Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI DAN FISIOLOGI MANUSIA

Refleks dan Alat Pengecapan

Disusun Oleh :

Vita Istiqomah Anggi Dyah Aristi Ria Lestari Shelena Nugraha R Dewi Irma Fitriyani

3415110315 3415111375 3415111382 3415111389 3415111390

PENDIDIKAN BIOLOGI REGULER 2011 JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2013

KAJIAN TEORI

I. Refleks Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun, ada pula gerak yang terjadi tanpa disadari yaitu gerak refleks. Untuk terjadi gerak refleks, maka dibutuhkan struktur sebagai berikut : organ sensorik (yang menerima impuls), serabut saraf sensorik (yang menghantarkan impuls), sumsum tulang belakang (serabut-serabut saraf penghubung menghantarkan impuls), sel saraf motorik (menerima dan mengalihkan impuls), dan organ motorik (yang melaksanakan gerakan). Gerak refleks merupakan bagian dari mekanika pertahanan tubuh yang terjadi jauh lebih cepat dari gerak sadar, misalnya menutup mata pada saat terkena debu, menarik kembali tangan dari benda panas menyakitkan yang tersentuh tanpa sengaja, bersin, batuk, dll. Gerak refleks dapat dihambat oleh kemauan sadar ; misalnya, bukan saja tidak menarik tangan dari benda panas, bahkan dengan sengaja menyentuh permukaan panas. (Evelyn Pearce, 2009) Untuk terjadinya gerakan refleks maka dibutuhkan struktur sebagai berikut, organ sensorik yang menerima impuls misalnya kulit. Serabut saraf sensorik yang menghantarkan impuls tersebut menuju sel-sel ganglion radiks posterior dan selanjutnya serabut sel-sel akan melanjutkan impuls dan menghantarkan impuls-impils menuju substansi pada kornu posterior medula spinalis. Sel saraf menerima impuls dan menghantarkan impuls-impuls melalui serabut motorik. Lalu organ motorik melaksanakan rangsangan (Syaifuddin, 2009) Gerak refleks dapat dibedakan atas refleks otak bila saraf penghubung (asosiasi) berada di dalam otak, misalnya, gerak mengedip atau mempersempit pupil bila ada sinar dan refleks sumsum tulang belakangbila sel saraf penghubung berada di dalam sumsum tulang belakang misalnya refleks pada lutut . Waktu antara pemberian rangsangan hingga timbul jawaban disebut waktu refleks. Kekuatan refleks ditentukan oleh kekuatan rangsang dan lama pemberian rangsang. Refleks dapat berupa peningkatan maupun penurunan kegiatan, misalnya kontraksi atau relaksasi otot, kontraksi atau dilatasi pembuluh darah. Dengan adanya kegiatan refleks, tubuh mampu mengadakan reaksi yang cepat terhadap berbagai perubahan diluar maupun didalam tubuh disertai adaptasi terhadap perubahan tersebut. Proses yang terjadi pada refleks melalui jalan tertentu disebut lengkung refleks. Komponen-komponen yang dilalui refleks :

1.

Reseptor rangsangan sensorik yang peka terhadap suatu rangsangan misalnya kulit

2.

Neuron aferen (sensoris) yang dapat menghantarkan impuls menuju kesusunan saraf pusat (medula spinalis-batang otak)

3.

Pusat saraf (pusat sinaps) tempat integrasi masuknya sensorik dan dianalisis kembali ke neuron eferen

4. 5.

Neuron eferen (motorik) menghantarkan impuls ke perifer Alat efektor merupakan tempat terjadinya reaksi yang diwakili oleh suatu serat otot atau kelenjar

Unit dasar setiap kegiatan reflex terpadu adalah lengkung reflex. Lengkung reflex ini terdiri dari alat indra, serat saraf aferen, satu atau lebih sinaps yang terdapat di susunan saraf pusat atau di ganglion simpatis, serat saraf eferen, dan efektor. Serat neuron aferen masuk susunan saraf pusat melalui radiks dorsalis medulla spinalis atau melalui nervus kranialis, sedangkan badan selnya akan terdapat di ganglion-ganglion homolog nervi kranialis atau melalui nervus cranial yang sesuai. Kenyataan radiks dorsalis medulla spinalis bersifat sensorik dan radiks ventralis bersifat motorik dikenal sebagai hokum Bell- Magendie. Kegiatan pada lengkung reflex dimulai di reseptor sensorik, sebagai potensial reseptor yang besarnya sebanding dengan kuat rangsang. Potensial reseptor ini akan membangkitkan potensial aksi yang bersifat gagal atau tuntas, di saraf aferen. Frekuensi potensial aksi yang terbentuk akan sebanding dengan besarnya potensial generator. Di system saraf pusat (SSP), terjadi lagi respons yang besarnya sebanding dengan kuat rangsang, berupa potensial dan potesial eksitasi inhibisi pascasinaps postsinaps (Excitatory (Inhibitory Postsynaptic Postsynaptic

Potential=EPSP)

Potential=IPSP) di hubungan-hubungan saraf (sinaps). Respon yang timbul di serat eferen juga berupa repons yang bersifat gagal atau tuntas. Bila potensial aksi ini sampai di efektor, terjadi lagi respons yang besarnya sebanding dengan kuat rangsang. Bila efektornya berupa otot polos, akan terjadi sumasi respons sehingga dapat mencetuskan potensial aksi di otot polos. Akan tetapi, di efektor yang berupa otot rangka, respons bertahap tersebut selalu cukup besar untuk mencetuskan potensial aksi yang mampu menghasilkan kontraksi otot. Perlu ditekankan bahwa hubungan antara neuron aferen dan eferen biasanya terdapat di system saraf pusat, dan kegiatan di lengkung reflex ini dapat dimodifikasi oleh berbagai masukan dari neuron lain yang juga bersinaps pada neuron eferen tersebut.

Lengkung reflex paling sederhana adalah lengkung reflex yang mempunyai satu sinaps anatara neuron aferen dan eferen. Lengkung reflex semacam itu dinamakan monosinaptik, dan reflex yang terjadi disebut reflex monosinaptik. Lengkung reflex yang mempunyai lebih dari satu interneuron antara neuron afern dan eferen dinamakan polisanptik, dan jumlah sinapsnya antara 2 sampai beberapa ratus. Pada kedua jenis lengkung reflex, terutama pada lengkung reflex polisinaptik. Kegiatan refleksnya dapat dimodifikasi oleh adanya fasilitas spasial dan temporal, oklusi, efek penggiatan bawah ambang (subliminal fringe), dan oleh berbagai efek lain. (Laurale Sherwood, 2006) Bila suatu otot rangka dengan persarafan yang utuh diregangkan, akan timbul kontraksi. Respons ini disebut refleks regang. Rangsangannya adalah regangan pada otot dan responnya berupa kontraksi otot yang diregangkan. Reseptornya adalah kumparan otot. Refleks-Refleks regang merupakan contoh refleks monosinaptik yang paling dikenal dan paling banyak diteliti. Ketukan pada tendo pattela akan membangkitkan refleks lutut, yang merupakan refleks regang otot kuadriseps femoris, karena ketukan pada tendo akan meregangkan otot. Ketukan pada tendo triseps brakhii, misalnya akan menimbulkan respons berupa ekstensi di sendi siku akibat kontraksi otot triseps, ketukan pada tendo Achilles akan membangkitkan refleks sentakan pada pergelangan kaki, yang disebabkan oleh kontraksi otot gastroknemius, dan ketukan pada sisi wajah menimbulkan reflek maseter. Contoh lengkung polisinaptik adalah refleks mengejap karena rangsangan berbahaya ( Ganong, 2002 ). Impuls proprioseptif diakibatkan oleh adanya rangsangan yang bersifat penekanan, penarikan dan peregangan terhadap alat perasa propioseptif yang berada pada otot, tendon, dan persendian mengakibatkan dikeluarkannya implus. Alat perasa propioseptif tersebut dikenal sebagai alat pacini. Impuls propioseptif disalurkan ke ganglion spinal dan disampaikan ke nukleus goll dan burdach serta sebagian ke nukleus kuneatus lateralis oleh akson- akson ganglion spinal, yang dikenal sebagai funikulus grasilis dan funikulus kuneatus. Sistim proprioseptif atau rasa tekan merupakan stimulus internal yang berasal dari posisi-posisi bagian tubuh, pergerakan otot, sendi, tendon maupun keseimbangan serta suhu. Sebagian anak tidak akan melihat kakinya pada saat berjalan karena informasi sensoris akan disampaikan ke otak melalui posisi dan gerakan kaki pada otot dan sendi. Tiap kumparan otot terdiri dari tidak lebih dari 10 serat otot yang terbungkus oleh selubung jaringan ikat. Kumparan otot mempunyai serat yang lebih bersifat embrional dengan gambaran garis lintang yang kurang jelas dibandingkan dengan serat otot biasa.

Serat kumparan ini dinamakan serat intrafusal, untuk membedakannya dari serat ekstrafusal, yang merupakan unit kontraktil biasa. Serat intrafusal terletak sejajar dengan serat ekstrafusal otot, karena ujung kumparan otot melekat pada tendo di ujungujung otot, atau di samping serat ekstrafusal. Setiap kumparan otot memiliki 2 jenis ujung serat sensorik. Ujung primer ( annulospiral ending ), merupakan ujung serat afferen golongan Ia dengan kecepatan hantar impuls yang tinggi. Salah satu cabang serat aferen. Ia akan mempersarafi serat kantong inti 1, sedangkan cabang lainnya mempersarafi serat kantong isi 2 dan serta rantai inti. Serat saraf sensorik ini melilit bagian tengah serat kantong inti dan serat rantai inti. Ujung sekunder ( flowerspray ending ), merupakan ujung serat sensorik golongan II dan berakhir lebih dekat ke ujung serat intrafusal, tetapi itupun hanya pada serat rantai inti ( Ganong, 2002 ). Fungsi kumparan otot terlihat bila kumparan otot teregang, akan menimbulkan potensial aksi di serat sensorik dengan frekuensi yang sebanding dengan besar regangan. Karena kumparan otot letaknya sejajar dengan serat ekstrafusal, bila otot diregangkan secara pasif, kumparan otot juga akan teregang. Hal ini memicu refleks berupa kontraksi serat ekstrafusal otot tersebut. Sebaliknya, serat aferen kumparan otot akan berhenti melepaskan impuls bila kontraksi otot disebabkan oleh perangsangan listrik serat saraf yang menuju ke serat ekstrafusal, karena ototnya memendek tanpa pemendekan kumparannya. Dengan demikian, kumparan otot dan hubungan refleksnya merupakan umpan balik dalam mempertahankan panjang otot; bila otot teregang, impuls yang dilepaskan kumparan otot akan meningkat dan terjadilah pemendekan otot, sedangkan bila otot memendek tanpa terjadi perubahan pelepasan impuls dari eferen , impuls kumparan akan menurun dan otot relaksasi. Reseptor untuk refleks regang berbalik terdapat di organ tendo golgi. Reseptor ini terdiri atas anyaman tonjolan ujung saraf di antara fasikula tendo. Ada 3-25 serat otot untuk tiap reseptor tendo ini. Serat dari organ tendo Golgi adalah serat saraf sensorik golongan Ib yang bermielin dengan kecepatan hantar tinggi. Oleh karena organ tendo Golgi tersusun secara seri dengan serat otot, tidak seperti susunan kumparan otot, reseptor ini dapat dirangsang baik oleh peregangan pasif maupun kontraksi aktif otot. Ambang rangsangannya rendah. Akibat perangsangan oleh peregangan pasif tidak benar, karena serat otot bersifat elastis sehingga meredam sebagian besar pengaruh regangan itu, dan inilah yang menyebabkan dibutuhkannya peregangan yang kuat untuk dapat menimbulkan relaksasi. Akan tetapi, kontraksi otot akan selalu menimbulkan pelepasan impuls yang teratur. Sirkuit bergema adalah akibat

adanya cabang yang balik di jalurnya, sehingga memungkinkan kegiatan bergema, sampai tidak mampu lagi meneruskan impuls melalui sinaps dan kegiatan hilang sendiri ( Ganong, 2002 ). Refleks regang yakni kapanpun otot diregang, maka eksitasi yang timbul pada kumparan akan menyebabkan refleks konstraksi serat otot rangkaian besar dari otot yang sama dan otot-otot sinergisnya. Refleks regang dibagi 2 komponen, yaitu : Refleks regang dinamik dan refleks regang statis. Refleks regang dinamik dicetuskan oleh sinyal dinamik yang kuat, yang dijalarkan dari ujung sensoris primer kumparan otot akibat regangan atau pemampatan yang berlangsung cepat. Jadi, bila otot tiba-tiba diregang atau dimampatkan, akan ada sinyal kuat yang dijalarkan ke medulla spinalis; hal ini akan segera menimbulkan refleks kontraksi yang kuat (atau menurunan kontraksi) pada otot yang sama dari tempat sinyal tadi keluar. Jadi, fungsi refleks ini adalah untuk melawan perubahan panjang otot. Refleks regang dinamik berakhir dalam waktu seper detik sesudah otot diregang (atau dimampatkan) hingga mencapai panjangnya yang baru, namun kemudian akan dilanjutkan oleh refleks regang static yang lebih lemah dalam waktu yang lama. Refleks ini dicetuskan oleh sinyal reseptor statis terus-menerus yang dijalarkan oleh ujung sekunder. Makna refleks regang statis adalah bahwa refleks ini menimbulkan derajat kontraksi otot selama otot tetap dalam keadaan konstan, kecuali ketika system saraf seseorang memerintahkan sebaliknya. Fungsi penting utama refleks regang adalah kemampuannya untuk mencegah gerakan tubuh yang bergoyang ( oscillation ) atau menyentak-nyentak ( jerkiness ). Ini adalah fungsi peredam ( damping ) atau pelancar ( smooting ) ( Guyton, 1996 ) Perangsangan supramaksimal pada saraf sensorik ekstremitas tidak akan menghasilkan kontraksi otot fleksor sekuat kontraksi yang timbul akibat rangsang listrik langsung pada otot. Hal ini menunjukkan bahwa serat-serat aferen berpisah-pisah ( fractionate ), sehingga setiap aferen hanya akan menuju ke kelompok neuron motorik untuk otot-otot fleksor pada ekstremitas yang bersangkutan saja. Sebaliknya, bila semua serat sensorik dipotong dan dirangsang satu per satu, kontraksi yang ditimbulkan lebih kuat daripada yang ditimbulkan oleh perangsangan listrik langsung pada otot ataupun perangsangan semua saraf sensorik sekaligus. Hal ini menunjukkan bahwa serat aferen bersinaps pada beberapa neuron motorik sehingga bila serat dirangsang sekaligus akan terjadi oklusi ( Ganong, 2002 ). Refleks menarik diri merupakan refleks polisinaptik yang khas, yang terjadi sebagai jawaban terhadap rangsangan noxius dan biasanya rangsangan nyeri kulit atau jaringan

subkutan serta otot. Respons yang timbul adalah kontraksi otot fleksor dan penghambatan otot ekstensor sehingga bagian yang terangsang mengalami fleksi dan menarik diri dari rangsangan tersebut. Bila diberikan rangsangan yang kuat pada ekstremitas, respons yang timbul bukan hanya berupa fleksi dan menarik diri pada ekstremitas tersebut, melainkan juga ekstensi pada ekstremitas kontralateral. Respons ekstensor silang merupakan ekstensi yang terjadi pada anggota tubuh yang lain dapat mendorong seluruh tubuh menjauhi objek yang menyebabkan stimulus nyeri pada anggota tubuh yang menarik diri ( Ganong, 2002 ). Rangsang yang menimbulkan suatu refleks umumnya sangat spesifik. Rangsang ini disebut rangsang adekuat untuk refleks yang bersangkutan. Rangsang adekuat untuk refleks spinal ini rangsang raba yang bergerak, misalnya karena serangga yang menempel di kulit. Respons yang timbul adalah garukan hebat pada daerah yang terangsang ( Ganong, 2002 ). Istilah eksitasi dan inhibisi sentral digunakan menggambarkan keadaan eksitasi berkepanjangan yang mengalahkan pengaruh inhibisi atau sebaliknya. Bila keadaan eksitasi sentral kuat, impuls eksitasi tidak hanya menyebar ke daerah-daerah somatik medula spinalis melainkan juga ke daerah otonom. Pada penderita paraplegia kronis, misalnya, rangsang nosiseptif lemah dapat menimbulkan refleks-refleks berkemih, defekasi, berkeringat, dan turun-naiknya tekanan darah, selain fleksor pada keempat tungkai. Reaksi penyangga positif melibatkan lingkaran interneuron yang kompleks seperti halnya interneuron yang bertanggung jawab dalam refleks fleksor dan refleks ekstensor silang lokasi. Refleks penyangga positif adalah refleks yang berupa tekanan yang timbul dari tapak kaki sehingga menyebabkan anggota tubuh akan menjauh dari sumbaer tekanan tersebut. Refleks ini akan mengeras menjadi kaku sehingga dapat menyangga berat badan dan akan dapat berdiri dengan posisi kaku. Lokasi dari tapak kaki yang menimbulkan tekanan tersebut menentukan kearah mana anggota tubuh akan bergerak. Tekanan yang diberikan pada salah satu sisi akan menyebabkan ekstensi anggota tubuh ke arah tekanan tadi. Efek ini disebut reaksi magnet. Refleks sikap tubuh dibagi menjadi dua point, yang pertama adalah reaksi penyangga positif dan yang kedua adalah refleks medula untuk menegakkan tubuh. Refleks medula untuk menegakkan tubuh adalah gerakan tak terkoordinasi yang menunjukkan usaha untuk bergerak agar pada posisi berdiri. Refleks semacam ini merupakan refleks kompleks yang berhubungan dengan sikap tubuh yang di integrasikan oleh medula spinalis. Refleks

sandung terjadi jika sinyal sensorik yang berasal dari tapak kaki dan dari alat pengukur posisi yang terletak di sekeliling sendi sangat berperan dalam pengaturan tekanan kaki dan kecepatan melangkah sewaktu kaki berjalan melewati suatu permukaan. Ternyata mekanisme medula dipaki untuk mengatur gerakan melangkah ini sangat kompleks. Jadi medula merupakan pengatur gerakan melamgkah yang cerdas. Contohnya, sewaktu kaki maju kedepan, bila ujung kaki tersandung, maka untuk sementara gerakan maju terhenti, tetapi kemudian dalam urutan yang cepat, kaki akan terangkat lebih tinggi dan kaki akan terus maju agar kaki dapat di tempatkan di depan hambatan ( Guyton, 1996 ). Reflek medula yang penting dan khusus pada beberapa hewan adalah reflek menggaruk. Reflek ini dipacu oleh sensasi gatal atau sensasi geli. Reflek ini melibatkan dua macam fungsi, yaitu indera posisi yang akan mempermudah cakarnya untuk menemukan tempat iritasi di permukaan tubuh dan gerakan menggaruk kian kemari, melibatkan sirkuit persyarafan timbal balik yang menyebabkan osilasi. Spasme otot akibat patah tulang disebabkan oleh impuls nyeri yang dimulai dari tepi tulang patah, menyebabkan otot-otot sekelilingnya berkontraksi secara ionik. Penghilangan nyeri dapat dicapai dengan suntikan anestetik lokal pada ujung tulang yang patah untuk mengurangi spasme. Salah satu dari kedua tindakan anestesi ini sering kali diperlukan sebelum keadaan spasme dapat mengembalikan kedua ujung tulang yang patah ke posisi yang tepat ( Guyton, 1996 ). Neuron aferen secara langsung bersinaps dengan neuron motorik alfa yang mempersarafi serat-serat ekstrafusal otot yang sama, sehingga terjadi kontraksi otot itu. Refleks regang (stretch reflex) ini berfungsi sebagai mekanisme umpan balik negative untuk menahan setiap perubahan pasif panjang otot, sehingga panjang optimal dapat dipertahankan. Refleks regang negatif, bila suatu otot tiba-tiba diperpendek, terjadi efek yang berlawanan. Refleks ini menentang pemendekan otot tersebut dengan cara yang sama seperti refleks regang positif yang menentang pemanjangan otot. (Athur C. Guyton, 2008 : 457) Singkatnya, jenis refleks dapat dikelompokkan berdasarkan : 1. Letak reseptor Refleks eksteroseptif, yaitu rangsangan yang timbul karena rangsangan pada reseptor di permukaan tubuh

Refleks interoseptif/viseroseptif, yaitu rangsangan yang timbul karena rangsangan pada alat dalam atau pembuluh darah Refleks propioseptif, yaitu rangsangan yang timbul karena rangsangan pada reseptor di otot rangka, tendon dan sendi (refleks sikap badan)

2. 3.

Bagian saraf pusat yang terlibat Refleks spinal, melibatkan neuron di medulla spinalis, contoh : withdrawal refleks Refleks bulbar, melibatkan neuron di medulla oblongata Refleks kortikal, melibatkan neuron di korteks serebri Ciri jawaban Refleks motor, efektornya otot dengan jawaban berupa kontraksi atau relaksasi otot Refleks sekretorik, efektornya kelenjar dengan jawaban berupa peningkatan atau penurunan sekresi kelenjar Refleks vasomotor, efektornya pembuluh pembuluh darah berupa vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) atau vasokontriksi (penyempitan pembuluh darah)

4.

Bawaan sejak lahir dan didapat Refleks tak bersyarat (unconditioned reflex), refleks yang dibawa sejak lahir, contoh : refleks menghisap pada bayi Refleks bersyarat (conditioned reflex), refleks yang didapat selama

pertumbuhan dan biasanya berdasarkan pengalaman hidup, contoh : keluar air liur ketika melihat makanan yang lezat 5. Jumlah neuron yang terlibat Refleks monosinaps, lengkung refleks paling sederhana, melalui satu sinaps (hanya melalui 2 neuron, satu neuron afferen dan satu neuron efferen yang langsung berhubungan dengan di saraf pusat). Contoh : stretch refleks. Refleks polisinaps, melalui beberapa sinaps, terdapat beberapa interneuron yang menghubungkan afferen dan efferen. Kecuali refleks regang, semua refleks melalui lebih dari satu sinaps. Gerak refleks dapat digunakan pada pemeriksaan neurologi untuk mengetahui kerusakan atau pemfungsian dari sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Keadaan sirkuit refleks dapat sangat bervariasi tergantung pada kondisi seseorang (misalnya terjaga, tidur, koma), pada apa yang dilakukan (misalnya berjalan, berlari, berpikir),

pada posisinya dalam ruang dan postur, dan atas faktor lainnya. Informasi-informasi ini berguna bagi dunia farmasi dan kedokteran.

II.

Alat Pengecap Sistem pengecap atau sistem gustatory terdapat di lidah. Indera pengecap (lidah)

ini merupakan organ penting pada manusia yang membuat manusia memilih makanan sesuai dengan keinginannya dan kebutuhan jaringan, selain itu dapat juga berfungsi untuk menghindari tubuh dari substansi beracun. Lidah sebenarnya merupakan kumpulan dari otot. Dilihat dari ukurannya, otot lidah termasuk otot yang paling kuat pada tubuh kita. Otot-otot ini memiliki arah yang berbeda-beda, itu sebabnya lidah kita sangat fleksibel dalam bergerak ke segala arah. Otot lidah ada 2 jenis, otot intrinsik dan ekstrinsik. Otot intrinsik membuat kita mampu mengubah-ubah bentuk lidah (memanjang, memendek, membulat), sedangkan otot ekstrinsik lidah membuat lidah dapat bergerak mengelilingi rongga mulut dan faring. Lidah yang membentuk dasar rongga mulut terdiri dari otot rangka yang dikontrol secara volunter. Pergerakan lidah tidak saja penting untuk memandu makanan di dalam mulut sewaktu kita mengunyah dan menelan, tetapi juga berperan penting untuk berbicara. Lidah mempunyai reseptor khusus yang berkaitan dengan rangsangan kimia. Permukaan lidah dilapisi dengan lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir, dan reseptor pengecap (Sherwood, 2001). Reseptor pengecap adalah kemoreseptor yang memberi respon pada zat-zat yang larut dalam cairan mulut yang membasahinya. Reseptor ini berada pada setiap putik kecap (tunas pengecap/ taste buds). Sel-sel reseptor mempunyai sejumlah rambut yang menjulur ke dalam pori pengecap, yaitu lubang pada permukaan epitel putik kecap. Reseptor pengecap berupa tunas pengecap (taste buds) yang juga tersebar di dalam mukosa epigloti, palatum dan faring, serta dalam dinding papilla fungiformis dan papilla (circum) valate lidah (Tri Murtiati, 2012). Kemoreseptor untuk sensasi pengecapan terkemas dalam papil-papil pengecap (taste buds) yang di dalam rongga mulut dan tenggorokan dengan persentase terbesar berada di permukaan atas lidah. Sebuah papil pengecap terdiri dari sekitar lima puluh sel reseptor yang terkemas dengan sel-sel penunjang dalam susunan potongan-potongan jeruk. Setiap papil pengecap memiliki sebuah lubang kecil, pori-pori pengecap, tempat berkontaknya cairan dalam mulut dengan permukaan sel reseptor (Ganong, 2008).

Sel-sel pengecapan adalah sel epitel termodifikasi dengan banyak lipatan permukaan, atau mikrovili, yang sedikit menonjol melalui pori-pori pengecap untuk meningkatkan luas permukaan sel yang terpajan ke isi mulut. Membran plasma mikrovili mengandung reseptor-reseptor yang berikatan secara selektif dengan molekulmolekul zat kimia di lingkungan. Hanya zat kimia dalam larutan baik cairan maupun zat padat yang telah larut dalam air liur yang dapat berikatan dengan sel reseptor. Potensila reseptor ini kemudian memulai potensial aksi di ujung-ujung terminal serat saraf aferen yang bersinaps dengan reseptor tersebut (Sherwood, 2001). Sel-sel pengecap terus menerus digantikan melalui pembelahan mitosis dari sel-sel epitel disekitarnya. Ketahanan (umur) setiap sel pengecap ini sekitar 10 hari (Junqueira, 2009). Lidah mempunyai lapisan mukosa yang menutupi bagian atas lidah, dan permukaannya tidak rata karena ada tonjolan-tonjolan yang seperi rambut disebut dengan papilla, pada papilla ini terdapat reseptor pengecap (taste buds) untuk membedakan rasa makanan. Apabila pada bagian lidah tersebut tidak terdapat papilla lidah menjadi tidak sensitif terhadap rasa. Papilla pada lidah terdiri atas empat tipe yaitu (Junquiera, 2009): Papilla filiformis Papilla ini berjumlah cukup banyak pada lidah, berbentuk kerucut memanjang dan memiliki banyak lapisan tanduk, yang membuat permukaannya terlihat keabuan atau keputihan. Epitelnya tidak memiliki kuncup pengecap dan peranannya bersifat mekanis dalam menyediakan permukaan kasar yang mempermudah pergerakan makanan selama mengunyah. Papilla fungiformis Papilla ini berjumlah sedikit, sedikit bertanduk, dan berbentuk jamur dengan inti jaringan ikat dan sebaran kuncup kecap pada permukaaan atasnya. Papilla ini tersebar secara acak diantara papilla filiformis. Papilla circumvalata Berjumlah paling sedikit dan merupakan papilla yang terbesar di lidah serta memiliki lebih dari separuh kuncup kecap pada lidah manusia (Pearce, 2006). Dengan diameter sebesar satu sampai tiga nm, tujuh sampai dua belas papilla circumvalata normalnya berbentuk garis huruf V tepat di belakang sulcus terminalis. Duktus dari sejumlah kelenjar liur (Ebner) serosa bermuara ke dalam alur dalam yang mengelilingi setiap papilla ini. Susunan seperti parit

menimbulkan aliran cairan secara kontinu di atas kuncup kecap yang berlimpah pada sisi papilla tersebut. Yang menyapu partikel makanan didekatnya sehingga kuncup kecap dapat menerima dan memproses stimulus pengecapan yang baru. Papilla foliata Papilla ini kurang berkembang pada orang dewasa, tetapi terdiri atas rigi (ridge) dan alur paralel pada permukaan lidah dengan kuncup kecap. Biasanya terdapat pada hewan pengerat (bangsa Rodentia). Kuncup kecap juga terdapat di bagian lain rongga mulut, seperti palatum molle, dan secara kontinu menjadi basah oleh sejumlah besar kelenjar liur yang tersebar di seluruh mukosa mulut.

Didalam papillae terdapat banyak putting pengecap (taste buds). Setiap putting pengecap terdiri atas dua jenis sel seperti berikut ini : o Sel-sel pengecap memiliki tonjolan-tonjolan seperti rambut yang menonjol keluar dari pengecap. Berperan sebagai reseptor. pengecap terdapat silia (rambut gustatori) yang memanjang ke lubang pengecap. Zat-zat kimia dari makanan yang kita makan, mencapai kuncup pengecap melalui lubang-lubang pengecap (taste pores). o Sel-sel penunjang yang berfungsi untuk menyokong sel-sel pengecap. Berperan untuk menopang sel-sel pengecap. Kuncup-kuncup pengecap dapat merespon sedikitnya lima kategori umum sensasi kecap yaitu manis, asin, asam/ masam, pahit dan umami (gurih). Kebanyakan makanan memiliki ciri harum dan ciri rasa, tetapi ciri-ciri itu merangsang ujung saraf

penciuman, dan bukan ujung saraf pengecapan. Supaya dapat dirasakan, semua makanan harus menjadi cairan, serta harus sungguh-sungguh bersentuhan dengan ujung saraf yang mampu menerima rangsangan yang berbeda-beda. Kuncup kecap yang berbeda-beda menimbulkan kesan rasa yang berbeda-beda juga (Campbell, 2004). Persepsi sensasi kecap dalam makanan memerlukan sensasi penghidu dan lainnya selain aktivitas kuncup kecap (Junqueira, 2009). Berikut penjelasan lebih lanjut tentang lima kategori umum yang dapat direspon oleh kuncup pengecap. a) Manis, terletak pada ujung (apeks) lidah. Rasa manis tidak dibentuk atas satu golongan kelas substansi kimia saja. Beberapa tipe substansi kimia yang menyebabkan rasa ini mencakup gula, glikol, alcoho aldehid, keton, amida, ester, asam amino, beberapa protein kecil, asam sulfonat, asam halogenasi, dan garam-garam dari timah dan berilium. Perubahan yang sangat kecil pada radikal sederhana, seringkali dapat mengubah substansi manis menjadi pahit. Sensasi rasa manis dicetuskan oleh konfigurasi khas glukosa. Molekul organik lain dengan struktur serupa juga dapat berinteraksi dengan tempat pengikatan reseptor manis (Sherwood, 2001). b) Asin, terletak pada bagian dorsal depan lidah Rasa asin dibentuk oleh garam-garam yang terionisasi. Kualitas rasanya berbeda-beda antara garam yang satu dengan yang lain karena garam juga membentuk sensasi rasa yang lain selain rasa asin. c) Asam/ masam, terletak pada bagian sepanjang pinggir lidah (2/3 bagian lidah bagian pinggir) Rasa asam disebabkan oleh asam, intensitas dari sensasi rasa ini hampir sebanding dengan logaritma dari konsentrasi ion hidrogen, makin asam suatu asam makin kuat sensasi yang terbentuk. d) Pahit, terletak pada posterior lidah dan palatum molle Rasa pahit tidak dibentuk oleh satu tipe substansi kimia, tetapi substansi rasa pahit hampir seluruhnya dibentuk oleh substansi organik. Dua golongan substansi tertentu yang cenderung menimbulkan rasa pahit adalah (1) substansi rasa organik rantai panjang yang mengandung nitrogen dan (2) alkaloid, seperti kina, kafein, striknin, dan nikotin atau zat-zat beracun menimbulkan rasa pahit,

mungkin sebagai mekanisme protektif untuk menghindari ingesti senyawasenyawa yang memiliki potensi berbahaya ini (Sherwood, 2001). e) Umami (gurih), pada bagian ujung lidah Rasa umami adalah rasa yang diperoleh karena rangsangan pada reseptor metabotropic glutamate receptor (mGluR4) yang sensitif terhadap monosodiumglutmate (MSG). Monosodium glutamat umumnya ditambahkan pada makanan untuk menguatkan rasa.

Berdasarkan penelitian bersifat psikofisiologik dan neurofisiologik, saat ini telah mengenali sedikitnya 13 macam reseptor kimia yang mungkin terdapat pada sel-sel pengecap, yaitu: o 2 reseptor natrium o 2 reseptor kalium o 1 reseptor klorida o 1 reseptor adenosine o 1 reseptor ionosin o 2 reseptor manis o 2 reseptor pahit o 1 reseptor glutamat o 1 reseptor ion hidrogen Untuk rasa pedas seperti rasa pedas lada dan cabai, tidak mempunyai cita rasa yang jelas. Makanan tersebut dapat dikecap karena mengiritasi permukaan lidah, sehingga ada sensasi seperti terbakar. Lidah memiliki kelenjar ludah, yang menghasilkan air ludah dan enzim amilase (ptialin). Enzim ini berfungsi mengubah zat tepung (amilum) menjadi zat gula. Letak

kelenjar ludah yaitu: kelenjar ludah atas terdapat di belakang telinga, dan kelenjar ludah bawah terdapat di bagian bawah lidah. Kemampuan mengecap seseorang tergantung pada: 1. Faktor Individual, misalnya pada seseorang yang sedang sakit, maka kepekaan mengecapnya akan berkurang. 2. Nilai Ambang, misalnya seseorang yang sudah terbiasa makan makanan yang asam, akan lebih tinggi daripada orang yang tidak biasa makan asam. Nilai ambang ini tergantung dari kebiasaan seseorang. 3. Konsentrasi, misalnya pada seseorang yang makan satu mangkok garam, lama kelamaan tidak akan merasakan asin lagi seperti pertama kali memakannya. 4. Usia 5. Suhu 6. Bentuk dan struktur lidah yang kurang baik atau rusak akibat pola makan seseorang 7. Saliva (air liur) Saliva akan melarutkan dan mengkatalis zat yang masuk ke dalam mulut. Kuncup kecap hanya akan dapat terstimulasi bila zat tersebut telah dikatalis oleh saliva (chemoreseptor), Dalam sebuah penelitian yang dilakukan terhadap penderita penyakit ginjal kronis didapatkan bahwa terdapat perubahan rasa yang diinterpretasikan dan komposisi saliva pada pendedrita tersebut. Pada penderita penyakit ginjal kronis terjadi peningkatan konsentrasi bikarbonat, kalium, dan urea pada kadungan/ komposisi salivanya. Meningkatnya konsentrasi bikarbonat dan urea pada saliva penderita dapat dihubungkan dengan menurunnya kemampuan dalam mengecap rasa asam, umami, dan pahit. Kenaikkan konsentrasi bikarbonat berbanding terbalik dengan kemampuan penderita dalam mengecap rasa asam dan umami (mengalami penurunan). Sedangkan meningkatnya konsentrasi urea dalam saliva, dapat menurunkan kemampuan penderita tersebut dalam mengecap rasa pahit. Sehingga adanya senyawa aktif yang terdapat di dalam saliva (khususnya bikarbonat dan urea) berhubungan dengan berubahnya persepsi rasa yang dirasakannya dan dapat mempengaruhi pengonsumsian makanan khususnya makanan yang kaya akan protein (Karen J. Manley dkk, 2012).

Fungsi lidah 1) Menunjukkan kondisi tubuh Selaput lidah manusia dapat digunakan sebagai indikator metabolisme tubuh,terutama kesehatan tubuh manusia. Setiap lidah manusia sering terdapt selaput berwarna putih, semakin tebal lapisan nya menandakan adanya aktivitas faktor patogen yang kuat seperti masuk angin, tingkat dahak,panas tubuh akibat infeksi dan retensi makanan, jika tidak ada selaput lidah mengindikatorkan adanya ganguan ginjal dan kandung empedu. a) Warna Lidah o Kuning menandakan adanya infeksi bakteri, jika warna kuning menuju kehijauan adanya infeksi bakteri akut. o Merah menandakan aktivitas panas tubuh, jika hanya terdapat pada ujung lidah berarti adanya panas pd jantung,jika terdapat pada sisi kanan kiri menandakan adanya ganguan ginjal dan kandung empedu. o Ungu berarti adanya aktivitas statis darah, darah tidak lancar dan ada gangguan. o Biru menandakan adanya aktivitas dingin yang menyebabkan statis darah. b) Bentuk Lidah o Tipis ,jika bentuk lidah tipis dan berwarna pucat menandakan defisiensi (kekurangan ) darah yang berhubungan dengan hati semakin pucat semakin parah gangguan hati o Tebal ,sirkulasi darah tidak normal menandakan gangguan ginjal dan limpa o Kaku ,menandakan masuk angin panjang,adanya akivitas panas pada jantung o Retak,adanya ganguan pada lambung limpa dan jantung 2) Membasahi makanan yang ada di dalam mulut Terdapat kelenjar sublingualis, terletak di bawah lidah 3) Mengecap atau merasakan makanan Maka dari itu lidah merupakan organ yang berfungsi sebagai alat pengecapan 4) Membolak-balikan makanan yang berada di dalam mulut, karena adanya otot-otot yang menyusun lidah (otot intrinsik dan ekstrinsik) 5) Membantu dalam proses menelan makanan 6) Mengontrol suara dan dalam mengucapkan kata-kata

Proses pengecapan Seperti halnya indera yang lain, pengecapan merupakan hasil stimulasi ujung saraf tertentu. Dalam hal mampu membedakan kelezatan makanan tersebut karena ada stimulasi kimiawi. Pada manusia, ujung saraf pengecap berlokasi dikuncup-kuncup pengecap pada lidah. Kuncup-kuncup pengecap mempunyai bentuk seperti labu, terletak pada lidah di bagian depan hingga ke belakang. Di dalam satu papilla terdapat banyak kuncup pengecap (taste buds) yaitu suatu bangunan berbentuk bundar yang terdiri dari dua jenis sel, yaitu sel-sel penyokong dan sel-sel pengecap sebagai reseptor. Setiap sel pengecap memiliki tonjolan-tonjolan seperti rambut yang menonjol keluar taste bud melalui taste pore (lubang). Dengan demikian zat-zat kimia yang terlarut dalam cairan ludah akan mengadakan kontak dan merangsang sel-sel kemudian timbullah impuls yang akan menjalar ke saraf no. VII dan saraf no. IX otak untuk diteruskan ke thalamus dan berakhir di daerah pengecap primer di lobus parietalis untuk kemudian

diintrepretasikan. Makanan yang dikunyah bersama air liur memasuki kuncup pengecap melalui pori-pori bagian atas. Di dalam makanan akan merangsang saraf yang mempunyai rambut (gustatory hair). Dari ujung tersebut pesan akan dibawa ke otak, kemudian diinterpretasikan dan sebagai hasilnya kita dapat mengecap makanan yang masuk ke dalam mulut kita.

METODOLOGI I. Refleks 1. Alat dan Bahan Palu / Hammer 2. Cara Kerja a. Refleks Biseps 1) Membuka lengan baju sampai di atas saku 2) Pemeriksa menyangga tangan OP hingga posisi fleksi 90 3) Mencari tendon bisep dengan cara meraba bagian distal otot biseps. Jika antebranchi fleksi maksimal maka tendon teraba bergerak 4) Memukul dengan palu refleks pada bagian tendon tersebut 5) Bila terdapat gerakan halus pada tendon otot sampai dengan gerakan fleksi pada antebranchi maka dikatakan refleks biseps positif (+)

b. Refleks triseps (C7, C8 Radial nerve) 1) Membuka lengan baju sampai di atas siku 2) Pemeriksa menyangga tangan OP hingga posisi adduksi 3) Mencari tendon otot branchii triseps dengan cara meraba bagian distal otot branchii triseps. Jika antebranchii adduksi maksimal maka tendon teraba bergerak 4) Memukul dengan palu refleks pada bagian tendon tersebut 5) Bila terdapat gerakan halus pada tendon otot sampai dengan gerakan adduksi pada antebranchii maka refleks triseps dikatakan positif (+) c. Refleks patellar /knee-jerk refleks (L3, L4 femoral nerve) 1) OP duduk dengan posisi kaki menggantung 2) Meraba bagian distal lutut untuk untun mencari tendon patella 3) Memukul dengan palu refleks pada bagian tendon tersebut 4) Bila tedapat gerakan eksistensi cruris maka dikatakan refleks patela positif (+) d. Refleks Achilles (S1, S2 sciatic nerve) 1) OP duduk dengan posisi kaki sejajar dengan lantai 2) Melakukan dorso fleksi pada plantar pedis. Meraba tendon achilles 3) Memukul denngan palu refleks pada bagian tendon tersebut 4) Bila terdapat gerakan dorso fleksi maka dikatakan refleks achilles (+)

II. Alat Pengecap 1. Alat dan Bahan Wadah larutan penguji Lidi kapas Peta lidah Larutan gula Larutan garam Larutan kininasulfat Larutan asam cuka

2. Cara Kerja 1) Minta OP untuk berpuasa minimal selama 15 menit sebelum pemeriksaan 2) Minta OP untuk menjulurkan lidah. Oleskan salah satu larutan yang tidak diketahui OP dengan menggunakan lidi kapas 3) Minta OP menyebutkan rasa pada salah satu bagian lidah, bila OP dapat merasakannya beri tanda pada peta lidah dan bila tidak dapat merasakannya beri tanda (-) 4) Kemudian OP diganti dan diperlakukan sama dengan nomor 1-3 dengan menggunakan jenis larutan yang berbeda 5) Begitu seterusnya sehingga semua larutan dapat dirasakan 6) Catat hasil pengujian

HASIL I. Refleks
Kelompok Nama OP Respon Biseps Fleksor (+++) Triseps Fleksor (+) Patella Extensor (+++) Extensor (+++) Extensor (++) Extensor (++) Extensor (+) Extensor (++) Extensor (++) Extensor (+) Achilles Dorso (+++)

Rita

2 3 4 5 6 7 8

Ria Qori Ana Azizah Nurul Amalia Indriya Lisa

Fleksor (++) Fleksor (++) Fleksor (+) Fleksor (+) Fleksor (++) Fleksor (++) Fleksor (+)

Fleksor (+) Fleksor (++) Fleksor (++) Fleksor (+++) Fleksor (+) Fleksor (+)

Plantar (+++) Dorso (+) Dorso (+) Plantar (+) Dorso (+) -

PEMBAHASAN I. Refleks Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan kepada 8 OP didapatkan hasil bahwa setiap OP memiliki respon refleks yang berbeda-beda antara kisaran 0-3 (berdasarkan kisaran kekuatan refleks). Uji gerak refleks yang dilakukan yaitu pada tendon beberapa otot seperti biseps, triseps, patella, dan achilles. Uji refleks dilakukan dengan pemukulan secara perlahan pada beberapa bagian tersebut. pemukulan merupakan sinyal yang dijalarkan melalui serabut saraf ke area lokal medulla, setelah bersinaps di dalam kornu dorsalis medulla. Sinyal medulla lokal merangsang suatu interneuron penghambat yang menghambat neuronmotorik anterior sehingga mencegah tegangan pada otot tidak terlalu besar tanpa mempengaruhi otot otot di dekatnya. Tendon yang merupakan jaringan yang menghubungkan otot dengan tulang dan diselubungi oleh reseptor reseptor sensorik sehingga ketika ada suatu rangsang otot akan berkontraksi kemudian menarik tulang tempatnya melekat dan bagian tubuh dekat area tendon yang mendapat rangsang akan bergerak. Ketika dilakukan ketukan pada tendon otot biseps terjadi respon berupa fleksi lengan pada siku dan supinasi. Sedangkan jika tendon otot triseps diketuk, maka respon yang terjadi berupa ekstensi lengan dan supinasi. Sedangkan pada tendon patella diketuk dengan palu dan respon yang terjadi berupa ekstensi tungkai disertai kontraksi otot kuadriseps. Pada Achilles Pess Refleks (APR), tungkai difleksikan pada sendi lutut dan kaki didorsofleksikan. Respon yang terjadi ketika tendo Achilles diketuk berupa fleksi dari kaki dan kontraksi otot gastrocnemius. Hasil respon refleks pada tendon otot biseps, trisep, dan patela pada keseluruhan OP berespons normal dengan beragam kekuatan pada respon refleks, yaitu berkisar antara 1-3. Sedangkan, respon refleks tendon achilles pada OP terdapat perbedaan. 2 OP pada tendon achilles bereaksi negatif terhadap respon yang diberikan dan kisaran kekuatan antara 0-3. Terdapat perbedaan kekuatan respon refleks pada berbagai tendon diantara OP, bahkan ada beberapa OP yang tidak memberikan respon terhadap rangsangan pemukulan. Hal ini dapat disebabkan karena ketidaktepatan pemukulan pada tendon yang merupakan rangsangan, kekuatan pemukulan, dan ketidakpekaan tendon.

Respon refleks OP keseluruhan pada tendon biseps, triseps, dan patela bereaksi normal. Namun, terdapat perbedaan pada respons reflek OP pada tendon achiles, yaitu 4 OP bereaksi positif, 2 OP bereaksi negatif, dan 2 OP yang tidak memberikan respon. Respon negatif pada OP di tendon achiles dapat disebabkan karena OP kekurangan vitamin B kompleks, sehingga kerja saraf sedikit terganggu. Sehingga beragamnya respon refleks pada semua OP dapat dikarenakan ketidaktepatan posisi pemukulan (rangsangan), perbedaan kekuatan rangsang yang diberikan (pemukulan dengan palu refleks), yaitu kuat rangsang berbanding lurus dengan sensasi dan terutama ditentukan oleh sifat sifat reseptor perifer. Selain itu, beragamnya respon refleks OP disebabkan oleh keadaan OP yang sadar, sedangkan refleks itu sendiri merupakan respon apapun yang terjadi secara otomatis tanpa usaha sadar. Kepekaan tendon pada semua OP juga mempengaruhi hasil yang didapat.

II. Alat Pengecapan Pada dasarnya berbagai jenis rasa yang kita rasakan terdiri dari beberapa tempat pada lidah, yaitu reseptor rasa manis terletak pada bagian ujung lidah, reseptor rasa asin pada bagian dorsal depan/ tepi depan, reseptor rasa asam terletak pada bagian sepanjang pinggir lidah dan reseptor rasa pahit terletak pada pangkal lidah. Pada percobaan ini, bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah larutan gula, larutan garam, larutan kina, dan larutan asam cuka. Keempat larutan tersebut digunakan untuk menguji rasa keempat larutan tersebut pada lidah. Secara berturut-turut rasa yang seharusnya dapat dinterpretasikan dari larutan tersebut adalah manis, asin, pahit, dan asam. Rasa yang dirasakan pada lidah tersebut nantinya akan digambarkan pada peta lidah sehingga dapat diketahui lokasi reseptor dari rasa-rasa tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan maka dapat dilihat bahwa terdapat persamaan dan juga perbedaan peta lidah pada semua OP di tiap kelompok. Rata-rata setiap OP dapat merasakan rasa manis pada bagian ujung (apeks) lidah. Rasa pahit dirasakan pada bagian pangkal lidah/ bagian belakang lidah. Rasa asam dapat dirasakan OP pada bagian pinggir lidah. Ketiga rasa tersebut dirasakan pada semua OP pada tempat yang hampir sama dan sesuai dengan peta lidah pada umumnya. Tetapi untuk rasa asin dirasakan pada bagian lidah yang berbeda-beda pada tiap OP. Ada yang merasakan rasa tersebut pada bagian tengah lidah, bagian dorsal depan, dan pinggir lidah bagian depan. Peta lidah pada rasa asin setiap OP terdapat perbedaan dengan peta lidah pada

umumnya, hal ini mungkin dikarenakan berbedanya jumlah kuncup kecap yang terdapat pada permukaan lidah sehingga bagian lidah yang dapat merasakan rasa tersebut berbeda-beda pada tiap OP. Kuncup kecap adalah salah satu sel reseptor yang menerima impuls berupa senyawa kimia rasa yang akan diteruskan ke sistem saraf pusat untuk diterjemahkan (Jalmo, 2007). Reseptor pengecap dapat menstimulasi rasa yang berbeda-beda. Rasa manis dimulai dengan melekatnya molekul gula pada porus perasa. Kemudian hal ini akan mengaktifkan stimulator yang terdapat pada sitoplasma yang terdapat pada membran. Stimulator (protein G) akan teraktivasi selanjutnya akan mengaktifkan enzim adenilat siklase. Enzim ini akan mengaktifkan pembentukan cAMP dari ATP. Terjadinya peningkatan cAMP akan mengakibatkan terstimulasinya enzim sitoplasma lainnya. Hal ini akan membuat ion K dapat keluar sehingga mengakibatkan depolarisasi pada kuncup pengecap. Hal ini akan mengakibatkan terlepasnya neotransmiter ke sinaps dan selanjutnya akan diteruskan ke otak. Rasa asin disebabkan masuknya ion Na. Masuknya ion Na mengakibatkan tertutupnya saluran keluar ion K. Depolarisasi mengakibatkan neotransmiter keluar, dan impuls bisa diterima oleh otak. Transduksi pahit akan berikatan dengan reseptor pada membran. Pelekatan ini akan mengakibatkan teraktivasinya protein G lainnya yang kemudian akan mengaktifkan enzim fosfolipase. Enzim ini akan membuat IP3 yang merupakan senyawa yang larut dalam sitoplasma yang terdapat dalam RE. Berikatan IP3 dengan reseptor akan membuat terbukanya ion Ca. Maka ion Ca akan keluar menuju Sitoplasma. Peningkatan ion Ca akan membuat saluran K terbuka dan terjadi sinaps. Tidak sepeti rasa manis dan pahit, rasa asam terjadi karena konsentrasi proton atau ion H. Membran sanyat permeable terhadap proton ini. Masuknya proton akan membuat depolarisasi akibatnya neotransmiter dilepaskan ke sinaps (Jalmo, 2007). Pengecapan adalah sensasi yang dirasakan oleh kuncup kecap, yaitu reseptor yang terutama terletak pada lidah (terdapat kurang lebih 10.000 kuncup kecap pada lidah manusia) dan dalam jumlah yang lebih kecil pada palatum mole dan permukaan laringeal dari epiglotis. Kuncup kecap terbenam dari epitel berlapis dari papilla sirkumvalata, papilla foliata, papilla fungiformis. Bahan kimia masuk melalui pori pengecap, yaitu lubang kecil menuju ke sel-sel reseptor. Penyebaran kuncup kecap berada pada seluruh permukaan lidah sehingga setiap lidah dapat merasakan rasa pada penjuru lidahnya. Tetapi kuncup kecap menunjukkan adanya penyebaran berkelompok yaitu untuk reseptor rasa manis berada di ujung lidah, reseptor rasa pahit di pangkal

lidah, reseptor rasa asin di tepi lidah depan sedangkan reseptor rasa asam di tepi lidah belakang (Junqueira, 2009). Proses terjadinya pengecapan berawal pada kuncup-kuncup pengecap. Kuncupkuncup pengecap ini terletak pada lidah bagian depan hingga ke belakang. Kuncup pengecap ini berada di papilla lidah. Kuncup pengecap (taste buds) terdiri atas sel-sel penyokong dan sel-sel pengecap sebagai reseptor. Setiap sel pengecap memiliki tonjolan-tonjolan seperti rambut yang menonjol keluar taste bud melalui taste pore (lubang). Dengan demikian zat-zat kimia yang terlarut dalam cairan ludah akan mengadakan kontak dan merangsang sel-sel kemudian timbullah impuls yang akan menjalar ke saraf no. VII dan saraf no. IX otak untuk diteruskan ke thalamus dan berakhir di daerah pengecap primer di lobus parietalis untuk kemudian

diintrepretasikan, sebagai hasilnya kita dapat mengecap makanan yang masuk ke dalam mulut kita. Tingkat kesensitivan lidah seseorang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mengecap atau merasakan suatu rasa. Kemampuan seseorang dalam mengecap tergantung pada keadaan dari seseorang tersebut. Biasanya pada orang yang sakit, mengalami gangguan dalam daya tanggapnya dalam menerima rangsangan. Sehingga mengakibatkan kemampuan pengecapannya berkurang. Selain itu, sensasi rasa juga dipengaruhi oleh air liur (saliva). Hal ini disebabkan karena saliva akan melarutkan dan mengkatalis zat yang masuk ke dalam mulut. Kuncup kecap hanya akan dapat terstimulasi bila zat tersebut telah dikatalis oleh saliva (chemoreseptor), sehingga apabila konsentrasi saliva terlalu rendah maka dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengkatalis zat-zat tersebut, dan semakin lambat pula respon rasa tersebut (Jalmo, 2007). Selain itu, faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat kemampuan mengecap adalah suhu dan usia. Suhu kurang dari 20 atau lebih dari 30 akan mempengaruhi sensitifitas kuncup rasa (taste bud). Suhu yang terlalu panas akan merusak sel-sel pada kuncup rasa sehingga sensitifitas berkurang, namun keadaan ini cenderung berlangsung cepat karena sel yang rusak akan cepat diperbaiki dalam beberapa hari. Suhu yang terlalu dingin akan membius kuncup lidah sehingga sensifitas berkurang (Jalmo, 2007). Usia mempengaruhi sensitifitas reseptor perasa. Pada orang yang berusia lanjut terdapat penurunan sensitifitas dalam merasakan rasa asin. Hal ini disebabkan pada orang berusia lanjut karena berkurangnya jumlah papilla sirkumvalata seiring dengan

bertambahnya usia dan penurunan fungsi transmisi kuncup rasa pada lidah sehingga mengurangi sensasi rasa (Jalmo,2007).

KESIMPULAN 1. Tempat pengukuran tendon dapat dilakukan pada tendon biseps, triseps, patella, dan achilles. 2. Cara mengukur refleks tendon adalah dengan memukul tendon biseps, trisep,patella, dan achilles dengan menggunakan palu refleks. 3. Kekuatan respon refleks pada OP beragam. 4. Beragamnya respon refleks dapat dikarenakan ketidaktepatan posisi pemukulan, perbedaan kekuatan rangsang yang diberikan, keadaan OP yang sadar, dan kepekaan tendon pada semua OP juga mempengaruhi hasil yang didapat. 5. Lidah merupakan organ panca indera yang terdiri atas otot dengan adanya reseptor pengecap sebagai taste bud untuk menerima impuls kimia pada makanan yang kemudian akan diteruskan ke system saraf pusat untuk diterjemahkan. 6. Lidah berfungsi untuk merasakan rasa makanan yang ada di dalam mulut atau dengan kata lain dapat dikatakan lidah sebagai alat pengecapan (indrea pengecap). 7. Reseptor pengecap berupa tunas pengecap (taste buds) yang tersebar di dalam mukosa epigloti, palatum dan faring, serta dalam dinding papilla fungiformis dan papilla (circum) valate lidah. 8. Reseptor pengecap yang berupa taste buds tersebut berada di papilla-papilla lidah dan berfungsi untuk membedakan rasa makanan (pengecapan). 9. Manusia memiliki 4 macam modalitas cita rasa dasar yang spesifik, yaitu: manis pada ujung lidah, asin pada dorsal depan, asam pada sepanjang pinggir lidah, dan pahit pada pangkal lidah. Hal ini karena akibat dari taste bud (kuncup pengecap) yang berbeda-beda. 10. Setiap orang memiliki lokasi reseptor yang berbeda-beda. Secara umum kuncup kecap ditemukan pada seluruh permukaan lidah tetapi untuk rasa manis didominasi di daerah ujung lidah, rasa asin di tepi depan lidah/ dorsal depan, rasa asam di sepanjang pinggir dan untuk rasa pahit di bagian belakang/ pangkal lidah.

11. Tingkat sensitivitas lidah seseorang mempengaruhi kemampuannya mengecap suatu rasa. Sensitivitas itu dapat disebabkan struktur dari lidah itu sendiri yang rusak atau tidak bagus akibat dari pola makan seseorang, faktor individual (sakit), saliva (air liur), suhu, usia, nilai ambang, dan konsentrasi.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A., J.B. Reece, & Mitchell. 2004. Biologi Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga. Effendi,Mulyati E MS.,Ir: 2010. Penuntun Praktikum Anatomi Fisiologi Manusia. Bogor. Laboratorium farmasi. Ganong, William F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta : EGC Guyton dan Hall.2006.Text Book of Medical Phisiology.Jakarta : EGC Guyton, Athur C. 1996. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit (Human Physiology and Mechanisms of Disease).Jakarta : EGC Guyton, Athur C. 2008. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit (Human Physiology and Mechanisms of Disease).Jakarta : EGC Idel, Antoni.2000. Biologi Dalam Kehidupan Sehari-hari. Jakarta : Gitamedia Press Jalmo, Tri. 2007. Buku Ajar Fisiologi Hewan. Bandar Lampung: Unila Manley, Karen J., Haryono, Rivkeh Y., Keast, Russel S. J. 2012. Taste Changes and Saliva Composition In Chronic Kidney Disease. Renal Society of Australasia Journal, 8(2), 56-60. Mescher, Anthony L. 2009. Histologi Dasar Junqueira Teks & Atlas. Alih Bahasa: Frans Dany. Jakarta: EGC. Murtiati, Tri. dkk. 2012. Penuntun Praktikum Anatomi Fisiologi Manusia. Jakarta: UNJ. Pearce, Evelyn. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT. Gtamedia Pustaka Utama Sherwood, L. 2008. Human Physiology : From Cells to Systems. Seventh Edition. USA : Graphic World Inc. Sherwood,Lauralee.2006.Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem.Jakarta: EGC Syaifuddin. 2009. Anatomi Tubuh Manusia Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 3. Jakarta : Salemba Medika.