Anda di halaman 1dari 23

SISTEM PENGELOLAAN AIR DI RAWA PASANG SURUT

Klasifikasi hidrografi rawa pasang surut


Rawa tipe A, ialah rawa yang selalu terluapi oleh air pasang tertinggi dari adanya variasi elevasi pasang surut air sungai. Rawa tipe B, adalah rawa yang kadang-kadang (tidak selalu tertutupi) oleh air pasang tertinggi dari variasi pasang surut air sungai. Rawa tipe C, adalah rawa yang tidak pernah terluapi oleh air pasang tertinggi dari variasi elevasi pasang surut air sungai, namun memiliki kedalaman muka air tanah tidak lebih dari 50cm dari permukaan tanah. Rawa tipe D, daerah rawa tipe ini ialah rawa yang menurut hydrotopografinya tidak pernah terluapi oleh jangkauan air pasang tertinggi dari elevasi pasang surut air sungai dan memiliki kedalaman air tanah >50 cm dari permukaan tanah.

Sistem Pengelolaan Air


Berdasarkan sistem pengelolaan Makro Mikro Penataan Lahan Berdasarkan karakteristik desain, yaitu: Sistem Handil Sistem Anjir Sistem Garpu Sistem Sisir Berdasarkan fungsi jaringan : Pola sistem terbuka Pola Terkendali terbatas Pola semi terkendali Pola terkendali penuh

Tata Air Makro


adalah penguasaan air ditingkat kawasan/areal reklamasi yang bertujuan mengelola berfungsinya jaringan drainase irigasi seperti navigasi, sekunder, tersier, kawasan retarder, dan sepadan sungai atau laut, saluran intersepsi dan kawasan tampung hujan. Sistem jaringan Tata Air Makro berdasarkan hubungan tata air, yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup Sistem jaringan Tata Air Makro berdasarkan bentuk, yaitu 1) sistem garpu, 2) tangga, 3) sisir tunggal, 4) sisir berpasangan, dan 5) kombinasi garpu dengan sisir UGM juga mengembangkan sistem jaringan tata air makro yang disebut sistem kolam

Tata air mikro


berfungsi untuk : (1) mencukupi kebutuhan evapotranspirasi tanaman, (2) mencegah pertumbuhan tanaman liar pada padi sawah, (3) mencegah terjadinya bahan beracun bagi tanaman melalui penggelontoran dan pencucian, (4) mengatur tinggi muka air, dan (5) menjaga kualitas air di petakan lahan dan di saluran Terbagi menjadi 3 sistem: Sistem satu arah (one flow system) Sistem dua arah Sistem drainase dangkal tipe luapan C

Sistem Handil
Sistem handil merupakan sistem tata air tradisional yang rancangannya sangat sederhana berupa saluran yang menjorok masuk dari muara sungai. Umumnya handil memiliki lebar 2-3 m, dalam 0,5-1 m dan panjang masuk dari muara sungai 2-3 km. Jarak antara handil satu dengan yang lainnya berkisar 200-300 m. Adakalanya panjang handil ditambah atau diperluas sehingga luas yang dikembangkan dapat mencapai 20-60 Hektar. Kelebihan sistem handil : dapat digunakan sebagai jaringan pengairan atau drainasi, sebagai alur transportasi untuk dilewati sejenis sampan atau perahu kecil Kelemahan sistem handil : hanya cocok dikembangkan untuk skala pengembangan yang relatif kecil dan hanya dapat menjangkau luas areal yang terbatas, dan seringkali timbul masalah titik aliran mati (air diam, tidak bergerak) pada ujung saluran

Sistem Garpu
sistem tata air yang dirancang dengan saluran-saluran yang dibuat dari pinggir sungai masuk menjorok ke pedalaman berupa saluran navigasi dan saluran primer., kemudian disusul dengan saluran sekunder yang dapat terdiri atas dua saluran bercabang sehingga jaringan berbentuk menyerupai garpu. Ukuran lebar saluran primer antar 20 m dan dalam sebatas di bawah batas pasang minimal. Ukuran lebar saluran sekuder antara 5-10 m

Kelebihan sistem garpu : Pada ujung saluran sekunder sistem garpu biasanya dibuat kolam, yang berfungsi untuk menampung sementara unsur dan senyawa beracun pada saat pasang, kemudian diharapkan keluar mengikuti surutnya air. Luasan lahan yang dapat dikembangkan dari sistem garpu dapat berkisar sepuluh ribu hektar.
Kelemahan sistem garpu : Biaya yang relatif mahal dalam pemeliharaan kolam. Terjadinya aliran mati pada bagian ujung-ujung saluran yang menjadikan aliran air tidak sempurna. Mutu air sepanjang saluran sekunder pada sistem garpu yang menuju ke arah kolam makin asam sehingga pada kolam penampungan menjadi sumber asam.

Sistem Anjir

disebut juga dengan sistem kanal yaitu sistem air dengan pembuatan saluran besar yang dibuat untuk menghubungkan antara dua sungai besar. Saluran yang dibuat dimaksudkan untuk dapat mengaliri dan membagikan air yang masuk dari sungai untuk pengairan jika terjadi pasang dan sekaligus menampung air limpahan (drainase) jika surut melalui handil-handil yang dibuat sepanjang anjir.

Kelebihan sistem anjir : Dengan dibuatnya anjir, maka daerah yang berada di kiri dan kanan saluran dapat diairi dengan membangun handil-handil (sebagai saluran tersier) tegak lurus kanal. Adanya anjir ini menimbulkan lalu lintas transportasi air antara dua kota menjadi lebih ramai sehingga mendorong pembangunan daerah karena terjadinya peningkatan arus pertukaran barang dan jasa. Kelemahan sistem anjir : Terjadi aliran balik pada bagian tengah saluran (kanal) penghubung dari air yang semestinya dibuang mengalir masuk kembali akibat didorong oleh gerakan pasang. Di wilayah yang berpotensi sulfat asam terjadi kontak antara sedimen air sungai dengan sedimen asam yang mengandung kadar Al tinggi sehingga menimbulkan keracunan pada tanaman dan biota air lainnya.

Sistem Sisir
merupakan pengembangan sistem anjir yang dialihkan menjadi satu saluran utama atau dua saluran primer yang membentuk sejajar sungai. Pada sistem sisir tidak dibuat kolam penampung pada ujung-ujung saluran sekunder sebagaimana pada sistem garpu. Sistem saluran dipisahkan antara saluran pemberi air dan pengatusan. Pada setiap saluran tersier dipasang pintu air yang bersifat otomatis (aeroflapegate). Pintu bekerja secara otomatis mengatur jeluk muka air sesuai dengan pasang dan surut

Kelebihan sistem sisir : Panjang saluran sekunder pada sistem sisir dapat mencapai 10 km. Pada sistem sisir tidak dibuat kolam penampung pada ujung-ujung saluran sekunder sebagaimana pada sistem garpu sehingga dalam perencanaannya lebih ekonomis. Kelemahan sistem sisir : Terjadinya air mati (dead water) di tengah-tengah saluran primer. Endapan yang tinggi pada ujung saluran primer.