Anda di halaman 1dari 17

Problematika Pendidikan Islam Kontemporer (1)

Oleh : Dr. Nirwan Syafrin Manurung (Dosen Pasca Sarjana UIKA Bogor)

Upaya untuk mengidentifikasi akar persoalan ini sudah sekian lama dilakukan oleh para aktivis, pendidik, dan kaum cerdik pandai dan pemikir Muslim. Krisis yang dialami umat saat ini tidak berakar pada persaolan ekonomi, politik, atau teknologi. Umat Islam hari ini dihinggapi krisis intelektualisme atau pemikiran. Maka keberhasilan apa pun dan dalam bidang apa pun yang dilakukan hanya akan bersifat sementara dan tidak akan langgeng selama aspek pemikiran masyarakatnya belum diperbaharui. Jika pemikiran adalah produk pendidikan, dan pemikiran itu saat ini mengalami kemandekan, maka jelaslah bahwa ada yang salah dalam sistem pendidikan kita. Artinya jika ingin menyederhanakan permasalahan umat hari ini, ia tersimpul pada kata pendidikan. Sementara pendidikan di Indonesia saat ini banyak menghadapi problem, mulai dari menyebarnya faham materialisme, sekulerisme dan liberalisme. Pendahuluan Sejatinya pendidikan anak adalah menjadi tugas dan tanggung jawab orang tua, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. bahwa seorang anak dilahirkan dalam kondisi fitrah; orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Namun, dalam prakteknya, entah itu disebabkan oleh keterbatasan waktu dan tenaga, atau mungkin juga karena kekurangan ilmu dan keahlian, saat ini hampir semua orang tua mengantar anak-anak mereka ke sekolah atau lembaga pendidikan formal lainnya untuk dididik, dibentuk kepribadiannya dan karakternya, dan dibekali dengan berbagai ilmu pengetahuan agar kelak

ketika dewasa akan menjadi manusia yang baik serta memperoleh kehidupan yang layak. Akan tetapi seiring dengan revolusi informasi dan teknologi yang berkembang pada terakhir ini, banya pihak yang mulai ragu dengan kemampuan sekolah untuk mengemban tugas yang kami sebutkan di atas, seiring dengan maraknya pelbagai persoalan moralitas yang melibatkan remaja usia sekolah. Beberapa hasil survei belakangan ini menunjukkan tingginya angka keterlibatan remaja dalam aksi poronograpi, mulai dari menonton atau mengakses pornografi sampai hubungan badan alias zina, dan aborsi. Ditambah lagi kejahatan narkoba, perampokan, premanisme, tawuran dan tindak kriminalitas lain yang tidak jarang menimbulkan korban jiwa. Wajar saja jika banyak orang tua mulai merasa cemas untuk menitipkan anak-anak mereka di lembaga-lembaga pendidikan formal. Dengan demikian, merekapun mulai mencari jalur alternatif seperti home schooling. Apa sesungguhnya persoalan yang sedang melilit dunia pendidikan kita, khususnya pendidikan Islam, sehingga munculnya persoalan di atas, inilah tema pokok yang coba diangkat makalah sederhana ini. PENDIDIKAN AKAR PROBLEMATIKA UMAT Al-Quran mendiskripsikan umat Islam sebagai khayra ummah (ummat terbaik) danummatan wasatan yang menjadi saksi kepada seluruh manusia (Ali-Imran: 110 dan alBaqarah: 142); akan tetapi kondisi dan realitas umat saat ini jauh dari deskripsi yang diberikan al-Quran tersebut; dunia dan masyarakat Islam hari ini jatuh terpuruk dalam krisis akut multidimensi. Hampir seluruh sendi kehidupan umat mengalami krisis: sosial, budaya, politik, ekonomi, moral, pendidikan, bahkan agama. Begitu parahnya kondisi ini sampaisampai Ismail Raji al-Faruqi sekitar tiga puluh tahun silam pernah menyatakan bahwa tidak ada satu bangsa lain pun didunia saat ini yang mengalami kekalahan dan kehinaan seperti yang dialami kaum Muslimin. The Muslims were defeated, massacred, robbed of their land and wealth, of their life and hope. They were double-crossed, colonized and exploited; proselytized and forcefully or bribefully converted to other faiths. And they were secularized, westernized and de-Islamized by internal and external agents of their enemies they enjoy the worst possible image in the world today. The ummah presently stands at the lowest rung of the ladder of nations.[1] Gambaran ini mungkin tidak terlalu berlebihan jika melihat kondisi umat saat ini yang meskipun memiliki sumber daya alam dan manusia yang berlimpah ruah, masih banyak masyarakatnya yang hidup pada garis kemiskinan. Meski memiliki kiblat yang satu, berpegang pada Kitab Suci yang satu, namun masyarakat Muslimlah hari ini yang paling banyak teribat konflik sektarianisme, perang, perpecahan, terfragmentasi menjadi kelompokkelompok kecil. Melihat kondisi ini, Abdul Hamid Abu Sulayman, mantan rektor Universitas Islam Internasional Malaysia, mungkin tidak berlebihan menyatakan bahwa abad modern adalah tragedi bagi masyarakat Muslim (for Muslims, all of modern history is a

tragedy).[2] Memasuki pertengahan abad ke-19, hampir tidak ada satu pun dunia Islam yang
terlepas dari tampuk penjajahan; dari Maroko sampai Merauke, masyarakat Islam hidup dalam penjajahan. Tragisnya, para penjajah tersebut bukan merampas dan menguras kekayaan alam bangsa Muslim, mereka juga menjajah nilai kehidupan social-budaya, politik, ekonomi, dan agama yang dianut oleh masyarakat tersebut. Lihatlah bagaimana sistem peradilan dan pendidikan mereka diubah. Sejak sekian lama, Syariah Islam telah menjadi sistem yang mengatur kehidupan sosial, budaya, politik, umat Muslim. Akan tetapi sejak masuknya penjajah ke dunia Islam, sistem ini pun lambat laun terpinggirkan bahkan menjadi asing di tengah masyarakatnya sendiri. Hari ini hampir kebanyakan dunia Islam memakai sistem peradilan Barat termasuk Indonesia. Yang tak kalah pentingnya adalah perubahan yang berlaku dalam sistem pendidikan Islam yang telah termarjinalkan seiring dengan munculnya sistem pendidikan sekuler. Pertanyaannya adalah ada apa dan kenapa dengan umat ini? Sebuah pertanyaan yang, saya yakin, menghampiri hampir seluruh seluruh kalangan yang mempunyai perhatian terhadap umat. Pertanyaan ini pernah diringkas seorang penulis Arab, Syakib Arsalan, dalam judul bukunya yang terkenal Limadza taakhkharal muslimuna wa taqaddama ghayruhum? Upaya untuk mengidentifikasi akar persoalan ini sudah sekian lama dilakukan oleh para aktivis, pendidik, dan kaum cerdik pandai dan pemikir Muslim. Dari sekian banyak jawaban yang ditemukan, hampir kebanyakan sepakat bahwa krisis yang dialami umat saat ini tidak berakar pada persaolan ekonomi, politik, atau teknologi. Artinya umat ini mundur bukan semata karena lemahnya penguasaan sains dan teknologi mereka, atau rendahnya tingkat produksi mereka. Lebih dari itu, umat Islam hari ini dihinggapi krisis intelektualisme, pemikiran, atau penalaran, dalam arti yang luas atau oleh Abu Sulayman disebut dengan crisis of thought.[3] Oleh sebab itu, maka keberhasilan apa pun dan dalam bidang apa pun yang dilakukan baik ekonomi, militer, politik, dan lain sebagainya hanya akan bersifat sementara dan tidak akan langgeng selama aspek pemikiran masyarakatnya belum diperbaharui.[4] Pemikiran adalah produk dari proses berpikir. Setiap orang yang dikaruniai akal dan panca indera pasti bisa berpikir, meski tidak sedikit orang yang enggan menggunakan karunia ilahi ini untuk berpikir. Kebanyakan cendekiawan Muslim berpendapat bahwa mundur dan runtuhnya kedigdayaan Peradaban Islam bermula ketika virus taqlid mulai merebak dan menyobek independensi intelektual kaum terdidiknya. Upaya intelektual yang sebelumnya mendapat tempat dan penghargaan yang tinggi di kalangan masyarakat dan penguasa entah kenapa tiba-tiba kehilangan momentum.[5] Pintu ijtihad tiba-tiba dikatakan tertutup,[6] para cendekiawan pun tidak ada yang tampil ke permukaan dengan gagasan besar seperti pendahulu. Kemandekan intelektual ini tentu menimbulkan tanda tanya besar: apa sesungguhnya yang menyebabkan vitalitas intelektual Islam yang sejak dini bergeliat sedemikian gesit, kok tiba-tiba kehilangan rentaknya.

Faktor politik selalu dijadikan alasan: serangan bangsa Mongol atas dinasti Abbasiyah kerap dirujuk sebagai titik awal kejatuhan Peradaban Islam. Meski demikian, menurut hemat penulis, faktor pendidikan tidak kalah pentingnya dalam proses dekadensi ini. Tidak bisa dinafikan bahwa pemikiran brilian tidak mungkin lahir dari pribadi yang lemah, ia pasti lahir dari seorang yang memiliki kepribadian yang tangguh. Dan pribadi tangguh sudah pasti lahir dari dari pendidikan yang tangguh juga. Kalau kita berkaca pada pemikir dan cendekiawan Muslim masa silam, kita melihat kehebatan sekolah dan guru-guru yang menghasilkan mereka. Seorang Imam besar bernama Syafii adalah hasil adonan dari guruguru terhebat pada masanya; dia adalah murid seorang Imam hadits terkenal pada masa itu bernama Imam Malik. Demikian juga al-Ghazali, dia adalah produk asuhan cendekiawan terkenal ketika itu Imam al-Haramain al-Juwani. Ibn Sina tidak mungkin bisa melahirkan karya tulis yang mencapai 450 judul jika dia tidak mendapat pendidikan awal yang paripurna. Lihatlah siapa guru yang telah mendidiknya serta lingkungan sekolah yang telah membesarkan, seluruhnya telah memainkan peran dalam pembentukan kepribadiannya. Ibn Sina (atau yang dikenal di Barat dengan Avicenna) dikatakan telah hafal al-Quran pada usia 10 tahun seperti juga kebanyakan cendekiawan Muslim yang lain yang sezaman dengannya. Ketika remaja, dia pun telah bergelut dengan Metaphysicsnya Aristotle. Menurut satu riwayat dia telah membaca buku ini sebanyak 40 kali hingga diapun hafal kata perkata dari isi buku tersebut, karena tingginya tingkat kesulitan yang dihadapinya dalam memahami karya ini. Cendekiawan seperti Syafii, Ibn Sina, dan Ghazali bisa menjadi tokoh seperti itu tidak terlepas dari sistem pendidikan yang telah mengasuh mereka. Sejak kecil mereka telah disuguhkan kurikulum pendidikan yang hebat; mereka di ajarkan berbagai disiplin ilmu keIslaman dan disiplin ilmu lain sehingga ketika mereka menginjak dewasa mereka sudah memiliki bekal untuk menggali dan mengharungi dalamnya lautan ilmu.[7] Jika pemikiran adalah produk pendidikan, dan pemikiran itu saat ini mengalami kemandekan, maka jelaslah bahwa ada yang salah dalam sistem pendidikan kita. Artinya jika ingin menyederhanakan permasalahan umat hari ini, ia tersimpul pada kata pendidikan. Hal ini telah banyak ditegaskan oleh para pemikir Muslim. Sebut saja Syed Muhammad Naquib al-Attas. Tokoh ini berkata bahwa The basic problem, therefore, is that of

education the lack of proper and adequate Islamic education for such education, rightly systematized assuredly prevent the occurrence of general confusion leading to aberrations and excesses in belief and in practice.[8] Pernyataan ini dipertegas oleh Ismail Raji al-Faruqi bahwa:
There can be no doubt that the main locus and core of the Ummahs malaise is the prevalent educational system. It is the breeding ground of the disease. It is in schools and colleges that self-estrangement from Islam and from its legacy and style are generated and perpetuated.[9] Lebih jauh Faruqi menyatakan bahwa selama dunia pendidikan kita belum diperbaiki, maka jangan berharap umat ini bisa akan mencapai kebangkitan yang sesungguhnya. (There can

be no hope of a genuine revival of the umma unless the educational system is revamped and its faults corrected)[10]

ADA APA DENGAN PENDIDIKAN KITA? Jika pendidikan adalah akar kemunduran Islam, pertanyaan selanjutnya adalah ada apa dengan pendidikan kita? Tentu saja jawaban atas pertanyaan ini sangat komplek dan bervariasi tergantung pada sudut pandang dari mana kita melihatnya. Dan menurut hemat diantara sekian banyak persoalan yang melilit pendidikan kita, hilangnya unsur ruhaniyah dan ubudiyyah, baik dalam diri anak didik maupun pada diri pendidiknya, merupakan salah satu persoalan yang mendasar. Dunia pendidikan hari ini dihadapkan dengan pelbagai persoalan: ledakan informasi teknologi, industrialisasi, globalisasi, dan liberalisasi. Ditengah ini semua, dunia pendidikan dituntut untuk bersikap lebih realistik dan pragmatik dalam arti kata bisa memenuhi kebutuhan pasar: mensupply tenaga kerja yang siap pakai. Untuk tujuan ini, tidak sedikit sekolah dan institusi-institusi pendidikan yang banting stir, mengorbankan idealismenya, mengubur cita-cita luhurnya. Karena mereka khawatir jika mereka tidak mengikuti selera pasar, maka mereka harus siap ditinggal para consumernya alias berpindah kepada lembaga pendidikan lain yang lebih menjanjikan. Hari ini, sekolah atau universitas yang baik dilihat dari tingkat keterserapan alumninya di pasar kerja: semakin banyak alumninya yang diterima bekerja, semakin tinggi rating dan kualitas lembaga pendidikan tersebut, sebaliknya semakin

sedikit jebolannya bisa memasuki pasar kerja, semakin rendah pulalah kredibilitasnya. Jadi kualitas sama dengan keterserapan alumninya ke dalam lapangan kerja. Lebih celaka lagi sesungguhnya adalah jika citra berkualitas dan berating tinggi tersebut dicapai dengan menempuh dengan segala cara seperti yang terjadi belakangan ini di banyak lembaga pendidikan formal mulai dari SD, SMP, SMA, hingga universitas. Untuk mengejar target lulus 100% banyak sekolah hari ini yang mengatrol nilai rapot atau hasil ujian sekolah anak didik mereka. Ada juga sekolah yang secara khusus menugaskan tenaga pendidiknya untuk memperbaiki jawaban murid-muridnya. Semua ini dilakukan demi pencitraan bahwa sekolah tersebut berhasil mengantarkan murid-muridnya lulus Ujian Akhir Nasional (UAN) 100%. Ironisnya keadaan ini berkembang pada saat pemerintah menjadikan pendidikan karakter sebagai landasan filosofis pendidikan. Jika keadaannya seperti yang baru saja dideskripsikan, karakter apa sesungguhnya yang sedang ditanamkan pada para peserta didik tersebut. Bagaimana kita bisa berharap anak memiliki sifat jujur dan tanggung jawab, jika para pendidik dan pengelola sekolah terlibat dengan aksi ketidakjujuran. Maka wajar saja jika kejahatan remaja usia sekolah terus meningkat karena memang lembaga pendidikan tidak lagi berorientasi pada pembinaan akhlak, penguatan moral dan penanaman adab dan iman, tapi pada pencarian selembar kertas yang bernama ijazah. Perlahan tapi pasti, lembaga pendidikan kita hari ini telah beralih fungsi dari pencetak manusia unggulan berkarakter dan berada mulia menjadi pabrik penghasil barang bernama manusia. Ringkasnya kebanyakan lembaga pendidikan hari ini cenderung menjadi wadah bisnis, tempat berburu keuntungan dan kekayaan. Jika keadaan guru sudah seperti ini, maka bisa dibayangkan manusia seperti apa yang akan di hasilkannya. Kenyataan ini tentu kontras sekali dengan pandangan hidup Islam (Islamic Worldview) dimana tugas pendidik adalah untuk melahirkan manusia-manusia yang memiliki keilmuan yang mumpuni serta beradab sementara tugas peserta didik adalah mencari ilmu. Adab dalam konteks ini bukan hanya berarti moral seperti yang biasa kita pahami dalam bahasa Indonesia. Adab yang kami maksud disini adalah seperti yang dijelaskan oleh S. M. Naquib al-Attas yang berkonotasi ilmu, yaitu:
the discipline of body, mind, and soul; the discipline that assures the recognition and acknowledgement of ones proper place in relation to ones self, society, and Community; the recognition and acknowledgement of ones proper place in relation to ones physical, intellectual, and spiritual capacities and potentials, the recognition and acknowledgment of the fact that knowledge and being are order hierarchically.[11]

Ilmu dalam pandangan hidup (worldview) Islam menempati posisi sentral sampaisampai Franz Rosenthal berkesimpulan bahwa ilmu adalah Islam itu sendiri (ilm is Islam), karena menurutnya, there is no other concept that has been operative as a

determinant of Muslim civilization in all its aspects to the same extent

as ilm.[12] (tidak ada konsep yang bekerja sebagai penentu Peradaban Islam dalam seluruj
aspeknya sebagaimana halnya ilm.) Mungkin hanya Islamlah satu-satunya agama yang

memberikan apresiasi sedemikian besar terhadap ilmu. Hal ini terlihat dari penghargaan yang diberikan al-Quran dan Hadits kepada mereka yang menuntut ilmu. Al-Quran menempatkan kedudukan orang berilmu sebaris dengan orang beriman dan malaikat. Bahkan kemulian Adam as pun tidak terlepas dari keilmuan yang ia miliki yang ia peroleh dari Allah SWT. Para pencari ilmu, disebutkan dalam salah sebuah Hadits, turut didoakan oleh seluruh yang ada di langit dan dibumi; mereka juga dilapangkan jalannya masuk ke surga. Sedemikian utamanya ilmu, al-Quranpun tetap memerintahkan sekelompok orang untuk tetap bergiat dalam bidang keilmuan meski kondisi darurat perang.

[1] Kaum Muslimin dikalahkan, dibantai; negeri dan kekayaannya dirampas, demikian juga

kehidupan dan harapannya. Mereka ditipu, dijajah dan diperas, ditarik dan dipaksa atau melalui penyuapan ke dalam agama-agama lain. Dan mereka disekulerkan, di Baratkan, dan di deislamisasikan oleh agen-agen musuh mereka di dalam dan di luar diri mereka pada hari ini mereka mempunyai citra yang sangat buruk. Dan pada saat ini ummat berada pada tingkat terendah dibanding negara-negara yang ada. Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan (Virginia, Herndon: International Institute of Islamic Thought, 1402/1982), 1.
[2] Abdul Hmid Abu Sulaymn, Towards an Islamic heory of International Relations (Herndon,

Virginia: International Institute of Islamic Thought, 1993), 1.


[3] Abdul Hamid Abu Sulayman, A Crisis of Muslim Mind (Virginia: IIIT), 28 [4] Abdul

Hamid

Abu

Sulayman, Towards

an

Islamic

Theory

of

International

Relations (Virginia: IIIT),xiv


[5] Ada beberapa teori yang mengemuka terkait dengan faktor dan kapan mulainya sains dalam

peradaban Islam mengalami stagnansi. Untuk keterangan lanjut silakan rujuk: Ahmad Y. alHassan, Factor Behind the Decline of Islamic Science After the Sixteenth Century, in Sharifah Shifa al-Attas (ed.), Islam and the Challenge of Modernity (Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization, 1996), 351-389 dan Mohamad Abdalla, Ibn Khaldun On The Fate of Islamic Science After the 11thCentury, Islam & Science, vol. 5, No. 1 (Summer 2007), 61-70.
[6] Lihat misalnya: Sobhi Mahmassani, Muslims: Decadence and Renaissance, The Muslim

World, Vol. XLIV, No. 3 and 4, July and October 1954, 185-201; Taha Jabir al-Alwani, Taqlid and The Stagnation of the Muslim Mind, The American Journal of Islamic Social Sciences, vol. 8, No. 3, 1991: 513-524; idem, The Crisis in Fiqh and The Methodology of Ijtihad, The American Journal of Islamic Social Sciences, Vol. 8, No. 2, 1991: 317-337. Wael Hallaq bagaimanapun juga mempertanyakan teori yang menyatakan bahwa pintu ijtihad pernah tertutup.

Katanya pendapat ini tidak berdasarkan bukti di lapangan, melainkan hanya berlandaskan spekulasi. LihatWael B. Hallaq, Was the gate of Ijtihad closed, The International Journal of Middle East Studies, No. 8 (1984), 3-43.
[7] Untuk keterangan lebih lanjut tentang sistem pendidikan dan mata pelajaran yang diajarkan di

lembaga-lembaga pendidikan ketika itu lihat George Makdisi, The Rise of Colleges Institutions of Learning in Islam and the West (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1981) [8] S. M. Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC), 118. [9] Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge, 5; idem, Islamization of Knowledge: Problems, Principles and Perspectives, dalam Islam: Source and Purpose of Knowledge (Herdon: IIIT, 1981), 22.
[10] Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge, 8-9. [11] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: International

Institute of Islamic Thought and Civilization, 1993), 105.


[12] Franz Rosenthal, Knowledge Triumphant: The Concept of Knowledge in Medieval

Islam (Leiden and Boston: E. J. Brill, 2007), 2.

Problematika Pendidikan Islam Kontemporer (2)


Oleh: Dr. Nirwan Syafrin Manurung (Dosen Pasca Sarjana UIKA Bogor)

Kenapa ilmu sedemikian penting dalam Islam? Karena dalam Islam, iman tanpa dasar ilmu alias taqlid dinyatakan tidak sah. Seorang yang mengaku mukmin wajib memiliki dalil, bukti atau argumentasi, meskipun itu ijmali (dalil global tidak detail), atas klaim keimanannya. Dengan demikian, kesaksian akan keesaan Allah dan Muhammad pesuruh Allah seperti yang tersimpul dalam kalimah syahadatayn bukanlah pengakuan lisan tanpa alasan, ucapan tanpa landasan; syahadah dalam perspektif Islam adalah kesaksian yang berkonotasi pada ilmu yang berdasarkan bukti. Kamus al-Muhit menjelaskan bahwa salah satu arti syadahah adalah khabar qati(berita/khabar yang pasti) dan musyahadah bermakna muayanah yang berarti kesaksian dengan panca indera. Pepatah Arab mengatakan bahwa wa laysa al-khabar ka al-muayanah (tidaklah berita itu sama seperti kesaksian). Jadi syahadah bisa berarti bahwa seseorang itu menyaksikan objek yang disyahdahkannya seolah-olah objek tersebut hadir di depannya, disaksikannya dengan panca inderanya, atau diketahuinya dengan pengetahuan yang pasti. Dalam bahasa Inggris, syahadah biasanya diartikan dengan testimony, testify dan witness.Longman Dictionary of Contemporary English menjelaskan bahwa salah satu dari maksudtestimony adalah a fact or situation

that shows or proves something very clearly (fakta atau situasi yang menunjukkan atau membuktikan sesuatu itu dengan jelas); testify pula dimaknai dengan to be a clear sign that something is true (tanda yang jelas bahwa sesuatu itu benar). Hampir semakna dengan testimony and testify, witness diartikan diartikan sebagai someone who sees a crime or an accident and can describe what happened (seseorang yang menyaksikan kriminlaitas atau peristiwa/kecelekaan dan dapat menjelaskan apa yang terjadi tersebut); to be witness berarti to be present when something happens and watch it happening
(hadir ketika sesuatu terjadi dan melihat itu terjadi). Berdasarkan makna diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa syahadah adalah pengakuan yang dibangun atas dasar ilmu yang diperoleh dari pengalaman dan panca indera. Maka seorang yang mengucapkan kalimah syahadah berarti bahwa orang tersebut benarbenar dan sungguh-sungguh menyaksikan bahwa memang tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Pesuruh Allah. Jadi kesaksiannya atas objek yang disaksikannya bukanlah doktrin, bukan juga paksaan, apalagi sekedar tradisi yang diikuti, tapi ia adalah kesaksian dimana orang yang menyaksikan objek yang disaksikannya tersebut tidak bisa berkata selain harus mengakuinya. Dalam konteks ini Faruqi menjelaskan bahwa iman adalah sesuatu yang terjadi kepada seseorang, dimana kebenaran atau fakta dari sebuah objek tampil di depan wajahnya dan meyakinkannya tanpa ada keraguan tentang kebenarannya. Ia bagaikan kebenaran kesimpulan geometri, dimana premis yang terdahulu mendorong seseorang untuk mengetahui tentang kebenaran konklusinya tanpa bisa menghindar. [1]Lebih lanjut al-Faruqi menjelaskan: iman is truth given to the mind, not to mans credulity. The truths, or propositions, of iman are not mysteries, stumbling blocks, unknowablw and unreasonable but critical and rational. They have been subjected to doubt dan emerged from testing confirmed and established as true. No more pleading on their behalf is necessary. Whoever acknowledges them as true is reasonable, whoever persists in denying or doubting unreasonable.[2] Karena ilmu terkait dengan iman, maka menuntut ilmu pasti erat hubungannya dengan ibadah. Sebagai ibadah, maka menuntut tidak bisa tidak harus didasarkan pada niat ikhlas yang tulus untuk mencari ridha Allah. Kemewahan dunia serta jabatan bukanlah tujuan utama dari pendidikan. Demikian juga mencari kerja bukanlah tujuan akhir dari proses panjang pendidikan.Hampir seluruh ulama sepakat menempatkan niat baik sebagai syarat utama dalam mencari ilmu. Ibn Jamaah dalam Tadhkirah al-Sami wa al-Mutakallim fi Adab al-Alim wal Mutaallim, misalnya pernah menyatakan bahwa salah satu adab seorang murid adalah memliki niat yang baik, ikhlas karena Allah swt, bukan untuk mengejar ijazah, apalagi jabatan. : . Yang kedua: niat yang baik dalam menuntut ilmu, bahwa dia bermaksud untuk mencari ridha Allah semata, mengamalkan ilmu tersebut, menghidupkan

Syariat, menyinari hatinya, menghiasi batinnya dan dekat kepada Allah ketika bertemu. Senada dengan Ibn Jamaah, Syaikh Zarnuji dalam karyanya Talim al-Mutaallim juga menempatkannya sebagai syarat pertama untu mencari ilmu. Zarnuji mensinyalir beberapa kelompok orang yang telah berusaha sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, akan tapi mereka gagal memperoleh apa yang mereka inginkan, mereka baahkan diharamkan mengecapi manfaat dan buah dari ilmu tersebut, yaitu mengamalkan ilmu tersebut, semuanya sebab mereka telah salah jalan dan meninggalkan syarat-syaratnya.[3] Dan salah satu syarat terpenting yang harus dimiliki oleh seorang penuntu ilmut adalah niat baik semata-mata karena Allah. )21 ,] ( 4[. Maksudnya: sewajarnya seorang penuntut ilmu itu berniat mencari ridha Allah, kehidupan Akhirat, menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari diri seluruh orang bodoh, menghidupkan agama, dan mengekalkan Islam, sesungguhnya kekalnya Islam ini bergantung pada ilmu. Sangat disayangkan niat ikhlas seperti ini nyaris hilang di tengah-tengah pendidikan kita. Murid bersekolah hanya untuk mendapatkan ijazah, sementara guru mengajar demi untuk gaji. Menurut al-Faruqi inilah sesungguhnya musibah terbesar yang di alami dunia pendidikan kita dimana para pendidiknya tidak memiliki visi Islam dan termotivasi oleh tujuannya yang mulia (The teachers in the Muslim World universities are not

possessed by the vision of Islam, and are not driven by its cause is certainly the greatest calamity of Muslim education.)[5]
Kenapa Faruqi memberikan harga yang tinggi pada motivasi? Karena menurut pandangannya tidak ada pencarian ilmu yang genuine (murni) tanpa spirit (jiwa). Jiwa itulah yang menjadi driving force, penggerak dalam diri seseorang itu. Tanpa jiwa ini, sudah pasti dia tidak akan bergerak. Jiwa/spirit itu sendiri digerakkan oleh pandangannya tentang dirinya, dunia dan realitas; pandangan ini digerakkan oleh Agama; maka jiwa tadi digerakkan oleh Agamanya. Karena setiap bangsa dan peradaban memiliki jiwa dan ruhnya sendiri, maka jiwa tadi tidak bisa dijiplak. Di Barat, lanjut Faruqi, ide nasionalisme telah menjadi inspirasi bagi universitas-universitas selama dua ratus tahun, karena filsafat Romantisisme telah menggantikan posisi Tuhan Kristen dimana la nation (the nation/negara) sebagai Tujuan Akhir (ultimate reality). Filsafat ini sangat bertentangan sekali dengan filsafat hidup dan pendidikan yang diajarkan Islam. Dalam pandangan Islam, tujuan akhir dari kehidupan seorang adalah Allah Swt, Ultimate loyalty to the nation-state, is therefore, not only impossible to him; it is blasphemous. (Kesetian sejati kepada negara-bangsa bukan hanya mustahil baginya (seorang Muslim), tapi juga dianggap sebagai bentuk kemurtadan) Inilah sesungguhnya poin penting yang membedakan sistem pendidikan Islam dengan Barat.

Berbeda dengan Barat yang bertujuan hanya sekedar untuk menciptakan abdi negara yang baik (good citizen), tujuan pendidikan Islam adalah the recognition of the proper places

of things in the order of creation, such that it leads to the recognition of the proper place of God in the order of being and existence.[6] (Mengetahui tempat yang tepat
dari sesuatu dalam susunan ciptaanNya yang dapat menggiringnya pada pengakuan akan posisi yang tepat bagi Allah dalam susunan makhluk dan wujud). Jadi ilmu pada prinsipnya adalah untuk mengenal Allah. Dan pendidikan, menurut al-Attas dengan demikian bertujuan menghasilkan manusia yang baik (to produce a good man) bukan a good citizen. Karena dia yakin a good man akan otomatis menjadi a good citizen, tapi tidak sebaliknya, seorang good citizen belum tentu good citizen.[7] Kita bisa saja menjiplak gedung, perkantoran, perpustakaan, ruang laboratory, ruang kelas dan lain-lain yang dimiliki Barat. Akan tetapi tidak bisa menjiplak jiwa dan pandangan hidupnya. Itulah sebabnya kenapa meskipun sudah dua ratus tahun sistem pendidikan di dunia Islam di baratkan dan disekulerkan, umat Islam masih gagal melahirkan sesuatu yang berarti yang bisa menandingi Barat baik dalam kreativitasnya maupun keunggulannya.[8]

PENDIDIKAN DI TENGAH ARUS PERANG PEMIKIRAN

Sejak peristiwa 11 September 2001, dunia Islam dihadapkan pada situasi yang cukup sulit. Sejak itu perang melawan terorisme dikumandangkan. Sayangnya istilah terorisme itu sendiri belum begitu jelas. Maka siapapun bisa di anggap teroris sesuai dengan kepentingan. Hampir seluruh penganalisa dan political establishment Barat sepakat bahwa perang melawan terorisme pada esensinya adalah perang ideologi, gagasan, dan pemikiran (war of ideasatau battle of ideas). U.S. National Strategy for Combating Terrorism (September 2006) menyatakan bahwa In the long run, winning the War on Terror means winning the battle of ideas. (Dalam jangka panjang, menang dalam perang melawan Teror berarti menang dalam pertarungan ide) U.S. National Strategy for Homeland Security (October 2007) mengafirmasi pernyataan ini dengan mengatakan the

War on Terror is a different kind of warnot only a battle of arms but also a battle of ideas. (Perang melawan terror merupakan bentuk lain dari peperangan bukan sekedar perang bersenjata tapi juga perang ide).[9] Angel Rabasa dkk dalam laporan penelitian mereka yang terangkum dalam Building Moderate Muslim Network juga mempertegas hal tersebut di atas dengan berkata The struggle underway throughout much of the Muslim world is essentially a war of ideas. Its outcome will determine the future direction of the Muslim world It profoundly affects the security of the West.[10] (Pertarungan yang sedang berlangsung di kebanyakan negara Muslim pada
esensisnya adalah perang ide. Hasilnya akan menentukan masa depan dunia Islam hal itu sangat mempengaruhi keamanan Barat). Sebenarnya tidak ada yang baru dari pernyataan di atas. Naquib al-Attas dalam karyanya Islam and Secularism menyatakan bahwa pertarungan antara Islam dan Barat adalah pertarungan abadi mengingat perbedaan worldview kedua peradaban tersebut yang begitu significant yang hampir mustahil untuk dipertemukan. Ide dan pemikiran bersifat fluid (cair). Ia mengalir bagaikan air. Sebuah ide tidak bisa dipaksakan dengan kekuatan fisik, tapi haruslah dengan argumentasi. John Dewey, seorang ahli falsafah pendidikan terkenal, pernah mengungkapkan All reform which rest

simply upon the enactment of law. Or the threatening of certain penalties, or upon changes in mechanical or outward arrangements, are transitory and futile.
(Seluruh upaya pembaharuan yang hanya bergantung pada penerapan hukum, atau ancaman hukuman, atau sekedar perubahan pada susunan mekanis dan luaran semata, hanya sebuah transisi dan akan gagal) dan jalan terbaik untuk menyebarkan ide adalah melalui pendidikan. Para penguasa di Barat sadar betul akan hal ini sehingga mereka tidak ragu untuk melakukan investasi besar-besaran dalam bidang ini dengan menggelontorkan miliaran dolar di berbagai belahan negara, terutama di dunia Islam, guna untuk mencapai tujuan ini. Dalam penelitian mereka, Angel Rabasa dkk sampai pada kesimpulan bahwa institusi pendidikan Islam yang berkembang di Asia Tenggara bisa dijadikan pusat/markas dalam perang pemikiran. Southeast Asia has an extraordinarily large and well-developed

structure of Islamic educational institutions that can be a resource of critical

importance in the ongoing war of ideas within the Muslim world, as well as in the effort to build moderate Muslim networks proposed in this study.[11] (Asia
Tenggara memiliki institusi pendidikan Islam yang sangat besar dan terstruktur dengan rapih yang bisa dijadikan sebagai sumber yang sangat penting dalan perang ide yang sedang berlangsung di dunia Muslim, juga sebagai upaya membangun jaringan Muslim moderat seperti yang di ajukan di dalam kajian ini) Atas dasar itu, mereka lantas menyarankan agar pendanaan program yang dijalankan oleh kelompok sekuler dan moderat ini diberikan prioritas dan perhatian yang cukup. Funding for education and cultural programs run

by secular or moderate Muslim organizations should be a priority, to counter the influence of radical Islamic religious schools and institutions.[12] Sepertinya saran
tersebut di dengar. Maka belakangan ini begitu banyak dana yang digelontorkan untuk membantu bidang pendidikan. Beasiswa disediakan, cabang universitas tersebut di didirikan di negara-negara yang dijadikan target. Semua bertujuan untuk membantu mereka memenangkan perang melawan musuh yang mereka sebut terorisme tersebut. Dalam perang ini, dunia pesantren akhir-akhir ini telah menjadi sorotan tajam mengingat beberapa yang terlibat dalam gerakan yang mereka sebut sebagai terorisme merupakan alumni pesantren. Mereka menduga bahwa pesantren adalah sarang dimana benih-benih terorisme dipupuk baik. Jadi untuk menghapuskan terorisme, maka benih tersebut harus segera dipangkas. Itu berarti pesantren harus melakukan tranformasi dan perubahan baik sistem maupun muatan pendidikannya. Untuk tujuan ini, para kiyai dan guruguru di pesantrenpun didatangi, diberikan wejangan-wejangan keIslaman baru yang dianggap lebih ramah, inklusif dan pluralis. Islam model ini biasanya disebut dengan Islam Liberal. Islam model ini mendapat dukungan kuat oleh beberapa institusi yang berkepentingan. Dana dikucurkan, programpun digulirkan, agar supaya pesantren merubah wajahnya dan jati dirinya. Meski sedemikian intens, masih banyak pesantren serta kiyai yang bertahan dalam keislaman yang mereka warisi sejak dari Rasulullah. Pun begitu, tidak sedikit juga yang terjebak dalam lingkaran liberalism. Pada 21 Mei 2010, Republika Online memberitakan seorang ulama di Surabaya terlibat memfasilitasi pernikahan dua perempuan alias lesbianism.[13] Sebelumnya umat Islam Indonesia juga pernah dihebohkan dengan pandangan seorang figur pesantren yang merekomendasikanperubahan waktu pelaksaan ibadah haji dari ayyam altashriq pada bulan Dzul Hijjah kepada waktu lain yang dianggap tidak terlalu sesak;[14] pernah juga segelintir tokoh pesantren dan cendekiawan Muslim mendukung shalat dengan dwi bahasa (Arab-Indonesia) dan juga perempuan jadi khatib dan imam shalat Jumat.[15] Masalah lain termasuk gugatan beberapa cendekiawan Muslim terhadap otentisitas (keaslian) al-Quran, hukum waris Islam, hukum nikah perempuan, serta ajakan untuk meyakini semua agama sama-sama benar dan semuanya bisa menggiring manusia ke dalam surga. Masih banyak pandangan-pandangan liberal nyeleneh lain yang belakangan ini mulai merebak dan menyeruak menjangkiti aqidah umat Islam. Dalam upanya merespon

perkembangan ini, Majlis Ulama Indonesia dalam Munasnya tahun 2005 akhirnya sepakat mengeluarkan fatwa haram terhadap ajaran tersebut. Demikian beberapa problema pendidikan yang dialami oleh dunia Islam saat ini. Diharapkan dengan identifikasi problema ini, akan muncul tulisan-tulisan lain yang memberikan jawaban kenapa persoalan yang sedang kita hadapi. Masalah yang terjadi dalam pendidikan di Indonesia perlu dipecahkan dengan kerjasama sinergis pihak-pihak yang terkait. Kaum cendekiawan/ulama, orang tua, guru dan pemerintah mesti serius menangani problematika mendasar masyarakat ini. Bila tidak, maka generasi lemah akan terus lahir dan mewarnai negeri ini sehingga negeri ini tidak bisa mencapai baldatun thayyibatun warabbun ghafur.* Daftar Pustaka:
Abu Sulaymn, Abdul Hmid, 1993. Towards an Islamic heory of International Relations, Herndon, Virginia: International Institute of Islamic Thought. Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, 1993. Islam and Secularism, Kuala Lumpur, International Institute of Islamic Thought and Civilization. Al-Faruqi, Ismail Raji, 1995. Al-Tawhid: Its Implications for Thought and Life, Herndon, Virginia: International Institute of Islamic Thought Al-Faruqi, Ismail Raji, 1402/1982. Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan,Virginia, Herndon, International Institute of Islamic Thought. Makdisi, George Makdisi, 1981. The Rise of Colleges Institutions of Learning in Islam and the West,Edinburgh, Edinburgh University Press. Rosenthal, Franz, 2007, Knowledge Triumphant: The Concept of Knowledge in Medieval Islam, Leiden and Boston, E. J. Brill. Rabasa dkk, Angel M., 2004. The Muslim World After 9/11, Santa Monica, CA, RAND Corporation. Shifa al-Attas (ed.), Sharifah, 1996. Islam and the Challenge of Modernity, Kuala Lumpur, International Institute of Islamic Thought and Civilization.

Jurnal:
Abdel Wahhab Al Messiri, The Secularization of the Social Sciences: Perspectives from the Islamization of Knowledge, dalam Mona M. Abul-Fadl (ed.), Proceedings Twenty First Annual Conference (Virginia: IIIT), 4.

Antulio J. Echevarria II, Wars of Ideas and The War of Ideas, (US, June 2008), 1. Mohamad Abdalla, Ibn Khaldun On The Fate of Islamic Science After the 11th Century, Islam & Science, vol. 5, No. 1 (Summer 2007), 61-70. Sobhi Mahmassani, Muslims: Decadence and Renaissance, The Muslim World, Vol. XLIV, No. 3 and 4, July and October 1954, 185-201;

Taha Jabir al-Alwani, Taqlid and The Stagnation of the Muslim Mind, The American Journal of Islamic Social Sciences, vol. 8, No. 3, 1991: 513-524; idem, The Crisis in Fiqh and The Methodology of Ijtihad, The American Journal of Islamic Social Sciences, Vol. 8, No. 2, 1991: 317-337. Wael B. Hallaq, Was the gate of Ijtihad closed, The International Journal of Middle East Studies, No. 8 (1984), 3-43.

Internet:

http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nusantara/10/05/26/117186-astaghfirullahadakabar-pasangan-lesbian-menikah-secara-islam Masdar F. Masudi, Meninjau Ulang Waktu Pelaksanaan Haji, http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=480. Wawancara K.H. Hussein Muhammad dan Nur Rofiah, Perempuan Boleh Mengimami LakiLaki, 04/04/2005, http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=793.

[1] Ismail Raji al-Faruqi, al-Tawhid: Its Implications for Thought and Life (Herndon, Virginia:

International Institute of Islamic Thought, 1995), 41.


[2] Ibid., 41. [3] Syaikh Zamuji, Talim al-Mutaallim beserta terjemah, penterjemah: Abdul Kadir Aljufri

(Surabaya: Mutiara Ilmu Surabaya, 1. . .


[4] Ibid., 12. [5] al-Faruqi, Islamization of Knowledge,8. [6] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Concept of Educationn (Kuala Lumpur: ISTAC, 1999), 19. [7] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur, ISTAC, 1993),

150.
[8] Faruqi, Islamization of Knowledge: Problems, Principles and Perspectives, dalam Islam:

Source and Purpose of Knowledge (Herdon: IIIT, 1981), 22-23


[9] Antulio J. Echevarria II, Wars of Ideas and The War of Ideas, (US, June 2008), 1. [10] (Santa Monica: RAND Corporation, 2007), iii.

[11] Ibid., 109. [12] Angel M. Rabasa dkk, The Muslim World After 9/11 (Santa Monica, CA: RAND Corporation, 2004), 409. Sederhananya Sekulerisme biasanya diartikan sebagai pemisahan institusi agama dari institusi negara. Tapi bagi Abdel Wahhab Al Messiri sekulerisme lebih dari itu ia juga berkonotasi pada pemisahan total kehidupan dunia dari segala bentuk nilai, baik itu nilai agama ataupun nilai manusiawi. Singkatnya sekulerisme dalam konsepsi ini sama dengan ateisme. (Secularism or secularizing process is a process of separation, not of

religion and state, but of values and the world: the world here being both man and nature; values here are not necessarily religious, or even moral, but actually, they are also human values, any values for that matter.) Abdel Wahhab Al Messiri, The Secularization of the Social Sciences: Perspectives from the Islamization of Knowledge, dalam Mona M. Abul-Fadl (ed.), Proceedings Twenty First Annual Conference (Virginia: IIIT), 4. Moderatisme biasanya diartikan dengan wasatiyyah. Al-Qurtubi menjelaskan yang di maksud denganal-wasat adalah al-adl, lawan kata al-ghuluw (berlebihan) dan al-taqsir (kurang dari yang
seharusnya). al-wasat dengan demikian berarti berada di posisi tengah. Gambaran ini terangkum dalam Hadits Rasul yang berbunyi khayrul umur awsatuha (sebaik-baik urusan adalah pertengahan). Para ulama klasik biasanya menggunakan istilah inshaf, Itidal, atau iqtishad untuk menjelaskan posisi ini. Imam al-Ghazali menggunakan istilah terakhir untuk judul bukunya dalam Ilm Kalam (teologi), al-Iqtishad fil Itiqad. Sayang istilah ini belakangan ini telah disabotase. Wasatiyyah cenderung di artikan liberal, yaitu yang mengusung konsep kesetaraan gender, kebebasan individu, menghormati hak minoritas non-Muslim, mendukung sistem demokrasi serta menolak konsep negara Islam atau aplikasi Syariah Islam melalui jalur formal (negara). [13] http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nusantara/10/05/26/117186-

astaghfirullahada-kabar-pasangan-lesbian-menikah-secara-islam
[14] Masdar F. Masudi, Meninjau Ulang Waktu Pelaksanaan Haji,

http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=480.
[15] lihat wawancara K.H. Hussein Muhammad dan Nur Rofiah, Perempuan Boleh Mengimami

Laki-Laki, 04/04/2005, http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=793.