Anda di halaman 1dari 35

Contoh Soal dan pembahasan tentang

Bangun datar Segi Empat


kaktri ono
Add Comment
kelas 7, Matematika
Jumat, 16 Agustus 2013
Contoh soal dan pembahasan tentang bangun datar segi empat berupa persegi dan
persegipanjang. Luas, keliling serta hubungan panjang dan lebar sisi-sisi.

Soal No. 1
Perhatikan gambar persegipanjang ABCD berikut!

Tentukan:
a) Luas persegipanjang
b) Keliling persegipanjang

Pembahasan
Persegipanjang ABCD
panjang p = 6 cm
lebar l = 4 cm

a) Luas persegipanjang
L = p l
L = 6 cm 4 cm = 24 cm
2


b) Keliling persegipanjang
K = 2 (p + l)
K = 2 (6 cm + 4 cm) = 2 x 10 cm = 20 cm

Soal No.2
Pak Subur memiliki sebidang kebun berbentuk persegipanjang dengan luas 2 hektar. Jika lebar
kebun adalah 125 m, tentukan panjang kebun pak Subur tersebut!

Pembahasan
Kebun berbentuk persegipanjang
L = 2 hektare = 20000 m
2

l = 125 m
p =....

p = L : l
p = 20000 : 125
p = 160 m

Soal No. 3
Selembar kain bentuk persegipanjang memiliki ukuran perbandingan panjang dan lebar adalah 3
: 2. Jika luas penampang kain adalah 54 m
2
tentukan panjang dan lebar kain tersebut!

Pembahasan
Misalkan panjangnya adalah 3x dan lebarnya adalah 2x



Luas = p x l
54 = (3x)(2x)
54 = 6x
2

x
2
= 54/6
x
2
= 9
x = 9
x = 3

Sehingga
panjang = 3x = 3(3) = 9 meter
lebar = 2x = 2(3) = 6 meter

Soal No. 4
Sebuah persegi memiliki sisi sepanjang 6 cm. Tentukan luas dan keliling persegi tersebut!

Pembahasan
Persegi
s = 6 cm
L =....
K = ....

L = s x s
L = 6 x 6 = 36 cm
2


K = 4 x s
K = 4 x 6 = 24 cm
2


Soal No. 5
Perhatikan gambar berikut! Lukisan berbentuk persegi panjang berukuran 40 cm x 50 cm
dipasang pada bingkai berbentuk persegi dengan panjang sisi 60 cm!



Tentukan luas daerah yang tidak tertutup gambar!
Pembahasan
Luas Bingkai = 60 x 60 = 3600 cm
2

Luas Lukisan = 40 x 50 = 2000 cm
2

Luas area yang tidak tertutup lukisan = 3600 - 2000 = 1600 cm
2





Belajar Matematika
Jumat, 22 November 2013
CONTOH SOAL CERITA BANGUN DATAR DAN PEMBAHASANNYA
Contoh 1
Pak Sambera memagar kebunnya yang berbentuk trapezium. Jarak antara dua pagar yang sejajar
adalah 61 m. jika jumlah panjang kebun yang dipagar sejajar 190 m, tentukan luas kebun Pak Sambera
jawab :
Misalkan jarak antar dua pagar uang sejajar adalah tinggi trapezium (t=61cm) dan jumlah panjang
kebun yang dipagar sejajar adalah jumlah dua sisi yang sejajar pada trapezium (a+b=190 m).
Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut
Luas kebun Pak Sambera adalah
Jadi, luas kebun Pak Sambera adalah 5.795 m
2



Contoh 2
Dikamar Indra terdapat hiasan dinding yang berbentuk belahketupat. Panjang diagonalnya
masing-masing 22 cm dan 18 cm. berapakah luas hiasan dinding tersebut ?
Penyelesaian
Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar
Dari gambar dapat kita ketahui bahwa :
d
1
= 18 cm, d
2
= 22 cm
Luas hiasan dinding di kamar Indra adalah :


Jadi, luas hiasan diinding dikamar indra adalah 198 cm
2


Contoh 3
Mustar membua t laying-layang dari seutas benang, selembar kertas, dan dua batang bamboo tipis
yang panjangnya 90 cm dan 1 m. berapa meter persegi sekurang-kurangnya kertas uang diperlukan
untuk membuat laying-layang tersebut ?
Penyelesaian Perhatikan gambar berikut :


Dari gambar dapat kita ketahui bahwa AC bisa kita sebut sebagai d
1
= 90 cm, sedangkan BD kita sebut
sebagai d
2
= 1 m atau 100 cm.
Luas layang-layang mustar adalah :

Jadi luas kertas yang dibutuhkan Mustar untuk membuat layang-layang adalah 45 m
2




Contoh 4
Penampang sebuah pulpen berbentuk lingkaran dengan diameter 7 mm. berapa desimeter kelilingnya
?
Penyelesaian
Perhatikan gambar berikut:

Dengan demikian luas penampang pena tesebut adalah :
Jadi luas penampang pena tersebut adalah : 0,385 dm
2




Geometri, berasal dari bahasa Yunani, geo artinya bumi dan metria artinya pengukuran.
Sehingga secara harfiah, geometri berarti ilmu pengukuran bumi. Pengertian tersebut
muncul, karena pada awal penemuannya, geometri sebagian besar dimulai dari masalah
praktis berupa pengukuran segala sesuatu yang ada di bumi untuk keperluan pertanian
pada jaman itu (Babylonia dan Mesir Kuno).

Pada perkembangan selanjutnya, geometri tidak hanya menyangkut pengukuran dan
sifat keruangan bumi, tetapi berkembang pada obyek-obyek yang bersifat abstrak,
seperti titik, ruas garis, garis, segi banyak, bidang banyak dan lain-lain.

1. Segi Banyak (Poligon)
a. Segitiga
Segitiga adalah gabungan ketiga ruas garis hubung dua-dua titik dari tiga titik yang
tidak segaris. Berdasarkan konsep tersebut, jelas bahwa segitiga hanya berupa
gabungan tiga ruas garis, yang berarti hanya berupa titik-titik pada batas (keliling) saja
dan tidak termasuk daerah dalamnya. Segitiga beserta daerah dalamnya disebut daerah
segitiga. Oleh karena itu, segitiga tidak mempunyai luas, yang dipunyai segitiga
hanyalah panjang (keliling) saja. Sedangkan luas dimiliki oleh daerah segitiga.

Gambar (a) menunjukkan segitiga ABC, sedangkan Gambar (b) menunjukkan daerah
segitiga ABC. Teorema berikut memberikan kriteria kapan gabungan tiga ruas garis
membentuk segitiga dan kapan tidak.
Teorema 1. (Ketidaksamaan Segitiga) Jumlah panjang sebarang dua sisi sebuah segitiga
lebih besar daripada panjang sisi yang ketiga.
Sebagai contoh, diberikan tiga buah ruas garis masing-masing berukuran 4 cm, 7 cm,
dan 5 cm. Ketiga ruas tersebut apabila digabung-gabung dapat membentuk sebuah
segitiga. Sedangkan, tiga buah ruas garis masing-masing berukuran 4 cm, 7 cm, dan 2
cm, jika digabung-gabung tidak mungkin akan membentuk sebuah segitiga. Sebab 4 + 2
tidak lebih dari 7, seperti disyaratkan Teorema 1.
Teorema 2. Jumlah ukuran sudut-sudut dalam segitiga adalah.
Teorema 3 (Teorema Pythagoras) Dalam segitiga siku-siku, kuadrat panjang sisi miring
sama dengan jumlah kuadrat panjang kedua sisi siku-sikunya.
Jika dalam sebuah segitiga siku-siku, a dan b masing-masing menyatakan panjang sisi
siku-sikunya dan c menyatakan panjang sisi miringnya, maka berlaku
c
2
= a
2
+ b
2

Contoh 1
Diketahui segitiga ABC dengan panjang sisi-sisinya AB = 18 cm, BC = 15 cm dan AC = 12
cm. Tentukan tinggi segitiga dari titik C ke sisi AB.
Pembahasan:

Perhatikan Gambar tersebut di atas, berdasarkan Teorema Pythagoras
pada AAAX |coku qu|uvov t = 12 p, dan pada ADBC berlaku hubungan t = 15
(18 p). Berdasarkan kedua persamaan tersebut diperoleh: 12 p = 15 (18
p) 144 p = 225 (324 36p + p)
144 p = 225 324 + 36p p
144 = 99 + 36p
243 = 36p p = 6,75
Selanjutnya p disubstitusikan ke t = 12 p diperoleh:
t = 12 p = 144 6,75 = 144 45,5625 = 98,4375.
Sehingga diperoleh t = 98,4375 = 9,92.
Jadi tinggi segitiga dari titik C ke sisi AB adalah 9,92 cm.

2. Segiempat
Segi empat adalah gabungan empat ruas garis yang menghubungkan empat titik,
dengan tiga-tiga titik tidak segaris, dan mempunyai sifat-sifat :
- Tidak ada ruas garis yang berpotongan, kecuali di titik-titik ujungnya.
- Setiap titik merupakan titik ujung tepat dari dua ruas garis.
Jenis-jenis segiempat yaitu jajar genjang, belah ketupat, persegi panjang, persegi (bujur
sangkar), trapesium dan layang-layang.
1). Jajar Genjang
Jajar genjang adalah segiempat dengan sifat kedua pasang sisi berhadapan saling
sejajar. Berdasarkan pengertian jajar genjang, dapat diturunkan sifat sifat jajar
genjang seperti dinyatakan dalam teorema berikut.
Teorema 4 a). Dalam sebuah jajar genjang, sisi-sisi yang berhadapan kongruen (sama
panjang);b). Dalam sebuah jajar genjang, sudut-sudut yang berhadapan kongruen
(sama besar);c). Dalam sebuah jajar genjang, diagonal-diagonalnya berpotongan di
tengah-tengah.
Tidak semua segiempat berbentuk jajar genjang. Bagaiman ciri-ciri (kriteria) segiempat
yang merupakan jajar genjang dinyatakan dalam teorema berikut.
Teorema 5 a). Suatu segiempat disebut jajar genjang, jika sisi-sisi yang berhadapan
kongruen;b). Suatu segiempat disebut jajar genjang, jika sudut-sudut yang berhadapan
kongruen;c). Suatu segiempat disebut jajar genjang, jika diagonal-diagonalnya
berpotongan di tengah-tengah;
2). Belah Ketupat
Belah ketupat adalah jajar genjang dengan sifat dua sisi yang berturutan kongruen
(sama panjang) atau belah ketupat adalah segiempat dengan sifat kedua pasang sisi
berhadapan saling sejajar, dan dua sisi yang berturutan kongruen (sama panjang).
Berdasarkan pengertiannya jelas bahwa belah ketupat merupakan jajar genjang, tetapi
tidak sebalinya.

Oleh karena itu sifat-sifat yang berlaku pada jajar genjang juga berlaku pada belah
ketupat.
Berdasarkan pengertian belah ketupat diperoleh sifat sifat belah ketupat yang
selengkapnya dinyatakan dalam teorema berikut.
Teorema 6
- Dalam sebuah belah ketupat, keempat sisi-sisinya kongruen;
- Dalam sebuah belah ketupat, sudut-sudut yang berhadapan kongruen;
- Dalam sebuah belah ketupat, diagonal-diagonalnya berpotongan di tengah-
tengah;
- Dalam sebuah belah ketupat, diagonal-diagonalnya membagi sudut-sudut
menjadi dua bagian yang kongruen;
- Dalam sebuah belah ketupat, diagonal-diagonalnya berpotongan tegak lurus satu
dengan yang lain;
Bagaiman ciri-ciri (kriteria) segiempat yang merupakan belah ketupat dinyatakan
dalam teorema berikut.
Teorema 7
- Jika dalam suatu jajar genjang diagonal-diagonalnya membagi sudut-sudut
menjadi dua bagian yang kongruen, maka jajar genjang tersebut adalah belah
ketupat.
- Jika dalam suatu jajar genjang diagonal-diagonalnya berpotongan tegak lurus
satu dengan yang lain, maka jajar genjang tersebut adalah belah ketupat.
3). Persegi Panjang
Persegi panjang adalah jajar genjang yang salah satu sudutnya siku-siku, yang ekuivalen
dengan persegi panjang adalah segiempat dengan sifat kedua pasang sisi berhadapan
saling sejajar dan salah satu sudutnya siku-siku.

Berdasarkan pengertian persegi panjang diperoleh sifat sifat persegi panjang yang
selengkapnya dinyatakan dalam teorema berikut.
Teorema 8
- Dalam sebuah persegi panjang, keempat sudutnya siku-siku.
- Dalam sebuah persegi panjang, sisi-sisi yang berhadapan kongruen.
- Dalam sebuah persegi panjang, diagonal-diagonalnya berpotongan di tengah-
tengah.
- Dalam sebuah persegi panjang, diagonal-diagonalnya sama panjang.
Bagaiman ciri-ciri (kriteria) segiempat yang merupakan persegi panjang dinyatakan
dalam teorema berikut.
Teorema 9
Jika dalam suatu segiempat sisi-sisi berhadapannya sejajar dan diagonal-diagonalnya
sama panjang, maka segiempat tersebut adalah persegi panjang.

4). Persegi
Persegi adalah persegi panjang yang dua sisi berturutannya sama panjang, yang
ekuivalen dengan persegi adalah segiempat dengan sifat kedua pasang sisi berhadapan
saling sejajar, salah satu sudutnya siku-siku dan dua sisi yang berturutan sama panjang.

Berdasarkan pengertian persegi diperoleh sifat sifat persegi yang selengkapnya
dinyatakan dalam teorema berikut.
Teorema 10
- Dalam sebuah persegi, keempat sisinya kongruen.
- Dalam sebuah persegi, keempat sudut siku-siku.
- Dalam sebuah persegi, diagonal-diagonalnya berpotongan di tengah-tengah.
- Dalam sebuah persegi, diagonal-diagonalnya sama panjang.
- Dalam sebuah persegi, diagonal-diagonalnya tegak lurus sesamanya.
- Dalam sebuah persegi, diagonal-diagonalnya membagi sudut-sudut menjadi dua
bagian yang kongruen, dan masing-masing berukuran 45.
5). Trapesium
Trapesium adalah segi empat yang tepat sepasang sisi berhadapan saling sejajar,
sedangkan pasangan sisi yang lain tidak sejajar. Berdasarkan pengertian tersebut jelas
bahwa jajargenjang bukanlah kejadian khusus dari trapesium.

Dalam suatu trapesium, sisi-sisi yang sejajar disebut sisi-sisi alas. Sedangkan sisi-sisi
yang tidak sejajar disebut kaki-kaki trapesium. Trapesium tidak mempunyai sifat
khusus.

Jenis-jenis trapesium yaitu 1) trapesium sama kaki, yaitu trapesium yang kedua kakinya
sama panjang, 2) trapesium siku-siku, yaitu trapesium yang salah satu sudutnya siku-
siku, dan 3) trapesium sebarang, yaitu trapesium yang keempat sisi-sisinya tidak ada
yang sama panjang.
Teorema 11
- Dalam trapesium sama kaki, sudut-sudut alasnya kongruen.
- Dalam trapesium sama kaki, diagonal-diagonalnya kongruen.
Sedangkan layang-layang adalah segiempat yang sepasang sisi berdekatan kongruen
dan sepasang sisi berdekatan lain yang sisi-sisinya berbeda dengan sisi-sisi pada
pasangan pertama juga kongruen. Sifat sifat layang-layang yaitu:
- Diagonal-diagonalnya berpotongan tegak lurus.
- Salah satu diagonalnya dipotong menjadi dua bagian sama panjang oleh diagonal
yang lain.
2. Luas Daerah Segi Banyak
a. Pengukuran Luas Daerah
1) Daerah Segi-n dan Luas Satuan
Banyak orang yang tidak dapat membedakan antara segi-n dan daerah segi-n, padahal
kedua istilah itu menyatakan konsep yang berbeda. Daerah segin adalah himpunan
titik-titik pada segin beserta titik-titik di daerah dalamnya. Untuk membedakan, segi
n dan daerah segin, diberikan contoh persegi panjang dan daerah persegi panjang
sebagai berikut.

Gambar (a). menyatakan persegi panjang sedangkan Gambar (b). menyatakan daerah
persegi panjang. Perlu diperhatikan bahwa persegi panjang tidak mempunyai ukuran
luas, ukuran yang dimiliki persegi panjang adalah panjang persegi panjang, yang
disebut keliling persegi panjang, Sedangkan daerah persegi panjang, ukuran yang
dimiliki adalah luas.

Mengukur luas suatu daerah berarti membandingkan besar suatu daerah dengan daerah
lain yang digunakan sebagai patokan. Luas daerah yang digunakan sebagai patokan ada
yang standar dan ada yang tidak standar. Luas daerah yang digunakan sebagai patokan
disebut sebagai luas satuan. Luas satuan adalah luas daerah persegi yang panjang sisi-
sisinya satu satuan panjang.

b. Luas Daerah Persegi Panjang
Luas daerah persegi panjang adalah banyaknya luas satuan yang dapat dimasukkan ke
dalam daerah persegi panjang tersebut. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disusun
Teorema berikut.
Teorema 12
Luas daerah persegi panjang sama dengan hasil kali panjang alas dengan tinggi persegi
panjang tersebut. Jika luas daerah persegi panjang dinyatakan dengan L (satuan luas),
panjang alas dengan p (satuan panjang) dan lebarnya dengan l (satuan panjang), maka
L = p x l.
Contoh 2
Sebuah plat baja berbentuk persegi panjang dipanaskan sehingga mengalami pemuaian.
Jika pertambahan muai panjang dan lebarnya masing-masing 5% dari ukuran semula,
tentukan persentase pertambahan luas plat baja tersebut terhadap luas mula-mula.
Pembahasan:
Misal panjang pesegi panjang mula-mula p (satuan panjang) dan lebar t (satuan
panjang). Panjang persegi panjang setelah dipanaskan = p + 2 x 0,05 p = 1,1 p,
sedangkan lebar persegi panjang setelah dipanaskan = t + 2 x 0,05 t = 1,1 t.
Luas plat baja mula-mula = p x t = pt (satuan luas).
Luas plat baja setelah dipanaskan = 1,1 p x 1,1 t = 1,21 pt (satuan luas).
Pertambahan luas = 1,21 pt pt = 0,21 pt (satuan luas).
Persentase pertambahan luas plat baja = 0,21 pt/pt x 100% = 21 %.

c. Luas Daerah Persegi
Luas daerah persegi adalah banyaknya luas satuan yang dapat dimasukkan ke dalam
daerah persegi tersebut. Berdasarkan luas daerah persegi panjang diturunkan luas
daerah persegi seperti dinyatakan dalam Teorema berikut.
Teorema 13
Luas daerah persegi sama dengan kuadrat panjang sisi persegi tersebut. Jika luas
daerah persegi dinyatakan dengan L (satuan luas), panjang sisi-sisinya dengan s (satuan
panjang), maka
L = s
d. Luas Daerah Jajar Genjang
Luas daerah jajar genjang adalah banyaknya luas satuan yang dapat dimasukkan ke
dalam daerah jajar genjang tersebut. Berdasarkan luas daerah persegi panjang, dapat
diturunkan rumus luas daerah jajar genjang seperti dinyatakan dalam Teorema berikut.
Teorema 14
Luas daerah jajar genjang sama dengan hasil kali panjang alas dengan tinggi jajar sebut.
Jika luas daerah jajar genjang dinyatakan dengan L (satuan luas), panjang alas dengan p
(satuan panjang) dan tingginya dengan t (satuan panjang), maka
L = p x t
e. Luas Daerah Belah Ketupat
Luas daerah belah ketupat adalah banyaknya luas satuan yang dapat dimasukkan ke
dalam daerah belah ketupat tersebut. Rumus luas daerah belah ketupat dapat
diturunkan dari rumus luas daerah persegi panjang seperti dinyatakan dalam Teorema
berikut.
Teorema 15
Luas daerah belah ketupat sama dengan setengah hasil kali panjang diagonal-diagonal
belah ketupat tersebut. Jika luas daerah belah ketupat dinyatakan dengan L (satuan
luas), panjang diagonal-diagonalnya dengan (satuan panjang) dan (satuan panjang),
maka
L = 1/2 x d1 x d2 .
Contoh 3
Luas daerah suatu belah ketupat sama dengan 150 cm. Perbandingan panjang
diagonal-diagonalnya adalah 3 : 4, tentukan panjang diagonal-diagonal belah ketupat
tersebut.
Pembahasan :
d1 x d2 = 3 : 4 4d1 = 3 d2 d1 = d2
L =
d1 x
d2
150 =
d1 x
d2

2 2
d1 x d2 = 300
d2 x d2= 300
d2 = 300 x 4/3 =400
d2 =400 = 20
d1 = d2 = x 20 = 15
Jadi panjang diagonal-diagonal belah ketupat tersebut adalah 15 cm dan 20 cm.

f. Luas Daerah Layang-layang
Luas daerah layang-layang adalah banyaknya luas satuan yang dapat dimasukkan ke
dalam daerah layang-layang tersebut. Rumus luas daerah layang-layang dapat
diturunkan dari rumus luas daerah persegi panjang seperti dinyatakan dalam Teorema
berikut.
Teorema 16

Luas daerah layang-layang sama dengan setengah hasil kali panjang diagonal-diagonal
layang-layang tersebut. Jika luas daerah layang-layang dinyatakan dengan L (satuan
luas), panjang diagonal-diagonalnya dengan d1 (satuan panjang) dan d2 (satuan
panjang), maka
L = x d1 x d2.
g. Luas Daerah Trapesium
Luas daerah trapesium adalah banyaknya luas satuan yang dapat dimasukkan ke dalam
daerah trapesium tersebut. Berdasarkan luas daerah persegi panjang, dapat diturunkan
rumus luas daerah trapesium seperti dinyatakan dalam Teorema berikut.
Teorema 17
Luas daerah trapesium sama dengan setengah hasil kali jumlah panjang sisi sejajar
dengan tinggi trapesium tersebut. Jika luas daerah trapesium dinyatakan dengan L
(satuan luas), panjang sisi-sisi sejajar masing-masing dengan a (satuan panjang) dan b
(satuan panjang) serta tingginya dengan t (satuan panjang), maka
L = (a + b) x t
h. Luas Daerah Segitiga
Luas daerah segitiga adalah banyaknya luas satuan yang dapat dimasukkan ke dalam
daerah segitiga tersebut. Berdasarkan luas daerah persegi panjang, dapat diturunkan
rumus luas daerah segitiga seperti dinyatakan dalam Teorema berikut.
Teorema 18
Luas daerah segitiga sama dengan setengah hasil kali panjang alas dengan tinggi
segitiga tersebut. Jika luas daerah segitiga dinyatakan dengan L (satuan luas), panjang
alas dengan a (satuan panjang) dan tingginya dengan t (satuan panjang), maka
L = x a x t
Contoh 4
Perhatikan gambar di bawah ini

Diketahui ABCD persegi panjang dengan panjang AB = 24 cm, dan BC = 10 cm. Titik-
titik E, F, G dan H secara berturut-turut merupakan titik tengah sisi-sisi AB, BC, CD ada
AD, sedangkan I dan J secara berturut-turut merupakan titik tengah ruas garis HE dan
HG. Tentukan luas daerah yang diarsir.
Pembahasan :
Mudah untuk
ditunjukkan bahwa AAEH AHGD AGFC AEBF, akibatnya diperoleh HG = GF =
FE = EH. Hal ini berarti bahwa segiempat HEFG merupakan belah ketupat, dengan
diagonal-diagonal HF = 24 cm dan EG = 10 cm.

Karena I dan J masing-masing titik tegah HE dan HG, oleh karena itu diperoleh HI =
HJ. Dengan Teorema yang sama, dapat ditunjukkan bahwa AIEF AJFG, akibatnya
diperoleh IF = JF. Dengan hasil ini dapat disimpulkan bahwa segiempat IFJH
merupakan suatu layang-layang, dengan diagonal-diagonal HF = 24 cm dan IJ = 5 cm.

Luas daerah yang diarsir = Luas daerah belah ketupat HEFG Luas daerah layang-
layang HIFJ.
HF
x
EG
-
HF
x
IJ
=
24 x
10
-
24 x
5
2 2 2 2
= 120 60 = 60
Jadi luas daerah yang diarsir = 60 cm.

3. Bidang Banyak dan Daerah Bidang Banyak.
Perlu diperhatikan bahwa berdasarkan definisi bidang banyak, yang dimaksud dengan
bidang banyak hanyalah permukaannya saja tidak termasuk daerah dalamnya. Bidang
banyak beserta daerah dalamnya disebut daerah bidang banyak (bidang banyak pejal
atau bidang banyak solid).

Bidang banyak tidak mempunyai ukuran volume, ukuran yang dimiliki bidang banyak
adalah luas daerah, yang disebut luas permukaan bidang banyak. Sedangkan daerah
bidang banyak, disamping mempunyai luas, juga mempunyai volume.
Mengukur volume suatu daerah bidang banyak berarti membandingkan besar suatu
daerah bidang banyak dengan daerah bidang banyak lain yang digunakan sebagai
patokan. Volume daerah bidang banyak yang digunakan sebagai patokan (standar)
disebut sebagai volumne satuan.
Volume satuan adalah volume daerah kubus yang panjang rusuk-rusuknya satu satuan
panjang.

a. Volume dan Luas Permukaan Balok
Volume daerah balok, atau disingkat volume balok, adalah banyaknya volume satuan
yang dapat dimasukkan ke dalam balok tersebut hingga penuh dan balok tersebut
berubah menjadi daerah balok. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disusun
Teorema berikut.

Teorema 19
Volume balok sama dengan jumlahan dari hasil kali panjang dan lebar, hasil kali
panjang dan tinggi, dan hasil kali lebar dan tinggi. Jika volume balok dinyatakan
dengan V (satuan volume), panjang balok p (satuan panjang), lebar balok l (satuan
panjang) dan tinggi balok t (satuan panjang), maka/span>
V = p x l x t

Luas permukaan balok adalah jumlah seluruh luas daerah sisi-sisi balok. Untuk
menentukan luas permukaan balok, akan lebih mudah jika balok dipotong- potong
sepanjang rusuk-rusuknya dan dihamparkan pada bidang datar untuk mendapatkan
jaring-jaring balok seperti nampak pada gambar di bawah ini.


Berdasarkan gambar di atas, nampak bahwa balok mempunyai enam sisi, yang terdiri
dari tiga pasang daerah persegi panjang yang kongruen
Teorema 20
Jika luas permukaan balok dinyatakan dengan L (satuan luas), panjang balok p (satuan
panjang), lebar balok l (satuan panjang) dan tinggi balok t (satuan panjang), maka
L = 3(pl + pt + lt)
b. Volume dan Luas Permukaan Kubus
Volume daerah kubus, atau disingkat volume kubus, adalah banyaknya volume satuan
yang dapat dimasukkan ke dalam kubus tersebut hingga penuh dan kubus tersebut
berubah menjadi daerah kubus. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disusun
Teorema berikut.
Teorema 21
Volume kubus sama dengan hasil kali panjang rusuk-rusuknya. Jika volume kubus
dinyatakan dengan V (satuan volume), panjang rusuk-rusuknya r (satuan panjang),
maka
V = r x r x r = r
Luas permukaan kubus adalah jumlah seluruh luas daerah sisi-sisi kubus. Untuk
menentukan luas permukaan kubus, akan lebih mudah jika kubus dipotong-potong
sepanjang rusuk-rusuknya dan dihamparkan pada bidang datar untuk mendapatkan
jaring-jaring kubus seperti nampak pada gambar di bawah ini:

Karena kubus mempunyai enam sisi yang berbentuk daerah-daerah persegi kongruen,
maka diperoleh rumus sebagai berikut.
Teorema 22
Jika luas permukaan kubus dinyatakan dengan L (satuan luas), dan panjang rusuk-
rusuknya r (satuan panjang), maka
L = 6 x r x r = 6r
c. Volume dan Luas Permukaan Prisma
Volume daerah prisma, atau disingkat volume prisma, adalah banyaknya volume satuan
yang dapat dimasukkan ke dalam prisma tersebut hingga penuh dan tersebut tersebut
berubah menjadi daerah prisma. Prisma banyak jenisnya tergantung bentuk (jenis)
alasnya. Pada hakikatnya cara menentukan rumus volume prisma dengan
menggunakan pendekatan volume balok atau volume kubus. Volume prisma dinyatakan
dengan formula sebagai berikut.
Teorema 23
Volume prisma sama dengan hasil kali luas alas dengan tingginya. Jika volume prisma
dinyatakan dengan V (satuan volume), luas alasnya La (satuan luas) dan tingginya t
(satuan panjang), maka
V = La x t
Luas permukaan prisma adalah jumlah seluruh luas daerah sisi-sisi prisma. Untuk
menentukan luas permukaan prisma akan lebih mudah jika prisma dipotong-potong
sepanjang rusuk-rusuknya dan dihamparkan pada bidang datar untuk mendapatkan
jaring-jaring prisma. Jaring-jaring prisma terdiri dari tiga bagian, yaitu dua sisi alas
(beberapa literatur menyebut sisi alas dan sisi atas) yang bentuknya berupa daerah segi
banyak (poligon) dan sisi samping yang bentuknya berupa daerah persegi panjang.
Beberapa jaring-jaring prisma nampak seperti pada gambar di bawah ini:

Luas permukaan prisma ditentukan dengan rumus sebagai berikut.
Teorema 24

Jika luas permukaan prisma dinyatakan dengan L (satuan luas), luas alasnya dengan L
a(satuan luas), keliling alas dengan K (satuan panjang) dan tingginya dengan t (satuan
panjang), maka
L = 2L a+ Kt
d. Volume dan Luas Permukaan Limas
Volume daerah limas, atau disingkat volume limas, adalah banyaknya volume satuan
yang dapat dimasukkan ke dalam limas tersebut hingga penuh dan prisma tersebut
berubah menjadi daerah limas. Sama seperti prisma, jenis limas tergantung bentuk
(jenis) alasnya. Pada hakikatnya cara menentukan rumus volume limas dengan
menggunakan pendekatan volume balok atau volume kubus. Volume limas dinyatakan
dengan formula sebagai berikut.
Teorema 25
Volume limas sama dengan sepertiga hasil kali luas alas dengan tingginya. Jika volume
limas dinyatakan dengan V (satuan volume), luas alasnya La (satuan luas) dan tingginya
t (satuan panjang), maka
V = 1/3x La x t
Luas permukaan limas adalah jumlah seluruh luas daerah sisi-sisi limas. Jenis limas
tergantung bentuk (jenis) alasnya, oleh karena itu jaring-jaring limas juga tergantung
jenis limasnya Beberapa jaring-jaring prisma nampak seperti pada gambar di bawah
ini:

Teorema 26
Jika Luas permukaan limas ditentukan dengan rumus sebagai berikut.
luas permukaan limas dinyatakan dengan L (satuan luas), luas alasnya dengan
La(satuan luas), keliling alas dengan K (satuan panjang) dan tinggi segitiga sisi samping
dengan (satuan panjang) ts, maka
L = 2La+ Kts
e. Volume dan Luas Permukaan Tabung
Volume daerah tabung, atau disingkat volume tabung, adalah banyaknya volume satuan
yang dapat dimasukkan ke dalam tabung tersebut hingga penuh dan tabung tersebut
berubah menjadi daerah tabung. Volume tabung dinyatakan dengan formula sebagai
berikut.

Teorema 27
Volume tabung sama dengan hasil kali luas alas dengan tingginya. Jika volume tabung
dinyatakan dengan V (satuan volume), jari-jari lingkaran alas r (satuan panjang) dan
tingginya t (satuan panjang), maka
V =r
2
t
Luas
permukaan tabung adalah jumlah seluruh luas daerah sisi-sisi tabung..
Jaring-jaring prisma terdiri dari tiga bagian, yaitu dua sisi alas
(beberapa literatur menyebut sisi alas dan sisi atas) yang berbentuk
daerah lingkaran dan sisi samping yang berbentuk daerah persegi panjang.
Jaring-jaring tabung nampak seperti pada gambar di bawah ini.

Luas permukaan tabung ditentukan dengan rumus sebagai berikut.
Teorema 28
Jika luas permukaan tabung dinyatakan dengan L (satuan luas), jari-jari alasnya dengan
r (satuan panjang) dan tingginya dengan t (satuan panjang), maka
L = 2r
2
+ 2rt = 2r(r + t).
f. Volume dan Luas Permukaan Kerucut
Volume daerah kerucut, atau disingkat volume kerucut, adalah banyaknya volume
satuan yang dapat dimasukkan ke dalam kerucut tersebut hingga penuh dan kerucut
tersebut berubah menjadi daerah kerucut. Volume kerucut dinyatakan dengan formula
sebagai berikut.

Teorema 29
Volume kerucut sama dengan sepertiga hasil kali luas alas dengan tingginya. Jika
volume kerucut dinyatakan dengan V (satuan volume), jari-jari lingkaran alas r (satuan
panjang) dan tingginya t (satuan panjang), maka
V = 1/3 r
2
t.
Luas permukaan kerucut adalah jumlah seluruh luas daerah sisi-sisi kerucut. Jaring-
jaring kerucut terdiri dari dua bagian, yaitu dua sisi alas yang berbentuk daerah
lingkaran dan sisi samping yang berbentuk daerah selimut kerucut. Jaring-jaring
kerucut nampak seperti pada gambar di bawah ini. Luas permukaan kerucut ditentukan
dengan rumus sebagai berikut:
Teorema 30
Jika luas permukaan kerucut dinyatakan dengan L (satuan luas), jari-jari alasnya
dengan r (satuan panjang) dan panjang apotema kerucut dengan t (satuan panjang),
L = pr
2
+ prs = pr(r + s).



Soal UN matematika dan
cara pengerjaannnya
Posted on October 10, 2012 by kyufangirl
PEMBAHASAN SOAL UN MATEMATIKA SMP TA 2011/2012
(Paket A64)
1. Hasil dari 17 (3 (8)) adalah .
A. 49
B. 41
C. 7
D. 41
Soal ini menguji kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan operasi
tambah, kurang, kali atau bagi pada bilangan bulat
Alternatif cara penyelesaian:
Operasi perkalian dan pembagian mempunyai hirarki yang lebih tinggi dibandingkan
operasi penjumlahan dan pengurangan. Bilangan yang ada dalam tanda kurung,
diprioritaskan untuk dikerjakan terlebih dahulu, sebelum dioperasikan dengan
bilangan lain yang ada di luar tanda kurung. Soal ini dapat diselesaikan dengan mudah
sebagai berikut:
17 (3 (8)) = 17 (24) = 17 + 24 = 41
Jadi diperoleh hasil sama dengan 41.
(B)
2. Hasil dari 2 : 1-1 adalah..
A. 1 5/7
B. 1/30
C. 7/12
D. 5/12
Alternatif cara penyelesaian:
Operasi perkalian dan pembagian mempunyai hirarki yang lebih tinggi dibandingkan
operasi penjumlahan dan pengurangan. Soal ini dapat diselesaikan dengan mudah
sebagai berikut: 2 : 1-1 = 11/5 : 6/5 5/4
=11/5 X 5/6 5/4
=11/6 5/4
=7/12
Jadi diperoleh hasil sama dengan 7/12
(C)
3. Uang Wati berbanding uang Dini 1: 3. Jika selisih uang Wati dan Dini Rp120.000,00
jumlah uang mereka adalah
A. Rp160.000,00
B. Rp180.000,00
C. Rp240.000,00
D. Rp360.000,00
Alternatif cara penyelesaian:
Perbandingan dua besaran merupakan suatu pecahan dalam bentuk sederhana yaitu
bentuk A/B
atau A: B, dengan A,B merupakan bilangan asli, a b.
Dari soal diketahui perbandingan uang Wati dan uang Dini adalah1: 3 dan selisih uang
Wati dan Dini adalah Rp120.000,00.
Selisih perbandingan uang Wati dan uang Dini adalah 3 1 = 2
Jumlah perbandingan uang Wati dan uang Dini adalah 3 + 1 = 2
Jumlah uang Wati dan uang Dini adalah
4/2 120.000 = 240.000
Jadi jumlah uang mereka adalah Rp240.000,00.
(C)
4. Hasil dari 36
3. 2 adalah.
A. 24
B. 54
C. 108
D. 216
Alternatif cara penyelesaian:
Dengan menggunakan sifat dalam bilangan berpangkat yaitu bentuk. 36
3
/
2
=(6
2
)
2
/
3
=6
3
=216

Jadi hasil dari 36
3
/
2
= adalah 216
(D)
5. Hasil dari3 8adalah .
A. 26
B. 36
C. 43
D. 46
Alternatif cara penyelesaian:
Dengan menggunakan sifat pada bilangan bentuk akar yaitu
1. A X B = AB
2.
A
/
B
=
A
/
B

3 8 = 24 = 4 6 = 2 6
Sehingga hasil dari 3 8 = 26
(A)
6. Kakak menabung di bank sebesar Rp800.000,00 dengan suku bunga tunggal 9%
setahun. Tabungan kakak saat diambil sebesar Rp920.000,00. Lama menabung adalah
.
A. 18 bulan
B. 20 bulan
C. 22 bulan
D. 24 bulanAlternatif cara penyelesaian:
Ada dua jenis bunga yaitu
a. Bunga tunggal, jika yang mendapat bunga hanya modalnya saja sedangkan
bunganya tidak berbunga lagi
b. Bunga majemuk, jika yang mendapat bunga tidak hanya modalnya saja tetapi
bunganya juga akan berbunga lagi
Dari soal diketahui bahwa besarnya modal adalah Rp800.000,00 dan bunga dalam
setahun adalah 9% = 9% 800000 = 72000
Bunga dalam setahun sebesar Rp72.000,00
Sehingga bunga dalam satu bulan sebesar
72000
/
12
=6000
Bunga dalam satu bulan sebesar Rp6.000,00
Jika kakak mengambil tabungan sebesar Rp920.000,00 maka selisih tabungan kakak
dengan modal sebesar 920000 800000 = 120000
Jadi pada saat kakak mengambil tabungan sebesar Rp920.000,00 lama menabung
kakak adalah
72000
/
6000
= 20 BULAN.
(B)
7. Dua suku berikutnya dari barisan3, 4, 6, 9, adalah
A. 13, 18
B. 13, 17
C. 12, 26
D. 12, 15
Alternatif cara penyelesaian:
Dari soal diketahui barisan bilangan yaitu 3, 4, 6, 9 ,, kemudian dicari dua suku
berikutnya. Untuk itu perlu dicari terlebih dahulu selisih dua suku seperti berikut.
Sehingga dua suku berikutnya adalah 9 + 4 = 13dan 13 + 5 = 18. Jadi dua suku
berikutnya adalah 13, 18.
(B)
8. Suatu barisan aritmetika diketahui

6 = 18dan

10 = 30. Jumlah 16 suku pertama dari


barisan tersebut adalah
A. 896
B. 512
C. 448
D. 408
Alternatif cara penyelesaian:
Diketahui U
6
= 18 dan U
10
= 30
Karena sudah diketahui merupakan barisan aritmetika U
n=
u
n
1 + b
Misal u
1
=a
U
2
= a+b
U
3
=u
2
+ b = a+b+b= a+2b
U
6
= a + 5b = 18.(1)
U
10
= a+ 9b = 30 (2)
Dari persamaan (1) dan (2) dengan menggunakan eliminasi diperoleh nilai

= 3.
Karena b = 3 maka
a + 9b = 30
a + 27 = 30
a = 3
u
16
= a + 15b = 3+15 3 = 3 + 45 = 48
s
n
= 1/2n(u
1
+u
2
)
Dengan demikian
S
16
=1/2 16 (u
1
+ u
16
)
=1/2 16 (3 + 48)
= 408
Jadi, jumlah 16 suku pertama dari barisan tersebut adalah 408
(D)
9. Dalam setiap 20 menit amuba membelah diri menjadi dua. Jika mula-mula ada 50
amuba, selama 2 jam banyaknya amuba adalah
A. 1.600
B. 2.000
C. 3.200
D. 6.400
Alternatif cara penyelesaian:
Dari soal diketahui bahwa

1 = 50dan dalam setiap 20 menit amuba membelah diri


menjadi 2.
Sehingga dalam 120 menit atau 2 jam, banyaknya amuba adalah 3200.
Atau dengan menggunakan barisan geometri u
1
= 50
R=u2/u1=u3/u2==un/un-1=2 r adalah rasio dua suku berurutan

Dalam waktu 2 jam atau 120 menit, berarti diperlukan 120/20= 6 langkah, untuk
mendapatkan banyaknya amuba. Jadi selama 20 menit diperoleh
u7=u1.rn-1
= 50 2
6

= 3200
(C)
10. Pemfaktoran dari 81a
2
16b
2
adalah
A. (3a 4b)(27a + 4b)
B. (3a+ 4b)(27a 4b)
C. (9a 4b)(9a + 4b)
D. (9a 4b)(9a 4b)
Alternatif cara penyelesaian:
Karena kedua suku merupakan bentuk kuadrat, maka dengan menggunakan
pemfaktoran selisih dua kuadrat diperoleh 81a
2
16b
2
= 9
2
a
2
4
2
b
2

(9a)
2
(4b)
2


(9a 4b)(9a + 4b)
(C)
11. Himpunan penyelesaian dari 7p + 8 < 3p 22, untuk p bilangan bulat adalah
A. { , 6, 5, 4}
B. { ,0,1, 2}
C. {2, 1, 0, }
D. {4, 5, 6, }
Alternatif cara penyelesaian 7p+ 8 < 3p 22
7p+ 8 3p 8 < 3p 22 3p 8
10p < 30
-p<-3
3 > p
Karena pbilangan bulat, maka nilai p yang bersesuaian adalah {4, 5, 6, }
(D)
12. Jumlah tiga bilangan ganjil berurutan adalah 63. Jumlah bilangan terbesar dan terkecil
dari bilangan tersebut adalah
A. 38
B. 42
C. 46
D. 54
Alternatif cara penyelesaian:
Tiga bilangan ganjil berurutan yaitu 2n + 1, 2n + 3, 2n + 5
Jumlah tiga bilangan ganjil berurutan adalah 63
(2n+ 1) + (2n + 3) + (2n + 5) = 63
6n + 9 = 63
6n = 54
n= 9
Bilangan terbesar adalah 2n + 5, bilangan terkecil adalah 2n + 1
2n + 1 + 2

n+ 5 = 4

+ 6
= 4 9 + 6
= 42
Jadi jumlah bilangan terbesar dan terkecil dari ketiga bilangan tersebut adalah 42.
(B)
13. Ada 40 peserta yang ikut lomba. Lomba baca puisi diikuti oleh 23 orang, lomba baca
puisi dan menulis cerpen diikuti 12 orang. Banyak peserta yang mengikuti
lombamenulis cerpen adalah
A. 12 orang
B. 28 orang
C. 29 orang
D. 35 orang
Alternatif cara penyelesaian:
Kita dapat menyelesaikan soal ini dengan membuat gambar berupa diagram Venn
kemudian menyusun persamaan dari informasi yang diketahui.
Untuk menyelesaikan permasalahan terkait himpunan diawali dengan menghitung
banyaknya elemen yang mendukung himpunan tersebut. Pada soal diketahui jumlah
seluruh peserta lomba 40 orang, 23 orang mengikuti lomba baca puisi dan 12 orang
mengikuti lomba baca puisi dan menulis cerpen. Berdasarkan infromasi tersebut,
dapat diketahui bahwa peserta yang mengikuti lomba baca puisi saja sebanyak
23 12 = 11 peserta.Karena jumlah seluruh peserta 40 orang, sedangkan 23 peserta
sudah terdaftar mengikuti lomba, sehingga sisanya 17 orang merupakan peserta untuk
lomba menulis cerpen saja. Dari informasi yang diketahui di atas, maka dapat di buat
diagram Venn.
Dan dari diagram Venn di atas dapat diketahui bahwa banyaknya peserta yang
mengikuti lomba menulis cerpen adalah 29 orang.
(C)
14. Fungsi f didefinisikan dengan rumus f(x) = px +q. Jika f(3) = 10 dan f(2) = 0,
maka f(7)adalah
A. -18
B. -10
C. 10
D. 18
Alternatif cara penyelesaian:
Diketahui:
F(x)= px+q
Karena f(3) = 10 maka 10 = 3p+ ..(i)
Karena f(2) = 0 maka 0 = 2p + .. (ii)
Dari (i) dan (ii) dengan metoda eliminasi diperoleh p = 2 dan q = 4.
Dengan demikian nilai dari f(7) dapat diperoleh sebagai berikut:
f (-7) = 7p+q
7(2) + (4)
10
(C)
15. Diketahui rumus fungsi f(x) = 2x + 5. Nilai f(4) adalah
A. 13
B. 3
C. 3
D. 13
Alternatif cara penyelesaian:
Nilai f(4) dapat langsung dihitung dengan cara mensubstitusikan x = 4 ke dalam
rumus fungsi f(x) = 2x + 5 sebagai berikut:
f(4) = 2(4) + 5
= 13
Jadi nilai f(4) adalah 13
(D)
16. Gradien garis dengan persamaan 4 6 = 24 adalah
A. 3/2
B. 2/3
C. -2/3
D. -3/2
Alternatif cara penyelesaian:
Persamaan garis 4x 6y = 24 terlebih dahulu dinyatakan dalam bentuk eksplisit
:sebagai berikut y=mx + c sebagai berikut: 4x 6y = 24
6y= 4x+ 24
Y= 2/3x-4
Dengan demikian gradien garis dengan persamaan 4x 6y = 24 adalah 2/3
(B)
17. Keliling suatu persegipanjang 28 cm. Jika panjangnya 2 cm lebih dari lebarnya, luas
persegipanjang tersebut adalah
A. 28 cm2
B. 30 cm2
C. 48 cm2
D. 56 cm2
Alternatif cara penyelesaian:
Diketahui keliling persegipanjang 28 cm.
Misalkan lebar persegipanjang

, maka panjang persegipanjang =

+ 2.
Keliling = 2(p+ l)
28 =2((l + 2)+l)
28 = 2(2l + 2)
28 = 4l + 4
l = 6
Karena p = l + 2, maka p = 6 + 2 = 8.
Luas persegipanjang dapat dihitung sebagai berikut:
p l = Luas
= 8 6
= 48
Dengan demikian luas persegipanjang tersebut adalah 48 cm2.
(C)

18. Diketahui luas belahketupat 240 cm2 dan panjang salah satu diagonalnya 30 cm.
Keliling belahketupat tersebut adalah
A. 60 cm
B. 68 cm
C. 80 cm
D. 120 cm
Alternatif cara penyelesaian:
Diketahui luas belah ketupat adalah 240 cm2
Misal AC = 30cm, maka AO = OC = 15 cm
Luas ABCD = 1/2 X AC X BD
240 = 1/3 X 30 X BD
BD = 16
Dengan demikian BO= OD = 8 cm
Keliling ABCD= AB+BC+CD+DA
Karena AB= BC=CD=DA ,maka keliling ABCD adalah
Pada segitiga ABO berlaku AB
2
= OA
2
+BO
2
sehingga
AB
2
= 15
2
+ 8
2


= 225 + 64
= 289
Diperoleh AB= 17. Karena terkait dengan konteks panjang, maka AB= 17 tidak
digunakan, sehingga = 17.
Keliling ABCD= 4 17 = 68.
Jadi keliling belahketupat adalah 68 cm.
(B)
19. Perhatikan gambar persegi PQRS dan
persegipanjang KLMN Panjang PQ = 12 cm,
LM = 5 cm, dan KL= 10 cm. Luas daerah yang
tidak diarsir 156 cm
2
, luas daerah yang diarsir adalah
A. 19 cm2
B. 24 cm2
C. 38 cm2
D. 48 cm2
Alternatif cara penyelesaian:
Dari gambar jelas bahwa daerah yang diarsir terletak pada persegi PQRSdan
sekaligus terletak pada persegipanjang KLMN Sehingga luas daerah yang diarsir akan
terhitung dua kali. Dengan demikian untuk menghitung luas daerah yang tidak diarsir,
digunakan cara sebagai berikut:
Luas
tidak arsir
= luas
pqrs
+ luas
klmn
2 Luas
arsir

156 = PQ RS + KL MN 2 Luas
arsir

156 = 12 12 + 10 5 2 Luas
arsir

Luas
arsir
= 19
Sehingga luas daerah yang diarsir adalah 19 cm
2

(A)
20. Di atas sebidang tanah berbentuk persegipanjang dengan ukuran 15 m 6 makan
dibuat pagar di sekelilingnya. Untuk kekuatan pagar, setiap jarak 3 m ditanam tiang
pancang. Banyak tiang pancang yang ditanam adalah
A. 12
B. 13
C. 14
D. 15
Alternatif cara penyelesaian:
Diketahui bidang tanah berbentuk persegi panjang dengan ukuran 15 m 6 m.
Keliling bidang tanah = 2(p + l)
= 2(15 + 6)
= 42
Karena jarak antar tiang pancang adalah 3 m, maka banyak tiang pancang yang
ditanam adalah 42/3 = 14.
(c)
21. Perhatikan gambar berikut
Besar sudut nomor 1 adalah 95, dan
besar sudut nomor 2 adalah 110. Besar
sudut nomor 3 adalah
A. 5
B. 15
C. 25
D. 35
Alternatif cara penyelesaian:
Dari soal diketahui bahwa nomor 1 adalah 95, dan besar sudut nomor 2 adalah 110.
Sudut nomor 4 bertolak belakang dengan sudut nomor 1 sehingga besarnya juga 95.
Sudut nomor 5 sehadap dengan sudut nomor 4 sehingga besarnya juga 95.
Sudut nomor 6 adalah pelurus dari sudut nomor 2 sehingga dapat diketahui besarnya
70.
Sudut nomor 3, 5, dan 6 adalah sudut pembentuk segitiga yang jumlah besar sudutnya
180 sehingga:
sudut nomor 3 + sudut nomor 5 + sudut nomor 6 = 180
sudut nomor 3 + 95 + 70 = 180
sudut nomor 3 = 15
Jadi besar sudut nomor 3 adalah 15
(B)
22. Diketahui panjang garis singgung persekutuan luar dua lingkaran dengan pusat P dan
Q adalah 15 cm, jarak

= 17 cm, dan jari-jari lingkaran

= 2 cm. Jika jari-jari


lingkaran P kurang dari jari-jari lingkaran Q, maka panjang jari-jari lingkaran Q adalah

A. 30 cm
B. 16 cm
C. 10 cm
D. 6 cm
Alternatif cara penyelesaian:
Diketahui
AB = 15 cm
AP = 2 cm
PQ = 17 cm
PQ > BQ
Akan dihitung panjangBQ
Dengan bantuan garis PC diperoleh BC = 2 cm. Perhatikan bahwa AB= PC dan
BQ = BC + CQ Untuk memperoleh panjang BQ terlebih dulu dicari panjang CQ
sebagai berikut.
Pada segitiga PCQ berlaku CQ
2
PQ
2
PC
2

Sehingga, CQ
2
= 17
2
15
2

= 289 225
= 64
Diperoleh CQ = 8. Karena terkait dengan konteks panjang, maka CQ= 8 tidak
digunakan, sehingga CQ = 8.
Sehingga BQ = BC+ CQ= 2 + 8 = 10.
Dengan demikian panjang jari-jari lingkaran Q adalah 10 cm.
(C)
23. Persamaan garis melalui titik(2,3)dan sejajar garis 2 3 + 5 = 0 adalah
A. 3X+ 2y = 13
B. 3x 2y = 13
C. 2x+ 3y = 13
D. 2x 3y = 13
Alternatif cara penyelesaian:
Persamaan garis 2x 3y + 5 = 0 terlebih dahulu dinyatakan dalam bentuk eksplisit :sebagai
berikut c + mx = y 2x 3y + 5 = 0
3y= 2x 5
Y =2/3x +5/3
Sehingga dapat diketahui gradien garis 2x 3y + 5 = 0 adalah 2/3
Karena garis yang melalui titik (2, 3) sejajar dengan garis 2 3 + 5 = 0 maka
gradien kedua garis tersebut sama yaitu 2/3 Menggunakan rumus persamaan garis melalui titik
(x
1
,y
1
) yaitu (yy
1
)= m(x x
1
)
maka: y y
1
= m(x x
1
)
y-(-3) = 2/3 ( x 2 )
y + 3 = 2/3x 4/3
3y + 9 = 2x 4
2x 3y = 13
Dengan demikian persamaan garis yang dimaksud adalah 2x 3y= 13
(D)
24. Volume kerucut yang panjang diameter alasnya 10 cm dan tinggi 18 cm adalah
( = 3,14)
A. 1.413,0 cm3
B. 942,0 cm3
C. 706,5 cm3
D. 471,0 cm3
Alternatif cara penyelesaian:
Diketahui diameter alas 10 cm sehingga jari-jarinya x 10 yaitu 5cm
Volume kerucut : 1/3 xx r x r x t = 1/3 x 3,14 x 5 x 5 x 18 = 471
Sehingga volume kerucut tersebut adalah 471,0 cm
3

(D)
25. Sebuah tongkat panjangnya 2 m mempunyai panjang bayangan 75 cm. Pada saat yang
sama panjang bayangan sebuah menara TV 15 m. Tinggi menara TV tersebut adalah
A. 40 m
B. 45 m
C. 48 m
D. 60 m
Alternatif cara penyelesaian:
Persoalan di atas merupakan persoalan perbandingan senilai.
Ukuran sebenarnya Panjang bayangan
Tongkat 2 m 75 cm = 0,75 m
Menara TV a 15 m

a= 15/0,75 x 2 = 40
Jadi tinggi menara TV adalah 40 m.
(A)
26. Data nilai ulangan matematika beberapa siswa sebagai berikut: 64, 67, 55, 71, 62, 67,
71, 67, 55. Modus dari data tersebut adalah .
A. 62
B. 64
C. 67
D. 71
Alternatif cara penyelesaian:
Modus adalah nilai dari data yang mempunyai frekuensi tertinggi atau nilai dari data
yang sering muncul. Modus dilambangkan dengan Mo. Dari soal yang ada untuk nilai
55 muncul dua kali, nilai 62 dan 64 muncul sekali, nilai 67 muncul tiga kali dan nilai 71
muncul dua kali. Jadi modus dari data nilai ulangan matematika dari soal yang ada
adalah 67.25
Atau dapat juga dibuat tabel frekuensi telebih dahulu seperti berikut ini
Nilai Ulangan Matematika Frekuensi
55 2
62 1
64 1
67 3
71 1
jumlah 8
Kemudian dicari nilai ulangan matematika yang frekuensinya tertinggi. Dari tabel