Anda di halaman 1dari 9

ACQUIRED IMMUNO DEFICIENCY SYNDROME (AIDS) A. Pengertian AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome.

Acquired artinya didapat, jadi bukan merupakan penyakit keturunan, immuno berarti sistem kekebalan tubuh, deficiency artinya kekurangan, sedangkan syndrome adalah kumpulan gejala. B. tiologi AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh !irus yang merusak sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh mudah diserang penyakit"penyakit lain yang dapat berakibat fatal. Padahal, penyakit"penyakit tersebut misalnya berbagai !irus, cacing, jamur proto#oa, dan basil tidak menyebabkan gangguan yang berarti pada orang yang sistem kekebalannya normal. Selain penyakit infeksi, penderita AIDS juga mudah terkena kanker. Dengan demikian, gejala AIDS amat ber!ariasi. $irus yang menyebabkan penyakit ini adalah !irus %I$ &%uman Immuno" deficiency $irus'. De(asa ini dikenal juga dua tipe %I$ yaitu %I$") dan %I$"*. Sebagian besar infeksi disebabkan %I$"), sedangkan infeksi oleh %I$"* didapatkan di Afrika Barat. Infeksi %I$") memberi gambaran klinis yang hampir sama. %anya infeksi %I$") lebih mudah ditularkan dan masa sejak mulai infeksi &masuknya !irus ke tubuh' sampai timbulnya penyakit lebih pendek. +. Patofisiologi Setelah terinfeksi %I$, ,-".-/ penderita akan mengalami gejala yang disebut sindrom %I$ akut. 0ejala ini serupa dengan gejala infeksi !irus pada umumnya yaitu berupa demam, sakit kepala, sakit tenggorok, mialgia &pegal"pegal di badan', pembesaran kelenjar dan rasa lemah. Pada sebagian orang, infeksi dapat berat disertai kesadaran menurun. Sindrom ini biasanya akan menghilang dalam beberapa mingggu. Dalam (aktu 1 2 3 bulan kemudian, tes serologi baru akan positif, karena telah terbentuk antibodi. 4asa 1 2 3 bulan ini disebut (indo( periode, di mana penderita dapat menularkan namun secara laboratorium hasil tes %I$"nya masih negatif.

Setelah melalui infeksi primer, penderita akan masuk ke dalam masa tanpa gejala. Pada masa ini !irus terus berkembang biak secara progresif di kelenjar limfe. 4asa ini berlangsung cukup panjang, yaitu , )- tahun. Setelah masa ini pasien akan masuk ke fase full blo(n AIDS. D. 0ejala Penyakit AIDS 0ejala penyakit AIDS sangat ber!ariasi. Berikut ini gejala yang ditemui pada penderita AIDS 5 ). Panas lebih dari ) bulan, *. Batuk"batuk, 1. Saria(an dan nyeri menelan, 6. Badan menjadi kurus sekali, ,. Diare , 3. Sesak napas, .. Pembesaran kelenjar getah bening, 7. 8esadaran menurun, 9. Penurunan ketajaman penglihatan, )-. Bercak ungu kehitaman di kulit. 0ejala penyakit AIDS tersebut harus ditafsirkan dengan hati"hati, karena dapat merupakan gejala penyakit lain yang banyak terdapat di Indonesia, misalnya gejala panas dapat disebabkan penyakit tipus atau tuberkulosis paru. Bila terdapat beberapa gejala bersama"sama pada seseorang dan ia mempunyai perilaku atau ri(ayat perilaku yang mudah tertular AIDS, maka dianjurkan ia tes darah %I$. . Patofisiologi Perlekatan !iruis %I$ menginfeksi sel dengan mengikat permukaan sel sasaran yang memiliki molekul reseptor membran +D6. Sasaran yang disukai %I$ adalah limfosit : penolong positif +D6 atau sel :6. gp )*- %I$ yang berikatan dengan lifosit +D6 dapat diperanterai fusi membrane !irus ke membrane sel oleh gp 6). * korereseptor permukaan sel ++;, atau +<+;6 diperlukan agar glikoprotein gp )*- dan gp6) daapt berilkatan dengan reseptor +D6. =ang menyebabkan perubahan konformasi sehingga gp6) dapat masuk kemembran sel sasaran.

Sel lain yang rentan terhadap infeksi %I$ mencakup monosit makrofag. 4onosit makrofag dapat terinfeksi dan berfungsi sebagai reser!oar tetapi tidak dihancurkan oleh !irus %I$. %I$ bersifat politropik dan dapat menginfeksi sel seperti >8, limfosit B, sel endotel, sel epitel, sel alngerhans, sel denditrik dipermukaan mukosa tubuh, sel mikroglia, jaringan tubuh. Setelah !irus berfusi dengan limfosit +D6 belangsung serangkaian proses yang akhirnya menyebabkan terbentuk partikel !irus baru dari sel yang terinfeksi. Infeksi pada limfosit +D6 dapat menimbulkan sipatogenisitas melalui apapoptosis &kematian sel terprogram, anergi &pencegahan fusi sel lebih lanjut', pembentukan sinsitium &fusi sel'. ;eplikasi !irus Setelah terjadi fusi sel !irus, ;>A !irus masuk kebagian tengah sitoplasma limfosit sel +D6, setelah nukleokapsid dilepas terjadi trankripsi terbalik &re!erse transcription' dari satu untai tunggal ;>A menjadi D>A salinan &cD>A' untai ganda !irus. Integrase %I$ membantu insersi cD>A !irus ke dalam inti sel penjamu., mak * untai D>A sekarang menjadi pro!irus. Pro!irus menghasilakn ;>A 4essenger &4;>A' yang meninggalkan intisel dan masuk ke dalam sitoplasma. Protein"protein !irus dihasilkan oleh m;>A yang lengkap dan mengalami penggabungan setelah ;>A genom dibebaskan ke sitoplasma. :ahap akhir produksi !irus membutuhkan suatu en#im protease yang memotong dan menata protein !irus menjadi segmen kecil yang mengelilingi ;>A !irus., membentuk poartikel yang menular dan menonjol dari sel yang terinfeksi. Se(aktu menonjol dari sel penjamu, partikel !irus akan terbungkus oleh sebagian membran sel yang terinfeksi. %I$ baru dapat menyerang sel rentan lain di tubuh. %I$ secara terus menerus teraplikasi dalam organ limfoid. Partikel !irus juga dihubungkan sel dendritik folikular yang memindahkan infeksi kesel selama migrasi melalui limfoid &Price, S,A, *--,5*1-'. Sel +D6 mencakup monosit, makrofag dan limfosit :6 helper &yang dinamakan sel +D6 kalau dikaitkan dengan infeksi %I$', limfosit :6 helper merupakan sel terbanyak, sesudah terikat dengan membrane sel :6 helper %I$ akan menginjeksikan dua utas bengan ;>A yang identik kedalam sel :6 helper. Dengan menggunakan en#im re!erse transcriptase %I$ melakukan pemograman ulang materi genetic sel :6 yang terinfeksi untuk membuat double"strandet D>A & D>A utas ganda'. D>A akan disatukan ke nukleus :6 sebagai sebuah pro !irus dan terjadi infeksi permanent siklus replikasi %I$ dibatasi dalam stadium ini sampai sel yang

terinfeksi diaktifkan. Akti!asi sel yang terinfeksi dilaksanakan antigen, mitogen sitokin +:>? alfa atau interleukin $ atau produk gen !irus seperti 5 cytomegalo!irus &+m $ ', epsten Bam $irus, %erpes simplek atau hepatic, akibatnya sel :6 yang terinfeksi diaktifkan, replikasi serta pembentukan tunas %I$ terjadi sel :6 dapt dihancurkan %I$ baru dibentuk dan dilepaskan dari darah dan menginfeksi sel +d6@ lainnya. Infeksi monosit dan makrofag tampaknya berlangsung persisiten dan tidak mengakibatkan kematian sel yang bermakna, tetapi sel ini menjadi reser!oir %I$ sehingga !irus dapat bersembunyi dan sisitem imun yang terangkut ke seluruh tubuh le(at system ini dan menginfeksi jaringan tubuh. Sebagian besar jaringan ini mengandung molekul +D6 @ yang lain. Siitem imun pada infeksi %I$ lebih aktif dari yang diperkirakan sebelumnya dan terproduksikan sebesar * milyar limfosit +D6@ yang lain. 8eseluruhan populasi sel +d6@ perifer akan mengalami pergantian & turn o!er' tiap ), hari sekali. 8ecepatan produksi %I$ terkait dengan status kesehatan orang yang terjangkit infeksi tersebut jika orang tersebut tidak sedang terperangi mela(an infeksi %I$ lain, reproduksi %I$ akan lambat. ;eproduksi %I$ akan dipercepat kalau penderita sedang menghadapi infeksi lainA system imun terstimulasi. ;eaksi ini dapat menjelaskan periode laten yang diperlihatkan sebagian penderita yang terinfeksi %I$ simtomatik )- tahun sesudah terinfeksi. Dalam respon imun, limfosit :6 berperan penting mengenali antigen asing mengaktifkan limfosit B yang memproduksi antibody, menstimulasi limfosit sitotoksik, memproduksi limfokin pertahanan tubuh terhadap infeksi, :6 terganggu mikroorganisme yang menimbulkan penyakit akan berkesempatan mengin!asi dan menyebabakan sakit seirus. Infeksi dan melignasi timbul akibat gangguan system imun & infeksi oportunistik '. %I$ menginfeksi sel melalui pengikatan dengan protein +D6. Bagian !irus yang bersesuaian dengan protein +D6 disebut antigen grup )*-. Se(aktu sel :6 terinfeksi mengalami pengakti!an untuk berpartisipasi dalam respon imun, %I$ mulai bereproduksi kemudian !irus menghancurkan sel penjamu dengan mengganggu kemampuan sel untuk melindungi diri dari radikal bebas menghasilkan superantigen yang menghancurkan sel. Dengan produksi %I$ dan kematian sel :6 semakin banyak !irus baru dalam sirkulasi . 8ematian sel :6 dapat terjadi juga karena respon imun oleh sel"sel killer penjamu untuk mengeliminasi !irus dan semua sel ayng terinfeksi. &+or(in, *---5.9'

?. Path(ay

%I$ & %uman Immuno deficiency $irus '

Ikatan protein gp )*- dengan sel &+D6@'

Ikatan dengan membrane sel :6 helper

Injeksi * utas benang ;>A yang identik ke :6 helper oleh en#im re!erse transciptase

Pemograman ulang materi genetic sel :6 terinfeksi

Pembuahan double stranded & D>A utas ganda'

Penyatuan D>A nucleus :6

Akti!asi sel :6 terinfeksi, Interleukin I dan produk gen !irus

;eplikasi Pembentukan %I$ baru

8urang Pengetahuan

Penglepasan %I$ yg baru keplasma

Isolasi Sosial

;eplikasi Pembentukan tunas %I$ baru 8urang Informasi :ak tahu cara Pencegahan dan penularan %I$ Prosedur Isolasi Penglepasan %I$ baru ke plasma 4udahnya transmisi dan proses penularan penyakit

Infeksi +D 6 @ lainnya

AIDS

8erusakan limfosit :6 Immunosupresi ;esiko :inggi Infeksi Infeksi Bpportunistik

?. 8omplikasi Berdasarkan data"data hasil penilaian komplikasi yang mungkin terjadi mencakup 5 &Su#anne +. Smelt#er, Brenda 0. Bare, 8epera(atan 4edikal Bedah Brunner C Sudarth ed. 7, 0+, Dakarta, *--)5 ).16' )' Infeksi oportunistik *' 8erusakan pernapasan atau kegagalan respirasi 1' Syndrome pelisutan dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit 6' ;eaksi yang merugikan terhadap obat"obatan. 0. Penyakit yang Sering 4enyerang Perilaku AIDS Dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh, penderita menjadi lebih mudah terserang penyakit infeksi maupun kanker. Bahkan penyakit"penyakit inilah yang sering menjadi penyebab kematian penderita. Infeksi yang timbul karena melemahnya kekebalan tubuh ini disebut infeksi oportunistik. Sebagian besar penyakit infeksi yang timbul merupakan reakti!asi &pengaktifan kembali' kuman yang sudah ada pada penderita, jadi bukan merupakan infeksi baru. Sementara itu, untuk infeksi parasitAjamur tergantung pre!alensi parasitAjamur di daerah tersebut. Berikut penyakit yang ditemukan pada penderita AIDS 5 ). 8andidiasis oral dan esophagus, *. :uberkulosis paruAekstrapulmoner, 1. Infeksi !irus sitomegalo, 6. Pneumonia rekurens, ,. nsefalitis toksoplasma, 3. Pneumonia P. +arinii, .. Infeksi !irus herpes simpleks. %. Pengobatan Ealau belum ada obat penyembuh AIDS, namun telah ditemukan beberapa obat yang dapat menghambat infeksi %I$ dan beberapa obat yang secara efektif dapat mengatasi infeksi. Dadi sebagian besar masalah klinik dapat diobati, kualitas hidup dapat diperbaiki dan harapan hidup dapat ditingkatkan.

Pada umumnya pengobatan penderita AIDS dapat dibagi menjadi 1 yaitu pengobatan terhadap %I$, pengobatan terhadap infeksi oportunistik, dan pengobatan pendukung seperti nutrisi, olahraga, tidur, psikososial, dan agama. I. Penularan Penyakit AIDS Biaya pengobatan penyakit ini amat mahal, padahal hasilnya pun masih belum memuaskan, karena itu akan lebih baik mencegah timbulnya penyakit ini bila dibandingkan mengobati. Fntuk melakukan upaya pencegahan perlu diketahui bagaimana cara penularan penyakit ini. Pada prinsipnya penularan penyakit ini dapat melalui hubungan seksual, parenteral, dan perinatal. 8endati efektifitas penularan seksual sangat kecil dibandingkan jalur penularan lain, yaitu berkisar -,) 2 ) /, tetapi karena frekuensi kejadiannya sangat besar maka prosentase penularan %I$ secara seksual akhirnya menjadi sangat besar. D. +ara Penularan Berikut cara penularan pada 663 kasus AIDS di Indonesia &data sampai 1>o!ember *---'. ). %ubungan seksual *. Pengguna narkotika suntik 1. Perinatal 6. :ranfusi darah 8. Diagnosa Daftar diagnosa kepera(atan yang mungkin dibuat sangat luas karena sifat penyakit AIDS yang amat kompleks. )' 8erusakan integritas kulit yang berhubungan dengan manifestasi %I$ ekskoriasi dan diare. *' Diare yang berhubungan dengan kuman pathogen pada usus dan atau infeksi %I$. 1' ;isiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan imunodefisiensi. 6' Intoleransi akti!itas yang berhubungan dengan keadaan mudah letih, kelemahan, malnutrisi, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dan hipoksia yang yang menyertai infeksi paru.

,' Perubahan proses pikir yang berhubungan dengan penyempitan rentang perhatian, gangguan daya ingat, kebingungan dan disorientasi yang menyertai ensefelopati %I$. 3' Bersihan saluran napas tidak efektif yang berhubungan dengan pneumonia pneumocystis carinii &P+P', peningkatan sekresi bronkus dan penurunan kemampuan untuk batuk yang menyertai kelemahan serta keadaan mudah letih. .' >yeri yang berhubungan dengan gangguan integritas kulit perianal akibat diare, sarcoma 8aposi dan neuropati perifer. 7' Perubahan nutrisi 5 kurang dari kebutuhan tubuh, yang berhubungan dengan penurunan asupan oral.

DAFTAR PUSTAKA Su#anne +. Smelt#er, Brenda 0. Bare. &*--)'. 8epera(atan 4edikal Bedah Brunner C Sudarth ed. 7, 0+, Dakarta 4arylinn . Doenges. &)999'. ;encana Asuhan 8epera(atan d.1, 0+, Dakarta Dr. %. Sujudi. &)996'. 4ikrobiologi 8edokteran, Binarupa Aksara, Dakarta http5AA(((.mer"c.orgAmcAinaAikesAikesG-3-6Gaids.htm