Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR DASAR AGRONOMI

PENGENALAN DAN PENGENDALIAN GULMA

Oleh: MUHAMMAD NASIR 05121007048

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

INDRALAYA 2013

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dalam suatu areal pertanaman, kemunduran produksi merupakan hal yang sering terjadi. Salah satu faktor yang mempengaruhi kemunduran produksi adalah karena Adanya gangguan gulma. Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena dapat merugikan dalam hal menurunkan hasil produksi yang bisa dicapai oleh tanaman. Kehadiran gulma sebagai organisme pengganggu tanaman (OPT) pada lahan pertanian dapat mengakibatkan terjadinya kompetisi atau persaingan dengan tanaman pokok (tanaman budidaya) dalam hal penyerapan unsur-unsur hara, penangkapan cahaya, penyerapan air dan ruang lingkup, mengotori kualitas produksi pertanian, misalnya pengotoran benih oleh bijibiji gulma, dapat mengeluarkan zat atau cairan yang bersifat toksin (racun) serta sebagai tempat hidup atau inang tempat berlindungnya hewan-hewan kecil, insekta dan hama sehingga memungkinkan hewan-hewan tersebut dapat berkembang biak dengan baik, mengganggu kelancaran pekerjaan para petani, sebagai perantara atau sumber hama dan penyakit, mengganggu kesehatan manusia, menaikkan ongkosongkos usaha pertanian dan menurunkan produktivitas air. Dalam kurun waktu yang panjang, kerugian akibat gulma dapat lebih besar daripada kerugian akibat hama atau penyakit. Olehnya, untuk menangani masalah gulma, maka perlu dilakukan identifikasi gulma yang dimaksudkan untuk membantu para petani dalam usaha menentukan program pengendalian gulma secara terarah sehingga produksi dapat ditingkatkan sebagaimana yang diharapkan. Adapun

pengendalian gulma dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan cara preventif (pencegahan), secara fisik, pengendalian gulma dengan sistem budidaya, secara biologis, secara kimiawi dan secara terpadu.

B. Tujuan Tujuan dari praktikum pengendalian gulma adalah untuk mengenal jenis jenis gulma serta dapat mengkkasifikasikan gulma serta mengetahui bagaimana cara pengendalian yang harus dilakukan dengan tepat.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Selain hama dan penyakit yang menyerang tumbuhan dan merugikan petani, gulma juga perlu mendapat perhatian khusus. Pada petani kadang kurang memperhatikan gulma sehingga dalam kurun waktu tertentu populasi gulma sudah melebihi batas. Gulma gulma ini akan berkompetisi dengan tanaman utama dalam mendapatkan unsur hara yang diperlukan pertumbuhannya. Gulma dapat menjadi tempat persembunyian hama. Pembersihan gulma sangat penting untuk menekan perkembangan hama yang dapat menyerang tumbuhan.

Gulma merupakan tumbuhan yang berasal dari spesies liar yang telah lama menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, atau spesies baru yang telah berkembang sejak timbulnya pertanian. Setiap kali manusia berusaha mengubah salah satu atau seluruh faktor lingkungan alami, seperti pembukaan hutan, pengolahan tanah, pengairan dan sebagainya, maka selalu akan berhadapan dengan masalah baru karena tumbuhnya tumbuhan yang tidak diinginkan yang merupakan salah satu akibat dari perubahan tersebut. Gulma mudah tumbuh pada setiap tempat atau daerah yang berbeda-beda, mulai dari tempat yang miskin nutrisi sampai tempat yang kaya nutrisi, dapat bertahan hidup pada daerah kering, lembab bahkan tergenang, mampu beregenerasi atau memperbanyak diri besar sekali, dapat berkembang biak dengan cepat, mempunyai zat berbentuk senyawa kimia seperti cairan berupa toksin (racun) yang dapat mengganggu atau menghambat pertumbuhan tanaman pokok, bagian-bagian tumbuhan gulma yang lain dapat tumbuh menjadi individu gulma yang baru, seperti

akar, batang, umbi dan lain sebagainya, sehingga memungkinkan gulma unggul dalam persaingan (berkompetisi) dengan tanaman budidaya, dapat dibedakan menjadi beberapa golongan atau kelompok berdasarkan bentuk daun, daerah tempat hidup (habitat), daur atau siklus hidup, sifat botani dan morfologi,serta cara perkembangbiakan. Berdasarkan daur hidupnya, gulma dibedakan menjadi : A. Gulma Semusim (Annual Weeds) Gulma ini hanya berumur kurang dari satu tahun. Umumnya berkembang biak dengan biji, pertumbuhannya cepat, dengan kemampuan bereproduksi yang amat tinggi. Setelah biji masak, biasanya gulma akan mati.Biji yang dihasilkan pada tahun pertama umumnya akan mengalami dormansi, dan tumbuh kembali pada tahun berikutnya. Ada gulma daun lebar semusim, teki semusim, dan rumput semusim sebenarnya gulma ini secara ekonomis merupakan gulma penting pada tanaman padi. Eksistensinya karena melimpahkan produksi biji. Dengan contoh : - Bayam Duri (Amaranthus spinosus L.), - Ekor Tikus (Heliotripium indicum L.), - Urang Aring (Eclipta prostrate L.), - Babadotan (Ageratum conyzoides L.), - Teki (Cyperus compressus L.), - Jekeng atau Teki Rendul (Cyperus iria L.), - Jampang Piit (Digitaria adscendens (H.B.K.) Hern.), - Jajagoan Leutik (Echinochloa colonum (L) Link.), dan

- Rumput empirit (Era-grotis amabilis O.K.), - Padi merah (Oryza sativa). B. Gulma Dwi Musim (Biennial Weeds) Gulma ini berumur antara 1 - 2 tahun. Pertama gulma tersebut tumbuh secara vegetatif dalam bentuk roset, lalu pada tahun berikutnya membentuk organ generatif dengan menghasilkan bunga, memproduksi biji lalu mati. Gulma dwi musim banyak dijumpai di daerah-daerah yang memiliki 4 musim. Dengan contoh : - Daun Sendok (Plantago sp.), - Sunduk welut (Cyperus difformis L.), - Putri Malu (Mimosa pudica L.), - Wortel liar (Daucus carata), - Dandelion (Taraxacum spp.), - Bull thistle (Cirsium vulgare), - Common mullein (Verbascum thapsus), - Burdock (Arctium sp.), - Black-berry ( Rubus sp.) C. Gulma Tahunan (Perenial Weeds) Gulma tahunan berumur lebih dari 2 tahun. Umumnya berkembang biak secara vegetatif, namun ada beberapa spesies yang berkembang biak secara vegetatif dan generatif. Organ perkembangbiakan vegetatif berupa akar , rimpang, umbi dan stolon. Pemotongan organ-organ tersebut biasanya terjadi pada saat pengolahan tanah.

Contoh gulma tahunan: - Kremek (Alternanthera sessilis (L.) D.C.), - Jukut ibun (Drymaria cordata Willd.), - Teki (Cyperus rotundus L.), - Si juru atau wlingi (Scirpus grossus L.), - Papahitan (Axonopus compressus (Swatz) Beauv), - Jajahean atau lampuyangan (Panicum repens L.), - Kakawatan (Cyndon dactylon L. Pres), - Alang-alang (Imperata cylindrical (L.) Beauv), - Kolomento (Leersia hexandra Swartz), dan - Tembelekan (Lantana camara L.). Hubungan gulma dengan : 1. TANAMAN LAIN Hubungan gulma dengan tanaman lain dapat berupa kompetisi yang dapat diartikan sebagai persaingan dua organisme atau lebih dalam meraih makanan dan tempat hidup yang sama, seperti unsur hara, air, cahaya, bahan ruang tumbuh, dan CO2. Persaingan akan terjadi apabila unsur penunjang pertumbuhan tersebut terbatas. Persaingan antara gulma dengan tanaman adalah persaingan inter spesifik (Inter specific competition). Kemampuan tanaman bersaing dengan gulma tergantung pada spesies gulma, kepadatan gulma, saat dan lama persaingan, cara budidaya dan varietas yang ditanam, serta tingkat kesuburan tanah. Perbedaan spesies, akan menentukan kemampuan bersaing karena perbedaan system fotosintesis, kondisi perakaran dan keadaan

morfologinya. Gulma yang muncul atau berkecambah lebih dulu atau bersamaan dengan tanaman yang dikelola, berakibat besar terhadap pertumbuhan dan hasil panen tanaman. Persaingan gulma pada awall pertumbuhan akan mengurangi kuantitas hasil, sedangkan persaingan dan gangguan gulma menjelang panen berpengaruh besar terhadap kualitas hasil. Persaingannya berupa : a. Persaingan dalam memperoleh air Air di serap dari dalam tanah kemudian sebagian besar diuapkan (transpirasi), hanya sekitar 1% saja yang dipakai untuk proses fotosintesis. Untuk setiap kilogram bahan organik, gulma membutuhkan 330-1900 liter air. Kebutuhan yang besar tersebut hampir dua kali kebutuhan tanaman. b. Persaingan dalam memperoleh unsur hara Gulma menyerap lebih banyak unsur hara dari pada tanaman. Pada bobot kering yang sama gulma mengandung kadar nitrogen dua kali lebih banyak dari jagung. c. Persaingan dalam memperoleh cahaya Dalam keaadaan air dan hara yang cukup untuk pertumbuhan tanaman, maka faktor pembatas berikutnya adalah cahaya matahari. Bila musim hujan, maka berbagai tanaman akan berebut untuk memperoleh cahaya matahari. d. Pengeluaran senyawa beracun. Tumbuhan juga dapat bersaing antara sesamanya dengan cara interaksi biokimia, yaitu salah satunya dengan mengeluarkan senyawa beracun, yang akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan tanaman lain. Interaksi biokimia antara gulma dan tanaman ini dapat menyebabkan gangguan perkecambahan biji, kecambah jadi

abnormal. Persaingan yang timbul akibat hal ini adalah dikeluarkannya zat racun dari suatu tumbuhan yang disebut allelopathy.

2. FAKTOR ABIOTIK. 1. Klimatik (iklim) Faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan, reproduksi dan distribusi gulma, yaitu cahaya, temperatur, air, angin, dan aspek-aspek musiman dari faktor-faktor tersebut. Seperti halnya dengan tumbuhan, gulma memerlukan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhannya, meskipun demikian kita dapat membatasi dan mengendalikan distribusinya dengan memodifikasi lingkungan tersebut. 2. Edapik Faktor tanah yang sangat mempengaruhi distribusi gulma antara lain adalah kelembaban tanah, aerasi, pH tanah, unsur-unsur makanan dan hara dalam tanah dan lain-lain. Beberapa spesies gulma dapat tumbuh dengan sempurna pada tanah yang mempunyai kondisi tertentu. Kelembaban tanah mempengaruhi munculnya gulma di sawah-sawah.

3. FAKTOR BIOTIK Tumbuhan dan hewan merupakan faktor biotik yang berpengaruh terhadap pertumbuhan gulma dan distribusinya. Tumbuhan dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi, dan hewan dari mikroorganisme sampai makroorganisme. Contohnya Lantana camara (saliara) dapat mengendalikan pertumbuhan gulma yang berada di bawah gulma tersebut.

Pengendalian gulma memerlukan strategi yang khas untuk setiap kasus. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan pengendalian gulma antara lain a)Jenis gulmadominan b) Tanaman budi daya utama c) Alternatif pengendalian yang tersedia d) Dampak ekonomi dan ekologi Saat ini cukup banyak hebisida (pembasmi gulma) yang tersedia di toko pertanian. Meskipun demikian, kita perlu hati hati dalam memilih dan menggunakan herbisida. Memperhatikan cara pemakaian herbisida dengan benar sangatlah dianjurkan.Tujuan pembersihan gulma antara lain untuk mengurangi tumbuhan pengganggu yang akan menjadi pesaing tanaman utama. Selain itu juga karena gulma merupakan inang alternetif dan tempat persembunyian hama penyakit. Setelah mempelajari tentang gulma yang selalu merugikan manusia, ada juga gulma yang tidak merugikan bagi siapapun, yaitu tanaman Rosela (Hibiscus sabdariffa l.), entah kenapa tanaman ini termasuk gulma, kami mendapatkan ini dari satu media Internet yang membahas tentang hama dan penyakit tumbuhan. Padahal pengertian dari gulma itu sendiri yaitu tanaman pengganggu yang menekan pertumbuhan hama dan penyakit, dilihat dari sisi manfaat tanaman rosela banyak sekali, antara lain mengatasi batuk, lesu, demam, gusi berdarah, penahan kekejangan, anti cacing, anti bakteri, anti septik, menurunkan kolesterol dalam darah, asam urat. Melihat dari manfaat manfaat tanaman ini, tanaman ini tidak menunjukkan tanaman yang mendatangkan penyakit bagi manusia, malah kebalikannya, tanaman ini dapat menyembuhkan beberapa penyakit manusia, jadi mengapa banyak orang yang

menyebut tanaman ini menjadi tanaman gulma? Karena tanaman rosela ini mudah sekali terserang penyakit dan menularkannya ke tumbuhan lain, dan banyak sekali hewan hewan hama hinggap di daun / batangnya.

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

A. Tempat Dan Waktu Praktikum dasar dasar agronomi tentang pengenalan dan pengendalian gulma dilaksanakan pada hari senin tanggal 8 April 2013 pada pukul 09.50 sampai 12.30 WIB dan bertempat di Laboratorium Ekologi Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.

B. Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan yaitu pensil , pena , penghapus, penggaris, dan pensil warna atau spidol.

C. Cara Kerja Cara kerja dalam praktikum sarana produksi adalah sebagai berikut : 1.Amati gulma yang ada di sekitar fakultas pertanian atau di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian. 2.Catat nama gulma, siklus hidup tanaman, morfologi, habitat, serta deskripsi lainnya. 3. Gambar tumbuhan/ gulma tersebut.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil 1. Annual Gambar:

Nama Lokal Nama Ilmiah Klasifikasi

Bayam Duri Amaranthus sp Kingdom: Plantae Divisio: Magnoliophyta Sub divisio: Spermatophyta Class: Magnoliopsida Sub class: Hamamelidae Ordo: Caryphyllales Famili: Amaranthaceae Genus: Amaranthus

Spesies: Amaranthus sp

Gambar:

Nama Lokal Nama Ilmiah Klasifikasi

Wedusan Ageratum conyzoides Kingdom: Plantae Divisio: Magnoliophyta Sub divisio: Angiospermae Class: Dicotyledoneae Ordo: Asterales Famili: Asteraceae Genus: Ageratum Spesies: Ageratum conyzoides

2.Perenial Gambar:

Nama Lokal Nama Ilmiah Klasifikasi

Ilalang Imperata cylindrica Kingdom: Plantae Divisio: Magnoliophyta Sub divisio: Spermatophyta Class: Liliopsida Sub class: Commelinidae Ordo: Poales Famili: Poaceae Genus: Imperata Spesies: Imperata cylindrica

Gambar:

Nama Lokal Nama Ilmiah Klasifikasi

Rumput teki Cyperus rotundus Kingdom: Plantae Divisio: Magnoliophyta Sub divisio: Spermatophyta Class: Liliopsida Sub class: Commelinidae Ordo: Cyperales Famili: Cyperaceae Genus: Cyperus Spesies: Cyperus rotundus

3.Biannual Gambar:

Nama Lokal Nama Ilmiah Klasifikasi

Putri malu Mimosa pudica Kingdom: Plantae Divisio: Magnoliophyta Sub divisio: Spermatophyta Class: Magnoliopsida Sub class: Rosidae Ordo: Fabales Famili: Fabaceae Genus: Mimosa Spesies: Mimosa pudica

B. Pembahasan Pengendalian gulma secara kimiawi adalah pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida. Yang dimaksud dengan herbisida adalah senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma, baik secara selektif maupun non selektif. Macam herbisida yang dipilih bisa kontak maupun sistemik, dan penggunaannya bisa pada saat pratanam, pratumbuh atau pasca tumbuh. Keuntungan pengendalian gulma secara kimiawi adalah cepat dan efektif, terutama untuk areal yang luas. Selain itu manfaat pengendalian ini memungkinkan pembasmian hingga mencapai daerah perakaran. Keadaan ini akan mematikan gulma. Perkecambahan individu baru gulma akan muncul relatif lebih lama setelah beberapa bulan pengendalian dibandingkan cara pengendalian lainnya. Gulma yang terkena racun herbida akan mati, dengan demikian individu produktif akan berkurang, bahkan akan habis jika pengendalian dilakukan dengan cermat dan akurat. Beberapa segi negatifnya ialah bahaya keracunan tanaman, mempunyai efek residu terhadap alam sekitar, selain itu penggunaan khemikalia yang kurang tepat juga akan berdampak terhadap peningkatan daya tahan individu gulma.. Sehubungan dengan sifatnya ini maka pengendalian gulma secara kimiawi ini harus merupakan pilihan terakhir apabila cara-cara pengendalian gulma lainnya tidak berhasil. Untuk berhasilnya cara ini memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang cukup. Pengendalian khemikalia sangat efektif untuk tujuan mematikan induk penghasil benih, dan juga seedling-seedling muda.

Praktikum tentang pengendalian gulma yang telah dilaksanakan adalah pengendalian cara kimiawi dengan herbisida yaitu dengan penyemprotan. Tentang arah penggunaan herbisida dengan alat penyemprotan dapat diberikan secara : langsung pada gulmanya langsung pada gulma yang tumbuh terpencar langsung pada gulma dalam larikan diberikan di atas tanaman diberikan pada keseluruhan tanaman dan gulma

ada beberapa cara untuk menentukan jumlah 1 semprotan per ha. Metode penyemprotan yang dirasa agak tepat adalah penyemprotan yang telah diketahui ukurannya. Diawali dengan tangki penuh dan pengukuran 1 yang diperlukan untuk mengisi kembali tangki setelah penyemprotan sebuah ukuran luas yang diketahui, 1 per ha dapat dengan cepat dihitung. Ukuran dari luasan yang disemprot membutuhkan luasan yang cukup untuk memberikan pengukuran yang tepat dari semprotan yang dipergunakan. Perlu diperhatikan bahwa kecepatan dan tekanan tidak boleh terlalu berbeda dengan penyemprotan lapang yang sesungguhnya. Penyemprotan membutuhkan alat penyemprot dan larutan herbisida yang disemprotkan. Larutan herbisida dapat pula ditentukan. Penentuannya dengan menghitung. Untuk keperluan ini ditentukan beberapa pengertian tentang bahan aktif, ekuivalen asam, ppm dan % kadar. Sebelum penyemprotan, tindakan yang penting untuk diingat adalah menjaga agar penyemprotan secara myeluruh harus bersih. Jelasnya, tangki harus bersih dari bekas

penggunaan

sebelumnya.

Larutan

harus

homogen,

kaliberasi

seyogyanya

dilaksanakan beberapa kali. Pengendalian mekanis merupakan usaha menekan pertumbuhan gulma dengan cara merusak bagian-bagian sehingga gulma tersebut mati atau

pertumbuhannya terhambat. Teknik pengendalian ini hanya mengandalkan kekuatan fisik atau mekanik. Cara ini umumnya cukup baik dilakaukan pada berbagai jenis gulma setahun, tetapi pada kondisi tertentu juga efektif bagi gulma-gulma tahunan Pengendalian gulma dengan herbisida dapat menimbulkan terbentuknya populasi gulma resisten atau toleran herbisida. Mempelajari cara kerja herbisida dalam mematikan tumbuhan sangat diperlukan. Tujuan mengetahui cara kerja dalah untuk memantapkan jenis- jenis herbisida yang digunakan unyuk mengendalikan gulma pada kondisi tertentu. Contoh Growth regulator, dapat mematikan tumbuhan dengan cara menghambat mekanisme hormone tumbuhan, sehingga menyebabkan hormon yang abnormal dan akhirnya akan mati. Sedangkan herbisida yang cara kerjanya menghambat proses fotosintesis adalah yang termasuk golongan Triazine, Urea, Uracil dan Amida. Herbisida yang bekerja sebagai mitotic poison umumnya menghambat pembentukan sel biji yang normal sehingga biji gulma tidak akan berkecambah, contoh golongan Carbamat, Dinitroanilin, dan Amida. Herbisida yang cara kerjanya menghambat proses metabolism protein umumnya herbisida yang bersifat sistemik, contohnya, golongan Alifatik, (Dalapon, TCA)dan golongan Glycine (Glyphosate) Metode Pengendalian Gulma A. Preventif

B. Mekanis C. Kultur Teknis D. Biologis E. Kimiawi F. Terpadu A. Preventif (Pencegahan) Pengendalian gulma secara preventif dapat dilakukan melalui: mencegah invasi gulma , mencegah menetapnya gulma, dan/atau mencegah menyebarnya suatu species gulma ke suatu daerah yang sebelumnya tidak perbah ditumbuhi gulma tersebut Tindakan preventif:

Menanam benih bebas dari biji gulma Menggunakan pupuk kandang yang bebas gulma Menggunakan alat panen yang bersih dan bebas gulma Memberantas gulma yang tumbuh dan menyebar di sekitar daera irigasi dan areal tanam

Semua tindakan diatas akan lebih efektif bila diikuti oleh:


Program pendidikan penelitian Regulasi dan/atau karantina

B. Mekanis Cara ini telah dilaksanakan jauh sebelum penemuan herbisida

1. Hand-weeding (pencabutan)

Paling efektif untuk gulma yg baru tumbuh, gulma yg masih muda, terutama gulma semusim

Tdk efektif dlm mengendalikan gulma tahunan yg telah kuat tumbuhnya dimana organ perbanyakan vegetatifnya yg terdapat di bawah permukaan tanah tdk akan terganggu oleh pencabutan

Baik utk mengendalikan gulma di pekarangan atau di kebun yang tdk terlalu luas

2. Tillage (mengolah tanah)

Tdk satupun cara olah tanah yang sesuai untuk semua kondisi pertanian, sehingga membutuhkan beberapa fleksibilitas

Cara ini dapat menimbun gulma dan biji-bijinya, memisahkan sistem perakaran, menyebabkan gulma di atas permukaan tanah menjadi mengering dan/atau dapat menstimulasi perkecambahan biji gulma agar selanjutnya dapat dikendalikan

Biasanya digunakan cangkul atau bajak Masih bertahan sbg alat pengendali gulma sampai saat ini di hampir seluruh tempat di dunia

Sangat efektif untuk gulma semusim yang baru tumbuh Gulma akan segera mati bila semua bagian gulma bisa dibenamkan Tdk efektif membenamkan gulma tahunan yg punya alat perbanyakan yg terbenam di dalam tanah (teki dan alang-alang)

3. Mowing (Pembabatan)

Terbatas penggunaannya, terutama dilakukan untuk mengurangi produksi biji gulma dan untuk membatasi pertumbuhan gulma tertentu pada pekarangan, lapangan golf, dan sepanjang tepi jalan.

4. Mulching (Pemulsaan) Mulsa dapat mengurangi perkecambahan biji-biji gulma dan mengurangi terbentuknya seed-bank, melalui

Menyekat/membatasi tanah dari variasi t harian agar dapat mengurangi perkecambahan banyak species gulma

Mencegah cahaya mencapai biji gulma di permukaan tanah, sehingga mencegahperkecambahan bij gulma yg butuh cahaya dlm perkecambahan. Selanjutnya, bila biji-biji tsb dapatberkecambah tdk akan mampu tumbuh karena tdk dapat menembus mulsa plastik atau mulsa lai yg tebal; dan

Terlepasnya senyawa fitotoksik dar dekomposisi mulsa organik seperti jerami padi, kulit-kulit kayu dan potongan-potongan kayu yg tdk terdekomposisi sempurna. Hal ini dpt juga mempengaruhi tanaman terutama tanaman yang masih kecil

Untuk pertanian berskala luas, residu tanaman dpt berfungsi sebagai mulsa. Kondisi ini dpt menjadi penyangga terhadap fluktuasi t, mengurangi laju evaporasi air dari permukaan tanah, dan dapat menimbulkan efek allelopati.

Beberapa hambatankendala:

Tdk cukup membatasi pertumbuhan gulma dibawah ambang batas ekonomi, butuh herbisida

Residu tanaman dpt membatasi efisiensi aplikasi herbisida, terutama bila penutupan tdk cukup

Residu tsb dapat membatasi efektivitas pengendalian gulma melalui cara pengolahan tanah

5. Penggenangan

Irrigation dpt digunakan untuk memanipulasi biji gulma dengan cara menstimulasi perkecambahannya, dan kemudian melaksanakan pengendalian yg tepat sebelum tanam (pre-planting).

Dpt mengatasi masalah gulma daratan, terutama Echinochloa cruss-galli. Tetapi, akan muncul gulma air yang lain seperti Cyperus diformis;Sagittar ia montevidensis

Akan efektif bila:


Semua bagian gulma betul-betul terendam Dibatasi oleh jenis tanah (harus kedap air) Tersedianya air dlm jumlah cukup

Esensinya: mencegah pengambilan O2 oleh akar dari tanah karena tanah jadi anaerob 6. Pembakaran Telah lama dilakukan untuk mengendalkan gulma pada daerah non-peseperti sepanjang jalan, sepanjang rel kereta api, dan sepanjang aliran irigasi. 7. Perlakuan Panas

Potting mixtures (media tanam komersial), pada industri hortikultura, sering diperlakukan panas untuk mengendalikan patogen, tetapi sekaligus juga dapat

mengendalikan gulma. Perlakuan uap panas dapat membunuh biji-biji gulma pada t diatas 70C sekurang-kurangnya 30 menit.

Api juga dapat menyebabkan biji gulma jadi steril bergantung pada tingginya suhu

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 1. Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian 2. Gulma dapat menimbulkan kerugian-kerugian karena mengadakan persaingan dengan tanaman pokok, mengotori kualitas produksi pertanian, menimbulkan allelopathy, mengganggu kelancaran pekerjaan para petani, sebagai perantara atau sumber hama dan penyakit, mengganggu kesehatan manusia, menaikkan ongkosongkos usaha pertanian dan menurunkan produktivitas air 3. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan cara preventif (pencegahan), secara fisik, pengendalian gulma dengan sistem budidaya, secara biologis, secara kimiawi dan secara terpadu. B. Saran Ada beberapa cara untuk mengendalikan gulma secara kimiawi maupun mekanis. Namun sebaiknya untuk mengendalikan gulma tidak semestinya membasmi gulma agar ekosistem tidak terganggu.

DAFTAR PUSTAKA

Agrios, G.N. 1997. Plant Pathology. Forth Edition. Academic Press, New York. Ilmu Gulma. (Sitepu dan Asman 1989; Radhakrishan et al. 1997; Asman et al. 1998; Supriadi et al.2000; Nasrun 2005). Madkar, O .R ; Tony, K dan Soepadyo, M. 1986. Masalah gulma dan cara pengendalian. Himpunan ilmu gulma Indonesia. Moenandir, J. 1988. Persaingan Tanaman Budidaya dengan Gulma. Cv Rajawali. Jakarta Utara. Sastroutomo, S. S. 1990. Ekologi Gulma. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Sutidjo, D. 1974. Dasar-dasar Ilmu Pengendalian/Pemberantasan Tumbuhan Pengganggu. Proyek Peningkatan Mutu PT., IPB. Bogor. Triharso. 1996. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Gajdah Mada University Press. Yogyakarta.