Anda di halaman 1dari 19

ABSTRAK

Konduktometri adalah pengukuran konduktivitas ketika suatu larutan elektrolit ditambahkan kepada suatu larutan elektrolit pada kondisi dimana tidak terjadi perubahan volume yang akan mempengaruhi konduktansi larutan. Tujuan percobaan ini adalah menentukan konsentrasi natrium asetat dengan asam klorida dan menentukan kadar aspirin dalam sampel menggunakan metode konduktometri. Adapun metode kerja pada kedua percobaan ini adalah sama, yaitu dimana larutan yang akan diukur konduktivitasnya dimasukkan ke gelas beker dan meletakkan di atas hot plate serta memasukkan magnetic stirrer yang berfungsi sebagai pengaduk. Kemudian ditambahkan 1 ml 20 ml HCl untuk larutan cuplikan (natrium asetat) dan NaOH pada larutan aspirin. Pada setiap penambahan, dihitung konduktivitasnya. Berdasarkan perhitungan didapatkan konsentrasi natrium asetat sebesar 3 x 10-3 M, massa aspirin dalam sampel sebesar 0,02475 gram, massa aspirin dalam tablet sebesar 0,061875 gram, dan kadar aspirin dalam tablet sebesar 12,375 %. Kata Kunci : konduktivitas, konduktometer, konduktometri

V-1

I. PENDAHULUAN 1.1 Tujuan Percobaan Tujuan percobaan ini adalah menentukan konsentrasi natrium asetat dengan asam klorida dan menetukan kadar aspirin dalam sampel menggunakan metode konduktometri. 1.2 Latar Belakang Pada tahun 1946, telah kita kenal suatu teknik analisis dalam industri kimia. Banyak instrumen yang telah dirancang untuk titrimetri dengan frekuensi yang tinggi. Contoh yang jelas dapat ditemukan dalam makalah yang telah dibuat fistur high frequency titrimeter, sargut aseillometer, dan sebagainya. Dalam setiap kasus, perubahan-perubahan dalam komposisi larutan yang terkandung dalam sel titrasi mempengaruhi hantaran frekuensi tinggi dan kapasitas sel, dengan mengakibatkan efek terhadap rangkaian dari jenis sel tersebut. Yang merupakan sebuah komponen berbagai instrumen berbeda-beda dalam responnya yang diamati dan dengan jalan apa cara itu diukur. Prinsip yang mendasari titrasi-titrasi konduktometri merupakan satu di antara dasar dalam teknik analisis industri kimia. Bahkan asam yang sangat lemah, seperti asam berat dan fenol, yang tidak bisa dititrasi secara potensiometri, dapat secara konduktometri dengan mudah. Metode

kondktometri ini dapat digunakan dalam penentuan kadar suatu zat dalam sampel. Selain itu jugadapat digunakan dalam memisahkan zat-zat logam berbahaya yang ada dalam air. Oleh karena itu, percobaan ini sangat penting sehingga dapat dilakukan pada pengaplikasian sehari-hari. Aplikasi percobaan ini pada dunia industry yaitu pada pembuatan obat aspirin. Melalui percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat menentukan konsentrasi natrium asetat dengan asam klorida. Disamping itu, juga dapat menentukan kadar aspirin dalam sampel menggunakan metode konduktometri. Dalam teknik kimia, titrasi kondktometri sering digunakan dalam menentukan kadar zat dalam suatu sampel

V-2

II. DASAR TEORI Konduktometri merupakan pengukuran konduktivitas ketika suatu larutan elektrolit ditambahkan kepada suatu elektrolit pada kondisi dimana tidak terjadi perubahan volume yang akan mempengaruhi konduktansi larutan. Salah satu sifat larutan adalah kemampuannya untuk menghantarkan arus listrik (konduktansi). Konduktansi larutan elektrolit pada temperatur tertentu bergantung pada konsentrasi ion-ion tersebut. Bila suatu larutan elektrolit diencerkan, maka konduktivitas akan turun karena lebih sedikit ion dalam larutan untuk membawa arus. Sifat antaran ini dapat digunakan untuk analisis kuantitatif secara langsung dengan metode konduktometri. Pengerjaan titrasi konduktometri memerlukan sel konduktometer, yaitu alat untuk menambahkan zat penitrasi dan peralatan untuk mengukur tahanan sel (Khopkar, 1990). Hukum ohm menyatakan bahwa arus yang mengalir dalam sebuah penghantar berbanding lurus dengan daya gerak listrik (daya elektromotif) dan berbanding terbalik dengan resistensi dari penghantar. . . . . (1) Kebalikan dari resistansi dinamakan konduktivitas (G[hantaran]). Ini diukur dalam kebalikan ohm (ohm-1), dimana telah diusulkan nama siemens (s) (Ref.1) resistans suatu contoh bahan yang homogen, dengan panjang L dan luas penampang A diberikan oleh : . . . . (2) dimana adalah suatu sifat khas dari bahan itu yang dinamakan resistivitas

(dahulu disebut tahanan-jenis = resistans spesisifik). Dalam satuan SI, L dan A harus diukur masing-masing dalam meter dan meter persegi sehingga mengacu pada satu meter kubik dari bahan dan diukur dalam ohm meter. . . . . (3) Sampai kini, pengukuran pengukuran resistivitas telah dilakukan dalam kaitan dengan satu sentimeter kubik zat yang memberi kepada satuan ohm. Kebalikan

dari resistivitas adalah konduktivitas yang dalam satuan-satuan SI adalah

V-3

konduktans dari 1 m3 zat dan mempunyai satuan ohm-1 cm-1 (atau s cm-1) (Basset, 1994). Biasanya konduktometri merupakan prosedur titrasi. Sedangkan

konduktansi bukanlah prosedur titrasi. Metode konduktansi digunakan untuk mengikuti reaksi titrasi jika perbedaan antara konduktansi cukup besar sebelum dan sesudah penambahan reagen. Tetapan sel harus diketahui, berarti selama pengukuran yang berturut-turut jarak elektrode harus tetap. Tetapi pengenceran akan menyebabkan hantarannya tidak berfungsi secara linier lagi dengan konsentrasi (Khopkar, 1990). Untuk elektrolit-elektrolit kuat konduktivitas molar naik selagi pengenceran dinaikkan. Tetapi ini tampak mendekati sesuatu nilai batas yang disebut sebagai konduktivitas molar pada keenceran tak terhingga A (kuantitas ini ditulis sebagai Ao bila kita lebih mempertimbangkan konsentrasi daripada keenceran. Kuantitas Ao dapat ditetapkan dengan ekstrapolasi untuk larutan encer (dari elektrolit kuat untuk elektrolit lemah). Metode ekstrapolasi ini tak dapat digunakan untuk penetapan Ao. Tetapi ia dapat dihitung dari konduktivitas molar pada keenceran tak terhingga dari masing-masing ion. Dengan menggunakan hukum migrasi tak bergantung dari ion-ion. Pada keenceran tak terhingga, ion-ion saling tak bergantung satu sama lain, dan masing-masing menyumbangkan bagiannya kepada konduktivitas total, jadi : Ao = Ao (kat) + Ao (an) . . . . (4)

Dimana Ao (kat) dan Ao (an) adalah konduktivitas molar ionik masing-masing kation dan anion pada pengenceran tak terhingga (Vogel, 1999). Titrasi konduktometri sangat berguna bila hantaran sebelum dan sesudah reaksi cukup banyak berbeda. Metode ini kurang bermanfaat untuk larutan dengan konsentrasi ionic terlalu tinggi. Misalnya titrasi Fe3+ dengan KMnO4, dimana perubahan hantaran sebelum dan sesudah titik ekivalen terlalu kecil dibandingkan besarnya konduktansi total (Khopkar, 1990). Penambahan suatu elektrolit kepada suatu larutan elektrolit lain pada kondisi-kondisi yang tak menghasilkan perubahan volume yang berarti akan mempengaruhi konduktans (hantaran). Larutan tergantung pada ada tidaknya

V-4

terjadi reaksi-reaksi ionik. Jika tidak ada reaksi ionik seperti pada penambahan suatu garam sederhana kepada garam sederhana lain (misalnya KCl kepada NaNO3). Konduktans hanya akan naik semata-mata jika terjadi reaksi ionik. Jika tidak ada reaksi ionik seperti pada penambahan suatu garam sederhana, konduktans dapat naik atau turun dan begitu juga pada penambahan suatu basa kepada suatu asam kuat. Hantaran turun disebabkan oleh pergantian ion hidrogen yang konduktivitasnya lebih rendah. Ini adalah prinsip yang mendasari titrasi konduktometri, yaitu substitusi ion-ion dengan konduktivitas oleh ion-ion yang lain (Basset, 1994). Secara instrumental, pengukuran secara konduktometri merupakan salah satu cara untuk menentukan titik akhir titrasi. Jalannya titrasi diikuti dengan mengukur besarnya hantaran larutan. Selanjutnya dibuat alur titrasi antara hantaran dan larutan sebagai fungsi dari volume titran yang ditambahkan dalam larutan. Pada umumnya ditemukan 2 buah plot linier yang jika dilakukan ekstrapolasi akan menghasilkan titik temu yang merupakan titik akhir titrasi. Ini memberikan kesederhanaan karena tidak perlu mengukur pada seluruh proses titrasi. Jadi pengamatan dapat dilakukan untuk beberapa titik sebelum dan sesudah titik ekivalen. Piranti konduktivitas termal berisi filamen logam yang dipanasi (umumnya platina, aliase platina-radium, atau wolsrom), atau suatu termistat. Biasanya terdapat lapisan kaca pada permukaan sebagai pelindung, dan kawat aliase platina yang halus memberikan hubungan listrik (Day & Underwood, 2002). Hendaknya diperhatikan pentingnya pengendalian temperatur dalam pengukuran-pengukuran konduktans. Sementara penggunaan thermostat tidaklah sangat penting, dalam titrasi konduktometri kekonstanan dalam temperatur dituntut. Tetapi biasanya hanya perlu menaruh sel konduktivitas itu dalam bejana besar penuh air pada temperature laboratorium (Basset, 1994).

V-5

Asam salisilat adalah golongan khusus dari asam hidroksi. Reaksi dengan anhidrida asetat mengubah gugus hidroksil fenolik dari asam salisilat menjadi ester asetil. Reaksi asam salisilat dengan anhidrida asetat, yaitu : OH COOH

OCCH3 COOH

CH3C OCCH3

CH3COOH

Aspirin digunakan secara luas dalam bentuk murni atau campuran dengan obat lain. Selain itu juga sebagai obat penghilang rasa nyeri (analgesik) atau obat demam. Efek sampingnya yaitu pendarahan saluran pencernaan, dan dalam dosis tinggi dapat menyebabkan kematian (Hart, 1983)

V-6

III. METODOLOGI PERCOBAAN 3.1. Alat dan Bahan a. Alat Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah pipet mohr, gelas arloji, gelas beker 250 ml, hot plate, corong, buret 50 ml, sudip, gelas ukur 100 ml, neraca analitik, konduktometer, stirrer, b. Bahan Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah natrium asetat, larutan HCl standar 0,1 M, aquades, etanol, larutan standar NaOH 0,05 N, tablet aspirin dan etanol 96 %.

3.2. Prosedur Kerja 3.2.1. Penentuan Natrium Asetat dengan Asam Klorida 1. Dimasukkan sel hantaran ke dalam bejana titrasi yang telah dibilas dengan akuades. 2. Dimasukkan pegaduk magnet ke dalam bejana titrasi berisi sel hantaran di atas pengaduk magnet. 3. Diisi buret dengan lautan HCl standar 0,1 M. 4. Ditempatkan ujung buret sedemikian rupa kira-kira 1 cm di atas permukaan larutan CH3COONa. 5. Dihubungkan pengadukan. 6. Dititrasi larutan dengan HCl dan dicatat nilai konduktan setiap penambahan 1 ml HCl. 7. Hasil dari pengadukan daya hantar ditabelkan dengan volume HCl. 8. Dibuat grafik hubungan daya hantar dan volume, titik ekivalen ditentukan dengan cara ekstraplorasi. 3.2.2. Analisis Tablet Aspirin 1. Ditimbang 1 tablet aspirin dan dimasukkan ke gelas beker. 2. Ditambahkan 15 ml aquades dan diaduk hingga tablet hancur. sel dengan pengukur hantaran dan dimulai

V-7

3. Ditambahkan 30 ml etanol dan diaduk hingga tablet larut sempurna. 4. Dimasukkan dalam labu ukur dan diencerkan sampai tanda batas serta dikocok sampai homogen. 5. Dipipet 100 ml larutan dari labu takar dan dimasukkan ke gelas beker. 6. Dititrasi dengan larutan standar NaOH dengan ditambahkan 0,5 ml hingga penambahan mencapai 10 ml.

V-8

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Hasil Pengamatan Tabel 5.1 Penentuan konsentrasi Natrium Asetat dengan HCl No. 1. 2. Langkah Kerja Mengambil CH3COONa Menitrasi dengan HCl, menghitung konduktansi setiap 1 ml sampai 20 ml 3. Menghitung Konduktivitas V(ml) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Kondutivitas 4,85 4,86 4,87 4,87 4,88 4,88 4,88 4,89 4,90 4.90 4,91 4,92 4,92 4,92 4,92 4,93 4,94 4,95 4,95 4,96 4,96 Hasil V = 100 ml

V-9

Tabel 5.2 Analisis Tablet Aspirin No. 1. 2. Langkah Kerja Menimbang 1 tablet aspirin Menghancurkan table hingga halus lalu menimbang lagi 3. Menambah akuades dan etanol Vakuades = 15 ml Vetanol = 30 ml 4. 5. 6. Mengencerkan hingga 250 ml Mengambil 100 ml larutan Menitrasi dengan NaOH setiap 0,5 ml sampai 10 ml 7. Menghitung konduktivitas Konduktivitas awal =0,56 V(ml) 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5 5 5,5 6 6,5 7 7,5 8 8,5 konduktivitas 0,54 0,51 0,50 0,49 0,48 0,48 0,48 0,48 0,48 0,48 0,48 0,49 0,49 0,50 0,52 0,64 0,52 Vpengenceran = 250 ml V = 100 ml Hasil Mtablet = 0,5 gram Msetelah halus = 0,5 gram

V-10

9 9,5 10

0,52 0,54 0,55

4.2. Pembahasan a. Penentuan Natrium Asetat dengan Asam Klorida Pada penentuan natrium asetat dengan asam klorida dilakukan dengan cara titrasi menggunakan asam klorida sebagai titran. Dalam titrasi ini, konduktivitas larutan diukur setiap penambahan 1 ml HCl menggunakan sel konduktometri. Analisis konduktometri dapat digunakan untuk menganalisa sampel secara kuantitatif. Dalam percobaan ini pertama-tama yang dilakukan adalah membilas sel konduktansi dengan akuades, tujuannya adalah agar zat-zat pengotor yang melekat pada dinding sel konduktansi bisa dibersihkan. Adapun tujuan dari titrasi adalah agar nilai konduktansinya dapat diketahui. Dalam titrasi ini digunakan pengaduk magnet atau stirrer. Tujuan digunakannya pengaduk magnet adalah agar kemampuan daya hantar listrik dapat di optimalkan sehingga molekul-molekulnya dapat tersebar merata. Titrasi larutan CH3COONa (garam asam lemah) dengan larutan HCl (asam kuat) bertujuan untuk mengetahui nilai konduktansinya. Titrasi ini akan membuat suatu pengenceran anion dan asam lemah digantikan oleh anionnya. Penambahan asam kuat seperti HCl kepada suatu garam dapat menyebabkan hantaran atau nilai konduktivitasnya mengalami kenaikan pada natrium asetat, hal ini terjadi karena adanya penggantian ion natrium (Na+) oleh atom (H+) dan HCl yang mempunyai nilai konduktivitas lebih tinggi. Nilai konduktivitas pada awal titrasi adalah 4,85 m/s danakan terus meningkat seiring dengan penambahan HCl. Reaksi yang terjadi antara natrium asetat dan HCl yaitu : CH3COONa + HCl CH3COOH + NaCl

Pada reaksi tersebut terdapat adanya pembentukan garam NaCl, pembentukan garam NaCl ini terjadi pada saat awal titrasi yang

V-11

menyebabakan nilai konduktivitasnya tetap. Pada penambahan awal HCl, konduktivitasnya sedikit berubah-ubah. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor seperti suhu lingkungan dan pengukuran konduktivitasnya bukan pada bejana yang tertutup. Setelah penambahan HCl pada volume 5 ml, nilai konduktivitasnya terus naik, hal ini disebabkan HCl tidak bereaksi lagi dan adanya pergantian Na+ oleh H+ dengan reaksi : CH3COO- + H+ CH3COOH

Dari hasil pengamatan saat melakukan titrasi, dapat di gambarkan dengan grafik hubungan antara volume HCl dengan nilai konduktansi.

Gambar 5.1 Grafik hubungan antara HCl dan Konduktansi

Menurut teori, jika titik ekivalen telah terlampauimaka kurva konduktansi akan naik dengan cepat karena asam asetat. Grafik pada percobaan ini sudah sesuai dengan teori. Dari hasil perhitungan diperoleh konsentrasi natrium asetat adalah sebesar 3 10-3 M, sedangkan secara teoritis konsentrasi natrium asetat 0,01 M. Perbedaan ini mungkin karena masih adanya zat pengotor yang ada di dalam gelas sehingga terkontaminasi.

V-12

b. Analisis Tablet Aspirin Metode konduktometri juga dapat digunakan untuk menganalisa kadar aspirin dalam sampel dengan menggunakan sel konduktometri, yaitu alat untuk mengukur daya hantar. Dalam analisa ini dilakukan titrasi. Namun, larutan yang digunakan sebagai titran adalah NaOH 0,01 N dan daya hantar hiukur setiap penambahan 0,5 ml NaOH. Adapun tujuannya adalah untuk menentukan nilai konduktansi aspirin. Pada percobaan ini 1 tablet aspirin dengan massa 0,5 gram dicampurkan dengan 15 ml akuade, tujuannya adalah agar tablet aspirin yang berbentuk padatan berubah menjadi cair sehingga bisa larut sempurna, lalu aspirin ditambahkan dengan 30 ml etanol agar aspirin sempurna dalam larutan tersebut. Dan sampel aspirin dititrasi denag NaOH dan menghasilkan dengan reaksi sebagai berikut :
O O C-H3 O O C-H3

COOH

+ NaOH

COONa

+ H2 O

Dari hasil pengamatan pada saat melakukan titrasi, dapat digambarkan dengan grafik hubungan antara volume NaOH dengan nilai konduktansi. Grafiknya adalah sebagai berikut :

Gambar 5.2 Grafik hubungan antara NaOH dengan Konduktansi


V-13

Saat awal titrasi terjadi penurunan konduktansi saat penambahan 0,5 ml hingga 5,5 ml. ini disebabkan oleh adanya proses penukaran ionisasi dari aspirin yang diakibatkan oleh pembentukan garam asetil asetat (NaC9H7O4). Namun , titrasi selanjutnya setiap penambahan 6 sampai 10 ml nilai konduktivitasnya terus meningkat. Ini terjadi karena titik ekivalen tercapai dan tidak ada lagi pembentukan garam sehingga konsentrasi NaOH saja yang tersisa. Grafik pada percobaan ini sudah sesuai dengan teori, karena NaOH memiliki nilai konduktivitas yang tinggi sehingga penambahan NaOH akan meningkatkan nilai

konduktansi. Titik ekivalen adalah suatu kondisi di mana mol titran sama dengan mol titrat. Berdasarkan pada data percobaan dan hasil perhitungan, kandungan aspirin dalam sampel adalah sebesar 0,02475 gram. Sedangkan kandungan aspirin dalam 1 tablet yang massanya 0,016875 gram. Dari kadar aspirin yang didapat dari percobaan ini yaitu 12,375 %. Berdasarkan literature kandungan aspirin dalam tablet adalah sebesar 0.05 gram. Perbedaan ini disebabkan kurang teliti dalam melakukan penimbangan dan kurang bersih dalam membersihkan alatalat gelas sehingga larutan terkontaminasi dengan zat pengotor yang menyebabkan massa atau kandunan dalam tablet aspirin berlebih dan teoritis.

V-14

V. PENUTUP 5.1. Kesimpulan Berdasar pada percobaan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Metode konduktometri merupakan salah satu cara yang digunakan untuk menganalisis sampel secara kuantitatif berdasar pada

konduktivitasnya. 2. Metode konduktometri menggunakan sel konduktometri, yaitu alat untuk mengukur tahanan sel. 3. Prinsip konduktometri dalam analisa tablet aspirin yaitu pertukaran ion berdasarkan konduktivitas ionnya. 4. 5. Konsentrasi natrium asetat sebesar 3 10-3 M . Kadar aspirin dalam tablet sebesar 12,375 %.

5.2. Saran Sebaiknya praktikan benar benar teliti dalam menentukan harga konduktivitas dan dalam tiap penambahan reagen agar hasil lebih akurat.

V-15

DAFTAR PUSTAKA Basset, J, dkk. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorgani. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Day, R.A dan A.L, Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga, Jakarta. Hart, Harold. 1983. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat. Erlangga. Jakarta. Khopkar, SM. 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik.UI Press. Jakarta. Vogel. 1999. Buku ajar vogel kimia analisis kuantiatif anorganik. Erlangga. Jakarta.

V-16

LAMPIRAN 1. Perhitungan A. Natrium Asetat dengan Asam Klorida Diketahui : M HCl = 0,1 M V HCl = 3 ml = 3 10-3 L Ditanya Jawab : M CH3COONa = ..? : ( ) (
(

)
)

3 10-3 M

B. Analisis Tablet Aspirin Diketahui : M NaOH V NaOH V sampel V pengenceran massa tablet aspirin massa tablet aspirin digerus BM aspirin Ditanya = 0,05 M = 2,75 ml = 2,75 10-3 L = 100 ml = 0,1 L = 250 ml = 0,25 L = 0,5 gram = 0,5 gram = 180 gram/mol =?

: a. Massa aspirin dalam sampel = ? b. Massa aspirin dalam tablet

Jawab

V-17

m aspirin = massa aspirin dalam sampel fp = 0,02475 gram 2,5 = 0,061875 gram Kadar aspirin = = = 12,375% 100% 100%

V-18

V-19