Anda di halaman 1dari 20

ISSN 1979-7095

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora


Volume 4, Nomor 3, Desember 2010

JPPSH
Lembaga Penelitian Universitas Pendidikan Ganesha
Jalan Udayana 12C Singaraja, Telp. (0362)22928, Fax. (0362)22928 lemlitundiksha@yahoo.com http://www.lemlit-undiksha.co.nr

ISSN 1979-7095
JURNAL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SAINS & HUMANIORA (JPPSH) LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA Penerbit Lembaga Penelitian Universitas Pendidikan Ganesha Pembina Prof. Dr. I Nyoman Sudiana, M.Pd (Rektor Undiksha) Prof. Dr. I Gusti Putu Suharta, M.Si (PR I Undiksha) Pemimpin Redaksi Prof. Dr. I Wayan Santyasa, M. Si. (Ketua Lembaga Penelitian Universitas Pendidikan Ganesha) Wakil Pemimpin Redaksi Prof. Dr. I Nengah Suandi, M. Hum. (Sekretaris Lembaga Penelitian Universitas Pendidikan Ganesha) Dewan Redaksi Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd (UM) Prof. Dr. Ir. I Gede Mahardika, M.S (Unud) Prof. Dr. I Nyoman Sudyana, M.Sc (Unpar) Dr. Ir. Dwi Sulisworo, M.Si (UAD) Prof. Dr. Sukadi. M. Pd., M. Ed. (Undiksha) Drs. I Wayan Muderawan, M. Si., Ph. D. (Undiksha) Dr. I Gusti Agung Nyoman Setiawan, M.Si (Undiksha) Dr. Ida Bagus Nyoman Sudria, M.Sc (Undiksha) Dr. I Gede Budasi, M. Ed. (Undiksha) Dr. Made Tegeh, M. Pd. (Undiksha) Putu Agus Mayuni, S.Pd., M. Pd. (Undiksha) Wayan Artana Yasa, S. Pd., M. Pd. (Undiksha) Putu Indah Rahmawati, M.Bis (Undiksha) Drs. I Gede Nurjaya, M.Pd (Undiksha) Bendaharawan Dra. Ni Ketut Wirati Tata Usaha & Sirkulasi Ida Bagus Astiyasa Ketut Sempidi Made Suardana Putu Putrayana Wardana Alamat Redaksi Jl. Udayana 12C, 81116, Singaraja Telepon (0362)22928, Fax. (0362)22928 E-mail: lemlitundiksha@yahoo.com http://www.lemlit-undiksha.co.nr

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

ISSN 1979-7095

JURNAL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SAINS & HUMANIORA (JPPSH)


Volume 4, Nomor 3, Desember 2010 DAFTAR ISI
Iii Wacana V Daftar Isi 229-239 Analisis efisiensi pemanfaatan biofilm dan sel bebas untuk

240-254

255-270

271-286

287-298

299-310

311-333

perombakan limbah tekstil pada reaktor sistem kombinasi anaerob-aerob I Dewa Ketut Sastrawidana & I Nyoman Sukarta Jurusan Pendidikan Kimia & Jurusan Analis Kimia FMIPA Undiksha Pengembangan kamus chart of accounts untuk mata kuliah akuntansi perhotelan I Putu Gede Diatmika & Gede Adi Yuniarta Jurusan akuntansi FIS Undiksha Analisis tingkat partisipasi desa pakraman dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Buleleng I N. Sumardika & I G. A. N. Setiawan, Jurusan Biologi Ni W. Martiningsih, Jurusan Analis Kimia FMIPA Undiksha Peranan pendidikan dan pelatihan di bidang dasar-dasar ilmu kelautan dan perikanan dalam menumbuh kembangkan wawasan dan minat anak-anak remaja pesisir dalam aspek kelautan dan perikanan Ida Bagus Jelantik Swasta Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Undiksha Perombakan zat warna azo menggunakan jamur lapuk putih ganoderma applanatum isolat lokal Singaraja Nyoman Selamat, Dewa Ketut Sastrawidana, & Ngadiran Kartowasono Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Undiksha Representasi ngemaduang (poligami) dalam seni pertunjukan Luh Putu Sendratari & I Ketut Margi Jurusan Pendidikan Sejarah Antropologi FIS Undiksha Pengembangan teknologi pembuatan bata merah unggul tahan lumut berbantukan silika dari abu sekam padi dan pigmen anorganik alami W. Karyasa, Jurusan Pendidikan Kimia

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

ISSN 1979-7095

I K. Artawan, Jurusan Pendidikan Biologi M. Vivi Oviantari, Jurusan Analis Kimia FMIPA Undiksha

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

vi

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

4(3), 255-270

ANALISIS TINGKAT PARTISIPASI DESA PAKRAMAN DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN BULELENG I N. Sumardika & I G. A. N. Setiawan, Jurusan Pendidikan Biologi Ni W. Martiningsih, Jurusan Analis Kimia FMIPA Undiksha Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk dan tingkat partisipasi desa pakraman dalam menangani sampah di Kabupaten Buleleng serta pendapat desa pakraman, instansi yang mengelola sampah dan para pengambil kebijakan di tingkat desa di Kabupaten Buleleng tentang alternatif sistem pengelolaan sampah yang ditawarkan dan bagaimana sistem pengelolaan sampah yang optimal. Teknik pengumpulan data melalui penyebaran kuisioner terhadap sampel desa pakraman dengan cara cluster random sampling dan wawancara terhadap sampel dengan cara purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa bentuk-bentuk partisipasi desa pakraman dalam menangani sampah di Kabupaten Buleleng adalah adanya aturan desa pakraman yang mengatur tentang persampahan di desa, pemisahan sampah yang akan dibuang, serta pemanfaatan kembali sampah yang telah dipisahkan. Tingkat partisipasi desa pakraman dalam menangani masalah sampah di Kabupaten Buleleng masih tergolong rendah. Alternatif sistem pengelolaan sampah yang ditawarkan peneliti mendapatkan tanggapan yang positif dari desa pakraman, instansi yang mengelola sampah (DLHKP) dan pengambil kebijakan di tingkat desa (perbekel/ kelian adat dan kelian dinas) di Kabupaten Buleleng. Kata-kata kunci: pengelolaan sampah; desa pakraman; Kabupaten Buleleng Abstract This research aims to determine the forms and levels of participation in handling garbage pakraman village in Buleleng regency and village opinion pakraman, a government agency managing the waste and policy makers at the village in Buleleng District of alternative waste management systems that are offered and how the waste management system optimal. Data collection techniques by distributing questionnaires to the sample villages pakraman by cluster random sampling and interviews of a sample by way of purposive

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

255

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

4(3), 255-270

sampling. Based on the results obtained that the forms of participation in handling garbage pakraman village in Buleleng district is the village rules governing pakraman garbage in the village, which will be disposed of waste separation and recovery of waste that has been separated. Pakraman village-level participation in addressing the waste problem in the regency of Buleleng is still quite low. Alternative waste management systems that offer researchers get a positive response from the village pakraman, a government agency managing the waste (DLHKP) and policy makers at the village level (perbekel / kelian adat and kelian dinas) in Buleleng Regency. Key words: waste management; pakraman village; Buleleng Regency Pendahuluan Sampah menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi oleh hampir seluruh kota di Indonesia. Pertambahan penduduk, urbanisasi, rendahnya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan lingkungan dan ditambah dengan gaya hidup yang cenderung konsumtif telah meningkatkan volume sampah. Wardana, (2007) menyatakan bahwa volume timbunan sampah Kota Juwana 2005 adalah 2,58 l/org/hr dengan tingkat pertumbuhan 0,4% tiap tahun. Sampah merupakan barang yang tidak diinginkan kehadirannya oleh sebagian besar masyarakat. Bagi sebagian masyarakat, sampah adalah sesuatu yang membuat lingkungan menjadi kumuh, bau, jorok dan menjijikan, padahal tanpa disadari setiap orang, setiap hari pasti menghasilkan sampah. Lebih dilematis lagi, hampir semua orang mendambakan rumahnya bersih, sehat dan nyaman. Sampah dapat menjadi penyebab terjadinya banjir dan sumber berbagai penyakit. Beberapa kasus mengenai sampah yang menjadi bahan berita, seperti : kasus di Kota Bandung yang dikenal sebagai kota kembang, sempat tercemar bau busuk dan pandangan tidak sedap akibat penumpukan sampah hampir di setiap sudut kota; kasus di Kota Denpasar volume sampah telah mencapai 2.500 m3 per hari membuat pemerintah Kota Denpasar kewalahan, belum lagi masalah sampah-sampah yang membanjiri sungai, sehingga program kali bersih yang dicanangkan belum memenuhi harapan; kasus di Subak Babakan, Kecamatan Blahbatuh Gianyar, para petani lebih terkonsentrasi mengurus sampah yang menyumbat hampir sepanjang saluran irigasi; kasus tempat pembuangan sampah Leuwigajah yang longsor dan memakan korban jiwa penduduk yang bermukim di sekitar tempat tersebut;

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

256

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

4(3), 255-270

kasus pantai Kuta hampir setiap tahun menerima sampah kiriman dan mengotori sepanjang pantai Kuta. Berbagai permasalahan terkait dengan sampah akan muncul kembali bila tidak ada optimalisasi dalam pengelolaan sampah tersebut. Sistem pengelolaan sampah yang optimal adalah dalam rangka untuk mengurangi volume sampah. Upaya untuk mengurangi volume sampah sangat sulit dilakukan. Hambatan dalam upaya meminimalisasi sampah terutama sampah plastik disebabkan karena kebutuhan dan penggunaan bahan wadah, pembungkus atau kemasan yang masih tinggi dan belum ditemukan bahan pengganti plastik yang memiliki sifat efisien, murah dan mudah diperoleh. Selain itu, saat ini bahan pembungkus/wadah seperti kantong plastik digunakan sebagai media promosi bagi tempat-tempat perbelanjaan. Hal ini semakin mempersulit upaya meminimalisasi sampah, terutama sampah plastik. Ramang, R dkk (2007) menyatakan bahwa masyarakat belum sepenuhnya menyadari akan pentingnya daur ulang dan pengomposan sampah, sehingga hanya sebanyak 37% dari responden yang melakukan daur ulang dan pengomposan. Upaya daur ulang telah dilakukan terhadap sampah plastik, sampah kertas, sampah gelas dan botol kaca dan terutama sampah organik. Proses daur ulang yang telah dilakukan masih menunjukkan hasil yang kurang optimal karena pihak swasta yang bergerak di bidang daur ulang relatif kecil. Keterbatasan daur ulang ini disebabkan karena karakteristik sampah yang tidak atau kurang layak untuk didaur ulang baik secara estetika maupun secara ekonomi. Karakteristik sampah yang memiliki nilai jual yang tinggi ditentukan oleh jenis sampah, kebersihan, pengepakan atau kemasan, ukuran yang kecil atau digiling dan jumlah atau kapasitasnya (Sarjono, 2001). Karakteristik sampah yang tidak layak atau memiliki nilai jual rendah umumnya disebabkan karena kondisi sampah yang kurang bersih akibat tercampur antara sampah basah dan sampah kering sehingga sampah terutama sampah kertas yang basah atau kotor, tidak memiliki nilai jual. Untuk sampah plastik yang kotor akan memiliki nilai jual yang rendah karena untuk dapat dimanfaatkan kembali, perlu dilakukan upaya pembersihan terhadap sampah tersebut. Sistem pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan optimal bila adanya pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Tetapi sampai sekarang sangat jarang daerah yang bisa menyelenggarakan sistem pengelolaan tersebut. Hal ini juga merupakan kendala bagi DLHKP (Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan) Kabupaten Buleleng.

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

257

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

4(3), 255-270

Kabupaten Buleleng mempunyai jumlah penduduk 596.910 (Anonim, 2006) dari tahun ke tahun mengalami peningkatan jumlah penduduk. Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, maka tidak dipungkiri lagi jumlah sampah yang dihasilkan akan semakin meningkat. Jumlah volume sampah di Kabupaten Buleleng tahun 2004 berkisar 10.064 m3/hari. Sementara lokasi yang menjadi TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah cepat penuh, seperti kasus yang terjadi pada TPA yang disediakan untuk kawasan perkotaan Singaraja sudah penuh. Awalnya TPA yang disediakan untuk kawasan perkotaan Singaraja adalah TPA Jagaraga (Luas lahan 0,82 ha), tetapi karena sudah jenuh sehingga dicari TPA baru yaitu TPA Bungkulan (Anonim, 2006). Walaupun sudah didapatkan lokasi untuk TPA yang disediakan bagi kawasan perkotaan Singaraja, namun harus dipikirkan juga lokasi-lokasi lain bila TPA untuk wilayah yang lain juga penuh. Lokasi TPA baru dicari tidak dengan mudah. Hal ini disebabkan karena sulitnya mencari lahan kosong yang tidak ada pemukimannya. Sedangkan masyarakat di dekat daerah tersebut biasanya enggan bahkan tidak mau bila di dekat tempat tinggalnya dijadikan TPA. Apabila sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Buleleng masih tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya, sementara jumlah sampah dari tahun ke tahun semakin meningkat, maka tentunya akan menjadi masalah di tahun mendatang. Selama ini instansi yang mengelola sampah (DLHKP Kab Buleleng) sudah terus membenahi sistem pengelolaan sampahnya. Hal ini terbukti dengan ditunjuknya ibu kota Kabupaten Buleleng sebagai penerima penghargaan tertinggi di bidang kebersihan dan lingkungan hidup yakni Kalpataru. Agar penghargaan tersebut dapat dicapai secara berkelanjutan maka Kabupaten Buleleng menyelenggarakan studi optimalisasi pengelolaan sampah yang diorientasikan pada aspek pemberdayaan masyarakat dan berorientasi pengembangan usaha ekonomi produktif. Sehingga peredaran sampah dapat dikurangi, penguatan ekonomi masyarakat dan mengurangi beban TPA-TPA yang ada (Anonim, 2006). Tetapi sampai sekarang program tersebut belum terselenggara, karena sebagian besar masyarakat tetap tidak mau memilah sampah. Nitikesari (2005) menyatakan bahwa kendala yang dihadapi masyarakat untuk sistem pengelolaan sampah tersebut adalah kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai nilai ekonomis sampah dan pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, sampah yang terpisah tercampur kembali saat pengangkutan oleh petugas, dan aktivitas masyarakat yang padat sehingga tidak memiliki waktu untuk memilahnya.

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

258

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

4(3), 255-270

Kendala yang dihadapi masyarakat tersebut terjadi kemungkinan juga karena wilayah yang dibidangi DLHKP terlalu luas sehingga untuk mengawasi/sosialisasi kepada masyarakat untuk memilah sampah juga sulit, ditambah lagi dengan pertambahan jumlah penduduk yang pesat, sehingga DLHKP kewalahan untuk menjalankan program tersebut (Anonim, 2006). Untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu adanya pihak ketiga (antara masyarakat dan DLHKP) yang mau memberikan terobosan program yang mampu mengatasi kendala tersebut. Program tersebut diantaranya dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat dan menghargai sampah yang sudah terpisah sehingga tidak tercampur kembali. Selain itu juga bagaimana agar program tersebut mau dijalankan oleh masyarakat. Dalam penelitian ini diberikan alternatif pihak ketiga tersebut, yakni desa pakraman. Selain karena desa pakraman tentunya disegani masyarakat dan juga karena sudah banyak desa pakraman yang terlibat dalam pengelolaan sampah. Program dengan pemberdayaan desa pakraman ini juga nantinya memberikan keuntungan ekonomis baik bagi masyarakat maupun bagi desa pakraman itu sendiri. Hal tersebut karena program yang ditawarkan dengan membeli sampah dari masyarakat yang masih bisa didaurulang dengan membayarnya setiap bulan dan desa pakraman mendapat dana untuk membayarnya dengan menjual sampah tersebut ke pihak swasta yang bergerak di bidang daur ulang sampah (pengepul rombeng). Dimana program ini belum pernah dilaksanakan oleh pihak DLHKP Kabupaten Buleleng. Oleh karena itu sebagai langkah awal keberhasilan pengelolaan sampah dengan pemberdayaan desa pakraman, sehingga dirasa perlu untuk melakukan penelitian tentang analisis tingkat partisipasi desa pakraman dalam penanganan sampah di Kabupaten Buleleng, menuju keberhasilan pengelolaan sampah secara optimal. Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan permasalahan, yaitu 1) Bagaimanakah bentuk-bentuk partisipasi desa pakraman dalam menangani sampah di Kabupaten Buleleng? 2) Bagaimanakah tingkat partisipasi desa pakraman dalam menangani masalah sampah di Kabupaten Buleleng? 3) Bagaimanakah pendapat desa pakraman, instansi yang mengelola sampah dan para pengambil kebijakan di tingkat desa di Kabupaten Buleleng tentang alternatif sistem pengelolaan sampah yang ditawarkan dan bagaimana sistem pengelolaan sampah yang optimal? Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai tingkat partisipasi desa pakraman dalam pengelolaan sampah, sehingga dapat menjadi dasar bagi optimalisasi pengelolaan sampah selanjutnya.

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

259

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

4(3), 255-270

Metode Metode penelitian mengenai tingkat partisipasi desa pakraman dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Buleleng menggunakan pendekatan metode deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah 1) desa pakraman dengan objek yang diteliti meliputi bentuk-bentuk partisipasinya dalam penanganan sampah, tingkat partisipasinya dalam penanganan sampah di sekitar desa mereka dan pendapat mengenai alternatif pemecahan masalah yang ditawarkan, 2) Kepala Dinas DLHKP dan staf yang membidangi sampah serta Perbekel di Kabupaten Buleleng dengan objek yang diteliti yaitu pendapat mengenai alternatif pemecahan masalah yang ditawarkan. Teknik pengambilan data melalui kuisioner dan wawancara. Sampel yang menjadi sasaran untuk diberikan kuisioner ditentukan dengan cluster random sampling Sementara sampel untuk wawancara ditentukan secara purposive sampling. Data yang diperoleh dari hasil penyebaran kuisioner dan pengamatan langsung di lapangan kemudian dirangkum dan diolah. Hasil pengolahan data kemudian dianalisis untuk menentukan tingkat partisipasi desa pakraman mengatasi masalah sampah. Data yang diperoleh dari hasil wawancara dianalisis secara deskriptif. Dari hasil analisis tersebut diambil kesimpulan yang dapat menjawab rumusan permasalahan penelitian ini yang akan dilaporkan. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis tingkat partisipasi desa pakraman dalam mengelola sampah. Analisis tersebut juga digunakan untuk menganalisis pendapat dari desa pakraman, instansi yang menangani sampah dan pengambil kebijakan di tingkat desa mengenai optimalisasi pengelolaan sampah dengan pemberdayaan desa pakraman dengan pola yang diberikan peneliti. Hasil Tujuan khusus dari penelitian ini salah satunya adalah untuk mengetahui bentuk-bentuk partisipasi desa pakraman dalam menangani sampah di Kabupaten Buleleng. Hal ini dilakukan dengan penyebaran kuisioner. Kuisioner terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu bagian pertama tentang tingkat partisipasi yang mengandung 45 buah pertanyaan dan bagian kedua tentang faktor penghambat dan pendorong tingkat partisipasi yang mengandung 9 buah pertanyaan. Adapun hasil penyebaran kuisioner dapat dilihat pada Tabel 01.

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

260

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

4(3), 255-270

Tabel 01 Hasil Penyebaran Kuisioner


No. Pertanyaan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 Jawaban Pertanyaan Desa Pakraman Desa Dinas c d e f g H a b c d E 5 13 2 5 2 3 2 3 2 - 1 - 1 1 - 1 3 1 1 13 1 2 11 - 12 6 17 - - 2 5 13 5 15 1 10 1 2 12 9 - 1 6 1 9 1 3 5 2 3 2 2 1 1 2 5 5 5 6 - - 1 2 4 1 10 2 3 - - - - 1 - 14 16 4 12 1 2 1 2 1 1 4 4 - - 5 11 2 - - - 4 1 2 2 12 - - - 4 - 3 4 - 3 3 - - 7 8 1 2 - 1 2 - 2 5 5 15 1 1 15 1 5 10 1 3 - 18 1 - 13

a 6 4 5 2 2 1 7 6 5 5 3 5 5 5 4 12 5 3 5 5 3 10 18 18 8 -

b 12 1 4 2 3 2 13 16 7 3 1 7 1 1 9 14 2 14 1 15 4 7 6 -

1 1

3 1 4 4

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

261

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

4(3), 255-270

No. Pertanyaan 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54

a 18 2 2 8 5

b 7 7 6 1 2

Jawaban Pertanyaan Desa Pakraman Desa Dinas c d e f g H a b c d E 15 - 1 - 11 - 1 4 1 14 1 5 - - 1 1 12 5 - 1 3 12 - - 1 14 6 - 1 - 13 2 13 1 2 - - 2 1 1 1 15 13 2

f 2

Keterangan: : tidak ada pilihan jawaban : tidak ada yang memilih

Berdasarkan Tabel 01 bentuk-bentuk partisipasi desa pakraman dalam menangani sampah di Kabupaten Buleleng dapat dilihat pada pertanyaan-pertanyaan kuisioner diantaranya, yaitu nomor (1) Adakah aturan desa pakraman yang mengatur tentang persampahan di desa? 34) Apakah pihak desa memisahkan sampah yang dibuang? 36) Apa yang dilakukan terhadap sampah yang telah dipisahkan? Tingkat pertisipasi desa pakraman dalam menangani masalah sampah di Kabupaten Buleleng dengan kategori sangat rendah sebesar 17%, rendah sebesar 44%, sedang sebesar 33% dan tinggi sebesar 6%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 01.
9 8 7 6 Jum lah 5 4 3 2 1 0 SR R S Tingkat Partisipasi T ST

Keterangan: SR : Sangat Rendah R : Rendah S : Sedang T : Tinggi ST : Sangat Tinggi

Gambar 01 Grafik tingkat partisipasi desa pakraman dalam menangani masalah sampah di Kabupaten Buleleng

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

262

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

4(3), 255-270

Selain melalui penyebaran kuisioner, pengumpulan data juga dilakukan dengan wawancara tak terstruktur dengan kelian adat/ perbekel yang ada di Kabupaten Buleleng. Berdasarkan hasil wawancara didapatkan hasil bahwa semua desa pakraman setuju dengan alternatif sistem pengelolaan sampah yang ditawarkan peneliti. Kuisioner juga disebarkan di desa-desa dinas yang ada di Kabupaten Buleleng sebagai data tambahan untuk mengetahui tingkat partisipasi desa dinas dalam menangani masalah sampah. Gambar 02 menunjukkan tingkat pertisipasi desa dinas dalam menangani masalah sampah di Kabupaten Buleleng. Tingkat partisipasi desa dinas dengan kategori sangat rendah sebesar 11%, rendah sebesar 67%, dan sedang sebesar 22%.
14 12 10 Ju m lah 8 6 4 2 0 SR R S Tingkat Partisipasi T ST

Keterangan: SR : Sangat Rendah R : Rendah S : Sedang T : Tinggi ST : Sangat Tinggi

Gambar 02 Grafik Tingkat Partisipasi Desa Dinas Dalam Menangani Masalah Sampah di Kabupaten Buleleng Pembahasan Permasalahan sampah semakin tinggi seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Upaya untuk mengurangi volume sampah sangat sulit dilakukan. Kabupaten Buleleng merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Bali yang membutuhkan pengelolaan sampah yang optimal dalam rangka mengurangi volume sampah. Studi optimalisasi pengelolaan sampah yang dilakukan DLHKP Kabupaten Buleleng menyatakan bahwa pengelolaan sampah idealnya diorientasikan pada aspek pemberdayaan masyarakat dan berorientasi pengembangan usaha ekonomi produktif, tetapi sampai sekarang sistem tersebut tidak terselenggara, karena sebagian besar masyarakat tetap tidak mau memilah sampah dengan berbagai kendala. Sistem pengelolaan sampah dengan memberdayakan desa pakraman dengan pola membeli sampah dari masyarakat dan membayarnya setiap bulan merupakan produk terbarukan dalam pengelolaan persampahan dan belum pernah dilakukan di Kabupaten Buleleng. Melalui penelitian tentang analisis tingkat partisipasi

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

263

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

4(3), 255-270

desa pakraman dalam penanganan sampah di Kabupaten Buleleng ini diharapkan dapat menjadi langkah awal keberhasilan pengelolaan sampah dengan pemberdayaan desa pakraman yang nantinya akan menuju keberhasilan pengelolaan sampah secara optimal. Penelitian ini dilakukan di sembilan kecamatan yang ada di Kabupaten Buleleng, yaitu Kecamatan Gerokgak, Kecamatan Seririt, Kecamatan Busungbiu, Kecamatan Banjar, Kecamatan Sukasada, Kecamatan Buleleng, Kecamatan Sawan, Kecamatan Kubutambahan dan Kecamatan Tejakula. Penyebaran kuisioner ke desa-desa pakraman dan desadesa dinas di masing-masing kecamatan dilakukan untuk mengetahui bentukbentuk dan tingkat partisipasi desa pakraman dalam menangani sampah. Jumlah kuisioner yang disebarkan di desa-desa pakraman dan desa-desa dinas sebanyak masing-masing 18 buah kuisioner. Berdasarkan hasil penyebaran kuisioner di desa-desa pakraman diperoleh data, yaitu bentuk-bentuk partisipasi desa pakraman dalam menangani sampah di Kabupaten Buleleng adalah adanya aturan desa pakraman yang mengatur tentang persampahan di desa, pemisahan sampah yang akan dibuang oleh pihak desa pakraman, serta pemanfaatan kembali sampah yang telah dipisahkan. Bentuk-bentuk peraturan tentang persampahan di desa pakraman adalah tidak boleh membuang sampah ke sungai, dilarang membuang sampah sembarangan dan membuang sampah pada TPS. Aturan desa pakraman ini umumnya tertulis (83,33%), tetapi di beberapa desa pakraman ada yang tidak tertulis, hanya merupakan adat (16,67%). Sebanyak 33,33% desa pakraman memiliki peraturan mengenai waktu membuang sampah dan sisanya tidak memiliki peraturan tersebut. Waktu yang ditetapkan untuk membuang sampah ada yang dari pukul 06.00 s.d. 09.00 dan 16.00 s.d. 18.00. Untuk masalah sampah yang merupakan sisa dari kegiatan adat yang ada di wilayah desa pakraman ada yang diurus oleh panitia dari kegiatan tersebut yang merupakan bagian dari pengurus desa pakraman, DLHKP Kabupaten Buleleng, ada diurus langsung oleh pemilik upacara, ada yang melibatkan warga desa dan anak sekolah serta ada juga yang diurus oleh petugas kebersihan. Sampah yang banyak dihasilkan oleh desa setiap harinya adalah sampah plastik (termasuk botol dan atau gelas plastik) dan daun. Selain itu ada juga berupa sisa makanan, kertas dan sisa upacara. Wadah yang biasa digunakan desa pakraman di kantor sebagai tempat sampah adalah drum, bak plastik, bak semen, ban karet dan keranjang sampah. Setelah penuh sampah kemudian dikumpulkan di TPS, tetapi ada juga desa pakraman yang membuang sampahnya ke sungai atau got terdekat.

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

264

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

4(3), 255-270

Waktu pengambilan/ pembuangan sampah dari kantor desa pakraman dalam seminggu sangat bervariasi, ada yang setiap hari, 4-6 kali seminggu, 1-3 kali seminggu dan ada yang tidak tentu waktunya. Sebagian kecil desa pakraman membayar pungutan sampah setiap bulannya dan besar pungutan sampah tersebut ada yang kurang dari Rp 3.000,00 , Rp 5.000,00-Rp 10.000,00 dan lebih besar dari Rp 10.000,00. Desa-desa pakraman dalam setahun ini hanya sebagian kecil (16,67%) yang pernah memisahkan dan memanfaatkan sampah yang dibuang karena mereka tidak tahu untuk apa sampah dipisahkan dan bingung jenis sampah apa yang harus dipisahkan. Alasan lainnya pemisahan dan pemanfaatan sampah ini memerlukan pengolahan khusus. Bagi desa pakraman yang sudah melakukan pemisahan dan pemanfaatan sampah, sampah yang biasanya dipisahkan dan dimanfaatkan diantaranya sampah berupa plastik dan kertas bekas serta daun untuk pupuk organik (kompos). Sampah-sampah yang telah dipisahkan ini ada yang kemudian memanfaatkannya sendiri. Pihak-pihak desa pakraman secara rutin mengadakan pembersihan sampah di luar lingkungan kantor dalam rangka aksi kebersihan di banjar atau lingkungan (gotong royong) dan menjelang upacara keagamaan, seperti Purnama dan Tilem. Pada musim hujan got atau saluran air yang mampet dibersihkan agar tidak menimbulkan banjir. Pelaksanaan kegiatan pembersihan ini berbeda di tiap desa pakraman, ada yang satu bulan sekali, lebih dari satu kali sebulan dan ada juga yang tidak tentu waktu pelaksanaannya. Hasil penyebaran kuisioner di desa-desa dinas tidak jauh berbeda dengan di desa-desa pakraman. Berdasarkan data kuisioner 27,77% desa dinas sudah memiliki aturan yang mengatur tentang persampahan di desa. Bentuk aturan tersebut ada yang sudah tertulis sebanyak 60% dan 40% tidak tertulis (hanya merupakan adat). Desa dinas juga sudah ada yang memiliki peraturan mengenai waktu pembuangan sampah (sebanyak 60%). Waktu yang ditetapkan untuk membuang sampah bervariasi, yaitu sebelum jam 6 pagi, 06.00 s.d. 09.00 dan 16.00 s.d. 18.00. Untuk masalah sampah yang merupakan sisa dari kegiatan adat yang ada di wilayah desa dinas ada yang diurus oleh panitia dari kegiatan tersebut yang merupakan bagian dari pengurus desa dinas, DLHKP Kabupaten Buleleng, diurus langsung oleh pemilik upacara, ada yang melibatkan warga desa dan anak sekolah serta ada juga yang diurus oleh petugas sampah. Sampah-sampah yang banyak dihasilkan setiap harinya di desa dinas sama seperti di desa pakraman yaitu

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

265

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

4(3), 255-270

sampah plastik (termasuk botol dan atau gelas plastik) dan daun. Wadah yang biasa digunakan desa dinas di kantor sebagai tempat sampah adalah bak plastik, bak semen, bak bambu, ban karet dan keranjang sampah. Sampah yang sudah penuh oleh desa dinas akan dibakar (50%), dikumpulkan di TPS (33,33%), dan sisanya dibuang ke sungai atau got terdekat dan dikubur. Sebagian besar desa dinas membuang sampah dari kantor setiap hari, tetapi ada juga yang membuangnya 1-3 kali seminggu dan ada yang tidak tentu waktunya. Seperti halnya di desa pakraman, desa-desa dinas dalam setahun ini hanya sebagian kecil yang pernah memisahkan dan memanfaatkan sampah yang dibuang karena sudah ada petugas yang menangani masalah sampah. Alasan lainnya belum ada teknik pengelolaan sampah dan kesadaran akan pentingnya kebersihan masih kurang. Bagi desa dinas yang sudah melakukan pemisahan dan pemanfaatan sampah, sampah yang biasanya dipisahkan dan dimanfaatkan diantaranya sampah berupa plastik dan daun untuk pupuk organik (kompos). Sampah-sampah yang telah dipisahkan ini ada yang dimanfaatkan sendiri dan ada yang dimanfaatkan oleh kelompok ternak. Pihak-pihak desa dinas secara rutin mengadakan pembersihan sampah di luar lingkungan kantor. Sebagian besar melakukan pembersihan setiap satu bulan sekali, ada juga yang lebih dari satu kali sebulan dan ada juga yang tidak tentu waktu pelaksanaannya. Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan tingkat partisipasi antara desa pakraman yang satu dengan desa pakraman yang lain dalam menangani masalah sampah. Desa pakraman yang memiliki tingkat partisipasi sangat rendah sebanyak 17%, tingkat partisipasi rendah sebanyak 44%, tingkat partisipasi sedang sebanyak 33% sebanyak 6% tingkat partisipasinya tinggi. Jadi, secara umum dapat dikatakan bahwa tingkat partisipasi desa pakraman dalam menangani masalah sampah masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari data kuisioner yang menyatakan masih banyaknya pihak desa pakraman yang belum memiliki aturan tentang persampahan di desa (72%). Pihak desa-desa pakraman lebih memilih untuk membuang langsung sampahnya ke sungai atau got terdekat atau membakar sampah-sampah tersebut daripada membuangnya ke TPS. Tingkat partisipasi desa-desa dinas dalam menangani sampah tidak berbeda jauh dengan di desa-desa pakraman. Gambar 2 menujukkan bahwa tingkat partisipasi desa dinas dalam menangani sampah juga tergolong rendah. Pemisahan dan pemanfaatan kembali sampah yang dipisahkan tidak banyak dilakukan baik di desa pakraman maupun di desa dinas. Dari

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

266

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

4(3), 255-270

pengamatan responden yang merupakan pejabat di tingkat desa terkesan bahwa masyarakat di desanya belum bisa peduli dengan masalah sampah. Sampah belum dianggap sebagai masalah yang membahayakan sehingga tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah masih kurang. Masyarakat belum banyak yang mau memilah sampah. Mereka membiarkan pemulung yang mengorek-ngorek sendiri tempat sampah untuk mencari sampah-sampah yang masih bisa dimanfaatkan kembali seperti misalnya plastik dan botol plastik bekas. Hal ini justru akan menimbulkan masalah lain yaitu sampah-sampah akan menjadi berserakan. Padahal jika masyarakat mau ikut berpartisipasi dalam memilah sampah di rumah, akan lebih sedikit sampah yang terbuang ke tempat sampah sehingga akan mengurangi sampah di TPS dan otomatis nantinya sampah di TPA juga akan menjadi berkurang. Pada pasal 6 UU Pengelolan Lingkungan Hidup No.23 Th.1997 dinyatakan bahwa masyarakat dan pengusaha berkewajiban untuk berpartisipasi dalam memelihara kelestarian fungsi lingkungan, mencegah dan menanggulangi pencemaran dan kerusakan lingkungan. Terkait dengan ketentuan tersebut, dalam UU NO. 18 Tahun 2008 secara eksplisit juga dinyatakan, bahwa setiap orang mempunyai hak dan kewajiban dalam pengelolaan sampah. Dalam hal pengelolaan sampah pasal 12 dinyatakan, setiap orang wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara berwawasan lingkungan. Masyarakat juga dinyatakan berhak berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, pengelolaan dan pengawasan di bidang pengelolaan sampah. Tata cara partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan tatanan sosial budaya daerah masing-masing. Berangkat dari ketentuan tersebut, tentu menjadi kewajiban dan hak setiap orang baik secara individu maupun secara kolektif, untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah dalam upaya untuk menciptakan lingkungan yang baik, bersih, dan sehat. Sistem pengelolaan sampah yang ditawarkan peneliti yaitu dengan memberdayakan desa pakraman dengan pola membeli sampah dari masyarakat dan membayarnya setiap bulan mendapat tanggapan positif dari pihak-pihak desa pakraman dan desa dinas. Bagi mereka sistem ini sangat bermanfaat karena dapat meningkatkan kebersihan lingkungan, membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan, membuka peluang kerja baru serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan penghasilan desa. Sebelum sistem ini dilaksanakan hendaknya dilakukan sosialisasi terlebih dahulu kapada masyarakat dan berkoordinasi dengan kepala desa, LPM dan tokoh masyarakat. Bila sistem pengelolaan sampah ini dijalankan

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

267

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

4(3), 255-270

dan disertai dengan perbaikan dari desa pakraman, instansi yang menangani sampah dan para pengambil kebijakan di tingkat desa, maka diharapkan dapat menurunkan timbunan sampah di TPA wilayah Kabupaten Buleleng.

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

268

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

4(3), 255-270

Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat diambil beberapa simpulan sebagai berikut. Pertama, bentuk-bentuk partisipasi desa pakraman dalam menangani sampah di Kabupaten Buleleng adalah adanya aturan desa pakraman yang mengatur tentang persampahan di desa, pemisahan sampah yang akan dibuang oleh pihak desa pakraman, serta pemanfaatan kembali sampah yang telah dipisahkan. Kedua, tingkat partisipasi desa pakraman dalam menangani masalah sampah di Kabupaten Buleleng masih tergolong rendah. Ketiga, alternatif sistem pengelolaan sampah yang ditawarkan peneliti mendapatkan tanggapan yang positif dari desa pakraman dan pengambil kebijakan di tingkat desa (perbekel/ kelian adat dan kelian dinas) di Kabupaten Buleleng. Keempat, berdasarkan penelitian ini dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pendapat dari masyarakat tentang pemilahan sampah secara mandiri dengan melibatkan desa pakraman. Sehingga output ini diharapkan dapat dikembangkan untuk dilakukan uji coba pada salah satu desa pakraman yang tingkat partisipasinya paling tinggi. Daftar Rujukan Anonim. 2006. Laporan akhir studi optimalisasi pengelolaan sampah. PT. Padang Garbha Utama. Barlian, E. 2000. Peranserta masyarakat petani dalam pengelolaan lingkungan taman nasional kerinci seblat. Lingkungan dan Pembangunan. 20(4). 235-246. Kahiruddin. 1992. Pembangunan masyarakat. Yogyakarta: Liberty. Manik, K. E. S. 2003. Pengelolaan lingkungan hidup. Jakarta: Penerbit Djambatan. Nazir, M. 1999. Metode penelitian. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia.
Ramang, R., Damanhuri, E., Padmi, T., & Rahardyan, B. 2007. Pola penangan sampah di daerah perkotaan berdasarkan karakteristik tipe rumah (studi kasus Kota Cimahi). Jurnal Teknik Lingkungan. 13(1). 8-16).

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

269

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora

4(3), 255-270

Sapanca, W. W. 2003. Basic monitoring, surveillance and assesment techniques on solid waste pollution. Naskah Lengkap Short Course on Environmental Pollution Control and Management. Denpasar 25 Agustus-19 September. Sarjono. 2001. Analisis beberapa variabel dalam pengambilan sampah lingkungan perkotaan untuk daur ulang terhadap peningkatan sosial ekonomi pemulung di TPA Putri Cempo Mojosongo Kota Surakarta. Tesis (Tidak dipublikasikan). Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Slamet, J. S. 2000. Kesehatan lingkungan. Yogyakarta: Penerebit Gadjah Mada University Press. Wardhana. 2007. Rencana pengembangan teknik operasional sistem pengelolaan sampah Kota Juwana. Jurnal Presipitasi. 3(2). Westra, P. 1980. Beberapa masalah di dalam hubungan kemanusiaan. Yogyakarta: BPA Akademi Administrasi Niaga.

JPPSH, Lembaga Penelitian Undiksha, Desember 2010

270