Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

EMISSION STANDARD FOR ROAD VEHICLE

DISUSUN OLEH :

M Amri Alkaromi

F1C 007 049

JURUSAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MATARAM
2009
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat,
hidayah dan karunianya. Kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah “ Emission Standard for
Road Vehicle” ini dengan lancar.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Made Mara, ST., MT., selaku dosen
pengampu mata kuliah Motor Bakar yang telah memberikan kontribusi dalam penulisan makalah ini.
Ucapan terima kasih pula kepada rekan – rekan mahasiswa yang telah membantu kami hingga
penulisan makalah ini selesai.
Penulis menyadari makalah ini memiliki banyak kekurangan dan kesalahannya, untuk itu
mohon kritik dan saran yang bersifat membangun ke arah yang lebih baik untuk para pembaca. Atas
perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Ttd

( Penulis )

2
DAFTAR PUSTAKA
Kata Pengantar .......................................................................................................................
Daftra Pustaka ........................................................................................................................
Bab I. Latar Belakang ...........................................................................................................
Bab II. Pembahasan
a. Emisi Gas Buang kendaraan..........................................................................
b. Analisa Kondisi Mesin .................................................................................
c. Dampak Negatif Yang ditimbulkan...............................................................
d. Standar Emisi Gas Buang..............................................................................
Bab III. Kesimpulan dan saran .............................................................................................

3
Bab I
Latar Belakang
Beberapa tahun ini laju pertambahan kendaraan bermotor di Indonesia semakin pesat,
baik itu kendaraan roda empat maupun roda dua. Begitu juga dengan perkembangan otomotif
sebagai alat transportasi, baik di darat maupun di laut, sangat memudahkan manusia dalam
melaksanakan suatu pekerjaan. Selain mempercepat dan mempermudah aktivitas, di sisi lain
penggunaan kendaraan bermotor juga menimbulkan dampak yang sangat buruk terhadap
lingkungan, terutama gas buang dari hasil pembakaran bahan bakar yang tidak terurai atau
terbakar dengan sempurna.

Dampak yang sangat jelas terlihat adalah pencemaran udara. Pencemaran udara adalah
masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat
mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan pada kesehatan manusia secara
umum serta menurunkan kualitas lingkungan. Pencemaran udara dapat terjadi dimana-mana,
misalnya di dalam rumah, sekolah, dan kantor. Pencemaran ini sering disebut pencemaran
dalam ruangan (indoor pollution). Sementara itu pencemaran di luar ruangan (outdoor
pollution) berasal dari emisi kendaraan bermotor, industri, perkapalan, dan proses alami oleh
makhluk hidup. Sumber pencemar udara dapat diklasifikasikan menjadi sumber diam dan
sumber bergerak. Sumber diam terdiri dari pembangkit listrik, industri dan rumah tangga.
Sedangkan sumber bergerak adalah aktifitas lalu lintas kendaraan bermotor dan tranportasi laut

Kesadaran masyarakat akan pencemaran udara akibat gas buang kendaraan bermotor di
kota-kota besar saat ini makin tinggi. Dari berbagai sumber bergerak seperti mobil penumpang,
truk, bus, lokomotif kereta api, kapal terbang, dan kapal laut, kendaraan bermotor saat ini
maupun dikemudian hari akan terus menjadi sumber yang dominan dari pencemaran udara di
perkotaan.

Resiko kesehatan yang dikaitkan dengan pencemaran udara di perkotaan secara umum,
banyak menarik perhatian dalam beberapa dekade belakangan ini. Di banyak kota besar, gas
buang kendaraan bermotor menyebabkan ketidaknyamanan pada orang yang berada di tepi
jalan dan menyebabkan masalah pencemaran udara pula. Beberapa studi epidemiologi dapat

4
menyimpulkan adanya hubungan yang erat antara tingkat pencemaran udara perkotaan dengan
angka kejadian (prevalensi) penyakit pernapasan.
Pengaruh dari pencemaran khususnya akibat kendaraan bermotor tidak sepenuhnya
dapat dibuktikan karena sulit dipahami dan bersifat kumulatif. Kendaraan bermotor akan
mengeluarkan berbagai gas jenis maupun partikulat yang terdiri dari berbagai senyawa
anorganik dan organik dengan berat molekul yang besar yang dapat langsung terhirup melalui
hidung dan mempengaruhi masyarakat di jalan raya dan sekitarnya.
Untuk itu perlu dilakukan atau diterapkannya suatu pembatas atau limit yang lebih baik
dari sebelumnya terhadap emisi gas buang yang dihasilkan oleh kendaraan bergerak. Dengan
kata lain sebuah standar Emisi untuk mengendalikan gas buang kendaraan, sehingga bisa
mengurangi sedikit tidak pencemaran yang diakibatkan oleh emisi gas buang tersebut.

5
Bab II
PEMBAHASAN
“Emission Standard for Road Vehicle”

Emisi Gas Buang Kendaraan

Emisi gas buang adalah sisa hasil pembakaran bahan bakar didalam mesin
pembakaran dalam, mesin pembakaran luar, mesin jet yang dikeluarkan melalui sistem
pembuangan mesin.
Emisi kendaraan bermotor mengandung berbagai senyawa kimia. Komposisi dari
kandungan senyawa kimianya tergantung dari kondisi mengemudi, jenis mesin, alat
pengendali emisi bahan bakar, suhu operasi dan faktor lain yang semuanya ini membuat pola
emisi menjadi rumit. Jenis bahan bakar pencemar yang dikeluarkan oleh mesin dengan bahan
bakar bensin maupun bahan bakar solar sebenarnya sama saja, hanya berbeda proporsinya
karena perbedaan cara operasi mesin. Secara visual selalu terlihat asap dari knalpot
kendaraan bermotor dengan bahan bakar solar, yang umumnya tidak terlihat pada kendaraan
bermotor dengan bahan bakar bensin.
Walaupun gas buang kendaraan bermotor terutama terdiri dari senyawa yang tidak
berbahaya seperti nitrogen, karbon dioksida dan upa air, tetapi didalamnya terkandung juga
senyawa / gas buang lain dengan jumlah yang cukup besar yang dapat membahayakan
kesehatan maupun lingkungan.
Senyawa lain yang terkandung pada gas buang kendaraan, antara lain sebagai
berikut :

 HC atau Hidrokarbon

Hidrocarbon / HC merupakan unsur senyawa bahan bakar bensin. HC yang ada


pada gas buang adalah dari senyawa bahan bakar yang tidak terbakar habis dalam proses
pembakaran motor, HC diukur dalam satuan ppm ( part per million )( Bently Robert,
1993; Petter A Weller,1989; Spuller,Willem,L, 1987.).

Pada mesin, emisi Hidrokarbon (HC) terbentuk dari bermacam-macam sumber.


Tidak terbakarnya bahan bakar secara sempurna, tidak terbakarnya minyak pelumas

6
silinder adalah salah satu penyebab munculnya emisi HC. Emisi HC pada bahan bakar
HFO yang biasa digunakan pada mesin-mesin diesel besar akan lebih sedikit jika
dibandingkan dengan mesin diesel yang berbahan bakar Diesel Oil (DO). Emisi HC ini
berbentuk gas methan (CH4).

 CO atau Carbon Monoxid

Merupakan senyawa gas beracun yang terbentuk akibat pembakaran yang tidak
sempurna dalam prose kerja motor, CO diukur dalam satuan % volume. ( Bently Robert,
1993; Petter A Weller,1989; Spuller,Willem,L, 1987.).

Gas karbonmonoksida adalah gas yang relative tidak stabil dan cenderung
bereaksi dengan unsur lain. Karbon monoksida, dapat diubah dengan mudah menjadi
CO2 dengan bantuan sedikit oksigen dan panas. Saat mesin bekerja dengan AFR yang
tepat, emisi CO pada ujung knalpot berkisar 0.5% sampai 1% untuk mesin yang
dilengkapi dengan sistem injeksi atau sekitar 2.5% untuk mesin yang masih
menggunakan karburator. Dengan bantuan air injection system atau CC, maka CO dapat
dibuat serendah mungkin mendekati 0%.

Apabila AFR sedikit saja lebih kaya dari angka idealnya (AFR ideal = lambda =
1.00) maka emisi CO akan naik secara drastis. Jadi tingginya angka CO menunjukkan
bahwa AFR terlalu kaya dan ini bisa disebabkan antara lain karena masalah di fuel
injection system seperti fuel pressure yang terlalu tinggi, sensor suhu mesin yang tidak
normal, air filter yang kotor, PCV system yang tidak normal, karburator yang kotor atau
setelannya yang tidak tepat.

Asap kendaraan merupakan sumber utama bagi karbon monoksida di berbagai


perkotaan. Data mengungkapkan bahwa 60% pencemaran udara disebabkan karena benda
bergerak atau transportasi umum yang berbahan bakar solar terutama berasal dari
Metromini. Formasi CO merupakan fungsi dari rasio kebutuhan udara dan bahan bakar
dalam proses pembakaran di dalam ruang bakar mesin diesel. Percampuran yang baik
antara udara dan bahan bakar terutama yang terjadi pada mesin-mesin yang menggunakan
Turbocharge merupakan salah satu strategi untuk meminimalkan emisi CO.

7
 Nox

Adalah unsur dari Nitrgen Oksida (NO) dan Nitrogen Dioksida (NO2) tetapi
sering dinyatakan dalam NOx saja. NOx juga merupakan senyawa gas beracun yang
ditimbulkan dari proses pembakaran yang tidak sempurna. ( Bently Robert, 1993; Petter
A Weller,1989; Spuller,Willem,L, 1987.).

NOx terbentuk atas tiga fungsi yaitu Suhu (T), Waktu Reaksi (t), dan konsentrasi
Oksigen (O2), NOx = f (T, t, O2). Secara teoritis ada 3 teori yang mengemukakan
terbentuknya NOx, yaitu:s

1. Thermal NOx (Extended Zeldovich Mechanism)


Proses ini disebabkan gas nitrogen yang beroksidasi pada suhu tinggi pada ruang
bakar (>1800 K). Thermal NOx ini didominasi oleh emisi NO (NOx = NO + NO2).
2. Prompt NOx
Formasi NOx ini akan terbentuk cepat pada zona pembakaran.
3. Fuel NOx
NOx formasi ini terbentuk karena kandungan N dalam bahan bakar.

Kira-kira 90% dari emisi NOx adalah disebabkan proses thermal NOx, dan
tercatat bahwa dengan penggunaan HFO (Heavy Fuel Oil), bahan bakar yang biasa
digunakan di kapal, menyumbangkan emisi NOx sebesar 20-30%. Setelah bereaksi
dengan atmosfir zat ini membentuk partikel-partikel nitrat yang amat halus yang dapat
menembus bagian terdalam paru-paru. Selain itu zat oksida ini jika bereaksi dengan asap
bensin yang tidak terbakar dengan sempurna dan zat hidrokarbon lain akan membentuk
ozon rendah atau smog kabut berawan coklat kemerahan yang menyelimuti sebagian
besar kota di dunia.
Dalam kondisi normal atmosphere, nitrogen adalah gas inert yang amat stabil
yang tidak akan berikatan dengan unsur lain. Tetapi dalam kondisi suhu tinggi dan
tekanan tinggi dalam ruang bakar, nitrogen akan memecah ikatannya dan berikatan
dengan oksigen.

Senyawa NOx ini sangat tidak stabil dan bila terlepas ke udara bebas, akan
berikatan dengan oksigen untuk membentuk NO2. Inilah yang amat berbahaya karena
senyawa ini amat beracun dan bila terkena air akan membentuk asam nitrat.

8
Tingginya konsentrasi senyawa NOx disebabkan karena tingginya konsentrasi
oksigen ditambah dengan tingginya suhu ruang bakar. Untuk menjaga agar konsentrasi
NOx tidak tinggi maka diperlukan kontrol secara tepat terhadap AFR dan suhu ruang
bakar harus dijaga agar tidak terlalu tinggi baik dengan EGR maupun long valve overlap.
Normalnya NOx pada saat idle tidak melebihi 100 ppm. Apabila AFR terlalu kurus,
timing pengapian yang terlalu tinggi atau sebab lainnya yang menyebabkan suhu ruang
bakar meningkat, akan meningkatkan konsentrasi NOx dan ini tidak akan dapat diatasi
oleh CC atau sistem EGR yang canggih sekalipun.

Tumpukan kerak karbon yang berada di ruang bakar juga akan meningkatkan
kompresi mesin dan dapat menyebabkan timbulnya titik panas yang dapat meningkatkan
kadar NOx. Mesin yang sering detonasi juga akan menyebabkan tingginya konsentrasi
NOx.

 Pb atau Timah Hitam

Adalah senyawa beracun yang terkandung dalam bahan bakar bensin dengan
tujuan utuk menaikkan angka Oktan Bensin sehingga pada waktu pembakaran dalam
proses kerja motor tidak mudah terjadi Detonasi atau Knocking. ( Bently Robert, 1993;
Petter A Weller,1989; Spuller,Willem,L, 1987.).

 CO2 atau Carbon Dioksida

Merupakan senyawa yang tidak beracun hasil pembakaran motor, tetapi efek dari
CO2 ini adalah membawa dampak terhadap efek rumah kaca/ pemanasan global. ( Bently
Robert, 1993; Petter A Weller,1989; Spuller,Willem,L, 1987.).

Konsentrasi CO2 menunjukkan secara langsung status proses pembakaran di


ruang bakar. Semakin tinggi maka semakin baik. Saat AFR berada di angka ideal, emisi
CO2 berkisar antara 12% sampai 15%. Apabila AFR terlalu kurus atau terlalu kaya, maka
emisi CO2 akan turun secara drastis. Apabila CO2 berada dibawah 12%, maka kita harus
melihat emisi lainnya yang menunjukkan apakah AFR terlalu kaya atau terlalu kurus.
Sumber dari CO2 ini hanya ruang bakar dan CC. Apabila CO2 terlalu rendah tapi CO dan
HC normal, menunjukkan adanya kebocoran exhaust pipe.

9
 SOx (Sulfur Oxide : SO2, SO3)

Emisi SOx terbentuk dari fungsi kandungan sulfur dalam bahan bakar, selain itu
kandungan sulfur dalam pelumas, juga menjadi penyebab terbentuknya SOx emisi.
Struktur sulfur terbentuk pada ikatan aromatic dan alkyl. Dalam proses pembakaran
sulfur dioxide dan sulfur trioxide terbentuk dari reaksi:

S + O2 = SO2
SO2 + 1/2 O2 = SO3

Kandungan SO3 dalam SOx sangat kecil sekali yaitu sekitar 1-5%. Gas yang
berbau tajam tapi tidak berwarna ini dapat menimbulkan serangan asma, gas ini pun jika
bereaksi di atmosfir akan membentuk zat asam. Badan WHO PBB menyatakan bahwa
pada tahun 1987 jumlah sulfur dioksida di udara telah mencapai ambang batas yg
ditetapkan oleh WHO.

SO2 atau Belerang, merupakan senyawa hasil pembakaran motor yang bersifat asam
yang dapat membawa dampak terjadinya hujan asam yang nantinya dapat
mengakibatkan kerusakan dan kematian organisme makhluk hidup, ( Otto
Sumarwoto,1992) disamping itu juga membawa dampak cepat terjadinya korosi/karat
pada logam, kalau pada kendaraan dapat mempercepat terjadinya keropos pada knalpot.

 Partikulat Matter (PM)

Partikel debu dalam emisi gas buang terdiri dari bermacam-macam komponen.
Bukan hanya berbentuk padatan tapi juga berbentuk cairan yang mengendap dalam
partikel debu. Pada proses pembakaran debu terbentuk dari pemecahan unsur hidrokarbon
dan proses oksidasi setelahnya. Dalam debu tersebut terkandung debu sendiri dan
beberapa kandungan metal oksida. Dalam proses ekspansi selanjutnya di atmosfir,
kandungan metal dan debu tersebut membentuk partikulat. Beberapa unsur kandungan
partikulat adalah karbon, SOF (Soluble Organic Fraction), debu, SO4, dan H2O.
Sebagian benda partikulat keluar dari cerobong pabrik sebagai asap hitam tebal, tetapi
yang paling berbahaya adalah butiran-butiran halus sehingga dapat menembus bagian
terdalam paru-paru. Diketahui juga bahwa di beberapa kota besar di dunia perubahan
menjadi partikel sulfat di atmosfir banyak disebabkan karena proses oksida oleh molekul

10
sulfur.

Analisa Kondisi Mesin sebagai penghasil Gas Buang


Kita perlu melakukan analisa terhadap mesin kendaraan tersebut. Agar kita
mengetahui apakah kendaraan kita menghasilkan gas buang jauh diambang batas atau tidak.
Untuk memudahkan kita menganalisa kondisi mesin, kita dapat memakai penjelasan dibawah
sebagai alat bantu sebagai berikut:

1. Emisi CO tinggi, menunjukkan kondisi dimana AFR terlalu kaya (lambda <>

 Hal-hal yang menyebabkan AFR terlalu kaya antara lain :


- Idle speed terlalu rendah.
- Setelan pelampung karburator yang tidak tepat menyebabkan bensin terlalu banyak.
- Air filter yang kotor.
- Pelumas mesin yang terlalu kotor atau terkontaminasi berat.
- Charcoal Canister yang jenuh.
- PCV valve yang tidak bekerja.
- Kinerja fuel delivery system yang tidak normal.
- Air intake temperature sensor yang tidak normal.
- Coolant temperature sensor yang tidak normal.
- Catalytic Converter yang tidak bekerja.

2. Normal CO. Apabila AFR berada dekat atau tepat pada titik ideal (AFR 14,7 atau lambda
= 1.00) maka emisi CO tidak akan lebih dari 1% pada mesin dengan sistem injeksi atau
2.5% pada mesin dengan karburator.

3. CO terlalu rendah. Sebenarnya tidak ada batasan dimana CO dikatakan terlalu rendah.
Konsentrasi CO terkadang masih terlihat “normal” walaupun mesin sudah bekerja dengan
campuran yang amat kurus.

4.Emisi HC tinggi. Umumnya kondisi ini menunjukkan adanya kelebihan bensin yang tidak
11
terbakar yang disebabkan karena kegagalan sistem pengapian atau pembakaran yang tidak
sempurna. Konsentrasi HC diukur dalam satuan ppm (part per million). Penyebab umumnya
adalah sistem pengapian yang tidak mumpuni, kebocoran di intake manifold, dan masalah di
AFR.

 Penyebab lainnya adalah :


- Pembakaran yang tidak sempurna karena busi yang sudah rusak.
- Timing pengapian yang terlalu mundur.
- Kabel busi yang rusak.
- Kompresi mesin yang rendah.
- Kebocoran pada intake.
- Kesalahan pembacaan data oleh ECU sehingga menyebabkan AFR terlalu kaya.

5. Kosentrasi Oksigen. Menunjukkan jumlah udara yang masuk ke ruang bakar berbanding
dengan jumlah bensin. Angka ideal untuk oksigen pada emisi gas buang adalah berkisar
antara 1% hingga 2%.

6. Konsentrasi oksigen tinggi. Ini menunjukkan bahwa AFR terlalu kurus.

 Kondisi yang menyebabkan antara lain :


- AFR yang tidak tepat.
- Kebocoran pada saluran intake
- Kegagalan pada sistem pengapian yang menyebabkan misfire

7. Konsentrasi oksigen rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa AFR terlalu kaya.

8. Konsentrasi CO2 tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa AFR berada dekat atau tepat
pada kondisi ideal.

9. Konsentrasi CO2 rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa AFR terlalu kurus atau terlalu
kaya dan kebocoran pada exhaust system.

10. Konsentrasi senyawa NOx. Senyawa NOx termasuk nitrit oksida (NO) atau nitrat oksida
(NO2) akan terbentuk bila suhu ruang bakar mencapai lebih dari 2500 derajat Farenheit
(1350 oC). Senyawa ini juga dapat terbentuk apabila mesin mendapat beban berat.

12
11. Konsentrasi NOx tinggi.

Kondisi ini menunjukkan :


- EGR Valve tidak bekerja.
- AFR terlalu kurus.
- Spark Advancer yang tidak bekerja.
- Thermostatic Air Heater yang macet.
- Kerusakan pada cold air duct.
- Tingginya deposit kerak di ruang bakar.
- Catalytic Converter yang tidak normal.

12. Konsentrasi NOx rendah. Sebenarnya tidak ada batasan yang menyatakan emisi
senyawa NOx terlalu rendah. Umumnya NOx adalah 0 ppm saat mesin idle.

s
Dampak Negatif yang ditimbulkan
Bahan pencemar udara yang terdapat didalam gas buang buang kendaraan
bermotor, dilepaskan ke udara karena adanya penguapan dari sistem bahan bakar. Setelah
berada di udara, beberapa senyawa yang terkandung dalam gas buang kendaraan bermotor
dapat berubah karena terjadinya suatu reaksi, misalnya dengan sinar matahari dan uap air, atau
juga antara senyawa-senyawa tersebut satu sama lain. Proses reaksi tersebut ada yang
berlangsung cepat dan terjadi saat itu juga di lingkungan jalan raya, dan adapula yang
berlangsung dengan lambat. Reaksi kimia di atmosfer kadangkala berlangsung dalam suatu
rantai reaksi yang panjang dan rumit, dan menghasilkan produk akhir yang dapat lebih aktif
atau lebih lemah dibandingkan senyawa aslinya.
Sebagai contoh, adanya reaksi di udara yang mengubah nitrogen monoksida (NO)
yang terkandung di dalam gas buang kendaraan bermotor menjadi nitrogen dioksida (NO2 )
yang lebih reaktif, dan reaksi kimia antara berbagai oksida nitrogen dengan senyawa
hidrokarbon yang menghasilkan ozon dan oksida lain, yang dapat menyebabkan asap awan
fotokimi (photochemical smog).
Pembentukan smog ini kadang tidak terjadi di tempat asal sumber (kota), tetapi
dapat terbentuk di pinggiran kota. Jarak pembentukan smog ini tergantung pada kondisi reaksi
dan kecepatan angin. Untuk bahan pencemar yang sifatnya lebih stabil sperti limbah (Pb),

13
beberapa hidrokarbon-halogen dan hidrokarbon poliaromatik, dapat jatuh ke tanah bersama air
hujan atau mengendap bersama debu, dan mengkontaminasi tanah dan air.
Senyawa tersebut selanjutnya juga dapat masuk ke dalam rantai makanan yang
pada akhirnya masuk ke dalam tubuh manusia melalui sayuran, susu ternak, dan produk lainnya
dari ternak hewan. Karena banyak industri makanan saat ini akan dapat memberikan dampak
yang tidak diinginkan pada masyarakat kota maupun desa.
Dengan adanya produksi gas buang tiap tahunnya, menambah daftar dampak buruk
yang ditimbulkannya. Selain diatas, dampak lain dari senyawa – senyawa gas buang yang
berbahaya, adalah sebagai berikut :

 Pengaruh terhadap Manusia

1. HC atau Hidro Carbon( Spuller,Willem,L, 1987; Anonymous,2002.)

- Pada konsentrasi yang tinggi menyebabkan gangguan pada selaput lendir, mata, hidung dan
tenggorokan

- Merupakan zat potensial penyebab Kanker

2. CO atau Carbon Monoxid ( Spuller,Willem,L, 1987; Anonymous,2002.)

- Tidak berbau dan tidak berwarna

- Mengurangi kemampuan darah dalam menyerap Oksigen

- Pada konsentrasi 0,3 % saja di udara, jika menghirup sekitar 30 menit dapat menyebabkan
fatal/kematian.

3. Nox atau Nitrogen Oksid ( Spuller,Willem,L, 1987; Anonymous,2002.)

- Berwarna coklat kemerah merahan

- Berbau tajam / pedas sehingga mengganggu organ organ pernafasan

- Pada konsentrasi 0,05 s/d 0,15 % Nox diudara dapat menyebabkan kerusakan paru-paru

14
4. Pb atau Timah Hitam ( Spuller,Willem,L, 1987; Anonymous,2002.)

- Merupakan bahan yang sulit untuk bereaksi / dinetralisir, sehingga gas buang mengandung
logam Pb yang tinggi akan berdampak dapat merugikan perkembangan mental, ginjal,
komposisi darah dan pembuluh nadi/hipertensi

 Selain itu, ada pula dampak kesehatan yang lain, yaitu :

 Pada umumnya istilah dari bahaya terhadap kesehatan yang digunakan adalah pengaruh
bahan pencemar yang dapat menyebabkan meningkatnya risiko atau penyakit serta
kondisi medik lainnya pada seseorang ataupun kelompok orang.

 Anak-anak dapat menderita penyakit seperti penurunan IQ. Ibu yang sedang hamil dapat
menderita keguguran akibat menghirup udara yang kotor, Lansia serta orang dewasa
dapat terkena penyakit seperti asma. Begitu pula dengan penyakit infeksi saluran
pernafasan akut atau ISPA.

 Pada manusia, asam sulfat (H2SO4), sulfur dioksida (SO2) dan garam sulfat dapat
menimbulkan iritasi pada membran lendir saluran pernapasan dan memperparah penyakit
pernapasan. Karena dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh emisi gas buang ini
maka perlu diambil suatu tindakan pengendaliannya. Tindakan tersebut dapat dilakukan
dengan berbagai macam cara seperti: Uji emisi sehingga membatasi kendaraan yang
berpotensi untuk menghasilkan emisi gas buang yang berbahaya, pemilihan bahan bakar
alternatif yang ramah lingkungan, dan penggunaan katalitik konverter untuk
mengkonversikan gas buang yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

 Karbon Monoksida, karbon monoksida dapat terikat dengan haemoglobin darah lebih
kuat dibandingkan dari oksigen membentuk karboksihaemoglobin (COHb), sehingga
menyebabkan terhambatnya pasokan oksigen ke jaringan tubuh. Pajanan CO diketahui
dapat mempengaruhi kerja jantung (sistem kardiovaskuler), sistem syaraf pusat, juga
janin, dan semua organ tubuh yang peka terhadap kekurangan oksigen. Pengaruh CO
terhadap sistem kardiovaskuler cukup nyata teramati walaupun dalam kadar rendah.
Penderita penyakit jantung dan penyakit paru merupakan kelompok yang paling peka
terhadap pajanan CO. Studi eksperimen terhadap pasien jantung dan penyakit pasien
paru, menemukan adanya hambatan pasokan oksigen ke jantung selama melakukan
latihan gerak badan pada kadar COHb yang cukup rendah 2,7 %.

15
Pengaruh pajanan CO kadar rendah pada sistem syaraf dipelajari dengan suatu uji
psikologi. Walaupun diakui interpretasi dari hasil uji seperti ini sulit ditemukan bahwa
kadar COHb 16 % dianggap membahayakan kesehatan. Pengaruh bahaya ini tidak
ditemukan pada kadar COHb sebesar 5%.

Pengaruh terhadap janin pada prinsipnya adalah karena pajanan CO pada kadar tinggi
dapat menyebabkan kurangnya pasokan oksigen pada ibu hamil yang konsekuennya akan
menurunkan tekanan oksigen di dalam plasenta dan juga pada janin dan darah. Hal ini
dapat menyebabkan kelahiran prematur atau bayi lahir dengan berat badan rendah
dibandingkan normal.

Menurut evaluasi WHO, kelompok penduduk yang peka (penderita penyakit jantung
atau paru-paru) tidak boleh terpajan oleh CO dengan ka dar yang dapat membentuk
COHb di atas 2,5%. Kondisi ini ekivalen dengan pajanan oleh CO dengan kadar sebesar
35 mg/m3 selama 1 jam, dan 20 mg/mg selama 8 jam. Oleh karena itu, untuk
menghindari tercapainya kadar COHb 2,5-3,0 % WHO menyarankan pajanan CO tidak
boleh melampaui 25 ppm (29 mg/m3) untuk waktu 1 jam dan 10 ppm (11,5 mg/mg3)
untuk waktu 8 jam.

 Timbal, pengaruh Pb pada kesehatan yang terutama adalah pada sintesa haemoglobin
dan sistem pada syaraf pusat maupun syaraf tepi. Pengaruh pada sistem pembentukkan
Hb darah yang dapat menyebabkan anemia, ditemukan pada kadar Pb-darah kelompok
dewasa 60-80µg/100 ml dan kelompok anak > 40 µg/100 ml. Pada kadar Pb-darah
kelompok dewasa sekitar 40 µg/100 ml diamati telah ada gangguan terhadap sintesa Hb,
seperti meningkatnya ekskresi asam aminolevulinat. (ALA).
Pengaruh pada enzim §-ALAD dapat diamati pada kadar Pb-darah sekitar
10µg/100 ml. Akumulasi protoporfirin dalam eritrosit (FEP) yang merupakan akibat dari
terhambatnya aktivitas enzim ferrochelatase, dapat terlihat pada wanita edngan kadar Pb-
darah 20- 30 µg/100 ml, pada pria dengan kadar 25-35 µg/100 ml, dan pada anak dengan
kadar > 15 µg/100 ml. Pengaruh Pb terhadap hambatan aktivitas enzim ALAD tidak
menyatakan adanya keracunan yang membahayakan, tetapi dapat menunjukkan adanya
pajanan Pb terha dap tubuh. Meningkatnya ekskresi ALA dan akumulasi FEP adalam urin
mencerminkan adanya kerusakan fungsi fisiologi yang pada akhirnya dapat merusak
fungsi metokhondrial.
Pengaruh pada syaraf otak anak diamati pada kadar 60µg/100 ml, yang dapat

16
menyebabkan gangguan pada perkembangan mental anak. Penelitian pada pengaruh Pb
yang dikaitkan IQ anak telah banyak dilakukan tetapi hasilnya belum konsisten. Sistem
syaraf pusat anak lebih peka dibandingkan dengan orang dewasa. Gangguan terhadap
fungsi syaraf orang dewasa berdasarkan uji psikologi diamati pada kadar Pb- darah 50
µg/100 ml. Sedangkan gangguan sistem syaraf tepi diamati pada kadar Pb- darah 30
µg/100 ml.

 Pengaruh terhadap Lingkungan

 Dampak negatif yang ditimbulkan juga pemanasan kota akibat perubahan iklim. Seperti
yang kita tahu, karbonmonoksida yang “disumbangkan” oleh kendaraan bermotor akan
mengakibatkan perubahan iklim. Zat ini dapat membentuk selubung yang menghalangi
radiasi panas matahari yang dipantulkan bumi tidak dapat dilepas kembali ke atmosfer.
Perubahan iklim akibat emisi kendaraan bermotor inilah yang mengakibatkan timbulnya
pemanasan kota

 Dampak lain terhadap lingkungan akibat emisi kendaraan bermotor, yaitu terjadinya
hujan asam. Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor
dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk
sulfurdioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan
air, kemudian membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh
bersama air hujan. Hujan asam berakibat buruk karena bersifat korosif, yaitu merusak
benda-benda yang terbuat dari logam berat. Selain itu, hujan asam dapat menyebabkan
tumbuhan kecil mati, serta menyebabkan sumber mata air menjadi asam sehingga tidak
bisa diminum.

 Emisi kendaraan bermotor juga dapat mengakibatkan polusi udara. Polusi udara dapat
dilihat dengan keadaan kualitas udara yang ada di sekitar kita. Kita tidak lagi dapat
menghirup udara segar karena udara di sekitar kita kini mengandung karbonmonoksida
dan zat lain dari hasil pembakaran kendaraan bermotor, sehingga juga mengurangi jumlah
oksigen di udara.

 Beberapa senyawa dari gas buang yang berdampak negative terhadap lingkungan

17
 CO2, beberapa senyawa yang dihasilkan dari pembakaran sempurna seperti CO2 yang
tidak beracun, belakangan ini menjadi perhatian orang. Senyawa CO2 sebenarnya
merupakan komponen yang secara alamiah banyak terdapat di udara. Oleh karena itu
CO2 dahulunya tidak menepati urutan pencemaran udara yang menjadi perhatian lebih
dari normalnya akibat penggunaan bahan bakar yang berlebihan setiap
tahunnya.Pengaruh CO2 disebut efek rumah kaca dimana CO2 diatmosfer dapat
menyerap energi panas dan menghalangi jalanya energi panas tersebut dari atmosfer ke
permukaan yang lebih tinggi. Keadaan ini menyebabkan meningkatnya suhu rata-rata di
permukaan bumi dan dapat mengakibatkan meningginya permukaan air laut akibat
melelehnya gunung-gunung es, yang pada akhirnya akan mengubah berbagai sirklus
alamiah.

 SO2 sulfur, pengaruh pencemaran SO2 terhadap lingkungan telah banyak diketahui.
Pada tumbuhan, daun adalah bagian yang paling peka terhadap pencemaran SO2 ,
dimana akan terdapat bercak atau noda putih atau coklat merah pada permukaan daun.
Dalam beberapa hal, kerusakan pada tumbuhan dan bangunan disebabkan karena SO2
dan SO3 di udara, yang masing-masing membentuk asam sulfit dan asam sulfat.
Suspensi asam di udara ini dapat terbawa turun ke tanah bersama air hujan dan
mengakibatkan air hujan bersifat asam. Sifat asam dari air hujan ini dapat menyebabkan
korosif pada logam-logam dan rangka-rangka bangunan, merusak bahan pakian dan
tumbuhan.

 Oksida nitrogen, NO dan NO2 berasal dari pembakaran bahan bakar fosil. Pengaruh
NO yang utama terhadap lingkungan adalah dalam pembentukan smog. NO dan NO2
dapat memudarkan warna dari serat-serat rayon dan menyebabkan warna bahan putih
menjadi kekuning-kuningan. Kadar NO2 sebesar 25 ppm yang pada umumnya
dihasilkan adari emisi industri kimia, dapat menyebabkan kerusakan pada banayak jenis
tanaman. Kerusakan daun sebanyak 5 % dari luasnya dapat terjadi pada pemajanan
dengan kadar 4-8 ppm untuk 1 jam pemajanan. Tergantung dari jenis tanaman, umur
tanaman dan lamanya pemajanan, kerusakan terjadi dapat bervariasi. Kadar NO2
sebesar 0,22 ppm dengan jangka waktu pemajanan 8 bualan terus menrus, dapat
menyebabkan rontoknya daun berbagai jenis tanaman.

18
Standar Emisi Gas Buang
Dari pembahasan di atas, tentang kandungan senyawa – senyawa dari Gas Buang
Kendaraan. Serta dampak negatif yang diakibatkan oleh senyawa – senyawa gas buang tersebut.
Maka untuk itu perlu diterapkannya standar emisi gas buang yang lebih baik, agar dapat
mengendalikan emisi gas buang dari kendaraan. Sehingga berakibat pada pengurangan polusi
udara ataupun dampak negatif dari senyawa – senyawa tersebut.
Sejatinya emisi gas buang di dunia mengacu pada dua standar, yakni Amerika dan
Eropa. Yang bertanggungjawab mengawasi emisi gas buang di Amerika adalah Environmental
Protection Agency (EPA). Kategori masing-masing kendaraan dibagi dalam istilah Tier, yang
kemudian dibagi lagi tergantung pada emisi yang dihasilkan oleh kendaraan tersebut.
Kategori Euro terbagi menjadi 6 level, dimana Indonesia berada pada level Euro2.
Bila dibandingkan dengan negara tetangga, standar ini cukup tertinggal. Pada dasarnya
pembagian kategori Euro didasarkan pada emisi yang dihasilkan oleh kendaraan tersebut.
Pengambilan data umumnya dilakukan ketika idle atau keadaan berhenti.
Kadar emisi yang dihasilkan dari pipa gas buang menentukan kategorinya, dimana
unsur yang dilimitasi adalah kadar Nitrogen Oksida (NOx), Hidrokarbon (HC), dan Karbon
Monoksida (CO). Dan penentuan kategori Euro untuk sebuah negara mengacu kepada peraturan
pemerintah setempat, baik untuk mesin bensin maupun mesin diesel, dimana persyaratan untuk
mesin diesel lebih ketat.

Berikut keputusan pemerintah tentang stadarisasi atau ambang batas emisi gas
buang :

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP


NOMOR 05 TAHUN 2006
TENTANG
AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG
KENDARAAN BERMOTOR LAMA
MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
Menimbang :

19
a. bahwa pencemaran udara dari emisi gas buang kendaraan bermotor semakin meningkat,
sehingga perlu upaya pengendalian emisi gas buang kendaraanbermotor;
b. bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP- 5/MENLH/10/1993
tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Lama tidak sesuai lagi
dengan perkembangan sehingga perlu diperbaharui;
Mengingat :
1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3480);
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3699);
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3839);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 64, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3530);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 86, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3853);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Pusat dan
Kewenangan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000
Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952);
7. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia;

MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG :
AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR.
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan :
20
1. Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Lama adalah batas maksimum zat
atau bahan pencemar yang boleh dikeluarkan langsung dari pipa gas buang kendaraan
bermotor lama;
2. Kendaraan Bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang
berada pada kendaraan itu;
3. Kendaraan Bermotor Lama adalah kendaraan yang sudah diproduksi, dirakit atau diimpor
dan sudah beroperasi di wilayah Republik Indonesia;
4. Uji emisi kendaraan bermotor lama adalah uji emisi gas buang yang wajib dilakukan
untuk kendaraan bermotor lama secara berkala;
5. Menteri adalah Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pengelolaan
lingkungan hidup;
6. Gubernur adalah Kepala Daerah Provinsi;
7. Bupati/Walikota adalah Kepala Daerah Kabupaten/Kota.

Pasal 2
Ruang lingkup peraturan ini meliputi ambang batas emisi gas buang, metode uji, prosedur
pengujian, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan penaatan ambang batas emisi gas buang
kendaraan bermotor lama.

Pasal 3
(1) Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Lama sebagaimana tercantum
dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini.
(2) Metode uji kandungan CO dan HC sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 diukur pada
kondisi tanpa beban (idle) sedangkan kandungan asap diukur pada kondisi percepatan
bebas (free accelaration).
(3) Prosedur pengujian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 mengacu pada Lampiran II
Peraturan Menteri ini yang meliputi:
a. Cara uji kadar CO/HC untuk kendaraan bermotor kategori M, N dan O m(roda empat
atau lebih) berpenggerak cetus api pada kondisi idle menggunakan SNI 19-7118.1-
2005.
b. Cara uji kadar opasitas asap untuk kendaraan bermotor kategori M, N dan O (roda
empat atau lebih) berpenggerak penyalaan kompresi pada kondisi akselerasi bebas
menggunakan SNI 19-7118.2-2005.
21
c. Cara uji kadar CO/HC untuk kendaraan bermotor kategori L (sepeda motor)pada
kondisi idle menggunakan SNI 19-7118.3-2005.
(4) Format pelaporan pelaksanaan uji emisi sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) huruf a, huruf b, dan huruf c tercantum dalam Lampiran III Peraturan Menteri ini.
(5) Lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (3), dan ayat (4) serta perubahan-
perubahannya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri Ini.

Pasal 4
(1) Setiap kendaraan bermotor lama wajib memenuhi ambang batas emisi gas buang
kendaraan bermotor lama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1).
(2) Setiap kendaraan bermotor lama wajib melakukan uji emisi sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.

Pasal 5
Pengujian emisi kendaraan bermotor lama dilakukan di tempat pengujian milik pemerintah
atau swasta yang telah mendapat sertifikasi berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Pasal 6
(1) Bupati/Walikota melaksanakan uji emisi kendaraan bermotor lama yang terdaftar di
daerahnya.
(2) Bupati/Walikota dapat bekerjasama dengan Bupati/Walikota lain dalam melaksanakan
uji emisi kendaraan bermotor lama sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Bupati/Walikota melakukan evaluasi pelaksanaan uji emisi kendaraan bermotor lama
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan menyampaikan laporan pelaksanaan uji emisi
kepada Gubernur minimal 6 (enam) bulan sekali.
(4) Bupati/Walikota mengumumkan hasil uji emisi minimal 1 (satu) tahun sekali kepada
masyarakat melalui media cetak maupun elektronik

Pasal 7
(1) Gubernur mengkoordinasikan kegiatan pelaksanaan uji emisi di daerahnya.
(2) Gubernur melaksanakan evaluasi kegiatan uji emisi minimal 1 (satu) tahun sekali dan
mengumumkan hasil uji emisi berkala kepada masyarakat melalui media cetak maupun
elektronik.
22
(3) Gubernur melaporkan hasil uji emisi yang dilaksanakan oleh Bupati/Walikota di
wilayahnya kepada Menteri sekurang-kurangnya 1(satu) tahun sekali.

Pasal 8
(1) Gubernur dapat menetapkan ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor lama di
daerahnya sama atau lebih ketat dari ambang batas kendaraan bermotor lama
sebagaimana yang tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini.
(2) Gubernur dapat menetapkan ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor lama di
daerahnya dengan tidak menambah maupun mengurangi parameter yang tercantum
dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini.
(3) Dalam hal Gubernur belum menetapkan ambang batas emisi gas buang kendaraan
bermotor lama di daerahnya maka berlaku ambang batas emisi gas buang kendaraan
bermotor lama dalam Peraturan Menteri ini.

Pasal 9
Dalam rangka penaatan ambang batas emisi gas buang kendaran bermotor lama, Menteri
berwenang:
a. mengevaluasi pelaksanaan penaatan ambang batas emisi gas buang kendaraan
bermotor lama;
b. melakukan uji petik emisi (spot check) dalam rangka pengumpulan data;
c. memberikan pembinaan (bimbingan teknis) terhadap pelaksanaan penaatan ambang
batas kendaraan bermotor lama.

Pasal 10
Pembiayaan atas pelaksanaan uji emisi kendaraan bermotor lama di daerah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7 dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah.

Pasal 11
Ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor lama dievaluasi sekurangkurangnya
sekali dalam 5 (lima) tahun.

23
Pasal 12
Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor : KEP-35/MENLH/10/1993 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang
Kendaraan Bermotor dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 13
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Beberapa istilah pada standarisasi di atas :


1. Kategori M, kendaraan bermotor beroda empat atau lebih dan digunakan untuk angkutan
orang
2. kategori N, kendaraan bermotor beroda empat atau lebih dan digunakan untuk angkutan
barang
3. kategori O, kendaraan bermotor penarik untuk gandengan atau tempel
4. idle, kondisi dimana mesin kendaraan pada putaran dengan:
a) sistem kontrol bahan bakar (misal: choke, akselerator) tidak bekerja;
b) posisi transmisi netral untuk kendaraan manual atau semi otomatis;
c) posisi transmisi netral atau parkir untuk kendaraan otomatis;
d) perlengkapan atau asesoris kendaraan yang dapat mempengaruhi putaran tidak
dioperasikan atau dapat dijalankan atas rekomendasi manufaktur.

Standar Pengujian Emisi Gas Buang Kendaraan :


a. Cara uji kendaraan bermotor kategori M, N, dan O berpenggerak penyalaan cetus api
pada kondisi idle, (SNI 19-7118.1-2005) :
• Prinsip pengujian :
Pengujian idle dilakukan dengan cara menghisap gas buang kendaraan
bermotor alat uji as analyser kemudian diukur kandungan karbon monoksida (CO)
dan hidro karbon (HC)
• Peralatan :
a) Alat ukur gas (analyzer);
Alat uji emisi gas buang yang digunakan sebagaimana persyaratan yang diberikan
oleh ISO 3930 atau OIML R99;
b) Alat ukur temperatur oli mesin;

24
c) Alat ukur putaran mesin;
d) Alat ukur temperatur lingkungan.
• Persiapan Kendaraan Uji :
Persiapan kendaraan uji dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
a) Kendaraan yang akan diukur komposisi gas buang harus diparkir pada tempat
yang datar.
b) Pipa gas buang (knalpot) tidak bocor.
c) Temperatur mesin normal 600C sampai dengan 700 C atau sesuai rekomendasi
manufaktur.
d) Sistem asesoris (lampu, AC) dalam kondisi mati.
e) Kondisi temperatur tempat kerja pada 200 C sampai dengan 350C.
• Persiapan Peralatan :
Persiapan gas analyzer dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
a) Pastikan bahwa alat dalam kondisi telah terkalibrasi;
b) Hidupkan sesuai prosedur pengoperasian (sesuai dengan rekomendasi manufaktur
alat uji).
• Pengukuran dan Pencatatan :
Pengujian komposisi gas CO, dan HC menggunakan dengan tahapan sebagai
berikut:

a) persiapkan kendaraan uji sesuai langkah 4.3;


b) siapkan alat uji sesuai langkah 4.4;
c) naikkan (akselerasi) putaran mesin hingga mencapai 2.900 rpm sampai dengan
3.100 rpm kemudian tahan selama 60 detik dan selanjutnya kembalikan pada
kondisi idle;
d) selanjutnya lakukan pengukuran pada kondisi idle dengan putaran mesin 600 rpm
sampai dengan 1000 rpm atau sesuai rekomendasi manufaktur;
e) masukkan probe alat uji ke pipa gas buang sedalam 30 cm, bila kedalaman pipa
gas buang kurang dari 30 cm maka pasang pipa tambahan;
f) tunggu 20 detik dan lakukan pengambilan data kadar konsentrasi gas CO dalam
satuan persen (%), dan HC dalam satuan ppm yang terukur pada alat uji.
CATATAN 1 Untuk pipa gas buang (knalpot) kendaraan terdiri dari dua atau lebih,
maka perlu dilakukan penyambungan dengan pipa tunggal dengan spesifikasi yang
direkomendasikan oleh manufaktur.
25
CATATAN 2 Bila CATATAN 1 secara praktis tidak memungkinkan untuk
dilakukan maka perlu dilakukan pengukuran emisi gas buang pada tiap pipa gas
buang dan hasil yang diperoleh dirata-rata;
CATATAN 3 Untuk gas analyser yang mempunyai kemampuan mengukur
parameter CO2, maka parameter CO (karbon monoksida) yang ditampilkan adalah
CO terkoreksi.

26
Tabel 1. Pengaruh Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU)

Sulfur
Karbon monoksida Nitrogen
Kategori Rentang Ozon (O3) dioksida Partikulat
(CO) (NO2)
(SO2)

Luka pada Luka pada


Beberapa Beberapa
spesies spesies
tumbuhan tumbuhan
Sedikit
Baik 0-50 Tidak ada efek akibat akibat Tidak ada efek
berbau
kombinasi kombinasi
dengan SO2 dengan O3
(Selama 4 (Selama 4
Jam) Jam)

Sedang 51 - 100 Perubahan kimia Berbau Luka pada Luka pada Terjadi penurunan pada
darah tapi tidak Beberapa Beberapa jarak pandang
terdeteksi spesies spesies

27
tumbuhan tumbuhan

Bau dan
kehilanga
n warna.
Peningkat Penurunan
Peningkatan pada Bau,
an kemampuan Jarak pandang turun
Tidak kardiovaskular Meningkatny
101 - 199 reaktivitas pada atlit dan terjadi pengotoran
Sehat pada perokok yang a kerusakan
pembuluh yang berlatih debu di mana-mana
sakit jantung tanaman
tenggorok keras
an pada
penderita
asma

Meningkatnya Olah raga


Meningka
kardiovaskular ringan
tnya
pada orang bukan mengakibatka Meningkatny
sensitivita
perokok yang n pengaruh a sensitivitas Meningkatnya
Sangat s pasien
berpenyakit parnafasan pada pasien sensitivitas pada pasien
Tidak 200-299 yang
Jantung, dan akan pada pasien berpenyakit berpenyakit asma dan
Sehat berpenyak
tampak beberapa yang asma dan bronchitis
it asma
kelemahan yang berpenyaklt bronchitis
dan
terlihat secara paru-paru
bronchitis
nyata kronis

Berbaha 300 -
Tingkat yang berbahaya bagi semua populasi yang terpapar
ya lebih

Sumber: Bapedal [1]

Tabel 2. Sumber dan Standar Kesehatan Emisi Gas Buang

Pencemar Sumber Keterangan

Karbon monoksida Buangan kendaraan bermotor; Standar kesehatan: 10 mg/m3 (9


(CO) beberapa proses industri ppm)

Panas dan fasilitas pembangkit Standar kesehatan: 80 ug/m3 (0.03


Sulfur dioksida (S02)
listrik ppm)

Buangan kendaraan bermotor; Standar kesehatan: 50 ug/m3 selama


Partikulat Matter
beberapa proses industri 1 tahun; 150 ug/m3

28
Nitrogen dioksida Buangan kendaraan bermotor; Standar kesehatan: 100 pg/m3 (0.05
(N02) panas dan fasilitas ppm) selama 1 jam

Standar kesehatan: 235 ug/m3 (0.12


Ozon (03) Terbentuk di atmosfir
ppm) selama 1 jam

Sumber: Bapedal [2]


Berikut Standar Emisi Gas Buang berdasarkan Euro Union :

Penerapan standar tersebut oleh beberapa negara :

29
30
Bab III
KESIMPULA DAN SARAN
1. Kesimpulan
a. Kendaraan menghasilkan emisi gas buang, dimana terdapat senyawa – senyawa
penyusunnya. Diantaranya adalah HC, CO, CO2, O2, Pb dan senyawa Nox.
b. Senyawa – senyawa tersebut sangat berbahaya. Karena berasal dari sisa – sisa
pembakaran ayng tidak sempurna, yang bisa berdampak negatif terhadap manusia dan
kesehatannya, serta lingkungan sekitar.
c. Standarisasi bermanfaat untuk mengendalikan tingkat emisi gas buang dari kendaraan.
d. Standarisasi di Indoneisa mengikuti standar dari Eropa Union, dimana Indonesia masih
menggunakan Europe II.

2. Saran
Kami harapkan dari pembaca makalah ini, apabila menemukan kekuranga atau
kesalahan baik dalam penulisan maupun penyusunannya. Mohon diberikan masukkan yang
bersifat membangun menuju arah yang lebih baik kedepannya. TERIMA KASIH.

31
DAFTAR PUSTAKA
www.kpbb.org/makalah_ind/Emisi
http://otomotifnet.com/read/xml2009/08/24

32