Anda di halaman 1dari 4

MENITI JALAN MENUJU KEMANFAATAN SEJATI Abdullah Mujahid Fakultas Pertanian

Terlahir di kota Ambon, Maluku, sebuah daerah di bagian timur Indonesia pada tanggal 05 juli 1991, dari keluarga sederhana yang bersahaja kalau boleh saya katakan. Menjadi anak pertama dari 7 orang bersaudara sementara ini, itupun kalau tidak ada pasukan baru yang bertambah (adik baru maksudnya) sangat menyenangkan, keadaan yang ramai dengan canda tawa, tangisan dan rengekan dari adik-adik kecilku membuat jiwa serasa sangat bahagia saat berkumpul bersama. Memasuki kelas 3 Masdrasah Ibtidaiyah terjadi kerusuhan SARA yang cukup besar hingga memaksa seluruh keluarga pindah ke kota kelahiran orang tua yaitu Jombang. Sekolah pun dilanjutkan di Jombang, namun dalam beberapa bulan orang tua memutuskan untuk kembali ke kota Ambon karena memang dikota itulah ayah mencari nafkah untuk kelangsungan hidup keluarga kami, sedangkan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga yang dengan sabar mendidik seluruh anaknya di rumah. Kehidupan di Jombang saya jalani dengan tinggal dengan nenek hingga lulus masa SMA. Kondisi jauh dari orang tua dan jumlah saudara yang bisa dikatakan tidak sedikit sedangkan semuanya pasti harus melanjutkan sekolah ditambah dengan posisi sebagai anak laki-laki pertama dari keluarga membuat pikiran dan hati saya sangat terdorong untuk sedikit meringankan tanggungan biaya dari orang tua, sejak SMA saya aktif di organisasi sekolah sehingga saya seperti memiliki tempat tinggal di sekolah, karena jarak antara rumah dan sekolah kurang lebih 20 Km, ini sangat membantu mengurangi biaya transportasi. Keinginan saya semenjak kecil adalah menjadi seorang dokter (cita-cita umum anak kecil selain polisi atau tentara), namun Allah SWT memberikan rencana lain yang lebih besar, saya diterima di Universitas Brawijaya tanpa tes walaupun biaya masuk yang harus dikeluarkan 2 kali lipat dari jalur regular. Fakultas Pertanian, lembaga yang menjadi wadah aktualisasi saya dalam banyak hal semenjak saya menginjakkan kaki di kota malang ini. Dengan berbekal semangat dan keinginan membaja untuk membantu orang tua, karena adik-adik saya pun bertambah besar dan membutuhkan biaya pendidikan yang relatif tinggi untuk masa sekarang, saya memutuskan untuk memulai berwirausaha dan bekerja diluar jam kuliah saya. Semester 1 saya mencoba untuk fokus hanya untuk kuliah dan mengukur kemampuan saya terlebih dahulu, dan Alhamdulillah IP pertama yang saya dapatkan cumlaude pada angka 3,84.

Mengacu pada itulah kemudian saya merasa mampu untuk berbuat hal lain diluar jam kuliah, saya mulai mencoba berwirausaha dengan menjadi distributor pulsa seperti teman kebanyakan, seiring perjalanan saya bertemu dengan seorang kakak tingkat di universitas yang kemudian memberi tawaran untuk menjadi seorang junior marketing paruh waktu di salah satu perusahaan IT skala multinasional, dia beranggapan bahwa saya memiliki motivasi dan track record yang baik untuk diajak bekerja sama dan tawaran itupun saya terima. Kegiatan usaha dan pekerjaan yang saya jalani belum berhenti hingga disitu, selama menjadi junior marketing saya mengikuti pelatihan-pelatihan lain diluar perusahaan dan hasilnya dalam kurun waktu 4 bulan sejak saya masuk dan bergabung, peringkat saya naik 2 tahap menjadi executive marketing. Dan Alhamdulillah selama rentang waktu semester 2 saya jalani, indeks prestasi pada semsester 2 alhamdulillah mengalami kenaikan menjadi 3,93 dan IPK tercatat 3,9 Iklim usaha tetap berlanjut, saya kemudian bertemu dengan banyak orang yang sebelumnya belum pernah saya kenal, orang-orang yang memilki pengalaman usaha yang jauh lebih banyak, saya akhirnya banyak bergaul dan belajar dari mereka. Saya selalu menjadi yang termuda dalam setiap kegiatan yang diadakan, karena memang umur saya masih 18 tahun sedangkan yang lain sudah berada di umur 20 tahun lebih, namun itu tidak menjadi penghambat saya dalam belajar. Karena belajar itu tidak mengenal waktu, belajar itu tidak mengenal tempat, pembelajaran dapat terjadi setiap saat, tergantung apakah kita mampu dan sudah siap untuk mengambil hikmah dari setiap kejadian yang terjadi disekitar kita. Saya senang belajar dari orang-orang yang pintar, telah sukses, memiliki pengalaman lebih, karena itulah yang akan menempa saya menjadi lebih baik. Saya tidak takut dengan kegagalan, karena insyaALLAH saya sudah akrab dengan kegagalan, karena kegagalan demi kegagalan akan selalu memberi pelajaran dan harapan baru dalam hidup saya. Hingga akhirnya tanpa terasa program sarjana yang tertempuh telah memasuki semester akhir, hingga semester ini pun dengan tetap menjalankan kuliah, organisasi, dan usaha tanpa ada dikotomi diantaranya, Alhamdulillah Indeks Prestasi masih tetap terjaga pada status Cumlaude. Pada semester 7, Alhamdulillah saya dan beberapa rekan dinyatakan diterima masuk dalam program percepatan S2 Fast Track dari Kemendikbud RI dimana mengharuskan mahasiswa untuk menjalankan semester akhir sarjana dengan semester awal pascasarjana, bagi saya tantangan ini cukup berat karena menambah beban akademik yang memang sudah saya rencanakan semester sebelumnya.

Namun satu hal yang kemudian menjadi pemacu semangat saya, sejurus kemudian ingatan saya kembali pada masa SMA, ketika Umi (Ibu) dalam suatu perbincangan santai mengucapkan harapannya secara terbuka, ya paling g kalo umi lulusnya SMA, anak umi minimal bisa S2.. dengan diiringi senyum yang khas beliau, kalimat itu membekas cukup dalam dan memberikan arti serta penyemangat luar biasa pada diri saya ketika pikiran terasa penat dengan beban akademik maupun lainnya. Ketika banyak anak muda yang memiliki hubungan kurang bagus orang tuanya, merasa ogah untuk sekedar meng-iya-kan sedikit harapan orang tuanya agar mereka menjadi ini dan menjadi itu, maka sejak saat Umi saya berkata demikian, dengan rasa bangga saya menjalani kehidupan bahkan hingga saat ini dengan membawa 3 harapan orang tua , (1) Untuk melanjutkan pendidikan hingga minimal S2, (2) Menjadi seorang dosen, (3) Menjadi pengusaha atau dengan kata lain asal bukan PNS. Saya sepenuh hati meyakini, ketika kita berjalan dengan ego maka yang didapat hanya pencapaian diri yang tiada bertahan lama, namun dengan harapan orang tua yang kita coba bawa maka insyaAllah doa mereka akan senantiasa menyertai setiap aktiitas hidup kita. Saat ini ketika telah banyak hal yang telah terkerjakan, saat saya membuka kembali rincian pencapaian maka dengan senyum simpul bahagia saya bisa menyatakan Inilah bentuk jawaban Allah SWT atas rangkaian doa, ikhtiar dan pengharapan Umi dan Abi. Saya pernah menjabat dalam beberapa organisasi diantaranya sebagai Dirjen Pengembangan dan Pembinaan Potensi Mahasiswa Eksekutif Mahasiswa UB, Staff Ahli PSDM Forsika FP UB, Biro Khusus Pusat Studi Gerakan dan Kebijakan EM UB, Staff PSDM EM UB, anggota Prisma FP UB, Ketua Komisi B Dewan Perwakilan Mahasiswa FP UB, aktif dalam Forum Komunikasi Agroekoteknologi FP UB, dan pada tahun 2012 ini terpilih menjadi salah satu Dewan Perwakilan Mahasiswa UB. Dalam kegiatan usaha saya pernah mendapat amanah sebagai Direktur LP BeCome Amazing Community Malang, Event and Promotion Manager CV.Dapur Inspirasi Indonesia, Manager ISI Training Center, Executive Marketing PT.GMN dan saat ini sedang membangun PribadIndonesia Management sebagai Direktur Utama. Sebagai penutup saya ingin menggambarkan tentang 3 potensi penting manusia. Potensi pertama adalah potensi fisik, sehingga jika kita mampu mengelola fisik dengan baik, insyaAllah kita akan menjadi manusia yang kuat dan produktif. Akan tetapi, ternyata tidak selamanya orang yang berfisik baik itu mulia. Bahkan tidak jarang manusia yang berbadan bagus malah menjadi hina akibat keindahan fisiknya.

Potensi yang kedua adalah akal. Kita dikaruniai akal oleh Allah dan akal inilah yang membedakan kita dengan makhluk Allah lainnya. Dengan akal kita dapat memikirkan ayatayat Allah di alam ini sehingga kita dapat mengelola dan mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan. Kendati demikian, potensi akal juga bukanlah potensi yang dapat menentukan mulia atau tidaknya seorang manusia. Di Indonesia ini begitu banyak orang yang pintar, tapi mengapa Indonesia masuh juga terpuruk? Setiap tahun puluhan ribu sarjana dikeluarkan oleh kampus-kampus yang ternama. Tapi mengapa korupsi masih juga merajalela? Rasanya kecil kemungkinan kalau korupsi itu dilakukan oleh orang-orang yang bodoh. Bagaiamana tidak? Uang negara, uang rakyat yang dikuras jumlahnya bukan hanya dalam bilangan jutaan atau miliaran, tapi juga triliunan rupiah. Kalau orang bodoh rasanya dia tidak akan kuat berpikir jauh-jauh seperti itu. Artinya pintar tidak identik dengan kemuliaan. Inilah potensi ketiga yang ada pada diri manusia yang tidak setiap orang mampu menjaga serta mengembangkannya. Dialah yang dinamakan hati. Hati yang sabar inilah potensi yang bisa melengkapi otak cerdas dan badan kuat menjadi mulia. Dengan hati yang hidup inilah orang yang lumpuh pun bisa menjadi mulia, orang yang tidak begitu cerdas pun dapat menjadi mulia. Allah SWT menyuruh kita untuk senantiasa bersabar dalam segala hal karena orang yang sabar dalam menghadapi semua cobaan dan rintangan hidup itu akan diberikan balasan oleh Allah dengan pahala yang berlipat ganda. Semua kegiatan yang saya lakukan, ikhtiar yang telah diusahakan saya niatkan untuk mencari ridho-Nya semata dan demi melihat orang tua dan adik-adik saya tersenyum bangga dan tulus dikemudian hari ketika melihat dan membersamai anaknya berada di puncak kesuksesan. InsyaALLAH.. Semai Kebaikan Rawat Kesungguhan Panen Kemuliaan Karena Setiap Diri Mampu.. Setiap Diri Berhak.. Setiap Diri Mulia..

Semoga Setiap Kita Mampu Membersamai Sesamanya Mewujudkan Pribadi Indonesia Produktif Berkontribusi Dalam Balutan Semangat Melanjutkan Tradisi Kebaikan