Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG Zat kima dapat memnyebabkan kerusakan pada manusia dan makhluk hidup lainnya melalui berbagai macam cara. Akan tetapi, sebelum dapat dikatakan sebagai zat yang membahayakan, zat kimia harus memiliki setidaknya satu jalur pemaparan dahulu. Jalur pemaparan adalah jalur masuknya zat kimia kedalam tubuh. Jika kita tidak mengadakan kontak dengan suatu zat, baik zat yang tidak berbahaya maupun zat yang sangat berbahaya maka zat itu tidak akan membahayakan bagi tubuh kita. Jalur pemaparan ada berbagai jenis dan tipe pemaparan itu sendiri dapat mempengaruhi tingkat toksisitas zat kimia. Terdapat beberapa jalur pokok pemaparan atau alur kontak ksenobiotik pada manusia, yaitu melalui kulit, absorbs melalui penghisapan, absorbs melalui saluran pencernaan, melalui multimedia, dan melalui campuran ksenobiotik. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana alur kontak ksenobiotik melalui kulit? 2. Bagaimana alur kontak ksenobiotik melalui Pernapasan? 3. Bagaimana alur kontak ksenobiotik melalui Pengisapan? 4. Bagaimana alur kontak ksenobiotik melalui Multimedia? 5. Bagaimana kontak ksenobiotik melalui campuran ksenobiotik? TUJUAN 1. Mengetahui alur kontak ksenobiotik melalui kulit 2. Mengetahui alur kontak ksenobiotik melalui Pernapasan 3. Mengetahui alur kontak ksenobiotik melalui Pengisapan 4. Mengetahui alur kontak ksenobiotik melalui Multimedia 5. Mengetahui alur kontak ksenobiotik melalui campuran ksenobiotik

1.2

1.3

BAB II PEMBAHASAN

2.1

ALUR KONTAK KSENOBIOTIK PADA MANUSIA Zat kimia dapat memasuki tubuh dengan beberapa cara yang berbeda. Perbedaan alur kontak akan mengakibatkan efek yang berbeda. Jika pemaparan hanya terbatas di area kontak, efeknya disebut efek lokal. Akan tetapi jika zat yang diabsorpsi masuk ke dalam sirkulasi darah,maka zat itu akan dibawa ke berbagai organ di seluruh tubuh sehingga menyebabkan efek yang sistemik. Suatu zat kimia dapat dikatakan berbahaya jika dia memiliki setidaknya jalur pemaparan. Jalur pemaparan adalah jalur masuknya zat kimia ke dalam tubuh. jalur pemaparan sendiri ada berbagai jenis dan tipe pemaparan itu sendiri akan mempengaruhi toksisitas zat kimia. Ada tiga jalur pemaparan yang pokok, yaitu: penetrasi melalui kulit (absorpsi dermal), absorpsi melalui paru-paru (inhalasi), dan absorpsi melalui pencernaan (ingesti). Selain ketiga jalur pokok pemaparan tersebut, terdapat juga jalur multimedia dan jalur campuran ksenobiotik.

2.1.1 KONTAK MELALUI KULIT (DERMAL) Kulit merupakan jalur pemaparan yang paling umum dari suatu zat, tetapi kelbihannya kulit merupakan barier yang efektif terhadap berbagai jenis zat kimia. Jika zat kimia tidak dapat menembus kulit, toksisitasnya akan bergantung pada derajat absorbs yang berlangsung. Semakin besar absorbsinya maka semakin besar kemungkinan zat tersebut untuk mengeluarkan efek toksiknya. Zat kimia lebih banyak diabsorbsi melalui kulit yang rusak atau tergores daripada melalui kulit yang utuh. Ketika menembus kulit, zat tersebut akan memasuki aliran darah dan terbawa keseluruh bagian tubuh. Kemampuan suatu zat untuk menembus kulit bergantung pada dapat larut atau tidaknya zat tersebut dalam lemak. Zat kimia

yang dapat larut dalam lemak, kemungkinannya untuk menembus kulit lebih besar daripada zat yang dapat larut dalam air. Iritasi kulit dan alergi merupakan kondisi yang lazim ditemui akibat paparan terhadap kulit yang terjadi ditempat kerja dalam industry kimia. Sorotan utama ditunjukkan pada masalah pemaparan kulit pekerja tehadap pestisida selama penyancampuran maupun penggunaan bahan tersebut. Beberapa

campuran/formulasi pestisida dapat menjadi sangat berbahaya jika formulanya toksik dan mengandung solven yang larut lemak, seperti minyak tanah, xilen, dan produk petroleum lainnya yang dapat mempermudah pestisida menembus kulit. Tabel 1. Beberapa efek umum pestisida pada kulit Pestisida Paraquad, captafol, 4.2-D, manzoceb Benomyl, DDT, linden, zineb, malathion Heksaklorobenzen, benomyl, zineb Pestisida organoklorin Heksaklorobenzen Efek Dermatitis kontak Sensitisasi kulit, reaksi alergi, ruam kulit Reaksi fotoalergi chloracne Jaringan parut yang dalam, rambut rontok, atrofi kulit

Iritasi adalah suatu kondisi pada kulit yang muncul akibat kontak berkepanjangan dengan zat kimia tertentu. Setelah beberapa waktu, kulit akan mongering, terasa nyeri, mengalami pendarahan, dan pecah-pecah. Kondisi ini diakibatkan oleh solven, asam, alkali (basa), deterjen, dan coolant. Begitu kontak dengan zat kimia yang menyebabkan kondisi tersebut dihentikan, kulit akan pulih seperti sedia kala. Umumnya, proses penyembuhan akan memakan waktu sampai beberapa bulan. Selama waktu pemulihan itu, kulit menjadi lebih rentan terhadap kerusakan daripada yang biasanya sehingga harus dilindungi. Dermatitis kontak alergik merupaan satu tipe tunda penyakit kulit akibat sensitivitas yang tinggi terhadap suatu zat kimia. Zat kimia dalam kadar yang rendah yang biasanya tidak menyebabkan iritasi kulit, akan menimbulkan kerusakan pada kulit akibat menigkatnya sensitivitas. Gejalanya antara lain, ruam kulit, bengkak, gatal-gatal, dan meluh. Gejala tersebut baiasanya akan lenyap

begitu kontak dengan zat kimia penyebab dihentikan, tetapi akan mucul lagi jika kulit kembali terpapar. Dermatitis alergik terjadi akibat kontak berulang dengan substansi seperti kromium (terkadang dalam semen, kulit), kobalt (dalam deterjen), dan nikel (benda seperti anting, kunci, koin). Karet dan beberapa jenis plastic serta zat adhesive juga dapat menimbulkan efek tersebut. Kontak zat kimia dengan mata dapat menyebabkan kerusakan kulit mulai dari tipe ketidaknyamanan dan sementara sampai kerusakan permanen. Contoh substansi penyebab kerusakan pada mata antara lain asam, alakali, san solven. Walaupun iritasi kulit umumnya terjadi setelah pemaparan dermal terhadap suatu zat kimia, efek yang paling dikhawatirkan adalah efek sistemik. Setelah terabsorbsi melalui kulit dan memasuki sirkulasi sistemik, zat kimia dapat menjalar kemana saja didalam tubuh dan merusak organ serta system tubuh.

2.1.2 KONTAK MELALUI PENGHISAPAN (INHALASI) Paru-paru merupakan sumber pemaparan yang umum, tetapi tidak seperti kulit, jaringan paru bukan merupakan barier yang sangat protektif terhadap paparan zat kimia. Fungsi utama paru adalah pertukan antara oksigen dari udara kedalam darah dengan karbon dioksida dari darah keudara. Akibatnya, jaringan paru yang sangat tipis memungkinkan aliran langsung bukan saja oksigen tetapi berbagai jenis zat kimia lain kedalam darah. Selain kerusakan sistemik, zat kimia yang berhasil melewati permukaan paru juga dapat mencederai jaringan paru dan mengganggu fungsi vitalnya sebagai pemasok oksigen. Jika tidak dapat terbawa dalam udara, suatu zat kimia tidak dapat memasuki paru sehingga tidak menjadi toksik karena jalur inhalasi. Zat kimia dapat menjadi bawaan udara melalui dua cara, baik sebagai partikel yang sangat halus berupa debu maupun sebagai gas atau uap. Sebaian besar polutan yang umum dijumpai (sulfur oksida, nitrogen oksida, karbon monoksida) dapat langsung memengaruhi system pernapasan (paru) dan system kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). Penurunan fungsi paru dan peningkatan jumlah kematian yang terjadi telah dihubungkan dengan kadar sulfur dioksida dan SPM

yang meningkat. Nitrogen dan ozon juga dapat mempengruhi system pernapasan, pemaparan akut dapat mengakibatkan peradangan dan penurunan fungsi paru. Karbon monoksida berikatan dengan hemoglobin (tekandung dalam sel darah merah yang mengangkut oksigen keseluruh bagian tubuh) dan mampu menggantikan tempat oksigen didalam darah, yang kemudian menimbulkan kerusakan pada jantung dan system saraf. Timbal dapat menghambat sintesis hemoglobin dalam sel darah merah, merusak fungsi hati dan ginjal, serta menyembabkan kerusakan saraf. Efek paparan polutan udara terhadap kesehatan manusia sangat beragam bergantung pada jumlah dan lama pemaparan, juga pada status kesehatan orang yang terpapar. Beberapa orang memiliki rasiko yang sangat besar terhadap kerusakan akibat pemaparan inhalasi. Contoh, anak-anak dan lansi, mereka yang mengidap penyakit pernapasan dan penyakit jantung paru, serta mereka yang aktif berolahraga merupakan kelompok yang beresiko tinggi. Lepasnya polutan kedalam udara inddor (dalam ruangan) dari pembakaran bahan bakar fosil atau dari pembakaran kayu juga dapat menimbulkan resiko kesehatan yang serius, terutama akibat menghirup asap. Bahan bakar fosil yang mencakup batu bara dan produk minyak dapat mengakibatkan pemaparan yang sangat tinggi terhadap polutan bawaan udara seperti sulfur dioksida, oksida dari nitrogen, dan karbon monoksida. Bahan bakar biomassa mencakup kayu bakar, serbuk kayu, material dalam sayuran misalnya rumput, daun dan limbah pertanian. Hampir seperuh populasi didunia bergantung pada bahan bakar biomassa untuk memenuhi kebutuhan energy harian. Bahan bakar tersebut digunakan untuk bahan bakar api biasa, bahan bakar tungku tanah liat, atau bahan bakar kompor logam. Kombinasi dari api biasa atau kompor yang tidak memadai dan tidak adanya ventilasi yang buruk menyebabkan pemaparan yang substansial melalui penghirupan polutan udara indoor yang dapat menimbulkan efek buruk abgi kesehatan manusia. Efek buruk utama pada kesehatan manusia adalah pada pernapasan, tetapi dalam rumah yang ventilasinya buruk apalagi jika penghuninya menggunakan bahan abakar

biomassa seperti batubara untuk menghangatkan ruangan, bahaya serius yang dihadapi adalah keracunan karbon monoksida. Pada industry, inhalasi zat kimia dalam bentuk gas, uap, atau partikel dan absorbsinya melalui paru-paru merupakan jalur pemaparan yang paling penting. Berbagai jenis zat kimia, dapat terbawa dalam udara ditempat kerja. Resiko kesehatan akibat pemaparan okupasional terdapat kontaminan bawaan udara seingkali lebih tinggi ditempat kerja yang kecil karena biasanya tidak dilengkapi dengan system pengaturan yang berstandar. Untuk mengurangi resiko terhadap pemaparan inhalasi, penting untuk memiliki ventilasi yang sangat baik dan memakai respirator dengan tipe filter yang tepat.

2.1.3 KONTAK MELALUI PENCERNAAN (INGESTI) Ingesti merupakan jalur utama masuknya senyawa yang terkandung dalam makanan dan minuman. Zat kimia yang ditelan masuk kedalam tubuh melalui absorbs disaluran gastroitenstinal. Jika diabsorbsi, zat kimai itu tidak dapat menimbulkan kerusakan sistemik. Absorbs zat kimia dapat berlangsung sepanjang saluran pencernaan, dari mulut sampai ke rectum, tetapi lokasi utama absorbs adalah usus halus karena fungsi fisiologisnya didalam mengsbsorbsi zat gizi. 1. Makanan Ingesti makanan yang terkontaminasi zat kimia berbahaya berkadar tinggi memang dapat menimbulkan kerusakan yang serius pada kesehatan manusia. Senyawa organomerkuri terbukti merupakan penyebab dari beberapa epidermi keracunan skala besar yang terjadi dimasyarakat baik karena mengkonsumsi ikan yang tercemar atau karena memakan roti yang dibuat dari biji gandum yang sebelumnya disemprot dengan fungisida alkilmerkuri. Metilmerkuri, bentuk merkuri yang paling beracun terbukti dapat menyebabkan efek yang serius pada system saraf, yang pada beberapa kasus parah, tidak bias diperbaharui.

2. Air Ribuan zat kimia organic berhasil diidentifikasi dalam air minum diseluruh dunia, banyak diantaranya ditemukan dalam konsentrasi yang sangat rendah. Ada beberapa unsure kimia pokok dalam air yang dapat menimbulkan masalah kesehatan akut kecuali terjadi pencemaran besar-besaran yang tidak disengaja pada air. Selain itu, pengalaman menunjukkan bahwa, dalam peristiwa semacam itu air biasanya tidak dapat diminum karena rasa, baud an tampilannya tidak dapat diterima. Pemaparan jangka panjang terhadap arsenic dalam air meinum di Taiwan mengakibatkan munculnya 370 kasus penyakit Blackfoot dan 428 kasus kanker kulit. Penyakit blackfoot merupakan istilah setempat untuk menyebut gangguan pembuluh darah yang muncul dalam bentuk gangren pada ekstremitas (anggota gerak), terutama dikaki. Kontaminasi arsenic dari air tanah, sumber utama air minum, telah telah terdeteksi di eanam distrik bagian barat Bengal, India dan di beberapa desa di Banglades yang berbatasan dengan India. Hasil pengukuran yang dialakukan di kedua Negara tersebut menunjukka bahwa kadar arsenic dalam air tanah ayng bias mencapai 70 kali lipat kadar standar nasional yang dianjurkan untuk air minum (0,005mg/liter). Intoksikasi akut akibat konsumsi air sumur yang mengandung a=nitrat berkadar tinggi juga telah dilaporkan. Efek toksik nitrat pada manusia bergantung pada konversi nitrat menjadi senyawa nitrit toksik. Konversi tersebut lebih sering terjadi pada bayi usia kurang dari 3 bulan. Untuk alasan itulah, bayi dimasukkan delam kategori kelompok resiko tinggi khusus. Efek biologis utama nitrat pada manusia adalah keterlibatannya dalam konversi hemoglobin darah normal yang membawa oksigen dalam darah menjadi methemoglobin, yang tidak dapat membawa oksigen darah ke jaringan maupun organ.

2.1.4 KONTAK MELALUI MULTIMEDIA Dalam praktik sebenarnya, pemaparan terhadap zat kimia jarang sekali terjadi semata-mata melalui jalur dermal, penghisapan (inhalasi), pencernaan (ingesti). Contohnya, pemaparan terhadap timbale dapat berasal dari makanan, minuman, udara, dan lingkungan rumah tinggal. Ada beberapa zat kimia yang kadar toksiknya sebanding diantara ketiga jalur pemeparan tersebut. Pestisida organofosfat parathion misalnya. Zat tersebut mudah diserap melalui kulit, paru, atau saluran pencernaan sehingga kadar toksik diantara ketiga jalur pemaparan tersebut menjadi sebanding. Sebagian besar zat kimia, dasar toksiknya tidak sebanding diantara ketiga jalur tersebut. Vitamin D, jika diberikn dalam dosis yang cukup tinggi, menjadi sangat toksik jika pemeriannya dilakukan secara oral, tetapi tidak akan menadi toksik jika pemberiannya melalui kulit. Ada dua alas an mengapa toksisitas menjadi beragammenurut jalur pemaparannya, yaitu : Bergantung pada kadar zat kimia yang diabsorbsi kedalam tubuh Bergantung pada jalur yang akan diambil ketika zat kimia memasuki sirkulasi. Jalur pemaparan yang paling toksik adalah jalur yang memungkinkan terjadinya absorbs zat dalam kadar yang paling besar. Jalur inhalasi merupakan jalur absorbs yang paling besar, diikuti dengan absorbs ingesti dan dermal. Alur yang akan diambil suatu zat kimai ketika memasuki sirkulasi darah sangat penting untuk menentukan toksisitas zat kimia tersebut. Zat kimia yang diabsorbsi melalui kulit atau paru akan langsung diabawa kesemua organ lain dalam tubuh sebelum menuju kehati. Akan tetapi, sebagian besar zat kimia yang diabsorbsi melalui saluran pencernaan akan melewati hati sebelum dibawa kebagian tubuh lain. Pengetahuan mengenai hal tersebut sangat penting karena hati merupakan organ utama yang dapat mendetoksifikasi zat kimai melalui suatu proses yang disebut biotransformasi. Zat kimia dapat diolah dihati, yang biasanya akan mengubahnya menjadi kurang toksik. Namun, terkadang hati justru

mengubah suatu zat kimia menjadi senyawa yang bahkan lebih toksik. Dengan demikian, jika kita menganggap kadar absorbs diantara ketiga jalur pemaparan tersebut adalah sebanding, maka zat kimia yang sudah didetoksifikasi hati akan menjadi kurang toksik jika jalur masuknya kedalam tubuh melalui ingesti, daripada melalui pemaparan inhalasi maupun dermal.

2.1.5 KONTAK MELALUI CAMPURAN KSENOBIOTIK Jika manusia terpapar dua zat kimai atau lebih, zat tersebut mungkin akan saling berinteraksi sehingga mengubah toksisitasnya. Interaksi zat kimia dapat terajadi dengan berbagai cara seperti mengubah absorbs, biotransformasi atau ekskresi salah satu atau kedua toksikan yang salling berinteraksi zat kimia. Dua zat kimia atau lebih yang diberikan secara bersamaan akan menghasilkan satu respons yang bersifat independen, aditif, sinergis, atau antagonis. 1. Independen, jika zat kimia menimbulkan efek yang berbedea atau menimbulkan bentuk aksi yang berbeda, zat tersebut tidak akan saling mempengaruhi. 2. Aditif, jika efek gabungan yang ditimbulka oleh dua zat kimia atau lebih sebanding dengan jumlah efek yang diberikan masing-masing agen. Contoh, efek pestisida organofosfat biasanya bersifat aditif. Secara numeric, sifat ini dapat diwakili dengan penjumlahan berikut : 3+3=6. 3. Sinergis, jika zat kimia bekerja secara sinergis, efek toksik yang dihasilkan lebih besar dari pada efek total yang diberikan zat kimia itu sendiri. Efeknya lebih dari sekedar aditif. Contoh, serat asbestos dan kebiasaan merokok jika digabungkan akan memperbesar resiko terkena kanker paru sampai 40 kali lipatnya, melebihi resiko terhadap paparan tungga masing-masing agen. Ilustrasinya adalah : 3x3=9. 4. Antagonis, kebalikan sinergis. Efek antagonis muncul akibat penetralan zat kimia terhadap efek buruk yang dimiliki zat lain. Dengan kata lain paparan terhadap dua zat kimia atau lebih efek yang ditimbulkan tidak sekuat efek terhadap paparan masing-masing zat. Efeknya lebih lemah dari aditif. Contoh,

3-2=1. Efek antagonis seringkali sangat diharapkan didalam toksikologi dan menjadi dasar pembentukan berbagai natidot. Contoh, demorkapol berikatan dengan unsur-unsur seperti arsenic, merkuri, dan timbale, dan efek toksiknya akan lebih lemah daripada yang diperkirakan.

Salah satu mekanisme yang dapat ditimbulkan efek sinergis atau antagonis pada zat kimia adalah jika salah satu zat mengganggu biotransformasi zat kimia lain. Jika biotransformasi mengubah suatu zat kimia lain menjadi suatu bentuk yang lebih toksik, inhibisi zat kimia lain terhadap proses tersebut akan mencegah konservesi dan efek toksiknya menjadi lebih lemah daripada yang diperkirakan (antagonisme). Sebaliknya, jika biotransformasi menghasilkan senyawa yang kadar toksiknya lebih rendah, inhibisi zat kimia lain terhadap proses tersebut akan mencegah detoksifikasi dan menimbulkan efek toksik yang lebih kuat daripada biasanya (sinergisme). Hanya ada sedikit informasi yang dapat membantu kita mempradiksi efek yang mungkin muncul akibat interaksi antar zat kimia berbahaya. Bidang lain yang informasinya juga kurang memadai adala tentang efek yang mungkin terjadi akibat pemaparan berkepanjangan terhadap kadar rendah campuran zat kimia dan efek tekanan ganda yang mencakup faktor kimia dan faktor fisik seperti panas kebisingan serta penyakit atau kondisi yang sudah diderita seperti malnutrisi.