Anda di halaman 1dari 36

70 TIPS DARI 108 TIPS RENUNGAN MEDITASI

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi - Penulis Bapak Anatta, Bali, semoga
bermanfaat.

1. Meditasi Adalah Mengamati dan Menikmati “Kekinian” Anda

Perenungan merupakan salah satu bentuk meditasi yg paling dikenal. Saking


lumrahnya, boleh jadi kita tak menyadari, bila saat merenung sebetulnya kita
sedang bermeditasi secara alamiah. Merenung bukanlah melamun atau
mengkhayal. Disini ada satu objek perenungan yang jelas, yang tetap dipegang,
apakah itu bersifat sekala maupun niskala, bersifat lahiriah maupun batiniah.

Dengan mengamati suatu objek dengan cermat, seksama dan penuh perhatian,
kita memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam tentang objek tersebut.
Objek yang dianjurkannya dalam perenungan adalah objek dalam. Sayangnya,
kita umumnya tidak bisa serta merta melakukannya demikian. Dalam mengawali
latihan, penggunaan objek luar terasa jauh lebih mudah.

Memanfaatkan keluar-masuknya napas sebagai objek misalnya, disamping tidak


sepenuhnya di luar, juga memberi efek ganda berupa ketenangan dan
kesehatan.

2. Meditasi Adalah Hadir di Sini & Saat Ini

Dalam bermeditasi, Anda haruslah hadir sepenuhnya di sini. Anda tak kan
pernah bermeditasi kalau pikiran kelayapan ke sana ke mari atau membumbung
tinggi diterbangkan bagai angan-angan.

Bukanlah meditasi yang Anda lakukan itu bilamana hanya jasad Anda saja yang
hadir disini, sementara pikiran Anda tersita oleh kenangan atau ingatan di masa
lalu atau terbetot dan diseret oleh berbagai angan-angan atau kekhawatiran ke
masa depan.

Hadir secara fisik maupun mental, di sini dan saat ini. Itulah meditasi. Di sini, ia
juga bisa disebut dengan “mengembalikan diri Anda pada diri Anda sendiri”.

3. Meditasi Bukan Upaya Menjadikan Kita Sedemikian Terkondisi

Kita sudah lebih dari sekedar terkondisi. Kita telah terkondisi di tempat kerja,
dalam perjalanan berangkat dan pulang kantor atau sekolah, sesampai di
rumahpun masih dibebani oleh berbagai permasalahan . Agaknya kurang arif
bilamana kini kita malah menghadirkan beraneka pengkondisi lagi, yang tidak
benar-benar perlu dan bermanfaat bagi jiwa.

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 1


Umum beranggapan bahwa, meditasi mesti begini atau begitu. Ini malah terasa
serba menyulitkan, serba membebani, sejauh mereka samasekali di luar
kebiasaan kita. Sikap tubuh memang memperngaruhi kekhusukan dan
ketahanan, serta berkaitan erat dengan keterpusatan pikiran. Akan tetapi,
meditasi bukanlah sekedar “konsentrasi”. Ia merupakan aliran perhatian alamiah
yang menerus terhadap objek yang dimeditasikan, dalam jangka waktu tertentu
yang dibutuhkan.

Meditasi di sini justru merupakan “seni melepas-beban”, seni melepaskan beban


yang selama ini tersa menghimpit dan menekan, yang berupa berbagai
pengkondisian yang ada maupun yang kita adakan tanpa sengaja.

Akan tetapi, jangan salah, ia bukanlah sebentuk “pelarian” dari tanggung jawab.
Ia lebih berupa “peletakan sejenak” segala beban phsikis pada jarak tertentu,
sampai dengan Anda terpulihkan, dan “lebih bertenaga” untuk menanganinya
lagi. Semua ini tentu berlangsung dalam tataran mental.

04. Tak Mudah Terpengaruh

Kedalaman meditasi (insight-depth), menyebabkan meditator tak mudah


terpengaruhi oleh stimulus atau rangsangan luar, yang dibawa masuk saat
berlangsung berbagai kontak indriyawi. Kebiasaan reaktif selama ini,
ditransformasikan menjadi proaktif. Inilah yang mententramkan; inilah yang
bermanfaat langsung buat Anda.

Rangsangan luar mulanya memang bisa terasa sangat menganggu; akan tetapi
semakin ke dalam mereka semakin tak terasakan. Kemantapan fisik secara
langsung akan mempengaruhi ketahanan psikhis atau ketahanan mental. Inilah
nantinya akan terpancar kembali berupa ketahanan fisik.

05. Mengenali Diri Anda Secara Lebih Baik

Adakah sesuatu yang lebih aneh di dunia ini dibandingkan dengan tidak
mengenali diri sendiri ? Mengenalinya bukan saja secara fisik tetapi juga secara
mental ? Anda bisa saja mengenal dan mengerti dengan baik berbagai hal;
namun apa artinya semua itu bila kita “asing terhadap diri sendiri”.

Sederhana saja; apapun yang kita amati dengan seksama, tentu akan kita kenali
dengan lebih baik. Bila yang kita amati itu adalah ‘diri’ kita, maka kitapun akan
mengenalinya jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Nah…dari perspektif ini, meditasi ini juga bisa disebut sebagai “meditasi
mengenal-diri”. Dengan lebih mengenalinya, kita jauh bisa lebih intim, lebih
kompromistis, dan pada akhirnya lebih harmonis dengannya. Bila ditelusuri akan
tampak bahwa “konflik-batin” disebabkan oleh “krisis pengenalan diri”. Dalam
batin yang harmonis, tak ada konflik.

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 2


06. Pengekangan Jasmani Bukanlah Meditasi

Bukanlah meditasi disini maksudnya tidak kondusif bagi kemajuan meditasi


Anda. Anda tak pernah merasa tenang, tenteram dan damai, bila salah satu kaki
Anda kesemutan. Jasmani yang dikekang, apalagi disiksa, akan mengadakan
perlawanan, sekuat pengekangan atau penyiksaan itu.

Walaupun rileksasi adalah pra-meditasi yang sangat bermanfaat, namun


meditasi bukanlah, untuk sekedar rileks. Badan kita bisa saja tampak rileks,
namun bila pikiran bergolak dan perasaan menggelora, apa gunanya? Jauh lebih
dalam lagi, meditasi menentramkan jiwa yang gundah gulana, yang diganggu
oleh berbagai agitasi dan agresi eksternal maupun internal.

07. Meditasi Punya Kemiripan Dengan Konsentrasi

Ketika bermeditasi, pikiran Anda terpusat pada satu objek – disarankan objek
dalam – jadi amat mirip dengan konsentrasi . Saking miripnya, bahkan ada satu
ensiklopedia yang mempersamakannya. Perbedaan mendasarnya adalah;
meditasi bersifat “diri sentris”. Keterpusatan ditujukan pada segala fenomena
yang terjadi di dalam, pada sang diri, baik yang bersifat lahir, kasat maupun yang
bersifat batiniah. Sedangkan konsentrasi, bisa mengambil objek amatan apa
saja.

Sebagai contoh adalah saat ini, ketika Anda membaca tulisan ini, Anda
memperhatikan apa yang tampak di atas kertas bukan? Huruf demi huruf, kata
demi kata dan seterusnya sambil menangkap makna tulisan ini. Yang ini
konsentrasi. Tetapi bila yang Anda amati dan perhatikan dengan seksama itu
adalah bagaimana mata Anda bekerja dalam membaca atau sikap duduk
maupun sikap badan Anda ketika membaca atau perasaan atau bentuk-bentuk
batin ketika membaca ini. Ini berarti Anda sedang membangun kondisi
meditative.

Jadi keterpusatan bukan pada objek luar, akan tetapi pada fenomena jasmani
maupun batin ketika mengamati objek luar itu; bukan untuk menilainya. Nah,
dengan demikian Anda senantiasa sadar terhadap setiap gerak gerik jasmani
dan mental Anda, dengan tanpa memberi penilaian terhadap fenomena mental
yang berlangsung, apalagi menghakiminya. Rasanya lebih mudah melakukannya
daripada menjelaskannya. Memang, karena meditasi adalah praktek langsung,
bukan teori.

08. Bukan Mengatur Gerak – Gerik Rohani Maupun Jasmani

Dalam mengamati, kita tak mengatur gerak-gerik tubuh maupun mental kita.
Hanya mengarahkan perhatian untuk memperhatikan dengan seksama semua

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 3


gerak yang berlangsung. Dalam fase-fase awalnya, boleh jadi Anda lamban
(mirip slow motion) di mata orang lain. Ini memang umum terjadi. Kenapa ?
Karena kita cenderung terjebak pada memikirkan gerak itu, bukannya
mengamati atau memperhatikannya saja.

Bagi yang sudah terlatih, tak perlu lamban, biasa saja; seperti kebiasaan lainnya.
Kita tak mengatur gerak jasmani atau mental, namun hanya memperhatikannya
saja. Bagi pemula, tentu tidak bisa langsung “meloncat” . Butuh waktu.

Masih pada fase awal, bila meditator ‘hampir’ melakukannya dengan pas, ia
akan bersikap acuh tak acuh ataupun tampak tak pedulian. Yang begini,
biasanya terjadi pada mereka yang cenderung ‘selfish’ ataupun yang sedikit
rendah diri. Tapi tidak kenapa, amati saja.

09. Mengutamakan Objektivitas dan Kejujuran

Kita mengamati, hanya itu; tanpa menilai apa yang diamati. Bila ada interupsi
berupa penilaian, ia tak lagi objektif. Kita terkadang merasa bosan, kesal, jengkel
dan lain sebagainya; amat jujur bukan ? Mengapa dan kepada siapa kita mesti
berbohong? Apa perlu berbohong bila kita melihat dengan mata atau mendengar
dengan telinga, misalnya ?

Ketika si pikiran terusik objektivitasnya, maka ia mulai berbohong. Tampaknya


saja ia bermeditasi, padahal sedang melamun. Bukankah itu tidak jujur ? Oleh
karenanyalah dikatakan bahwa meditasi mengutamakan objektivitas dan
kejujuran (satyam). Kejujuran luar bermula pada Kejujuran dalam.

10. Perhatikan dan Catat Saja Dalam Hati

Dalam mengamati dengan seksama kita sebenarnya hanya memperhatikan saja.


Tanpa penilaian, tanpa membubuhinya dengan prasangka-prasangka, praduga-
praduga, pretense, harapan, sugesti, dan sejenisnya. Bila mau, boleh dicatat
fenomena batin yang terjadi di dalam hati. Bila tak mau, tak apa-apa; bahkan
lebih baik begitu.

Bila telah fasih latihan kita, pemahaman-pun akan muncul dengan sendirinya.
Pemahaman yang bersifat lebih objektif dan apa adanya. Terbiasa begini, cepat
atau lambat, kita dapat memahami apa itu “apa adanya” dengan amat jelas. Apa
adanya, adalah ‘the truth’ itu. Sederhana bukan ? Cobalah!

11. Meditasi Punya Tahapan

Seperti juga jasmani, rohani pun punya tahap-tahap perkembangannya sendiri.


Demikian juga dengan meditasi kita. Secara garis besar ia dapat dikelompokkan

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 4


dalam tahap pemula, tahap antara dan tahap lanjut.

Di kalangan penekun, ada yang harus mengawalinya dari tahap pra-meditasi,


sejenis penyeragaman, pengenalan atau masa orientasi. Pra-meditasi,
mengarahkan kita pada persiapan fisik dan mental. Yang sudah siap tentu tak
perlu lagi. Seperti pada kegiatan lainnya, orientasi senantiasa kita perlukan.
Orientasi mengantarkan kita pada pengenalannya secara lebih baik. Disini, kita
juga dapat mengukur tingkat kesiapan kita untuk memulainya. Bila ada yang
perlu dipersiapkan, maka persiapkanlah dengan baik dulu. Jangan samapai kita
tersendat-sendat dalam perjalanan, karena kehabisan bensin, padahal sejak tadi
sudah melewati beberapa pompa bensin. Kan sayang…

Berikut adalah pendapat seorang penulis, dosen ilmu filsafat di beberapa


universitas Asia dan Eropa, yang juga berguru selama dua puluh lima tahun
pada Sakya Tirzin, pemimpin ordo Sakya dari Budhisme Tibet.
The gradual development of the ability to see things ‘as the really are’ through
the practice of meditation, has been linkened to the development of special
instrument by mean of which we can now see subatomic reality and the like. In
the same way, if we do not develop the potential of our minds through the
cultivation of right effort, right mindfulness, and right concentration, our
understanding of the real state of things will remain at best intellectual
knowledge. [Peter Della Santina; The Tree of Elightenment – 1997, p.63.]

Dari sini kita dapat menangkap salah-satu esensi dari upaya melalui jalan
meditasi ini. Untuk benar-benar dicatat adalah proses yang bertahap, dalam
tahapan tertentu yang jelas dan terarah. Merujuk pada buku-buku, atau kata-kata
bijak dan tuntunan dari mereka yang kita percayai, memang memberi
pengetahuan yang bermanfaat. Namun pengetahuan tersebut seringkali perlu
ditransformasikan lagi secara mandiri. Jangankan buku-buku bisa
mengembangkan batin Anda, seorang Guru pun hanyalah membuka gerbang
‘kesadaran’ Anda saja. Tak lebih dari itu. Di dalam spasio-temporal ini,
pentahapan pasti ada; tidak “sim salabim…….abrakadabra….jadi!. Tidak; tidak
demikian prosesnya.

12. Ia Juga Punya Pola & Ritme

Pola ini tergantung kita sendiri. Artinya walau memang ada pola bakunya,
adakalanya tetap disesuaikan dengan pola kita. Bila tidak, bagaimana kita akan
menerapkannya bagi diri sendiri? Heterogenitas mendikte pola kita masing-
masing. Secara alamiah, kita juga mempunyai ritme-biologis. Para olahragawan,
memulai dengan pemanasan dan seterusnya. Jadi tidak langsung khusuk; bila
bisa langsung khusus, tentu baik sekali. Namun umumnya tidak demikian.

Ritme, menjadikannya tidak monoton, ia juga menyebabkan tiap fase terasa


baru. Menarik memang. Meditasi memang amat menarik bila ditekuni. Kita

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 5


seakan menjadi hidup kembali; jauh lebih hidup dari sebelumnya; hidup dalam
“dunia meditative” yang mengagumkan.

13. Bukan saja Alamiah, Tapi Juga Ilmiah

Sangat alami, duduk santai sambil memperhatikan gerak nafas sendiri, misalnya,
amat alami, bukan? Tidak dibuat-buat, diatur atau dikontrol, harus begini atau
begitu. Sikap tubuhpun biasa-biasa saja; tak perlu jadi pemain acrobat. Bila kita
memang pemain akrobat, tidak apa-apa; just go on….

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk membuktikan dan menunjukkan ke-


ilmiah-annya. Objektifitas merupakan dasar dari dunia keilmuan. Disinilah kita
terjamin untuk tidak terperangkap dogmatism. Disini pula kita memberdayakan
nalar kita dengan lebih efektif. Secara tak langsung, pengembangan batin yang
terjadi dari meditasi, juga akan mengurangi dan mengikis pandangan yang
terkondisi oleh takhyul.

14. Ingat ! Meditasi Adalah Olah Batin, Bukan Olah Raga

Kesalahan dalam memandang Meditasi, justru berawal di sini. Memang meditasi


berdampak-samping positif terhadap kesehatan secara menyeluruh; akan tetapi,
itu bukanlah tujuan pokok dari ber-meditasi.

Olah-batin disebut juga praktek atau latihan spiritual atau sadhana. Akan tetapi,
kita bisa terperosok ke dalam upaya peraihan kanuragan, kesaktian atau
sejenisnya. Bukan itu arah yang kita tuju dalam bermeditasi. Iming-iming
kanuragan ataupun kesaktian memang menggiurkan bagi kebanyakan orang.
Sebagai akibatnya, banyak yang mandek hingga disini saja. Berhati-hatilah
terhadap yang satu ini!

15. Persiapkan Diri Sebelum Bermeditasi

Yang ini terkait dengan tips 10 sebelumnya. Persiapan senantiasa perlu. Apa
yang perlu kita persiapkan ? Diri sendiri; itu pasti. Pemahaman yang baik atas
bidang kerja, akan memberi kemudahan-kemudahan dalam mengerjakannya.
Kita bisa memperoleh pengertian tentang sesuatu melalui bertanya. Apakah itu
bertanya kepada pembimbing, buku-buku, mereka yang lebih berpengalaman
dan sebagainya.

Tips ini, juga pantas dipandang sebagai salah satu dari bahan baku untuk fase
persiapan ini. Kiranya amat jelas bagi kita tentang pentingnya persiapan ini.
Mengenai; tempat, pakaian, waktu dan lamanya, sambil jalan kita pun akan
memahami dan menemukan kesesuaiannya dengan diri sendiri. Prinsipnya

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 6


adalah, ‘yang sesuai dengan kondisi objektif kita, adalah yang terbaik bagi kita”.
Oleh karenanya, kenalilah ‘diri’ Anda.

16. Hobi Yang Paling Murah

Betapa tidak, Anda tak perlu menyewa tempat, alat, ongkos, membayar sewa,
atau membayar administrasi untuk memperoleh kartu keanggotaan atau
sejenisnya. Diri Andalah modal dasar Anda.

Oh ya…..awalnya mungkin Anda perlu menyediakan “waktu khusus” untuk


bermeditasi. Ini diperlukan demi pembiasaan dan pendisplinan-diri. Tetapi
setelah cukup lanjut, tidak lagi.

Anda akan memahami dengan baik bahwa ia dapat dilakukan setiap saat. Ada
yang mengatakan,
“Bila kamu sempat bernafas, maka kamu pasti sempat bermeditasi”.
Sederhana dan sangat murah.

17. Menguntungkan Bagi yang Bernaluri Bisnis

Bagi yang berjiwa bisnis, ini boleh juga digeluti untuk dijadikan komoditas
dagangan. Rekan saya ada yang berhasil dalam usaha seperti ini. Bayarannya ?
Dollar lagi; menggiurkan bukan ? oleh karenanyalah “bisnis” olah-batin tampak
semakin marak belakangan ini.

Nah….demikianlah manusia yang punya naluri bisnis tajam; apapun bisa dijual,
ia jual untuk dinikmati hasilnya bagi dirinya sendiri. Dan itu memang masih
(dianggap) sah-sah saja di mata publik. Kehausan manusia modern akan
spiritualitas, bagi para pebisnis, menghadirkan peluang bisnis yang tidak kalah
menggiurkannya dibandingkan bidang bisnis lain.

18. Dijadikan Komoditas Dagangan ?

Masak sekedar membimbing memperhatikan nafas saja diperdagangkan ?


Saya malah agak heran mengamati fenomena itu. Lebih heran lagi, semakin
mahal, apalagi bilamana diselenggarakan di hotel-hotel mewah, ia malah
semakin laris; kayak kacang goreng. Mungkin karena lebih bergengsi.

Yaaah….begitulah umumnya kita-kita ini. Suka terkagum-kagum hanya pada


kemasan luarnya saja. Apalagi bilamana produk itu dipromosikan dengan gencar
di media-massa. Dalam dunia bisnis, ini memang dapat dimaklumi sebagai
kewajaran. Sesuatu yang mudah, murah, apalagi gratisan, malah dicurigai
macam-macam dan diremehkan.

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 7


19. Kondisi Meditatif Bukanlah Anugerah

Demikianlah sebetulnya; kita yang mengusahakan anugerah itu. “Sim


salabim…..Anda Meditatif!”; itu bukan rumusnya. Meditasi bukan sulap, yang
untuk didemonstrasikan guna merebut “pangsa pasar dan meningkatkan nilai
jual”. Tak ada Guru manapun yang menganugerahkan itu pada Anda.

Metodenya, latihan awalnya, memang ada yang menginformasikan dan


membimbing. Tapi, kondisi meditatif tetap merupakan upaya mandiri Anda. Ini
amat penting untuk ditekankan disini. Saya tak ingin Anda dikibuli atau ‘dikadali’
oleh siapapun. Tetapi bila Anda memang mau dan senang dikibuli,
silahkan………

20. For The Better State of Mind

Sebagai bentuk seni, seni olah batin, di samping berciri keindahan juga
mengkondisikan batin kita pada suasana yang lebih baik, dari sebelumnya.
Dalam keadaan tenang, misalnya, kita akan bisa memecahkan berbagai
persoalan hidup dengan jauh lebih baik. Status batin-meditatif , juga melahirkan
inspirasi-inspirasi serta solusi-solusi jenial bagi berbagai persoalan hidup yang
kita hadapi.

Nilai manfaatnya akan benar-benar Anda rasakan bilamana Anda telah demikian
terbiasanya dalam status batin-meditatif ini; atau dengan kata lain, Anda telah
benar-benar menjadikannya hobi serta sahabat Anda.

21. Menentramkan Batin

Kita tidak bisa membeli ketentraman batin. Yang satu ini tidak ada urusannya
dengan uang atau harta-benda, pangkat, jabatan, pengaruh, kekuasaan maupun
popularitas. Kepemilikan atas harta, bukanlah sesuatu yang salah menurut
ajaran manapun. Namun, terbelenggu oleh kemilikan atas materi duniawi inilah
yang melahirkan konflik internal maupun eksternal. Pemenuhan demi
pemenuhan hasrat kemilikan tidak akan menyudahinya; bahkan sebaliknya,
malah menumbuhkan dan memperkuat keserakahan.

Kita bisa saja punya harta benda yang melimpah ruah, namun itu tidak
mengurungkan untuk senantiasa dirongrong kekhawatiran kalau-kalau mereka
tiba-tiba hilang ataupun menyusut. Jabatan, popularitas dan sejenisnya juga
memiliki sifat yang sama; sama-sama mengundang kekhawatiran. Tiada
ketenangan pada batin yang dipenuhi kekhawatiran dan rasa was-was.

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 8


Betapapun kita tahu bahwa kita menua setiap saat, namun secara naluriah ada
kecenderungan untuk menolak hukum alam itu. Kita tak segan-segan
mendandani tubuh, melatih tubuh untuk dapat mempertahankan jasmani ini dari
proses penuaan. Sadarkah kita bahwa apa yang kita lakukan sebetulnya adalah
melawan hukum alam ?

Bila kita perhatikan dengan lebih seksama lagi, akan dipahami bahwanya
ketentraman bukanlah suatu anugerah; ia adalah hasil usaha atau merupakan
pahala dari perbuatan kita sendiri. Ia tidak terkondisikan secara mutlak oleh iklim
diluar; iklim luar memang berpengaruh, sebatas kita mengadakan penolakan pun
pengharapan terhadapnya.

Ketentraman adalah kondisi batin yang stabil, di mana gejolak di dalam teredam
betapa mestinya.
Bagi seorang meditator, ketentraman batin diupayakannya secara mandiri,
maksudnya ia tidak mengharapkannya datang secara otomatis ataupun
tenggelam dalam kondisi batin meditatif dengan sendirinya, tanpa pengkondisian
awal sama sekali

22. Sesuai Bagi yang Sibuk

Kesibukan menguras banyak enerji fisik dan enerji mental Anda. Bagi yang
kesibukannya lebih banyak berupa kegiatan pikiran, kelelahan mental malah bisa
menganggu kondisi fisiknya. Oleh karenanya, bukan saja meditasi sesuai bagi
mereka yang sibuk, ia bahkan merupakan kebutuhan mentalnya.

Meditasi memberi pemulihan, bahkan me-recharging lagi dengan enerji fisikal


dan mental lebih. Ini harus dibuktikan sendiri. Andalah yang bermeditasi,
Andalah yang membuktikannya, dan Anda pula yang menikmati manfaatnya.

23. Bagi Siapa Saja

Pernah dan mungkin masih ada yang menyangka bahwa meditasi hanya untuk
orang-orang tertentu yang menjalani kehidupan spiritual saja. Sangkaan tersebut
jelas keliru. Ia bagi siapa saja; bebas SARA. Ia bahkan bagi semua umur – tentu
ada jenjangnya- dan bagi semua jender.

Jadi, bila Anda sebelumnya pernah menyangka lainnya, mulai saat ini buanglah
prasangka itu jauh-jauh dan tolong jangan ditularkan kepada siapapun.

24. Menjadikan Hidup Indah

Ini bukan iklan murahan. Ia dapat dibuktikan. Secara naluriah kita mencintai

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 9


keindahan. Keindahan dapat Anda serap dan hadirkan lagi di hati Anda, hanya
bila Anda siap untuk menikmatinya. Keindahan (sundaram) merupakan salah-
satu sifat dari Sang Diri.

Sebentuk karya seni tiada lain dari ekspresi rasa keindahan seorang seniman.
Sementara seniman, menangkap inspirasinya lewat “meditasi alami” (bagi yang
tidak secara khusus menekuni meditasi).

Walaupun Anda bukan seniman, Andapun punya bakat untuk menyerap dan
mengapresiasi seni, hingga batas-batas waktu tertentu. Contohnya, Anda akan
senang menyaksikan lelaki tampan atau wanita cantik, atau merasa nyaman di
pegunungan atau di tepi pantai. Itulah salah satu berkah kita terlahir sebagai
manusia.

Penikmatan seni atau keindahan, akan lebih baik bila kita mendekatinya melalui
kondisi batin-meditatif. Hidup akan terasa jauh lebih indah, dalam kondisi batin
seperti ini.
Bukankah Tuhan juga dipandang sebagai Keindahan Yang Agung Itu ?

25. Mengusir Pikiran-Pikiran Negatif

Pikiran negatif, banyak disebut sebagai biang kerok berbagai penyakit fisik dan
mental, oleh para ahlinya. Bahkan, lebih dari delapan puluh persen gangguan
fisik, konon bermula dari pikiran negative. Ia bisa ditakuti melebihi virus HIV.
Pikiran Negatif juga disebut-sebut sebagai penyebab terjadinya penuaan dini.
Jadi, secara tak langsung, meditasi juga bisa berfungsi sebagai obat ‘awet
muda’. Namun untuk yang satu ini, saya harap Anda tidak mempercayainya
begitu saja, kecuali setelah Anda buktikan langsung.

Di sisi lain, meditasi bukan saja mengusir pikiran negatif, ia bahkan dapat
‘mengenyahkan’ berbagai gejolak dari bentuk-bentuk pikiran (citta vritti).
Maharshi Patanjali menegaskan, “ yoga citta vritti nirodhah” – “yoga
menghentikan gejolak pikiran dan gelora perasaan”. Di dalam Asthanga Yoga –
nya, Dhyana atau meditasi merupakan “angga” ketujuh, sebelum Samadhi.

26. Mengantarkan Kita Kembali Pulang

Kita mengenal pepatah: “setinggi-tingginya bangau terbang, ia akan pulang


kembali ke sarangnya”. Pulang ke rumah, merupakan aktifitas yang sangat
menyenangkan, apalagi setelah kita berkelana sekian lama. Ini bukan saja bagi
manusia, namun juga pada binatang sekalipun.

Mungkin inilah aspek spiritual dari meditasi itu, mengantarkan kita kembali
pulang kepada Diri Sendiri. Kebiasaan dalam mengarahkan perhatian ke luar,

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 10


dan terus menerus ke luar, telah ‘menyesatkan’ kita di dunia objek-objek, di
dunia materi, di dunia fenomena.

Ketika ‘kesesatan’ ini telah sedemikian parahnya hingga kita menyangka bahwa
dan mengidentasikan-diri kita sebagai materi tersebut, atau sebagai efek-efek
emosional yang dimunculkannya. Semakin kita menjauh dari akar, dari pokok,
kitapun semakin bingung, semakin tersesat. Sesat di alam materi dan fenomena,
telah melahirkan prasangka bahwanya memang disinilah asal kita, sehingga
disini pulalah semuanya akan berakhir. Dari sinilah kita berangkat dan ke sini
jualah kita akan pulang. Kita menyangka bahwa di alam inilah kita berbasis. Kita
tak ingat lagi dari mana “asal’ kita.

27. Meditasi Bukan Sekedar Teori

Mengamati, mencermati secara seksama segala gerak-gerik batin sendiri


dengan penuh perhatian, merupakan sesuatu yang amat bermanfaat didalam
mengembangkan kebijaksanaan (prajna) . Ketika memperhatikannya, kita tak
perlu menilainya atau menduga-duga maupun berharap atau menolak. Cukup
perhatikan saja seperti apa adanya. Bila telah Anda lakukan seperti itu sesering
mungkin, ia akan menjadi kebiasaan Anda. Pikiran dan perhatian Anda seakan
enggan untuk memperhatikan yang di luar sana lagi.

Namun sebelumnya, perlu dipahami sebaik-baiknya lagi bahwa meditasi adalah


masalah ‘praktek langsung’ atau pengalaman empiris; ia bukan dalil teoritis. Bila
kita telah mempraktekkannya secara langsung, maka kita secara pasti akan
memahaminya sekaligus memperoleh faedahnya.

Bila Anda baca dengan seksama tulisan ini, bisa saja Anda berpraduga bahwa
saya adalah seorang ahli meditasi. Itu keliru; saya sama saja seperti Anda. Tak
ada namanya ‘ahli meditasi” itu. Apapun yang kita latih dengan tekun, memberi
ketrampilan yang bermanfaat bagi kita. Hanya itu. Dan saya juga bukan seorang
Bikshu, Yogi, Sannyasinn pun Guru Meditasi. Sekali lagi, mohon jangan salah
duga.

Kita memang cenderung suka menduga-duga begini atau begitu. Sebetulnya,


prilaku pikiran serupa ini, seyogyanya enyah dari benak seorang meditator;
jangan polusi batin Anda sendiri dengan berbagai dugaan. Batin kita sama saja
‘nakal’-nya, oleh karenanyalah ia perlu dilatih melalui meditasi.
Apa yang saya sampaikan disini, semata-mata dari pengalaman saya yang tidak
seberapa.

28. Meditasi Tetap Dilakukan Sendiri

Meditasi harus dilaksanakan sendiri. Ini sangat penting untuk dipahami.

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 11


Mengembangkan batin, mensucikan pikiran, ucapan dan tindakan, harus kita
lakukan sendiri. Kita tak dapat bermeditasi bagi orang lain; sebaliknya, orang
lainpun tidak dapat bermeditasi bagi kita.

Ketika masih bayi, kita memang tidak perlu berjalan ke dapur untuk mengambil
makanan atau minuman; ibu kita akan selalu siap menyusui dan menyuapi kita.
Akan tetapi kita tetap harus memakan atau meminumnya sendiri. Ibu atau orang-
tua hanya menyediakan saja. Di sini, baik orang-tua maupun Guru hanya
bertindak sebagai pembantu, memfasilitasikan segala sesuatunya bagi Anda.
Bagusnya adalah, kendati meditasi mesti dilakukan secara benar-benar mandiri,
namun hasilnya, berkah daripadanya, dapat dibagi-bagikan, dapat ditularkan
juga kepada orang lain sebagai Yajna.

29. Memang Perlu Pelatihan

Kita tak dapat langsung duduk di hadapan setir sebuah mobil dan
‘sim…..salabim…’, Anda telah ngebut di tengah keramaian kota dengan
kecepatan 60 km/jam. Tidak demikian bukan ? Kendati Anda seorang pembalap
formula-satu sekalipun, awalnya Anda masih butuh beberapa menyesuaikan-diri
dengan dan mengakrabi kendaraan serta medan.

Kendati batin meditatif terjadi secara spontan pada waktunya, awalnya ia perlu
persiapan dan pelatihan. Sebagai suatu keterampilan, ia perlu pelatihan-
pelatihan; tak jauh bedanya dengan nyetir, mengetik atau keterampilan lainnya.
Ia butuh persiapan, pengkondisian awal dan pelatihan.

30. Desa, Kala, Patra Senantiasa Penting

Sepintar apapun Anda bermain sepak-bola, Anda tetap tak dapat melakukannya
dengan baik di dapur. Anda butuh ruang yang cukup untuk itu. Ada tempatnya
untuk melakukan sesuatu. Anda pun tak bisa mendatangi sebuah kantor atau
unit pelayanan sosial setiap waktu. Ada waktunya kapan Anda harus ke pasar,
kapan Anda mandi, kapan Anda makan, Kapan Anda pergi ke tempat kerja, dan
lain sebagainya. Jelas ada waktunya untuk melakukan kegiatan apapun.

Di Mayapada ini, pengkondisi desa-kala-patra --- ruang, waktu dan kausasi-----


tetap berlaku. Ini juga berlaku di dalam menyelenggarakan meditasi. Bilamana
Anda telah cukup maju, ia memang bisa Anda lakukan di mana saja, kapan saja
dan dalam kondisi apa saja. Akan tetapi pada tahap-tahap awal, penyesuaian-
penyesuaian terhadap tempat (desa), waktu atau jadwal (kala) dan beberapa
penyesuaian terhadap pengkondisian terkait lainnya (patra) penting untuk
diperhatikan

Saat brahmamuhurta, sekitar pukul 4.00 waktu setempat, dipercaya sebagai

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 12


waktu yang ideal untuk bermeditasi; bahkan antara pukul 2.00 hingga pukul 4.00.
Pada bulan mati (tilem) dan sehari sesudahnya (penanggal kaping pisan), hari
ke-empatbelas setelah bulan mati (caturdasi) dan hari purnama, juga beberapa
hari lain memang terbukti sangat kondusif bagi penyelenggaraan laku spiritual.

Tempat yang secara fisikal meyejukkan, terlindung dari teriknya matahari,


hembusan angin kencang dan dingin, dengan posisi lebih tinggi dari lingkungan
sekitar, “jauh” dari keramaian, dekat dengan tempat-tempat suci, merupakan
tempat-tempat yang diminati karena juga terbukti banyak membantu kemajuan.

Namun ini bukanlah berarti bahwa kita hanya berlatih di tempat atau pada waktu
seperti itu saja. Latihan sedapat mungkin kita lakukan setiap saat, di mana saja
dan dalam kondisi apa saja. Seorang Guru pernah mengatakan: “Bilamana Anda
punya waktu untuk bernafas, maka Andapun punya waktu untuk bermeditasi”.

31. Memberi Rambu Untuk Membedakan Antara Tujuan dan Bukan Tujuan

Ketenangan dan keterpusatan merupakan hasil-sampingan, yang juga bertindak


sebagai landasan dari meditasi. Mereka bukan tujuan. Padahal untuk bisa
mencapai ketenangan dan keterpusatan mental saja, bukan sesuatu yang
mudah. Itu sudah memberi berkah yang tidak kecil artinya.

Dalam makan misalnya, kita tak perlu munafik dengan mengatakan bahwa “saya
makan bukan atas suatu tujuan, namun hanya demi makan itu sendiri”. Kita tak
perlu bersikap munafik dengan mengatakan bahwa meditasi kita tak punya
tujuan. Bukan saja itu bohong dan omong kosong yang menggelikan, namun itu
bisa sangat berbahaya.

Bahaya pertama; ia bisa dengan drastis meningkatkan keangkuhan kita. Bahaya


kedua; melakukan sesuatu tanpa tujuan, tidak akan pernah mengarahkan kita
pada sasaran. Jangan-jangan malah tersesat nantinya. Bahaya ketiga; dengan
tanpa tujuan, kita akan cenderung bertindak sekehendak hati, tanpa suatu sikap-
mental dan disiplin tertentu. Padahal meditasi juga berarti mendisiplinkan, berarti
menertibkan mental. Di dalam mental yang tertib, yang berdisiplin lebih mungkin
ditemukan kejernihan, ketentraman, ketenangan dan kedamaian, bukan
sebaliknya.

Kita mesti jeli dalam melihat persoalan kita sendiri di sini. Jangan sampai
kecerobohan kecil, keangkuhan halus yang laten, malah jadi membesar dan
menguat. Anda mesti jeli dalam membedakan mana tujuan yang demi
kepentingan pribadi yang berlandaskan ego, dan mana yang tanpa-ego atau
kepentingan pribadi. Namun, hanya mengandalkan pikiran dan kecerdasan saja,
memberi peluang bagi si ego untuk meyergap dengan mudah. Kesadaran dan
kewaspadaan harus selalu ditegakkan. Itulah meditasi.

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 13


32. Aliran Perhatian Secara Alami

Ketika Anda mulai memasuki alam meditasi, batin meditatif, upaya (pemusatan
atau konsentrasi) tanggal dengan sendirinya. Fenomena ini tak ubahnya seperti
ketika Anda membuka keran air di rumah Anda. Ketika baru membukanya,
terjadi upaya pengerahan atau pemusatan tenaga ke tangan. Namun setelah
Anda berhasil membukanya, air akan mengalir dengan sendirinya, tanpa perlu
pengerahan tenaga lagi. Anda cukup hanya menampung kucurannya saja bukan
?

Nah…inilah mengapa meditasi ada yang menyebut sebagai “bukan upaya,


bukan pula metode”. Di alam meditatif -----sebutlah demikian ----- memang
segala sesuatu mengalir dengan sendirinya. Semuanya mengungkapkan dirinya
sendiri, kemanapun si perhatian Anda arahkan. Di sinilah berbagai ide, gagasan,
ilham, pawisik, wahyu --- atau apapun sebutan yang Anda berikan untuk itu ---
bermunculan dengan sendirinya, mengalir secara alamiah. Anda samasekali tak
perlu memeras otak untuk itu. Di sini, intervensi kerja otak justru malah
menganggu. Di alam meditatif otak tidak bekerja, ia non-aktif, sebaliknya yang
hadir hanya kesadaran dan perhatian terarah yang menyertainya.

33. Mengamati Fenomena Batin

Mengamati kegiatan batin memang mengasyikkan, di samping unik. Mengamati


fenomena batiniah orang-orang sekitar kita bisa saja, akan tetapi kurang
bermanfaat langsung; bila hanya sebagai bahan perbandingan atau
memperbanyak data untuk kemudian dirangkum guna dapat menarik kesimpulan
yang lebih bersifat umum untuk digunakan dalam latihan, boleh jadi aktivitas itu
bisa jadi bermanfaat.

Ada tips dari yang berpengalaman dalam mengamati batinnya sendiri. Beliau
menyarankan untuk membuat sejenis buku harian yang di-breakdown (rinci)
dalam jam demi jam bahkan puluhan menit. Dalam sehari bisa dibagi dalam dua
fase, yakni fase aktif dan fase istirahat (tidur). Tentu kita tidak mungkin membuat
catatan selama tidur, dan memang tidak diharapkan demikian, akan tetapi
membuat catatan tentang aktivitas bawah sadar yang berupa impian segera
setelah bangun tidur agak tidak keburu lupa.

Dengan demikian dalam 24 jam sehari kita mempunyai catatan yang cukup rinci
tentang aktivitas batin kita. Misal pk. 07.00: merasa badan segar tak ada beban;
pk. 07.10: jengkel karena kaos kaki digigit hewan kesayangan, padahal sedang
buru-buru berangkat kerja dan sarapannya pun itu-itu saja; pk. 07.20 – 07.30:
kemacetan lalu lintas menjengkelkan dan hampir saja nyenggol sebuah BMW,…
dan seterusnya dan seterusnya. Jadi ia berupa sejenis diary dengan penekanan
pada fenomena batin yang dirasakan.

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 14


Dari catatan itu, yang dibaca menjelang tidur, coba dijumlah berapa kali atau
berapa lama dalam sehari kita jengkel, marah, bingung, mumet, gembira, tak
sabaran, riang, sakit hati, tersinggung, puas, berprasangka, kecewa, sedih dan
lain sebagainya. Tergantung kebutuhan dan tingkat ketelitian yang diharapkan,
pencatatan bisa dalam kurun waktu beberapa hari, hingga kita merasa cukup
untuk menyimpulkan bahwa rata-rata dalam sehari saya jengkel sekian jam,
tersinggung sekian menit dan seterusnya. Tentu mencatatnya secara periodis
agar tidak menganggu kegiatan normal kita. Mencatat saat istirahat makan siang
misalnya, atau saat tidak melayani klien misalnya.

Intinya kiya punya catatan yang cukup rinci tentang aktivitas perasaan dan
pikiran, ataupun persepsi kita. Tampaknya memang agak lucu dan rikuh bila
sampai diketahui orang lain, bahwa kita sedang mencatat sesuatu yang tidak
umum dilakukan orang; akan tetapi, itu tetap bisa kita atur jadwalnya sendiri agar
terasa aman namun lengkap.

Seperti juga diary, catatan tak perlu panjang-panjang, toh kita mengerti. Jangan
berpikir bahwa Anda membuat catatan untuk disetorkan pada oang lain. Ini
semata-mata demi kebaikan Anda sendiri.

Ia akan amat membantu Anda nantinya. Ia membantu Anda dalam memahami


bekerjanya batin dalam berbagai suasana spesifiknya. Tak perlu beranggapan
bahwa kegiatan ini menyita waktu hingga mengurangi produktivitas kerja Anda;
toh kita tak perlu setiap saat mencatat. Kita pasti punya waktu senggang untuk
beristirahat sejenak di sela-sela kesibukan kita; kita kan bukan robot….

34. Ia Tak Terpikirkan dan Tak Terkatakan

Anda tak akan pernah bisa mengatakan tentang sesuatu yang tak terpikirkan,
kecuali Anda ngelindur, mabuk, kesurupan atau sejenisnya. Secara sadar, itu
tidak dimungkinkan. Namun hebatnya, Anda dapat mengalami dan
merasakannya. Anda dapat merasakan sesuatu yang tak bisa Anda katakan,
pun tak terpikirkan. Anda bisa merasakan beda antara manisnya gula dibanding
madu. Anda bisa merasakan beda antara harumnya melati dibanding cempaka.
Anda dapat merasakan beda antara merdunya suara Pavaroti dan Rein Jamain.
Namun tetap Anda tak dapat memaparkan seperti apa itu adanya. Kenapa ?
Karena ia tak terpikirkan; karena di sana bukan pikiran kita yang bekerja.

Demikian juga ketika sang batin memasuki alam meditatif-nya Tak ada kata-kata
‘di sana’, tak ada bentuk-bentuk pemikiran ‘di sana’; kecerdasanpun tak
diperlukan ‘disana’. Anda hanya mengetahui, merasakan; tepatnya
‘menyaksikan’.

Nah…setelah ‘turun’dari alam meditasi inilah pikiran mulai bekerja lagi. Dan

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 15


ketika Anda mengingat kembali apa yang dirasakan dan dialami ‘di sana’, Anda
akan mengingatnya dengan sangat jernih. Setelah itulah Anda baru
merumuskannya menggunakan kecerdasan dan pikiran Anda untuk kemudian
Anda ungkapkan dengan kata-kata, sesuai gaya bahasa dan kebiasaan
berbahasa Anda. Jadi bukan ‘di sana’. Ungkapan verbal hanya dibutuhkan disini,
bukan ‘di sana’.

35. Berlatih Menjadi Saksi Yang Baik

Dari perspektif ini, kita sesungguhnya juga bisa mengatakan bahwa meditasi
adalah latihan untuk memfungsikan-diri hanya sebagai saksi.Umumnya, kita
tidak becus untuk memfungsikan diri hanya sebagai saksi. Kita cenderung ditarik
untuk terlibat, apakah secara pasif maupun aktif, apakah secara parsial maupun
total. Kenapa ?

Karena pikiran, perasaan , penalaran, ingatan-ingatan seringkali menginterupsi


proses pengamatan kita. Mereka mengotori kejernihan visi kita, Mereka
menghadirkan penilaian-penilaian, prasangka-prasangka, praduga-praduga.
Semua ini hanya mengeruhkan batin kita. Kita tak dapat melihat dengan jernih,
lengkap dan lebih menyeluruh karenanya.

Ketika Anda harus menyahuti pertanyaan atau teguran dari seseorang


sementara Anda sedang menyaksikan sebuah film di televisi, misalnya; apa yang
terjadi ? Anda melewatkan beberapa kejadian di dalamnya, selama itu; sejak
teguran atau pertanyaan itu Anda perhatikan sampai selesai meresponnya dan
kembali lagi mengarahkan perhatian pada apa yang ditonton. Alhasil, Anda
menyaksikan film itu secara kurang lengkap. Ada banyak kejadian – yang boleh
jadi justru merupakan satu dialog atau adegan yang terpenting dalam film itu –
lepas dari perhatian dan amatan Anda. Anda tak menyaksikan seutuhnya.

Nah…sekali lagi, meditasi sesungguhnya juga melatih kita untuk bisa


memfungsikan diri kita sebagai saksi yang baik – saksi yang tanpa praduga,
tanpa prasangka, tanpa penilaian, tanpa pembandingan apalagi penghakiman,
tanpa pewarnaan, tanpa pretensi, tanpa keberpihakan.

36. Mengembalikan Kepolosan

Saksi seperti yang disebutkan tadi adalah saksi yang polos, yang lugu. Ia
layaknya anak-anak balita; bahkan mungkin selugu dan sepolos bayi. Di sini juga
ada kepasrahan total, kepasrahan yang sebenar-benarnya, Isvarapranidhana,
yang tidak dibuat-buat karena kehabisan akal atau rasa ketidak-berdayaan dan
keputus-asaan. Di sini ada penerimaan yang benar-benar lapang (legawa)
terhadap apa yang terjadi, apa yang dialami, apa yang disaksikan, apa yang ada.

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 16


Dalam kehidupan kita sehari-hari, kepolosan dan keluguan seperti ini jarang
singgah di batin kita bukan ? Batin kita penuh pretensi; kita melakukan sesuatu
yang lainnya. Dalam batin seperti ini, tak pernah ada ketulusan, tak pernah ada
kepolosan. Karena pretensi tak akan pernah akur dengan kepolosan. Di mana
hadir pretense, kepolosan malah akan menyembunyikan dirinya.

Oleh karenanya, meditasi di sini memainkan peran aktifnya dalam


mengembalikan lagi kepolosan itu kepada kita. Kepolosan yang mungkin telah
terlalu lama kita tinggalkan, kita abaikan begitu saja, di sebuah sudut sunyi hati
yang terdalam.

37. Hidup Murni Tanpa Waktu

Jiddu Krishnamurti pernah mengatakan: “Bermeditasi adalah hidup murni tanpa


waktu.” Apa kira-kira maksudnya ? Untuk mengertinya, kita harus mengerti apa
yang dimaksudkannya dengan ‘hidup murni’. Apa itu ‘hidup murni’ ? Itulah hidup
sebagai saksi, hidup yang benar-benar polos, seperti yang kita bicarakan
sebelumnya. Itulah hidup murni. Ia memang tanpa waktu. Kenapa ?

Memang benar, di alam fenomenal ini, apapun yang terjadi, apapun yang kita
lakukan butuh waktu. Ini tak terpungkiri. Apa yang kita sebut sebagai waktu di
sini adalah waktu fisikal, waktu mekanikal, dan bukan waktu psikologikal. Apa
yang disebutkan sebagai waktu oleh Krishnamurti adalah waktu psikologikal ini.

Ketika Anda sedang menunggu dalam suatu antrean, atau menunggu


kedatangan seorang yang sangat Anda rindukan, waktu akan terasa merangkak
sangat lamban. Sebaliknya, bilamana di suatu pagi yang cerah Anda asyik
mengerjakan suatu aktivitas terkait dengan hobi Anda misalnya, waktu terasa
berjalan sangat cepat. Tiba-tiba saja sudah sore. Padahal sejam….ya sejam.
Nah…waktu yang bekerja pada saat Anda menunggu maupun terbenam dalam
keasyikan inilah yang dimaksudkan. Sebagai waktu psikologikal. Dan dia bisa
sangat relatif, tergantung suasana-hati maupun kondisi-batin Anda pada kurun
waktu tertentu. Dalam menunggu, ada harapan untuk cepat bertemu. Batin Anda
tidak tentram, tidak murni. Harapan untuk cepat bertemu, menganggu
ketentraman sehingga mengotori kemurniannya.

Dalam kemurnian, di mana tak ada harapan-harapan, tak ada keinginan-


keinginan, waktu menjadi kehilangan kekuatannya di sini. Anda tak perlu merasa
dibatasi olehnya. Anda hanya mengalir bersamanya, dalam kekinian Anda. Tak
ada cepat atau lambat, atau deskripsi kwalitatif dualistis lainnya, yang dapat
dikenakan terhadap batin yang murni. Ia hanya seperti apa adanya.
Nah….. demikianlah kurang-lebih apa yang dimaksudkan oleh Krishnamurti.

38. Apa Meditasi Bisa Mengenyangkan Perut Yang Lapar ?

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 17


Ada yang mengatakan bahwa hidup adalah rangkaian dari berbagai masalah,
dengan berbagai tipe, yang tak pernah habis-habisnya. Sungguh sangat
disayangkan bilamana hidup ini hanyalah disibukkan oleh masalah-masalah
remeh saja, dengan tanpa memberi kita peluang untuk berkreasi, berapresiasi,
mencipta atau menikmati. Pertanyaannya adalah, apakah meditasi bisa berbuat
sesuatu tehadapnya ?

Kritik yang paling tajam yang ditujukan kepada para meditator, terkait dengan
persoalan-persoalan hidup seperti itu, adalah: “Apakah meditasi menjadikan
perut saya yang lapar ini kenyang ?”, atau “Apakah kemiskinan bisa dientaskan
hanya dengan meditasi?”.

Sang Budha kurang-lebih pernah bersabda yang menyiratkan bahwa,’menjawab


pertanyaan salah, sama salahnya dengan melontarkannya’. Kritik bernada
skeptis dan dungu seperti ini sebetulnya hanya mungkin dilontarkan oleh mereka
yang samasekali tak memahami apa itu meditasi. Atau telah memahami meditasi
secara keliru, namun tak pernah mencari tahu apa meditasi itu sesungguhnya
karena tidak pernah benar-benar mempraktekkannya. Mereka akan terbelalak,
melongo untuk kemudian meninggalkan saya, bilamana saya menjawab semua
pertanyaan serupa dengan:”Bisa, bahkan dengan amat sangat mudah!”.

Dalam kemurnian, kejernihan batin, apapun yang Anda lihat, apapun yang Anda
saksikan akan menjadi jelas dengan sendirinya. Segala persoalan-persoalan
akan memperlihatkan keterkaitannya, betapapun kompleksnya sehingga Anda
dapat menetapkan solusi-solusi serta penyikapan-penyikapan yang terbaik, yang
sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

Kegagalan kita dalam memecahkan permasalahan umumnya tertumpu pada


ketidak-mampuan kita dalam ‘melihat’ persoalannya secara menyeluruh dan
secara lengkap. Dalam ketidak-lengkapan dan tanpa memahami situasi dan
kondisi konkrit yang ada, apapun yang kita lakukan hanya akan mempercepat
tercapainya kegagalan. Bahkan kita malah bisa memunculkan beberapa
persoalan baru lainnya.

Nah, di sinilah signifikansi dari meditasi dalam menjalani kehidupan kita sehari-
hari yang sarat dengan berbagai persoalan ini. Hanya batin yang benar-benar
keruh, yang benar-benar gelaplah yang tidak dapat melihat manfaat meditasi
dalam kehidupan sehari-hari.

39. Aliran Perhatian Penuh Yang Menerus

Batin meditatif tidak mungkin melihat secara parsial. Ia seksama dan

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 18


menyeluruh. Ia juga cermat dan penuh kewaspadaan, sehingga menjadi peka
dan tajam. Aliran menerus dari perhatian yang terpusat pada suatu objek tidak
memungkinkan diperolehnya amatan parsial. Di mana ada keterpusatan, ada
aliran perhatian yang menerus, ada kewaspadaan, keseksamaan, ketelitian,
maka di sana ada meditasi.

Ke-menyeluruhan dalam meditasi inilah yang memberi Anda pengetahuan


bahkan pemahaman yang lengkap dan terpercaya akan segala sesuatu. Jadi ia
bukan sembarangan perenungan; dan jelas bukan auto-sugesti yang hanya
merupakan bentuk lain dari penipuan diri. Dalam kepolosan, dalam apa adanya,
tak ada kebohongan, pemunafikan apalagi penipuan.

40. Ketercerapan Yang Dalam

Seorang pengamat seni, pencinta benda-benda seni mempunyai kepekaan yang


sangat tajam akan benda seni yang diamatinya. Di sini ia tidak saja mengamati,
namun juga menikmati. Demikian juga dalam meditasi, Anda menikmati apa
yang Anda meditasikan, Anda ada didalamnya, di semua sisi-sisinya, di atasnya,
di bawahnya. Anda adalah apa yang Anda meditasikan itu.

Dalam hal ini, yang bekerja bukanlah pencerapan indriyawi lagi. Pencerapan
menyeluruh tiada dimungkinkan lewat indriya, kendati ia dibantu oleh pikiran dan
kecerdasan. Dalam ketercerapan ini Anda – sebagai si pencerap – sepenuhnya
lebur dan menyatu dengan apa yang dicerap. Oleh karenayalah ‘pengamatan’
Diri-Jati hanya dimungkinkan lewat meditasi. Bahkan dalam Samadhi
(matangnya meditasi), Anda tidak sekedar mengenali-Nya, namun sepenuhnya
menjadi Dia.

41. Bukan Pembangkitan Daya Psikis

Telah disampaikan sebelumnya, konsentrasi (dharana) merupakan landasannya.


Hingga dharana, sebetulnya batin telah cukup tentram. Gejolak pikiran dan
gelora perasaan tak ada lagi di sini. Inilah yang sering menyebabkan banyak
orang keliru. Batin yang terpusat hanya pada satu titik konsentrasi memang
tajam dan berkekuatan. Ketajaman dan kekuatannya inilah yang bisa
mengundang daya-daya psikis, seperti gejala supranatural, paranormal maupun
bentuk-bentuk daya metafisikal lainnya.

Ketika seseorang mendambakan yang serupa itu, ia bisa jadi juga melakoni laku
spiritual, layaknya seorang meditator atau yogi. Dari luar dan hingga fase pra-
meditasi, semuanya masih tampak serupa. Namun, ,mereka hanya akan terhenti
sampai di situ saja. Kendati gejala seperti itu bukanlah apa yang dimaksudkan
oleh seorang meditator atau seorang yogi, namun mereka juga memiliki daya-
daya psikis seperti itu.

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 19


42. Sejernih dan Sebening Kristal

Ketika kacamata yang kita kenakan kotor, berdebu dan bernoda, semuanya
tampil buram di mata kita kita. Namun, bagaimana itu bisa disadari tanpa
memeriksanya, menanggalkannya sejenak untuk dicermati ?

Demikian pula halnya dengan ‘kacamata’ batin ini; ia kita tanggalkan, teliti
sekaligus jernihkan lewat meditasi.

Batin meditatif adalah batin yang sepenuhnya sadar; sadar akan kekiniannya,
sadar akan keberadaannya, sadar akan kesujatian-nya. Ia sejernih dan sebening
kristal.

43. Taman Bunga Kebajikan Tanpa Pamrih

Batin meditatif ibarat taman subur, di mana bunga-bunga harum ‘inspirasi’


kebajikan yang beraneka warna tumbuh dan berkembang dengan maraknya.
Dan seperti juga bunga-bunga itu, ia tak memilih apalagi menolak kumbang,
lebah atau kupu-kupu manapun untuk mengisap sarinya; ia tak memilih hidung
dan mata manapun untuk menghirup aroma maupun menikmati kecantikannya.

Dia sangat adil; Ia hanya akan memberi dan memberi. Dialah sumber kebajikan
luhur yang tanpa pamrih itu. Dia manifestasi kasih nan murni itu.

44. Langit Biru Membentang

Ketika langit biru membentang di hadapan Anda, di samping, di belakang, di atas


juga di bawah Anda, apa yang Anda rasakan ? Kelapangan dan keleluasaan
yang tiada terlukiskan. Keheningan, kesendirian dan kesunyian tanpa noda
kesepian.

Dia sana Anda benar-benar bebas menghirup, menikmati sepuas-puasnya “yang


ada”, leluasa berkreasi, berimajinasi dan menikmati madu lila bak Sang
Penguasa Kosmis. Pengalaman seperti ini tak akan terlupakan. Dan itu tak
pernah akan kita nikmati tanpa meditasi.

45. Bisa Sulit, Bisa Mudah

Sesuatu boleh jadi sulit, namun bisa juga sederhana. Itu sepenuhnya tergantung
kita sendiri. Salah seorang guru besar Teknik Sipil di University of New South
Wales, Australia, suatu ketika pernah mengatakan kepada saya, “Kita dilengkapi

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 20


akal-budi bukanlah untuk memperumit sesuatu, namun sebaliknya. Bila orang
pintar meyederhanakan yang rumit, sebaliknya yang bodoh mempersulit yang
sebetulnya sederhana”. Kendati itu sudah saya dengar belasan tahun lalu,
hingga kini masih saya ingat. Ia sungguh mengesankan.

Demikian pula dengan meditasi. Anda bisa menjadikannya tampak sedemikian


seram dan “njelimet”-nya, ataupun menjadikannya mudah dan sedemikian
sederhana. Memang ada orang yang cenderung tertarik pada yang ‘wah’, yang
seram-seram, yang pelik. “Lebih menggairahkan”, katanya. Boleh-Boleh saja sih,
asalkan bukan untuk “menakut-nakuti” atau untuk tujuan lain. Akan tetapi
ingatlah, meditasi nyaris tak mungkin didekati tanpa kepolosan, tanpa kejujuran
dan ketulusan. Ketika itu tidak hadir, ia akan mengarahkan kita menjauh atau
menyimpang dari “tujuan semula”. Kecuali bila sejak semula Anda memang
punya “tujuan lain”, Anda tentu tidak akan menyimpang dari tujuan semula bukan
?

46. Meditasi Pranava

Sebetulnya, dasar-dasar meditasi telah tertuang di dalam Bhagavad Gita. Salah


satunya, yang terkait dengan ketentraman-hati dan kesehatan lahir maupun
batin, adalah harmonisasi nafas-kehidupan (pranayama) yang dikombinasikan
dengan perafalan Pranava OM.

Ini terbukti amat sangat efektif dan telah dipraktekkan oleh tak terhitung
banyaknya manusia, bahkan para Yogi-Yogi ternama, seperti Sri Paramahansa
Yogananda, Sri Swami Sivananda Saraswati, dan banyak lagi. Bagusnya adalah,
ia “nyaris” tanpa resiko. Kita terus menerus merafalkan Nama Tuhan
(Namasmaranam) dan sekaligus juga mendengarkan Nama-Nya (Sravanam).

Simpelnya, kita cukup merafalkan di dalam hati, ANG……saat menarik nafas,


UNG….saat menahan nafas, dan MANG……saat menghembuskan nafas secara
lepas. Tidak perlu ditahan-tahan atau dibuat-buat. Santai saja dan biarkan ia
mengalir begitu saja secara alamiah. Sungguh sederhana bukan ?

47. Bak Menyuling Air Keruh

Air yang keruh umumnya kita endapkan dulu. Mungkin hanya dengan
mengendapkannya saja ia sudah cukup jernih dan siap dimanfaatkan. Namun
bila masih sangsi untuk meminumnya langsung, kita perlu mendidihkannya
sebelum diminum.

Demikian juga dengan meditasi, batin yang keruh diendapkan, dijernihkan dan
disterilkan hingga batas-batas yang diperlukan, sehingga cukup aman bagi
kesehatan mental kita.

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 21


Bila kita menginginkan air-murni kita bisa saja lebih jauh menyulingnya,
menguapkannya habis untuk kemudian mendinginkan uapnya lagi agar
menyublim, menghasilkan tetes-tetes air-murni.

Melalui prinsip kerja yang sama, meditasi bisa mengantarkan kita pada
Kemurnian-Batin, pada kesadaran Murni, yang menghuni setiap insan.

48. Perjalanan Kembali ke Diri-Jati

Kesadaran ragawi merupakan pijakan awal yang akan dilampaui setahap demi
setahap menuju kesadaran spiritual . Inilah pengembangan batin itu. Dalam
perjalanan ini, kesadaran mental susul menyusul bersama kesadaran moral,
setelah kesadaran ragawi. Saat inilah kesadaran ragawi – yang bertumpu kuat
pada keterbatasan indriyawi – tampak mengambang di permukaan, bersinar
dalam cahaya semu yang redup. Ia tak lagi sepenuhnya punya kekuatan untuk
mendikte, seperti sebelumnya.

Berada di jenjang “antara” ini, baik waktu, ruang pun kausasi (desa-kala-patra)
semakin tampak jelas, seperti apa ia adanya. Sosok jiwa bisa tampak
sedemikian bermoral, humanistis dan penuh pengertian di sini, sesuai dengan
kedalaman yang berhasil digapainya kembali. Ia bisa tampak bajik dan bahkan
bijak. Ini bisa berlangsung lama, bahkan seumur kelahirannya yang sekarang ini.
Manakala itu terlampaui dengan selamat sebelum melepaskan jasad ini, iapun
menyentuh “gerbang” kesadaran spiritual yang lebih tinggi.

Di sini segala fenomena fisikal, mental dan moral tampak begitu jelas; di mana
masing-masing bersinar silih berganti dengan kerdipan dan intensitas cahayanya
sendiri-sendiri. Sungguh indah. Sulit dilukiskan dengan kata-kata. Di sini,
perasaan,pikiran dan intelek serta keakuan – yang tiada lain adalah fenomena-
fenomena mental – tidak lagi sedemikian mendiktenya; mereka hanya tampak
sebagai eksponen-eksponen di dalam panorama batiniah yang menakjubkan
untuk diamati, dan dinikmati kembali.

Kini mereka telah digantikan oleh intuisi yang kian mantap, lurus dalam
melangkah memasuki cemerlangnya Kesadaran Spritual. Ia boleh jadi
sedemikian menyilaukannya, sampai-sampai terasa membutakan penglihatan,
sehingga sangat mengagetkan. Boleh jadi juga banyak orang dibuatnya terpana
dan terkagum-kagum, sampai-sampai sudah merasa cukup puas hanya dengan
memandangi kecemerlangannya itu, dan terpana di luar ‘gerbang’.

Suasana dan panorama yang sedemikian asingnya bagi kita, juga seringkali
menakutkan. Keasingan dan kesendirian seringkali menakutkan. Dan ini bisa
berarti pengurungan niat atau penarikan langkah. Nah, disinilah keberanian
besar sekali perannya. Dialah yang akan menopang langkah kita dalam

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 22


memasuki Kesadaran Ilahi.

49. Mengamati Dengan Seksama dan Penuh Perhatian

Manakala kita mengamati sesuatu – apakah sesuatu itu ada di luar maupun di
dalam – dengan seksama dan penuh perhatian, maka diapun akan menjelaskan
dirinya sendiri kepada kita. Dia seakan-akan memfungsikan dirinya sebagai guru
bagi kita; ia bisa mengajari kita dengan amat jelas, lengkap namun sederhana,
tentang apa dia adanya.

Umumnya, setelah kita beranjak di mana berbagai persoalan hidup yang makin
menumpuk silih-berganti menuntut untuk diperhatikan juga, “mengamati dengan
seksama dan dengan penuh perhatian” secara alamiah dan sedikit demi sedikit
semakin menjauh dari kita, untuk akhirnya tidak lagi akrab dengan kita. Apa yang
tadinya merupakan sesuatu yang akrab dan alamiah, kini malah menjadi sesuatu
yang nyaris tak pernah dikenal, sesuatu yang sama sekali asing lagi.

Oleh karenanya, meditasi sebetulnya bukanlah sesuatu yang sama sekali asing
bagi kita. Kitalah yang mengasingkannya dari hidup kita, dengan tanpa
sepenuhnya disadari. Alhasil, bukanlah sesuatu yang begitu aneh bila kita malah
telah menjadikan Diri kita sebagai orang yang asing bagi diri kita sendiri. Dan
untuk mengenal-Nya kembali kini terasa sulit. Kita telah terlanjur membangun
tembok demi tembok, sekat penghalang demi sekat penghalang, tabir demi tabir
antara kita dan Sang Diri-Jati.

50. Bangkit Dalam Kesadaran

Ketika semua itu telah benar-benar disadari sepenuhnya, Anda akan dibuatnya
“merasa bodoh”, benar-benar bodoh, karena selama ini telah membodoh-bodohi
diri sendiri. Rasa malu mendalam atas kebodohan diri ini bisa membuat Anda
menangis. Namun kali ini tangis itu bukan lagi tangis cengeng, tangisan akibat
luapan emosi rendah, ia kini adalah “tangis kesadaran”.

Disini tak perlu muncul penyesalan, sejauh kebiasaan suka menyesali diri
berkepanjangan juga menjadi satu fenomena mental yang juga kita tangisi.
Tangisan inilah yang akan menyentak Anda bak “cemeti-petir” di tangan Sri
Krishna. Ia membuat Anda bangkit untuk berjuang, bangkit untuk berperang,
bangkit untuk menyongsong masa depan dengan gagah-berani.

Kini Anda merasa seakan-akan memperoleh semangat baru, daya –juang baru
dan enerji baru dari dalam. Batin telah me-recharging dirinya sendiri, bersamaan
dengan terbitnya “Mentari Kesadaran”. Anda boleh jadi tampak sama
bersemangatnya, sama bergairahnya seperti dulu, namun kini ada satu
perbedaan mendasar dibanding sebelumnya. Kini Anda ditemani oleh

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 23


kesadaran, bukan lagi kebodohan.

51. Menuju Universalitas

Tanpa mengenal batin Anda sendiri, Anda tak mungkin bisa memanfaatkannya
secara optimal. Anda memang harus mengenalnya dulu sebelum Anda benar-
benar mengembangkannya untuk bisa memanfaatkan kekuatannya.

Batin yang telah dikembangkan adalah batin yang meluas, yang telah
menyingkirkan sekat-sekat yang membatasinya. Batin yang telah mengembang
adalah batin yang lapang, yang leluasa, yang bebas, yang tak lagi terbatasi pun
berkehendak membatasi. Dan hanya apabila batin Anda telah sedemikian
berkembangnyalah baru Anda berkompeten untuk berbicara masalah
universalitas. Sebelum itu, bahkan makna yang sesungguhnya dari kata
‘universal’ itu sendiri belum sepenuhnya mampu dipahami.

52. Pengembangan Intuisi

Intuisi dikembangkan lewat meditasi. Bahkan mereka yang terpelajarpun


seringkali mengelirukannya dengan naluri. Kendati mereka sama-sama
fenomena batin, yang juga sama-sama kita bawa bersama dengan kelahiran
berjasad manusia ini, namun naluri merupakan “sisa” dari aspek kebinatangan
kita. Seperti juga hawa-nafsu, naluri mencirikan kebinatangan kita.

Sebaliknya, intuisi yang dikembangkan lewat meditasi merupakan aspek


kedewataan kita. Anda tidak bisa mengharapkan munculnya kedewataan,
sementara enggan melepas, apalagi malah semakin mesra dengannya. Oleh
karenanya, laku spiritual (sadhana) seperti tapa-brata dilaksanakan oleh
penekun atas dasar prinsip ini. Tapa-brata, mengikis kebinatangan Anda. Di
dalam Veda-Veda dan yogashastra- yogashastra ia diposisikan sebagai laku
‘pensucian batin’, sebagai laku ‘peleburan dosa’.

53. Mempertemukan Anda Dengan-Nya

Anda boleh saja mengatakan: “Saya bermeditasi untuk mencapai Tuhan, untuk
menyatu dengan Tuhan”. Itu bagus ; sebuah ideasi yang perfect. Akan tetapi,
sadarkan Anda bahwa Anda tak bisa mencapai sesuatu yang tak Anda ketahui,
yang tak terpikirkan dan tak terbayangkan Itu.

Kata ‘mencapai’ seringkali dikonotasikan terhadap sesuatu yang di luar sana,


bahkan boleh jadi yang amat sangat jauh di atas sana. Ini satu masalah besar
lainnya bagi para ‘pencari atau ‘pendamba’ Tuhan.

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 24


Kemana Anda akan mencari-Nya ? Mungkinkah Anda mencari, apalagi
menemukan, sesuatu yang tak Anda ketahui samasekali ? Jangan gegabah
saudaraku. Jangan terlalu muluk-muluk dulu; ketahuilah, kenalilah, pahamilah
diri Anda sendiri dulu dengan sebaik-baiknya. Setelah itulah kita akan
dipertemukan dengan-Nya.

54. Kemusnahan Eksternalitas

Ketika Anda merasakan diri Anda benar-benar lebur menyatu dengan alam,
bukan hanya sebagai bagian dari alam namun alam ini sendiri; Anda ada
tercerap dalam batin meditatif.

Di sini kata-kata kehilangan maknanya, oleh karenanyalah ia tak Anda perlukan


lagi. Di sini Andalah ruang itu, waktu itu, kondisi juga kausalitas itu. Anda tak lagi
melihat semua itu sebagai yang di luar sana. Bahkan kata ‘di luar’ pun menjadi
kehilangan maknanya bagi Anda. Di sini tak ada lagi eksternal maupun internal.
Bila semuanya internal, apakah ada yang disebut eksternal ? Pada saat yang
bersamaan, apakah kata “aku”, “kamu” dan “dia” masih punya makna, sejauh
mereka hanya rekaan dari batin yang terkondisi ?

55. Lebur Dalam Kesatuan

Seperti juga “aku” dan “kamu” lebur menjadi “kita”, “aku” dan “mereka” lebur
menjadi “kami”, demikianlah sang diri kecil nan semu lebur menyatu Sang Diri
Agung yang melingkupi segalanya, dalam Samadhi.

Dalam Yoga Sutra Patanjali, rangkaian proses menuju peleburan ini disebut
samyama. Ia merupakan suatu aliran berkelanjutan, sejak terjadinya
keterpusatan mental (dharana), aliran perhatian yang terus menerus dalam
kesadaran (dhyana) dan panunggalan itu sendiri (Samadhi). Manakala itu
tercapai, maka tercapai pulalah ‘tujuan’ meditasi Anda. Di sini ‘mencapai’
bertransformasi menjadi ‘menjadi’.

Itu bisa Anda awali dengan, apa yang disebut dengan, “fase penyederhanaan”.
Secara eksternal, ia bisa tampak sebagai hidup sederhana. Akan tetapi, secara
internal –dan justru inilah yang terpenting – ia merupakan penyederhanaan dari
segala bentuk keinginan. Keinginan-keinginan itulah yang melahirkan beraneka
bentuk pemikiran serta gelora perasaan. Pikiran tiada lain dari wadah beraneka
bentuk mental serupa itu; ia diperlukan karena ada yang mesti diwadahi, ada
yang perlu ditampung. Bersamaan dengan musnahnya keinginan, musnah
pulalah si pikiran. Dan fenomena kemusnahan inilah yang disebut manonasa.

Fase penyederhanaan ini diawali dengan berlatih menarik atau membalik arah
perhatian ke dalam, di mana ini juga secara otomatis berarti peniadaan kontak-

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 25


kontak indriyawi dan dicapainya kedamaian batin (shanti). Nah, dari sinilah
sebetulnya meditasi kita ini melangkah dengan penuh kesadaran, sebagai
landasannya.

56. Beberapa Ciri Kemajuan

Hasrat untuk mengetahui “apakah kita telah cukup maju dalam latihan kita
selama ini”, memang merupakan suatu hasrat yang wajar di kalangan penekun.
Agaknya telah dipahami, kemajuan dalam laku spiritual tidak selamanya hanya
diukur dari pengalaman-pengalaman supranatural seperti pendengaran tembus
(divyasrota), penglihatan tembus (divyachaksu), membaca pikiran orang atau
makhluk lain, maupun dari penguasaan siddhi-siddhi.

Kemajuan berupa perbaikan prilaku atau komposisi karakter dasar penekun


dibanding sebelumnya, seharusnya juga diposisikan sebagai indikator penting
dari kemajuannya. Aspek kemajuan ini, bukan saja terkait dengan si penekun
sendiri, namun ia juga berdampak baik bagi orang-orang di sekitarnya, terutama
yang berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung dengan si penekun.
Apa saja itu ?

Mereka antara lain: kondisi batin yang seimbang, kejujuran, sikap terbuka, rasa
belas kasihan, kepedulian dan tidak mementingkan diri sendiri, bebas dari atau
semakin menipisnya pretensi, keangkuhan, prasangka dan pola-pikir dogmatis,
menurut Sri Swami Shivapremananda, merupakan beberapa sifat baik yang
dicapai oleh mereka yang mengalami kemajuan dalam meditasi.

57. Memahami Karakter Si Pikiran

Kendati batin bukanlah semata-mata pikiran, namun dalam banyak aspek kerja
batiniah, pikiran ternyata sangat dominan. Oleh karenanyalah, pengendalian-
pikiran menjadi sadhana penting dalam meditasi.

Untuk bisa benar-benar mengendalikannya, sebetulnya kita diharus


“menjinakkannya” terlebih dahulu. Sedangkan untuk dapat “menjinakkannya”,
kita perlu “mengetahui” karakter-karakter dasarnya. Beberapa karakter dasarnya,
erat kaitannya dengan bentuk, jenis, serta intensitas dari keinginan-keinginan
kasar maupun halus yang biasa dipertontonkannya. Nah, semua inilah yang
perlu kita amati ke dalam. Lewat pemusatan perhatian ke dalam, kewaspadaan
serta kecermatan, mereka teramati dengan baik.

Dengan mengamatinya secara seksama, akan kita ketahui sendiri bahwa pikiran
merupakan aspek aktif dari batin kita. Ia mudah berubah, meloncat-loncat seperti
kera serta tak jarang berontak untuk menjadi liar. Sangat sulit untuk didiamkan
dengan paksa, ia malah berontak; maunya hanya berbuat sekehendak hatinya

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 26


saja. Nah, “mahluk” seperti inilah yang harus dikendalikan dalam meditasi.
Adakah yang seperti ini bisa Anda serahkan kepada orang lain untuk dikerjakan
bagi Anda ?

58. Penyikapan yang Tepat Terhadap Si Pikiran

Ada sebuah parabel yang sangat mengena dari Sri Swami Sivananda, dalam
berurusan dengan si pikiran ini. Kisahnya begini:

Seorang lelaki pergi berjalan-jalan dengan ‘doggie’nya yang cantik. Ia


sedemikian bangganya akan doggie-nya itu. Si doggie selalu berjalan di
depannya. Lelaki itu membawa payung. Untuk menunjukkan kepada orang-
orang bahwa doggie kesayangannya akan melakukan apa saja baginya, ia
menyuruh doggie-nya membawa dengan menggigit payungnya itu. Dengan
bangganya si doggie-pun berjalan di depan , seraya menggigit bagian tengah
dari payung itu.

Tiba-tiba hujan turun. Si lelaki pembangga itu perlu menggunakan payungnya.


Akan tetapi si doggie berada seratus yard di depannya. Ia berlari
menghampirinya. Si doggie tidak mengerti mengapa tuannya mengejar tidak
seperti biasanya; ia merasa takut, dan lari sekencang-kencangnya ke rumah. Al
hasil, si lelaki pembangga itu basah kuyup sekujur tubuhnya, sebelum sampai di
rumah dan memperoleh kembali payungnya itu.

Sang Jiva (baca jiwa), dibutakan oleh kebanggaan dan kebodohan dengan
mempercayakan kesadaran spritualnya pada si pikiran. Untuk beberapa lama si
pikiran tampak berjalan di depan dan membimbing Sang Jiva; dan kesadaran
ada dalam keadaan tergenggam kuat oleh si pikiran, namun untuk sementara
waktu Sang Jiva memang merasa cukup aman dalam kondisi ini. Ada “hujan
lebat” penderitaan dalam kehidupan duniawi ini disertai berbagai godaan objek-
objek sensasi. Sementara, si doggie-pikiran bersama dengan “payung”
kesadaran spiritualnya terpisah amat jauh dari Sang Jiva.

Bila saja payung-kesadaran spiritual tidak dipercayakan begitu saja pada si


pikiran (yang tiba-tiba tak benar-benar dapat dimanfaatkan sesuai keperluan),
sang Jiva mesti mampu melindungi dirinya dari hujan lebat berbagai penderitaan
dan cobaan-cobaan. Namun kini, dengan mempercayakan kesadaran pada
pikiran, semakin cepat ia berlari untuk berlindung padanya, semakin jauh pula
perlindungan yang diharapkan itu.

Oleh karenanya, bertekadlah untuk tidak sepenuhnya mempercayakan


kesehatan dan kesejahteraan spiritual Anda pada si pikiran, yang tidak dapat
diandalkan sepenuhnya. Ia paling tak dapat digantungi. Ia akan desersif saat
cobaan-cobaan datang mendera. Belajarlah hanya mempercayai Tuhan saja.
Jadikanlah Beliau sebagai pendukung Anda satu-satunya.

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 27


[Dipetik dan dialih-bahasakan dari PARABLES OF SIVANANDA]

59. Bukan Bagi Para Pemalas dan Pengecut

Mungkin sering kita dengar, dengan memasang ekspresi arif seseorang berkata:
”Serahkanlah kepada Tuhan; kita hanya mampu berbuat, namun beliaulah yang
menentukan.”

Ini memang terdengar arif, karana memang arif dan hanya di telinga yang cukup
arif. Namun bagi seorang pemalas, bagi yang selalu enggan dalam bertindak,
bagi yang guna tamas-nya sangat dominan; apa yang mungkin terjadi ?

Ingat, obat betapapun manjurnya, hanya akan bermanfaat bagi orang yang tepat,
dengan penyakit yang tepat dan diminum dalam dosis yang tepat pada
waktunya. Setiap obat tidak bagi semua jenis penyakit. Penyakit malas malah
menjadi tambah parah oleh sebentuk ungkapan arif tadi. Baginya, justru
diperlukan anjuran-anjuran yang rajasik yang bersifat rajasik, yang bersemangat,
yang ambisius, yang aktif dalam takaran tertentu. Ini dibutuhkan guna
merangsang kearifannya; inilah sesungguhnya pengejawantahan sifat sattvika
itu.

Meditasi bukan bagi para pemalas dan pengecut. Ia akan mengangkat siapa saja
dari kemalasan dan kepengecutan itu. Ia akan menyadarkan kita dari rasa-iba
dan pemanjaan-diri selama ini. Bagi yang terbiasa hidup mewah, kehidupan
sederhana, hemat dengan memanfaatkan apa yang ada boleh jadi tampak
sedemikian menakutkan. Ini tak kurang menakutkan dari mendengar auman
singa lapar baginya. Bagi mereka yang terbiasa sangat aktif, akan merasa
enggan sekedar untuk duduk dan mengamati yang terjadi di dalam, kendati
barang sejenak.

60. Masalah Berguru

Mungkin masih ada yang balik bertanya: “Lantas di mana peran Guru, bila
semuanya kita lakukan sendiri dan secara mandiri ?”. Peran beliau sangat
banyak dan sangat besar di sini. Dari mana kita mengetahui semua ini adalah
dari Guru; ini tak dapat kita pungkiri. Dari tak tahu menahu masalah meditasi,
menjadi tahu, bahkan telah mempraktekkannya; dan ini tentu karena adanya
peran penting Guru.

Pernah kita alami bersama, di mana hanya untuk mengucapkan satu dua patah-
katapun kita perlu belajar; kita berguru. Jangan pernah lupa itu; kita senantiasa
berguru dan berguru, belajar dan belajar seumur hidup. Dan ini adalah fakta
kehidupan kita yang tak mungkin kita pungkiri. Semua Guru, “tadinya” juga
berguru; terlepas apakah ia ingat akan hal itu atau tidak. Jadi kita tak perlu

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 28


sedemikian tinggi-hatinya dan munafik untuk mengatakan bahwa “ Saya berguru
langsung kepada Tuhan; oleh karenanya saya tak perlu Guru manusia”.
Percayalah, bila tiba saatnya nanti, Anda malah akan sangat malu bila
mengingat pernyataan Anda itu.

61. Disiplin Moral Yang Penuh Tanggung-Jawab

Kendati sepintas tampaknya acak saja, namun semesta raya ini penuh dengan
keteraturan, tertib dan oleh karenanya relatif seimbang. Setiap perubahan yang
terjadi, apapun bentuknya, menurut suatu aturan tertentu. Inilah yang dalam
agama Hindu disebut Rta, hukum semesta raya.

Dalam meditasi kita juga berkepentingan pada keteraturan dan keseimbangan


ini, sejauh kita memang menginginkan perubahan; dari kotor menjadi bersih, dari
penuh noda menjadi murni, dari buruk menjadi baik, dari kurang sempurna
menjadi sempurna, bahkan paripurna. Keteraturan demi penyelarasan dengan
keseimbangan semesta-raya juga sebentuk meditasi.

Sekali lagi, ia boleh jadi secara eksternal tampak acak dan seakan-akan tanpa
terikat pada satu aturan tertentu, namun sebetulnya tidak demikian. Seorang
meditator sangat teratur, sangat tertib di dalam, secara mental, di mana tanpa
ketertiban dan keteraturan itu ia tak mungkin bermeditasi. Segala ketertiban
justru bermula di sini. Dan inilah disiplin murni, dari dalam yang tanpa paksaan,
tanpa tekanan, tanpa perlu ditunjuk-tunjukkan. Hanya dari disiplin serupa inilah,
dari batin meditatif inilah, dapat diharapkan disiplin moral yang penuh rasa
tanggung-jawab.

62. Menyaksikan dan Menanggalkan Belenggu Kasat

Mungkin telah disinggung sebelumnya bahwa “belenggu pandangan-kasat”


sangat kuat pada kebanyakan manusia. Ketika kita meminta bukti misalnya,
maka bukti yang kita minta adalah bukti “nyata”, di mana apa yang kita
maksudkan dengan “nyata” adalah sesuatu yang “yang kasat-indriya”. Apa yang
disebut “nyata” selalu dikonotasikan pada “yang kasat-indriya”. Inilah belenggu
pandangan-kasat. Terpolakan dan terkondisi seperti ini, kita acapkali terkecoh,
tertipu oleh tampilan luar. Fenomena ini memastikan kesuksesan para pesulap,
illusionist, atau apapun sebutannya untuk itu.

Sedikit lebih maju lagi , lebih dalam dan lebih canggih lagi adalah “belenggu
kasat-pikir dan kasat-perasaan”. Yang begini, boleh jadi tidak lagi sedemikian
terbelenggunya pada tampakan luar, yang kasat-indriya tadi. Pembuktian
baginya, tidaklah harus berupa pembuktian yang kasat-indriya, namun harus
terpikirkan dan dapat dirasakan dengan apa yang disebutnya sebagai “akal-
sehat”, atau sejenisnya. Sebagai gandengannya, mereka ini juga sangat

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 29


mengagungkan-agungkan kecerdasan serta kepekaan emosinya, yang
sesungguhnya terbatas.

Ketika Anda mengarahkan perhatian Anda ke dalam (insight), dalam intensitas


tertentu, fenomena mental seperti ini akan tampak jelas bagi Anda.
Mengetahuinya secara langsung, lewat pengalaman meditasi Anda, akan
membuat Anda malu dan emoh terbelenggu dan terkondisi seperti itu. Sejak
inilah batin Anda tampak mulai meluas, mengembang hingga batas-batas yang
tak pernah Anda bayangkan sebelumnya.

63. Pengendalian Menyeluruh

Memahami keterbatasan indriya, daya-pikir, daya-nalar dan kecerdasan kita


dalam menyingkap – kendati hanya fenomena alam saja – akan meyadarkan kita
pada betapa pentingnya “mengendalikan” keliaran mereka. Ini juga berarti
“meyederhanakan” permasalahan praktis kita, dengan cara membatasi ruang-
gerak, kiprah serta dominasinya, dengan mana kemampuan-kemampuan laten
manusia yang lebih tinggi, lebih luhur, lebih halus namun lebih berdaya guna
dapat dikembangkan secara optimal.

Oleh karenanya, mengendalikan-pikiran sebagai laku spiritual mutlak perlu


didahului dan berjalan berdampingan dengan pengendalian-indriya. Indriya,
dalam Upanishad-Upanishad, seringkali diibaratkan sebagai kuda binal dan liar.
Untuk dapat dikendalikan dengan baik, ia perlu dilatih; dan agar bisa melatihnya,
ia harus ditundukkan terlebih dahulu, dijinakkan terlebih dahulu.

Jadi apa yang umumnya kita kenal sebagai “pengendalian-diri”, adalah


menyeluruh sifatnya; tidak sepotong-potong, fragmentaris atau parsial saja. Kita
tidak dapat serta-merta duduk bersila, dalam “asana” tertentu sembari
memejamkan mata, dan mengatakan: “Saya mau mengendalikan pikiran saya.
Saya harus menundukkan segala keinginan-keinginan rendah saya”. Tidak; tidak
serta-merta seperti itu. Si pikiran berikut berbagai bentuk dan ragam keinginan
malah akan menertawakan kekanak-kanakan kita itu.

64. Tak Kan Lari Gunung Dikejar

Sisi positif dari berpikir yang muluk-muluk dulu. Dengan demikian kita merasa
termotivasi, timbul semangat, gairah dan punya daya-juang. Oleh karenanyalah
diserukan: Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”. Padahal di sisi lain, ada
yang mengatakan: “Di atas langit, masih ada langit”. Berpikir muluk-muluk
kendati berfaedah, juga amat sangat rentan terhadap kekecewaan dan keputus-
asaan.

Berorientasi pada hasil, pada pencapaian menyebabkan hati kita tidak tenteram.

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 30


Bisa-bisa malah dibuatnya kita terburu-buru sehingga melakukan kecerobohan
demi kecerobohan, karena menjadi kurang awas. Ini hanya menjadikan kita lebih
ambisius, lebih rajasik dari sebelumnya; dan keserakahan (lobha)-pun akan
mengikuti dengan ketat. Pepatah “Tak kan lari gunung dikejar”, menemukan
relevansinya di sini.

Kalem sajalah; tekuni saja latihan sesuai alurnya. Tujuan akhir tak akan lari ke
mana-mana. Kegairah berlebihan dalam latihan umumnya tidak bertahan lama,
malah sebaliknya cenderung mengundang frustasi. “Jangan melihat dan hanya
berorientasi pada hasil”, kata Sri Krishna pada Arjuna, “laksanakan saja sebaik-
baiknya. Jangan risaukan semua itu; Aku tetap disampingmu”.

Bagi Arjuna yang telah tunduk-sujud di kaki Sang Guru Sejati dan senantiasa
dalam dampingan dan bimbingan-Nya, keberhasilan dan kemenangan
sebetulnya bukanlah sesuatu yang perlu dirisaukan lagi. Ia tak akan salah
sasaran; ia tak akan tersesat di dalam perjalanannya. Sang Kusir Ilahi tidak akan
membiarkannya tersesat.

65. Menemukan Kembali Dalam Kesederhanaan

Terkadang kita menjadi sedemikian sulitnya untuk sekedar menjadi sederhana,


untuk berpikir sederhana, untuk hidup sederhana. Kita terlanjur terbiasa dengan
kerumitan, yang “wah”, yang canggih, kendati sebetulnya kita tidak butuh yang
seperti itu. Tak jarang pula, kita malah takut untuk menjadi sederhana. Kenapa ?
Karena kita terlanjur beranggapan bahwa yang sederhana itu nista, dengan
nestapa, dengan kesengsaraan.

Hidup berorientasi pada kebutuhan adalah hidup sederhana. Kebanyakan dari


kita telah terlanjur bergerak terlalu jauh dari kebutuhan, dan menyongsong serta
mengejar-ngejar berbagai keinginan. Kita telah menobatkan berbagai keinginan
sebagai kebutuhan. Inilah biang-kerok berbagai problema, kerumitan, persoalan
yang njelimet, yang mau tak mau harus dihadapi sebagai konsekwensinya.

Satu lagi kekeliruan kita adalah, menyamakan begitu saja yang sederhana
dengan yang sepele, yang remeh-remeh. Padahal tidak demikian.
Kesederhanaan penuh dengan kebercukupan (santosham) yang sangat
mententramkan, yang mendamaikan berbagai gelora perasaan dan agitasi dan
agresi si pikiran (prashanti). Di sinilah kedamaian dan kebahagiaan kita
disembunyikan. Meditasi membantu kita melihatnya, menyingkap dan
menemukannya kembali.

66. Meditasi Universal

Aspek yang lebih tinggi dari meditasi adalah prinsip “Vaishvanara Vidya”.

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 31


Meditasi-meditasi terpisah seperti yang disebutkan pada konsepsi lain yang ada
disebut sebagai kurang sempurna oleh seorang Guru Besar, Sang Prabu
Ashvapati, yang dituturkan dalam Chhandogya Upanishad.

Bila Anda bermeditasi pada objek tertentu apapun, Anda diharuskan


mengesampingkan sesuatu yang lainnya. Anda tak dapat memikirkan suatu hal
dengan tanpa mengesampingkan hal lainnya. Pemikiran bahwa sesuatu telah
terkesampingkan --- Anda harus berhati-hati mendengarkan ini --- dari sebentuk
pemikiran yang sedang dikonsentrasikan, merupakan sebentuk pemikiran juga
adanya. Penyingkiran pemikiran tentang suatu objek yang berbeda dari
pemikiran tentang objek yang sedang dikonsentrasikan tidaklah dimungkinkan;
oleh karena pemikiran tentang sesuatu yang dikesampingkan itu akan tetap
tinggal, sedangkan pada saat yang bersamaan, perhatian ditujukan untuk tidak
memikirkannya. Fenomena ini sama seperti kisah dimana seseorang
memberitahu Anda; ‘Saat minum susu, janganlah memikirkan kera’. Lalu apa
yang terjadi ? Pada setiap teguk susu yang terminum, hanya kera sajalah yang
muncul di benak Anda. (Ini mungkin agak rumit bila sekedar dipikirkan, namun
akan dimengerti maksudnya bila diselami langsung – pen.)

Tidak ada sesuatu pun dalam riwayat semesta, di mana sesuatu dapat
sepenuhnya dipisahkan dari sesuatu yang lainnya, Gagasan pengesampingan
merupakan gagasan sia-sia, karena dalam mengesampingkan sesuatu yang
lainnya, pikiran juga harus hadir dalam objek yang di kesampingkan itu. Inilah
“tipuan “ yang dimainkan oleh si pikiran.

Ini pulalah yang menjadi sebab mengapa Sang Guru Besar Ashvapati
mengingatkan ke-enam praktisi yang menemui beliau, untuk mempelajari seni
bermeditasi pada Sang Atman, yang belum sempurna mereka lakukan. Beliau
bertanya, ‘Wahai para praktisi besar! Pada apa Anda sekalian bermeditasi?’
Mereka memberi jawaban yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya.
Beraneka, berbeda-beda, objek-objek sepenuhnya terpisah-pisah merupakan
meditasi mereka. Sang raja lalu berkata, ‘Anda sekalian melakukan dua jenis
kesalahan disini: pertama adalah Anda memeditasikan sesuatu yang ada ‘di luar’
Anda; yang kedua adalah (adanya anggapan bahwa) yang dimeditasikan itu
‘hanya’ berada di suatu tempat tertentu saja’.

Bahwa objek konsentrasi tidak bisa hanya ada pada satu tempat saja, tampak
jelas melalui fakta bahwa, pikiran tidak dapat mengesampingkan apapun dari
objek yang dimeditasikannya. Bilamana mengesampingkan sesuatu tidaklah
dimungkinkan karena pengesampingan melibatkan kesadaran
mengesampingkan itu sendiri, maka satu-satunya jalan untuk mencapai sukses
dalam konsentrasi adalah memasukkan segala sesuatunya, tanpa
mengecualikan apapun.

Bilamana sebentuk gagasan yang merupakan sesuatu yang di luar objek


meditasi muncul selama bermeditasi, maka bawa jugalah objek itu ke dalam titik

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 32


konsentrasi. ‘Saya sedang memeditasikan pisang dan mengesampingkan jeruk’,
begitu misalnya; maka bawalah juga jeruk itu ke dalam pisang dan biarkan
mereka duduk bersama di sana; kini pisang dan jeruk akan menjadi ‘sebuah’
buah saja. Bila kemudian Anda ternyata melihat nangka terkesampingkan, maka
bawa jugalah nangka itu! Kapanpun Anda merasakan bahwa ada sesuatu yang
terkesampingkan, bawalah sesuatu itu kembali pada titik konsentrasi; dengan
demikian, objek konsentrasi Anda menjadi semakin meluas dan meluas.

Dengan demikian, meditasi Anda menjadi Meditasi Kosmik, oleh karena tak ada
yang dikecualikannnya, ujar Raja Besar itu. ‘Jangan hanya memeditasikan satu
hal tertentu saja; oleh karena bila Anda melakukannya, pada saat bersamaan
Anda akan mengecualikan yang lainnya. Apa yang Anda kecualikan –secara
salah—itu justru akan menganggu meditasi Anda’. Dunia dibuat dengan cara
tertentu di mana tak ada sesuatupun terkecualikan. Anda tidak dapat berkata,
‘Saya hanya menghendaki yang ini, dan bukan yang itu’; Anda tidak bisa hanya
menginginkan satu hal, tanpa interferensi dari yang lainnya, tanpa interferensi
dari yang tak Anda inginkan.

Sangat berbeda seni olah-batin ini bukan ? Satu pertanyaan dijawab oleh Sang
Raja dengan: ‘Jangan pernah berpikir bahwa objek dari meditasi Anda hanya
berada pada satu tempat saja’; oleh karena, bila ia ada di suatu tempat saja,
maka akan ada yang lainnya di luar objek meditasi itu, di mana ‘yang di luar’
tidaklah dimungkinkan secara psikologis dalam berpikir menyeluruh, yang bukan
sebagian-sebagian.

Jadi segala sesuatu yang mungkin terpikirkan menjadi objek meditasi, kendati
melampaui langit sekalipun, batin akan tetap dapat menjangkaunya. Anda akan
membawa batin melampaui batas konsepsi, dengan cara, bilamana ia
merasakan bahwa masih ada sesuatu di luar, bawalah serta yang di luar itu ke
dalamnya. Dengan demikian ada sebentuk ketercakupan di dalam. Beginilah
caranya agar anggapan bahwa lokasi objek hanya ada pada satu tempat saja
terhindari.

Yang kedua: ia tak ada di luar; oleh karena bilamana objek itu yang dipikirkan itu
ada di dalam pikiran Anda, maka ia tak lagi dapat disebut sebagai objek, ia
menjadi bahagian dari subjektivitas Anda. Dalam bermeditasi, tak seorangpun
ingin punya sesuatu di dalam pikiran, sehingga sesuatu itupun harus ada di luar.
Akan tetapi, sebetulnya tak ada objek yang sepenuhnya di luar pikiran. Oleh
karena, bila sesuatu sepenuhnya di luar pikiran, maka seseorang bahkan tidak
akan menyadarinya ada di luar.

Cerapan terhadap objek ‘eksternal’ memang perlu, sejauh konsep eksternalitas-


pun bisa terbit saat bermeditasi. Bilamana perhatian mengarah ke luar, maka
dengan sendirinya pikiran akan mencerap objek-objek di luar. Dengan
tercerapnya objek luar itu, maka keberadaan objek itu sebagai sesuatu yang di
luar (the outsideness)-pun menjadi sirna ia (berubah status) menjadi bahagian

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 33


dari yang di dalam (the sideness).

Nah, dengan demikian Anda-pun akan menyentuh kosmikalitas dari segala


sesuatu. Demikianlah Meditasi Universal, ajaran sangat mendalam kepada para
praktisi tersebut, yang diperkenalkan oleh Prabu Ashvapati.

(Disadur dari sebagian kitab An Analysis of the Brahma Sutra; karya Sri Swami
Krishnananda Saraswati)

67. Jadi Cahaya Bagi Diri Sendiri

Waspada adalah memperhatikan aktivitas jasmaniah Anda, cara Anda berjalan,


cara Anda duduk, gerakan tangan-tangan Anda; juga termasuk di dalamnya
untuk mendengarkan kata-kata Anda, untuk mengobservasi semua pemikiran-
pemikiran Anda, semua emosi dan reaksi-reaksi Anda. Secara keseluruhan, ia
mencakup kewaspadaan terhadap ketidak-sadaran, berikut tradisi-tradisinya,
pengetahuan instingtifnya, serta penderitaan yang sangat besar yang
diakumulasikannya –bukan saja penderitaan pribadi-pribadi, namun penderitaan
umat manusia. Anda harus mewaspadai semua itu; dan Anda tak kan pernah
benar-benar waspada terhadapnya bila Anda masih saja hanya menghakimi,
mengevaluasi, berkata, Ini baik dan itu buruk, ini akan saya simpan dan itu saya
tolak,’ semua itu hanya membuat batin Anda jadi tumpul, tidak sensitif.

Dari kewaspadaan muncul perhatian. Perhatian mengalir dari kewaspadaan, bila


dalam kewaspadaan itu tidak ada pilihan, tidak ada pilihan pribadi, tidak ada
mengalami…kecuali semata-mata mengobservasi. Dan, untuk mengobservasi,
untuk mengamati, dalam batin Anda mesti tersedia ruang yang luas. Batin yang
terjebak dalam ambisi, keserakahan, kedengkian dan kebencian, dalam mabuk
kesenangan serta penikmatan bagi diri sendiri, yang selalu disertai oleh
penderitaan, kesedihan, kekecewaan, dan kepedihan yang mendalam yang tiada
terelakkan – batin serupa itu tak memiliki ruang yang cukup guna mengamati,
dan untuk sepenuhnya hadir.

Ia hiruk pikuk bersama keinginan-keinginan sendiri, berputar-putar dalam


pusaran-pusaran air reaksinya sendiri. Anda tak mungkin hadir sepenuhnya
bilamana batin Anda tidak sensitive, tajan , bernalar, logis, waras, sehat, tanpa
bayang-bayang tipis neurotisisme. Batin harus mengeksplorasi setiap sudut dari
dirinya sendiri, tanpa meninggalkan satu titikpun tak tersingkap, sebab bila satu
sudut gelappun dalam batin manusia yang takut dieksplorasi, daripadanya akan
memancar ilusi…..

Hanya dalam kondisi penuh perhatian inilah Anda dapat jadi cahaya bagi diri
Anda sendiri, dan setelah itulah setiap tindakan dalam kehidupan Anda sehari-
hari memancar dari cahaya itu setiap tindakan – apakah Anda mengerjakan
tugas Anda memasak, berjalan-jalan, menambal baju, atau apa yang kamu

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 34


kehendaki. Seluruh proses inilah meditasi…

[Dari: The Collected Works of J. Krishnamurti Vol. 13. Judul aslinya: ‘You Can Be
lIght Unto Yourself”]

68. Melangkah Dengan Ketetapan Hati

Banyak yang merisaukan kemajuannya dalam meditasi. Mereka bertanya-tanya:


Apakah saya sudah maju dalam meditasi saya ? Mengapa meditasi saya tidak
kian maju padahal telah berlatih lama ? Apakah metode ini efektif, dan lain
sebagainya.

Kerisauan dan pertanyaan-pertanyaan seperti ini sebetulnya tidak perlu. Mereka


hanya mengundang keresahan demi keresahan, yang malahan bisa
menyimpangkan Anda dari jalur. Selama Anda berjalan pada jalurnya dan tetap
melangkah, Anda pasti mengalami kemajuan. Justru yang perlu sering-sering
dipertanyakan adalah: Apakah saya masih berjalan dalam jalur semestinya ?
Adakah saya telah mengalih atau teralihkan dari arah yang dituju?

Pertanyaan seperti ini jauh lebih bermanfaat bagi kemajuan Anda ketimbang
yang sebelumnya, sejauh mereka akan mengingatkan Anda atas keteledoran,
dari penyimpangan atau pembiasan yang mungkin terjadi tanpa disengaja,
sehingga terjadi pengalihan tujuan secara sepihak ditengah jalan karena digoda
oleh “yang menyenangkan”. Di sini dampingan seorang Guru menjadi sangat
penting.

69. Rileksasi Bukan Meditasi

Dalam ketetapan-hati yang mantap tak ada lagi konflik karena keraguan. Batin
yang seperti ini adalah batin yang cukup tenang untuk memulai meditasi.
Ketetapan-hati tak harus dikonotasikan dengan atau disertai oleh semangat yang
menggebu-gebu. Dalam batin yang tenang, semangat dalam porsinya yang pas
tak perlu lagi diundang untuk hadir. Ia akan menyertainya. Tak perlu ditentram-
tentramkan lagi, sejauh ketenangan telah menjadi sifatnya.

Rileksasi mungkin saja bisa membantu mengawalinya. Hanya saja, rileksasi


bukanlah meditasi. Sebagai landasan awal dan hingga intensitas tertentu, ia
memang bermanfaat pada awalnya saja. Namun ia acapkali malah dengan
mudah menyebabkan Anda jatuh tertidur. Mengandalkan rileksasi, apalagi dalam
kondisi tubuh yang kelelahan, hanya akan menjadikan meditasi Anda tidak tahan
lama. Sebaliknya, justru batin meditatiflah yang akan selalu rileks.

70. Tak Perlu Aturan

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 35


Ketika Anda awas, waspada, penuh perhatian, peka, tajam. Anda sedang
bermeditasi. Batin meditatif bukanlah batin tumpul yang lengah; yang
diterbangkan oleh berjuta angan-angan dan dihantui oleh kesan-kesan maupun
dibuai oleh citra muluk-muluk. Ia sangat sederhana, ia polos, tanpa warna,
transparan. Karena itulah keasliannya.

Batin yang meditatif adalah batin telanjang, yang bebas dari berbagai kekang
dan batasan serta belenggu pemikiran dan perasaan. Anda tak dapat
mengharapkan pretensi dan penghakiman ataupun sekedar pewarnaan apapun
pada batin serupa ini. Manakala Anda ada didalamnya, kausalitas kehilangan
daya-aturnya, sejauh tak ada yang perlu diatur lagi di sana. Yang tidak teraturlah
yang perlu diatur, yang belum tertatalah yang perlu ditata bukan ?

70 dari 108 Tips Renungan Meditasi 36