Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH MANAJEMEN MUTU TERPADU SISTEM MANAJEMEN KUALITAS INTERNATIONAL

DOSEN PENGAJAR : Nur Hasanah S.E. MSc

DISUSUN OLEH KELOMPOK 11 1. M.KHALDRA JAYUSMAN (C1B008129) 2. M.RIVAN (C1B008136) 3. NANDA REGEN (C1B008137)

FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN UNIVERSITAS JAMBI 2012

Sistem Manajemen Kualitas Internasional

Pengertian Sistem Manajemen Kualitas Menurut Gaspersz (2001), Sistem manajemen kualitas (QMS) merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktek-praktek standar untuk manajemen sistem yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk (barang dan atau jasa) terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu. Kebutuhan atau persyaratan itu ditentukan atau dispesifikasikan olehpelanggan dan organisasi. Sistem manajemen kualitas mendefinisikan bagaimana organisasi menerapkan praktekpraktek manajemen kualitas secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan pasar. Terdapat beberapa karakteristik umum dari sistem manajemen kualitas, antara lain sebagai berikut (Gaspersz, 2001, pp.10-11):

Sistem manajemen kualitas mencakup suatu lingkup yang luas dari aktivitas-aktivitas dalam organisasi modern. Kualitas dapat didefinisikan melalui lima pendekatan utama, antara lain sebagai berikut: transcendent quality yaitu suatu kondisi ideal menuju keunggulan; product based quality yaitu suatu atribut produk yang memenuhi kualitas; user based quality yaitu kesesuaian atau ketepatan dalam penggunaan produk; manufacturing based qualityyaitu kesesuaian terhadap persyaratan-

persyaratan standar; value based quality yaitu derajat keunggulan pada tingkat harga yang kompetitif.

Sistem manajemen kualitas berfokus pada konsistensi dari proses kerja. Hal ini sering mencakup beberapa tingkat dokumentasi terhadap standar-standar kerja.

Sistem manajemen kualitas berlandaskan pada pencegahan kesalahan sehingga bersifat proaktif, bukan pada deteksi kesalahan yang bersifat reaktif. Patut diakui pula bahwa banyak sistem manajemen kualitas tidak akan efektif sepenuhnya pada pencegahan semata, sehingga sistem manajemen kualitas juga harus berlandaskan pada tindakan korektif terhadap masalah-masalah yang ditemukan. Dalam kaitan dengan hal ini, sistem manajemen kualitas merupakan suatu closed loop system yang mencakup deteksi, umpan balik, dan korelasi. Proporsi terbesar harus diarahkan pada pencegahan kesalahan sejak tahap awal.

Sistem manajemen kualitas mencakup elemen-elemen: tujuan (objectives), pelanggan (customer), hasil-hasil (outputs), proses-proses (processes), masukan-masukan (inputs), pemasok (suppliers), dan pengukuran untuk umpan balik dan umpan maju (measurement for feedback and feedforward).

Tahapan Penerapan Sistem manajemen Kualitas Terdapat beberapa tahapan dalam menerapkan suatu sistem manajemen kualitas, antara lain sebagai berikut (Gaspersz, 2001, pp. 11-17):

1. Memutuskan untuk mengadopsi suatu standar sistem manajemen mutu yang akan diterapkan. 2. Menetapkan suatu komitmen pada tingkat pemimpin senior dari organisasi 3. Menetapkan suatu kelompok kerja atau komite pengaruh yang terdiri dari manajer-manajer senior. 4. Menugaskan wakil manajemen (management representative). 5. Menetapkan tujuan-tujuan kualitas dan implementasi sistem 6. Meninjau ulang sistem manajemen kualitas yang sekarang. 7. Mendefinisikan struktur organisasi dan tanggung jawab. 8. menciptakan kesadaran kualitas (quality awareness) pada semua tingkat dalam organisasi. 9. Mengembangkan peninjauan ulang dari sistem manajemen kualitas dalam manual kualitas (buku panduan). 10. Menyepakati bahwa fungsi-fungsi dan aktivitas dikendalikan oleh prosedur-prosedur. 11. Mendokumentasikan aktivitas terperinci dalam prosedur operasional atau prosedur terperinci. 12. Memperkenalkan dokumentasi. 13. Menetapkan partisipasi karyawan dan pelatihan dalam sistem. 14. Meninjau ulang dan melakukan audit sistem manajemen kualitas.

HAMBATAN DALAM PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN KUALITAS


Kebanyakan program perbaikan kualitas gagal karena satu dari dua alasan berikut : program program itu memiliki sistem manajemen kualitas tetapi tiadakeinginan besar dari manajemn puncak untuk menerapkannya, atau manajemen puncak memiliki keinginan untuk menerapkannya tetapi tiada sistem manajemen kualitas padaoraganisasi tersebut. Berdasarkan studi dari berbagai pustaka manajemen kualitas,Masters (1996) mengemukakan hambatan pengembangan sistem manajemen kualitassebagai berikut: 1.Ketiadaan komitmen dari manajemen. 2.Ketiadaan pengetahuan atau kekurangpahaman tentang manajemen kualitas. 3.Ketidakmampuan mengubah kultur perusahaan 4.Ketidaktepatan perencanaan kualitas. 5.Ketiadaan pendidikan dan pelatihan berkelanjutan. 6.Ketidakmampuan membangun suatu learning organization yang memberikan perbaikan terus menerus. 7.Ketidakcocokan struktur organisasi serta departemen dan individu yang terisolasi. 8.Ketidakcukupan sumber daya. 9.Ketidaktepatan sistem penghargaan dan balas jasa bagi karyawan.

Ketatnya persaingan di jaman globalisasi menyebabkan suatu perusahaan saling berlomba untuk mendapatkan konsumen sebanyak mungkin dengan berbagai macam sumber daya yang dimiliki, pada sisi lain tidak dapat dipungkiri bahwa konsumen semakin selektif dalam memilih sebuah produkbarang/jasa yang diminati. Tidak hanya cukup dengan memberikan kualitas pelayanan terbaik dalam mencapai apa yang disebut dengan customer satisfaction akan tetapi kualitas barang/jasa yang ditawarkan juga harus mampu memberikan jaminan mutu, sehingga mau tidak mau agar mampu memenuhi tuntukan konsumen tersebut penerapan Sistem Manajemen Kualitas rupa-rupanya tidak dapat dihindari lagi.

Menurut beberapa ahli, definisi kualitas adalah: 1. Philip B. Crosby Kualitas adalah kesesuaian terhadap persyaratan (conformance to requirement of spesification), seperti jam yang tahan air atau sepatu yang tahan lama. Pendekatan Crosby adalah proses top-down. 2. W. Edwards Deming Kualitas adalah pemecahan masalah untuk mencapai penyempurnaan terus-menerus. Pendekatan Deming adalah bottom-up. 3. Joseph M. Juran Kualitas adalah kesesuaian dengan penggunaan (fitness for use), seperti sepatu yang dirancang untuk olahraga. Pendekatan Juran adalah orientasi pada pemenuhan harapan pelanggan. 4. Westinghouse Kualitas adalah performa kerja yang dapat memenuhi keinginan customer secara cepat dan tepat. Kualitas menurut ISO 9000:2000 adalah derajat atau tingkat karakteristik yang melekat pada produk yang mencukupi persyaratan atau keinginan. Secara konvensional Kualitas biasanya menggambarkan karakteristik langsung suatu produk, seperti: penampilan, keandalan, kemudahan penggunaan, estetika, dan sebagainya. Definisi strategik menyatakan bahwa kualitas adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan. (Gasperz, p.4)

ISO 9001
ISO 9001 adalah sebuah aturan tertulis yang mensyaratkan agar sebuah organisasi (perusahaan) Menerapkan aturan-aturan baku yang standard untuk memenuhi kepuasan pelanggan Yang menjadi fokus dalam System Manajemen Mutu - Quality Management System ISO 9001 adalah system manajemen atau pengelolaan mutu, yg harus mengacu kepadastandard internasional ISO 9001 yang dikeluarkan oleh badan standarisasi internasional atauInternational Organization for Standardization. ISO sendiri bukan singkatan dariInternational Standardization Organization. ISO berasal dari bahasa Yunani "Isos" yang berarti sama atau seragam.

SEJARAH Pada tahun 1987 Committee of the International Organization for Standardization (IOS) yang berkantor pusat di Jenewa, Swiss, mengeluarkan Standard Mutu International. Standard ini adalah ISO 9000 series yang termasuk di dalamnya adalah ISO 9001, 9002, 9003 dan 9004. Standard ini kemudian direvisi pada tahun 1994 dan setelah 6 tahun direvisi kembali menjadi IS0 9001 versi 2008 ISO 9001:2008 adalah Standard Sistem Manajemen Mutu yang telah mendapat pengakuan dari banyak negara di dunia seperti: semua negara Uni Eropa, Amerika, Jepang, Australia, ASEAN, dan di lebih 100 negara.

PENGERTIAN ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 adalah Sistem Manajemen Mutu, yaitu : Sistem Manajemen untuk mengarahkan dan mengontrol organisasi berkaitan dengan mutu .

DEFINISI MUTU MENURUT ISO 9000:2008 Mutu (Quality) adalah : Derajat yang dicapai oleh karakteristik yang inheren dalam memenuhi persyaratan (Degree to which a set of inherent characteristics fulfils requirements)

Jadi dapat dikatakan bahwa mutu itu bukan hanya berhubungan dengan mutu produk saja, tetapi juga dengan persyaratan lain seperti: Ketepatan pengiriman , biaya yang rendah, pelayanan yang memuaskan pelanggan dan bisa dipenuhinya peraturan pemerintah yang berhubungan dengan produk yang dipasarkan. MANFAAT PENERAPAN ISO 9000 Menghadapi era perdagangan bebas (AFTA) 2003, perusahaan sebaiknya sudah

menerapkan System Manajemen Mutu agar membantu perusahaan dalam meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan melalui penyediaan jaminan mutu yang lebih baik. Nilai kompetisi dan image perusahaan semakin meningkat dengan sertifikasi ISO 9001:2008 Penerapan ISO 9001:2008 akan meningkatkan produktivitas, efisiensi, efektifitas

operasional dan mengurangi biaya yang ditimbulkan barang cacat (reject) atau barang bermutu rendah dan limbah. Membuat sistem kerja dalam suatu perusahaan menjadi standar kerja yang terdokumentasi dan mempunyai aturan kerja yang baik sehingga memudahkan dalam pengendalian. Dapat berfungsi sebagai standar kerja untuk melatih karyawan yang baru Menjamin bahwa proses yang dilaksanakan sesuai dengan sistem manajemen mutu yang ditetapkan Akan memudahkan Top Management dalam pencapaian target karena sudah

dipersiapkannya target yang terukur dan rencana pencapaiannya Meningkatkan semangat dan moral karyawan karena adanya adanya kejelasan tugas dan wewenang (Job Description) dan hubungan antar bagian yang terkait sehingga karyawan dapat bekerja dengan efisien dan efektif. Dapat mengarahkan karyawan agar berwawasan Mutu dalam memenuhi permintaan pelanggan, baik internal maupun eksternal. . DELAPAN PRINSIP MANAJEMEN MUTU Sebagai dasar untuk menerapkan ISO 9001:2008 agar efektif dan efisien, sebaiknya perusahaan mengikuti 8 Prinsip Manajemen Mutu. Prinsip ini bukan harus diterapkan sekaligus, tetapi secara bertahap selagi perusahaan masih eksis dalam menjalankan bisnisnya.

Delapan Prinsip ini merupakan aturan-aturan dasar untuk memimpin dan melaksanakan suatu organisasi. (Fundamental rules for leading and operating an organization) 1. Customer Focus (Fokus kepada pelanggan) 2. Leadership (Kepemimpinan) 3. Involvement of People (Keterlibatan orang-orang / karyawan) 4. Process Approach (Pendekatan proses) 5. System Approach to Management (Pendekatan sistem untuk manajemen) 6. Continual Improvement (Perbaikan terus menerus) 7. Factual approach to decision making (Pendekatan faktual untuk pembuatan keputusan) 8. Mutually beneficial supplier relationships (Hubungan dengan pemasok saling menguntungkan)

Sebagai sebuah system manajemen formal / baku, ISO 9001 mengatur system dokumentasi organisasi terkait manajemen mutunya. Dokumen dalam system management mutu ISO 9001biasanya berisi kebijakan mutu (Quality Policy), sasaran mutu (Quality Objectives), danpedoman mutu (Quality Manual). Sedangkan system manajemen mutu itu sendiri mencakup antara lain:

Customer contracts Rekrutmen dan pelatihan karyawan Design dan pengembangan produk dan jasa Produksi dan pengiriman produk. Pemilihan pemasok (Suppliers) Tanggung-jawab Manajemen. Internal audit mutu. Pengukuran dan pemantauan Perbaikan berkesinambungan Tindakan perbaikan dan pencegahan

Mutu, dalam System Manajemen Mutu - Quality Management System ISO 9001, bisa mencakup kualitas produk (Q), biaya atau Cost (C), pengiriman atau Delivey (D), keamanan / keselamatan atau safety (S) dan morale (M) atau biasa disingkat dengan QCDSM.

System Manajemen Mutu - Quality Management System ISO 9001 menggunakan pendekatan proses (Process Approach), pendekatan system (system approach) dan juga menggunakan pola Plan-Do-Check-Action (PDCA) - Continual Improvement.

MALCOLM BALDRIGE NATIONAL CRITERIA FOR PERFORMANCE EXCELLENCE

Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellence atau Kritreia Malcolm Baldrige untuk Keungulan Kinerja pada dasarnya adalah sejumlah pertanyaan tentang aspek-aspek fundamentalpengelolaan organisasi/perusahaan dalam konteks pencapaian kinerja

unggul. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dikelompokkan kedalam 7 Katagori dan Profil Organisasi. Ketujuh katagoritersebut adalah sbb: 1.Kepemimpinan 2.Perencanaan Stratgeis 3.Fokus Pada Pelanggan 4.Pengukuran, Analisis, dan Manajemen Pengetahuan 5.Fokus pada Tenaga Kerja 6.Fokus pada Operasi 7.Hasil-hasilPertanyaan-pertanyaan pada Katagori 1 s.d. Katagori 6 menanyakan tentang kesistemanperusahaan/organisasi, sedangkan pertanyaan-pertanyaan pada Katagori 7

bertanya tentang outputdari implementasi kesisteman tersebut. Sementara itu, Pertanyaanpertanyaan pada ProfilOrganisasi bertanya tentang informasi lingkungan internal dan eksternal perusahaan/organisasi.Kriteria tersebut dapat digunakan untuk organisasi yang berorientasi laba (Perusahaan/Bisnis),maupun organisasi nirlaba (Non Commersial).Nama Malcolm Baldrige disandingkan dengan Criteria for Performance Excellence sematamatauntuk memberikan penghargaan kepada Mr. Malcolm Baldrige, karena beliaulah yang pertama kalimemperkanalkan gagasan Criteria for Performance Excellence di Amerika.

Adalah sudah menjadibudaya di Amerika bahwa siapapun pengusul pertama suatu konsep/gagasan kebijakan negara,maka nama sang pengusul akan disandingkan dengan kebijakan nega tersebut ketika Kebijakantersebut disyahkan pemerintah atau parlemen Amerika.

Kriteria pada Katagori Kepemimpinan

Pertanyaan-pertanyaan pada katagori Kepemimpinan pada dasarnya bertanya tentang bagaimanatindakan-tindakan pimpinan senior perusahaan/organisasi memandu dan

memeliharaperusahaan/organisasinya, menentukan visi, tata nilai / budaya, dan sasaran kinerjaperusahaan/organisasi. Secara spesifik juga ditanyakan tentang bagaimana pimpinan seniorberkomunikasi dengan tenaga kerjanya, bagaimana meningkatkan keterampilan kepemimpinanmereka, bagaimana mereka pimpinan senior berpartisipasi dalam pembelajaran organisasi danmengembangkan pimpinan masa depan perusahaan/organisasi, bagaimana pimpinan seniormenciptakan fokus pada tindakan, serta membangun lingkungan kerja yang mendorong perilaku etisdan berkinerja tinggi. Pada katagori ini juga ditanyakan tentang sistem tata kelolaperusahaan/organisasi, dan bagaimana perusahaan/organisasi memenuhi tanggung jawabnya dalamaspek hukum, etika, dan kemasyarakatan, serta bagaimana perusahaan/organisasi tersebutmendukung komunitas utamanya.

Kriteria pada Katagori Perencanaan Strategis

Kriteria pada Katagori Perencanaan Strategis menanyakan tentang bagaimana perusahaanmenyusun perencanaan strategis termasuk rencana tindakannya (action plan), serta tentangbagaimana perusahaan/organisasi implementasi dari perencanaan juga yang telah tentang ditetapkan bagaimana

tersebut.Kriteria

menanyakan

perusahaan/organisasi memastikan ketersediaan sumberdaya untuk menjalankan rencana tersebut, bagaimana mengukur dan mengevaluasipencapaian kinerjanya, dan bagaimana rencana tersebut disesuaikan ketika lingkunganperusahaan/organisasi mengalami perubahan ditengah jalan. Ditanyakan pula bagaimanaperusahaan menentukan kompetensi intinya dan bagaimana menjaga sustainabilitas perusahaandalam jangka panjang.

Kriteria pada Katagori Fokus Pada Pelanggan

Kriteria pada Katagori Fokus pada Pelanggan menanyakan tentang bagaimana perusahaan/organisasi meng-engage pelanggannya, dengan fokus pada mendengarkan pelanggan dan memberikan dukungan pelanggan,mengukur tingkat kepuasan pelanggan, menawarkan produk yang tepat bagi pelanggan, serta membangunhubungan dengan pelanggan yang berdampak pada loyalitas pelanggan melalui investasi pelanggan padabrand dan penawaran produk perusahaan/organisasi. Yang dimaksud pelanggan pada Kriteria baldrige adalahpelanggan aktual maupun calon pelanggan termasuk pengguna akhir dari produk perusahaan/organisasimaupun pembeli atau pengguna langsung seperti distributor, agen, ataupun perusahaan/organisasi lainnyayang menggunakan produk yang dibelinya sebagai salah satu komponen dari produk perusahaan/organisasipembeli/pengguna.

Kriteria pada Katagori Pengukuran, Analisis, dan Manajemen Pengetahuan

Katagori Pengukuran, Analisis, dan Manajemen Pengetahuan adalah aspek utama dalam kriteriaBaladrige menyangkut seluruh informasi utama tentang pengukuran anaslisis, dan peningkatankinerja yang efektif serta pengelolaan pengetahuan organisasi untuk mendorong improvement dandaya saing perusahaan/organisasi. Kriteria pada Katagori ini menanyakan tentang bagaimanaperusahaan/organisasi memilih dan menggunakan data dan informasi untuk pengukuran, analisisi,dan pembahasan kinerja dalam mendukung perencanaan perusahaan/organisasi serta peningkatankinerjanya. Kriteria pada katagori ini juga menanyakan tentang bagaimana perusahaan/organisasimemastikan kualitas dan ketersediaan data, informasi, software maupun hardware untuk tenagakerja, pemasok, mitra, pelanggan baik dalam situasi normal maupun dalam keadaan darurat.Disamping itu, Kritreia juga menanyakan tentang bagaimana perusahaan/organisasi mengelola asset pengetahuannya.

LEAN SIX SIGMA


Lean Six Sigma adalah penyempurnaan dari metode-metode perbaikan yang lebih dulu lahir

Apa yang membedakan anatara kedua konsep tersebut jika kita kaji dari sisi fokus, sasaran, dan metodenya. Kita akan bisa memahami bahwa Sasaran sasaran dari six sigma cenderung relatif, yaitu meningkatkan kinerja proses yang berhubungan dengan Critical Customer Requirement. Dikatakan relatif karena kebutuhan pelanggan relatif terhadap perkembangan yang terjadi. Dengan Six Sigma kita diajak untuk mendapatkan kepuasan pelanggan secara efektif. Sedangkan sasaran dari Lean adalah absolut, seperti one piece flow, eliminating seven waste, dll. Lean mengajak kita untuk memenuhi permintaan pelanggan dengan efisien. Fokus dari Six Sigma adalah cacat (defect) dan peningkatan kualitas, sementara Lean lebih diasosiasikan pada pemborosan dan kecepatan. Metode Six Sigma mempunyai perencanaan yang matang, disertai metodologi DMAIC, sedangkan metode dari lean adalah gemba dan Take Action. Kalau kita mengamati dalam setiap proses disemua perusahaan,sebagai profesional kita dituntut oleh tiga hal yaitu:

1. Menjadi lebih responsif dan proaktif terhadap kebutuhan pelanggan dengan cepat dan tepat, 2. Menjaga Kualitas yang tinggi pada produk atau pelanggan yang diterima oleh pelanggan atau service excellent. 3. Beroperasi dengan sumber daya yang paling optimal

Sumber: orielstat.com

Kombinasi Lean dan Six Sigma diharapkan mampu memenuhi ketiga tujuan di atas. Lean Six Sigma memberikan gambaran terperinci proses yang kita jalankan dalam value stream map, sehingga dari sana teridentifikasi proses yang bernilai tambah dan yang tidak. Value stream mapping juga memberikan gambaran di mana time trap (proses yang menghambat) terjadi. Dari sana proyek dapat diproritaskan. Apakah time trap terjadi karena banyaknya reject yang terjadi (dengan Six Sigma tools) atau dikarenakan downtime atau set-up yang lama (Lean Tools). Perusahaan harus mampu meminimalkan cacat (defect) untuk mencapai kecepatan produksi yang maksimum, di lain sisi juga perlu melakukan sesuatu untuk menjaga kecepatan (Speed) tersebut untuk mencapai sigma level tertinggi. Jadi, penerapan prinsip dan tools dalam Lean dan Six Sigma mutlak diperlukan bagi perusahaan atau organisasi dalam rangka menghadapi persaingan bisnis yang begitu cepat akhir akhir ini, disamping itu juga untuk mempercepat ROI dan tetap berada dalam posisi terdepan dalam daya saing industri perusahaan.

Merunut bagaimana Lean dan Six Sigma adalah perpaduan yang sempurna bagi para aktivis perbaikan bisa dilihat pada bagan di bawah ini:

Bila dilihat dari bagan di atas, Lean Six Sigma bukanlah suatu yang baru ada, namun leansix sigma adalah cara baru dalam melakukan pekerjaan. Lean Six Sigma adalah penyempurnaan dari metode-metode perbaikan yang dulu lahir. Sebelum membahas tentang integrasinya, ada baiknya kita ketahui perbedaan di antara keduanya dari sisi fokus, sasaran, fokus, dan metodenya.

Sasaran sasaran dari six sigma cenderung relatif, yaitu meningkatkan kinerja proses yang berhubungan dengan Critical Customer Requirement. Dikatakan relatif karenakebutuhan pelanggan relatif terhadap perkembangan yang terjadi. Dengan Six Sigmakita diajak untuk mendapatkan kepuasan pelanggan secara efektif. Sasaran dari Leanadalah absolut, seperti one piece flow, eliminating waste, dll. Lean mengajak kita untuk memenuhi permintaan pelanggan dengan efisien.

Fokus Fokus dari Six Sigma adalah cacat dan peningkatan kualitas, sementara Leanlebih diasosiasikan pada pemborosan dan kecepatan. Metode Six Sigma mempunyai perencanaan yang matang, disertai

metodologiDMAIC. Sedangkan metode dari lean adalah gemba dan action! Setiap proses dalam semua perusahaan dituntut oleh tiga hal di bawah ini: 1. 2. Menjadi lebih responsif terhadap kebutuhan pelanggan dengan cepat Kualitas yang tinggi pada produk atau pelayanan yang diterima pelanggan

3. Beroperasi dengan sumber daya yang paling optimal Kombinasi Lean dan Six Sigma diharapkan mampu memenuhi ketiga tujuan di atas. Lean Six Sigma memberikan gambaran terperinci proses yang anda jalankan dalam valuestream map, sehingga dari sana teridentifikasi proses yang bernilai tambah dan yang tidak. Value stream mapping juga memberikan gambaran di mana time trap (proses yang menghambat) terjadi. Dari sana proyek dapat diproritaskan. Apakah time trap terjadi karena banyaknya reject yang terjadi (dengan Six Sigma tools) atau dikarenakan downtime atau set-up yang lama (Lean Tools). Perusahaan harus mampu meminimalkan cacat untuk mencapai kecepatan produksi yang maksimum, di lain sisi juga perlu melakukan sesuatu untuk menjaga kecepatan tersebut untuk mencapai sigma level tertinggi. Jadi, penerapan prinsip dan tools dalam Lean dan Six Sigma mutlak diperlukan bagi organisasi untuk mempercepat laju perbaikan ROI dan tetap berada dalam posisi kompetisi terbaiknya.

TERIMA KASIH