Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK II IDENTIFIKASI KADAR KLORIDA DENGAN TITRASI ARGENTOMETRI

Kamis, 3 April 2014

Disusun oleh:

Indah Desi Permana Sari 1112016200002


Kelompok 1: Muhammad Ikhwan Fillah (1112016200032) Siti Masitoh (1112016200006) Ira Nurpiala Wati(1112016200029)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2014

I. Abstrak Bahaya atau resiko kesehatan yang berhubungan dengan pencemaran air secara umum dapat diklasifikasikan menjadi bahaya langsung (bahaya terhadap kesehatan manusia karena mengonsumsi air yang tercemar/berkualitas buruk baik secara langsung diminum atau penggunaan air untuk berbagai kegiatan sehari-hari) dan bahaya tidak langsung (mengonsumsi hasil perikanan dimana produk-produk tersebut dapat mengakumulasi zatzat atau polutan berbahaya). Di Indonesia, klor digunakan sebagai desinfektan dalam penyediaan air minum. Dalam jumlah banyak, Cl akan menimbulkan rasa asin, korosi pada pipa sistem penyediaan air panas. Sebagai desinfektan, sisa klor di dalam penyediaan air sengaja dipertahankan dengan konsentrasi sekitar 0,1 mg/l untuk mencegah terjadinya rekontaminasi oleh mikroorganisme patogen, tetapi klor ini dapat terikat senyawa organik berbentuk halogen-hidrokarbon (Cl-HC) banyak diantaranya dikenal sebagai senyawa karsinogenik (menyebabkan kanker). Perlu dilakukan analisa yang tergantung pada analit dan jenis sampelnya. Oleh karena itu dilakukan pengujian untuk mengetahui seberapa banyak kandungan klor dalam air dengan menggunakan metode argentometr, yaitu dengan menggunakan metode titrasi yang menggunakan AgNO3 dan indikator K2CrO4. Alasan digunakannya metode ini sebagai penentuan kadar klorida karena pelaksanaannya yang mudah dan cepat serta memiliki ketelitian dan ketepatan yang cukup tinggi, juga dapat digunakan untuk menentukan kadar berbagai zat yang mempunyai sifat yang berbeda-beda. Kata kunci: pencemaran air, klorida, argentometri II. Introduction Seperti halnya suatu sistem asam-basa dapat digunakan sebagai suatu indikator untuk titrasi asam-basa, maka pembentukan endapan yang lain dapat digunakan untuk menunjukkan kesempurnaan suatu titrasi pengendapan. Contoh terkenal dari keadaan demikian adalah yang disebut titrasi mohr dari klorida dengan ion perak, yang dalam hal ini ion kromat digunakan sebagai indikator. Penampilan pertama yang tepat dari endapan perak kromat yang kemerah-merahan dianggap sebagai titik akhir titrasi (underwood, 1982:222) Istilah Argentometri diturunkan dari bahasa latin Argentum, yang berarti perak. Jadi, Argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat

dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasar pembentukan endapan dengan ion Ag+. Pada titrasi argentometri, zat pemeriksaan yang telah dibubuhi indikator dicampur dengan larutan standar garam perak nitrat (AgNO3). Dengan mengukur volume larutan standar yang digunakan sehingga seluruh ion Ag+ dapat tepat diendapkan, kadar garam dalam larutan pemeriksaan dapat ditentukan (Al.Underwood,1992)

III. Material and Methdos Alat dan bahan: Buret Statif dan klem Labu erlenmeyer Larutan AgNO3 MgCl2 K2CrO4

Langkah kerja: 1. Siapkan alat titrasi yang kemudian masukkan AgNO3 kedalam buret sebanyak 20 ml. 2. Masukkan 10 ml larutan MgCl2 kedalam labu erlenmeyer dan tambahkan K2CrO4 sebanyak 20 tetes kedalamnya, kemudian titrasi sampai warna endapan menjadi ungu.

IV. Result and Discussion Hasil pengamatan: Reaksi: AgNO3 + MgCl2 AgCl2 putih + MgNO3 2 Ag+ (aq) + CrO4 (aq) Ag2CrO4(s) (endapan merah bata) (Yenni Salosa, 3: 2013) Penentuan molaritas AgNO3 V MgCl2 = 10 ml V AgNO3 = 3 ml

M= = AgNO3 = 0,072 M Penentuan molaritas MgCl2 M1 V1 = M2 V2 0,072 x 3 = M2 x 10 M2 = = 0,0216 M

Pembahasan: Argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasar pembentukan endapan dengan ion Ag+. Pada titrasi argentometri, zat pemeriksaan yang telah dibubuhi indikator dicampur dengan larutan standar garam perak nitrat (AgNO3) (Al.Underwood,1992). Tujuan dari percobaan kita kali ini adalah dapat melakukan identifikasi ion klorida dari AgNO3 dengan MgCl2 adalah dengan metode Mohr dengan indikator K2Cr2O4. Kemudian titrasi dilakukan hingga mencapai titik ekuivalen. Titik ekuivalen ditandai dengan berubahnya warna larutan menjadi keunguan dan terdapat endapan putih keunguan. Mula-mula Ag+ akan mengikat Cl- membentuk AgCl (terbentuk endapan putih keunguan) dengan persamaan reaksi sebagai berikut: Ag+ + ClAgCl Penambahan AgNO3 secara terus menerus akan membuat ion Cl- habis diikat oleh ion Ag+ dari AgNO3. Apabila Cl- sudah habis bereaksi maka kelebihan Ag+ selanjutnya bereaksi dengan CrO42- yang berasal dari indikator K2Cr2O4 yang ditambahkan dan membentuk endapan AgCrO4 yang berwarna keunguan, ini menunjukkan sudah mencapai titik ekuivalen. Persamaan reaksinya sebagai berikut: 2Ag+(aq) + CrO4(aq) Ag2CrO4(s) Mengapa kita memilih indikator K2Cr2O4, karena suasana sistem cenderung netral. Kalium kromat hanya bisa digunakan dalam suasana netral.

V. Conclusion Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa: larutan Ag2CrO4(s) untuk dijadikan sample percobaan selanjutnya. Larutan tersebut dihasilkan dari pentitrasian antara MgCl2 dengan AgNO3 yang ditambahkan indikator K2Cr2O4 VI. Refrence Underwood,A.L.,1980. ANALISA KIMIA KUANTITATIF EDISI KEEMPAT.Jakarta: Erlangga Salosa,yuni.UJI KADAR FORMALIN.http://unsiyah.ac.id