Anda di halaman 1dari 22

PENDAHULUAN

Pengertian Ekonomi Veteriner atau dalam bahasa asingnya Veterinary Economics adalah hal yang masih baru dan belum banyak diterapkan di bidang kesehatan hewan di Indonesia. Ekonomi veteriner adalah suatu ilmu yang mempelajari penerapan prinsip-prinsip ekonomi di dalam menganalisa suatu kegiatan veteriner. Selama dasawarsa terakhir ini, negara-negara maju memperoleh kemajuan yang berarti dalam pengembangan teknik-teknik analisa ekonomi yang digunakan dalam perencanaan maupun evaluasi program-program kesehatan hewan. Dalam tahun-tahun belakangan ini ekonomi veteriner semakin populer dan meningkat penggunaannya di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Setiap program kesehatan hewan selalu dikaitkan dengan bobot keuntungan yang diperoleh baik bagi peternak maupun bagi ekonomi nasional. Penerapan analisa ekonomi sangat membantu di dalam proses pengambilan keputusan dalam menentukan skala prioritas maupun strategi pengendalian suatu penyakit. Suatu prinsip ekonomi yang berlaku di semua bidang adalah bagaimana para pengambil keputusan dapat menekan pengeluaran dana sekecil mungkin akan tetapi dapat memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya (Naipospos, 2013). Mengingat begitu luasnya titik singgung dengan ilmu-ilmu yang lain maka ekonomi dalam kaitannya dengan kesehatan hewan tidak bisa terlepas dari ilmu yang lain tanpa saling mengisi satu sama lain. Seperti ekonomi veteriner perlu ditunjang oleh pengetahuan mengenai epidemiologi dan statistika. Epidemiologi adalah dasar utama yang melatarbelakangi perhitungan ekonomi yang dibuat, misalnya dalam menentukan parameter-parameter apa saja yang akan digunakan untuk menghitung kerugian akibat suatu penyakit tertentu, bagaimana perubahan parameter tersebut apabila dilakukan usaha pengendalian penyakit dan lain sebagainya. Ini tentunya menuntut suatu keahlian dari para dokter hewan untuk mengetahui dan mempelajari epidemiologi dari suatu penyakit sebaikbaiknya, sehingga analisa ekonomi yang dilakukan selalu mengikuti sifat dan karakteristik dari setiap penyakit. Begitu juga statistika sangat diperlukan dalam

analisa ekonomi terutama dalam pengumpulan data yang benar sehingga menghasilkan analisa yang dapat dipercaya (Naipospos, 2013). Pendekatan ekonomi terhadap bidang veteriner dimulai dari soal keuntungan yang diperoleh dari produksi ternak dan hasil ternak baik bagi produsen maupun konsumen. Keuntungan bagi produsen berarti peningkatan produktivitas dan laba tinggi,sedangkan bagi konsumen berarti kualitas baik dengan harga yang rendah. Di Indonesia pada saat ini telah dijalankan bermacammacam usaha untuk mengatur sumber-sumber yang ada dalam usaha meningkatkan bidang kesehatan hewan. Akan tetapi dirasakan adanya tantangan yang makin mendesak untuk membuat prioritas yang lebih tepat dan lebih mengenai sasaran, sehingga dana yang ada dapat dialokasikan pada programprogram kesehatan hewan yang jauh lebih menguntungkan. Untuk menghadapi tantangan ini dibutuhkan suatu pendekatan baru yang diharapkan dapat mengatasi masalah pembangunan peternakan dewasa ini terutama masalah peningkatan produksi ternak dan hasil ternak (Naipospos, 2013). Manfaat aplikasi ekonomi veteriner adalah dapat menghitung kerugian ekonomi nasional akibat penyakit ternak. Di Australia sebagai negara dimana bidang peternakan maju pesat telah dikembangkan teknik-teknik analisa ekonomi sehingga para perencana dapat menetapkan bahwa dana yang telah ditanamkan di bidang kesehatan hewan pada umumnya akan menghasilkan keuntungan sebesar 5 15 kali dari investasi. Menghitung kerugian suatu penyakit belumlah dapat membantu melakukan pengambilan keputusan akan tetapi dapat dipakai untuk menentukan urut-urutan penyakit menurut kepentingan ekonominya (Morris, 1983). Menghitung komponen keuntungan dari suatu program pengendalian penyakit jauh lebih sulit dan rumit dibandingkan dengan dengan menghitung biayanya. Hal ini disebabkan karena komponen keuntungan terdiri dari keuntungan yang finansial dan non-finansial serta kategori keuntungankeuntungan lainnya yang merupakan akibat langsung maupun tidak langsung dari suksesnya suatu program. Sebagai contoh diambil program pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sedang dijalankan di Indonesia. Kategori

keuntungan yang bisa diperoleh apabila program pengendalian PMK berhasil dilaksanakan adalah keuntungan finansial dari meningkatnya produktivitas ternak, berupa meningkatnya berat badan, naiknya produksi susu, naiknya harga satuan ternak dan lain sebagainya yang kesemuanya dapat dihitung secara kuantitatif. Sedangkan keuntungan non-finansial yang sulit dihitung secara kuantitatif dan sifatnya sosial yaitu misalnya jadwal panen yang tidak terganggu oleh karena tenaga kerja ternak cukup, arus lalu lintas ternak terbuka sebagai akibat bebasnya suatu wilayah dari PMK dan lain sebagainya. Keuntungan tidak langsung dari program pengendalian PMK bisa disebutkan lagi seperti terbukanya kemungkinan ekspor keluar negeri serta keuntungan-keuntungan lain yang cukup memberi arti ekonomis bagi masyarakat. Kesemuanya ini memberikan pengaruh beruntun meskipun sulit dihitung secara kuantitatif akan tetapi nyata dan dapat dirasakan (Naipospos, 2013). Contoh lain yang lebih ekstrim betapa rumitnya menghitung keuntungan, misalnya dalam program pengendalian rabies yang merupakan penyakit yang sifatnya zoonosis. Keuntungan finansial yang dapat dihitung adalah biaya program pencegahan rabies baik itu biaya vaksinasi maupun biaya operasi penangkapan dan pembunuhan anjing-anjing liar dapat ditekan sekecil mungkin. Keuntungan sosial yang sangat nyata berpengaruh adalah timbulnya rasa tentram dalam hidup masyarakat dengan berkurangnya bahaya rabies (Naipospos, 2013). Teknik-teknik analisa ekonomi perlu ditunjang oleh data epidemiologis. Penilaian terhadap bobot analisa yang dibuat bergantung kepada bobot epidemiologi yang ditelaah. Secara singkat 3 (tiga) teknik analisa ekonomi yang dapat digunakan di bidang kesehatan hewan sebagai berikut : (1) Budgeting, teknik ini pada prinsipnya merupakan analisa yang memperhitungkan seluruh anggaran yang menyangkut biaya (cost) maupun pendapatan (returns) yang diperoleh dari hasil pelaksanaan program pengendalian penyakit. Teknik ini dapat diterapkan untuk analisa suatu penyakit atau sindrom penyakit tertentu. Hanya hal-hal yang merupakan pengaruh langsung dari program diperhitungkan dalam analisa ini. Analisa mempertimbangkan kemungkinan apabila penyakit terjadi (atau tidak terjadi) selama program dilaksanakan; (2) Gross margin analysis,

teknik ini diterapkan untuk analisa ekonomi di tingkat perusahaan atau sejumlah peternakan tertentu, dengan mempelajari pengaruh dari program pengendalian penyakit terhadap berbagai aspek dari perusahaan atau sejumlah peternakan tersebut. Gross margin dari suatu perusahaan adalah pendapatan perusahaan tersebut (gross income) dikurangi seluruh biaya yang diperlukan menurut kebutuhan (variable cost), seperti biaya makanan ternak, biaya obat-obatan hewan, tenaga kerja dan lain sebagainya. Gross margin pada umumnya dihitung per ekor atau per unit; (3) Benefit cost analysis, pada umumnya teknik ini digunakan untuk analisa program pengendalian penyakit yang sifatnya lebih luas baik itu regional maupun nasional dan berlangsung selama periode tertentu untuk bisa mencapai hasil yang optimum. Teknik ini lebih kompleks karena bukan saja menyangkut variabel yang begitu banyak tetapi juga menentukan keseluruhan komponen biaya maupun keuntungan yang diperoleh pada periode pelaksanaan program maupun sesudah program dilaksanakan. Analisa ini digunakan sebagai indikator untuk menilai diterima atau tidaknya suatu proyek yang diajukan. Teknik pertama dan kedua pada umumnya dipakai untuk analisa programprogram pengendalian penyakit yang dilaksanakan pada suatu perusahaan tertentu atau sejumlah peternakan sampel di wilayah tertentu. Dua teknik ini dikenal dengan istilah analisa Mikroekonomi dimana analisa hanya menyangkut produsen maupun konsumen per individu serta pengaruh timbal balik yang timbul. Sedangkan teknik ketiga dikenal dengan istilah analisa Makroekonomi dimana analisa menyangkut ekonomi secara keseluruhan seperti pengelolaan pendapatan daerah maupun nasional, bahkan lebih jauh lagi menyangkut cadangan devisa negara, perdagangan internasional, pemasaran dan lain sebagainya (Morris, 1983).

PEMBAHASAN

Latar belakang Rabies atau penyakit anjing gila adalah penyakit hewan yang bersifat zoonosis (menular ke manusia). Lebih dari 55.000 kasus rabies pada manusia dilaporkan setiap tahun di dunia (Wilde et al., 2008; Bourhy et al., 2008). Rabies disebabkan oleh virus rabies, dari genus Lyssavirus, famili Rhabdoviridae (OIE, 2008). Virus rabies termasuk virus yang memiliki genom RNA untai tunggal berpolaritas negatif (ss-RNA virus), memiliki ukuran diameter 75 nm dan panjang 180 nm. Virus rabies memiliki lima jenis partikel protein yang berbeda yakni glikoprotein (G), matrik protein (M), RNA polymerase (L), nukleoprotein (N), dan phosphoprotein (P) (Coll, 1995). Virus rabies dikeluarkan bersama air liur hewan yang terinfeksi dan ditularkan melalui gigitan, cakaran atau melalui kulit yang terluka (Bingham, 2005; Kang et al., 2007). Kasus klinis rabies pada hewan maupun manusia selalu berakhir dengan kematian. Penyakit Rabies menimbulkan dampak psikologis seperti kepanikan, kegelisahan, kekhawatiran, kesakitan dan ketidaknyamanan pada orang-orang yang terpapar. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan pada daerah tertular terjadi karena biaya penyidikan, pengendalian yang tinggi, serta tingginya biaya postexposure treatment. Disamping itu, kerugian akibat pembatalan kunjungan wisatawan, terutama di daerah yang menjadi tujuan wisata penting di dunia, seperti Bali, dapat saja terjadi jika tingkat kejadian rabies sangat tinggi. Rabies telah ada di Indonesia sejak abad ke-19 dan telah tersebar di sebagian besar wilayah. Rabies dilaporkan pertama kali oleh Stchorl pada tahun 1884, yaitu pada seekor kuda di Bekasi, Jawa Barat. Selanjutnya kasus rabies pada kerbau dilaporkan pada tahun 1889, kemudian rabies pada anjing dilaporkan oleh Penning tahun 1890 di Tangerang. Kasus rabies pada manusia dilaporkan oleh Eilerts de Haan pada seorang anak di Desa Palimanan, Cirebon tahun 1894. Selanjutnya rabies dilaporkan semakin menyebar kebeberapa wilayah di Indonesia, yaitu Sumatra Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur tahun 1953, Sulawesi Selatan tahun 1959, Lampung 1969, Aceh tahun 1970, Jambi dan DI

Yogyakarta tahun 1971. Rabies di Bengkulu, DKI Jakarta, dan Sulawesi Tengah di laporkan tahun 1972, Kalimantan Timur tahun 1974 dan Riau tahun 1975. Pada dekade 1990-an dan 2000-an rabies masih terus menjalar ke wilayah yang sebelumnya bebas historis menjadi tertular, yaitu Pulau Flores tahun 1998, Pulau Ambon dan Pulau Seram tahun 2003, Halmahera dan Morotai tahun 2005, Ketapang tahun 2005, serta Pulau Buru tahun 2006. Kemudian Pulau Bali dilaporkan tertular rabies tahun 2008, Pulau Bengkalis dan Pulau Rupat di Propinsi Riau tahun 2009 (Direktorat Kesehatan Hewan, 2006; Kepmentan, 2008). Bali merupakan propinsi terbaru tertular rabies di Indonesia dan Bali dinyatakan tertular secara resmi berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No.:1637.1/2008 tertanggal 1 Desember 2008. Secara laboratorium rabies pada anjing di Bali didiagnosis pertama kali pada tanggal 27 Nopember 2008 yaitu pada satu ekor anjing asal Kelurahan Kedonganan. Dengan mengkaji kasus pada manusia dan hewan serta masa inkubasi rabies, rabies diduga masuk ke Semenanjung Bukit, Kabupaten Badung, Propinsi Bali sekitar bulan April 2008 (Putra et al., 2009). Selanjutnya dalam beberapa bulan rabies sudah ditemukan menyebar kebeberapa wilayah antara lain di Kota Denpasar pada 19 Desember 2008. Pada pertengahan tahun 2009 wabah sudah menyebar ke Kabupaten Tabanan, Kabupaten Karangasem, Kabupaten Buleleng, Kabupaten Bangli dan Kabupaten Gianyar. Kabupaten Klungkung tertular akhir Maret 2010, dan akhirnya bulan Juni 2010 Kabupaten Jembrana dinyatakan tertular rabies. Dengan demikian, saat ini, semua kabupaten/kota di Propinsi Bali sudah tertular rabies. Pengendalian penyakit rabies umumnya dilakukan dengan vaksinasi dan eliminasi anjing liar/diliarkan, disamping program sosialisasi, dan pengawasan lalu lintas hewan penular rabies (HPR). Vaksinasi massal merupakan cara yang efektif untuk pencegahan dan pengendalian rabies. Di Kabupaten Badung, Propinsi Bali, vaksinasi rabies pada anjing, sudah dilakukan sejak tanggal 4 Desember 2008, yang dilanjutkan dengan vaksinasi massal pada tanggal 21sampai 22 Desember 2008. Vaksinasi massal terus dilakukan sampai saat ini (Juni 2011) di seluruh Bali. Vaksin rabies yang digunakan adalah vaksin Rabivet Supra 92 dan Rabisin.

Upaya untuk mengendalikan rabies dengan vaksinasi dan eliminasi anjing yang tidak optimal tidak banyak memberikan hasil. Di daerah-daerah tertentu, kasus rabies bahkan semakin meningkat (Adjid et al., 2005). Demikian juga halnya yang terjadi di Bali. Itu terbukti dengan semakin luasnya wilayah yang terkena rabies. Hal ini mungkin disebabkan karena cakupan vaksinasi yang tidak memadai. Cakupan vaksinasi merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam pengendalian suatu penyakit, disamping kualitas vaksin, teknik aplikasi dan waktu pelaksanaan vaksinasi (Rahman dan Maharis, 2008; Touihri et al.,2011). Berdasarkan data yang ada di Balai Besar Veteriner Denpasar (BBVet Denpasar), 3 ekor anjing yang didiagnosis positif rabies ternyata sudah pernah mendapatkan vaksinasi rabies. Hal yang hampir sama juga dilaporkan oleh Wilde dan Tepsumethanon (2010), bahwa 3 sampai 6% kasus anjing rabies di Thailand memiliki sejarah sudah pernah divaksinasi. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa kasus-kasus tersebut kemungkinan disebabkan oleh virus isolat vaksin itu sendiri. Penyebab lainnya yang perlu dikaji antara lain rentang waktu kekebalan yang ditimbulkan oleh vaksin yang dipakai terlalu singkat, penanganan vaksin yang tidak baik (misalnya rantai dingin yang tidak terpenuhi), salah aplikasi, ataukah terjadi perbedaan struktural gen pada glikoprotein virus rabies yang ada di Bali. Yang disebut terakhir itu dapat menyebabkan vaksin yang diberikan tidak mampu lagi memberikan protektivitas pada anjing yang divaksin. Seperti diketahui bahwa glikoprotein virus rabies merupakan protein yang berperan dalam menginduksi produksi antibodi netralisasi yang bersifat protektif setelah vaksinasi. Glikoprotein juga sebagai faktor penting dalam patogenisitas virus rabies (Benmansour et al., 1991; Susetya, 2005; Nagarajan et al., 2006).

Pengantar Rabies adalah penyakit virus zoonosis didistribusikan secara luas yang hadir di semua benua kecuali Antartika. Varian virus yang berbeda terjadi di berbagai host mamalia dan dapat dipertahankan pada anjing dan beberapa hewan

liar seperti kelelawar, rubah dan racoons (Center for Food Security and Public Health, 2009; WHO, 2011) . Penyakit ini endemik di beberapa bagian Afrika, Asia dan Amerika Selatan. Hanya beberapa negara termasuk Jepang, Australia, Selandia Baru, Singapura, Islandia, Inggris, Irlandia, Swedia, Norwegia, dan Belanda bebas dari rabies (Center for Food Security and Public Health, 2009; WHO, 2011). Rabies menyebabkan ensefalitis pada semua mamalia dan setelah timbul gejala, itu selalu fatal. Catatan resmi tidak melaporkan kejadian rabies karena rendahnya kualitas pelaporan rabies di negara-negara yang terkena dampak (Knobel et al., 2005; WHO, 2005). Kematian manusia akibat rabies endemik diperkirakan 55.000 kematian per tahun, dengan gigitan anjing menjadi sumber utamanya biasanya menyerang anak-anak di bawah 15 tahun yang hampir setengah adalah kasus gigitan anjing liar (Knobel et al., 2005; WHO, 2011). Meskipun rabies dapat dicegah dengan vaksinasi massal, penyakit ini merupakan beban kesehatan masyarakat yang utama di negara-negara

berkembang yang tidak memiliki sumber daya teknis dan keuangan untuk mengendalikan rabies pada populasi hewan . Hampir 100 % dari kematian rabies pada manusia terjadi di negara berkembang karena mereka tidak memiliki sumber daya dan kapasitas untuk memberikan pelayanan pengobatan yang memadai. Kematian akibat rabies terjadi 1,74 juta DALYs hilang setiap tahun. Perkiraan biaya tahunan penanganan rabies adalah US $ 583.300.000 (WHO, 2005). karena tingginya jumlah kasus prophylaxes post-exposure yang ada. Cara yang paling efektif untuk mengendalikan rabies anjing adalah dengan melakukan vaksinasi massal dari populasi anjing. Cakupan vaksinasi yang dibutuhkan tergantung pada demografi populasi anjing dan interval antara vaksinasi yang dilakukan. Hal ini umumnya direkomendasikan bahwa setidaknya 70 % harus divaksinasi dalam satu periode vaksinasi massal dan sebaiknya menggunakan vaksin long-acting. Vaksinasi oral memiliki potensi untuk meningkatkan cakupan vaksinasi pada populasi dengan banyak anjing yang minim pengawasan, namun belum menjadi solusi dalam komponen operasional vaksinasi anjing massal (Knobel et al., 2005; WHO, 2005). Semua orang dalam

kontak dengan anjing selama vaksinasi harus menerima profilaksis pra - pajanan . Untuk menjadi sukses , strategi pengendalian perlu menyertakan kolaborasi dari berbagai sektor , dukungan media dan partisipasi masyarakat . Pengawasan hewan rabies juga merupakan komponen penting dari setiap strategi pengendalian (Knobel et al., 2005; WHO, 2011). Pemusnahan anjing dengan cara yang berbeda (gas , menembak, racun, dll) tidak pernah memberikan dampak yang signifikan pada kontrol rabies (Knobel et al., 2007). Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan ( OIE ) menganggap banyak metode pembunuhan dengan kimia dan mekanik tidak dapat secara signifikan untuk mengontrol populasi anjing liar berdasarkan kesejahteraan hewan (Anonymous , 2011) . Biaya vaksinasi rata-rata (untuk biaya vaksin dan pengiriman) per anjing diperkirakan US $ 1,30 dan biaya kursus pengobatan pasca vaksinasi rata-rata diperkirakan mencapai US $ 49 di Asia dan US $ 40 di Afrika (Knobel et al., 2005). Mengontrol rabies di populasi anjing dengan vaksinasi massal terbukti lebih hemat biaya daripada post-exposure prophylaxis (PEP) pada manusia dalam jangka panjang (Zinsstag et al., 2009). Namun, kontrol sistematis rabies pada populasi hewan tidak hanya membutuhkan sumber daya keuangan, tetapi juga kapasitas teknis untuk merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi vaksinasi massal (misalnya keahlian, dokter hewan yang terlatih, sistem transportasi, kapasitas laboratorium) dan dukungan politik yang sering kurang. Akibatnya, rabies terus menjadi penyakit yang diabaikan di berbagai negara di Afrika dan Asia .

Metodologi Metode yang dilakukan dalam analisis ekonomi adalah sebagai berikut : 1) Kerangka Konseptual dan gambaran Sebuah kerangka konseptual dikembangkan untuk menilai strategi pengendalian rabies dan menginformasikan pengambilan keputusan. Gambar 1 menyajikan gambaran kerangka terpadu ini untuk menilai secara komprehensif strategi pengendalian rabies. Terdapat pengedalian rabies pada lima komponen

dasar : (1) Penilaian ekonomi membandingkan biaya moneter dan non-moneter dan manfaat pilihan kontrol rabies; (2) Penilaian kesejahteraan hewan meneliti dampak rabies dan kontrol terhadap kesejahteraan hewan; (3) Model simulasi dinamika epidemiologi penyakit dan dampak dari kontrol pada Indikator epidemiologi yang dipilih; (4) Komponen penerimaan sosial faktor penentu penerimaan control dinilai strategi dalam masyarakat; (5) Penilaian etis gabungan semua faktor dengan mempertimbangkan standar etika.

Gambar 1. Gambaran kerangka terpadu konseptual yang digunakan untuk menilai strategi pengendalian rabies

Sejalan dengan persyaratan World Society for The Protections of Animal (WSPA), analisis difokuskan terutama pada penilaian ekonomi dan kesejahteraan hewan dan membahas komponen lain dalam waktu kurang detail. Karena kedua penilaian ekonomi dan kesejahteraan hewan mengandalkan data dari komponen lain juga, analisis adalah interdisipliner di alam. Untuk setiap komponen, pendekatan khusus untuk pengumpulan data dan analisis yang dikembangkan sesuai dengan tujuan pengendalian. Di Bali, tujuan program vaksinasi yang

10

dilaksanakan adalah untuk memberantas rabies dan membangun kembali status bebas rabies, sehingga mencegah penyakit menjadi endemik di pulau.

2) Pengumpulan data Kerangka evaluasi untuk setiap komponen mendefinisikan kegiatan pengumpulan data. Protokol pengumpulan data dikembangkan dan kebutuhan data yang diidentifikasi. Sebuah gambaran awal kegiatan masa lalu di Bali diberikan oleh WSPA. Lokasi lahan dikunjungi selama satu minggu untuk mengumpulkan data lapangan dan informasi tentang masa lalu , sekarang dan masa depan dan kegiatan untuk mengatur pengumpulan data lebih lanjut oleh kolaborator (detail dijelaskan di bawah). Data yang dikumpulkan tersebut dilengkapi dengan informasi dari literatur ilmiah. Dimana data tidak tersedia atau hilang , pendapat ahli dikumpulkan.

3) Kasus dan Lokasi Sampel Bali adalah provinsi Indonesia dengan badan legislatif sendiri, dipimpin oleh Gubernur provinsi Made Mangku Pastika. Ada delapan kabupaten dan satu kota (Denpasar), yang terbagi menjadi 58 kecamatan. Di setiap kecamatan , terdapat desa-desa, tingkat terendah pemerintahan yang dipimpin oleh kepala desa yang dipilih melalui pemilu. Desa dibagi lagi menjadi "Banjar", masyarakat lokal non-administratif yang dipimpin oleh kepala banjar.

4) Penilaian Ekonomi (Economic assessment) a. Overview Cost-effectiveness (CEA) and cost-benefit analyses (CBA) yang digunakan untuk menilai sebuah nilai ekonomi dari kegiatan pengendalian rabies dilaksanakan. Empat langkah utama diikuti : (1) Identifikasi pilihan program yang akan dinilai; (2) Identifikasi biaya moneter dan non-moneter

11

dan manfaat; (3) Pengukuran dan penilaian biaya dan manfaat; (4) Perbandingan biaya dan manfaat dari opsi yang diidentifikasi. Gambaran dari program pengendalian dan data yang relevan diperoleh dengan membaca laporan, artikel dan pedoman mengacu pada program dan dengan berkonsultasi anggota staf yang terlibat dalam proyek. Tujuan pengendalian dibahas dengan WSPA, yang membentuk dasar untuk definisi program alternatif yang akan dinilai. Berbagai pilihan berdasarkan menerapkan program tetap (intervention scenarios) dibandingkan dengan program yang diperkirakan telah dinyatakan dilaksanakan (baseline scenario). Dalam CEA efek non-moneter dari program dalam kaitannya dengan biaya mereka dinilai sementara di CBA hasil diukur dalam satuan moneter. Ukuran efektivitas dan manfaat masing-masing, dan pengeluaran diperkirakan untuk menghitung incremental cost-effectiveness ratios (ICER) dan Net Present Values (NPV) menurut persamaan dasar sebagai berikut :

Di mana BS (baseline scenario) dan IS (intervention scenarios). ICER umumnya digunakan untuk membandingkan program saling eksklusif (Eichler et al., 2004), yaitu biaya tambahan dan efek tambahan dari intervensi diperkirakan dalam kaitannya dengan baseline scenario. Efektivitas mengukur kemampuan mencapai tujuan yang ditetapkan. Dalam ilmu ekonomi kesehatan manusia efek dari sebuah program sering merujuk menghindari penyakit atau kematian, tetapi hasil dari tujuan apapun dapat diukur dalam berbagai istilah teknis, misalnya deteksi kasus penyakit. NPV ini dihitung sebagai perbedaan antara nilai sekarang dari manfaat moneter dan nilai sekarang dari biaya moneter :

12

Penting untuk CBA pengendalian penyakit adalah konsep biaya penyakit dapat dihindari dianjurkan oleh McInerney (1996) yang mencerminkan apa yang dapat dilakukan tentang penyakit dengan mengintegrasikan dinamika penyakit, prosedur teknis kontrol, kelayakan, dan waktu. Biaya penyakit termasuk kerugian yang disebabkan oleh penyakit (misalnya kematian) dan pengeluaran, yang merupakan sumber daya tambahan yang digunakan sebagai konsekuensi dari penyakit (misalnya vaksin, jasa dokter hewan). Untuk menghitung semua manfaat, daftar rinci dari semua elemen yang terdiri dari biaya penyakit untuk intervensi dan skenario baseline dibuat . Untuk menghitung pengeluaran, kegiatan rinci tercatat secara sistematis dengan mempertimbangkan sembilan langkah utama sebagai berikut : 1) perencanaan, 2) persiapan, 3) pengawasan, 4) sampling, 5) uji laboratorium, 6) pelaksanaan strategi intervensi, 7) pengumpulan data, transfer dan administrasi, 8) analisis dan interpretasi data, dan 9) penyebarluasan dan komunikasi hasil. Setiap kegiatan baik diklasifikasikan sebagai tenaga kerja atau operasi dan biaya. Biaya untuk kegiatan pengendalian rabies atau control activities (CC ) dihitung sebagai berikut :

Dimana LB adalah biaya tenaga kerja dan OE biaya untuk operasi dan biaya dalam konteks pengawasan (misalnya uji laboratorium) dan komponen intervensi (misalnya vaksinasi) i dan j. Biaya tenaga kerja dihitung dengan mengalikan jumlah jam kerja yang dihabiskan per kegiatan dengan tingkat upah. Biaya untuk operasi dan biaya dihitung dengan mengalikan jumlah unit yang digunakan per kegiatan (misalnya vaksin, pengujian laboratorium) dengan harga per unit (misalnya harga vaksin atau uji laboratorium). Studi kasus Bali dilakukan dari bulan Juni sampai November 2011. Determinasi dari spreadsheet models untuk analisis ekonomi yang dikembangkan menggunakan Microsoft Excel. Semua nilai moneter 13

dinyatakan dalam US $ (US $ 1 = 0,65 = 8.785 Rupiah Indonesia pada saat analisis) . Model dijalankan untuk jangka waktu Oktober 2010 sampai September 2021 , yaitu termasuk baik suatu ex post (retrospektif) dan ex ante (calon) analisis. Semua biaya masa depan dan manfaat perlu diterjemahkan ke dalam nilai sekarang dengan mengalikan biaya atau manfaat oleh discount factor 1 / ( 1 + r ) t , dimana r = 3,5 % adalah tingkat diskonto yang dipilih dan t waktu dalam tahun. b. Kebutuhan intervensi, skenario dan data dasar Hipotesis untuk Bali adalah bahwa vaksinasi massal anjing (intervensi) akan menyebabkan pemberantasan virus dan dengan demikian menghasilkan manfaat dalam hal biaya kesehatan masyarakat moneter dan non-moneter dihindari (misalnya kematian manusia, biaya profilaksis pasca gigitan). Untuk menguji hipotesis ini program vaksinasi dibandingkan dengan skenario baseline diperkirakan (Gambar 4). Selanjutnya,

diharapkan bahwa intervensi akan memiliki dampak positif pada kesehatan hewan (misalnya kasus rabies sedikit), kesejahteraan hewan (misalnya menghindari pemusnahan) dan jumlah wisatawan (misalnya penghindaran dalam penurunan kedatangan wisatawan) bila dibandingkan dengan baseline scenario. Analisis expost mencakup periode waktu dari putaran pertama vaksinasi massal dari Oktober 2010 sampai Maret 2011. Setelah analisis ante dilakukan dari April 2011 sampai September 2021, tambahan sepuluh tahun intervensi setelah vaksinasi massal dilaksanakan yang diharapkan untuk mengakomodasi probabilitas tinggi eliminasi menggunakan vaksinasi massal dan membatasi efek dari ketidakpastian temporal.

14

Gambar 2. Ikhtisar biaya dan manfaat yang dihasilkan dari membandingkan intervensi dengan skenario baseline. Skenario intervensi dan baseline yang didefinisikan sebagai berikut: Intervensi (skenario) : Tujuan dari intervensi ini adalah untuk menghilangkan rabies dari populasi anjing dengan vaksinasi massal dengan cakupan target minimal 70%. Untuk analisis expost, data dari kampanye vaksinasi pertama dilaksanakan digunakan. Efektivitas sejumlah kampanye vaksinasi massal dinilai menggunakan model simulasi epidemiologi (proyek independen, University of Glasgow). Karena ketidakpastian mengenai rencana masa depan, berbagai sub-skenario yang ditetapkan untuk analisis ex ante. Skenario diselidiki dalam analisis epidemiologi dijelaskan di bawah ini dan dirangkum dalam Tabel 1. Sejalan dengan tujuan keseluruhan vaksinasi massal, hanya sub-skenario di mana rabies akan dihilangkan dengan probabilitas 1 dimasukkan dalam analisis ekonomi. Beberapa skenario yang dapat dilakukan adalah : (1) SubSkenario 1 : Vaksinasi meniru situasi nyata dengan vaksinasi massal pertama Kampanye dilaksanakan oleh BAWA (bekerja sama dengan WSPA dan Pemerintah Indonesia) dari Oktober 2010 sampai Maret 2011

15

dan kampanye kedua dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia bekerja sama dengan FAO dari bulan Juni sampai September 2011. Data untuk kampanye vaksinasi massal pertama diberikan oleh BAWA dan cakupan vaksinasi untuk kampanye vaksinasi massal kedua berasal dari data yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia; (2) Sub-skenario 2 : Tiga kampanye vaksinasi massal, dengan kampanye ketiga dilaksanakan pada bulan Februari 2012. Kampanye ketiga dimodelkan dengan 50 %, 60 % dan cakupan vaksinasi 70 %; (3) Sub-skenario 3 : Empat kampanye vaksinasi massal. Kampanye ketiga dilaksanakan pada bulan Februari 2012 dan, keempat baik 6 bulan atau 12 bulan kemudian masing-masing, dengan coverage vaksinasi dari 50 %, 60 % dan 70 %; (4) Sub - skenario 4 : Membangun sub-skenario 3, pelaksanaan berkelanjutan kampanye

vaksinasi massal dengan cakupan vaksinasi dari 50 %, 60 %, atau 70 % tiap 6 atau 12 bulan.
Tabel 1. Intervensi sub-scenarios (SS) dipertimbangkan dalam analisis. "VACC. coverage" adalah cakupan vaksinasi dipertimbangkan untuk kampanye vaksinasi massal setelah dua kampanye vaksinasi massal dilaksanakan terlebih dahulu. Satu menunjukkan kampanye vaksinasi massal dengan cakupan yang ditetapkan; nol menunjukkan tidak ada kampanye.

Skenario baseline : Dengan tidak adanya intervensi yang dijelaskan di atas, pemerintah akan cenderung mengejar strategi pengendalian rabies

16

vaksinasi dalam kombinasi dengan pemusnahan anjing menggunakan strychnine . The rabies wabah strategi pengendalian Indonesian digunakan untuk menjadi kombinasi vaksinasi dan eliminasi anjing. Pemilihan intervensi yang akan disukai (yaitu lebih vaksinasi atau lebih eliminasi) tergantung pada biaya relatif dari kedua kegiatan dan anggaran yang tersedia. Karena prediksi dinamika penyakit dalam ketiadaan vaksinasi massal tunduk pada berbagai faktor yang tidak diketahui dan

ketidakpastian, baseline didefinisikan sedemikian rupa sehingga menirukan situasi di pengaturan yang sama, yaitu Pulau Flores. Flores dipilih untuk memprediksi skenario baseline, karena paralel terhadap wabah Bali. Rabies dimulai di Kabupaten Flores Timur di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia, pada akhir tahun 1997. Flores terletak 500 km di sebelah timur Bali dan ukuran 350km panjang dan pada titik terlebar sekitar 60 km. Total populasi manusia diukur pada tahun 2010 pada 1,8 juta. Secara geografis, pulau bergunung-gunung dan berisi sejumlah gunung berapi aktif dan untuk alasan ini sebagian besar populasi manusia didistribusikan di wilayah pesisir. Jalan dan jaringan komunikasi tidak berkembang dengan baik, dan bagian pulau hanya dapat dicapai dengan susah payah (Bingham, 2001) . Pada saat pengenalan rabies pada tahun 1997, populasi anjing diperkirakan lebih dari 600.000 (manusia : rasio anjing 2.6 : 1) (Bingham, 2001). Pulau ini dibagi menjadi enam kabupaten. Kabupaten Flores Timur, di mana pengenalan terjadi, terletak di ujung timur pulau. Kontrol rabies adalah tanggung jawab pemerintah kabupaten; Langkah-langkah yang dilaksanakan bertahap di seluruh pulau seperti penyebaran penyakit (Windiyaningsih, 2004). Langkah-langkah kontrol terdiri dari program berbasis masyarakat dari pemusnahan anjing. Orang-orang didorong untuk membunuh anjing mereka sendiri, atau tim pekerja yang dipekerjakan dibentuk untuk melaksanakan pemusnahan (Wilde, 2008). Dengan Mei 2000 penyakit ini telah menyebar ke Kabupaten Manggari di pulau ujung barat (Windiyaningsih, 2004), dan pada tahun 2002 diperkirakan 500.000 anjing telah dimusnahkan

17

(Hutabarat, 2003). Meskipun langkah-langkah ini , rabies menjadi endemik di Flores dan mengklaim lebih dari 200 nyawa manusia dari tahun 1997 sampai Juli 2011 (sumber Jakarta Post 22/07/2011). c. Biaya , manfaat dan efektivitas langkah-langkah Biaya setiap skenario diperkirakan seperti dijelaskan di atas. Biaya moneter untuk kampanye vaksinasi pertama diberikan oleh BAWA dan WSPA. Biaya untuk kampanye vaksinasi massal pertama yang

dilaksanakan berasal dari laporan keuangan yang disediakan oleh BAWA. Pengeluaran tersebut dibagi ke dalam kategori akomodasi, tagihan, komunikasi, dokumentasi, makanan, asuransi, rapat, staf, pajak,

transportasi, peralatan, dan bahan lainnya (Tabel 16). Vaksin anti-rabies, jarum suntik, jarum dan kerah yang didanai oleh pemerintah Australia dengan biaya sebesar US $ 500.000 (komunikasi komunikasi J. Tuckwell , WSPA) . Pengeluaran WSPA untuk perencanaan, persiapan, monitoring dan evaluasi program yang disusun dan disediakan oleh WSPA. Pendanaan lebih lanjut dari US $ 350.000 diberikan oleh Pemerintah Australia untuk membangun Sistem Pengendalian Insiden untuk rabies di Bali . Biaya untuk vaksinasi dalam analisis ex ante skenario intervensi dihitung secara proporsional dengan cakupan vaksinasi. Cakupan vaksinasi kampanye vaksinasi massal yang diprediksi dibagi dengan cakupan vaksinasi kampanye dilaksanakan pertama vaksinasi (70 %) dan dikalikan dengan total biaya kampanye vaksinasi pertama . Biaya vaksinasi dan pemusnahan untuk skenario baseline diperkirakan dengan mengalikan jumlah anjing dimusnahkan dan divaksinasi oleh biaya pemusnahan dan vaksinasi, masing-masing. Jumlah rata-rata anjing divaksinasi dalam skenario endemik diperkirakan dengan mengalikan jumlah anjing dalam populasi (n = 325.000) sebesar 5,5 % (rata-rata cakupan vaksinasi di Flores untuk tahun 2000-2002, Tabel 4). Jumlah rata-rata anjing dimusnahkan dalam skenario endemik diperkirakan dengan mengalikan jumlah anjing dalam populasi sebesar 14,5 % (proporsi rata-rata anjing dimusnahkan di Flores untuk tahun 1998-2001, Tabel 4).

18

Biaya vaksinasi anjing oleh Pemerintah Indonesia diperkirakan mencapai US $ 3.00 per hewan (memperkirakan berdasarkan data yang diberikan oleh BAWA) , yang adalah penjumlahan dari US $ 1,86 untuk vaksin dan US $ 1,14 untuk biaya operasional . Biaya pemusnahan anjing oleh pemerintah Indonesia menggunakan Strychnine diperkirakan US $ 1,57 per hewan (memperkirakan berdasarkan data yang diberikan oleh BAWA), yang adalah penjumlahan dari US $ 0,71 untuk Strychnine dan US $ 0.85 untuk biaya operasional . Biaya untuk pengawasan anjing rabies diperkirakan berdasarkan jumlah sampel yang diuji disediakan oleh BBVet ke BAWA dan harga standar pengujian laboratorium seperti yang dilaporkan dalam ilmiah sastra, yaitu US $ 5,68 per tes antibodi fluorescent (Knobel et al., 2005). Jumlah bulanan dari sampel yang diuji dari Oktober 2010 sampai Maret 2011 adalah 34 , 38 , 33 , 38 , 14 , dan 9 (data yang diberikan oleh BAWA). Rasio sampel yang diuji untuk kasus positif dikonfirmasi selama periode enam bulan ini adalah 3.1:1. Jumlah kasus yang dikonfirmasi rabies anjing dikalikan dengan 3,1 untuk memperkirakan jumlah anjing diuji untuk analisis ex ante dan skenario baseline. Manfaat moneter dari program ini adalah besarnya biaya kesehatan manusia dan dampak negatif pada pariwisata dihindari. Manfaat non-moneter dihasilkan dari perubahan hewan kesehatan, penderitaan hewan, perubahan orang mengalami kesulitan ketika mendapatkan digigit dan perubahan jumlah kematian manusia. Untuk mengukur manfaat non-moneter tersebut, dua efektivitas berikut Langkah-langkah didefinisikan : (1) Dampak terhadap

kesejahteraan hewan dan (2) Perubahan Disability-Adjusted Life Years (DALYs).

19

Daftar Pustaka

Anonymous, 2011. Terrestrial Animal Health Code. Avaliable From URL : http://www.oie.int/en/international-standardsetting/terrestrialcode/access-online.html . Cited 02/04/2014. Benmansour A., H. Leblois, P. Coulon, C.Tuffereau, Y. Gaudin, A. Flamand dan F. Lapay. 1991. Antigenicity of Rabies Virus Glycoprotein. Journal of Virology. 65 (8): 4198-4203. Bingham J. 2005. Canine Rabies Ecology in Southern Africa. Emerging Infectious Diseasses. 11(9) : 1337-1341. www.cdc.org. Diakses Maret 2011. Bingham, J., 2001. Rabies on Flores, Indonesia: Comparisons and contrasts to rabies control in Africa. Sixth SEARG meeting. Lilongwe. Bourhy H., J.M.Reynes, E.J.Dunham, L.Dacheux, F.Larrous, V.T.Q.Huang, G.Xu, J. Yan, M.E.G.Miranda, and E.C.Holmes. 2008. The Origin and Phylogeography of Dog Rabies Virus. J Gen Virol. 89(208):2673-2681. Center for Food Security and Public Health, 2009. Rabies. Avaliable From URL : http://www.cfsph.iastate.edu/Factsheets/pdfs/rabies.pdf. Cited 02/04/2014. Coll.J.M. 1995. The Glikoprotein G of Rhabdoviruses. Arch.140:827-851. Direktorat Kesehatan Hewan. 2006. Pedoman Pengendalian Rabies Terpadu. Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan, Direktorat Kesehatan Hewan. Eichler, H.-G., Kong, S.X., Gerth, W.C., Mavros, P., Jnsson, B., 2004. Use of Cost-Effectiveness Analysis in Health-Care Resource Allocation Decision-Making: How Are Cost-Effectiveness Thresholds Expected to Emerge? Value in Health 7, 518-528. Hutabarat, T., Geong, M., Newsome, A., Ruben, A., Cutter, S., 2003. Rabies and dog ecology in Flores. In: Cutter, S. (Ed.), Urban Animal Management Conference 2003. Caloundra. Kang B., J.S.Oh, C.S.Lee, B.K.Park, Y.N.Park, K.S.Hong, K.G.Lee, B.K.Cho, and D.S.Song. 2007. Evaluation of Rapid Immunodiagnostic Test kit for Rabies Virus. Journal of Virology Methods.145(2007): 3036.

20

Knobel, D.L., Cleaveland, S., Coleman, P.G., Fevre, E.M., Meltzer, M.I., Miranda, M.E., Shaw, A., Zinsstag, J., Meslin, F.X., 2005. Reevaluating the burden of rabies in Africa and Asia. Bull World Health Organ 83, 360-368. McInerney, J., 1996. Old economics for new problems - Livestock disease: Presidential address. J Agr Econ 47, 295-314. Menteri Pertanian. 2008. Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1637.1/Kpts/PD 640/12.2008. Tentang Pernyataan Berjangkitnya Wabah Penyakit Anjing Gila (Rabies) di Kabupaten Badung, Provinsi Bali.

Morris, R. S. 1983. Economic analysis of animal health programs in Australia. OIE Technical Series, Vol. 3, p. 301-314. Nagaraja T., B. Mohanasubramanian, E.V. Seshagiri, S.B. Nagendrakumar, M.R.Saseendranath, M.L. Satyanarayana, D. Thiagarajan, P.N. Rangarajan, dan V.A. Srinivasan. 2006. Molecular Epidemiology of Rabies Virus Isolates in India. Journal of Clinical Microbiology. 44 (9) : 3218-3224. Naipospos, T. S. P. 2013. Ekonomi Veteriner. dikutip dari buku Dokter Hewan Indonesia yang diterbitkan oleh PB PDHI tahun 1986; pp. 120-126. OIE . 2008. Rabies. Manual of standard for diagnostic techniques. Chapter 2.1.13. Terrestrial manual. P.304-323. Putra A.A.G. 2009. Validasi Metode Uji Untuk Memelihara Unjuk Kerja Laboratorium Veteriner. Buletin Veteriner. XXI (74) : 42-47. Putra.A.A.G., I.K.Gunata, Faizah., N.L.Dartini, D.H.W.Hartawan, G.Setiaji, A.A.G.Semara-Putra, Soegiarto, dan H.Scott-Orr. 2009. Situasi Rabies Bali: Enam bulan pasca program pemberantasan. Buletin Veteriner. XXI (74) : 13-26 Rahman A. dan R. Maharis. 2008. Analisis Keberhasilan Vaksin Oral Rabies Sebagai Perbandingan Pengendalian Rabies di Indonesia. Buletin Pengujian Mutu Obat Hewan.13 (2008). Susetya H. 2005. Analisis genetik gen penyandi glikoprotein dari virus rabies isolat Indonesia. Seminar nasional teknologi peternakan dan veteriner.

21

Susetya H., I. Naoto, M. Sugiyama, and N. Minamoto.2005. Genetic Analysis of Glycoprotein Gene of Indonesian Rabies Virus. Indonesian Journal of Biotecnology.10(1) : 795-800. Touihri L., I. Zaouia, K.Elhili, K.Dellagi, and C.Bahloul. 2011. Evaluation of Mass Vaccination Campaign Coverage Against Rabies in Dogs in Tunisia. Zoonoses and Public Health, 58: 110-118. Doi:10.1111/j.1863- 2378.2009.01306. Wilde H., T. Hemachuda, dan A.C. Jackson. 2008. Viewpoint: Management of Human Rabies. Trans R Soc Trop Med Hyg. Wilde, H., 2008. ProMED archive number 20081206.3837. Avaliable From URL : www.promedmail.org. Cited 02/04/2014. Windiyaningsih, C., Wilde, H., Meslin, F.X., Suroso, T., Widarso, H.S., 2004. The rabies epidemic on Flores Island, Indonesia (1998-2003). J Med Assoc Thai 87, 1389-1393. World Health Organization, 2005. WHO expert consultation on rabies. Avaliable From URL : http://www.who.int/rabies/trs931_%2006_05.pdf. Cited 02/04/2014. World Health Organization. Rabies Fact Sheet No 99. 2011. Avaliable From URL : http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs099/en.htm . Cited 02/04/2014. Zinsstag, J., Durr, S., Penny, M.A., Mindekem, R., Roth, F., Menendez Gonzalez, S., Naissengar, S., Hattendorf, J., 2009. Transmission dynamics and economics of rabies control in dogs and humans in an African city. Proc Natl Acad Sci U S A 106, 14996-15001.

22