Anda di halaman 1dari 4

Strategi Implementasi MBS

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Berbasis Sekolah Dosen mata kuliah : Drs. Kuswadi M.Ag

Oleh : Atiek Zulfah Laila K7112039

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2014

STRATEGI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH Krisis ekonomi telah memperlemah kemampuan bersekolah dan telah menimbulkan dampak negatif, yakni menurunnya jumlah peserta didik mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, menurunnya partisipasi masyarakat karena kerusuhan terjadi dimanamana, angka partisipasi pendidikan rendah. Pada masa krisi ini, pemerintah justru menurunkan anggaran pendidikan dari sekitar 8% pada tahun 1998/1999 menjadi 6,7% pada 1999/2000. Sekarang, kondisi sekolah di Indonesia sangat bervariatif, dilihat dari segi kualitas (dari sekloah sangat maju hingga sekolah sangat tertinggal), lokasi sekolah (dari sekolah yang terdapat di perkotaan sampai sekolah yang terletak di daerah terpencil), dan partisipasi masyarakat (orangtua yang mau aktif berpartisipasi hingga orangtua yang sama seklai tidak ikut berpartisipasi). Kondisi seperti ini akan menjadi permasalahan yang rumit dan harus diprioritaskan penanganannya pasca krisis. Oleh karena itu, agar MBS dapat diimplementasikan secara optiml, baik di era krisis maupun pada pascakrisis di masa mendatang, perlu adanya pengelompokan sekolah berdasarkan tingkat kemampuan manajemen masing-masing. Pengelompokan ini dimaksud untuk mempermudah pihak-pihak terkait dalam memberikan dukungan. 1. Pengelompokan Sekolah Perlu dilakukan suatu pengelompokan sekolah berdasarkan kemampuan manajemen, dengan mempertimbangkan kondisi lokasi dan kualitas sekolah. Dalam hal ini, sedikitnya akan ditemui tiga kategori sekolah, yaitu baik, sedang, dan rendah atau tertinggal. Tabel 5.1 dibawah akan menggambarkan mengenai tingkat kemampuan manajemen. Kemampuan Kepala Sekolah Partisipasi Pendapatan Anggaran Sekolah dan guru Masyarakat daerah dan sekolah orangtua 1. Sekolah Kepala sekolah Partisipasi Pendapatan Anggaran dengan dan guru masyarakat daerah dan sekolah di kemampu berkompetisi tinggi orangtua luar an tinggi (termasuk (termasuk tinggi anggaran manajem kepemimpinan) dukungan pemerinta en tinggi dana) h besar 2. Sekolah Kepala sekolah Partisipasi Pendapatan Anggaran dengan danguru masyarakat daerah dan sekolah di kemampu berkompetisi sedang orangtua luar an sedang (termasuk sedang anggaran manajem (termasuk dukungan pemerinta en rendah kpemimpinan) dana) h sedang 3. Sekolah Kepala sekolah Partisipasi Pendapatan Anggaran dengan dan guru masyarakat daerah dan sekolah di

kemampu an manajem en rendah

berkompetisi rendah (termasuk kepemimpinan)

kurang (temasuk dukungan dana)

orangtua rendah

luar anggaran pemerinta h kecil atau tidak ada

Kondisi tersebut diatas menunjukkan bahwa tingkat kemampuan manajemen sekolah untuk mengimplementasika MBS berbeda satu sama lain. Perencanaan implementasi MNS harus menuju variasi tersebut, dan mempertimbangkan kemampuan setiap sekolah. Dengan memepertimbangkan kemampuan sekolah, kewajiban dan kewenangan sekolah terhadap pelaksanaan MBS berbeda. Pemerintah berkewajiban melakukan upaya maksimum bagi sekolah yang kemampuan manajemennya kurang untuk mempersiapkan pelaksanaan MBS. Namun demikian, untuk jangka panjang MBS akan ditentukan oleh bagaimana suatu sekolah mampu menyusun rencan sekolah, dan melaksanakan rencana tersebut. 2. Pentahapan Implementasi MBS Implementasi MBS juga harus dilakukan dengan peentahapan yang tepat. Penerapan MBS secara menyeluruh sebagai realisasi desentralisasi pendidikan memerlukan perubahan-perubahan mendasar terhadap aspek-aspek yang menyangkut keuangan, ketenagaan, kurikulum, sarana prasarana, dan partisipasi masyarakat. Dengan mempertimbangkan kompleksitas tersebut, MBS diyakini akan dapat dilaksanakan melalui paling tidak tiga tahap, yaitu jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Apabila masyarakat dan sekolah dapat memahami hak dan kewajiban masingmasing, perubahan-perubahan mendasar tenrrang aspek-aspek pendidikan dapat dilakukan, sebagai strategi jangka menengah, dan jangka panjang dalam pelaksanaan MBS. Mengingat priroritas jangka pendek memerlukan straegi yang segera dapat ditindaklanjuti, akan dijabarkan secara rinci mengenai kegiatan dan program yang harus dipersiapkan. Kegiatan jangka pendek diperlukan dengan alasan-alasan sebagai berikut. a. Sosialisasi MBS agar mereka memahami kewajiban dan hak masing-masing. b. Pengalokasian dana langsung ke sekolah sebagaii prioritas utama dalam pelaksanaan otonomi sekolah. c. Perlu adanya pelatihan agar dana yang dialokasikan secara langsung tersebut mampu dikelola sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah. d. Kepala sekolah perlu menjadi prioritas pertama dalam memperoleh pelatihan. Implementasi MBS secara garis besar menurut Fattah (2000) ada 3, yaitu

a. Sosialisasi b. Ploting c. Desiminasi 3. Perangkat Implementasi MBS Implementasi MBS memerlukan seperangkat peraturan dan pedoman-pedoman umum yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam perencanaan, monitoring dan evaluasi, serta laporan pelaksanaan. Perangkat ini harus diperkenalkan sejak awal, melalui pelatihan sejak pelaksanaan jangka pendek. Salah satu dari perangkat terpenting dalam pelaksanaan MBS adalah rencana. Rencana Sekolah merupakan pernecanaan sekolah untuk jangka waktu tertentu, yang disusun oleh sekolah sendiri bersama dewan sekolah. Yang terdapat didalam rencana sekolah adalah visi dan misi sekolah, tujuan sekolah, dan prioritasprioritas yang akan dicapai, serta strategi-strategi untuk mencapainya.