Anda di halaman 1dari 11

TUGAS TATA RUANG RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DI KECAMATAN PONTIANAK TIMUR

DOSEN PEMBIMBING :
Robby Irsan, ST, M.Si

DISUSUN OLEH :
Hazmi Azhari Eka Pratama Kurniawan D141 12 010 D141 12 026

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2014

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ruang terbuka hijau kota merupakan bagian penting dari struktur pembentuk kota, dimana ruang terbuka hijau kota memiliki fungsi utama sebagai penunjang ekologis kota yang juga diperuntukkan sebagai ruang terbuka penambah dan pendukung nilai kualitas lingkungan dan budaya suatu kawasan. Keberadaan ruang terbuka hijau kota sangatlah diperlukan dalam mengendalikan dan memelihara integritas dan kualitas lingkungan. Ruang terbuka hijau memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi intrinsik sebagai penunjang ekologis dan fungsi ekstrinsik yaitu fungsi arsitektural (estetika), fungsi sosial dan ekonomi. Ruang terbuka hijau dengan fungsi ekologisnya bertujuan untuk menunjang keberlangsungan fisik suatu kota dimana ruang terbuka hijau tersebut merupakan suatu bentuk ruang terbuka hijau yang berlokasi, berukuran dan memiliki bentuk yang pasti di dalam suatu wilayah kota. Sedangkan ruang terbuka hijau untuk fungsi-fungsi lainnya (sosial, ekonomi, arsitektural) merupakan ruang terbuka hijau pendukung dan penambah nilai kualitas lingkungan dan budaya kota tersebut, sehingga dapat berlokasi dan berbentuk sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya, seperti untuk keindahan, rekreasi, dan pendukung arsitektur kota (Dirjen PU, 2005). Proporsi 30% luasan ruang terbuka hijau kota merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat, maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, ruang terbuka bagi aktivitas publik serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota (Hakim, 2004).

1.2 Tujuan 1. Mengetahui luas wilayah Kecamatan Pontianak Timur 2. Mengetahui tata guna lahan Kecamatan Pontianak Timur

3. Mengetahui persentase ruang terbuka hijau untuk wilayah Kecamatan Pontianak Timur.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Ruang Terbuka Hijau (RTH) Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi) guna mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH dalam kota tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan tersebut. Berdasarkan bobot kealamiannya, bentuk RTH dapat diklasifikasi menjadi (a) bentuk RTH alami (habitat liar/alami, kawasan lindung) dan (b) bentuk RTH non alami atau RTH binaan (pertanian kota, pertamanan kota, lapangan olah raga, pemakaman, berdasarkan sifat dan karakter ekologisnya diklasifikasi menjadi (a) bentuk RTH kawasan (areal, non linear), dan (b) bentuk RTH jalur (koridor, linear), berdasarkan penggunaan lahan atau kawasan fungsionalnya diklasifikasi menjadi (a) RTH kawasan perdagangan, (b) RTH kawasan perindustrian, (c) RTH kawasan permukiman, (d) RTH kawasan pertanian, dan (e) RTH kawasan-kawasan khusus, seperti pemakaman, hankam, olah raga, alamiah. Status kepemilikan RTH diklasifikasikan menjadi (a) RTH publik, yaitu RTH yang berlokasi pada lahan-lahan publik atau lahan yang dimiliki oleh pemerintah (pusat, daerah), dan (b) RTH privat atau non publik, yaitu RTH yang berlokasi pada lahan-lahan milik privat.

2.2 Fungsi dan Manfaat Ruang Terbuka Hijau (RTH) RTH, baik RTH publik maupun RTH privat, memiliki fungsi utama (intrinsik) yaitu fungsi ekologis, dan fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu fungsi arsitektural, sosial, dan fungsi ekonomi. Dalam suatu wilayah perkotaan empat fungsi utama ini dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan, kepentingan, dan keberlanjutan kota.

RTH berfungsi ekologis, yang menjamin keberlanjutan suatu wilayah kota secara fisik, harus merupakan satu bentuk RTH yang berlokasi, berukuran, dan berbentuk pasti dalam suatu wilayah kota, seperti RTH untuk perlindungan sumberdaya penyangga kehidupan manusia dan untuk membangun jejaring habitat hidupan liar. RTH untuk fungsi-fungsi lainnya (sosial, ekonomi, arsitektural) merupakan RTH pendukung dan penambah nilai kualitas lingkungan dan budaya kota tersebut, sehingga dapat berlokasi dan berbentuk sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya, seperti untuk keindahan, rekreasi, dan pendukung arsitektur kota. Manfaat RTH berdasarkan fungsinya dibagi atas manfaat langsung (dalam pengertian cepat dan bersifat tangible) seperti mendapatkan bahanbahan untuk dijual (kayu, daun, bunga), kenyamanan fisik (teduh, segar), keinginan dan manfaat tidak langsung (berjangka panjang dan bersifat intangible) seperti perlindungan tata air dan konservasi hayati atau keanekaragaman hayati.

2.3 Elemen Pengisi Ruang Terbuka Hijau (RTH) RTH dibangun dari kumpulan tumbuhan dan tanaman atau vegetasi yang telah diseleksi dan disesuaikan dengan lokasi serta rencana dan rancangan peruntukkannya. Lokasi yang berbeda (seperti pesisir, pusat kota, kawasan industri, sempadan badan-badan air, dll) akan memiliki permasalahan yang juga berbeda yang selanjutnya berkonsekuensi pada rencana dan rancangan RTH yang berbeda. Untuk keberhasilan rancangan, penanaman dan kelestariannya maka sifat dan ciri serta kriteria (a) arsitektural dan (b) hortikultural tanaman dan vegetasi penyusun RTH harus menjadi bahan pertimbangan dalam menseleksi jenis-jenis yang akan ditanam. Persyaratan umum tanaman untuk ditanam di wilayah perkotaan: (a) Disenangi dan tidak berbahaya bagi warga kota (b) Mampu tumbuh pada lingkungan yang marjinal (tanah tidak subur, udara dan air yang tercemar) (c) Tahan terhadap gangguan fisik (vandalisme)

(d) Perakaran dalam sehingga tidak mudah tumbang (e) Tidak gugur daun, cepat tumbuh, bernilai hias dan arsitektural (f) Dapat menghasilkan O2 dan meningkatkan kualitas lingkungan kota (g) Bibit/benih mudah didapatkan dengan harga yang murah/terjangkau oleh masyarakat (h) Prioritas menggunakan vegetasi endemik/lokal (i) Keanekaragaman hayati. Jenis tanaman endemik atau jenis tanaman lokal yang memiliki keunggulan tertentu (ekologis, sosial budaya, ekonomi, arsitektural) dalam wilayah kota tersebut menjadi bahan tanaman utama penciri RTH kota tersebut, yang selanjutnya akan dikembangkan guna mempertahankan keanekaragaman hayati wilayahnya dan juga nasional.

2.4 Teknis Perencanaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Dalam rencana pembangunan dan pengembangan RTH yang fungsional suatu wilayah perkotaan, ada 4 (empat) hal utama yang harus diperhatikan yaitu: (a) Luas RTH minimum yang diperlukan dalam suatu wilayah perkotaan ditentukan secara komposit oleh tiga komponen berikut ini, yaitu: 1) Kapasitas atau daya dukung alami wilayah 2) Kebutuhan per kapita (kenyamanan, kesehatan, dan bentuk pelayanan lainnya) 3) Arah dan tujuan pembangunan kota. RTH berluas minimum merupakan RTH berfungsi ekologis yang berlokasi, berukuran, dan berbentuk pasti, yang melingkup RTH publik dan RTH privat. Dalam suatu wilayah perkotaan maka RTH publik harus berukuran sama atau lebih luas dari RTH luas minimal, dan RTH privat merupakan RTH pendukung dan penambah nilai rasio terutama dalam meningkatkan nilai dan kualitas lingkungan dan kultural kota. (b) Lokasi lahan kota yang potensial dan tersedia untuk RTH (c) Sruktur dan pola RTH yang akan dikembangkan (bentuk, konfigurasi, dan distribusi)

(d) Seleksi tanaman sesuai kepentingan dan tujuan pembangunan kota.

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Geografi Kecamatan Pontianak Timur terdiri dari 7 Kelurahan, yaitu Kelurahan Parit Mayor, Banjar Serasan, Saigon, Tanjung Hulu, Tanjung Hilir, Dalam Bugis, dan Tambelan Sampit. Total luas wilayah kecamatan Pontianak Timur sebesar 8,78 km2. Kecamatan Pontianak Timur berbatasan dengan Sungai Landak dan Kec. Pontianak Utara. Sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Kapuas. Sebelah timur berbatasan dengan Kab. Pontianak, dan sebelah barat dengan Sungai Kapuas dan Kec. Pontianak Barat. Dilihat dari luas wilayah per kelurahan, Kelurahan Saigon merupakan kelurahan paling luas di Pontianak Timur, dengan total luas wilayah sebesar 2,80 km2. Kelurahan paling kecil adalah Kelurahan Tanjung Hilir dengan luas wilayah sebesar 0,30 km2 atau hanya sebesar 3,42 % dari total luas Pontianak Timur.

Gambar 3.1.1 Persentase Luas Wilayah menurut Kelurahan di Kecamatan Pontianak Timur Tahun 2011

Tabel 3.1.1 Luas Wilayah Kecamatan Pontianak Timur menurut Kelurahan, 2011

3.2 Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kecamatan Pontianak Timur Kecamatan Pontianak Timur terdiri dari 7 Kelurahan, yaitu Kelurahan Parit Mayor, Banjar Serasan, Saigon, Tanjung Hulu, Tanjung Hilir, Dalam Bugis, dan Tambelan Sampit dimana wilayah tersebut merupakan kawasan yang strategis dan cenderung berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi sehingga banyak kawasan yang mengalami perubahan fungsi yaitu menjadi kawasan campuran / Mix-use area (perumahan, perdagangan dan perkantoran) dan mengakibatkan kurangnya luasan Ruang Terbuka Hijau Kecamatan Pontianak Timur.

Tabel 3.2.1 Penggunaan Lahan di Kecamatan Pontianak Timur Tahun 20102011 (Ha)

Berdasarkan data di atas, apabila dijumlahkan keseluruhan luas ruang terbuka pada kawasan Kecamatan Pontianak Timur akan didapat luas total ruang terbuka hijau sebesar 502 Ha. Dari keseluruhan kawasan Kecamatan Pontianak Timur dengan luas sebesar 878 Ha jika dihitung dengan membandingkan luas keseluruhan kawasan Kecamatan Pontianak Timur dengan luas keseluruhan ruang terbuka hijau maka akan didapatkan proporsi

eksisting dari ruang terbuka hijau, perhitungan tersebut dapat dilakukan sebagai berikut : L. kawasan Kecamatan Pontianak Timur L. Ruang terbuka hijau : 878 Ha : 502 Ha

Sehingga untuk menemukan proporsi dan distribusi ruang terbuka hijau pada kawasan tersebut dilakukan perhitungan sebagai berikut :

Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa dari keseluruhan luas kawasan Kecamatan Pontianak Timur, ruang terbuka hijau kota menempati komposisi penggunaan ruang sebesar 57,17 % dimana proporsi penggunaan lahan sebagai ruang terbuka hijau minimal 30 % dari keseluruhan kawasan, artinya Kecamatan Pontianak Timur masih ideal.

BAB IV PENUTUP

4.1 Simpulan 1. Luas wilayah Kecamatan Pontianak Timur adalah sebesar 8,78 km2. Luas wilayah untuk kelurahan Parit Mayor sebesar 1,06 km2, Banjar Serasan sebesar 1,14 km2, Saigon sebesar 2,80 km2, Tanjung Hulu sebesar 1,09 km2, Tanjung Hilir sebesar 0,30 km2, Dalam Bugis sebesar 1,98 km2, dan Tambelan Sampit sebesar 0,41 km2. 2. Ruang terbuka hijau kecamatan Pontianak Timur yakni sebesar 57,17 % dari total luas wilayah.

DAFTAR PUSTAKA

BPS Kota Pontianak Tahun 2011 Direktorat Jendral Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum Tahun 2005 Hakim, Rustam. 2004. Arsitektur Lansekap, Manusia, Alam dan Lingkungan. Jakarta: FALTL Universitas Trisakti