Anda di halaman 1dari 49

KONSEP DASAR AKTIVITAS BODY ALIGNMENT DAN MOBILISASI

Yatimah Ratna Pertiwi, S.Kep., Ns

A. BODY ALIGNMENT Interview


Body Alignment (Postur Tubuh), merupakan susunan geometrik bagian-bagian tubuh dalam hubungannya dengan bagian bagian tubuh yang lain.
Body Alignment yg baik dpt meningkatkan keseimbangan yg optimal & fungsi tubuh yg maksimal, baik dalam posisi berdiri, duduk, maupun tidur.

Next... Body Alignment dikatakan baik jika terdapat keseimbangan diantara : persendian, otot, tendon, dan ligamen.
Keseimbangan yg dimaksud adalah tidak adanya beban pada tiap bagian tubuh / salah satu bagian tubuh menjadi tumpuan dari berat badan tubuh, sehingga fungsi dari bagian tubuh berlebihan.

Postur tubuh seseorang adalah salah satu hal yg harus dikaji untuk melihat : Status kesehatan, fisical fitness, dan daya tarik seseorang.
Selain itu postur tubuh juga dpt menunjukkan : perasaan hati, harga diri, dan kepribadian.

Body Alignment yang baik dapat : Meningkatkan fungsi tubuh, terutama pada sistem muskuloskeletal. Mengurangi jml energi yg dipergunakan untuk mempertahankan keseimbangan tubuh. Mengurangi kelelahan. Memperluas expansi paru. Meningkatkan sistem sirkulasi darah serta fungsi tubuh yang lain.

Keseimbangan dpt dipertahankan jika line of gravity melewati pusat gravitasi dan base of support.
The base of support lebih luas dan pusat gravity lebih rendah maka kestabilan dan keseimbangan lebih besar. Jika line gravity berada di luar pusat dari base of support, energi lebih banyak digunakan untuk mempertahankan keseimbangan. The base of support yang luas dan bagian-bagian dari body alignment yang baik akan menghemat energi dan mencegah kelelahan otot.

Next.
Perubahan dalam posisi tubuh membantu mencegah ketidaknyamanan otot-otot. Body alignment yang buruk dalam waktu yang lama dapat menimbulkan rasa nyeri, kelelahan otot dan kontraktur. Karena struktur anatomi individu berbeda, maka intervensi keperawatan yg diberikan juga harus secara individual dan sesuai dg kebutuhan individu tersebut. Memperkuat otot-otot yg lemah, membantu mencegah kekakuan otot &ligamen, ketika body alignment jelek (baik secara temporal maupun penggunaan yang kurang hati-hati).

FAKTOR-FAKTOR YG BERPENGARUH DALAM BODY ALIGNMENT

FAKTOR LANGSUNG.
Gravity.

Gravity adalah atraksi timbal balik antara tubuh dengan bumi. Postur tubuh seseorang dikatakan seimbang bila line of gravity melewati center of gravity dan base of support yang lebih luas.
Postural reflexes dan opposing muscler group.

Merupakan aksi dari otot postural (extensor) yang terus menahan seseorang pd posisi tegak melawan gaya tarik bumi.

Next...
Perubahan postur. Beberapa posisi benar maupun tidak benar jika berlangsung lama akan menyebabkan masalah, antara lain : Kerusakan syaraf - syaraf superfascialis, kerusakan pembuluh darah, serta kontraktur. Struktur anatomi individu yang berbeda. Setiap orang mempunyai anatomi yang berbeda, perbedaan ini akan membawa pengaruh pada postur tubuh seseorang, meskipun hanya sedikit.

FAKTOR TIDAK LANGSUNG.


Status kesehatan. Status kesehatan yg kurang baik, seperti : sakit, ketidakmampuan mobilisasi, terbatasnya aktifitas, kelelahan yang terlalu lama dapat mempengaruhi fungsi tubuh, terutama sistem muskuloskeletal dan body alignment (postur tubuh). Nutrisi. Nutrisi yang kurang baik dapat menyebabkan kelelahan dan kelemahan otot, intake Kalsium yang tidak adekuat terutama pada wanita lansia dapat mengakibatkan terjadi-nya resiko postural akibat dari Osteophorosis. Emosi. Kondisi emosional yang tidak stabil dapat mempengaruhi postur tubuh seseorang, namun penyebab dari perilaku ini harus dikaji dahulu sebelum memperbaiki postur tubuh yg kurang baik.

Next.
Situasional.
Postur tubuh seseorang dapat berkembang menjadi buruk karena : Tempat tidur yang lembut dan yang dapat mengganggu distribusi yang sesuai. Letak meja, bangku, dan alat kerja lain yang tidak sesuai sehingga seseorang harus bekerja secara kaku. Pakaian ketat dapat membatasi pergerakan dan mengganggu fungsi tubuh yang normal. Sepatu yang sempit dan hak tinggi dapat mempengaruhi garis gravitasi keluar dari postur tubuh.

Gaya hidup.
Gaya hidup seseorang dapat mempengaruhi postur tubuh, biasanya perubahan tersebut berlangsung selama bekerja & dpt mengakibatkan penyimpangan postural.

Next.
Sikap penampilan.
Penilaian seseorang tentang postur tubuh mem-punyai pengaruh yang penting, pada remaja yang tubuhnya tinggi dapat menjadi bungkuk sebab tubuh-nya lebih tinggi dari temannya.

Tingkat pengetahuan seseorang.


Perlu disayangkan banyak individu yang tidak mem-punyai banyak kesempatan untuk pelajari postur tubuh yang baik.

Kerusakan Neuromuskuler.
Proses penyelenggaraan yang mempengaruhi sistem ini dapat mengakibatkan gangguan postur tubuh dan dapat mengganggu fungsinya.

Struktur Abnormal yang Mempengaruhi Ambulasi


Postur abnormal: Tortikolis: kepala miring pada satu sisi, di mana adanya kontraktur pada otot sternokleidomanstoid Lordosis: kurva spinal lumbal yang terlalu cembung ke depan/ anterior Kifosis: peningkatan kurva spinal torakal Kipolordosis: kombinasi dari kifosis dan lordosis

Next.

Skoliosis: kurva spinal yang miring ke samping, tidak samanya tinggi hip/ pinggul dan bahu Kiposkoliosis: tidak normalnya kurva spinal anteroposterior dan lateral Footdrop: plantar fleksi, ketidakmampuan menekuk kaki karena kerusakan saraf peroneal

Pengaturan postur
1. Posisi duduk Paha horizontal sejajar dg lantai, telapak kaki menapak ke tanah, bantalan kursi menopang punggung bagian bawah.

2. Posisi berbaring Berbaring sesuai dg prinsip itu dlm prakteknya adl posisi telentang dg penyangga kepala yg pas, srta bantalan punggung yg memberikan beban tekanan rata. Posisi lain yg juga sesuai adl miring dg satu kaki menyilang.

Pengkajian Body Aligment


1. 2. 3. 4. Nama, umur, jenis kelamin Riwayat penyakit klien Bio, psiko, sosial, spiritual Tingkatan ADL (makan, mandi, pakaian, toileting, ambulasi) 5. Kebiasaan aktivitas dan latihan yang biasa dilakukan 6. Riwayat keluarga

Next.
7. Pemeriksaan fisik: Posisi tubuh (apakah kiphosis, lordosis atau skoliosis?) Gaya jalan Penampilan dan gerak sendi Kemampuan dan keterbatasan gerak (misal; bangun tidur dibantu) Massa dan kekuatan otot Toleransi aktivitas Pengaruh immobilitas (semua sistem tubuh: muskuloskeletal, kardiopulmonal, urinari, gastrointestinal, integumen) Pemeriksaan penunjang (laboratorium, radiologi) Terapi yang didapatkan

Diagnosa Keperawatan
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kerusakan intregitas kulit Intoleransi aktivitas Kerusakan mobilitas fisik Risk for falls Risk for disuse syndrome Harga diri rendah Ketidakberdayaan

Tindakan Keperawatan
Membantu pasien berdiri, duduk

Next.
Mengatur posisi fowler, semi fowler, dorsal rekumbent, supine, lateral, sim - Fowler Mrpkan posisi setengah duduk atau duduk, dimana bag. kepala tempat tidur lebih tinggi/dinaikkan (high fowler 600 ; Fowler 450 ; Semi fowler 300 ; Low fowler 150 - Tujuan: 1. Mengurangi sesak nafas 2. Memberikan perasaan nyaman 3. Membantu pengeluaran cairan WSD 4. Memudahkan untuk tindakan pemeriksaan

Contoh Gambar
Fowler

Semi Fowler

Next.
- Sims Merupakan posisi miring ke kanan atau ke kiri - Tujuan 1. Memberikan tindakan huknah 2. Memberikan obat melalui anus 3. Membantu pemeriksaan daerah anus

Next.
- Dorsal Recumbent Mrpkan posisi terlentang dg kedua lutut ditarik atau direnggangkan - Tujuan 1. Pemeriksaan pd daerah genitalia 2. Pemeriksaan alat kelamin 3. Proses persalinan

Next.
- Supinasi dan Pronasi Supinasi adl posisi terlentang Pronasi adl posisi telungkup - Tujuan 1. Mengeluarkan muntah 2. Mencegah aspirasi

Next.
- Lateral Mrpkan posisi miring kanan atau kiri - Trendelenburg Mrpkan posisi dg bagian kepala lebih rendah dari bagian kaki Tujuan: 1. Melancarkan peredaran darah ke otak 2. Prosedur perkusi, vibrasi, dan drainase pd kasus paru 3. Memperlancar aliran darah vena

Next.
Lateral

Trendelenburg

Next.
Lithotomy Mrpkn posisi terlentang dg mengangkat kedua kaki dan ditarik ke bagian perut Tujuan 1. Pemeriksaan alat genital 2. Proses persalinan 3. Pemasangan alat kontrasepsi

B. MOBILISASI DAN IMMOBILITAS


Mobilisasi adl kemampuan seseorang u/ bergerak scr bebas, mudah, dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat Immobilisasi adl suatu keadaan di mana individu mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan gerak fisik

Faktor yang mempengaruhi mobilisasi


Sistem neuromuskular Gaya hidup Ketidakmampuan Tingkat energi Tingkat perkembangan Kondisi patologik

Efek fisiologis dan psikologis immobilitas


Efek fisiologis 1. Muskuloskeletal (osteoporosis, atrofi otot, kontraktur, kekakuan dan nyeri sendi) 2. Sistem Respirasi (penurunan gerak pernafasan, penumpukan sekret, atelektasis) 3. Kardiovaskuler (hipotensi ortostatik, pembentukan trombus, edema dependen)

Next.
4. Sistem Gastrointestinal (Kondisi imobilisasi mempengaruhi tiga fungsi sistem pencernaan, yaitu fungsi ingesti, digesti, dan eliminasi) 5. Metabolisme dan nutrisi (penurunan laju metabolisme, balance nitrogen negatif, anoreksia) 6. Eliminasi urine (stasis urine, batu ginjal, retensi urine, infeksi perkemihan) 7. Sistem Integument (turgor kulit menurun, kerusakan kulit) 8. Sistem Neurosensori (perasaan lelah, iritabel, persepsi tidak realistis, dan mudah bingung)

Next.
Efek psikologis Meningkatkan respon emosional, intelektual, sensori, dan sosiokultural, Perubahan emosional yang paling umum adalah depresi, perubahan perilaku, perubahan dalam siklus tidur-bangun, dan gangguan koping

Pengkajian
Saat mengkaji data tentang masalah imobilitas, perawat menggunakan metode pengkajian inspeksi, palpasi dan auskultasi. Selain itu, perawat juga memeriksa hasil tes laboratorium serta mengukur berat badan, asupan cairan dan haluaran cairan klien.

Diagnosa Keperawatan
Gastrointestinal Konstipasi b.d imobilitas Respirasi Resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d imobilitas Kardiovaskuler Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d imobilitas

Next.
Metabolisme Kelebihan volume cairan b.d bendungan vena dependen sekunder akibat imobilitas Perkemihan Gangguan eliminasi urine b.d ketidakmampuan mengakses kamar mandi akibat hambatan mobilitas Integumen Kerusakan intregitas jaringan b.d imobilitas

Tindakan Keperawatan
1. Merubah Posisi Posisi yang dimaksud adalah miring kanan dan miring kiri secara bergantian setiap kurang lebih 2 jam sekali 2. ROM Pasif dan Aktif Range Of Motion (ROM) adl suatu teknik dasar yg digunakan u/ menilai gerakan dalam suatu program intervensi terapeutik.

Next.
Tujuan ROM : untuk mempertahankan mobilitas persendian dan jaringan lunak u/ meminimalkan kehilangan kelenturan jaringan dan pembentukan kontraktur. Faktor2 yg dpt menurunkan ROM: penyakit2 sistemik, sendi, neurologis ataupun otot; akibat pengaruh cedera atau pembedahan; inaktivitas atau imobilitas.

Jenis-Jenis Latihan ROM


Passive ROM (PROM) Active ROM (AROM) Active-Assistive ROM (A-AROM), adalah jenis AROM yang mana bantuan diberikan melalui gaya dari luar apakah secara manual atau mekanik, karena otot penggerak primer memerlukan bantuan untuk menyelesaikan gerakan

Active ROM (AROM)


Indikasi: 1. Pd st pasien dpt melakukan kontraksi otot scr aktif & menggerakkan ruas sendinya baik dg bantuan/tidak. 2. Pd st pasien memiliki kelemahan otot & tdk dpt menggerakkan persendian sepenuhnya. 3. U/ program latihan aerobik 4. U/ memelihara mobilisasi ruas di atas dan di bawah daerah yang tidak dapat bergerak.

Next
Sasaran: 1. Memelihara elastisitas dan kontraktilitas fisiologis dari otot yang terlibat 2. Memberikan umpan balik sensoris dari otot yg berkontraksi 3. Memberikan rangsangan u/ tulang dan integritas jaringan persendian 4. Meningkatkan sirkulasi 5. Mengembangkan koordinasi dan keterampilan motorik

Passive ROM (PROM)


Indikasi PROM: 1. Pd daerah dimana tdpt inflamasi jaringan akut yg apabila dilakukan pergerakan aktif akn menghambat proses penyembuhan. 2. Ketika pasien tdk dpt/tdk diperbolehkan u/ bergerak aktif pd ruas atau seluruh tubuh, misalnya keadaan koma, kelumpuhan atau bed rest total.

Next

Sasaran PROM:
1. Mempertahankan mobilitas sendi dan jaringan ikat 2. Meminimalisir efek dari pembentukan kontraktur 3. Mempertahankan elastisitas mekanis dari otot 4. Membantu kelancaran sirkulasi 5. Meningkatkan pergerakan sinovial untuk nutrisi tulang rawan serta difusi persendian 6. Menurunkan atau mencegah rasa nyeri 7. Membantu proses penyembuhan pasca cedera dan operasi 8. Membantu mempertahankan kesadaran akan gerak dari pasien

Jenis Gerakan
Fleksi Ekstensi Hiper ekstensi Rotasi Sirkumduksi Supinasi Pronasi Abduksi Adduksi

Sendi yang Digerakan


1. ROM Aktif
Seluruh tubuh dari kepala sampai ujung jari kaki oleh klien sendri secara aktif.

2. ROM Pasif
Seluruh persendian tubuh atau hanya pada ekstremitas yang terganggu dan klien tidak mampu melaksanakannya secara mandiri. Leher (fleksi/ekstensi, fleksi lateral, hiperekstensi, rotasi) Bahu tangan kanan dan kiri ( fkesi/ekstensi, hiperekstensi, abduksi/adduksi, rotasi bahu, sirkumduksi)

Next...
Siku tangan kanan dan kiri (fleksi/ekstensi, pronasi/supinasi) Pergelangan tangan (fleksi/ekstensi/hiperekstensi, abduksi/adduksi) Jari-jari tangan (fleksi/ekstensi/hiperekstensi, abduksi/adduksi) Pinggul dan lutut (fleksi/ekstensi, abduksi/adduksi, rotasi internal/eksternal) Pergelangan kaki (plantar fleksi/ekstensi (dorso fleksi), rotasi) Jari kaki (fleksi/ekstensi, hiperekstensi, abduksi/adduksi) )

Attention!!!
Monitor keadaan umum klien dan tanda-tanda

vital sebelum dan setelah latihan Tanggap terhadap respon ketidak nyamanan klien Ulangi gerakan sebanyak 3 kali

Contoh Gambar
Fleksi dan Ekstensi

Abduksi dan Adduksi