Anda di halaman 1dari 23

KELOMPOK 6

030.06.159 030.06.160 030.06.162 030.06.167 030.07.151 030.08.088 030.08.089 030.08.102

Maya Dwi Utami Maydina Putri Anggita Medissa Mgs Puji Wahid Farhan M Maratu Solihah Donna Novita A Edward Wijaya L I Ferdy

030.08.103 030.08.104 030.08.105 030.08.106 030.08.107 030.08.211 030.08.290 030.08.301

Fifi Tandion Fitri Anugrah Fitrisia Rahma Friska Monita Gabriel K.W Riski Dianti F Noor Ain Bt M Nurul Wahida

Diare

masih merupakan salah satu penyebab utama morbilitas dan mortalitas anak di negara yang sedang berkembang. Dalam berbagai hasil Survei kesehatan Rumah Tangga diare menempati kisaran urutan ke-2 dan ke-3 berbagai penyebab kematian bayi di Indonesia(1). Sebagian besar diare akut disebabkan oleh infeksi. Banyak dampak yang terjadi karena infeksi seluran cerna antara lain pengeluaran toksin yang dapat menimbulkan gangguan sekresi dan reabsorpsi cairan dan elektrolit(2) .

Seorang

anak lelaki berusia 10 bulan dibawa ke puskesmas karena diare yang sudah berlangsung selama 2 hari. Diare terjadi setiap hari kira-kira 6-8 kali/hari dengan tinja cair berlendir tanpa darah dan setiap diare sebanyak gelas. Sehari sebelum dibawa ke rumah sakit penderita disertai muntah 3 kali banyak. Di samping diare anak juga batuk pilek disertai demam.

Pada

anamnesis selanjutnya bayi kelihatan haus yang bila disusukan bayi kelihatan lebih tenang. Penderita hanya dirawat selama beberapa jam di ruangan observasi (one day care center) dan tidak dirawat inap dan pulang dengan diberi terapi dari puskesmas. Dua hari kemudian dibawa lagi ke rumah sakit karena masih diare, kejang, dan tidak mau minum.

Sejak

satu hari terakhir buang air kecil sangat kurang Sangat gelisah BB=12kg Terlihat lemah Suhu tubuh 39C RR=56X/Menit Denyut jantung 152x/menit

Fontanel

mayor dan mata terlihat cekung Konjungtiva terlihat kering Abdomen terlihat kembung Bising usus sulit didengar

Pemeriksaan

tinja tidak ditemukan eritrosit

dan leukosit
Tes

reduksi tinja (clinitest): positif kuat darah: Na+ 152 mEq/L K+ 2,5 mEq/L

Elektrolit Analisa HCO3 :

gas darah : pH : 7,22 BE= -15 mEq/L

9 mEq/L

Intraseluler

Ekstraseluler

BBLR

30 %

50 %

Neonatus

35 %

35-40 %

Anak-anak

35 %

30 %

Dewasa

40-45 %

20-25 %

Kelebihan asam akan dibuang oleh ginjal, sebagian besar dalam bentuk amonia Ginjal memiliki kemampuan untuk merubah jumlah asam atau basa yang dibuang Tubuh menggunakan penyangga pH (buffer) dalam darah sebagai pelindung terhadap perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam pH darah. Pembuangan karbondioksida. Karbondioksida adalah hasil tambahan penting dari metabolisme oksigen dan terus menerus yang dihasilkan oleh sel.

Pada

waktu bayi berada di dalam kandungan, ususnya steril. Tapi setelah lahir hari pertama dan kedua, kuman masuk ke dalam ususnya. Bagi ibu yang memberikan ASI eksklusif, maka kuman yang baik tumbuh, sedangkan kuman negatif berkurang, karena ASI eksklusif mengandung prebiotik. Kuman negatif yang hidup yaitu bakteri E.coli dan kolera.

Tapi

bila bayi tidak memperoleh ASI, dan mendapatkan kelebihan antibiotika, maka kuman negatif lah yang dominan di dalam ususnya. Untuk mencegah kuman masuk ke dalam usus, maka diperlukan asam lambung, enzim untuk melakukan proses pencernaan. Usus bayi yang minum ASI eksklusif, didominasi oleh kuman Bifidobacterium (kuman baik. Dengan dominasi kuman itu, maka pertumbuhan kuman lain akan ditekan sehingga infeksi dapat dicegah.

1. Faktor infeksi a. Infeksi enteral infeksi pada GIT (penyebab utama) Bakteri : Vibrio cholerae, Salmonella spp, Entero Toxcin Escherichia Coli (ETEC),dll Virus : Rotavirus (40-60%), Coronavirus, Calcivirus, dll Parasit : Cacing (Ascaris, Oxyuris,dll), Protozoa (Entamoba histolica, Giardia lambia, dll), Jamur (Candida Albicans)
b. Infeksi parenteralinfeksi di luar GIT(OMA, Ensefalitis,dll) 2. Faktor malabsorbsi : Karbohidrat, lemak, protein 3. Faktor makanan : basi/ beracun, alergi 4. Faktor psikologis : takut dan cemas

VIRUS masuk enterosit (sel epitel usus halus)

infeksi & kerusakan fili usus halus Enterosit rusak diganti oleh enterosit baru (kuboid/ sel epitel gepeng yg blm matang) fungsi blm baik Fili usus atropi tdk dpt mengabsorbsi makanan & cairan dgn baik Tek Koloid Osmotik motilitas DIARE

BAKTERI NON INFASIF


masuk lambung duodenum berkembang biak mengeluarkan enzim mucinase (mencairkan lap lendir) bakteri masuk ke membran mengeluarkan subunit A & B mengeluarkan (cAMP) meransang sekresi cairan usus, menghambat absobsi tampa menimbulkan kerusakan sel epitel tersebut volume usus dinding usus teregang DIARE

BAKTERI INFASIF
prinsip perjalanan hampir sama, tetapi bakteri ini

dapat menginvasi sel mukosa usus halus reaksi


sistemik (demam, kram perut) dan dapat sampai terdapat darah. Toksin Shigella masuk ke serabut saraf otak kejang

Berdasarkan patofisiologinya, antara lain: Diare osmotik : diare akibat adanya bahan yang tidak dapat diabsorbsi oleh lumen usus hiperosmoler hiperperistaltik. Diare sekretorik : terjadi akibat stimulasi primer dari enterotoksin atau oleh neoplasma. Diare akibat gangguan motilitas usus : gangguan pada kontrol otonomik.

Yang Dinilai Keadaan umum

Skor 1 Baik

Skor 2 Lesu/haus

Skor 3 Gelisah, lemas, mengantuk hingga syok


Sangat Cekung Sangat Kering > 40 x/menit Jelek > 140 x/menit

Mata Mulut Pernapasan Turgor Nadi

Biasa Biasa < 30 x/menit Baik < 120 x/menit

Cekung Kering 30-40 x/menit Kurang 120-140x/menit

Pemeriksaan

Tinja

Makroskopis dan mikroskopis Ph dan kadar gula dalam tinja Kultur dan uji resistensi

Pemeriksaan

keseimbangan asam basa

AGD EKG Menilai deplesi elektrolit (biasanya kalium) Pemeriksaan keseimbangan cairan dan elektrolit Hb-Ht, Na, K, Ca dan F

1. EPEC ( Entero Pathogenic E.Coli ) -> menyebabkan diare berair disertai muntah dan panas pada bayi dan anak < 2 tahun. Diare biasanya terbatas, tetapi dapat berat (fatal) atau menetap terutama pada penderita yang tidak minum ASI
2. Rotavirus -> penyebab terbanyak diare akut terutama pada bayi dan anak usia 6-24 bulan. Diare bisa cair disertai muntah dan panas. Karena rotavirus menyebabkan kerusakan jonjot usus, sering kali disertai juga intoleransi laktosa namun tidak begitu berat. Jonjot usus akan kembali normal 23 minggu setelah sakit.

Pemberian

cairan intravena karena pasien yang datang kedua kali ini mengalami dehidrasi berat(3)
IV tidak berhasil maka akan dilakukan nasogastric tube. Setelah rehidrasi maka dilakukan IV kalium.

Jika

Individu

: Cuci tangan, air tangan, pemberian ASI eksklusif (minimal 6 bulan)


: Menjaga kebersihan, memberi makanan pendamping ASI, pembuangan tinja bayi aman, pemberian cairan, diet (makanan tambahan sesuai usia, penyajian makan), memberi vaksin rotavirus,shigella.

Masyarakat

1. Kandun N.I. Upaya pencegahan diare ditinjau dari aspek kesehatan masyarakat dalam kumpulan makalah Kongres nasional II BKGAI juli 2003 hal 29 2. Barkin RM Fluid and Electrolyte Problems. Problem Oriented Pediatric Diagnosis Little Brown and Company 1990;20 23. 3. Booth IW, CuttingWAM. Current Concept in The Management of Acute in Children Postgraad Doct Asia 1984 : Dec : 268 274 4. Sherwood L. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem. Edisi 2. EGC. 1996. Page 537-85. 5. Bhan MK.Current consepts in management of acute diarrhea Indian Pediatrics 2003:40:463-76 6. Dwipoerwantoro PG.Pengembangan rehidrasi perenteral pada tatalaksana diare akut dalam kumpulan makalah Kongres Nasional II BKGAI Juli 2003 7. Sutedjo A.Y. Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Yogyakarta: Amara Books ; 2007.