow up pada regio tersebut.

Sebutkan dan jelaskan mengenai macam-macam bad oral habit serta caracara perawatannya.

4. Sebutkan dan jelaskan secara lengkap teknik penanggulangan tingkah laku (behavior management) pada anak, beserta contoh-contohnya. Bagaimana mengatasi tingkah laku anak pada kasus tersebut.

5. Sebutkan cara-cara pencegahan karies pada anak. Sebutkan dan jelaskan secara lengkap mengenai penggunaan fluor di bidang kedokteran gigi. Sebutkan dan jelaskan cara-cara aplikasi fluor di Klinik Kedokteran Gigi Anak RSGM FKG-Unpad.

Jawaban pertanyaan soal pertama: A. Pemeriksaan pada gigi 11 dan 21: 1. Riwayat penyakit 1
Keadaan gigi pada saat itu. Rasa sakit yang dirasakan sewaktu mengunyah dapat disebabkan kerusakan jaringan periodontal, reaksi pulpa karena perubahan yang terjadi atau fraktur rahang. Perlu juga ditanyakan kepada pasien atau orang tua, keadaan gigi sebelum terjadinya trauma. Apakah gigi sebelumnya sudah mengalami karies, gangren atau mobiliti. Komplikasi medis. Dalam setiap kunjungan pasien yang mengalami trauma, perlu ditanyakan riwayat medisnya dan hubungannya dengan terjadinya traumatik injuri pada gigi. Penyakit yang perlu dicurigai misalnya penyakit jantung, kelainan pendarahan, alergi terhadap obat-obatan, serangan yang tiba-tiba (epilepsi) atau perawatan yang sedang dijalani. Rasa sakit yang timbul menunjukkan tempat luka, namun ada juga gigi tidak mengalami rasa sakit segera setelah fraktur atau kecelakaan, sehingga saat pasien diperiksa tidak dijumpai rasa sakit. Setelah kecelakaan pasien dapat mengalami geger otak, pusing, muntah, amnesia. Bila dijumpai gejala ini, sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit.

2. Vitalitas 1
Istilah ini berhubungan dengan penilaian kesehatan pulpa. Sebelumnya diistilahkan tes vitalitas, terminologi yang baru ini menekankan fakta bahwa pembuluh syaraf dan pembuluh darah yang merupakan komponen jaringan pulpa memerlukan pertimbangan secara individu. Gigi mungkin tidak memberikan respon terhadap tes termal meskipun mungkin mempunyai suplai

darah yang baik. Perbedaan kesehatan elemen pulpa yang demikian merupakan hal yang penting dalam merencanakan perawatan.

Gigi yang mengalami trauma akan memberikan reaksi yang sangat sensitif terhadap tes vitalitas, oleh karena itu tes vitalitas hendaknya dilakukan beberapa kali dengan waktu yang berbeda-beda. 3. Radiologi 1 4. Mobilitas 1 5. Perkusi 1
Rangsangan pada respon perkusi memberikan informasi tentang perluasan kerusakan pada jaringan apikal. Hati-hati bila melakukan perkusi pada gigi yang berputar, karena dapat menimbulkan rasa sakit. Suara respon juga merupakan sebuah petunjuk yang penting seperti pada gigi yang ankilosis

6. Jaringan sekitar gigi 1 7. Perdarahan 1

B. Diagnosa: Gigi 11: menurut WHO: uncomplicated crown fracture (fraktur email - dentin) menurut Ellis & Davey: fraktur kelas II

Gigi 21 menurut WHO: complicated crown fracture (fraktur sampai pulpa) menurut Ellis & Davey: fraktur kelas IV non vital

C. Klasifikasi

fraktur

dentoalveolar

menurut

WHO

(World

Health

Organization) 2: Kerusakan pada Jaringan Keras Gigi dan Pulpa 1. Retak mahkota (enamel infraction), yaitu suatu fraktur yang tidak sempurna pada email tanpa kehilangan struktur gigi dalam arah horizontal atau vertikal. 2. Fraktur email yang tidak kompleks (uncomplicated crown fracture), yaitu fraktur email yang tidak kompleks (uncomplicated crown fracture) yaitu suatu fraktur yang hanya mengenai lapisan email saja. 3. Fraktur email-dentin (uncomplicated crown fracture), yaitu fraktur pada mahkota gigi yang hanya mengenai email dan dentin saja tanpa melibatkan pulpa. 4. Fraktur mahkota yang kompleks (complicated crown fracture), yaitu fraktur yang mengenai email, dentin, dan pulpa.

D. Tabel klasifikasi fraktur dentoalveolar menurut Ellis & Davey 1 Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV Kelas V Kelas VI Kelas VII Kelas VIII Kelas IX
Fraktur yang sederhana dari mahkota gigi dengan terbuka hanya sedikit atau tidak sama sekali bagian dentin dari mahkota (hanya mengenai bagian enamel) Fraktur yang terjadi pada mahkota gigi dengan terbukanya dentin yang luas, tetapi belum mengenai pulpa (hanya mengenai bagian dentin) Fraktur pada mahkota gigi dengan terbukanya dentin yang luas, sudah mengenai pulpa (dentin dan pulpa terkena) Trauma pada gigi yang mengakibatkan gigi menjadi non vital disertai dengan ataupun tanpa disertai hilangnya struktur mahkota gigi Trauma pada gigi yang menyebabkan hilangnya gigi, yang disebut dengan avulsi Fraktur pada akar disertai dengan ataupun tanpa disertai hilangnya struktur mahkota gigi Trauma yang menyebabkan berpindahnya gigi (intrusi, ekstrusi, labial, palatal, bukal, distal, mesial, rotasi) tanpa disertai oleh adanya fraktur mahkota atau akar gigi Trauma yang menyebabkan fraktur mahkota yang besar pada gigi (total distruction) tetapi gigi tetap pada tempatnya dan akar gigi tidak mengalami perubahan Semua kerusakan pada gigi sulung akibat trauma pada gigi depan, definisi untuk gigi sulung sama dengan untuk gigi tetap

Gambar 1. Fraktur Pada Mahkota 3

Trauma pada gigi tetap umumnya terjadi pada anak antara usia 8-11 tahun. Pada usia ini apeks gigi tetap belum tertutup sempurna, sehingga perawatan yang dilakukan diharapkan dapat tetap mempertahankan proses penutupan apeks dan vitalitas gigi dapat dipertahankan. 2 Bila fraktur mengakibatkan kematian pulpa, lakukan perawatan saluran akar. Pada pulpa yang belum tertutup sempurna (gigi permanen muda) dapat dilakukan apeksifikasi untuk gigi yang non vital dan apeksogenesis untuk gigi yang vital. Pada semua kasus akibat trauma, vitalitas pulpa harus diperiksa setiap dua tahun pertama setelah satu bulan, kemudian dengan interval waktu 3 6 bulan. 1

1. Infraksi email Infraksi adalah fraktur inkomplit tanpa hilangnya substansi gigi dan garis fraktur berujung pada enamel dentinal junction. Garis infraksi akan terlihat jelas dengan menggunakan cahaya langsung dengan arah paralel terhadap sumbu

panjang gigi. Tidak diperlukan perawatan khusus pada kasus ini dan pasien hanya disarankan untuk kontrol rutin untuk pemeriksaan gigi. 2 2. Fraktur email Pada fraktur ini akan tampak sedikit bagian email hilang. Tidak semua fraktur email dilakukan penambalan oleh karena pada beberapa kasus batas sudut fraktur memberikan gambaran yang baik sehingga hanya dilakukan penyesuaian pada gigi kontralateral agar tampak simetris. 2

3. Fraktur email-dentin Fraktur email-dentin akan mengakibatkan terbukanya tubuli dentin sehingga memungkinkan masuknya toksin bakteri yang berakibat inflamasi pulpa. Oleh karena itu perlu dilakukan beberapa tindakan agar nekrosis pulpa tidak terjadi. 2

Gambar 2. Fraktur Email-Dentin 2

E. Perawatan pada gigi 11 1. Apeksogenesis 11 Anestesi lokal Isolasi dengan rubber dam dan bersihkan (desinfeksi). Pembukaan kavitas dengan bur kecepatan tinggi dengan semprotan air. Kotoran diambil arah koronal : pemotongan jaringan koronal pada daerah servikal dengan excavator tajam atau bur bulat besar steril (#6 atau #8) atau kecepatan tinggi bur diamond bulat. Pendarahan pulpa dihentikan dengan larutan anastesi lokal atau saline dengan kapas bulat steril.

10

Ca-Hydroxide powder dicampur air steril atau larutan anastesi lokal sampai konsistensi cukup tebal. Pasta tersebut diletakkan pada permukaan luka dengan ketebalan 1-2 mm.

Selapis Zn-Oxyd Eugenol semen diletakkan diatas Ca-Hydroxide untuk 2 alasan : o o Agar terhindar dari kebocoran (Leakage) Dasar, basis yang kaku, agar restorasi akhir dapat ditempatkan

Tumpatan permanen, komposit resin agar terhindar dari kebocoran

Kontrol Kontrol dilakukan periodik (interval 3-6 bulan) untuk melihat perkembangan apikal sampai menutup, biasanya selesai 2-3 tahun, kontrol terakhir setelah 4 tahun

2. Follow Up : Kelas IV Komposit Preparasi mahkota kelas IV komposit Aplikasi semen base glassionomer Penambalan komposit Minggu berikutnya control dan pemolesan tambalan

F. Perawatan pada gigi 21 1. Apeksifikasi 6 Perawatan pada kunjungan pertama 1. Rontgen foto

11

2. Pembukaan atap pulpa 3. Menentukan panjang kerja gigi 4. Preparasi ruang pulpa diikuti dengan penghalusan dinding ruang pulpa 5. Irigasi dengan H2O2 3% dan NaOCl 2% untuk membersihkan kotoran-kotoran ruang pulpa, kemudian keringkan dengan paper point steril 6. Setelah itu ditutup dengan cotton pellet yang ditetesi dengan Camphor Mono Chloro Phenol (CMCP) yang diletakkan pada kamar pulpa dan minggu steril ditutup dengan tambalan sementara, Setelah 1-2 kemudian untuk perawatan selanjutnya.

Perawatan pada kunjungan kedua : 1. Tumpatan sementara dibuka, cotton pellet dike1uarkan, keadaan saluran akar diperiksa dengan paper point steri1. Bi1a saluran akar masih basah di1akukan perawatan kembali. 2. Bi1a sudah kering, saluran akar diirigasi untuk membersihkan sisasisa kotoran yang tersisa, kemudian dikeringkan dengan paper point steril. Disiapkan campuran kalsium hidroksid dengan CMCP dengan konsisitensi campuran yang kental. 3. Masukkan campuran tadi ke da1am saluran akar dengan menggunakan endodontic pluger, lentulo, atau syringe diusahakan campuran kalsium hidroksid tidak melewati apikal gusi. Pada

12

pengisian ini kepekaan pasien digunakan sebagai petunjuk dalam menentukan keda1aman pengisian campuran kalsium hidroksid dan per1u juga dilakukan pengecekan secara radiografis untuk memeriksa ke da1am pengisian saluran akar. 4. Setelah pengisian saluran akar, diletakkan cotton pellet steril di kamar pulpa kemudian diberikan zinc oxide phospat. Dengan pemeriksaan klinis dan radiografis mengetahui ada atau tidaknya penutupan apeks yang berupa pembentukan jaringan keras di daerah apeks. Bila dalam pemeriksaan ini ternyata perawatan berhasil, maka kalsium hidroksid dikeluarkan dan dibersihkan dari saluran akar dan pengisian dengan guta perca dapat dilakukan.

2. Follow Up : 7 Pada gigi immature saluran akar gigi terlalu lebar untuk pemasangan pasak. Pemasangan pasak pada saluran akar seperti ini akan menyebabkan lapisan semen yang terlalu tebal. Kondisi seperti itu juga menyulitkan meletakkan pasak pada kondisi ideal untuk restorasi selanjutnya. Untuk kasus seperti itu dapat digunakan Light Transmitting Post (LTP). Tujuan sistem ini adalah mempertebal dinding saluran akar dengan bahan resin komposit. Setelah preparasi saluran pasak selesai, komposit mikrohibrid diinjeksikan ke dalam saluran akar

13

LTP didorong ke saluran akar yang terisi resin komposit, sampai kedalaman maksimal

Dilakukan penyinaran dengan visible light curing unit selama 60 detik. LTP diambil menggunakan hemostat, sehingga pada saluran akar terbentuk ruangan dengan ukuran yang sesuai untuk pasak fiber clear. Penggunaan pasak fiber yang dikombinasikan dengan semen resin

dengan teknik bonding yang tepat dapat mengurangi risiko fraktur akar dan kebocoran mikro. Bahan pembentuk inti pada pasak fiber dibuat dari resin komposit. Resin komposit merupakan salah satu bahan pembentuk inti yang populer karena memiliki beberapa sifat ideal sebagai bahan pembentuk inti yaitu : kekuatan tekan tinggi, dapat segera dipreparasi setelah mengeras, warna yang sama dengan gigi,

Jawaban pertanyaan nomor 5 Pencegahan karies pada anak dengan tindakan pencegahan primer yaitu suatu bentuk prosedur pencegahan yang dilakukan sebelum gejala klinik dari suatu penyakit timbul dengan kata lain pencegahan sebelum terjadinya penyakit. Tindakan pencegahan primer ini meliputi: 5 Modifikasi kebiasaan anak Kebiasaan anak yang salah mengenai kesehatan gigi dan mulutnya sehingga dapat mendukung prosedur pemeliharaan dan pencegahan karies.

14

Pendidikan kesehatan gigi Pendidikan kesehatan gigi mengenai kebersihan mulut, diet dan konsumsi gula dan kunjungan berkala ke dokter gigi lebih ditekankan pada anak yang berisiko karies tinggi. Pemberian informasi ini sebaiknya bersifat individual danbdilakukan secara terus menerus kepada ibu dan anak. Dalam pemberian informasi, latar belakang ibu baik tingkat ekonomi, sosial, budaya dan tingkat pendidikannya harus disesuaikan sedangkan pada anak yang menjadi pertimbangan adalah umur dan daya intelegensi serta kemampuan fisik anak. Informasi ini harus menimbulkan motivasi dan tanggung jawab anak untuk memelihara kesehatan mulutnya.46 Pendidikan kesehatan gigi ibu dan anak dapat dilakukan melalui puskesmas, rumah sakit maupun di praktek dokter gigi.

Kebersihan mulut Penyikatan gigi, flossing dan profesional propilaksis disadari sebagai komponen dasar dalam menjaga kebersihan mulut. Keterampilan penyikatan gigi harus diajarkan dan ditekankan pada anak di segala umur. Anak di bawah umur 5 tahun tidak dapat menjaga kebersihan mulutnya secara benar dan efektif maka orang tua harus melakukan penyikatan gigi anak setidaknya sampai anak berumur 6 tahun kemudian mengawasi prosedur ini secara terus menerus. Penyikatan

15

gigi anak mulai dilakukan sejak erupsi gigi pertama anak dan tatacara penyikatan gigi harus ditetapkan ketika molar susu telah erupsi. Metode penyikatan gigi pada anak lebih ditekankan agar mampu membersihkan keseluruhan giginya bagaimanapun caranya namun dengan bertambahnya usia diharapkan metode bass dapat dilakukan. Pemakaian sikat gigi elektrik lebih ditekankan pada anak yang mempunyai masalah khusus. Pasta gigi yang mengandung 10002800 ppm menunjukkan hasil yang baik dalam pencegahan karies tinggi pada anak di antara umur 6 - 16 tahun. Anak sebaiknya tiga kali sehari menyikat gigi segera sesudah makan dan sebelum tidur malam. Telah terbukti bahwa asam plak gigi akan turun dari pH normal sampai mencapai pH 5 dalam waktu 35 menit sesudah makan makanan yang mengandung karbohidrat dan Rider cit. Suwelo1 mengatakan bahwa pH saliva sudah menjadi normal (67) 25 menit setelah makan atau minum. Menyikat gigi dapat mempercepat proses kenaikan pH 5 menjadi normal (67) sehingga dapat mencegah proses pembentukan karies. Pemakaian benang gigi dianjurkan pada anak yang berumur 12 tahun ke atas di mana selain penyakit periodontal meningkat pada umur ini, flossing juga sulit dilakukan dan memerlukan latihan yang lama sebelum benar-benar menguasainya. Pada anak cacat dan keterbelakangan mental, hal ini harus lebih ditekankan.

16

Diet dan konsumsi gula Tindakan pencegahan pada karies tinggi lebih menekankan pada pengurangan konsumsi dan pengendalian frekuensi asupan gula yang tinggi. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara nasehat diet dan bahan pengganti gula. Nasehat diet yang dianjurkan adalah memakan makanan yang cukup jumlah protein dan fosfat yang dapat menambah sifat basa dari saliva, memperbanyak makan sayuran dan buah-buahan yang berserat dan berair yang akan bersifat membersihkan dan merangsang sekresi saliva, menghindari makanan yang manis dan lengket serta membatasi jumlah makan menjadi tiga kali sehari serta menekan keinginan untuk makan di antara jam makan. Xylitol dan sorbitol merupakan bahan pengganti gula yang sering digunakan, berasal dari bahan alami serta mempunyai kalori yang sama dengan glukosa dan sukrosa. Xylitol dan sorbitol dapat dijumpai dalam bentuk tablet, pastiles, permen karet, minuman ringan, farmasi dan lain - lain. Xylitol dan sorbitol mempunyai efek menstimulasi daya alir saliva dan menurunkan kolonisasi dari S. Mutans. Menurut penelitian, xylitol lebih efektif karena xylitol tidak dapat dimetabolisme oleh bakteri dalam pembentukan asam dan mempunyai efek anti bakteri

Perlindungan terhadap gigi (silen dan penggunaan fluor dan khlorheksidin)

17

Penggunaan fluor Fluor telah digunakan secara luas untuk mencegah karies. Penggunaan fluor dapat dilakukan dengan fluoridasi air minum, pasta gigi dan obat kumur mengandung fluor, pemberian tablet fluor, topikal varnis. Fluoridasi air minum merupakan cara yang paling efektif untuk menurunkan masalah karies pada masyarakat secara umum. Konsentrasi optimum fluorida yang dianjurkan dalam air minum adalah 0,71,2 ppm. Menurut penelitian Murray and Rugg-gun cit. Linanof bahwa fluoridasi air minum dapat menurunkan karies 4050% pada gigi susu. Bila air minum masyarakat tidak mengandung jumlah fluor yang optimal, maka dapat dilakukan pemberian tablet fluor pada anak terutama yang mempunyai risiko karies tinggi. Pemberian tablet fluor disarankan pada anak yang berisiko karies tinggi dengan air minum yang tidak mempunyai konsentrasi fluor yang optimal (2,2 mg NaF, yang akan menghasilkan fluor sebesar 1 mg per hari).5 Jumlah fluor yang dianjurkan untuk anak di bawah umur 6 bulan3 tahun adalah 0,25 mg, 36 tahun sebanyak 0,5 mg dan untuk anak umur 6 tahun ke atas diberikan dosis 0,51 mg.16,19 Penyikatan gigi dua kali sehari dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung fluor terbukti dapat menurunkan karies. Obat kumur yang mengandung fluor dapat menurunkan karies sebanyak 2050%. Seminggu sekali berkumur dengan 0,2% NaF dan setiap hari berkumur dengan 0,05% NaF dipertimbangkan menjadi ukuran kesehatan masyarakat yang ideal. Penggunaan obat kumur disarankan untuk anak yang berisiko karies tinggi atau selama terjadi kenaikan karies. Obat kumur ini tidak disarankan untuk anak berumur di bawah 6 tahun. Pemberian varnis fluor dianjurkan bila penggunaan

18

pasta gigi mengandung fluor, tablet fluor dan obat kumur tidak cukup untuk mencegah atau menghambat perkembangan karies. Pemberian varnis fluor diberikan setiap empat atau enam bulan sekali pada anak yang mempunyai risiko karies tinggi. Salah satu varnis fluor adalah Duraphat (colgate oral care) merupakan larutan alkohol varnis alami yang berisi 50 mg NaF/ml (2,5% kirakira 25.000 ppm fluor). Varnis dilakukan pada anak umur 6 tahun ke atas karena anak di bawah umur 6 tahun belum dapat meludah dengan baik sehingga dikhawatirkan varnis dapat tertelan dan dapat menyebabkan fluorosis enamel. Sediaan fluor lainnya adalah dalam bentuk gel dan larutan seperti larutan 2.2% NaF, SnF2 , gel APF.5
APF lebih sering digunakan karena memiliki sifat yang stabil, tersedia dalam bermacam-macam rasa, tidak menyebabkan pewarnaan pada gigi dan tidak mengiritasi gingiva. Bahan ini tersedia dalam bentuk larutan atau gel, siap pakai, merupakan bahan topikal aplikasi yang banyak di pasaran dan dijual bebas. APF dalam bentuk gel sering mempunyai tambahan rasaseperti rasa jeruk, anggur dan jeruk nipis. 4

Gambar 3. A. Aplikasi Topikal Fluor, B. Topikal Fluor Gel 4

19

Pemberian fluor di Klinik Kedokteran Gigi Anak RSGM FKG-Unpad Pemberian fluor yang diapakai adalah APF Kunjungan pertama 1. 2. 3. Pemeriksaan gigi dan rongga mulut dalam status Penilaian plak score (disclosing solution), profilaksis dan OHI Pasien diminta datang seminggu kemudian

Kunjungan ke 2 1. Penilaian plak score (disclosing solution), jika masih tinggi lakukan OHI kembali, sampai plaque score kurang dari 0,1 2. Pasien diminta datang seminggu kemudian Kunjungan ke 3 1. Penilaian plak score (disclosing solution), jika masih tinggi lakukan OHI kembali, sampai plaque score kurang dari 0,1mm sedangkan jika kurang dari 10 dapat di aplikasikan topical fluor 1. isolasi lokasi dengan cotton roll 2. kemudian keringkan semua gigi 3. letakkan APF gel pada tray yang telah tersedia 4. aplikasikan pada RA dan RB selama 60 detik 5. pasien dinstruksikan tidak makan dan minum selama 30 menit setelah pemulasan 6. Pasien diminta datang seminggu kemudian Kunjungan ke 4 1. Penilaian plak score (disclosing solution)

20

Daftar Pustaka

1.

2.

3.

4.

5.

________. Trauma Pada Gigi Depan Anak. http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=klasifikasi%20fraktur%20ellis%2 0dan%20davey&source=web&cd=5&cad=rja&sqi=2&ved=0CEIQFjAE&url =http%3A%2F%2Focw.usu.ac.id%2Fcourse%2Fdownload%2F611PEDODONSIA-DASAR%2Fkgm427_slide_trauma_pada_gigi_depan_anak.pdf&ei=33TxUJaqF86UkgX5joCg Ag&usg=AFQjCNHpK9HHPIdSK2jqsNtId6-NuMQYA&bvm=bv.1357700187,d.bmk (diakses 12-01-2013) Riyanti, E. Penatalaksanaan Trauma Pada Anak., http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=klasifikasi%20fraktur%20ellis%2 0dan%20davey&source=web&cd=1&cad=rja&sqi=2&ved=0CCgQFjAA&url =http%3A%2F%2Fpustaka.unpad.ac.id%2Fwpcontent%2Fuploads%2F2010%2F06%2Fpenatalaksanaan_trauma_gigi_pada_ anak.pdf&ei=33TxUJaqF86UkgX5joCgAg&usg=AFQjCNGyLUeTgdkfwm WXd5SoIwv5b1Yg5A (diakses 12-01-2013) ________. Klasifikasi Fraktur Dentoalveolar. http://www.scribd.com/doc/92474780/3-Klasifikasi-Fraktur-Dentoalveolar (diakses 12-01-2013) Herdiyati, Y. Sasmita I. S. 2010., Penggunaan Fluor Dalam Kedokteran Gigi., http://blogs.unpad.ac.id/yettynonong/files/2010/12/Penggunaan-Fluor-dalamKedokteran-Gigi.pdf (diakses 12-01-2013) Angela A. Pencegahan primer pada anak yang berisiko karies tinggi. https://doc-0k-94docsviewer.googleusercontent.com/viewer/securedownload/dsn1aovipa7l846l sfcf94nedj8q2p4u/lj7ta87gvqftsnjin8q10tm3tdefuefv/1358005500000/Ymw=/ AGZ5hq8BgbJY1gwaOYx83cPOdNw6/QURHRUVTaEs3NTltUEs0SDhRV GlNTDJEbVpDYThvemhfcUF0ZEQxY3h3WG9SeHZ4aXR0ZHBmNmRtZ0 VxWDJiY3RFQ05WaHl2Qk8xOFlPanozQ1l2QUxqYU1PaE1GaXhCVUJlR 3ktOFZfRkd3WlpEMTQtY3l0UkVFZWFyaE1aRTFLNWpIY3lMazhUSWg =?docid=9a0258e2f9c44ad72cee7d9d5f08ec05&chan=EgAAAGoJZSevn%2 BBw2jTWk8ev15vQQzIlz8pV3DAspApYiGwg&sec=AHSqidY5E9HDjsZa6 PoSdt_UDDsFIBadZmUn3HEe5ZuOt5AVh9uz6aOMEiIqTo6czaIRDRskpZt h&a=gp&filename=DENTJ-38-307.pdf&nonce=g52o68gbghu2u&user=AGZ5hq8BgbJY1gwaOYx83cPOdNw 6&hash=7m6ffebtd8i40smns5u238dd3dlnp9bn (diakses 12-01-2013)

21

6. Nurliza C. Perawatan Gigi Non Vital Dengan Apeksifikasi. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1158/1/fkg-cut3.pdf (diakses 12-01-2013) 7. Nugraheni T. 2008. Restorasi Mahkota Jaket Porselin Fusi Metal Dengan Pasak Fiber Clear Pada Gigi Insisivus Sentral Kiri Maksila Immature Pasca Apeksifikasi Dan Ekstruksi. http://etd.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail& act=view&typ=html&buku_id=37911&obyek_id=4 (diakses 12-01-2013)