Anda di halaman 1dari 2

PASAL 34 UU RUMAH SAKIT MELANGGAR HAK ASASI-MELANGGAR UUD 45 Oleh: Nurdiansyah* Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam

hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Undang-undang dasar (UUD) 1945 pasal 27 menjadi sebuah landasan dasar hukum negara kita, yang menerjemahkan bahwa semua warga negara Indonesia berhak mendapatkan pekerjaannya tanpa memandang latar belakang profesi apapun. Rumah sakit sebagai pelayanan paripurna sebuah institusi kesehatan, telah memiliki undang-undang. Undang-undang (UU) nomor 44 tahun 2009 tentang rumah sakit. UU ini menjadi landasan dan acuan segala pemegang kebijakan di Indonesia untuk mengelola rumah sakit. Ada pasal terkait dengan UU rumah sakit yang sedikit orang tahu peraturan tersebut, mungkin kajian pasal ini sering didengar bahkan didiskusikan oleh praktisi kesehatan masyarakat. Pasal tersebut sebenarnya merugikan semua tenaga kesehatan lainnya ataupun profesi lain yang mampu secara kepemimpinan dan manajerial untuk memimpin rumah sakit. Pasal 34 ayat 1 dalam UU rumah sakit yang menyatakan bahwa keharusan kepala rumah sakit adalah seorang tenaga medis. Bunyi lengkap ayat tersebut adalah Kepala Rumah Sakit harus seorang tenaga medis yang mempunyai kemampuan dan keahlian dibidang perumahsakitan. Perlu kita garis bawahi adalah kata tenaga medis. Pertanyaannya, apakah tenaga medis itu? Apakah apoteker seorang tenaga medis? Apakah perawat/Ners seorang tenaga medis? ahli kesehatan masyarakat layakkah disebut tenaga medis? Jawabannya pada peraturan pemerintah (PP) nomor 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan. Pada bab 2 tentang jenis tenaga kesehatan pasal 2 poin 2, bahwa tenaga medis meliputi dokter dan dokter gigi. Pada PP tersebut, tenaga kesehatan dibagi menjadi beberapa yaitu tenaga medis, tenaga kefarmasian, tenaga keperawatan, tenaga kesehatan masyarakat dan lain-lain. Hal itu menafsirkan bahwa farmasi, perawat, bidan, ahli kesehatan masyarakat merupakan non medis. Dalam UU rumah sakit disebutkan bahwa rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna, yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat (pasal 1). Agar

pelayanan berjalan paripurna maka rumah sakit tidak hanya melakukan pelayanan kesehatan sampai ke tingkat yang canggih, tetapi juga pendidikan/pelatihan SDM, penelitian, dan pengembangan. Pada dasarnya tugas seorang direktur dalam hal ini adalah tugas leader dan manajer agar semua kegiatan dapat berjalan dengan baik. Tugas pemimpin rumah sakit dalam hal ini harus memelihara komunikasi dengan puluhan tenaga kesehatan yang ada. Jadi tenaga medis hanyalah bagian dari tenaga kesehatan yang ada, pelayanan medis pun akhirnya hanya merupakan bagian dari seluruh kegiatan yang ada. Seharuskah direktur rumah sakit dari medis saja (dokter ataupun dokter gigi)? Dianggap kemana profesi lain, atau dianggap tidak mampukah profesi lain dalam hal kepemimpinan dan manajerial rumah sakit? Kemudian untuk apa diadakannya ahli perumahsakitan (magister rumah sakit) yang berada pada ruang lingkup fakultas kesehatan masyarakat kemudian dibuka tidak hanya untuk tenaga medis? Semestinya jika melihat UU tersebut, program magister rumah sakit berarti ada di fakultas kedokteran dan untuk tenaga medis saja. UU rumah sakit pasal 34 hanya memutuskan harapan profesi lain yang secara kepemimpinan dan manajerial mampu memimpin rumah sakit, bahkan jika kembali pada UUD 1945 pasal 27, pasal tersebut telah melanggar UUD yaitu hak asasi seseorang untuk layak mendapatkan pekerjaan maupun kedudukan. Pada peraturan menteri kesehatan nomor 971 tentang standar kompetensi pejabat struktural kesehatan, bagian kedua tentang kompetensi direktur pasal 2 ayat 2 berbunyi Direktur Rumah Sakit telah mengikuti pelatihan perumahsakitan meliputi
Kepemimpinan, Kewirausahaan, Rencana Strategis Bisnis, Rencana Aksi Strategis, Rencana Implementasi dan Rencana Tahunan, Tatakelola Rumah Sakit, Standar Pelayanan Minimal, Sistem Akuntabilitas, Sistem Remunerasi Rumah Sakit, Pengelolaan Sumber Daya Manusia .

Kompetensi ini sebenarnya mampu dipelajari oleh profesi lain, tidak harus tenaga medis. Maka dari itu, jika pasal 34 UU rumah sakit ini sudah bertentangan dengan UUD 1945 maka perlu adanya judicial review terhadap pasal tersebut oleh pihak berwenang, yaitu mahkamah konstitusi. Jika terus dibiarkan pasal tersebut dengan bunyi seperti itu, berarti negara terus melanggar hak asasi seseorang. *Koordinator Forum Mahasiswa Peduli Kesehatan Tangerang Selatan