Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

PRAKTIKUM TEKNIK BIOPROSES


IDENTITAS PRAKTIKAN
NAMA

: Jecika Yavia Nadiaty

NIM

: 53081003007

KELOMPOK

: 2 (Dua)

I. NAMA PERCOBAAN
Pembuatan Chitosan
II. TUJUAN PERCOBAAN
Membuat Chitosan dari kulit udang sebagai bahan pengawet
III. DASAR TEORI
Sejarah Chitosan
Chitin sebagai prekursor chitosan pertama kali ditemukan pada tahun 1811
oleh orang Prancis bernama Henri Braconnot sebagai hasil isolasi dari jamur.
Sedangkan chitin dari kulit serangga ditemukan kemudian pada tahun 1820. Chitin
merupakan polimer kedua terbesar di bumi selelah selulosa. Chitin adalah senyawa
amino polisakarida berbentuk polimer gabungan.
Chitosan ditemukan C. Roughet pada tahun 1859 dengan cara memasak chitin
dengan basa. Perkembangan penggunaan chitin dan chitosan meningkat pada tahun
1940-an. terlebih dengan makin diperlukannya bahan alami oleh berbagai industri
sekitar tahun 1970-an. Penggunaan chitosan untuk aplikasi khusus, seperti farmasi
dan kesehatan dimulai pada pertengahan 1980 - 1990.
Khitin mempunyai rumus molekul C18H26N2O10 merupakan zat padat yang tak
berbentuk (amorphous), tak larut dalam air, asam anorganik encer, alkali encer dan
pekat, alkohol, dan pelarut organik lainnya tetapi larut dalam asam-asam mineral
yang pekat. Chitosan adalah senyawa polimer alam turunan chitin yang diisolasi dari
limbah perikanan, seperti kulit. udang dan cangkang kepiting dengan kandungan

chitin antara 65-70 persen. Sumber bahan baku chitosan yang lain di antaranya
kalajengking, jamur, cumi, gurita, serangga, laba - laba dan ulat sutera dengan
kandungan chitin antara 5-45 persen.
Chitosan merupakan bahan kimia multiguna berbentuk serat dan merupakan
kopolimer berbentuk lembaran tipis, berwarna putih atau kuning, tidak berbau.
Chitosan merupakan produk deasetilasi chitin melalui proses kimia menggunakan
basa natrium bidroksida atau proses enzimatis menggunakan enzim chitin
deacetylase.

RK Chitosan (Rumus Struktur)


Proses pembuatan chitosan itu sendiri dilakukan melalui beberapa tahapan,
yakni pengeringan bahan baku mentah chitosan (rajungan), penggilingan,
penyaringan, deproteinasi, pencucian dan penyaringan, deminarisasi (penghilangan
mineral Ca), pencucian, deasilitilisasi, pengeringan, dan selanjutnya akan terbentuk
produk akhir berupa chitosan.
Proses utama dalam pembuatan chitosan meliputi penghilangan protein dan
kandungan mineral yang masing-masing dilakukan dengan menggunakan larutan
basa dan asam.
Chitosan merupakan produk deasetilasi chitin. Kualitas dan nilai ekonomi
chitosan dan chitin ditentukan oleh besarnya derajat deasetilasi, semakin tingi derajat
deasetilasi semakin tinggi kualitas dan harga jualnya. Kualitas chitosan berdasarkan
penggunaan dapat dibagi ke dalam tiga jenis kualitas yaitu kualitas teknis, pangan dan
farmasi.

Chitosan adalah produk turunan dari polimer chitin, yakni produk samping
(limbah) dari pengolahan industri perikanan, khususnya udang dan rajungan.
Chitin
Chitin merupakan polisakarida structural yang patut mendapatkan perhatian
karena berlimpah ruah di alam. Chitin sama dengan selulosa. Chitin merupakan
polisakarida hewan berkaki banyak. Diperkirakan 109 ton chitin dibiosintesis tiap
tahun.
Chitin tidak larut dalam air, asam encer, alkali encer/pekat dan pelarut organic
lain, tetapi larut dalam larutan pekat asam sulfat, asam klorida, asam fosfat. Selain itu
tahan terhadap hidrolisa menjadi komponen sakaridanya.
Chitin pada umumnya sangat tahan terhadap hidrolisa, walau enzim chitinase
dapat melakukannya dengan mudah. Chitin membentuk zat dasar yang tahan lama
dari kulit spora lumut dan eksokerangka dari serangga, udang, dan kerang-kerangan.
Chitin adalah polisakarida linier yang mengandung N-Asetil D-Glukosamina
terikat pada hidrolisa, chitin menghasilkan 2-Amino 2-Deoksin D-Glukosa. Dalam
alam chitin terikat pada protein dan lemak.
Chitin dapat dibentuk menjadi susu bubuk (powder) apabila sudah dipisahkan
dari zat yang tercampur dengannya. Akan tetapi tidak dapat larut dalam air.
Reaksinya dalam asam-asam mineral dan alkali akan menghasilkan suatu zat yang
menyerupai selulosa. Pelarutan chitin tergantung dari konsentrasi asam mineral dan
temperatur.
Dinegara Jepang, chitin sudah lama dikomersialkan dengan cara memintalnya
menjadi benang yang berfungsi sebagai penutup luka sehabis operasi, karena
didukung oleh sifatnya yang non alergi dan juga menunjukkan aktifitas penyembuhan
luka.
Chitin pertama kali ditemukan oleh Odier pada tahun 1823 dan kemudian
dikembangkan oleh PR Austin pada tahun 1981. Akan tetapi perkembangan chitin
bergerak lamban dan kurang dimanfaatkan.

Salah satu turunan chitin yang luas pemakaiannya adalah chitosan. Senyawa
ini mudah didapat dari chitin dengan menambahkan NaOH dan pemanasan sekitar
120o C. Proses ini menyebabkan lepasnya gugus asetil yang melekat pada gugus
amino dari molekul chitin dan selanjutnya akan membentuk chitosan.
Kelebihan lain dari chitosan yaitu padatan yang dikoagulasinya dapat
dimanfaatkan. Kekhawatiran terhadap kemungkinan khitosan mempuntai efek
beracun terhadap manusia telah dimentahkan oleh beberapa peneliti dengan sejumlah
bukti ilmiah.
Sifat - Sifat Chitosan
Multiguna chitosan tidak terlepas dari sifat alaminya. Sifat alami tersebut
dapat dibagi menjadi dua sifat besar yaitu, sifat kimia dan biologi.
Sifat kimia chitosan sama dengan chitin tetapi yang khas antara lain:
1. Merupakan polimer poliamin berbentuk linear
2. Mempunyai gugus amino aktif
3. Mempunyai kemampuan mengkhelat beberapa logam.
Sifat biologi chitosan antara lain:
1. Bersifat biokompatibel artinya sebagai polimer alami sifatnya tidak mempunyai
akibat samping, tidak beracun, tidak dapat dicerna, mudah diuraikan oleh mikroba
(biodegradable).
2. Dapat berikatan dengan sel mamalia dan mikroba secara agresif.
3. Mampu meningkatkan pembentukan yang berperan dalam pembentukan tulang.
4. Bersifat hemostatik, fungistatik, spermisidal, antitumor, antikolesterol,
5. Bersifat sebagai depresan pada sistem saraf pusat.
Karakteristik fisik-kimia chitosan berwarna putih dan berbentuk kristal, dapat
larut dalam larutan asam organik tetapi tidak larut dalam pelarut organik lainnya.
Pelarut chitosan yang baik adalah asam asetat. Chitosan sedikit mudah larut dalam air
dan mempunyai muatan positif yang kuat, yang dapat mengikat muatan negatif dari
senyawa lain serta mudah mengalami degradasi secara biologis dan tidak beracun.
Cara memakainya cukup dilarutkan dengan air dan dicampur cuka. Ikan tinggal

dicelup lalu dijemur. Selain mengawetkan ikan asin, chitosan juga bisa dipakai untuk
memperpanjang usia tahu, bakso, mie dan ikan basah. Namun, khusus untuk ikan
basah, ahli dari IPB ini belum menemukan adonan yang pas. Pengawetan ikan segar
menggunakan chitosan sejauh ini hanya mampu bertahan 2 hari. Sedang formalin
bisa sampai 3 hari.

Gambar Struktur chitin dan chitosan


Berdasarkan kedua sifat tersebut maka chitosan mempunyai sifat fisik khas
yaitu mudah dibentuk menjadi spons, larutan, gel, pasta, membran, dan serat. yang
sangat bermanfaat dalam aplikasinya.
Manfaat Chitosan
Chitosan banyak digunakan oleh berbagai industri antara lain industri farmasi,
kesehatan,

biokimia,

bioteknologi,

pangan,

pengolahan

limbah,

kosmetik,

agroindustri, industri tekstil, industri perkayuan, industri kertas dan industri


elektronika. Aplikasi khusus berdasarkan sifat yang dipunyainya antara lain untuk:
pengolahan limbah cair terutama bahan sebagai bersifat resin penukar ion untuk
minimalisasi logamlogam berat, mengoagulasi minyak/lemak, serta mengurani
kekeruhan: penstabil minyak, rasa dan lemak dalam produk industri pangan.
Saat ini di Indonesia sebagian kecil dari limbah udang sudah termanfaatkan
dalam hal pembuatan kerupuk udang, petis, terasi, dan bahan pencampur pakan
ternak. Sedangkan di negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, limbah
udang telah dimanfaatkan di dalam industri sebagai bahan dasar pembuatan khitin

dan chitosan.

Manfaatnya di berbagai industri modern banyak sekali seperti

industri farmasi, biokimia, bioteknologi, biomedikal, pangan, kertas, tekstil,


pertanian, dan kesehatan. Khitin dan chitosan serta turunannya mempunyai sifat
sebagai bahan pengemulsi koagulasi dan penebal emulsi (Lang, 1995).
Seperti uraian tersebut diatas, bahwa produk alami berupa chitosan ini
merupakan alternatif pengganti formalin untuk pengawet bahan makanan (tahu, baso
dll).
Disamping itu chitosan juga dapat digunakan untuk:
(1) penstabil pewarna makanan;
(2) pengolah limbah logam berat;
(3) kesehatan, seperti tumor, meningkatkan kekebalan tubuh, pengontrol kolesterol;
(4) bioteknologi, seperti pemisah protein, kromatografi;
(5) pertanian, seperti bahan pelapis bibit, pupuk, pemulihan lahan;
(6) kosmetik, seperti pelembab, krim untuk wajah, tangan, badan, dan
(7) pulp dan kertas, seperti kertas foto.
Isolasi khitin dari limbah kulit udang dilakukan secara bertahap yaitu tahap
pemisahan protein (deproteinasi) dengan larutan basa, demineralisasi, tahap
pemutihan (bleancing) dengan aseton dan natrium hipoklorit. Sedangkan
transformasi khitin menjadi chitosan dilakukan tahap deasetilasi dengan basa
berkonsentrasi tinggi, seperti terlihat pada gambar 1 (Ferrer et al., 1996; Arreneuz,
1996., dan Fahmi, 1997)
Khitin dan chitosan yang diperoleh dari limbah kulit udang digunakan
sebagai absorben untuk menyerap ion kadmium, tembaga, dan timbal dengan cara
dinamis dengan mengatur kondisi penyerapan sehingga air yang dibuang ke
lingkungan menjadi air yang bebas dari ion-ion logam berat. Mengingat besarnya
manfaat dari senyawa khitin dan chitosan serta tersedianya bahan baku yang banyak
dan mudah didapatkan maka perlu pengkajian dan pengembangan dari limbah ini
sebagai bahan penyerap terhadap logam-logam berat diperairan.

Setelah dibersihkan , limbah tersebut direbus kurang lebih satu jam untuk
menghilangkan sisa protein. Derajat keasaman (pH) pada rebusan tahap ini
diusahakan diatas 10, dengan menambahkan larutan soda api (NaOH). Hasilnya
kemudian direbus lagi selama 2 jam dengan ditambahi larutan asam klorida (HCl)
agar pH turun dibawah 5. Campuran itu sekali lagi direbus selama 2 jam dengan
larutan basa untuk menghilangkan unsur asetil. Pada tahap ini, cangkang rajungan
dan kulit udang sudah berubah menjadi bubur berwarna putih. Adonan ini
dibersihkan dengan memasukkannya ke dalam saringan lalu dialiri air. Sisanya
berupa cairan kental dipakai sebagai pengawet.
Cara Mendeteksi Chitin
Adanya Chitin dapat dideteksi dengan reaksi warna Van Wesslink. Pada
cara ini chitin direaksikan dengan I2-KI yang memberikan warna coklat, kemudian
jika ditambahkan asam sulfat berubah warnanya menjadi violet. Perubahan warna
dari coklat hingga menjadi violet menunjukan reaksi positif adanya chitin.
Pembuatan Chitosan
Deproteinasi
Ransum merupakan faktor penentu terhadap pertumbuhan, disamping bibit
dan tatalaksana pemeliharaan. Optimalitas performan ayam broiler dapat terealisasi
bila diberi ransum bermutu yang memenuhi persyaratan tertentu dalam jumlah yang
cukup. Pemenuhan kebutuhan zat makanan dalam ransum dapat dilakukan dengan
menambahkan imbuhan pakan (feed suplement) guna meningkatkan kualitas dan
efisiensi ransum. Salah satunya adalah pemanlaatan limbah cair ekstraksi chitin dan
limbah udang yang diolah secara kimiawi dan biologis melalui tahapan deproteinasidemineralisasi.
Proses deproteinasi dan demineralisasi dapat dilakukan secana kimiawi dan
biologis. Cara kimiawi pada tahap deproteinasi menggunakan NaOH, dan pada tahap
demineralisasi menggunakan H Adapun cara biologis pada tahap deproteinasi
menggunakan bakteri Bacillus lichen dan pada tahap demineralisasi menggunakan

kapang Aspergillus niger. Produk cair ekstraksi chitin tersebut digunakan sebagai
imbuhan pakan pada ransum ayam broiler.
Limbah udang yang telah dimineralisasi kemudian dicampur dengan larutan
sodium hidroksida 3,5 persen dengan perbandingan antara pelarut dan cangkang
udang 6:1. Selanjutnya dipanaskan pada suhu 90C selama satu jam. Larutan lalu
disaring dan didinginkan sehingga diperoleh residu padatan yang kemudian dicuci
dengan air sampai pH netral dan dikeringkan pada suhu 80C selama 24 jam.
Demineralisasi
Metoda demineralisasi kulit udang dilakukan dengan cara memanaskannya
(suhu 70- 750C menggunakan HCl 1 N dengan jumlah kulit udang sebanyak 300
gram kulit udang setiap kali percobaan selama 4 jam dan 6 jam. Proses deproteinisasi
kulit udang dilakukan menggunakan NaOH 5 % pada suhu 80 850C selama 4 jam
dan 6 jam (dilakukan sebanyak dua kali). Sedangkan proses deasetilasi dilkukan
dengan mengolah hasil deproteinisasi menggunakan NaOH 50 %, pada suhu 140 0C
selama 4 jam dan 6 jam.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan dengan tahap demineralisasideproteinisasi dan deasetalisi (tiap tahap 4 jam), dari berat kulit udang yang diolah
sebanyak 300 gram dihasilkan chitosan larut asam 87,5 gram dan 46,38 gram
chitosan larut air. Untuk tahap tahap deproteinisasi- demineralisasi dan deasetalisi
(tiap tahap 4 jam), dari berat kulit udang yang diolah sebanyak 300 gram dihasilkan
75 gram chitosan larut asam dan 39,75 gram chitosan larut air.
Untuk tahap pengolahan langsung deasetalisi (tiap tahap 4 jam), dari berat
kulit udang yang diolah sebanyak 300 gram dihasilkan 130 gram chitosan larut asam
dan 68,90 gram chitosan larut air Sedangkan untuk percobaan yang dilakukan dengan
tahap demineralisasi-deproteinisasi dan deasetalisi (tiap tahap 6 jam), dari berat kulit
udang yang diolah sebanyak 300 gram dihasilkan chitosan larut asam 72,5 gram dan
38,43 gram chitosan larut air. Untuk tahap tahap deproteinisasi- demineralisasi dan
deasetalisi (tiap tahap 6 jam), dari berat kulit udang yang diolah sebanyak 300 gram
dihasilkan 75 gram chitosan larut asam dan 39,50 gram chitosan larut air. Untuk

tahap pengolahan langsung deasetalisi (tiap tahap 6 jam), dari berat kulit udang yang
diolah sebanyak 300 gram dihasilkan 125 gram chitosan larut asam dan 66,25 gram
chitosan larut air Salah satu karakteristik chitosan larut dalam air hasil percobaan
(A1) adalah mempunyai spesifikasi warna putih kecoklat/kuningan, bentuk flake,
kadar air rendah (9,2 %), kadar mineral (abu) rendah (0,17 %), kadar total
nitrogenrendah (2,11 %), viskositas 1 % relatif rendah (6,0 cps), akan tetapi derajat
deasetilasi relatif tinggi (70,00). Dapat disimpulkan chitosan larut dalam air masih
memenuhi persyaratan mutu komersil.
Deasetilasi
Khitin dari limbah udang telah dapat diubah menjadi chitosan melalui proses
deasetilasi. Lama proses deasetilasi mempengaruhi nilai derajat deasetilasi chitosan
yang dihasilkan. Dalam penelititan ini chitosan mempunyai derajat deasetilasi sebesar
58,50 % ; 60,66 % ; 60,90 % dan 64,04 % , sesuai dengan lama proses deasetilasi
selama 1,3,5 dan 7 jam. Agen pengikat silang glutaraldehid dapat berikat silang
dalam rantai chitosan, dan jumlahnya meningkat dengan semakin tinggi nilai derajat
deasetilasi chitosan yang digunakan. Hal ini akan meningkatkan kerapatan struktur
jaringan dari membran chitosan , sehingga nilai permeabilitas membran chitosan
akan menurun. Nilai permeabilitas membran chitosan yang diperoleh : 1.10-19
cm/dt ; 2,173.10-24 cm-2/dt 4,073.10-25 cm-2/dt dan 1,025.10-27 cm-2/dt.
Chitosan dibuat dengan menambahkan sodium hidroksida (60 persen) dengan
perbandingan 20:1 (pelarut dibanding khitin), lalu dipanaskan selama 90 menit
dengan suhu 140C. Larutan kemudian disaring untuk mendapatkan residu berupa
padatan, lalu dilakukan pencucian dengan air sampai pH netral, kemudian
dikeringkan dengan oven suhu 70C selama 24 jam.
Chitosan memiliki sifat larut dalam suatu larutan asam organik, tetapi tidak
larut dalam pelarut organik lainnya seperti dimetil sulfoksida dan juga tidak larut
pada pH 6,5. Sedangkan pelarut chitosan yang baik adalah asam asetat.

Udang Galah
Badan udang terdiri atas kepala dan dada yang disebut Cephalothorax, badan
(abdomen), serta ekor (uropoda). Udang galah mempunyai ciri khusus dibandingkan
dengan udang jenis lainnya, yakni kedua kakinya tumbuh dominan.
Cephalothorax dibungkus oleh kulit yang keras disebut carapace. Pada
bagian kepala terdapat penonjolan carapace yang bergerigi dan disebut rostrum. Gigi
terdapat pada rostrum dengan jumlah gigi pada rostrum atas 11-13 dan jumlah gigi
pada rostrum bagian bawah 8-14. Udang galah mempunyai sepasang mata yang
bertangkai yang terletak pada pangkal rostrum, jenis matanya temasuk jenis mata
majemuk (facet).
Berikut adalah tabel komposisi umum kulit udang :
Komposisi Umum Kulit Udang
SENYAWA

PERSENTASE

Protein

53,74

Lemak

6,65

Chitin

14,61

Air

17,28

Abu

7,72

Sumber : Intensifikasi Tambak Udang Departemen Pertanian (1990)

IV. ALAT DAN BAHAN


a. Alat

1. Grinding
2. Neraca analitis
3. Beker gelas
4. Pipet tetes
5. Spatula

6. Water Bath
7. Corong dan Kertas Saring
8. pHmeter
9. Oven
b. Bahan

1. Kulit udang
2. HCl
3. NaOH
4. Aquadest
V. Prosedur Percobaan
1.

Pisahkan udang dan kulitnya kemudian cuci bersih dan keringkan.

2.

Gerus sampai halus kulit udang yang telah dikeringkan tadi hingga menjadi
bubuk atau powder.

3.

Timbang bubuk kulit udang sebanyak 5 gr, dicampur dengan 300 ml aqudest.

4.

Kemudian masukkan HCl sebanyak 3 tetes, selanjutnya larutan kulit udang tadi
dipanaskan selama 2 menit, diamkan sebentar.

5.

Larutan tadi disaring dengan kertas saring, slurry kulit udang dimasukkan dalam
beker gelas kemudian dicuci serta disaring kembali.

6.

Hasil saringan ini dicampur kembali dengan 300 aquadest,direbus selama 2


menit, kemudian saring kembali.

7.

Hasil saringan ditetesi NaOH sebanyak 3 tetes, selanjutnya diukur pH dengan


menggunakan pH meter.

8.

Langkah terakhir larutan disaring kembali dan dikeringkan.