Anda di halaman 1dari 54

KERANGKA KERJA KONSEPTUAL DARI SISTEM ABC & M

PENDAHULUAN Tujuan bagian ini adalah menjelaskan pentingnya konsep yang melatarbelakangi ABC & M dan struktur atau kerangka kerja system. Pemahaman khusus konsep ini penting sebagai dasar pemahaman ABC & M dan implementasi praktis dan pengoperasiannya. Bagian ini juga menjelaskan logika proses akuntansi biaya dalam system ABC & M. Pendekatan menggunakan kegiatan yang berhubungan terhadap proses atau lainnya yang membentuk basis pengukuran. Tujuannya adalah untuk menentukan biaya perkalian dari objek biaya yang merupakan domain ABC. Berkaitan dengan sifat informasi yang digunakan dalam proses akuntansi biaya (finansial dan nonfinansial) dan fakta bahwa semua hal-hal yang timbul yang berkaitan dengan perusahaan perlu dievaluasi dan diatur (kinerja dan diatur), beberapa manajemen yang berkaitan dan system dapat diintegrasikan menjadi system ABM. Pendekatan yang mengkombinasikan ABC dan ABM disebut sebagai ABC & M.

RANTAI NILAI (VALUE CHAIN) Kegiatan perusahaan adalah mengubah input menjadi output; nilai ditambahkan ke input untuk mengubahnya menjadi output (produk dan atau jasa) yang dibeli dan digunakan atau dikonsumsi oleh pelanggan. Rantai kegiatan yang dilakukan menambah nilai ke input untuk mendapatkan output akhir disebut rantai nilai. Konsep ini dasarnya diidentifikasi dan didefenisikan oleh Porter. Apabila suatu perusahaan berkeinginan untuk menikmati manfaat kompetisi, perusahaan tersebut haruslah menjalankan kegiatannya lebih cost efektif daripada pesaingnya. Sehingga jelas perusahaan membutuhkan rantai nilai yang: Jumlah kegiatannya minimum Semua kegiatan efektif Semua kegiatan dilakukan pada biaya yang relatif rendah.

Porter mengklasifikasikan rantai nilai secara menyeluruh menjadi 9 kegiatan utama dan pendukung yang saling berhubungan. Kegiatan utama dapat dikaitkan terhadap kegiatan dimana perusahaan memenuhi external demand, sementara kegiatan sekunder dilakukan untuk melayani kebutuhan internal customers. Porter menggambarkan rantai nilai yang mengkaitkan kegiatan primer dan sekunder seperti terdapat pada Gambar 2.1.

INFRASTRUKTUR PERUSAHAAN

SUPPORT ACTIVITIES

MSDM PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENGADAAN


INBOUND LOGISTIC OPERAS I OUTBOND MARKETING SERVICE LOGISTIC & SALES

PRIMARY ACTIVITIES

Gambar 2.1 Rantai Nilai Porter

Kegiatan primer adalah kegiatan fundamental yang dikerjakan oleh perusahaan untuk dapat beroperasi. Kegiatan tersebut adalah : 1. Inbound Logistic 2. Operations 3. Outbound Logistic 4. Marketing and Sales 5. Service

Kegiatan sekunder adalah kegiatan pendukung yaitu kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk menjamin efisiensi performansi dari kegiatan primer. Kegiatan pendukung adalah : 1. Infrastruktur 2. Manajemen SDM 3. Pengembangan teknologi 4. Pengadaan

Perbedaan kegiatan rantai nilai dapat diringkaskan sebagai berikut: 1. Infrastruktur Terdiri dari struktur manajemen yang melayani keseluruhan organisasi, begitu juga bagian umum, akuntansi keuangan, dan bagian lainnya. Ada usaha untuk menelusuri biaya-biaya terhadap objek biaya tertentu yang dihasilkan oleh sejumlah kerja tertentu. Total jumlah biaya demikian haruslah relative kecil dibandingkan dengan total biaya yang biasanya tidak dapat ditelusuri. Biaya infrastruktur fisik (pabrik, peralatan dan sebagainya) dipertimbangkan sebagai bagian kegiatan biaya dimana infrastruktur tersebut digunakan.
2. Management SDM Kegiatan dasar dari pengadaan, pemeliharaan dan pengadaan staff dan pada dasarnya melayani kegiatan primer. Bagian personalia, pelayanan medis perusahaan dan kegiatan olahraga merupakan bagian kegiatan umum.

3. Pengembangan Teknologi Pengembangan teknologi pada saat ini mungkin memerlukan banyak uang, menghabiskan periode waktu yang lama dan memberikan manfaat bagi perusahaan. Biaya ini harus dipandang sebagai modal proyek yang tidak dapat dibebankan kepada pengguna sebelum proyek itu dioperasikan. Biaya pengembangan teknologi dihitung sebagai modal dan pengeluaran terhadap pengguna sesuai dengan umur pemakaian projek. Biaya operasi teknologi harus ditelusuri terhadap pengguna berdasarkan pemakainya. Sebagai contoh proyek penggunaan komputer yang besar memerlukan beberapa tahun waktu penyelesaian. Pengguna hanya mendapat manfaat dari proyek satu kali apabila dioperasikan dan tidak ada manfaatnya membebankan biaya tersebut sebelum waktunya.

4. Pengadaan Kegiatan pengadaan melayani perusahaan secara keseluruhan dengan jalan mengadakan semua barang dan jasa yang penting yang diperlukan. Apabila kegiatan secara khusus berkaitan dengan pengadaan umpamanya bahan baku dipandang sebagai bagian dari proses inbound logistik, yaitu kegiatan primer. Namun kegiatan pengadaan tidak dapat dikaitkan dengan pembelian pada kegiatan primer dan dipertimbangkan sebagai kegiatan sekunder.

5.Inbound Logistic Meliputi semua kegiatan untuk mendapatkan barang dan jasa yang tersedia untuk kegiatan operasional bila mana dan kapan diperlukan. Kegiatan ini termasuk pembelian, pengangkutan, penerimaan, inspeksi, penyimpanan dll. 6.Inbound Logistic Kegiatan perusahaan mengubah bahan baku atau produk menjadi sesuatu untuk dapat dijual kembali. Berkaitan dengan manufaktur keadaan ini merupakan kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan produksi seperti pengendalian produksi, permesinan, finishing dll. Untuk kegitan pengecer, kegiatan ini merupakan perdagangan dan penampilan untuk barang yang ditawarkan terhadap pelanggan untuk dijual. 7.Outbound Logistic Kegiatan ini untuk menggerakkan perdagangan antara pembeli dan penjual. Kegiatan tersebut umpamanya pemilihan, penjadwalan, pengangkutan dll dari pengiriman. Beberapa kegiatan seperti pedagang besar dengan system pembayaran tunai tidak mempunyai kegiatan seperti yang disebutkan diatas namun dilakukan oleh pelanggan.

8. Pemasaran Semua kegiatan yang dilaksanakan adalah untuk menciptakan permintaan atas produk dan jasa perusahaan termasuk periklanan, penjualan, penelitian pasar, dll.
9. Servis Melayani pelanggan, termasuk jasa pembiayaan seperti neraca keuangan atau purna jual atau melayani bagian informasi dan keluhan pelanggan. Kegiatan-kegiatan rantai nilai diatas ditemukan pada kebanyakan dunia usaha. Rantai nilai merupakan mekanisme yang bermanfaat untuk menganalisa perusahaan dalam rangka menentukan kegiatan apa saja yang dilakukan untuk mengubah input menjadi output. Juga membantu mengembangkan pemahaman yang baik dari kegiatan primer maupun pendukung.

Sebaliknya pembagian kegiatan fungsional dalam dunia usaha pada prinsipnya adalah: Pengudangan Produksi Pemasaran Distribusi Adminstrasi Pandangan ini biasanya digambarkan pada struktur hierarki perusahaan.

PROSES Perusahaan biasanya diatur menurut garis fungsional yang telah ditetapkan. Namun, pengadaan produksi dan limbah produk biasanya memerlukan kegiatan pemrosesan menurut garis fungsional (keseluruhan perusahaan terdiri dari jaringan kerja dari proses kegiatan yang dilaksanakan untuk mendapatkan tujuan yang telah ditetapkan) konsekuensinya bila system pembiayaan dirancang dan dioperasikan menurut garis fungsional, biaya sebenarnya dari individu proses kegiatan tidak dapat ditentukan. Juga sulit mengisolasi ketidakefektifan, kegiatan berbiaya mahal, dan atau yang tidak penting. Setiap eksekutif fungsional pada dasarnya memahami fungsinya dan hanya sedikit mengetahui apa yang terjadi diluarnya. Pandangan proses memerlukan pemahaman menyeluruh terhadap apa yang terjadi pada proses yang berkaitan dengan fungsi.

Gambar 2.2 mencerminkan ringkasan pengolahan dan menunjukan dimana kegiatan-kegiatan berkaitan dengan apa yang dilaksanakan pada pengadaan bahan baku yang memerlukan kegiatan berikut yaitu requistioning, ordering, inspection (penerimaan barang), pembuatan tanda terima barang, mengantar ke gudang, menyimpan, pemeriksaan faktur kredit dan penyelesaian utang kredit.

Process
Warehousing Procurement Manufacturing xxxxxx xx xxxxx

Function (in departments)


Production Marketing Distribution Admin xx xxx

Storing
Marketing Selling Delivering

xx
xxx x xxx xx x xx

x
xx x

Invoicing
Debt collection

x
x

xx
xxx

Gambar 2.2 Proses Matriks

Managing Director ORGANISATION

Sales Director

Admin Director

Production Director

Sales Manager

Sales Admin Controller

Credit Manager

Warehouse Manager

Transport Manager

Salesman

Sales Order Clerk

Credit Controller

Inventory Controller

Despatch Clerk

ACTIVITY

Obtain Order

Approve Order

Record Order

Approve Credit

Determine Stock Avaliability

Schedule Delivery

PROCESS

Initiate sale

Deliver Goods

Charge Customer

Receive Cash

SELL

Gambar 2.3 Proses Dalam Stuktur Organisasi Fungsional Tradisional

KEGIATAN-KEGIATAN Kegiatan dalam perusahaan dieksekusi dalam bentuk tindakan. Disebabkan adanya sejumlah tindakan atau tugas yang biasanya dikerjakan, kegiatan ini secara menyeluruh merupakan kegiatan sejenis. Semua tindakan-tindakan diperlukan sebagai suatu kesatuan untuk menghasilkan produk jadi. Umpamanya keseluruhan tindakan yang membentuk suatu kegiatan yang disebut pengepakan. Kegiatan digunakan sebagai dasar pengukuran biaya dan kinerja. Gambar 2.4 merupakan analisa struktur dunia usaha yang diusulkan dimulai dari perspektif rantai nilai dan berakhir pada level tugas.

Kegiatan dapat diartikan dalam tiga (3) perspektif yaitu : 1. Perspektif fisik, yaitu tindakan-tindakan yang secara fisik dianggap merupakan kelompok tugas-tugas yang sejenis seperti assembly/perakitan. Kegiatan perakitan akan mirip terhadap kegiatan rakitan fisik yang menghasilkan produk rakitan. 2. Perspektif logis, seperti perspektif kualitas dimana semua tugas-tugas yang berhubungan dengan kualitas dipandang sebagai defenisi kegiatan, tidak berkaitan dengan lokasi fisik dimana kegiatan itu dilakukan. 3. Perspektif biaya, seperti gudang persediaan yang dipandang dari perspektif pemicu biaya. Biaya penyimpanan dapat dipengaruhi oleh tempat atau waktu dan nilai. Pandangan ini masing-masing dapat dilihat sebagai kegiatan yang terpisah.

Value chain process

Proses primer dikerjakan untuk merancang, menghasilkan, memasarkan, menyampaikan dan mendukung produk serta pelayanan. Proses sekunder memperhatikan efesiensi dan keefektifan proses primer

Business process

Kelompok kegiatan yang saling bergantungan yang dipicu oleh suatu peristiwa Apa yang dilakukan perusahaan. Aktivitas mengkonsumsi sumber-sumber. Produk atau jasa mengkonsumsi kegiatan Bagaimana kegiatan tersebut dikerjakan

Activity

Task

Gambar 2.4. Analisa Stuktural Bisnis

Robin cooper berargumentasi bahwa sistem pembiayaan konvensional berdasarkan volume akan mengganggu biaya-biaya produk. Sistem konvensional umumnya menggunakan banyak pusat biaya yang terdefinisi dan biasanya merupakan besar pusat biaya yang beragam atau yang sejenis, untuk menelusuri biaya-biaya produk. Robin cooper menyatakan biaya-biaya pertama kali ditelusuri terhadap kegiatan dan yang kedua menggunakan pemicu biaya tertentu dari aktivitas untuk menelusuri biaya atas produk. Untuk mengatur biaya adalah penting mengatur kegiatan. Untuk memahami perilaku biaya dari kegiatan adalah penting untuk memahami penyebab biaya yaitu pemicu biaya. Contoh-contoh kegiatan adalah : buying receiving storing packing selling invoicing distribution debt collection costumer servicing

Defenisi ini akan berbeda dari bisnis ke bisnis dan tergantung kepada level rincian dari sistem ABC. Istilah kegiatan merupakan gambaran konsep kegiatan berdasarkan biaya (ABC). Titik tolak penting adalah kegiatan mengkonsumsi sumber dengan perkataan lain kegiatan menimbulkan biaya sehingga produk mengkonsumsi aktivitas. Suatu kegiatan harus ditentukan besar biaya dan bukan produknya; biaya produk harus diturunkan dari kegiatankegiatan yang dikonsumsi oleh masing-masing produk. Langkah pertama penentuan elemen biaya atau sumber seperti gaji, listrik, sewa dan lain-lain dibuat biayanya terhadap pusat kegiatan yang bersesuaian untuk menentukan keseluruhan biaya operasi dari masing-masing kegiatan. Tabel 2.1 merupakan gambaran matriks biaya kegiatan.

Tabel 2.1. Activity Cost Matrix


Activity centre Receiving Salaries Power Rent Insurance Onsumables Depreciation Warehousing Machine Set-Up Inspection Maintenance

6530 360 2000 300 130 690


10010

18600 1230 10400 7970 590 3920


42710

9350 100 50 140 280


9920

11720 150 300 70 12240

14270 1720 550 180 1340 1500


19560

Sumber-sumber atau elemen-elemen Biaya Menurut istilah CAM-I (Computer Aided Manufacturing International), sumber atau elemen biaya adalah elemen-elemen ekonomis yang dialokasikan atas pelaksanaan kegiatan. Sumber ditelusuri terhadap kegiatan yang menggunakan sumber pemicu biaya. Contoh sumber adalah tenaga kerja, power, dan depresiasi. Sumber pemicu biaya dapat berupa waktu (tenaga kerja), kilowatt yang dikonsumsi (untuk power), dan nilai peralatan yang digunakan (depresiasi).

Pengukuran Performansi Dipertimbangkan lebih berguna dari pada hanya evaluasi keuangan untuk mengevaluasi seluruh performansi perusahaan. Alasan dasarnya adalah pada kenyataan baik kriteria finansial maupun non-finansial harus dipenuhi untuk pemenuhan kepuasan pelanggan. Kriteria performansi yang lebih penting yang harus diukur adalah kualitas, waktu, biaya, dan fleksibilitas. Manajemen kualitas, sistem manajemen produktivitas, dan sistem manajemen kapasitas merupakan bagian integral dari sistem ABM. Pengukuran kriteria ini menunjukkan seberapa baik perusahaan memenuhi kebutuhan pelanggan. Pengukuran ini menjadi sangat berguna bilamana membandingkannya dengan perusahaan lain (bila segala sesuatu diukur pada level yang sama, umpamanya level aktivitas atau level proses).

Pemicu Biaya Sistem pembiayaan tradisional mengalokasikan biaya overhead terhadap produk melalui 2 tahapan proses alokasi : 1. Mengalokasikan biaya overhead terhadap cost center (divisi produksi), berdasarkan pengukuran yang bersesuaian (umpamanya gaji tidak langsung sebanding dengan jumlah tenaga kerja di masing-masing cost center, sewa sebanding dengan luas lantai digunakan dan depresiasi sebanding terhadap nilai mesin atau peralatan lain). 2. Mengalokasikan biaya overhead dari cost center terhadap produk. Sebagai aturan alokasi ini didasarkan pada jam kerja orang atau biaya tenaga kerja atau apabila proses manufaktur bersifat mekanis adalah merupakan jam mesin.

Walaupun alokasi biaya yang berkaitan dengan tenaga kerja cocok di masa lalu dimana tenaga kerja langsung merupakan bagian terbesar biaya manufaktur produk, yang mana pada saat sekarang tidak lagi cocok digunakan. Saat sekarang biaya langsung tenaga kerja merupakan bagian kecil dari biaya korporat, yang biasanya tidak melebihi 10% dari total biaya produk dimana biaya overhead biasanya dihitung kira-kira 40% dari biaya penjualan dan mungkin menaik. Disebabkan hubungan biaya yang tidak relevan, alokasi biaya yang didasarkan pada jam kerja orang atau biaya tenaga kerja secara keseluruhan dapat tidak masuk akal dan akibatnya pencatatan biaya produk tidak benar. Konsekuensinya subsidi silang antara produk yang berbeda dapat terjadi.

Utilisasi jam mesin sebagai dasar alokasi dapat juga tidak tepat. Jam mesin tidak memberikan hubungan yang fair terhadap total sumber yang dikonsumsi oleh masing-masing produk. Begitu juga depresiasi mesin dapat menghasilkan angka biaya yang tidak sesuai apabila metoda perhitungan berdasarkan waktu digunakan. Dengan cara ini biaya dipersamakan terhadap waktu dan depresiasi (yang menaikkan biaya overhead) berkesinambungan walaupun sedikit atau tidak ada yang diproduksi. Dengan menggunakan produksi langsung berdasarkan metoda depresiasi seperti unit produksi, biayabiaya bersesuaian lebih tepat dengan produk yang dihasilkan.

Bila penentuan jumlah unit melebihi depresiasi asset yang relevan, maka yang dihitung hanya asset untuk produksi yang direncanakan. Penggunaan total kapasitas terpakai dari asset apabila tidak bersesuaian dengan total produksi yang direncanakan, akan jelas tidak memberikan alokasi biaya yang benar terhadap produk yang dihasilkan. Total unit dimana depresiasi asset didasarkan harus dibatasi oleh perencanaan produksi, permintaan produk, dan keterbatasan teknologi asset, atau proses manufakturnya.

System pembiayaan tradisional telah dikritik karena system tsb hanya mengalokasi biaya overhead berdasarkan beberapa hal, daripada fokus terhadap pemicu munculnya biaya.

ABC terdiri dari pendekatan yang berbeda dan logis untuk menentukan biaya produk. Penekanan dilakukan terhadap kebutuhan pemahaman yang lebih baik atas perilaku biaya dan memastikan penyebab biaya overhead, umpamanya berhubungan dengan overhead cost terhadap pemicunya. Pemicu biaya dapat diartikan sebagai faktor-faktor atau transaksi penentu cost yang signifikan.

Contoh pemicu biaya adalah Jumlah order pembelian memicu biaya departemen pembelian Jumlah barang-barang yang diterima memicu biaya departemen penerimaan Jumlah item dalam persediaan memicu biaya pergudangan Jumlah faktur penjualan memicu biaya departemen penjualan, departemen pengiriman, dan buku besar penjualan

Pemicu biaya di atas dapat berbeda dari 1 kegiatan ke kegiatan lain tergantung kepada faktor penyebabnya sebagai yang paling signifikan. Umpamanya jumlah barang yang disimpan adalah lebih cocok menggunakan massa sebagai pemicu biaya untuk biaya pergudangan (bila massa barang yang disimpan mempunyai hubungan yang lebih baik terhadap biaya gudang dari pada jumlah unit). Bentuk-bentuk lain dari pemicu biaya adalah biaya proses, biaya aktivitas, sumber. Pengetahuan tentang pemicu biaya berguna untuk kepentingan manajemen pembiayaan. Disini dibedakan antara pemicu biaya dengan pengukuran output. Pemicu biaya adalah faktor kausal (seperti kebijakan bisnis) yang menyebabkan biaya suatu kegiatan berubah. Pengukuran output adalah pengukuran output dari kegiatan . Bila pemicu biaya juga merupakan output kegiatan, maka pemicu biaya adalah juga pengukuran output.

Pengukuran Output Semua kegiatan dan proses menghasilkan output. Apabila tidak maka kesinambungan kegiatan perusahaan dipertanyakan. Proses dan kegiatan dirancang untuk memenuhi kebutuhan pelanggan (eksternal, internal) pada biaya yang memberikan pengembalian yang memuaskan terhadap pemegang saham.

Output dari kegiatan diukur sebagai pengukuran output. Dalam beberapa hal pengukuran output adalah sama dengan pemicu biaya, walaupun tidak demikian adanya. Biaya kegiatan pembelian dapat dipicu atau ditentukan oleh kebijakan pembelian perusahaan. Biaya aktual kegiatan pembelian (pada batasan kebijakan pembelian tertentu) akan dipengaruhi oleh jumlah kegiatan pembelian, yang kebanyakan mungkin ditentukan oleh jumlah order pembelian. Output dari kegiatan pembelian dianggap sebagai jumlah pembelian, yang kemudian dapat digunakan untuk menelusuri biaya pembelian produk tertentu yang memerlukan order pembelian. Biaya pembelian kemungkinan dipengaruhi oleh jumlah order pembelian yang dikeluarkan.
Pada kebanyakan hal kegiatan mempunyai satu output (terukur); bila tidak aktivitas perlu didefenisi ulang. Pengukuran output pada dasarnya digunakan untuk maksud pengukuran biaya.

Objek objek biaya Walaupun kebanyakan objek biaya generik adalah produk fisiknya, berbagai objek objek biaya lain mungkin ada pada suatu perusahaan yang memisahkan akumulasi biaya (atau pengukuran biaya) perlu dilakukan. Objek objek biaya berikut selain produk ditemukan pada kegiatan : Jasa : Beberapa perusahaan tidak menjual produk fisik tetapi jasa. Tidak dapat dilihat secara nyata dan yang membedakannya adalah tidak dapat disimpan. Jalur pemasaran : Perusahaan, menggunakan jalur pemasaran yang berbeda seperti jaringan perwakilan, atau sekelompok pedagang besar sehingga diinginkan untuk mengakumulasi biaya untuk maksud mengevaluasi alternatif. Jalur distribusi : prinsipnya mirip dengan jalur pemasaran dimana produk mungkin didistribusikan dengan rel kereta api, jalan raya, dan lainlain, dan biaya yang muncul perlu dievaluasi. Pelanggan: Beberapa biaya merupakan biaya tertentu pelanggan, seperti diskonto, ongkos finansial, komisi dan relevan untuk menentukan profitabilitas pelanggan. Proses : kegiatan biasanya terdiri dari serangkaian proses yang perlu dievaluasi dan memerlukan informasi biaya. Kegiatan : kegiatan merupakan titik fokus system ABC & M, biaya aktivitas biasanya sangat berguna dalam penganalisaan usaha.

Sejumlah objek biaya lain dapat didefenisikan (umpamanya proyek-proyek, kontrak-kontrak atau unit-unit kerja lain). Perbanyakan objek atau pandangan multi dimensi merupakan salah satu pertimbangan utama pada rancangan system akuntansi modern. Dari bahasan sebelumnya gambaran struktur dasar system ABC dapat dilihat pada gambar 2.5 berikut :
Sumber Daya

Pemicu Biaya

Aktivitas

Pengukuran Performansi

Biaya Objek

Gambar 2.5 Activity Based costing (CAM-I)

Daftar Kegiatan / Bill of Activities (BOA) Merupakan uraian rute produk (objek biaya lain) melalui sejumlah kegiatan hingga selesai. Keadaan ini dapat dibandingkan dengan konsep BOM yang terdiri dari partpart tertentu, sub assembli, dan yang lainlain diperlukan untuk membuat 1 produk. BOA juga mencantumkan item-item sejumlah unit dari sejumlah kegiatan dimana objek biaya dikonsumsi pada proses tsb. Maka BOA merupakan gambaran daftar semua kegiatan dan jumlah relative yang diperlukan oleh objek biaya tertentu.

Pada dasarnya BOA hanya mencantumkan kegiatan primer, sedangkan kegiatan sekunder tidak langsung berkaitan dengan objek biaya. (biaya kegiatan sekunder ditelusuri ke kegiatan primer). Juga sangat penting diperhatikan urutan pelaksanaan kegiatan. Kondisi ini membantu menggambarkan struktur pembiayaan dari objek dan menunjukkan kejelasan biaya dibandingkan dengan sistem tradisional. Informasi eksplisit atas kegiatan pemicu biaya dan jumlah yang berkaitan dengan objek biaya tertentu akan memfasilitasi pembuatan keputusan yang lebih baik.

Contoh 2.1. BOA dari sub assembli dapat digambarkan pada tabel 2.2 Tabel 2.2. BOA dari sub assembli Urutan Aktivitas Unit yang Dikonsumsi (Terhadap ukuran keluaran) 2 6 12 4 8 3 20

1 2 3 4 5 6 7

Perencanaan Produksi Pembelian Penerimaan Inspeksi Kualitas komponen Perakitan Inspeksi Kualitas perakitan Penyimpanan

Table 2-2 menunjukkan bahwa biaya suatu sub assembli akan ditentukan berdasarkan aktivitas di atas. Assembli tsb mengkonsumsi : 2 unit perencanaan produksi 6 unit pembelian (mungkin jumlah order) 12 unit penerimaan 4 unit komponen inspeksi 6 unit perakitan 3 unit inspeksi kualitas akhir 20 unit penyimpanan (mungkin meter persegi per hari) Unit yang dikonsumsi merupakan ukuran output yang relevan terhadap kegiatan tertentu.

Ilustrasi Kerangka Kerja dari Sistem ABC & M Unsure dan konsep system ABC & M dapat dijelaskan seperti pada gambar 2.6 ini berguna untuk menunjukkan perbedaan antara system ABC sederhana dengan system ABC lengkap. Pada gambar 2.6 elemen system ABC ditunjukkan dengan warna hitam. Deskripsi yang diberikan CAM dari konsep ABC dan ABM adalah : 1. ABC : sebuah metodologi yang mengukur ongkos dan kinerja aktivitas, sumberdaya dan objek ongkos. Sumberdaya dialokasikan untuk aktivitas, aktivitas dialokasikan ke objek biaya berdasarkan penggunaan atau konsumsi aktivitas yang relevan. ABC mengenal hubungan kausal dari pemicu biaya terhadap kegiatan.

2. ABM : suatu disiplin yang berkonsentrasi pada kegiatan manajemen sebagai dasar untuk meningkatkan nilai yang diterima pelanggan dan laba yang diperoleh dari nilai yang dikeluarkan. Disiplin ini termasuk analisa pemicu biaya, analisa kegiatan, dan pengukuran kinerja. ABM dibuat dari ABC sebagai sumber informasi. 3. Sistem ABC: suatu system yang memelihara dan mengolah keuangan dan pengoperasian data dari sumber-sumber perusahaan, kegiatan, objek-objek biaya, pemicu biaya, dan pengukuran kinerja kegiatan. Juga menelusuri biaya terhadap kegiatan dan objek biaya.

Elemen biaya dan sumber ditelusuri terhadap kegiatan melalui pemicu sumber. Biaya langsung seperti bahan atau bahan pengepakan ditelusuri langsung terhadap produk. Beberapa biaya mungkin tidak dapat ditelusuri seperti biaya manajemen atau biaya infrastruktur umum tertentu. Sepanjang porsi yang tidak dapat ditelusuri tetap kecil (5-10%), akurasi relative tidak terpengaruh secara dramatis. Untuk maksud praktis sebuah sistem biaya memerlukan akurasi 90% (sebagai contoh 10% ditelusuri berulang-ulang atau tetap tidak terselusuri) dapat memuaskan sebagian besar orang.

Biaya kegiatan kemudian ditelusuri terhadap objek biaya yang menggunakan pengukuran output. Keadaan ini mengasumsi bahwa objek biaya mengkonsumsi berbagai output. Contoh produk yang memerlukan inspeksi yang lebih mendalam untuk menjamin tingkat kualitas yang sesuai harus mempunyai biaya kegiatan inspeksi yang lebih besar daripada produk yang memerlukan inspeksi yang lebih sedikit. BOA menunjukkan jumlah output dari setiap kegiatan yang dikonsumsi oleh objek biaya tertentu. BOA memfasilitasi perhitungan berbagai objek biaya, seperti pelanggan, produk, dan lain-lain.

Biaya Manajemen Modal

Sumber Daya

Analisis Rantai Nilai

Perbaikan Terus menerus dan rekayasa proses

Pemicu Sumber Daya

Manajemen Produktivitas

Analisis Proses

Pemicu Biaya Proses

Aktivitas

Manajemen Kualitas

Pengukuran Performansi

Kebutuhan Pelanggan

Analisis Aktivitas Investasi

Pengukuran Output

Manajemen Kapasitas

Patok Duga

Tagihan Aktivitas

Biaya Produk

Biaya Pelanggan

Biaya Proses

Biaya Lain lain

Gambar 2.6 Kerangka Konseptual ABC Sistem

Pandangan model horizontal menunjukkan pandangan proses perusahaan, dimulai dengan evaluasi rantai nilai tertentu perusahaan, dan dapat dianalisa kedalam beberapa proses bisnis. Proses berkonsentrasi pada perusahaan yang memfasilitasi perbaikan bisnis dengan merekayasa ulang cara bisnis tersbut dilakukan dan secara kontinu memperbaiki keefektifan perusahaan. Aktivitas hampir dapat dilihat sebagai model bangunan proses. Bisnis modern secara terus menerus mulai berkonsentrasi atas pemenuhan kepuasan pelanggan secara efektif dan menguntungkan. Faktorfaktor penentuan kepuasan pelanggan secara tepat tidak mungkin diketahui, tapi pada kebanyakan studi mengatakan ada beberapa kriteria seperti harga, kualitas, dan keragaman komoditas, waktu deliveri, dll. Faktor-faktor ini membentuk nucleus system manajemen kinerja dan system ABM yang harus digunakan untuk mengukur dan mengevaluasi elemen-elemen ini.

Ditemui beberapa kendala tertentu yang membatasi potensi kemampuan menghasilkan laba. Faktor-faktor ini mungkin dikarenakan kehabisan dana atau investasi, kapasitas, dll. System ABM harus mampu mengevaluasi kendala-kendala ini untuk mengatasi faktor-faktor keterbatasannya dan untuk memaksimisasi return pemegang saham. Model ini tidaklah sesuatu yang sempurna. Diharapkan penelitian masa mendatang implementasi praktis dan eksperimentasi menunjukkan ada beberapa cara yang berguna untuk mengevaluasi dan mengatur perusahaan.

CONTINUOUS IMPROVEMENT Bertujuan untuk melakukan perbaikan pada keseluruhan performans perusahaan secara bertahap dengan memperbaiki efisiensi sedikit demi sedikit tetapi kontinu. Ini berarti semua aspek organisasi secara kontinu dievaluasi dan peningkatan terjadi (dipengaruhi oleh pendekatan salami slice). PROCESS VALUE ANALYSIS AND PROCESS REENGINEERING PVA merupakan identifikasi dan analisa proses bisnis secara keseluruhan. Proses dibagi-bagi dalam kegiatan dan menganalisa kegiatan-kegiatan dalam setiap proses, kesempatan untuk memperbaiki perusahaan dan mengurangi biaya menjadi lebih teridentifikasi dengan membedakan antara kegiatan yang mempunyai nilai tambah dan tidak mempunyai nilai tambah. Proses re-engineering merupakan perancangan ulang atau konfigurasi ulang dari proses dan atau penggunaan alternatif proses.

VALUE ADDED VS NON-VALUE ADDED ACTIVITIES Kegiatan value added menambahkan sesuatu yang diinginkan pelanggan terhadap sesuatu produk atau jasa; kegiatan non-value added menambah biaya dan waktu terhadap produk atau jasa tetapi tidak menambah nilai dari sudut pandang pelanggan. Cara praktis untuk membedakan antara kegiatan value added dan non-value added adalah pendekatan dari pandangan pelanggan (apakah pelanggannya eksternal atau internal seperti divisi lain dalam perusahaan). Apabila pelanggan tidak berkeinginan membayar kegiatan tersebut maka barang tersebut tidak akan menambahkan nilai umpamanya reduksi waktu set-up mesin, jumlah kali material dipindahkan pabrik atau waktu produk jadi disimpan dalam gudang tidak akan menjadi masalah bagi pelanggan; namun apabila tahapan pengecatan atau pengepakan dieliminasi, pelanggan dengan segera beralih ke pemasok lain. Selain dari pemahaman proses bisnis dan biaya yang berkaitan, PVA juga berkonsentrasi atas pemenuhan kebutuhan pelanggan, minimisasi biaya dan waktu siklus dan memperbaiki kualitas output.

Proses re-engineering bertujuan untuk merubah (kadang-kadang sangat mendasar) struktur proses bisnis untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Bisnis proses reengineering dimulai dengan evaluasi kinerja proses perusahaan dalam pemenuhan kebutuhan pelanggan seperti waktu penyampaian, kualitas produk atau jasa yang disampaikan dan laba yang dihasilkan.

ACTIVITY INVESMENT ANALYSIS Dalam rangka menentukan biaya penggunaan aset (umpamanya depresiasi; usang dan rusak) atau investasi yang berkaitan dengan kegiatan; adalah penting untuk menganalisa aset menurut struktur kegiatan. Informasi tentang aset yang diinvestasi pada setiap kegiatan yang dapat mengevaluasi produktivitas modal dan berguna dalam pembuatan keputusan investasi. Hal ini mempunyai pengaruhuntuk dapat melihat neraca dari sudut pandang kegiatan yang juga mengevaluasi biaya modal

COST OF CAPITAL MANAGEMENT Biaya modal dalam banyak kegiatan merupakan salah satu elemen biaya yang paling signifikan. Disebabkan fakta bahwa bagian terbesar dari biaya modal yaitu pengembalian dana pemegang saham yang bukanlah menunjukkan kas keluar, biaya modal jarang ditelusuri sebagai objek biaya.

LIFE CYCLE ACOUNTING Merupakan konsep logis dimana semua biaya yang berkaitan terhadap suatu produk dibebankan atas produk tersebut menurut daur hidup ekonomis. Hal ini menyatakan daur hidup ekonomis perlu ditentukan lebih awal, ditaksir atau diramal lebih awal untuk mengalokasi biayabiaya tertentu dari produk selama periode bersangkutan dan bukan selama periode dimana biaya(umpama biaya penelitian dan pengembangan) terjadi.

4 langkah bentuk daur hidup konvensional suatu produk atau jasa : 1. Identification of an opportunity 2. Development, testing promotion 3. Introduction, growth, maturation, decline 4. Withdrawal

Umumnya overhead relatif tinggi di fase awal pengembangan produk dan kemudian menurun menurut daur hidup produk. Sebaliknya revenue utama dihasilkan selama fase 3 diatas. Konsekuensinya dengan membebankan biaya terhadap laporan laba rugi sebagaimana dan bilamana terjadi sama seperti akuntansi konvensional umumnya ketidakcocokan yang tidak serius atas penghasilan terjadi.