Anda di halaman 1dari 79

17

BAB II KAJIAN TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. KAJIAN TEORETIS 1. Hakikat Belajar dan Hasil Belajar Teknik Dasar Permainan Sepak Bola Menurut pendapat tradisional, belajar adalah menambah dan

mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Di sini yang dipentingkan pendidikan intelektual. Ahli pendidikan modern merumuskan: belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang baru itu misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, serta timbul dan berkembangnya sifat sifat sosial, susila, dan emosional (Aqib,2010:42). Selanjutnya dalam kamus paedagogik dikatakan bahwa belajar adalah berusaha memiliki pengetahuan dan kecakapan. Seseorang telah mempelajari sesuatu terbukti dengan perbuatannya. Ia baru dapat melakukan sesuatu hanya dari proses belajar sebelumnya, tetapi harus diingat juga bahwa belajar mempunyai hubungan yang erat dengan masa peka, yaitu suatu masa dimana sesuatu fungsi maju dengan pesat untuk dikembangkan (Aqib,2010:43). Menurut Syah (2004:63) mengemukakan bahwa belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan 17

18

rumah atau keluarganya sendiri. Oleh karenanya, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik. Dari uraian di atas, maka para pendidik dan para perancang pendidikan serta pengembang program program pembelajaran perlu menyadari akan pentingnya pemahaman terhadap hakikat belajar dan pembelajaran. Berbagai teori belajar dan pembelajaran seperti teori behavioristik, kognitif, konstruktivistik, humanistik, sibernetik, revolusi - sosiokultural, dan kecerdasan ganda, penting untuk dimengerti dan diterapkan sesuai dengan kondisi dan konteks pembelajaran yang dihadapi. Masing masing teori memiliki kelemahan dan kelebihan. Pendidik/pengajar yang profesional akan dapat memilih teori mana yang tepat untuk tujuan tertentu, karakteristik materi pelajaran tertentu, dengan ciri ciri siswa yang dihadapi, dan dengan kondisi lingkungan serta sarana dan prasarana yang tersedia. Belajar merupakan proses perubahan perilaku, perubahan perilaku tersebut dilakukan secara sadar dan bersifat permanen, perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan kognitif, afektif, dan psikomotor. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa teknik dasar sepak bola merupakan pembelajaran yang sebagian besar dari materi pelajaran atau teori teori pengantar teknik dasar sepak bola merupakan suatu pemrosesan informasi yang dapat diterima melalui indera penglihatan, pemrosesan melalui otak, disaring oleh otak kemudian ditangkap oleh psikomotor

19

dan motorik seseorang. Kemandirian anak didik dalam menangkap suatu konsep belajar juga berperan dalam mata pelajaran penjas, orkes ini dengan belajar mandiri dapat mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar serta indikator indikator tertentu dengan melihat dan mendengarkan program media baik berupa audio maupun audio visual tanpa bantuan atau terbatas dari orang lain. Sejalan dengan pendapat Wedemeyer (dalam Srililis, 2008:5), kemandirian dalam belajar perlu diberikan kepada peserta didik supaya mereka mempunyai tanggung jawab dalam mengatur dan mendisiplinkan dirinya dan dalam mengembangkan kemampuan belajar atas kemauan sendiri. Dari pendapat di atas menguatkan bahwa dengan belajar mandiri peserta didik akan termotivasi dan memotivasi dirinya sendiri dan dapat menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai sesuai dengan kondisi dan kebutuhan belajarnya, mempunyai kebebasan untuk belajar sesuai dengan kecepatannya sendiri. Materi teknik dasar sepak bola merupakan materi pelajaran penjas, orkes yang sulit dicerna dengan hanya membaca tanpa melaksanakan praktik, hal ini dapat dilihat dalam uraian materi teknik dasar sepak bola di bawah ini. Teknik dan taktik merupakan panjabaran dari metode pengajaran. Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode. Untuk itu (Istarani, 2012:2) mengatakan teknik adalah suatu pengetahuan tentang cara cara mengajar / melakukan yang dipergunakan oleh atau instruktur. Sedangkan taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu. Dengan demikian, taktik sifatnya lebih individual. Jadi teknik

20

dasar sepak bola atau teknik dasar bermain sepak bola adalah merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang pemain sepak bola untuk melakukan gerakan gerakan atau mengerjakan sesuatu yang tak terlepas sama sekali dari peraturan permainan sepak bola. Adapun teknik dasar sepak bola adalah: (1) Teknik tanpa bola, yaitu semua gerakan gerakan tanpa bola terdiri dari: (a) lari cepat dan mengubah arah, (b) melompat dan meloncat, (c) gerak tipu tanpa bola yaitu gerak tipu dengan badan, (d) gerakan gerakan khusus untuk penjaga gawang, dan (2) Teknik dengan bola, yaitu semua gerakan gerakan dengan bola terdiri dari: (a) teknik individu, dan (b) teknik bermain secara tim. Menurut Subardi & Setyawan (2007:13-46) menerangkan bahwa teknik individu terdiri dari: (a) mengumpan (passing), (b) menggiring (dribbling), (c) melakukan tembakan (shooting), (d) menyundul (heading), (e) mengontrol bola, (f) melakukan tackling (merebut bola), (g) teknik individu bagi seorang penjaga gawang, dan (h) lemparan ke dalam (Hasanah, 2009:36). Sedangkan teknik bermain secara tim terdiri dari: (a) keterampilan menyerang, (b) keterampilan bertahan, dan (c) taktik. Olahraga sepak bola memerlukan tenaga dan fisik yang kuat. Tanpa fisik yang kuat, tidak akan bisa bermain sepak bola. Hampir seratus persen dalam bermain sepak bola adalah berlari memperebutkan bola. Untuk memperoleh ketahanan fisik yang kuat tidak cukup latihan fisik terus menerus. Namun pola hidup sehat dan makanan bergizi pun sangat mempengaruhi.

21

Dapat disimpulkan bahwa supaya dapat bermain sepak bola yang baik harus memiliki, antara lain: ketahanan (endurance), kekuatan (strength) dan kecepatan (speed). Ketahanan berarti kita kuat bermain selama waktu yang cukup panjang tanpa tersengal sengal alias kehabisan nafas (ketahanan aerobik) ataupun ngilu-ngilu (ketahanan otot). Kekuatan berarti otot-otot tubuh kita cukup kuat untuk menendang dengan keras, melempar bola cukup jauh, melakukan body charge dengan kuat, dan sebagainya. Adapun kecepatan bermakna kita bisa berlari dengan cepat (sprint) baik ketika membawa bola ataupun ketika tidak membawa bola. Pola hidup sehat yang harus dijalani seorang pemain sepak bola antara lain: tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol dan obat obatan terlarang, dan tidur yang cukup. Sedangkan kebutuhan gizi terdapat pada makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, atau vitamin. Kemudian perlunya suatu keterampilan (skill). Yang disebut dengan skill di sini terutama adalah fundamen (teknik teknik dasar) sepak bola, yang meliputi mengumpan dan menerima (passing and receiving), menembak (shooting), mengontrol bola dengan berbagai anggota badan, melindungi bola, dan menggiring (dribbling). Kita membutuhkan kerjasama (teamwork). Sebuah tim akan bermain dengan baik jika semua pemain saling bekerjasama dengan jalinan komunikasi yang baik. Tidak ada yang egois. Semuanya bermain untuk tim. Taktik dan strategi yang baik. Jika dua tim sama sama memiliki materi pemain yang kuat fisiknya, terampil mengolah bola, dan bisa bekerja sama, maka faktor strategi dan taktik akan menentukan tim mana yang akan menang. Tim yang bermain dengan strategi dan taktik yang lebih cerdas pastilah yang akan menang.

22

Dan selain hal itu, yang tidak boleh ketinggalan adalah mental yang positif. Semua pemain harus memiliki kepercayaan diri, optimisme dan semangat. Teknik dasar sepak bola ini adalah materi yang akan diajarkan kepada siswa kelas V yang harus diikuti untuk mendapatkan hasil belajar dengan hasil yang baik. Selain dapat melakukan teknik dasar sepak bola ini, siswa juga dituntut dapat menerapkan teknik teknik dasar sepak bola dengan berbagai event event baik lokal, amatiran ataupun profesional. Sehubungan dengan teknik dasar sepak bola yang bertujuan agar siswa memiliki Kompetensi Dasar, yaitu Mempraktikkan variasi teknik dasar salah satu permainan dan olahraga bola besar, serta nilai nilai kerjasama, sportifitas dan kejujuran. Dengan materi pokok yaitu teknik dasar permainan sepak bola, dengan indikator yang terdiri dari: (1) teknik mengumpan (passing), (2) teknik mengontrol (controlling), (3) teknik menggiring (dribbling), (4) teknik menyundul (heading) dan (5) teknik melakukan tembakan (shooting) untuk kelas V Sekolah Dasar semester genap. Dengan Keterampilan dipandang sebagai satu perilaku atau tugas, adalah merupakan sebuah indikator dari tingkat kemahiran. Jika suatu keterampilan dipandang sebagai aksi motorik atau pelaksanaan suatu tugas, maka keterampilan tersebut akan terdiri dari respon motorik dan persepsi yang diperoleh melalui belajar. Materi sepak bola pada kelas V SD semester genap dengan alokasi waktu: 8 x 35 menit (4 x pertemuan) dapat mengasah keterampilan dalam teknik dasar sepak bola, mengembangkan pemahaman serta kreatifitas tinggi. Teknik dasar

23

sepak bola ini sangat erat hubungannya dengan ilmu ilmu pengetahuan yang lain, yakni ilmu anatomi dan fisiologi manusia, ilmu psikologi, seni dan ilmu lainnya. Penerapan beberapa ilmu dapat dijadikan bekal yang mendasar pada pengetahuan teori pendukung teknik dasar sepak bola. Keterampilan tidak akan berhasil dengan baik apabila tidak diimbangi dengan teori.

a. Istilah Istilah Teknis dalam Permainan Sepak Bola Dalam setiap pertandingan, kita dapat melihat seseorang melakukan penyerangan dengan tiba tiba. Penyerangan tersebut dapat dilakukan oleh seorang pemain atau lebih. Pada saat menyerang itulah terdapat teknik yang dimiliki oleh setiap pemain. Teknik atau teknis merupakan istilah yang sama. Berikut ini akan dibahas mengenai teknik yang ada dalam permainan sepak bola dari berbagai sumber buku. 1) Mengumpan/mengoper (passing), merupakan teknik memindahkan

momentum bola dari satu pemain ke pemain lainnya. 2) Menggiring (dribbling), merupakan cara menguasai bola dengan kaki pada saat kita bergerak atau bermain di lapangan. Menggiring bola meliputi gerakan mengubah arah bola, melakukan gerak tipu dan melindungi bola. 3) Melakukan tembakan (shooting), merupakan menendang bola ke arah lawan atau gawang dengan baik. Tujuan permainan sepak bola adalah mencetak gol, maka seorang pemain sepak bola harus mampu melakukan tembakan dengan baik.

24

4) Menyundul (heading), merupakan teknik yang menggunakan kepala untuk menanduk bola. 5) Mengontrol/menahan bola (trapping), merupakan teknik menghentikan bola dengan menggunakan kaki, paha ataupun dada. 6) Merebut bola (tackling), merupakan keterampilan individu untuk bertahan yang digunakan untuk merebut bola. Salah satu cara untuk merebut bola dari lawan adalah dengan melakukan tackling. Untuk melakukan tackling dengan benar diperlukan penentuan waktu yang tepat, penilaian yang baik, dan kepercayaan diri. 7) Teknik individu penjaga gawang (kipper), merupakan pemain terpenting dalam tim sepak bola tanpa mengesampingkan pemain lainnya. Penjaga gawang merupakan pertahanan terakhir bagi tim dan harus menguasai berbagai keterampilan yang seluruhnya berbeda dengan pemain lain. Penjaga gawang diizinkan menggunakan tangannya untuk memegang dan mengontrol bola hanya di daerah penalti timnya sendiri. Kadang, seorang pengaga gawang harus melompat melintasi gawang untuk membuat penyelamatan gemilang. Penjaga gawang menangkap bola ketika memungkinkan. Namun jika tidak, penjaga gawang mencoba untuk menepis bola melewati tiang atas gawang atau mendorongnya keluar di samping tiang gawang samping. Di daerah penalti yang penuh pemain, seorang penjaga gawang mungkin memilih untuk meninju bola dengan keras untuk mengamankannya dari bahaya.

25

8) Lemparan ke dalam (throw in), dilakukan dari titik tempat bola melintasi garis tim yang tidak menendang bola melewati garis pinggir. Bola dinyatakan keluar dari permainan, jika melewati garis tepi atau garis gawang, baik di atas permukaan lapangan maupun di udara. Saat tidak melewati garis tepi atau garis gawang, bola disebut dalam permainan. Ketika meninggalkan lapangan, bola disebut keluar permainan. Untuk bola yang keluar permainan, seluruh bagian bola harus melewati garis. 9) Peraturan permainan, diantaranya: (a) permainan dilakukan oleh 2 tim, masing masing terdiri atas 11 orang pemain, (b) lama permainan adalah 2 x 45 menit dengan istirahat 15 menit, (c) pergantian pemain dapat dilakukan dalam setiap pertandingan yang dimainkan, (d) pemain yang telah diganti tidak diperbolehkan mengikuti permainan lagi, (e) hukuman berupa kartu kuning dan kartu merah diberikan kepada pemain yang melakukan kesalahan, (f) pemain tidak diperkenankan memakai benda benda yang membahayakan diri sendiri dan pemain lainnya. 10) Wasit dan peraturan, wasit memimpin pertandingan dengan dibantu oleh dua orang hakim garis. Mereka menentukan bola keluar lapangan atau tidak dan tim mana yang menyentuh bola berakhir. Wasit meniup peluit untuk menghentikan pertandingan jika ada pemain yang terperangkap offside atau melakukan pelanggaran. Pelanggaran meliputi handsball, mendorong, menjegal atau menendang lawan, menarik kaus dan mengucapkan kata kata kotor. Wasit memberikan hadiah tendangan bebas atau penalti jika pelanggaran serius terjadi di dalam daerah penalti.

26

11) Offside, terjadi ketika teman satu tim mengumpan ke depan, kita berada di antara gawang dan pemain lawan. Jika terjadi offside, hakim garis akan mengangkat bendera dan wasit akan meniup peluit tanda offside dan memberikan tendangan bebas kepada lawan. Aturan offside tidak berlaku jika: (a) kita berada di belakang bola saat bola ditendang, (b) kita menerima bola secara langsung dari lemparan ke dalam, tendangan sudut, atau tendangan gawang, (c) kita berada di daerah lapangan sendiri, (d) menurut pendapat wasit, kita tidak terlibat dalam permainan atau mengambil keuntungan. 12) Kartu kuning dan merah, kartu kuning berarti peringatan. Jika mendapat dua kartu kuning dalam satu pertandingan atau melakukan pelanggaran sangat serius, pemain bola akan mendapatkan kartu merah. Pemain yang mendapatkan kartu merah harus meninggalkan lapangan pertandingan.

b. Teknik Dasar Permainan Sepak Bola Teknik dasar permainan sepak bola dalam pengembangan ini, antara lain: (1) teknik mengumpan (passing), (2) teknik mengontrol (controlling), (3) teknik menggiring (dribbling), (4) teknik menyundul (heading) dan (5) teknik melakukan tembakan (shooting) untuk kelas V Sekolah Dasar semester genap. Dari kelima macam tersebut secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut. 1) Teknik mengumpan (passing) Mengumpan di sini maksudnya adalah mengoper atau menendang bola kepada teman. Bukan menendang bola langsung masuk ke gawang lawan.

27

Kemampuan mengumpan merupakan keharusan bagi seorang pemain sepak bola. Mengumpan merupakan keterampilan paling penting untuk menguasai sepak bola. Umpan menghubungkan semua pemain di seluruh bagian lapangan dan memungkinkan tim menciptakan serangan. Menurut Mukholid (2007:2), menendang bola adalah menyentuh, mendorong atau menyepak bola. Menendang merupakan ciri yang paling dominan dalam permainan sepak bola. Agar dapat menjadi pemain sepak bola yang berkualitas, seorang pemain perlu mengembangkan kemahirannya dalam menendang bola. Tujuan menendang bola dalam hal ini adalah untuk mengumpan, menembak (shooting) ke gawang agar terjadi gol, dan menghalau atau menyapu dalam rangka menggagalkan serangan atau permainan lawan. Ditinjau dari perkenaan bagian kaki terhadap bola, teknik menendang dapat dibedakan menjadi 4 macam, yaitu menendang dengan: (1) kaki bagian dalam, (2) kaki bagian luar, (3) punggung kaki, dan (4) punggung kaki bagian dalam. Dari keempat macam tersebut secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Menendang dengan kaki bagian dalam Bagian dalam kaki adalah bagian yang sering digunakan untuk menendang bola. Bagian kaki tersebut memiliki permukaan yang paling luas untuk menendang bola di banding bagian yang lain, sehingga lebih mudah bagi pemain untuk menebak ke mana arah bola jika menendangnya, sehingga sangat ideal

28

untuk melakukan operan yang akurat. Menendang dengan kaki bagian dalam pada umumnya digunakan untuk mengumpan jarak pendek. Cara melakukannya adalah sebagai berikut: a. Badan menghadap sasaran di belakang bola. b. Kaki tumpu berada di samping bola kurang lebih 15 cm, ujung kaki menghadap sasaran, lutut sedikit ditekuk. c. Kaki yang digunakan untuk menendang bola ditarik ke belakang dan diayunkan ke depan sehingga mengenai bola. d. Perkenaan kaki pada bola adalah bagian tengah kaki bagian dalam mengarah pada mata kaki dan tepat ditengah tengah bola. e. Pergelangan kaki pada saat mengenai bola ditegangkan. f. Kemudian kaki tending diangkat menghadap sasaran. g. Pandangan ditujukan ke bola dan mengikuti arah lajunya bola terhadap sasaran. h. Kedua lengan terbuka di samping badan untuk menjaga keseimbangan tubuh. 2. Menendang dengan kaki bagian luar Seperti pada menendang dengan kaki bagian dalam, menendang dengan kaki bagian luar pada umumnya juga digunakan untuk mengumpan jarak pendek. Cara melakukannya adalah sebagai berikut: a. Badan menghadap sasaran dan berada di belakang bola. b. Kaki tumpu berada di samping bola dengan jarak kurang lebih 25 cm, ujung kaki menghadap sasaran, lutut sedikit ditekuk. c. Kaki tendang berada di belakang bola, dengan ujung kaki menghadap ke dalam. d. Kaki tendang ditarik ke belakang dan ayunkan ke depan sehingga mengenai bola. e. Perkenaan kaki pada bola tepat mengenai punggung kaki bagian luar dan tengah tengah bola, pada saat perkenaan dengan bola pergelangan kaki ditegangkan. f. Selanjutnya kaki tendang diangkat serong kurang lebih 45 derajat menghadap sasaran, kemudan diayunkan mengenai bola. g. Pandangan ditujukan ke bola dan mengikuti arah jalannya bola terhadap sasaran. h. Kedua lengan terbuka di samping badan untuk menjaga keseimbangan.

29

3. Menendang dengan punggung kaki Cara melakukannya adalah sebagai berikut: a. Posisi badan dibelakang bola sedikit condong ke depan. b. Kaki tumpu diletakkan di samping bola dengan ujung kaki menghadap kesasaran, dan lutut sedikit ditekuk. c. Kaki tendang berada di belakang bola dengan punggung kaki menghadap ke sasaran. d. Kaki tendang diayunkan ke depan sehingga mengenai bola. e. Saat perkenaan kaki dengan bola, pergelangan kaki ditegangkan. Bagian kaki yang mengenai bola adalah punggung kaki yang mengarah tepat pada pertengahan bola. f. Selanjutnya kaki tendang diayunkan ke depan mengenai bola. Gerakan kaki tendang datang terutama dari persendian lutut. g. Pandangan mengikuti jalannya bola dan arah sasaran. 4. Menendang dengan punggung kaki bagian dalam Menendang dengan punggung kaki bagian bagian dalam biasanya digunakan untuk mengumpan jarak jauh. Cara melakukannya adalah sebagai beikut: a. Posisi badan dibelakang bola, sedikit serong kurang lebih 40 derajat dari garis lurus bola, kaki tumpu diletakkan di samping belakang bola dengan jarak kurang lebih 30 cm dan ujung kaki membuat sudut kurang lebih 40 derajat dari garis lurus bola. b. Kaki tendang berada dibelakang dengan ujujng kaki serong kurang lebih 40 derajat kearah luar. c. Kaki tendang ditarikke belakang kemudian diayunkan ke depan sehingga mengenai bola. d. Saat perkenaan kaki dengan bola, pergelangan kaki ditegangkan. Bagian kaki yang mengenai adalah punggung kaki bagian dalam yang mengarah tepat pada pertengahan bawah bola. e. Setelah menendang, kaki tendang masih terus mengikuti gerakan (masih terangkat dan mengarah sasaran) f. Pandangan mengikuti jalannya bola dan ke arah sasaran. g. Tangan direntangkan untuk menjaga keseimbangan.

30

2) Teknik mengontrol bola Mengontrol bola merupakan salah satu teknik dalam permainan sepak bola yang digunakan untuk menghentikan datangnya bola dengan cara menggunakan salah satu anggota badan. Tujuan mengontrol bola adalah untuk mengatur tempo permainan, mengalihkan laju permainan, dan memudahkan untuk mengoper atau mengumpan (Mukholid, 2007:5). Bagain anggota tubuh yang digunakan untuk mengontrol bola biasanya adalah kaki, paha, dan dada. Bagian kaki yang biasa digunakan untuk menghentikan bola adalah kaki bagian dalam, kaki bagian luar, punggung kaki, dan telapak kaki. 1. Mengontrol bola dengan kaki bagian dalam. Mengontrol bola dengan kaki bagian dalam pada umumnya digunakan untuk menghentikan bola yang datangnya menggelinding atau menyusur tanah, bola memantul, dan bola di udara. Cara melakukannya adalah sebagai berikut: a. Posisi badan segaris dengan datangnya bola. b. Kaki tumpu mengarah pada bola dengan lutut sedikit ditekuk. c. Kaki pengontrol diangkat sedikit dengan permukaan kaki bagian dalam dijulurkan ke depan segaris dengan datangnya bola d. Bola menyentuh kaki persis dibagian dalam atau mata kaki saat menyentuh bola, kaki dilemaskan. e. Kaki pengontrol bersama bola berhenti dibawah badan tepat didepan kaki f. Pandangan mata mengikuti jalannya bola sampai bola berhenti. g. Kedua tangan direntangkan untuk menjaga keseimbangan. 2. Mengontrol bola dengan kaki bagian luar. Mengontrol bola dengan kaki bagian luar pada umumnya digunakan untuk menghentikan bola yang datangnya menggelinding atau menyusur tanah, bola

31

memantul, dan bola di udara sampai setinggi paha. Cara melakukannya adalah sebagai berikut: a. Posisi badan menghadap kearah datangnya bola. b. Kaki tumpu berada di samping kurang lebih 30 cm dari garis datangnya bola dengan lutut sedikit ditekuk. c. Kaki pengontrol diangkat sedikit dengan permukaan kaki bagian luar dijulurkan ke depan menjemput datangnya bola. d. Bola menyentuh kaki persis di permukaan kaki bagian luar. e. Pada saat kaki menyentuh bola, kaki dilemaskan dan kaki pengontrol mengikuti arah bola sampai berada di bawah badan. f. Pandangan mata mengikuti jalannya bola sampai bola berhenti g. Posisi lengan berada di samping badan untuk menjaga keseimbangan. 3. Mengontrol bola dengan punggung kaki Mengontrol bola dengan punggung kaki pada umumnya digunakan untuk menghentikan bola yang datangnya bola di udara. Cara melakukannya adalah sebagai berikut: a. Pandangan menghadap ke arah bola dengan tangan keluar untuk menjaga keseimbangan. b. Kaki penahan diangkat dengan lutut ditekuk. Usahakan agar posisi punggung kaki saat menyentuh bola adalah rata agar bola tidak mantul. c. Pada saat menerima bola, turunkan kaki ke tanah, biarkan bolanya jatuh ke punggung kaki. 4. Mengontrol bola dengan paha Mengontrol bola dengan paha pada umumnya digunakan untuk menghentikan bola di udara sampai setinggi paha. Cara melakukannya adalah sebagai berikut: a. Posisi badan menghadap kearah datangnya bola. b. Kaki tumpu berada di samping kurang lebih 30 cm dari garis datangnya bola dengan lutut sedikit ditekuk. c. Kaki pengontrol (paha) diangkat sedikit, badan dan lutut tegak lurus dengan paha. d. Pada saat bola mengenai paha, paha direndahkan mengikuti arah bola. e. Bola menyentuh paha tepat pada tengah tengah paha atau antara lutut dan pangkal paha.

32

f. Pandangan mengikuti jalannya bola sampai bola berhenti di depan badan. g. Posisi lengan berada disamping badan untuk menjaga keseimbangan. 5. Mengontrol bola dengan dada Mengontrol bola dengan dada pada umumnya digunakan untuk menghentikan bola di udara sampai setinggi dada. Cara melakukannya adalah sebagai berikut: a. b. c. d. e. f. g. Posisi badan menghadap kearah datangnya bola. Kedua kaki dibuka selebar bahu dengan kedua lutut ditekuk. Dada dibusungkan ke depan menghadap ke arah datangnya bola. Pada saat bola mengenai dada, badan dilentingkan mengikuti arah bola. Perkenaan bola pada dada tepat pada tengah tengah dada. Padangan mengikuti bola sampai bola berada di depan dada. Kedua lengan dibuka di samping badan untuk menjaga keseimbangan.

6. Mengontrol bola dengan kepala Mengontrol bola juga bisa dengan kepala. Cara melakukannya adalah sebagai berikut: a. Sikap kedua kaki dibuka b. Pandangan mata menghadap kearah bola datang, lutut sedikit dibengkokkan. c. Badan sedikit condong ke belakang dan kedua tangan direntangkan untuk menjaga keseimbangan. d. Pada saat berkenaan dengan bola, kepala dan badan ditarik ke belakang untuk mematikan gerakan bola. Hal ini dilakukan dengan jalan memajukan kedua lutut atau menekuk lutut dalam dalam. e. Bagian kepala yang mengenai bola adalah dahi. 3) Teknik menggiring (dribbling) Menggiring bola adalah menendang (menyentuh, mendorong) bola secara perlahan sambil berjalan atau berlari. Adapun tujuan dari menggiring bola adalah untuk membawa bola ke arah gawang lawan, melewati lawan dan memperlambat atau mengatur irama permainan (Mukholid, 2007:8).

33

1. Menggiring bola dengan kaki bagian dalam Pada umumnya menggiring bola dengan kaki bagian dalam bertujuan untuk melewati atau mengecoh lawan. Cara melakukannya adalah sebagai berikut: a. Posisi kaki menggiring bola sama dengan posisi saat menendang bola. b. Kaki yang digunakan untuk menggiring bola tidak ditarik ke belakang, tetapi hanya diayunkan ke depan. c. Diusahakan setiap melangkah, secara teratur bola didorong/disentuh bergulir ke depan dengan kaki bagian dalam. d. Bola bergulir harus selalu dekat dengan kaki (tetap dalam jarak penguasaan) e. Pada saat menggiring bola kedua lutut sedikit ditekuk (untuk mempermudah penguasaan bola). f. Pada saat kaki menyentuh bola, pandangan mata ke arah bola dan memperhatikan situasi lapangan (posisi teman, posisi lawan). g. Kedua lengan di samping badan untuk menjaga keseimbangan. 2. Menggiring bola dengan kaki bagian luar Pada umumnya menggiring bola dengan kaki bagian luar bertujuan untuk melewati atau mengecoh lawan. Cara melakukannya adalah sebagai berikut: a. Posisi kaki menggiring bola sama dengan posisi menendang dengan kaki bagian luar. b. Kaki yang digunakan untuk menggiring bola tidak ditarik ke belakang, tetapi hanya diayunkan ke depan. c. Diusahakan setiap melangkah, secara teratur bola didorong/disentuh bergulir ke depan dengan kaki bagian luar. d. Bola bergulir harus selalu dekat dengan kaki (tetap dalam jarak penguasaan). e. Pada saat menggiring bola kedua lutut sedikit ditekuk. f. Pada saat kaki menyentuh bola, pandangan ke arah bola dan melihat situasi lapangan. g. Kedua lengan di samping badan untuk menjaga keseimbangan. 3. Menggiring bola dengan punggung kaki Menggiring bola dengan punggung kaki bertujuan agar lebih cepat mendekati gawang lawan. Cara melakukannya adalah sebagai berikut: a. Posisi kaki menggiring bola sama dengan posisi menendang dengan punggung kaki.

34

b. c. d. e. f.

Bola didorong ke depan dengan punggung kaki secara perlahan. Saat berlari menggiring bola, kaki melangkah pendek. Jarak bola dengan kaki harus selalu dekat agar tetap dalam penguasaan. Kedua lutut sedikit ditekuk agar mudah menguasai bola. Pandangan melihat bola pada saat kaki menyentuh bola, kemudian melihat situasi lapangan (posisi kawan, posisi lawan). g. Kedua lengan di samping badan untuk menjaga keseimbangan dan badan berada di antara bola dan lawan. 4) Teknik menyundul (heading) Menyundul bola usahakan agar mata kita tetap tertuju pada bola. Hal ini dilakukan supaya letak posisi bola yang mengarah pada kepala kita tidak salah dalam mendarat. Juga mulut kita harus tertutup karena akan memungkinkan lidah kita tergigit saat menyundul bola. Biasanya menyundul bola menggunakan dahi. Untuk menambah daya pantul bola saat disundul sebaiknya kita menyundul bola sambil melompat ke arah datangnya bola. Teknik menyundul bola menurut Subardi & Setyawan (2007: 27) dapat dijabarkan sebagai berikut: a. Bagian kepala yang dipakai untuk menyundul adalah dahi bagian tengah. Jangan menutup mata saat menyundul bola untuk memastikan bagian kepala yang benar yang membentur bola. Hindari pemakaian kepala lainnya untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan. b. Saat menyundul bola, kakukan leher dan pundak, kemudian ayunkan leher, kepala dan pundak secara bersamaan dari belakang ke depan sehingga sundulannya bertenaga. c. Posisi kedua kaki direntangkan agar dapat menjaga keseimbangan badan. d. Posisi kedua tangan tetap terbuka dan kuatkan otot leher. e. Untuk sundulan yang bersifat menghalau bola dari daerah pertahanan, sebisa mungkin sundullah bola dari bawah ke atas dan ke samping kanan atau kiri. f. Untuk sundulan yang bertujuan untuk mencetak gol, sebisa mungkin sundullah bola dari atas ke bawah. 5) Teknik melakukan tembakan (shooting) Inti dari permainan sepak bola adalah menembak atau shooting. Menembak ini sangat diperlukan dan berpengaruh pada laju arah bola. Teknik

35

menembak ini harus sering dilatih karena dapat menentukan arah tendangan yang kita inginkan pada saat menendang. Untuk melakukan tembakan caranya adalah sebagai berikut: a. Dekati bola dari belakang dengan posisi sedikit serong. Letakkan kaki tumpuan di samping bola. Tekuklah lutut kaki yang digunakan sebagai tumpuan. Rentangkan tangan untuk menjaga keseimbangan. Tariklah kaki yang akan digunakan untuk menendang kebelakang dan luruskan. Kepala tidak bergerak dan pusatkan perhatian pada bola. b. Luruskan bahu dan pinggul dengan target. Tempatkan tubuh diatas bola. Sentakkan kaki yang akan menendang bola sehingga lurus. Jagalah kaki supaya tetap kuat. Tendang bagian tengah bola dengan kura kura kaki. c. Ikuti gerakan bola ke depan. Sempurnakan gerakan akhir dari kaki yang menendang. Angkatlah kaki yang menahan keseimbangan dari permukaan lapangan.

Variasi melakukan tembakan diantaranya: a. Tembakan dengan tendangan volley dari depan Tendangan volley adalah menendang bola ketika bola berada di udara. Tendangan ini lebih sulit dilakukan karena memerlukan ketepatan waktu dan teknik yang benar. Gunakan tendangan ini untuk menghalau bola jauh jauh atau melakukan tembakan yang keras. Cara melakukan tendangan volley dari depan adalah sebagai berikut: 1. Angkatlah lututmu saat bola mendekat. Kemudian ayunkan kakimu dengan ujung kaki mengarah ke bawah. 2. Tendanglah bola tepat di bagian punggung kaki. b. Tembakan dengan tendangan setengah volley Tendangan setengah volley adalah menendang bola sesaat setelah bola itu mengenai tanah. Rentangkan pergelangan kaki sehingga ujung kaki mengarah ke

36

bawah. Tempatkan tubuhmu di atas bola sehingga tubuhmu tetap membungkuk setelah menendang bola. c. Tembakan dengan tendangan volley dari samping Tembakan dengan tendangan volley dari samping hampir sama dengan teknik tendangan volley dari depan. Bedanya adalah ke arah mana kita menendang. Biasanya pemain melakukan tendangan ini ketika gawang lawan berada disampingnya. Tendang bola ketika bola belum menyentuh tanah ke arah gawang lawan. Materi permainan sepak bola yang begitu kompleks, siswa sering mengalami kesulitan untuk memahami dan mempraktikkan materi tersebut. Dilihat dari penyampaian yang dilakukan oleh guru penjas dalam proses pembelajaran mengalami kendala dalam penyampaian materi yang efektif, efisien dan humanis dikarenakan keterbatasan media dan waktu pertemuan tatap muka di kelas, kurangnya motivasi siswa dalam pembelajaran dikarenakan masih monoton dari melihat buku pelajaran. Siswa hanya melihat isi pelajaran dalam membaca buku pelajaran yang isinya masih minim, atau melihat gambar gambar model praktik berupa tahap tahap pembelajaran yang juga masih minim. Hasil belajar tidak akan terasa hanya dalam waktu 4 kali pertemuan teori dan praktik pembelajaran. Alasan lain siswa merasa kurang efektifnya proses pembelajaran dikarenakan jumlah siswa tidak sebanding dengan sarana pendukung, misalnya jumlah bola kaki yang minim yang dianggarkan oleh kepala sekolah dari pemerintah.

37

Kendala yang diuraikan di atas dapat diatasi dengan media pembelajaran. Maka sejalan dengan hal hal telah diuraikan di atas maka peneliti termotivasi untuk menghasilkan suatu pengembangan produk media pembelajaran agar proses pembelajaran dapat berjalan kapanpun dan dimanapun tanpa ada batas ruang, tempat dan waktu serta dapat dimanfaatkan sampai ada lagi peneltian pengembangan yang baru. Pengembangan media pada materi teknik dasar sepak bola menggunakan media video pembelajaran. Dalam pembelajaran, media memegang peranan penting dalam mencapai sebuah tujuan belajar. Hubungan komunikasi antara guru dan siswa akan lebih baik dan efisien jika menggunakan media. Menurut Hamalik (dalam Rusman, 2011: 60), media dalam proses belajar mengajar memiliki dua peranan penting, yaitu: (1) media sebagai alat bantu mengajar atau disebut sebagai dependent media karena posisi media di sini sebagai alat bantu (efektivitas), dan (2) media sebagai sumber belajar yang digunakan sendiri oleh peserta didik secara mandiri atau disebut dengan independent media. Independent media dirancang secara sistematis agar dapat menyalurkan informasi secara terarah untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Media pembelajaran adalah alat atau bentuk stimulus yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Bentuk bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media di antaranya adalah hubungan atau interaksi manusia; realita; gambar bergerak atau tidak; tulisan dan suara yang direkam. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu peserta didik dalam menyerap materi pembelajaran.

38

Banyak usaha telah dilakukan oleh ilmuwan pembelajaran dalam mengklasifikasi variabel variabel pembelajaran yang menjadi perhatiannya. Terutama bila dikaitkan dengan kegiatannya dalam pengembangan teori teori pembelajaran. Salah satunya yang paling rinci dan sangat memadai sebagai landasan pengembangan suatu teori pembelajaran dikemukakan oleh Reigeluth (dalam Hamid,2009:52). Pada mulanya mereka memperkenalkan empat variabel yang menjadi titik perhatian ilmuwan pembelajaran, yaitu: (1) kondisi pembelajaran, (2) bidang studi, (3) strategi pembelajaran, dan (4) hasil pembelajaran. Variabel variabel yang dikelompokkan ke dalam kondisi pembelajaran adalah karakteristik pebelajar, karakteristik lingkungan pembelajaran, dan tujuan institusional, variabel bidang studi mencakup karakteristik isi/tugas. Variabel strategi pembelajaran mencakup strategi penyajian isi bidang studi, penstrukturan isi bidang studi, dan pengelolaan pembelajaran. Variabel hasil pembelajaran mencakup semua efek yang dihasilkan dari pembelajaran, apakah itu pada diri pebelajar, lembaga, termasuk juga masyarakat. Pada tahun 1978 klasifikasi variabel variabel pembelajaran ini dimodifikasi menjadi 3, yaitu: (1) kondisi pembelajaran, (2) metode pembelajaran, dan (3) hasil pembelajaran yang dikemukakan oleh Reigeluth (dalam Hamid, 2009:52). Kondisi pembelajaran adalah faktor faktor yang mempengaruhi efek metode dalam meningkatkan hasil pembelajaran. Kondisi pembelajaran didefinisikan sebagai faktor yang mempengaruhi efek metode dalam

meningkatkan hasil pembelajaran. Variabel kondisi pembelajaran menjadi 3

39

kelompok, yaitu: (1) tujuan dan karakteristik bidang studi, (2) kendala dan karakteristik bidang studi, dan (3) karakteristik pebelajar. Metode pembelajaran adalah cara cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda. Metode pembelajaran didefinisikan sebagai cara cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi pembelajaran. Variabel metode pembelajaran diklasifikasi lebih lanjut menjadi 3 jenis, yaitu: (1) strategi pengorganisasian, (2) strategi penyampaian, dan (3) strategi pengelolaan. Strategi pengorganisasian pembelajaran adalah metode untuk

mengorganisasi isi bidang studi yang telah dipilih untuk pembelajaran. Strategi penyampaian pembelajaran adalah metode untuk menyampaikan pembelajaran kepada pebelajar dan/atau untuk menerima serta merespon masukan yang berasal dari pebelajar. Media pembelajaran merupakan bidang kajian utama dari strategi ini. Strategi penyampaian isi pembelajaran merupakan komponen variabel metode untuk melaksanakan proses pembelajaran. Sekurang kurangnya ada 2 fungsi dari strategi ini, yaitu: (1) menyampaikan isi pembelajaran kepada pebelajar, dan (2) menyediakan informasi atau bahan bahan yang diperlukan pebelajar untuk menampilkan unjuk kerja (seperti latihan dan tes). Secara lengkap ada 3 komponen yang perlu diperhatikan dalam mempreskripsikan strategi

penyampaian, yaitu: (1) media pembelajaran, (2) interaksi pebelajar dengan media, dan (3) bentuk (struktur) belajar mengajar. Strategi pengelolaan pembelajaran adalah metode untuk menata interaksi antara pebelajar dan variabel

40

metode pembelajaran lainnya, yaitu variabel strategi pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran. Jika dihubungkan dengan teori belajar yang terdiri dari behavorisme, kognitivisme, humanisme dan sibernetik dengan masing masing pemahamannya mengenai belajar, maka dapat dikatakan bahwa materi teknik dasar sepak bola perlu menerapkan teori teori belajar tersebut. Menurut teori behavioristik, belajar adalah bila pebelajar telah menunjukkan suatu perubahan tingkah laku. Teori kognitivisme lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Teori ini sangat erat hubungan dengan teori sibernetik. Menurut teori sibernetik, belajar adalah pengolahan informasi. Teori sibernetik yang terpenting adalah sistem informasi dari apa yang akan dipelajari pebelajar. Sedangkan bagaimana proses belajar akan berlangsung, akan sangat ditentukan oleh sistem informasi ini. Oleh karena itu, teori ini berasumsi bahwa tidak ada satupun jenis cara belajar yang ideal untuk segala situasi. Sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi. Menurut teori humanisme, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika pebelajar telah memahami lingkungan dan dirinya sendiri. Dengan kata lain, pebelajar dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik baiknya. Teori ini menekankan isi dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal.

41

Hasil

belajar

merupakan

hasil

kegiatan

belajar

siswa

yang

menggambarkan ketrampilan atau penguasaan siswa terhadap bahan ajar. Hasil belajar biasanya dinyatakan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Tes yang digunakan untuk menentukan hasil belajar merupakan suatu alat untuk mengukur aspek aspek tertentu dari siswa (Dimyati & Mudjiono,

2009:256-259). Hasil belajar, lepas dari apakah ia berupa hasil yang diinginkan atau hasil yang nyata dapat diklasifikasi menjadi 3, yaitu: (1) keefektifan pembelajaran, (2) efisiensi pembelajaran, dan (3) daya tarik pembelajaran (Hamid, 2009:100-111). Menurut Gagn (dalam Bigge, 1982:143) mengemukakan ada lima kemampuan hasil belajar, yaitu: (1) informasi verbal (verbal information), (2) keterampilan intelektual (intellectual skills), (3) strategi kognitif (cognitive strategies), (4) sikap (attitudes), dan (5) keterampilan motorik (motor skills). Informasi verbal, yaitu kemampuan untuk mendeskripsikan sesuatu dengan kata kata, dengan jalan mengatur informasi yang relevan. Keterampilan intelektual, yaitu kemampuan yang mencakup diskriminasi, konsep konkrit dan abstrak, kaidah, dan kaidah tingkat lebih tinggi. Strategi kognitif, yaitu kemampuan untuk mengembangkan cara cara baru untuk memecahkan masalah. Sikap, yaitu kemampuan dalam memilih berperilaku dengan cara tertentu. Keterampilan motorik, yaitu kemampuan untuk melakukan gerakan tubuh yang luwes dan/atau cekatan, serta dengan urutan yang benar.

42

Menurut Bloom (dalam Rusman, 2011:12) mengemukakan bahwa hasil belajar meliputi perubahan dalam ranah/domain kognitif, afektif, dan

psikomotorik, beserta tingkatan aspek aspeknya. Pengembangan aspek psikomotorik melalui keterampilan gerak, dan kebugaran fisik peserta didik. Kebugaran fisik adalah upaya prinsip prinsip peningkatan kondisi fisik yang meliputi pengembangan kapasitas kardiovaskular, daya tahan otot lokal, kekuatan, kelenturan, dan power dalam suatu program. Pengembangan aspek kognitif tidak hanya melalui membaca sumber dari buku, juga pengetahuan dapat dipelajari melalui pengalaman langsung yang relevan akan bertahan lebih lama daripada hanya melalui mendengar atau membaca, pembelajaran akan lebih cepat terjadi ketika siswa mengerti prinsip prinsip yang terlibat dalam pelaksanaan keterampilan. Pengembangan aspek afektif dapat digunakan untuk memfokuskan perhatian, memelihara konsentrasi, menimbulkan dan menjaga motivasi, mengelola kecemasan, mengembangkan self esteem, dan mempelajari etika serta perilaku sosial. Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah gambaran kemampuan pada aspek kognitif, psikmotorik dan afektif yang berkaitan dengan: (1) teknik menyundul bola, (2) teknik merebut bola (tackling), (3) teknik melempar bola ke dalam, dan (4) latihan variasi bermain. Pelaksanaan ini semua akan menjadi suasana pembelajaran yang monoton dan kurang efektif jika dalam penggunaan media pembelajaran yang digunakan berfokus pada buku teks saja. Peserta didik membutuhkan sarana media yang dapat menuntun mereka dalam proses belajar tidak hanya di sekolah tetapi kapanpun dan dimanapun dalam permasalahan ini

43

media yang sesuai adalah video pembelajaran. Untuk itu peneliti mengupayakan dan membuat suatu pengembangan media video pembelajaran teknik teknik dasar permainan sepak bola, yang mana hasil dari pengembangan media video pada materi pembelajaran sepak bola berupa CD video pembelajaran.

2. Hakikat Teknologi Pembelajaran Pengertian teknologi sendiri sangat luas dan beragam. Menurut Ellul, 1967 (dalam Miarso, 2009:75) mendefinisikan teknologi sebagai keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia. Dengan demikian teknologi pendidikan harus pula memiliki efisiensi itu. Pembelajaran pada hakikatnya mempersiapkan peserta didik untuk dapat menampilkan tingkah laku hasil belajar dalam kondisi yang nyata, atau untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Untuk itu,

pengembang program pembelajaran selalu menggunakan teknik analisis kebutuhan belajar untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan yang diperlukan peserta didik. Bahkan setelah peserta didik menyelesaikan kegiatan belajar selalu dilakukan analisis umpan balik untuk melihat kesesuaian hasil belajar dengan kebutuhan belajar. Teknologi telah menjadi bagian integral dari tiap kehidupan masyarakat sejak ribuan tahun yang lalu. Pada zaman batu pun telah ada teknologi, seperti misalnya yang digunakan untuk membangun piramida, membangun candi Borobudur, untuk membuat api, dan sebagainya. Makin maju suatu budaya, makin

44

banyak dan makin canggih teknologi yang ditemukan dan digunakan. Bahkan ada di antara kita yang berpendapat bahwa teknologi telah merupakan jawaban atas semua masalah. Sebaliknya, banyak juga di antara kita yang berpendapat bahwa teknologi merupakan sekedar alat yang tidak ada maknanya kalau tidak digunakan. Kedua pendapat ini tidak tepat, karena tidak ada satu pun obat (teknologi) yang dapat mengatasi segala macam penyakit masalah. Kecuali itu tidak ada teknologi yang diciptakan hanya untuk sesuatu makna dan orang tertentu, karena ciptaan itu merupakan suatu bagian dari rangkaian atau sistem tertentu. Dalam bidang pendidikan dan pelatihan, sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, teknologi juga telah merupakan bagian integral, baik disadari maupun tidak. Masih banyak guru, dosen, widiaiswara dan pelatih yang menganggap teknologi hanya sekadar alat atau sarana, yang dapat membantu mengatasi masalah dalam mengajar atau melatih, seperti misalnya penggunaan OHP (proyektor sawang) untuk menayangkan transparansi dan pengeras suara. Mereka bahkan berpendapat bahwa tanpa alat atau sarana itu pun, mereka masih dapat menjalankan tugas dengan baik. Ratusan tahun yang lalutabib merupakan satu satunya profesi yang mampu menyembuhkan penyakit, dan guru merupakan satu satunya profesi yang mampu mengajarkan ilmu kepada muridnya. Sekarang ini dibidang kesehatan telah lahir sejumlah profesi dengan keahlian khusus (spesialis) yang didukung dengan sarana yang canggih, seperti misalnya CT-Scan. Tetapi di bidang pendidikan adanya tenaga dengan keahlian khusus serta penggunaan proses dan sarana yang modern, masih belum diterima secara meluas.

45

Pengertian teknolgi pendidikan tidak terlepas dari pengertian teknologi secara umum. Pengertian teknologi yang utama adalah proses yang meningkatkan nilai tambah. Proses tersebut menggunakan dan atau menghasilkan suatu produk tertentu. Produk yang digunakan dan atau dihasilkan tidak terpisah dari produk lain yang telah ada, dan karena itu menjadi bagian integral dari suatu sistem. Jadi dalam pengertian umum tentang teknologi, alat atau sarana baru yang khusus diperlukan tidak menjadi syarat yang mutlak harus ada, karena alat atau sarana itu telah ada sebelumnya. Dalam bidang pendidikan atau pembelajaran, teknologi juga harus memenuhi ketiga syarat tersebut: proses, produk, dan sistem. Kecuali memenuhi syarat umum teknolgi, teknologi pendidikan juga harus membuktikan dirinya sebagai suatu bidang kajian atau disiplin kelimuan yang berdiri sendiri. Perkembangan sebagai disiplin keilmuan tersebut dilandasi oleh serangkaian dalil atau dasar yang diadikan patokan pembenaran. Secara falsafah, dasar keilmuan itu meliputi ontologi atau rumusan tentang gejala pengamatan yang dibatasi pada suatu pokok telaah khusus yang tidak tergarap oleh bidang telaah lain; epistemologi, yaitu usaha atau prinsip intelektual untuk memperoleh kebenaran dalam pokok telaah yang ditentukan; dan aksiologi atau nilai nilai yang menentukan kegunaan dari pokok telaah yang ditentukan, yang mempersoalkan nilai moral (etika) dan nilai seni serta keindahan atau estetika. (Miarso, 2009:62). Objek formal teknologi pendidikan adalah belajar pada manusia, baik sebagai pribadi maupun yang tergabung dalam organisasi. Belajar itu tidak hanya berlangsung dalam lingkup persekolahan ataupun pelatihan. Belajar itu ada di

46

mana saja dan oleh siapa saja, dengan cara dan sumber apa saja yang sesuai dengan kondisi dan keperluan. Objek tersebut dapat digambarkan sebagaimana tertera dalam Gambar 2.1 berikut ini.
BELAJAR PENDIDIKAN PELATIHAN

Gambar 2.1 Objek Teknologi Pembelajaran Adapun gejala yang perlu mendapat perhatian, atau yang merupakan landasan ontologi dan objek tersebut adalah: (1) adanya sejumlah besar orang yang belum terpenuhi kesempatan belajarnya, baik yang diperoleh melalui suatu lembaga khusus, maupun yang dapat diperoleh secara mandiri, (2) adanya berbagai sumber baik yang telah tersedia maupun yang dapat direkayasa, tetapi belum dapat dimanfaatkan untuk keperluan belajar, (3) perlu adanya suatu proses atau usaha khusus yang terarah dan terencana untuk menggarap sumber sumber tersebut agar dapat terpenuhi hasrat belajar setiap orang dan organisasi, dan (4) perlu adanya keahlian dan pengelolaan atas kegiatan khusus dalam mengembangkan dan memanfaatkan sumber untuk belajar tersebut secara efektif, efisien, dan selaras. Dalam perkembangan terakhir, istilah teknologi pendidikan dipersempit menjadi teknologi pembelajaran, dengan pertimbangan bahwa istilah terakhir itu kecuali lebih dapat diterima oleh kalangan yang luas, juga dapat lebih berfolus pada objek formal yang menjadi garapannya. Secara konseptual teknologi pendidikan didefinisikan: teori dan praktik dalam desain, pengembangan,

47

pemanfaatan, pengelolaan, penilaian dan penelitian proses, sumber dan sistem untuk belajar. Definisi tersebut mengandung pengertian adanya empat komponen dalam teknologi pembelajaran, yaitu: (a) teori dan praktik, (b) desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian, dan penelitian, (c) proses, sumber, dan sistem, serta (d) untuk belajar. Komponen teori dan praktik menunjukkan bahwa teknologi pembelajaran memiliki landasan pengetahuan yang didasarkan atas hasil kajian melalui riset dan pengalaman. Teori ditunjukkan oleh adanya konsep, konstruk, prinsip, dan proposisi yang memberi sumbangan terhadap keluasan pengetahuan. Sedangkan praktik merupakan penerapan pengetahuan tersebut dalam setting pembelajaran tertentu, terutama dalam memecahkan masalah belajar. Dalam pembelajaran kita memahami bahwa teori teori yang digunakan pada hakikatnya menurunkan dari teori teori yang dikembangkan oleh ilmu murni, seperti psikologi yang diturunkan ke dalam teori belajar, adanya komunikasi pembelajaran, dan pengelolaan pembelajaran serta ilmu ilmunya. Sedangkan dalam praktik pembelajaran ditunjukkan oleh penurunan konsep konsep pengetahuan sesuai dengan kondisi serta karakteristiknya, sebagai contoh kondisi dan karakteristik peserta didik, bahan belajar, sarana dan fasilitas. Komponen desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan penilaian merupakan komponen sistem pengelolaan dalam pembelajaran. Setiap komponen memiliki teori dan praktik yang khusus dan memiliki keterkaitan secara sistematis dengan bagian bagian lainnya, baik sebagai masukan maupun umpan balik dan penilaian. Tahapan tahapan tersebut merupakan tahapan

48

pengelolaan pembelajaran yang di dalamnya memiliki aktifitas kegiatan masing masing. Komponen proses dan sumber dimaksudkan dengan serangkaian kegiatan yang memanfaatkan sumber belajar untuk mencapai hasil belajar. Proses dan sumber memiliki keterkaitan dengan komponen pengelolaan pembelajaran di atas. Melalui komponen proses ini maka dianalisis dan diterapkan kegiatan kegiatan yang tepat dan sistematis melalui pemanfaatan sumber belajar yang telah diputuskan untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Komponen belajar dimaksudkan bahwa program pembelajaran yang dirancang pada hakikatnya ditujukan untuk terjadinya belajar pada diri peserta didik, sehingga masalah belajar yang dimilikinya dapat terpecahkan. Oleh karena itu, kejelasan kebutuhan belajar yang akan dipecahkan oleh suatu program pembelajaran perlu diidentifikasi secara definitif terlebih dahulu, yang pada akhirnya hal tersebut menjadi salah satu kriteria dari keberhasilan program pembelajaran yang dikembangkan. Definisi teknologi pembelajaran di atas kemudian dipetakan ke dalam kawasan teknologi pembelajaran sebagai digambarkan Seels & Richey (1994:5) dalam Gambar 2.2 berikut ini:

49

PENGEMBANGAN
Teknologi Cetak Teknologi Audiovisual Teknologi Berbasis Komputer Teknologi Terpadu

DESAIN
Desain sistem Pembelajaran Desain pesan Strategi pembelajaran Karakteristik siswa

PEMANFAATAN
Pemanfaatan Media Difusi inovasi Implementasi dan institusionalisasi Kebijakan dan regulasi

TEORI PRAKTEK

PENILAIAN
Analisis masalah Pengukuran acuan Patokan Evaluasi formatif Evaluasi sumatif

PENGELOLAAN
Manajemen proyek Manajemen produk Manajemen sistem Penyampaian Manajemen informasi

Gambar 2.2 Kawasan Teknologi Pembelajaran (Seels & Richey, 1994:5) Konsep definisi teknologi pendidikan mendapatkan kajian secara terus menerus dan selalu dikritisi para ahli terutama yang tergabung dalam AECT, hal ini sesuai dengan perkembangan pendidikan termasuk pembelajaran dan yang lebih khusus kondisi dan karakteristik peserta didik serta komponen pembelajaran lainnya. AECT merumuskan definisi teknologi pendidikan versi bulan juni 2004 yang termasuk masih prematur dan dilemparkan kepada seluruh masyarakat yang terkait dengan pendidikan melalui media internet. Konsep definisi versi 2004 (TPIP FIPUPI,2009:195) adalah sebagai berikut: teknologi pendidikan adalah studi dan praktik yang etis dalam memberi kemudahan belajar dan perbaikan kinerja melalui kreasi, penggunaan, dan

50

pengelolaann proses dan sumber teknologi yang tepat. Kalau dianalisis, di dalam definisi tersebut terkandung beberapa elemen berikut: (1) studi, (2) praktik yang etis, (3) kemudahan belajar, (4) perbaikan kinerja, (5) kreasi, penggunaan, dan pengelolaan, (6) teknologi yang tepat, dan (7) proses dan sumber. Istilah studi yang digunakan dalam definisi tersebut merujuk pada pemaknaan studi sebagai usaha untuk mengumpulkan informasi dan

menganalisisnya melebihi pelaksanaan riset yang tradisional, mencakup kajian kajian kualitatif dan kuantitatif untuk mendalami teori, kajian filsafat, pengkajian historik, pengembangan proyek, kesalahan analisis, analisis sistem, dan penilaian. Studi dalam teknologi pendidikan telah berkembang terutama dalam kaitannya dengan pengembangan model pembelajaran, efektifitas kedudukan media dan teknologi dalam pelaksanaan pembelajaran, dan penerapan teknologi dalam perbaikan belajar. Kajian mutakhir banyak difokuskan pada penempatan posisi teori belajar, manajemen informasi, dan perkembangan pemanfaatan teknologi untuk memecahkan masalah belajar yang dihadapi peserta didik. Istilah studi dalam definisi tersebut pada hakikatnya ditujukan untuk memberi kemudahan belajar dan perbaikan kinerja belajar peserta didik melalui kegiatan belajar yang memanfaatkan sumber belajar yang tepat. Definisi tersebut mengarahkan bahwa teknologi pendidikan memiliki praktik yang etis dalam memberikan kemudahan belajar dan perbaikan kinerja belajar peserta didik. Maksud dari praktik yang etis tersebut adalah adanya standar atau norma dalam mengkreasi atau merancang, menggunakan, dan mengelola

51

proses pembelajaran dan pemanfaatan sumber belajar untuk kepentingan belajarnya peserta didik. Dari definisi 2004 ini tergambar adanya pergeseran gerakan teknologi pendidikan dari definisi sebelumnya yaitu bahwa teknologi pendidikan atau teknologi pembelajaran sebagai teori dan praktik, bahkan bidang kajian, menjadi studi dan praktik yang etis. Hal ini mengarahkan perlu adanya kajian kajian yang mendalam dan lebih tepat sehingga diperoleh konsep konsep dan praktik belajar sesuai dengan kepentingan belajar setiap individu. Namun demikian, perubahan gerakan tersebut tidak menyurutkan tujuan dari teknologi pendidikan yaitu memfasilitasi belajar dan perbaikan penampilan belajar peserta didik dengan menggunakan berbagai macam sumber belajar. Sejalan dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dalam bidang pendidikan, maka tidak mustahil kedepannya teknologi pembelajaran akan semakin berkembang dan memperkokoh diri menjadi suatu disiplin ilmu, program studi, dan profesi yang dapat berperan dalam memecahkan masalah masalah pembelajaran seperti yang telah diuraikan tadi. Melalui teori teori pembelajaran dalam kawasan teknologi pendidikan/ pembelajaran dapat memecahkan persoalan yang selama ini mengalami kebutuhan akan media pembelajaran. Tokoh tokoh teknologi pendidikan sekarang ini banyak memodifikasi perangkat media pembelajaran dengan menggunakan teknologi media seperti menggunakan internet untuk pengajaran jarak jauh ataupun menggunakan media pembelajaran yang sudah disusun sedemikian rupa dalam bentuk video pembelajaran (VCD Pembelajaran). Kelebihan penggunaan

52

media pembelajaran dalam bentuk VCD Pembelajaran yang dapat digunakan untuk memberikan tidak hanya penjelasan melainkan juga contoh nyata praktik aplikasi pembelajaran, dapat digunakan tidak hanya untuk 1 kelompok/kelas peserta didik melainkan juga dapat digunakan untuk beberapa kelas maupun untuk digunakan pada kelas tahun tahun berikutnya.

3. Hakikat Pengembangan Media Pembelajaran Teknik Dasar Sepak Bola Perkembangan media menurut Ashby (1972:9) telah menimbulkan dua kali lipat dari empat kali revolusi dunia pendidikan. Revolusi pertama telah terjadi beberapa puluh abad yang lalu, yaitu pada saat orang tua menyerahkan pendidikan anak anaknya kepada orang lain yang berprofesi sebagai guru; revolusi kedua terjadi dengan digunakannya bahasa tulisan sebagai sarana utama pendidikan; revolusi ketiga timbul dengan tersedianya media cetak yang merupakan hasil ditemukannya mesin dan teknik percetakan; dan revolusi keempat berlangsung dengan meluasnya penggunaan media komunikasi elektronik. Revolusi keempat itu telah mengubah sistem pendidikan secara menyeluruh. Bahkan ada yang berpendapat secara ekstrem bahwa perkembangan itu mengarah kepada masyarakat tanpa sekolah, yaitu karena semua pesan dan informasi dapat disajikan melalui media dan setiap orang dapat memilih sendiri pesan atau informasi apa yang diperlukannya. Pendapat yang tepat sebenarnya adalah bahwa perkembangan media itu, baik berupa buku, siaran radio, dan televisi berpotensi untuk tumbuh dan berkembangnya masyarakat belajar. Oleh

53

karena itu, dalam setiap kegiatan pembelajaran potensi media tidak mungkin diabaikan. Penggunaan media dalam pembelajaran memang sangat disarankan, tetapi dalam penggunaannya tidak semua media baik. Ada hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media, antara lain tujuan pembelajaran, sasaran didik, karakteristik media yang bersangkutan, waktu, biaya, ketersediaan sarana, konteks penggunaan, dan mutu teknis. Penggunaan media yang tepat akan sangat menunjang keberhasilan dalam proses pembelajaran. Sebaliknya, penggunaan media yang tidak tepat hanya akan menghambur hamburkan biaya dan tenaga, terlebih bagi ketercapaian tujuan pembelajaran akan jauh dari apa yang diharapkan. Sebagai salah satu sarana pembelajaran, sekolah harus dapat menyediakan media yang tepat untuk menunjang civitas akademika dalam belajar agar tidak jenuh dalam menerima pembelajaran di kelas. Salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan penggunaan media pembelajaran, termasuk diantaranya teknologi informasi. Pemanfaatan teknologi informasi sebagai media

pembelajaran dapat melalui pemanfaatan penggunaan VCD sebagai media Pembelajaran. Diharapkan dengan pemanfaatan media ini dapat merangsang pikiran, perasaan, minat, serta perhatian peserta didik sedemikan rupa sehingga proses pembelajaran dapat terjadi. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karya WJS. Poerwadarminta (2002:473), bahwa pengembangan adalah perbuatan menjadikan bertambah, berubah sempurna (pikiran, pengetahuan dan sebagainya).

54

Istilah media, bentuk jamak dari perantara (medium), merupakan sarana komunikasi. Istilah ini merujuk pada apa saja yang membawa informasi antara sebuah sumber dan sebuah penerima. Enam kategori dasar media adalah teks, audio, visual, video, perekayasa (manipulative), dan orang orang. Tujuan dari media adalah untuk memudahkan komunikasi dan belajar (Smaldino, 2011:7). Dari Olson (dalam Miarso, 2009:457) mendefinisikan medium sebagai teknologi untuk menyajikan, merekam, membagi, dan mendistribusikann simbol dengan melalui rangsangan indra tertentu, disertai penstrukturan informasi. Sedangkan menurut Aqib (2010:58) media pengajaran diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (message), merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar. Sebuah format media merupakan bentuk fisik yang di dalamnya pesan disertakan dan ditampilkan. Format media mencakup, sebagai misal, papan tulis penanda (visual dan teks), slide powerpoint (teks dan visual), CD (suara dan musik), DVD (video), dan multimedia komputer (audio, teks, dan video). Masing masing memiiki kelebihan dan keterbatasan yang berbeda beda dalam hal jenis pesan yang dapat direkam dan ditampilkan. Istilah pembelajaran digunakan untuk menunjukkan usaha pendidikan yang dilaksanakan secara sengaja, dengan tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu sebelum proes dilaksanakan, serta yang pelaksanaannya terkendali. Perlu ditegaskan bahwa dalam proses pendidikan sering kali seseorang belajar tanpa disengaja, tanpa tahu tujuannya terlebih dahulu, dan tidak selalu terkendalikan baik dalam artian isi, waktu, proses, maupun hasilnya.

55

Dari berbagai pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa (a) media pembelajaran merupakan wadah dari pesan, (b) materi yang ingin disampaikan adalah pesan pembelajaran, (c) tujuan yang ingin dicapai ialah proses pembelajaran. Selanjutnya penggunaan media secara kreatif akan memperbesar kemungkinan bagi siswa untuk belajar lebih banyak, mencamkan apa yang dipelajarinya lebih baik, dan meningkatkan penampilan dalam melakukan keterampilan sesuai dengan yang menjadi tujuan pembelajaran. Untuk itu untuk tercapai ketiga komponen komunikasi dalam

pembelajaran tersebut maka perlu adanya media pembelajaran yang dapat menuntun tercapainya proses pembelajaran komunikasi dua arah dengan suasana belajar interaktif, menarik, siswa aktif, efektif, efisien tanpa batasan ruang dan waktu. Maka dari itu peneliti mencoba membangun suasana pembelajaran yang efektif, komunikatif, interaktif dan aktif dengan pengembangan media pembelajaran, dalam penelitian ini peneliti mengembangkan media video pembelajaran teknik dasar sepak bola. Penelitian dalam penelitian ini dilakukan pada kawasan desain pengembangan pembelajaran. Soekamto (1993:3) menjelaskan bahwa

pengembangan pembelajaran merupakan suatu aktivitas profesional untuk mengembangkan suatu sistem atau program pembelajaran berdasarkan pola yang telah dihasilkan telah dihasilkan dalam perancangan, dan merupakan proses untuk memberikan preskripsi dan memakai prosedur prosedur yang secara optimal dapat menciptakan suatu program/sistem instruksional dalam situasi tertentu.

56

Miarso (2009:513) pengembangan pembelajaran, sebagai suatu program yang ditujukan pada kemudahan belajar siswa (seperti perancangan pengajaran, pembuatan bahan ajar, penyajian, penilaian, dan umpan balik), merupakan suatu bagian pengembangan tenaga pengajar yang terpenting. Reigeluth, 1978 (dalam Suparman, 2004:36) mengungkapkan bahwa pengembangan pembelajaran terdiri dari tiga tahap kegiatan yaitu : (1) Desain, yang bagi seorang pengembang instruksional berfungsi sebagai cetakan biru atau blue print bagi ahli bangunan, (2) produksi yang berarti penggunaan desain untuk membuat program pembelajaran, (3) validasi yang merupakan penentuan kualitas atau validitas dari produk akhir. Dari definisi ini maka hasil pengembangan pembelajaran adalah suatu set bahan dan strategi pembelajaran yang efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pembelajaran yang dimulai dengan

mengidentifikasi masalah, dilanjutkan dengan mengembangkan strategi dan bahan ajar, kemudian diakhiri dengan mengevaluasi efektivitas dan efisiensinya. Menurut Sukmadinata (2010:164) penelitian dan pengembangan adalah suatu proses atau langkah langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat

dipertanggungjawabkan. Produk tersebut tidak selalu berbentuk benda atau perangkat keras, seperti buku, modul alat bantu pembelajaran di kelas atau laboratorium, tetapi bisa juga perangkat lunak, seperti program computer untuk pengolahan data, pembelajaran di kelas, perpustakaan atau laboratorium, dan lain lain sebagainya.

57

Dalam pengembangan media video pembelajaran pada mata pelajaran penjas ini digunakan model pengembangan produk Borg & Gall. Menurut Borg & Gall (1983:772) mengemukakan penelitian pengembangan adalah penelitian yang berorientasi untuk mengembangkan dan memvalidasi produk produk yang digunakan dalam pendidikan. Dalam kaitannya dalam penelitian ini bahwa teknologi pembelajaran yang sedang dikembangkan adalah teknologi audio visual yang salah satu bentuknya adalah media video. Untuk mengembangkan rencana pembelajarannya dipadukan dengan model pengembangan pembelajaran Dick & Carey. Model pengembangan Dick & Carey (2005:1) adalah salah satu contoh model pengembangan yang berorientasi pada hasil, karena penerapan konsep konsep dan prinsip prinsip perancangannya akan menghasilkan bahan belajar mandiri. Model pembelajaran Dick & Carey dapat dilihat Gambar 2.3 berikut ini:

58

Langkah langkah pengembangan model Dick & Carey dapat dilihat pada Gambar 2.3 berikut.
Merevisi kegiatan Instruksional Melaksa nakan analisis instruksio nal Identifikasi perilaku dan karakteristik awal

Mengidenti fikasi tujuan umum

Menulis tujuan kinerja

Mengem bangkan butir tes acuan patokan

Mengem bangkan strategi instruksio nal

Mengem bangkan dan memilih bahan instruksio nal

Mendesain dan melaksana kan evaluasi formatif Mendesain dan melaksana kan evaluasi Sumatif

Keterangan: _____ : garis tahapan ------- : garis umpan balik dan revisi Gambar 2.3 Model Pengembangan Desain Instructional Dick & Carey (2005:1)

Untuk menghasilkan produk media video pembelajaran diperlukan perencanaan, perancangan pembelajaran yang baik. Dalam pengembangan media video pembelajaran ini digunakan rancangan pembelajaran model Dick & Carey (2005:6-9), dimana pengembangan pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan tahap tahap sebagai berikut: 1) Identifikasi tujuan pembelajaran; yakni menentukan tujuan dari sistem yang dibangun. Yang dimaksud dengan tujuan di sini adalah kemampuan yang dapat diperoleh pembelajar setelah menyelesaikan pelajaran.

59

2) Melakukan analisis pembelajaran, yakni menentukan kemampuan apa saja yang terlibat dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan dan menganalisis topik atau materi yang akan dipelajari. Analisis ini akan menghasilkan diagram tentang keterampilan keterampilan/konsep dan menunjukkan keterkaitan antara keterampilan konsep tersebut. 3) Identifikasi perilaku dan karakteristik awal, yakni menentukan kemampuan minimum apa saja yang harus dimiliki pembelajar untuk menyelesaikan tugas tugas. Ketika melakukan analisis terhadap keterampilan keterampilan yang perlu dilatihkan dan tahapan prosedur yang perlu dilewati, juga harus dipertimbangkan keterampilan apa yang telah dimiliki siswa saat mulai mengikuti pengajaran. Yang penting juga untuk diidentifikasi adalah karakteristik khusus siswa yang mungkin ada hubungannya dengan rancangan aktivitas aktivitas pengajaran. Misalnya pembelajar harus memliki kemampuan membaca, kemampuan perhitungan dasar atau kemampuan verbal dan spatial. Kepribadian dari pembelajar juga mempengaruhi rancangan yang akan dibuat. 4) Menulis tujuan kerja, yang bertujuan untuk menguraikan tujuan umum menjadi tujuan yang lebih spesifik pada tiap tahapan pembelajaran. Di tiap tahapan akan ada panduan pembelajaran dan pengukuran performansi pembelajar. 5) Mengembangkan tes acuan patokan, yakni merancang item tes untuk menyediakan kesempatan bagi pembelajar untuk mendemonstrasikan

kemampuan dan pengetahuan yang dinyatakan dalam tujuan.

60

6) Mengembangkan

strategi

pembelajaran,

yakni

menentukan

aktifitas

instruksional yang membantu dalam pencapaian tujuan. Dimana, strategi tersebut akan meliputi aktivitas preinstruksional, penyampaian informasi, praktik dan balikan, testing, yang dilakukan lewat aktivitas. Misalnya membaca, mendengarkan, hingga eksplorasi internet. Aktifitas instruksional ini dapat dikembangkan oleh instruktur sesuai dengan latar belakang, kebutuhan, dan kemampuan pembelajar atau bisa saja pembelajar

menggabungkan pengetahuan yang baru didapatkan dengan pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki untuk membentuk pemahaman baru. Proses pembelajaran juga dapat dilakukan secara berkelompok atau individual. 7) Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran, di mana berkaitan dengan media yang digunakan untuk proses pembelajaran untuk menghasilkan pengajaran yang meliputi petunjuk untuk siswa, bahan pelajaran, tes dan panduan guru. Media pembelajaran dapat berupa pemberian

materi/perkuliahan, pemberian tugas, powerpoint, internet, paket computer assisted instruction, dan sebagainya. Permasalahan terletak pada penentuan media yang tepat untuk mencapai tujuan dan hal ini tidak sama untuk setiap pembelajar. 8) Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif, yang bertujuan menyediakan data untuk revisi dan pengembangan instruksional material. Selain itu, evaluasi ini juga dilakukan untuk mengumpulkan data yang akan digunakan untuk mengidentifikasi bagaimana meningkatkan pengajaran. Evaluasi ini dapat dilakukan, misalnya, dengan cara mewawancarai setiap pembelajar.

61

9) Merevisi kegiatan pembelajaran, merupakan bagian konstan dalam proses design. Revisi dilakukan berdasarkan hasil dari tiap komponen model ini. Pada tahap ini, data dari evaluasi sumatif yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya diringkas dan dianalisis serta diinterpretasikan untuk

diidentifikasi kesulitan yang dialami oleh siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Begitu pula masukan dari hasil implementasi dari

pakar/validator. Mungkin saja tahapan-tahapan pembelajaran kurang efektif dalam pencapaian tujuan akhir, atau aktifitas, media, dan penugasan yang telah ditentukan tidak membantu dalam memperoleh tujuan. 10) Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif, yang bertujuan mempelajari efektifitas keseluruhan sistem dan dilakukan setelah tahap formative evaluation. Dipilihnya model pengembangan desain instruksional Dick & Carey (2005:5) tersebut karena model ini memiliki format pembelajaran terprogram, berdasar teori, prosedur, dan teknik sehingga dapat digunakan untuk keperluan belajar perorangan dan dapat digunakan dalam mengembangkan bahan pembelajaran untuk mendesain, pengembangan, evaluasi dan revisi pembelajaran. Sebagai perencanaan pengembangan media video pembelajaran dilakukan langkah langkah, yaitu: (1) Perencanaan awal pengembangan, (2) merencanakan materi pembelajaran pada media video pembelajaran, (3) menyusun materi pelajaran. Model pengembangan Borg & Gall memuat panduan sistematika langkah langkah yang dilakukan oleh peneliti agar produk yang dirancangnya mempunyai

62

standar kelayakan. Dengan demikian, yang diperlukan dalam pengembangan ini adalah rujukan tentang prosedur produk yang akan dikembangkan. Uraian model pengembangan (Borg & Gall, 1983:772), dijelaskan sebagai berikut. Educational research and development (R & D) is a process used to develop and validate educational products. The steps of this process are usually referred to as the R & D cycle , which consists of studying research findings pertinent to the product to be developed, developing the product based on the finding, field testing it in the setting where it will be used eventually, and revising it to correct the deficiencies found in the field testing stage. In indicate that product meets its behaviorally defined objectives.

Penelitian dan pengembangan bidang pendidikan (R & D) adalah suatu proses yang yang digunakan untuk mengembangkan dan mengesahkan produk bidang pendidikan. Langkah-langkah dalam proses ini pada umumnya dikenal sebagai siklus R & D, yang terdiri dari: pengkajian terhadap hasil hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan validitas komponen komponen pada produk yang akan dikembangkan, mengembangkannya menjadi sebuah produk, pengujian terhadap produk yang dirancang, dan peninjauan ulang dan mengoreksi produk tersebut berdasarkan hasil uji coba. Hal itu sebagai indikasi bahwa produk temuan dari kegiatan pengembangan yang dilakukan mempunyai obyektivitas. Menurut Gall, Gall & Borg dalam buku Educational Research: an Introduction (dalam Emzir, 2007:263), model pengembangan pendidikan

berdasarkan pada industry yang menggunakan temuan temuan penelitian dalam merancang produk dan prosedur baru. Dengan penelitian model model tersebut

63

dites di lapangan secara sistematis, dievaluasi, diperbaiki hingga memperoleh kriteria khusus tentang keefektifan, kualitas, atau standar yang sama. Menurut Borg & Gall (dalam Sukmadinata, 2010:169-170) ada sepuluh langkah pelaksanaan strategi penelitian dan pengembangan, sebagaimana diuraikan berikut ini:

Research and information collecting

Planning
2

Develop preliminary form of product 3

Preliminary field testing 4

Main product revision 5

Dissemination and implementation 10

Final product revision 9

Operational field testing 8

Operational product revision

Main field testing 6

Gambar 2.4 Skema Prosedur Pengembangan Borg & Gall (dalam Sukmadinata, 2010:169-170) Keterangan: 1) Penelitian dan pengumpulan data (research and information collecting). Pengukuran kebutuhan, studi literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji, dan persiapan untuk merumuskan kerangka kerja penelitian. 2) Perencanaan (planning). Menyususn rencana penelitian, meliputi kemampuan kemampuan yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian, rumusan tujuan yang hendak dicapai dengan penelitian tersebut, desain atau langkah langkah penelitian, kemungkinan pengujian dalam lingkup terbatas. 3) Pengembangan draf produk (develop preliminary form of product). Pengembangan bahan pembelajaran, proses pembelajaran dan instrument evaluasi. 4) Uji coba lapangan awal (preliminary field testing). Melakukan uji coba lapangan awal dalam skala terbatas pada 1 3 sekolah dengan 6 12 subjek. Selama uji coba diadakan pengumpulan dan analisis data dapat dilakukan dengan cara wawancara, observasi atau angket. 5) Merevisi hasil uji coba (main product revision. Memperbaiki atau menyempurnakan hasil uji coba.

64

6) Uji coba lapangan (main field testing). Melakukan uji coba utama yang melibatkan seluruh siswa. Hasil hasil pengumpulan data dievaluasi dan kalau mungkin dibandingkan dengan kelompok pembanding. 7) Penyempurnaan produk hasil uji lapangan (operational product revision). Melakukan perbaikan/penyempurnaan terhadap hasil uji coba lebih luas, sehingga produk yang dikembangkan sudah merupakan desain model operasional yang siap divalidasi. 8) Uji pelaksanaan lapangan (operational field testing). Dilaksanakan pada 10 30 sekolah melibatkan 40 200 subjek. Pengujian dilakukan melalui angket, wawancara, dan observasi dan analisis hasilnya. 9) Penyempurnaan produk akhir (final product revision). Penyempurnaan didasarkan masukan dari uji pelaksanaan lapangan. 10) Diseminasi dan implementasi (dissemination and implementation); menyebarluaskan produk/model yang dikembangkan. Peneliti melakukan pedoman hingga ke prosedur kesembilan dari tahapan tersebut, karena pada tahap kesepuluh peneliti tidak mencakup ke Dissemination and impelementation dikarenakan keterbatasan waktu dan lain sebagainya. Melalui prosedur di atas dapat diwujudkan dan dikembangkan ke dalam bentuk perencanaan teknis sasaran dan jenis kegiatan yang akan peneliti lakukan tiap tahapnya.

4. Prosedur Pengembangan Media Video Pembelajaran Pada Teknik Dasar Sepak Bola Seperti yang dijelaskan di atas, dalam pengembangan media video pembelajaran pada mata pelajaran penjas, orkes ini digunakan model pengembangan produk Borg dan Gall (dalam Sukmadinata, 2010:169-170), dan untuk mengembangkan rencana pembelajarannya dipadukan dengan model pengembangan pembelajaran model Dick & Carey (2005:1-9). Pemilihan model ini disesuaikan dengan atas pertimbangan pada model pengembangan yang disusun secara terprogram dengan langkah langkah persiapan dan perencanaan

65

dalam hal ini peneliti menyesuaikan sesuai dengan judul video pembelajaran pada materi pokok teknik dasar sepak bola meliputi 3 tahap harus sistematik dan berurut diantaranya sebagai berikut: (1) pengembangan desain pembelajaran yang meliputi: (a) identifikasi kebutuhan instruksional dan menulis standar kompetensi, (b) melakukan analisis pembelajaran, (c) mengidentifikasi karakteristik dan perilaku awal siswa, (d) menulis kompetensi dasar dan indikatornya, e) menulis tes acuan patokan, (f) menyusun strategi pembelajaran, (g) mengembangkan bahan ajar, (h) mendesain evaluasi formatif; (2) pengembangan desain video pembelajaran yang meliputi: (a) membuat flowchart, (b) membuat storyboard, (c)pembuatan naskah, (d) pengumpulan bahan pembuatan video, (e) pengeditan gambar dan video, (f) pembuatan produk awal; (3) validasi, uji coba dan revisi, produk akhir yang meliputi: (a) validasi ahli materi, desain, dan media pembelajaran, (b) revisi I, (c) uji coba perorangan, (d) revisi II, (e) uji coba kelompok kecil, (f) revisi III, (g) uji coba lapangan, (h) revisi IV, dan (i) produk akhir video pembelajaran teknik dasar sepak bola. Lihat skema 2.5 berikut ini.

66

Validasi Ahli Materi, Desain & Media

Revisi III

Revisi IV

Gambar 5. Skema Proses Pengembangan Media Video Pembelajaran Proses pengembangan media video pembelajaran dalam bentuk CD Pembelajaran ini dilakukan dengan langkah langkah sebagai berikut: a. Mengembangkan desain pembelajaran dalam teknik dasar sepak bola yang meliputi langkah pengembangan desain pembelajarannya sebagai berikut:

67

1. Identifikasi kebutuhan instruksional dan menulis standar kompetensi materi pokok teknik dasar sepak bola, antara lain: a) mendefinisikan atau mendeskripsikan materi pokok teknik dasar sepak bola, b) menentukan tujuan dari teknik dasar sepak bola, c) manfaat materi teknik dasar sepak bola, d) menulis standar kompetensi dalam materi teknik dasar sepak bola. 2. Melakukan analisis materi pokok teknik dasar sepak bola. 3. Mengidentifikasi karakteristik dan perilaku awal siswa diantaranya dengan pre-test pada tatap muka pertama. 4. Menulis kompetensi dasar dan indikatornya antara lain: teknik dasar sepak bola memiliki 1 kompetensi dasar dan 4 indikator. 5. Menulis tes acuan patokan. 6. Menyusun strategi pembelajaran yang digunakan memiliki perlakuan khusus dan perlakuan kontrol. 7. Mengembangkan bahan pembelajaran berupa video pembelajaran teknik dasar sepak bola. 8. Mendesain evaluasi formatif. 9. Merevisi kegiatan pembelajaran, merupakan bagian konstan dalam proses desain. 10. Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif, yang bertujuan

mempelajari efektifitas keseluruhan sistem dan dilakukan setelah tahap evaluasi formatif. b. Pembuatan desain video pembelajaran yang akan dikembangkan, antara lain: (1) pembuatan flowchart, (2) pembuatan storyboard, (3) pembuatan naskah,

68

(4) pengumpulan bahan pembuatan video yang meliputi: (a) pembuatan rekaman video dan pengumpulan gambar, merekam suara, membuat animasi animasi yang akan digunakan dalam materi maupun simulasi, (b) perekaman dan pengumpulan audio, (5) pengeditan gambar dan video, (6) pembuatan produk awal, yaitu aplikasi mengembangkan program yang bentuk dalam awal produk ini dengan adalah

menggunakan

penelitian

menggunakan Windows Movie Maker, kemudian dibantu dengan program software yang lain. c. Melakukan validasi produk dari ahli media, ahli desain pembelajaran dan ahli materi teknik dasar sepak bola, lalu melakukan revisi tahap I hasil dari validasi ahli media, ahli desain pembelajaran dan ahli materi teknik dasar sepak bola. d. Melakukan revisi produk tahap awal. e. Melakukan uji coba perorangan dengan siswa calon pengguna video pembelajaran, lalu melakukan revisi tahap II. f. Melakukan uji coba kelompok kecil, lalu melakukan revisi tahap III. g. Melakukan uji coba lapangan, lalu melakukan revisi akhir (revisi IV) yang dikembangkan dalam produk video pembelajaran ke bentuk CD Pembelajaran. Pengembangan ini meliputi sistem dan desain pembelajaran yang berstruktur sesuai dengan prosedur pengembangan media video pembelajaran teknik dasar sepak bola. Dari tahapan pengembangan di atas, pengembangan yang akan dihasilkan berupa media video pembelajaran. Menurut Arsyad (dalam Rusman, 2011:218) mengemukakan video merupakan serangkaian gambar gerak yang disertai suara

69

yang membentuk satu kesatuan yang dirangkai menjadi sebuah alur, dengan pesan pesan di dalamnya untuk ketercapaian tujuan pembelajaran yang disimpan dengan proses penyimpanan pada media pita atau disk. Media video pembelajaran dapat digolongkan ke dalam jenis media audio visual aids (AVA), yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa dilihat. Lebih lanjut menurut Heinich, dkk. (dalam Rusman, 2011:218) video diartikan sebagai berikut. The primary meaning of video is the display of pictures on a television type secreen (the latin word video literally means I see. Any media format that employs a chatode-ray screen to present the picture portion of the massege can be reffered to as video. Apabila diterjemahkan dapat diarti sebagai tampilan dari berbagai gambar dalam sebuah televisi atau sejenis layar. Dalam bahasa latin video diartikan sebagai Saya lihat (I see). Setiap format media yang menggunakan sinar katoda untuk menampilkan bagian gambar dari sebuah pesan dapat dikategorikan sebagai video. Media video pembelajaran termasuk ke dalam media video cassette recorder (VCR) yaitu media audio visual gerak yang perekamannya dilakukan dengan menggunakan kaset video, dan penayangannya melalui pesawat televisi. Berbeda dengan media film, media VCR perekamannya dilakukan dengan menggunakan kaset video, dan penayangannya melalui pesawat televisi, sedangkan media film, perekaman gambarnya menggunakan film selluloid yang positif dan gambarnya diproyeksikan melalui proyeksi ke layar.

70

Secara umum, kelebihan media VCR sama dengan kelebihan yang dimiliki oleh media televisi terbuka. Selain itu, media VCR ini memiliki kelebihan lainnya yaitu programnya dapat diulang ulang. Akan tetapi kelemahannya adalah jangkauannya terbatas. Pancaran gambar yang bercahaya dari sebuah tampilan video ternyata tersusun dari titik titik yang sangat rapat dan ditampilkan pada sebuah layar. Seperti halnya film, berbagai frame video tersebut pada dasarnya adalah gambar diam. Hanya saja, pergantian setiap frame ke frame selanjutnya itu berlangsung sangat cepat, sehingga berbagai frame tersebut terlihat sebagai gambar yang bergerak. Hal ini berlangsung secara terus menerus hingga mampu menciptakan daya lihat yang menakjubkan dari sebuah tampilan video dibuat dengan cara direkam secara magnetic pada sebuah pita video seperti perekaman audio. Membahas mengenai media video pembelajaran, berikut beberapa hal yang dapat diketahui, antara lain: a. Format Video Umumnya format video pada saat ini terbagi menjadi dua kategori, yaitu format piringan (disk) dan pita yang dikemas ke dalam bentuk paket dengan ukuran bermacam macam, model yang beraneka ragam, tingkat kecepatan yang berbeda dan mesin pemutar yang khusus. Adapun beberapa format video menurut Heinich, Molenda, Russel adalah sebagai berikut. a. Pita Video (Video Tape), adalah format media video yang terpaket dalam bentuk gulungan pita yang terbuka (open reel) atau yang tertutup di dalam sebuah kaset. Pita yang digunakan memiliki lebar yang beraneka ragam

71

ukurannya, hanya saja yang banyak digunakan di institut pendidikan adalah tipe pita video yang memiliki ukuran lebar 1 inci. b. Kaset video (Video Cassettes), adalah format media video yang terpaket dalam bentuk kaset yang berisi pita pita video. Bentuk format kaset video ini dibedakan atas pita yang digunakannya. Paling sedikit ada tiga jenis pita yang digunakannya, yaitu ukuran lebar tiga perempat inci, setengah inci, dan 8-mm. c. Piringan video (video disc), adalah jenis format video yang memanfaatkan pancaran cahaya optic seperti tipel laser. Format video ini lebih mirip dengan jenis gramophone (piringan hitam), hanya saja berwarna keperakan dan berkilauan. Untuk proses memproduksinya adalah dengan cara mentransferkan materi video (video tape) sebagai masternya, dicetak ke dalam piringan yang memiliki lubang yang sangat kecil sekali yang hanya terbaca oleh sorotan lasert setelah nanti dimainkan. Standarnya ukurang video ini mampu menangkap gambar video yang bergerak atau 54.000 frame dari gambar yang diam dalam waktu 30 menit. d. Compact disc, dulu CD tidak digunakan untuk merekam, tetapi sekarang CD dapat langsung digunakan untuk merekam dengan menggunakan

handycamp khusus yang dapat langsung merekam menggunakan CD. Untuk menampilkan gambar bergerak pada CD ikut ke dalam informasi verbal dan gambar diam yang dikontrol melalui program computer. e. Hight-Definition Television, produksi video yang menggunakan HDTV lebih tinggi dibandingkan yang lainnya, karena mutu gambaran video yang

72

ditentukan oleh banyaknya bentuk yang diproyeksikan ke atas permukaan tabung pada HDTV sangat baik. Pada HDTV jumlah bentuk gambar dan warna semakin akurat. Kualitas HDTV memang sudah sangat terbukti dari segi tampilannya yang istimewa.

b. Karakteristik Video Pembelajaran Untuk menghasilkan media video pembelajaran yang mampu

meningkatkan motivasi dan efektifitas penggunanya, maka media video pembelajaran harus memperhatikan karakteristik yang meliputi: 1) Dapat mengisi keterbatasan jarak dan waktu. 2) Objek yang ditampilkan dapat diperbesar dan diperkecil. 3) Dapat diputar ulang untuk menambah kejelasan. 4) Dapat menyampaikan pesan secara tepat dan terarah serta mudah diingat. 5) Dapat mengembangkan kreatifitas dan ide serta imajinasi siswa. 6) Memperjelas hal hal yang abstrak menjadi gambaran yang lebih realistik. 7) Dapat mempengaruhi psikologi siswa. 8) Dapat menjelaskan suatu teori pembelajaran secara berurut dan terkonsep. 9) Menumbuhkan minat dan motivasi untuk belajar. 10) Dapat diperbanyak. 11) Dengan video dapat menarik pusat perhatian yang lama 2 jam.

73

12) Dapat menampilkan objek dan informasi baru dan aktual.

c. Fungsi Video dalam Materi Pelajaran Teknik Dasar Sepak Bola Dengan menggunakan video pembelajaran dalam materi pelajaran teknik dasar sepak bola, siswa tidak lagi mengalami kesulitan dalam memahami isi yang terkandung dan dapat melakukan teknik dasar sepak bola dengan lebih efektif dan lebih cepat menyampaikan pesan dibanding dengan media teks (buku ajar). Ketuntasan dalam pembelajaran dapat terwujud melalui tutorial aplikasi tahap demi tahap membuat media video pembelajaran sangat efektif dalam pembelajaran praktik. Dengan menggunakan media jenis ini siswa diharapkan dapat memperoleh persepsi dan pemahaman yang sama dan benar, selain siswa dapat menerima materi mata pelajaran. Sedangkan guru diharapkan dapat mengikat siswa selama pembelajaran berlangsung dan membantunya mengingat kembali dengan mudah berbagai pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari. Media video pembelajaran termasuk ke dalam kategori motion picture, video pembelajaran dalam format disk dioperasikan dengan menggunakan VCD/DVD Player yang dijalankan dengan disk atau lempengan serta ditampilkan melalui televisi atau LCD atau dapat diputar langsung melalui PC Komputer. Media jenis ini juga dapat digunakan untuk menyajikan bagian bagian dari suatu proses dan prosedur secara utuh sehingga memudahkan siswa dalam mengamati dan menirukan langkah langkah suatu prosedur yang dipelajari

74

d. Format Penulisan Naskah Video Pembelajaran Istilah naskah mungkin tidak begitu asing buat kita karena istilah ini juga digunakan untuk membuat media cetak seperti halnya buku, koran, majalah, dan sebagainya. Namun demikian, secara umum naskah dalam perencanaan program media dapat diartikan sebagai pedoman tertulis yang berisi informasi dalam bentuk visual, grafis, dan audio sebagai acuan dalam pembuatan media tertentu, sesuai dengan tujuan dan kompetensi tertentu. Secara sederhana naskah juga dapat berupa gambaran umum media atau juga outline media yang akan dibuat. Perlunya naskah dibuat karena media pembelajaran yang mengandung isi materi dan tujuan yang diharapkan tercapai, melalui naskah inilah tujuan dan materi tersebut dituangkan dengan kemasan sesuai dengan jenis media, sehingga media yang dibuat benar benar akan memiliki kesesuaian dengan tujuan. Menurut Rusman (2011:229-231) naskah yang baik tidak dibuat secara spontanitas namun meliputi beberapa tahapan. Tahapan pertama adalah berawal dari adanya ide dan gagasan yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Selanjutnya pengumpulan data dan informasi, penulisan sinopsis dan treatment, penulisan naskah, pengkajian naskah atau review naskah, revisi naskah sampai naskah siap untuk diproduksi, lihatlah pada Gambar 2.6 berikut ini.

75

Ide/Gagasan

Pengumpulan Informasi/Penelitian

Prosedur Pengembangan Naskah

Penulisan Sinopsis dan Treatment

Feedback Revisi Naskah

Penulisan Naskah/Skenario

Pengkajian/Review

REVISI

Naskah Final

Gambar 2.6 Tahap Tahap Pembuatan Naskah

Pembuatan naskah media diawali dengan sebuah ide atau gagasan. Produk media yang baik memerlukan ide dan kreativitas yang tinggi. Pemikiran yang cemerlang untuk mengungkapkan ide yang baik sangat diperlukan pada tahap pertama ini. Tahap kedua dalam pengembangan naskah adalah mengumpulkan data dan informasi untuk membuat, melengkapi, dan memperkaya naskah tersebut.

76

Mengumpulkan bahan ini dapat dilakukan dengan mengkaji berbagai literature, melakukan survei dan observasi atau terlebih dahulu dilakukan penelitian secara mendalam. Tahap ketiga adalah membuat sinopsis dan treatmen. Sinopsis secara singkat dapat diartikan sebagai ringkasan program atau ringkasan cerita. Sinopsis ini diperlukan untuk memberikan gambaran secara ringkas dan padat tentang tema atau pokok materi yang akan digarap. Tujuan utamanya adalah mempermudah pemesan menangkap konsepnya, mempertimbangkan kesesuaian gagasan dengan tujuan yang ingin dicapai dan menentukan persetujuannya. Dalam istilah yang sederhana sinopsis dapat diartikan sebagai ringkasan cerita. Treatment merupakan pengembangan sinopsis. Sinopsis dan treatment khususnya dibuat untuk media sound slide, film, video, program media audio. Setiap media sebaiknya memiliki sinopsis, namun untuk treatment tidak perlu semua media, terbatas pada media yang membutuhkan gambaran alur cerita atau plot program dari awal hingga akhir penayangan. Media video adalah media yang menyajikan informasi dalam bentuk suara dan visual. Unsur suara yang ditampilkan berupa: narasi, dialog, sound effect, dan musik, sedangkan unsur visual berupa: gambar/foto diam (still image), gambar bergerak (motion picture), animasi dan teks. Format Naskah Program Keterangan keterangan yang didapat dari hasil eksperimen coba coba dengan storyboard tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk skrip atau naskah program menurut tata urutan yang dianggap sudah benar. Dalam pembuatan

77

program video, skrip atau naskah program ini merupakan daftar rangkaian peristiwa yang akan dipaparkan gambar demi gambar dan penuturan demi penuturan menuju tujuan perilaku belajar yang ingin dicapai. Format penulisan skrip untuk program video pada prinsipnya sama, yaitu dalam bentuk halaman berkolom dua (double colom), sebelah kiri untuk menampilkan bentuk visualisasinya dan sebelah kanan untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan suara termasuk dialog, narasi, musik maupun efek suara. Tujuan utama suatu skrip atau naskah program adalah sebagai peta atau bahan pedoman bagi sutradara dalam mengendalikan penggarapan substansi materi ke dalam suatu program. Karena itu skrip yang baik akan dilengkapi dengan tujuan, sasaran, sinopsis, treatment. Paling penting dalam sebuah storyboard termuat unsur video dan audio, memudahkan bagi pemain, sutradara dan cameramen dalam kegiatan latihan dan persiapan shooting. Para pemain yang berperan dalam video tersebut menghapalkan naskah dan dialog berdasarkan naskah. Shooting Skript/Skenario Bila di atas disebutkan bahwa skrip terutama ditujukan untuk bahan pegangan sutradara dan pemain, skenario lebih merupakan petunjuk operasional dalam pelaksanaan produksi atau pembuatan programnya. Jadi skenario sangat bermanfaat bagi teknisi dan kerabat produksi yang akan melaksanakannya dengan tanggung jawab teknis operasional. Petugas yang membutuhkan di antaranya: editor/penyunting gambar, cameramen, pencatat adegan, sound man, dan lain lain. Dalam skenario inilah beda antara film dan video akan tampak karena video

78

mempunyai efek visual tertentu yang tidak dimiliki oleh media film, misalnya dissolve, wipe, superimpose, split image, dan sebagainya. Pengaruh lain yang juga akan tercermin dalam penulisan skenario adalah beda dalam pendekatannya. Bila dalam pendekatan film perpindahan pada umumnya bersifat cut-to-cut dan pengambilannya boleh meloncat loncat

dengan pengelompokkan menurut keadaan waktu, cuaca, lokasi maupun sifatnya (di dalam atau di luar gedung studio), perpindahan dalam pendekatan video dapat transisional dan bersifat sekuensial. Dengan singkat, skenario untuk program video mempergunakan lebih banyak istilah istilah atau bahasa produksi dan petunjuk petunjuk teknik operasional bagi kerabat dan teknisi produksi. Petunjuk Pengambilan Gambar Petunjuk pengambilan gambar adalah posisi pengambilan oleh kamera pada objek yang diambil. Secara mendasar terdapat tiga cara pengambilan gambar, yaitu: 1) Long shot (LS), yaitu pengambilan yang memperlihatkan latar secara keseluruhan dalam segala dimensi dan perbandingannya. 2) Medium shot (MS), yaitu pengambilan yang memperlihatkan pokok sasarannya secara lebih dekat dengan mengesampingkan latar belakang maupun detail yang kurang perlu. 3) Close-up (CU), yaitu pengambilan yang memfokuskan pada subjeknya atau bagian tertentu. Lainnya dikesampingkan supaya perhatian tertuju ke sana. Kadang kadang di luar ketiga pengambilan dasar (basic shots) tersebut orang masih menambahkan dua lagi, yaitu XLS (extreme long shot) dan XCU

79

(extreme close-up), sedangkan di antara LS dan CU ditambahkan dua lagi, yaitu MLS (medium long shot) diantara LS dan MS, dan MCU (medium close-up) diantara MS dan CU. Gerakan Kamera Visualisasi yang tampak pada layar pada dasarnya hasil dari kerja kamera video yang merekam objek dengan posisi yang berbeda beda. Perbedaan letak dan posisi serta gerakan objek yang tampak pada layar adalah akibat dari gerakan gerakan yang ditimbulkan dari kamera. Seorang scriptwriter harus mengetahui petunjuk petunjuk yang berhubungan dengan gerakan kamera, seperti: 1) Pan right, menggerakkan kamera ke kanan. 2) Pan left, menggerakkan kamera ke kiri. 3) Tilt up, menggerakkan kamera ke atas. 4) Tilt down, menggerakkan kamera ke bawah. 5) Zoom-in, mengatur pengambilan kearah CU. 6) Zoom-out, mengatur pengambilan kearah LS. 7) Dolly in (tract in), mendorong kamera ke arah subjek. 8) Dolly out (tract out), menarik kamera menjauhi subjek camera follow, kamera mengikuti ke mana perginya subjek. Efek Visual Dasar Selain gerakan kamera, perubahan visual yang ditimbulkan pada video dan diakibatkan oleh efek visual. Efek visual dasar ini sering disebut dengan transition devise. Penggunaan efek visual dasar, seperti: 1) Fade in, pengambilan oleh kamera tertentu mulai masuk perlahan lahan.

80

2) Fade out, pengambilan oleh kamera tertentu mulai memutar perlahan lahan. 3) Super atau superimpose, penampilan sesuatu (biasanya title atau caption) ke atas pengambilan yang ada. 4) Dissolve, pembauran secara perlahan menggantikan yang sebelumnya. 5) Wipe, mengganti pengambilan sebelumnya dengan efek penghapusan. Pentahapan dari konsep ke skenario ini tidaklah merupakan keharusan, misalnya ada yang menganggap storyboard tidak perlu sebab koreksi atas kelancaran arus cerita dan kontinuitas akan dilaksanakan dalam proses penyuntingan (editing). Bahkan tata urutan atau sekuens instruksional epidose biasanya sudah terikat pada garis ceritanya (plot).

e. Ketentuan Kriteria Teknik Video Pembelajaran Pengembangan video pembelajaran harus mempertimbangkan beberapa kriteria, diantaranya: 1) Tipe Materi Media video pembelajaran untuk menggambarkan sebuah proses, alur, demonsrasi sebuah konsep atau mendeskripsikan sesuatu. 2) Durasi Waktu Media video umumnya berdurasi rata rata 30 menit dan maksimal 60 menit. 3) Sajian Video Sajian harus jelas dan sesuai materi. 4) Media video tidak terlepas dari aspek teknik yaitu efek kamera, teknik pengambilan gambar, teknik lighting (pencahayaan), editing dan suara

81

(sound) seperti yang dijelas di atas serta penulisan teks dibuat dengan ukuran yang proporsional. 5) Penggunaan musik dan efek suara/bunyi Penggunaan musik dan efek suara merupakan bagian bermakna serta dapat mempengaruhi psikologis seseorang apabila tepat pemilihannya. Ketentuannya adalah: Musik untuk pengiringan suara sebaiknya intensitas volumenya lemah sehingga tidak mengganggu sajian visual dan narator. Musik yang dipergunakan untuk background adalah musik instrumental. Hindari musik yang akan membuyarkan konsentrasi siswa. Gunakan efek suara untuk menambah suasana dan kesan lebih baik.

f. Prosedur Produksi Program Video Pembelajaran 1) Pre Production Pre production adalah proses penyiapan semua elemen yang terlibat dalam sebuah produksi film/video. Mulai dari pengaturan biaya, pemilihan sutradara, aktor/aktris, kameramen, kerabat kerja, lokasi, sarana dan prasarana, kostum, dan lain lain.

82

a) Ide dan pemilihan konsep Ide dan pemilihan konsep merupakan realisasi dari sebuah ide pemikiran dan gagasan yang bertujuan untuk menuangkannya ke dalam media visual dan audio. b) Story line/ sinopsis Dalam sinopsis, keindahan gaya bahasa, ilustrasi, dan penjelasan penjelasan dihilangkan, tetapi tetap mempertahankan isi dan gagasan umum pengarangnya. Langkah langkah membuat sinopsis, antara lain: 1) mencatat gagasan utama dengan menggarisbawahi gagasan gagasan yang penting, 2) menulis ringkasan berdasarkan gagasan gagasan, 3) menggunakan kalimat yang singkat, efektif dan menarik untuk mengalur jalan cerita, 4) dialog dan monolog tokoh cukup ditulis isi garis besarnya saja, 5) sinopsis tidak boleh menyimpang dari jalan seluruh isi cerita/film. c) Skrip/Naskah Skenario Membuat rancangan audio visual treatment dan penulisan naskah secara rinci yang mengembangkan gagasan utama pada sinopsis menjadi sebuah cerita yang menarik dan informatif. d) Shot List dan Storyboard Membuat daftar pengambilan dalam bentuk gambar sketsa setiap adegan, dan jika

divisualisasikan diperlukan.

gambar/storyboard

83

2) Production Production merupakan proses pelaksanaan produksi (shooting) yang mengacu pada persiapan yang dihasilkan dari proses pre production. a) Directing/penyutradaraan Director/sutradara adalah orang yang memimpin pelaksanaan shooting dan bertugas mengatur bagaimana tim kerja dalam pembuatan film seperti kameramen, editor, lighting, lokasi, sarana dan prasarana, kostum, artistik, harus bekerja secara profesional. b) Penguasaan kamera dan teknik shoting 1. Angle Angle adalah sudut pandang pengambilan gambar yang dapat dilihat dari focus (zoom) pada sebuah kamera film/video. 2. Lighting/pencahayaan Perlu adanya pencahayaan yang memadai supaya hasilnya bagus dan berkualitas. 3. Komposisi Komposisi merupakan teknik pengaturan posisi gambar, ukuran dan kedalaman ruang, perspektif dan mood adegan untuk menghasilkan citra sesuai dengan tuntutan naskah/skrip. 4. Log/Catatan Shoting Log/Catatan yang dibuat menjelaskan penandaan setiap gambar peradegan yang sudah selesai diambil, dilengkapi dengan keterangan koordinat waktu pada kaset yang digunakan.

84

3) Post Production Post production adalah proses penyelesaian akhir dari sebuah rangkaian produksi yang meliputi pengeditan gambar, penambahan title, grafik, animasi dan special effect, musik, sound effects, audio dubing dan output ke media video seperti: Betacam, DVCAM, MiniDV, dan CD/DVD. Video standar: PAL, D1/DV, Frame Size: 720x576 (pixel), Frame Rate: 25fps, Pixel Aspect Ratio: D1/DV, PAL (4:3/1,067), Audio: 48 KHz 16 Bit Stereo. Pembagian tahap Post Production Offline: capture, edit. Online: composting, motion graphic, Visual effects, color grading, music, dan Sound FX, Titling, 3D.
Pra Produksi Identifikasi Program Naskah/Skrip Shooting Skrip Rec. Audio Pasca Produksi Editing Mastering

Sinopsis Treatment

Produksi Shooting

Gambar 2.7 Prosedur Produksi Program Video Dari uraian Prosedur Produksi Program Video di atas peneliti menyimpulkan bahwa penelitian ini menggunakan CD (Compact Disk). Isi yang terkandung di dalam CD Pembelajaran tersebut meliputi uraian uraian atau tahap demi tahap pembelajaran teknik dasar sepak bola yang meliputi :

85

a) Menyajikan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator ketercapaian. b) Menu utama yang terdiri dari menu pembuka, menyajikan standar kompetensi dan satu kompetensi dasar dan empat indikator ketercapaiannya. Masing masing materi pembelajaran dipaparkan secara berurut dengan aplikasi visualisasi, sampel atau contoh melakukan teknik dasar sepak bola yang benar. c) Menu evaluasi disajikan sesudah tayangan video pembelajaran sebagai sarana uji kemampuan dengan cara menjawab soal soal pilihan berganda dan melakukan latihan dan praktik teknik dasar sepak bola.

g. Pembelajaran dengan Media Audiovisual (TV, Video, VCD, Kaset Audio) Berbagai jenis media audiovisual berisikan pula materi pembelajaran untuk berbagai jenis mata pelajaran. Kita dapat mempelajari gunung berapi, kehidupan di laut, di hutan belantara melalui siaran televisi. Televisi merupakan salah satu media massa yang sangat berpengaruh terhadap masyarakat. Munculnya media televisi sebagai media elektronik memberi pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat saat ini. Televisi adalah bagian yang menyatu dengan kehidupan sehari hari dan menjadi sumber umum utama dari sosialisasi dan informasi bagi masyarakat. Televisi memiliki kelebihan tersendiri dengan gambar bergeraknya, karena khalayak cenderung menggunakan media TV sebagai sarana hiburan, informasi maupun pengetahuan sehingga membuat informasi dan pesan yang disampaikan lebih menarik dan menyenangkan pemirsanya dibanding media lainnya. Televisi adalah media yang paling populer

86

bagi masyarakat daripada media media lainnya. Televisi menjadi icon media yang paling akrab di antara media media yang pernah ada sepanjang sejarah. Televisi adalah media yang dapat menampilkan pesan secara audiovisual dan gerak (sama dengan film). Jenis media televisi diantaranya: televisi terbuka (on boardcast television) televisi siaran terbatas/TVST (Cole Circuit

Television/CCTV), dan video-cassette recorder (VCR). Media televisi terbuka adalah media audio-visual gerak yang

menyampaikan pesannya melalui pancaran gelombang elektromagnetik dari satu stasiun, kemudian pesan tadi diterima oleh pemirsa pesawat televisi. kelebihan media televisi terbuka, yaitu: (a) informasi/pesan yang disajikan lebih actual, (b) jangkauan penyebarannya sangat luas, (c) memberikan pesan yang dapat diterima secara lebih merata oleh siswa, (d) sangat bagus untuk menerangkan suatu proses, (e) mengatasi keterbatasan ruang dan waktu, (f) memberikan kesan yang mendalam, yang dapat mempengaruhi sikap siswa. Sedangkan

kelemahannya adalah: (a) programnya tidak dapat diulang ulang sesuai kebutuhan, (b) sifat komunikasinya hanya satu arah, (c) gambarnya relatif kecil, (d) kadangkala terjadi distorsi gambar dan warna akibat kerusakan atau gangguan magnetik. TVST atau CCTV adalah media audiovisual gerak yang menyampaikan pesannya didistribusikan melalui kabel (bukan TV kabel). Dengan perkataan lain, kamera televisi mengambil suatu objek di studio, misalnya guru yang sedang mengajar, kemudian hasil pengambilan tadi didistribusikan melalui kabel kabel ke pesawat televisi yang ada di ruangan ruangan kelas. Kelebihan televisi siaran

87

terbatas ini dibandingkan dengan televisi terbuka diantaranya adalah komunikasi dapat dilakukan dua arah (hubungan antara studio dan kelas dilakukan melalui intercom), kebutuhan siswa dapat lebih diperhatikan dan terkontrol. Sedangkan kelemahannya adalah jangkauannya relatif terbatas. Berbeda dengan media film, media VCR perekamannya dilakukan dengan menggunakan kaset video, dan penayangannya melalui televisi; sedangkan media film, perekaman gambarnya menggunakan film selluloid yang positif dan gambarnya diproyeksikan melalui proyeksi ke layar. Secara umum, kelebihan media VCR ini memiliki kelebihan lainnya yaitu programnya dapat diulang ulang. Akan tetapi kelemahannya adalah jangkauannya terbatas. Usaha dalam menciptakan suatu situasi dan kondisi belajar yang kondusif berupa transformasi pengetahuan dari guru kepada siswa adalah cara belajar melalui media pembelajaran atau ICT yang sudah dirancang sebelumnya. Artinya siswa berinteraksi dengan media pembelajaran yang telah diprogram dan disajikan secara langsung dalam ruang kelas. Melalui Kaset Video Pembelajaran yang disajikan secara langsung diputar melalui CD/DVD Player akan menambah kebetahan dan merasa senang belajar sehingga dapat berkembang secara optimal sesuai dengan bakat, minat, dan potensi yang dimilikinya. Dalam paradigma baru mengajar lebih menekankan pada penciptaan suasana yang memungkinkan siswa dapat belajar dengan efektif dan efisien. Artinya dalam mengajar guru harus berusaha mengetahui kemampuan awal siswa, memberikan, motivasi yang kuat, mengajak siswa untuk berpikir dan melakukan

88

aktivitas umpan balik, dan menempatkan siswa sebagai subjek yang memiliki kemampuan untuk dikembangkan. Iklim yang mendukung dan menyenangkan untuk belajar, akan membuat siswa merasa aman, nyaman, dan menyenangkan dalam belajar, sehingga lebih memungkinkan untuk berkembang sesuai dengan kebutuhannya. Keuntungan penggunaan media video pembelajaran pada materi pelajaran teknik dasar sepak bola adalah dapat digunakan dalam pembelajaran individual atau mandiri, mendapat umpan balik langsung, dapat terukur dengan cepat proses pembelajarannya, tampilan menarik, menghendaki sedikit penyampaian guru, materi mudah disesuaikan serta materi muda diperbarui dan ditambah. Pengembangan media video pembelajaran dapat memungkinkan siswa menjadi lebiph aktif dan kreatif dalam pembelajaran, dapat meningkatkan aktiftas siswa dalam pembelajaran dan lain sebagainya.

h. Penggunaan Program Software Media video pembelajaran teknik dasar sepak bola menggunakan beberapa aplikasi dalam mendesain pembelajaran, diantaranya: 1) Program Windows Movie Maker Program ini dibuat oleh Microsoft artinya jika kita menginstall sistem operasi Windows XP maupun Windows Vista dengan setting default, maka pada komputer kita secara otomatis akan terinstall pula aplikasi video editing ini. Windows Movie Maker memiliki banyak fasilitas dan fitur seperti fasilitas capture yang mudah dan praktis baik secara

89

digital ataupun analog. Kita juga dapat memberikan efek visual dan transisi sesuai keinginan. Selain itu kita juga dapat menambahkan title dan credit baik di awal, di akhir bahkan di tengah-tengah video. Program aplikasi ini layak diperhitungkan sebab interfacenya sangat bersahabat. Kita diberikan kemudahan untuk dapat menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada secara optimal, meskipun kita bukan seorang profesional di bidang video editing. Panduan Windows Movie Maker ini merupakan salah satu media untuk memberikan dasar dasar pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) kepada para siswa baik di jenjang SD, SMP maupun SMA. Bagi yang tertarik untuk mempelajarinya. Program Windows movie maker, terdiri dari: (1) Capture Video, menunya antara lain: Capture From Video device: untuk menyalin video dari handicam atau camera, Import Video: impor video dari harddisk, Import Pictures: impor gambar dari harddisk, dan Import Video or Music : memasukkan video atau music; (2) Edit Movie, menunya antara lain: Show collection, View Video effects, View Video transitions, Make and auto movie; (3) Finish movie, menunya antara lain: Save to my computer, Save to CD, Send e-mail, Send to the web, dan Send to DV Camera; (4) Storyboard/Timeline: merupakan area kerja untuk melakukan proses pembuatan klip video; (5) Area tempat file file hasil import baik Picture, video maupun audio/music; dan (6) Preview dari file video yang sedang kita kerjakan.

90

2) Program Camtasia Studio adalah Software yang digunakan untuk mengcapture Screen dan Meredord dalam membuat menu interaktif dan pembuatan media presentasi yang diproduksi TechSmith. Camtasia Studio memiliki kemampuan untuk menyimpan video hasil dari rekaman (record screen) dalam 3 type file setelah format dan direndering yaitu diantaranya: a) Menyimpan file dalam bentuk file video yang biasanya dikenal dengan type file dengan ekstention avi, mpg, wmp. Hal ini dapat diputar dimedia player atau Quick Time, dengan program ini dapat mengatur pengoperasian video sesuai dengan keinginan, misalnya jika ingin mempercepat movie atau ingin kembali keawal dan lain sebagainya. b) Menyimpan dalam bentuk Macromedia Flash Player yang mempunyai type ekstention SWF. Pada type ini dapat dijalankan dengan program Macromedia Flash Player. 3) Adobe Photoshop, atau biasa disebut Photoshop adalah perangkat lunak editor citra buana buatan Adobe Sistems yang dikhususkan untuk pengeditan foto atau gambar dan pembuatan efek. Perangkat lunak ini banyak digunakan oleh fotografer digital dan perusahaan iklan sehingga dianggap sebagai pemimpin pasar (market leader) untuk perangkat lunak pengolah gambar, dan bersama Adobe Acrobat, dianggap sebagai produk terbaik yang pernah diproduksi oleh Adobe

91

Sistems. Ada banyak Versi Adobe Photoshop namun yang peneliti pakai yakni Adobe Photoshop CS3 yang kesepuluh. 4) Picasa adalah perangkat lunak image viewer, selain sebagai image viewer, Picasa juga memiliki fitur image editing standar yang dapat kita gunakan untuk mengedit gambar gambar seperti memperbaiki komposisi warna, memberikan effect, membuat photo collage, membuat poster, membuat menjadi album CD, dan lain lain.

B. Penelitian yang Relevan Hasil penelitian Napitupulu (2005) menghasilkan sebuah Model

Pembelajaran dengan perangkat latihan berbantuan komputer dapat meningkatkan kompetensi mengajar guru dalam mengelola proses pembelajaran yang efektif, efisien dan berdaya tarik di Kota Medan Sumatera Utara. Hasil penelitian Mursid (2010) dalam pengembangan Model Pembelajaran praktik berbasis kompetensi berorientasi produksi pada pendidikan teknik mesin. Dalam pengembangan menggunakan rancangan pembelajaran model Dick & Carey, dimana pengembangan pembelajaran untuk mahasiswa pendidikan teknik mesin pada bidang keahlian teknik mesin produksi mata kuliah Teknologi Permesinan I, model pembelajaran yang dikembangkan ini sesuai dengan KBK dengan sarana dan prasarana di bengkel mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan. Hasil penelitian Yasmar (2011) menyimpulkan bahwa CD Interaktif pembelajaran Bahasa Arab untuk siswa Madrasah Aliyah Muallimaat

92

Muhammadiyah Yogyakarta yang di kembangkan layak digunakan untuk siswa Madrasah Aliyah kelas X. Hasil penelitian Kristanto (2011) menghasilkan bahwa Pengembangan Model Media Video Pembelajaran sudah memenuhi kategori sangat baik dan layak digunakan dalam pembelajaran Mata Kuliah Produksi Media Video/TV di Program Studi Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya. Hasil penelitian Lingin (2012) di SMA Sutomo 1 Medan membuktikan bahwa menggunakan media pembelajaran interaktif pada mata pelajaran geografi lebih tinggi dari yang dibelajarkan dengan media pembelajaran buku teks. Hasil penelitian Herijanto (2012) menghasilkan bahwa model pengembangan
CD Interaktif pembelajaran mata pelajaran IPS materi bencana alam untuk kelas VI

semester 2 dapat digunakan untuk meningkatkan pandangan siswa terhadap mata pelajaran IPS, memberikan respon positif, meningkatkan minat belajar siswa. Penerapan model pembelajaran interaktif dapat meningkatkan kualitas

pembelajaran siswa yang ditunjukkan pada hasil evaluasi belajar yang sangat tinggi dan aktifitas pembelajaran yang sangat baik. Hasil penelitian Sari (2013) menyatakan bahwa penggunaan media video pembelajaran mampu meningkatkan kompetensi dan pengetahuan mahasiswa pada mata kuliah pangkas rambut lanjutan program studi tata rias jurusan pendidikan kesejahteraan keluarga (PKK) Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan daripada tanpa menggunakan media video pembelajaran.

93

Hasil penelitian Pangaribuan (2013) menyimpulkan bahwa pembelajaran multimedia mampu meningkatkan prestasi mahasiswa pada mata kuliah Seni Lukis I jurusan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan lebih baik dibandingkan dengan media cetak yang selama ini digunakan dosen Seni Lukis I.

C. Kerangka Berpikir Untuk mengembangkan media video pembelajaran dipengaruhi oleh metode mengajar dan media pembelajaran. Pemilihan metode mengajar tertentu akan mempengaruhi media pembelajaran yang digunakan, walaupun harus diperhatikan aspek lain dalam memilih media, antara lain tujuan pembelajaran, tugas dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Dapat disimpulkan bahwa fungsi utama media pembelajaran merupakan sebagai alat bantu penyampaian informasi yang disesuaikan dan dikembangkan oleh guru untuk kondisi lingkungan pembelajaran yang tertata. Model pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran pengembangan media video pembelajaran teknik dasar sepak bola. Pengembangan media video pembelajaran teknik dasar sepak bola yang dimaksud adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan menggunakan media VCD Pembelajaran dengan memanfaatkan Media Televisi sebagai sarana dilaksanakan penyampaian bahan ajar maupun sarana komunikasi dan administrasi yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan. Proses pelaksanaannya pada dasarnya digabung dengan tatap muka namun guru lebih banyak berperan sebagai motivator dan evaluator. Dalam

model ini pengajar memberikan petunjuk pada siswa untuk mempelajari model

94

pembelajaran dan materi pelajaran yang telah disediakan. Siswa juga diberikan arahan untuk mencari sumber lain dari buku yang relevan. Dalam tatap muka, peserta didik dan pengajar lebih banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dipelajari dan dipraktikkan di lapangan sebagai ranah psikomotorik, kognitif dan afektifnya. Model pembelajaran ini diyakini dapat meningkatkan hasil pembelajaran teknik dasar sepak bola karena didukung teknologi televisi yang dapat mempermudah siswa belajar melalui bahan belajar dalam bentuk multimedia (sebagai perantara/media/penyajiannya). Hal lain yang membuat model ini akan mampu meningkatkan hasil belajar siswa adalah karena model ini berpusat pada siswa. Hasil belajar dengan menggunakan video pembelajaran lebih efektif bila dibandingkan buku pelajaran yang diperoleh siswa sesuai dengan muatan materi disesuaikan dengan kompetensi teknik dasar sepak bola. Selain dari itu, media ini memuat tes tes soal yang berhubungan dengan materi dalam media video pembelajaran teknik dasar sepak bola ini dengan alunan suara suara musik instrumental yang dapat membangkitkan psikologis anak yang mengerjakan soal tes tersebut. Sehingga dengan menggunakan media video pembelajaran teknik dasar sepak bola dapat menghasilkan belajar yang efektif.

95

D. Hipotesis Penelitian Berdasarkan kerangka berpikir yang telah diuraikan, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah: 1. Media video pembelajaran dengan Windows Movie Maker yang

dikembangkan pada materi teknik dasar sepak bola pada siswa SD layak untuk digunakan. 2. Ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa dengan penggunaan media video pembelajaran dan buku teks pada materi teknik dasar sepak bola pada siswa SD.