Anda di halaman 1dari 10

HAK ASASI MANUSIA

Dalam UUD 1945

Pendahuluan

Semua orang sebagai individu punya hak, hak dasar yang diberikan tuhan sebagai

kehormatan manusia, yang dikenal secara luas sebagai hak asasi manusia. Sebagaimana

layaknya keinginan di hargai, free dalam menentukan sikap, tanpa doktrin absolute yang

sering menganiaya, menindas dan sewenang-wenang terhadap manusia.

Pada perjalanannya manusia mengalami kehidupan yang telah jauh dari hak yang

dianugrahkan tuhan, maka dapat dirasakan penderitaan, kesengsaraan, kesakitan dan

kepahitan hidup. Penderitaan yang terus-menerus sehingga akhirnya sampai pada

kematian, pembunuhan dan kekacuan ditingkat masyarakat kecil atau yang lebih luas

lagi.

Kesemuanya itu merupakan ketakutan-ketakutan individu dan sosial baik dari

kalangan bawah maupun kalangan atas. Semuanya bukan hanya sejarah masa lampau,

tetapi system informasi yang canggih masih juga banyak di dapati pelanggaran hak asasi

manusia,

Dilihat dari segi banyak persoalan-persoalan yang berkaitan dengan hak dasar

manusia mengilhami membuat undang-undang, artikel, kritikan mengenai hak asasi

manusia sangat relevan sekali, karena untuk membentuk kesadaran ini perlu media

sebagai publikasi dan legitimasi.

Dalam perkembangan sekarang HAM sudah sangat diakui secara legal, tetapi

masih tetap juga terjadi pelanggaran HAM. Disini kami terketuk untuk membahas HAM

yang tadinya sangat luas kami persempit tentang HAM yang ada di tanah air kita.

Definisi

Menurut Jan Matersan dari komisi hak asasi manusia PBB ialah hak yang
melekat pada manusia, yang tanpa dengannya manusia mustahil dapat hidup sebagai

manusia.1

Ada juga yang mendefinisikan bahwa hak asasi adalah hak yang diberikan Tuhan

yang maha pencipta sebagai hak yang kodrati.2

Dengan kata lain hak asasi merupakan hak yang dimiliki setiap induividu sejak

dari lahir sudah melekat dan bersenyawa permanent dan tak dapat dipisahkan lagi,

sehingga ia menjadi bagian kehidupan setiap individu. Jika bagian itu rusak, dianiaya

tidak dihargai maka yang terjadi adalah ketidakadilan dan kesenjangan.

Sejarah

Umumnya oleh Para Pakar di Eropa berpendapat bahwa lahirnya HAM dimulai

dengan lahirnya piagam Magna Charta, antara lain mencanangkan bahwa raja yang

tadinya mempunyai kekuasaan yang absolute (raja uyang menciptakan hukum, tetapi ia

sendiri tidak terikat dalam hukum), yang kemudian dibatasi kekuasaannya dan mulai

dapat dimintai pertanggung jawabannya dimuka hukum sehingga doktrin raja tidak

berlaku lagi dan mulai bertanggung jawab terhadap hukum.

Kemudian di berbagai negara dipraktikan kalau raja melanggar hukum harus di

adili dan harus bertanggungjawab atas kebijakannya kepada perlemen. Jadi raja terikat

hukum dan bertanggungjawab terhadap rakyat. Lahirnya Magna Charta ini yang

mengilhami lahirnya Bill Of Right pada tahun 1689.

Pada masa itu timbul adagium yang intinya adalah bahwa manusia sama dimuka

hukum, dari itu timbul negara hukum dan demokrasi. Bill of right yang melahirtkan asas

persamaan. Untuk mewujudkan semua itu, maka lahir teori Montesquieu dengan trias

dan teori Rousseau dengan kontrak sosial.

Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya the Declaration of

Independence dari paham Rousseau dan Montasquieu. Amerika sudah merinci HAM

1 Prof dr h burhanudin lopa, sh alquran & hak-hak asasi manusia, pt dana bhakti primayasa,
yogyakarta,1996 hal 1
2 Ibid hal, 2
daripada Perancis sendiri. Piagam ini memperjelas bahwa manusia adalah merdeka sejak

lahir. Kemudian diikuti lahirnya undang-undang tentang HAM yang semakin luas.

Setelah perang dunia II (setelah Hitler memusnahkan berjuta-juta manusia) hak-

hak ini dijadikan dasar pemikiran untuk melahirkan HAM yang bersifat universal.

Kemudian HAM tercantum dalam piagam : The Declaration of Human of Man (1946).

The Universal Right of Man dan mencapai puncaknya dalam piagam perserikatan

bangsa-bangsa The Universal Declaration of Human Right (1948)

HAM di Indonesia

HAM di Indonesia sudah sejak dahulu, seperti contoh HAM di Sulawesi Selatan,

antara lain yang tertulis dalam buku lontrak yang berisi jika raja berselisih dengan

dewan adat maka raja yang harus mengalah dan bila dewan adat berselisih dengan

rakyat maka rakyat yang memutuskan.

Hal ini dapat membuktikan bahwa sejak dulu masyarakat Indonesia sudah

menghargai adanya HAM walaupun itu hanya sebatas hukum adat . Tetapi sayang dalam

historisnya pada ahli hukum Indonesia kurang menyukai penelitian tentang hukum-

hukum adat karena saat itu bentuknya masih hukum adat, dapat dikatakan adat dari

masing-masing daerah. Para ahli hukum kita lebih suka meneliti hukum-hukum yang ada

di barat.

Hak asasi baik secara individu dan sosial sudah terkait dengan Human of Right.

Dalam arti biarpun ada hak secara individu tetapi ada kewajiban akan masyarakat,

dengan kata lain tak ada hak tanpa kewajiban. Jadi secara implicit human right juga ada

kewajiban sosial. Disini yang terpenting keseimbangan antara hak individu dan sosial

masyarkat atau keseimbangan antara hak dan kewajiban.

a.Hak asasi manusia dalam Konstitusi

Dalam UUD 1945 ada 7 pasal yang membahas hak asasi manusia relative

lebih sedikit dibanding dengan UUDS 1950 yang memuat 35 pasal, jumlah pasal dalam

UUDS 1950 hampir sama dengan declaration of human right.3


3 Ibid, hal 7
UUD 1945 terdiri dari 7 pasal terdapat dalam pasal 27, 28, 29, 30, 31, 33 dan

34. kekurangan dalam pasal ini diperjelas dalam UU, seperti UU No.14 Th 1970 dan UU

No.8 Th 1981 undang-undang yang paling banyak memuat tentang HAM sampai 40

pasal. Ditambah lagi dengan pembukaan UUD 45, berbunyi “ bahwa kemerdekaan itu

ialah segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena

tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan”

Dari keterangan di atas timbul pertanyaan mengapa UUD 45 yang kita pakai

sekarang lebih sedikit memuat tentang HAM? Padahal HAM akan lebih diakui dan kuat,

lebih legal jika termaktub dalam konstitusi Indonesia yakni UUDnya. Walaupun

demikian yang pokok disini adalah sikap penyelenggara negara dari suatu negara,

sehingga dalam konstitusi tidak memuat secara lengkap tapi para penyelenggaranya

senantiasa menegakan HAM jauh lebih baik dari pada dalam konstitusi dimuat secara

lengkap, tetapi para penyelenggaranya kurang dan bahkan tidak menghormati HAM itu

sendiri.

b.Komisi Nasional HAM

Komisi Nasional HAM (KOMNAS HAM) dibentuk atas legitimasi keppres No.

50 Th 1993. posisi Komnas HAM adalah bersifat independent, walaupun dibentuk atas

keputusan presiden dan 25 anggotanya diangkat oleh presiden. Atas independensinya ini

Komnas HAM berhak dan wajib menyelidiki persoalan HAM, dan komisi ini dapat

meminta informasi tentang penegakan HAM kepada semua instansi, seperti Jaksa, ABRI

dan sebagainya. Jadi, wewenangnya cukup luas.

Dalam perkembangan politik mutakhir di era tahun 1990-an dapat

meningkatnya harapan demokrasi. Dan saat itu persoalan-persoalan yang terkait dengan

HAM dirasakan sangat serius dan mendesak, ini tidak hanya dirasakan oleh negara yang

berkembang, yakni Asia dan Afrika tapi juga dirasakan oleh negara yang sudah maju.

Maka saat itu dibentuk secara bermakna tema diskusi “HAM dan Pembangunan”,

hal ini berdasarkan kebutuhan domestic maupun internasional. Indonesia masa orde baru
persoalan HAM tidak terlepas dari kerangka tema di atas.4

Ternyata dalam pembahasan itu tema mengenai HAM terbagi menjadi dua tema

yang diperdebatkat. Pertama, perdebatan antara paham universal dengan relative

universal. Kedua, pelaksanan secara kolektif dengan pelaksaan hak individu.

Dua tema perdebatan yang melatarbelakangi dua aliran pemikiran HAM. Yaitu :

aliran pertama beranggapan bahwa konsep HAM, sebagimana konsep pancasila adalah

hasil dari galian atas sejarah kehidupan bangsa. Dalam arti HAM di Indonesia

mempunyai bentuk yang khas dan tidak perlu dibandingkan dengan HAM negara barat

atau model manapun. Aliran kedua mengatakan bahwa HAM di Indonesia cenderung

komparasi dengan HAM model barat yang menonjolkan hak sipil dan politik. Keinginan

aliran ini agar HAM yang ada di Indonesia diretropeksi dan perbaikan dalam pelaksaan

HAM5.

Hak dan kewajiban asasi warga negara dalam pancasila

Pandangan tentang hidup didasarkan pada pandangan tentang manusia.

Pandangan manusia didasarkan pada pancasila. Dari sini pula dapat di alirkan pula

sebagai pandangan hidup bermasyarakat.

Manusia sebagai makhluk Tuhan, ia akan hidup dalam hubungan dengan Tuhan

dan bermaksud dengan hubungannya dengan sesama. Maka ia dapat dikatakan sebagai

makhluk individu dan sosial. Sebagai individu memprivasi dengan jiwa dan raganya, ia

memerlukan perlengkapan untuk survive. Maka untuk tetap survive inilah ia memerlukan

kebutuhan emosional, biologi dan ekonomi. Sehingga untuk memenuhinya memerlukan

ikut serta orang lain (masyarakat) inilah yang dikatakan makhluk sosial.

Sebagai makhluk individu dan sosial harus ada keseimbangan diantara keduanya.

Sebagai aturan main adanya norma yang mengatur agar semua tetap balance, alhasil akan

tercipta 3S (Serasi, Seimbang, dan Selaras). Dalam mekanisme ini manusia yang

memiliki sifat dasar atau hak-hak asasi, maka tidak dapat dilepas dari kewajiban

4 Eef saeful fatah, maslah danprospek demokrasi di Indonesia, Galia Indonesia Jakarta, 1994. hal 85
5 Ibid, hal 90
asasinya.

Sehubungan hak asasi adalah anugerah Tuhan yang melekat pada diri manusia

dan sekaligus manusia lain. Karenanya bila ada pelanggaran HAM maka ia melawan

pemberian Tuhan. Hak ini tidak dapat dihapuskan, siapa yang menghapus maka ia akan

hancur.

Hak-hak asasi manusia perlu melihat beberapa hal:6

1.HAM sebagai dasar hak dan kewajiban

2.Pelaksanaan hak dibatasi, tetapi tidak dihapus bila tidak dibatasi akan

melanggar hak asasi orang lain

3.Bahwa pemerintah dan penguasa yang mengatur pelaksanaan di dalam

hidup manusia dan masyarakat, jika tidak diatur dalam pelaksanaannya

maka akan saling berbenturan dengan yang lain

4.Pengaturan didasarkan atas pengekangan peraturan, adat serta kebiasaan

moral dan etik atas dasar nilai yang ada dan hidup dalam masyarakat.

5.Kesadaran dan kehendak hukum ini berarti pelaksanaan hak serta

kewajiban.

Terlepas dari pertimbangan di atas, seyogyanya kita sebagai manusia dan

masyarakat tahu benar akan hak dan kewajiban asasi. Karena hak-hak asasi dilaksanakan

dalam rangka kewajiban asasi. Tanpa ada kesadaran akan hak dan kewajiban terombang-

ambing. Kewajiban dan hak asasi antara lain, misalnya:

1.Bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan

pengajaran maka setiap warga Negara mempunyai kewajiban belajar.

2.Bahwa setiap warga negara berhak memiliki kebebasan dan setiap warga

nagara berkewajiban mengeluarkan suara dengan dilandasi rasa tanggung

jawab.

6 Prof. Drs. H. A. W. Widjaja, pedoman pendidikan pancasila pada perguruan tinggi, pt raja grafindo
persada, 1995. hal.199
3.Bahwa warga negara berhak memiliki sesuatu dan memanfaatan sesuatu

itu dan setiap warga negara mempunyai kewajiban membayar pajak.

4.Bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan setiap

warga negara berkewajiban menjaga keamanan.

5.Bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan perlindungan dan setiap

warga negara berkewajiban membela negara.

6.Bahwa setiap warga negara berhak mendapat perlakuan yang sama dan

setiap warga negara berkewajiban tunduk dan taat menjalankan segala

aturan negara.

7.Dan lain-lain. Membela negara.7

Pelaksanaan hak-hak asasi manusia dalam negara pancasila termuat dalam

pembukaan dan Batang Tubuh dan UUD 1945, dalam pembukaan pada alenia pertama,

serta pada Batang Tubuh di pasal 27, 28, 29, 30, 31, 33.

Pelaksanaan hak asasi manusia tidak dapat secara mutlak

Hak asasi manusia dapat dibagi atau dibedakan sebagai berikut:

1)Hak asasi pribadi (personal right) yang meliputi kebebasan berpendapat,

memeluk agama, dan lain-lain.

2)Hak-hak asasi ekonomi (property right) yaitu hak memiliki sesuatu,

membeli, menjual dan memanfaatkannya.

3)Hak-hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan

pemerintahan ( right of legal equalty).

4)Hak-hak politik ( political right) yakni hak untuk ikut serta dalam

pemerintahan, hak pilih memilih dan dipilih dalam pemilihan umum, hak

untuk mendirikan partai politik dsb.

5)Hak-hak asasi dari kebudayaan (social and culture right) misalnya, hak

7 Ibid, hal 201-202


8. ibid hal 205
untuk memilih pendidikan, mengembangkan kebudayaan.

6)Hak-hak asasi untuk mendapatkan tata cara peradilan dan perlindungan

(procedural right), peraturan dalam penangkapan, penggeledahan, dan

peradilan dsb.8

Adanya pembagian hak asasi ini, berarti pelaksaan hak asasi tidak secara mutlak.

Sebab penentuana pelaksanan hak secara mutlak berarti melanggar hak-hak asasi yang

sama dari orang lain. Jadi, pelaksaan HAM dibatasi sesuai dengan ketentuan dan

peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kesimpulan

Hak asasi didefinisikan dengan hak-hak dasar yang diberikan langsung oleh

Tuhan Yang Maha Pencipta (hak-hak yang bersifat kodrati oleh karenanya tidak ada

kekuasaan apapun yang dapat mencabutnya).

Perkembangan hak asasi manusia di Indonesia yang ada sejak dahulu kurang

menonjol, karena ahli hukum negara kita lebih menyukai meneliti hukum negara barat.

Walau demikiana negara barat sedang gencar berbicara mengenai HAM barulah ahli

hukum kita sadar akan perangkat hukum mengenai HAM.

Hak asasi manusia dapat dibedakan bermacam-macam yang secara global di atur

dalam pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945. Perjalanan hak juga dibatasi akan

adanya kewajiban, agar hak asasi manusia satu sama lain tidak berbenturan.

DAFTAR PUSTAKA

1.Prof DR H Burhanudin Lopa, SH. Al-Quran & Hak-hak Asasi Manusia. PT Dana
Bhakti Primayasa, Yogyakarta,1996
2.Eef Saeful Fatah, Masalah dan Prospek Demokrasi di Indonesia, Galia Indonesia,
Jakarta, 1994
3.Prof. Drs. H. A. W. Widjaja, Pedoman Pendidikan Pancasila Pada Perguruan
Tinggi, PT Raja Grafindo Persada, 1995

8
HAK ASASI MANUSIA
DALAM UNDANG-UNDANG 1945

Makalah ini diajukan


guna memenuhi tugas akhir semester I
Mata kuliah filsafat Pancasila
Dosen
Drs. Ngadi Suryono,

Disusun oleh,

Subandi

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH


WATES KULON PROGO
YOGYAKARTA
2008/2009