Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN METODE AMDAL

OLEH KELOMPOK 1 DANANG PUJO SANTOSO ELI MATUSADIAH RAVIKA PRIMASARI RISDA YANTI BIOLOGI

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dalam menetapkan suatu proyek itu wajib terkena AMDAL atau tidak terkena AMDAL perludilakukan dalam beberapa tahapan. Dalam setiap tahapan ada bebrapa hal atau metode yang harus diperhatikan. Metode yang digunakan sangat menentukan tingkat dampak dari suatu lingkungan. Jika tidak digunakan metode yang cocok dalam menganalisis dampak lingkungan, maka akan banyak sekali dampak lingkungan yang berbahaya bagi masyarakat. Dalam setiap metode yang digunakan akan dikaitkan antara proyek yang akan dilaksanakan dengan dampaknya pada kehidupan. Dalam metode AMDAL juga akan dikaitkan hubungan antara masyarakat dengan lingkungan seperti daampak proyek terhadap pemukiman dan lahan sekitarnya. Dalam menganalisis daampak lingkungan dari suatu proyek dapat dilakukan pemilihan terhadap metode mana yang paling baik digunakan oleh para menyelidik dampak lingkungan. Metode yang terbaik untuk suatu proyek akan memudahkan siapa saja untuk mengetahui dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu proyek. Setiap metode yang digunakan akan dibentuk oleh orang-orang yang telah ahli dalam bidangnya. Metode AMDAL merupak salah satu fasilitas yang dapat dugunakan untuk mengenalisis dampak lingkungan oleh suatu proyek. Dengan adanya metode AMDAL maka setiap orang yang akan membangun sebuah poyek harus dituntut untuk memperhatikan semua komponen lingkungan yang mungkin akan terganggu sehingga kemungkinan dampak yang merugikan akan mudah teratasi. Selain itu, jika berdampak negatif maka akan mudah dalam pencarian solusinya. Oleh karena itu, dalam menganalisis dampak lingkungan digunakan metode AMDAL untuk memudahkan dalam proses amdal. Dalam metode AMDAL, banyak sekali metode yang dapat digunakan untuk mengalisis lingkungan. AMDAl akan berjalan dengan lancar jika dalam pelaksanaannya melibatkan metode AMDAL. Untuk itulah penulis pembuat makalah yang bertema tentang

Metode-Metode AMDAL yang bertujuan supaya kiat dapat mengetahuinya, mempelajarin, dan menerapkan dalam menganalisis dampak lingkungan jika terjadi disekitar kita.

B. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari makalah ini adalah: a. Apakah penting adanya metode AMDAL? b. Apakah macam-macam metode AMDAL? C. Tujuan Makalah Tujuan dari makalah ini adalah: a. Untuk mengetahui pentingnya metode AMDAL. b. Untuk mengetahui macam-macam metode AMDAL.

BAB II PEMBAHASAN

Beberapa metode AMDAL yaitu: 1. Ad-hoc (wscc) 2. Overlay (mcharg), 3. Checklist (adkins, dee, georgia, little, rau & wooten, smith), 4. Matrik (leopold, fisher & davies, jain, moore), 5. Network analysis (sorensen), 6. Cost-benefit analysis, 7. Ecological-economic input-output (isard), 8. Kombinasi (jain & urban), 9. Pendugaan cepat (rapid assessment, antara lain who, lohani), 10. Incidence analysis (siapa yang menanggung risiko dan siapa yang

memperoleh manfaat), 11. Adaptive enviromental assessment and management (aem) essa, environment canada, dst) 12. Analisis dan pengelolaan kualitas lingkungan (enviromental quality analysis and management, ppsml ui).

Syarat Metode AMDAL Metode AMDAL yang baik harus : a. Memenuhi syarat pendekatan secara ilmiah. b. Meyakinkan pemakai bahwa tidak ada komponen lingkungan penting yang terlewatkan. c. Dapat digunakan untuk menetapkan data dan informasi apa yang diperlukan dalam pendugaan dampak. d. Dapat digunakan untuk mengevaluasi seluruh dampak yang akan terjadi. e. Dapat menunjukkan usaha-usaha apa yang diperlukan untuk dapat menekan dampak negatif.

f. Metode yang baik memudahkan siapa saja untuk dengan cepat mengatahui dampak apa yang akan terjadi dan usaha apa yang harus dilakukan. Kegunaan dari Metode AMDAL Metodologi AMDAL yang baik harus dapat memenuhi kegunaan-kegunaan sebagai berikut: 1. Memenuhi syarat pendekatan secara ilmiah; 2. Meyakinkan pemakai bahwa tidak ada komponen lingkungan penting yang harus dipertimbangkan terlewatkan; 3. Dapat digunakan untuk menetapkan data dan informasi apa yang diperlukan dalam pendugaan dampak; 4. Dapat digunakan untuk mengevaluasi seluruh dampak yang akan terjadi dan sejauh mana dampak akan terjadi serta untuk melakukan evaluasi dari alternatif-alternatif aktivitas yang diusulkan; 5. Dapat menunjukkan usaha-usaha apa yang diperlukan untuk dapat menekan dampak negatif; 6. Metode yang baik akan memudahkan siapa saja untuk dengan cepat mengetahui dampak apa yang akan terjadi dan usaha apa yang harus dilakukan. Klasifikasi metode AMDAL berdasarkan fungsi 1. Fungsi identifikasi : AMDAL Berfungsinya dalam membantu menentukan atau mengidentifikasi aktivitas-aktivitas proyek yang dapat menimbulkan dampak dan menentukan komponen-komponen lingkungan yang akan terkena dampak. 2. Fungsi pendugaan : Berfungsi dalam menentukan perubahan kuantitatif yang meliputi dimensi waktu dan ruang yang akan terjadi (untuk biologi, sosialekonomi dan sosial budaya belum banyak dikembangkan ). 3. Fungsi evaluasi : Berfungsi dalam mengevaluasi secara terpadu kelompokkelompok komponen dan secara keseluruhan dampak, dapat menunjukkan biaya dan keuntungan setiap dampak dan besarnya masyarakat yang akan terkena dampak. Hal- hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode amdal

a. Memahami kelebihan dan kelemahan dari tiap metode baik dalam fungsi maupun cara kerja. b. Penguasaan tipe aktivitas proyek yang akan di Amdal c. Penguasaan ciri dan sifat umum dan khusus dari rona lingkungan d. Pemahaman dampak penting yang akan terjadi melalui skoping. Makin besar dan makin kompleks dampak harus menggunakan metode yang lebih kompleks pula e. Pedoman yang diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab mengenai bagaimana bentuk informasi yang diperlukan dan cara penyajiannya f. Batasan-batasan waktu, keahlian, biaya, peralatan dan data serta teknik analisis yang diperlukan g. Mempelajari metode yang digunakan tim-tim lain dan pustaka mengenai proyek yang sejenis. Dickert telah melakukan klasifikasi metode AMDAL berdasar fungsinya dalam analisis dampak lingkungan, yaitu: 1. Fungsi identifikasi; 2. Fungsi pendugaan 3. Fungsi evaluasi Setiap metode umumnya memiliki keistimewaan dalam salah satu fungsi tersebut tetapi kurang begitu baik di dalam fungsi lainnya. Begitu pula setiap proyek sangat cocok menggunakan suatu metode disbanding metode lain. Metode-metode yang telah dibuat orang biasanya pada permulaan dibuat khusus untuk proyek yang sedang dikerjakan, sehingga dianggap sangat cocok untuk proyek yang sedang dikerjakan sewaktu menciptakan metode tersebut. Mengingat tiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangan dari fungsinya dari ketiga hal tersebut, maka penggunaan metode tersebut dapat disesuaikan atau dimodifikasi agar lebih sesuai dengan proyek yang akan dikerjakan. Banyak pula tim yang akan mengkombinasikan beberapa metode dan memodifikasinya sesuai dengan kehendak dari tim dan proyeknya. Warner dan Bromley (1974) membuat klasifikasi metode AMDAL berdasarkan caranya dampak ditetapkan menjadi lima sebagai berikut:

1. Ad Hoc 2. Overlays 3. Checklists 4. Matrices 5. Networks

1. Metode Ad Hoc Metode ad hoc adalah metode yang sedikit sekali memberikan pedomanpedoman kepada tim dan tidak membagi lingkungan ke dalam komponenkomponen lingkungan yang mendetail tetapi membagi lingkungan kedalam bidang dampak yang lebih luas atau membaginya kedalam ekosistem. Misalnya, dianalisis dampaknya pada danau, areal hutan, areal pertanian dan seterusnya. Dapat pula membagi lingkungan ke dalam aspek flora, fauna, tanah, drainase, air bumi, tempat dan lain sebagainya. Cara yang paling sederhana dalam melakukan evaluasi dampak keseluruhan dari proyek pada lingungan adalah dengan menyusun matriks hubungan antara pembagian dari lingkungan dengan keadaan dampaknya. Tim yang dibentuk terdiri dari ahli yang sesuai dengan pembagian aspek lingkungan yang akan digunakan. Metode Ad-Hoc merupakan metode yang sangat sederhana dan tidak menunjukkan keistimewaan di samping tidak mempunyai acuan tertentu sehingga hasilnya tidak konsisten antara satu penelitian dengan penelitian lainnya. Cara ini tidak memberikan petunjuk yang terinci tentang penilaian dampak, yang disarankan adalah hal-hal umum tentang kemungkinan dampak, yakni dampak pada tumbuhan, binatang, danau, hutan,dsb. Cara ini tidak menganjurkan suatu pengkajian terhadap parameter khusus. Misalnya tentang keadaan masyarakat pada umumnya dan pengaruh meningkatnya urbanisasi. Prosedur ad-hoc melibatkan suatu tim ahli yang pendugaannya mengenai suatu dampak menurut keahliannya masing-masing digabungkan. Misalnya untuk suatu rencana pembuatan jalan raya, maka kemungkinan dampak yang perlu diperhatikan dan ahli yang mengkajinya.

2. Metode Averlays Tehnik overlay merupakan pendekatan yang sering dan baik digunakan dalam perencanaan tata guna lahan / landscape. Teknik ini dibentuk melalui pengunaan secara secara tumpang tindih (seri) suatu peta yang masing-masing mewakili faktor penting lingkungan atau lahan. Pendekatan tehnik overlay efektif digunakan untuk seleksi dan identifikasi dari berbagai jenis dampak yang muncul. Kekurangan dari tehnik ini adalah ketidakmampuan dalam kuantifikasi serta identifikasi dampak (relasi) pada tingkat sekunder dan tersier. Perkembangan teknik overlay saat ini mengarah pada teknik komputerisasi. (Canter,1977) Shopley dan Fuggle (1984) termasuk Mcharg (1969) berjasa dalam pengembangan peta overlay. Overlay dibentuk oleh satu set peta transparan yang masing-masing mempresentasikan distribusi spasial suatu karakteristik

lingkungan (contoh : kepekaan erosi). Informasi untuk variabel acak harus dikumpulkan terlebih dahulu sebagai standar unit geografis di dalam suatu area studi, dan dicatat pada satu rangkaian peta (satu untuk masing-masing variabel). Peta ini kemudian di overlay untuk menghasilkan suatu peta gabungan (lihat gambar). Hasil peta gabungan memperlihatkan karakter fisik area, sosial, ekologis, tata guna lahan dan karakteristik lain yang relevan dan berkaitan dengan tujuan pengembangan lokasi yang diusulkan. Untuk menyelidiki derajat/tingkatan dari dampak, alternatif proyek yang lain dapat ditempatkan pada peta akhir. Validitas dari analisa tergantung pada jenis dan jumlah parameter yang dipilih. Untuk suatu peta gabungan yang layak, jumlah parameter di dalam suatu overlay transparan dibatasi sekitar sepuluh. Sedikitnya terdapat dua cara dari metode ini yang di digunakan dalam penilaian dampak. Yang pertama adalah menggunakan peta sebelum dan sesudah proyek untuk menilai secara visual perubahan yang terjadi pada tata guna lahan. Cara yang lain adalah dengan mengkombinasikan pemetaan yang disertai suatu analisa sensitivitas area atau daya dukung ekologis. Pada penggunaan yang terakhir, batasan pengembangan diatur berdasarkan batas dasar dari lokasi yang merupakan area sensitif serta penilaian daya dukung. Metoda memiliki orientasi spasial dan mampu untuk

mengkomunikasikan aspek spasial dari suatu dampak komulatif. Pembatasan tersebut berhubungan dengan: 1) ketiadaan penjelasan jalur munculnya dampak; dan 2) ketiadaan kemampuan memprediksi berkenaan dengan efek terhadap populasi. Metoda overlay membagi area studi ke dalam unit geografis berdasar pada keseragaman titik-titik grid dalam ruang, bentuk topografis atau perbedaan penggunaan lahan. Survai lapangan, peta inventori topografi lahan, pemotretan udara dan lain-lain, digunakan untuk merangkai informasi yang dihubungkan dengan faktor lingkungan dan manusia di dalam unit yang geografis tersebut. Melalui penggunaan teknik overlay, berbagai kemungkinan penggunaan lahan dan kelayakan teknik dapat ditentukan secara visual. (Mcharg, 1968). Skala peta dapat divariasikan mulai dari skala besar (untuk perencanaan regional) sampai skala kecil untuk identifikasi yang bersifat spesifik. Overlay juga digunakan pada pemilihan rute untuk proyek bidang datar (dua dimensi) seperti jalan dan jalur transmisi. Pada tahap awal dilakukan screening dari berbagai alternati rute (pengurangan beberapa rute) untuk mengurangi beban kebutuhan detail analisis.Mcharg (1968) memperkenalkan teknik ini dengan orientasi spesifik kearah pembangunan jalan raya. Metoda yang digunakan terdiri dari transparansi karakteristik lingkungan yang dipresentasikan ke dalam peta dasar regional. Dibuat sekitar 11-16 peta yang menggambarkan karakteristik dari lingkungan dan tata guna lahan. Peta tersebut mempresentasikan tiga tingkatan dari karakteristik lingkungan dan tata guna lahan berdasar pada kecocokan dengan pembangunan jalan raya. Pendekatan ini bermanfaat untuk menyaring alternatif lokasi proyek atau rute sebelum penyelesaian analisa dampak yang lebih terperinci. Metoda ini juga telah digunakan untuk mengevaluasi pilihan pengembangan dalam kawasan pantai, rute saluran dan jalur transmisi. (EIA for Developing Countries). Overlay merupakan suatu sistem informasi dalam bentuk grafis yang dibentuk dari penggabungan berbagai peta individu (memiliki informasi/database yang spesifik). Agregat dari kumpulan peta individu ini, atau yang biasa disebut peta komposit, mampu memberikan informasi yang lbih luas dan bervariasi. Masing-masing peta tranparansi memberikan informasi tentang komponen

lingkungan dan sosial. Peta komposit yang terbentuk akan memberikan gambaran tentang konflik antara proyek dan fakto lingkungan. Metode ini tidak menjamin akan mengakomodir semua dampak potensial, tetapi dapat memberikan damapak potensial pada spasial tertentu. Sebagai contoh, peta suatu reservoir dalam poyek DAM akan memperlihatkan potensi terhadap terjadinya banjir, yang kemudian dapat di-overlay dengan peta habitat binatang, aktivitas manusia dan sebagainya. (EIA : What are the available methods)

3. Metode Checklist

1.

Check List merupakan suatu daftar yang mengandung atau mencakup faktorfaktor yang ingin diselidiki (Bimo Walgito, 1985).

2.

Menurut Sutrisno Hadi (1990) check list adalah suatu daftar yang berisi namanama subjek dan faktor-faktor yang akan diselidiki.

3.

Check list merupakan daftar yang berisi unsur-unsur yang mungkin terdapat dalam situasi atau tingkah laku atau kegiatan individu yang diamati (Depdikbud : 1975).

4.

Dengan memungut beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa check list adalah salah satu alat observasi, yang ditujukan untuk memperoleh data, berbentuk daftar berisi faktor-faktor berikut subjek yang ingin diamati oleh observer, di mana observer dalam pelaksanaan observasi di lapangan tinggal memberi tanda check (cek, atau biasanya dicentang) pada list faktor-faktor sesuai perilaku subjek yang muncul, di lembar observasi, sehingga memungkinkan observer dapat melakukan tugasnya secara cepat dan objektif, sebab observer sudah membatasi diri pada ada tidaknya aspek perbuatan subjek, sebagaimana telah dicantumkan didalam list.

5.

Namun menurut Sutrisno Hadi (1990), akan lebih baik bagi observer untuk menyediakan kolom kosong (di samping atau di bawah pada lembar observasi itu) yang sengaja disiapkan untuk mencatat komentar yang dipandang observer perlu, guna menambah informasi berkenaan dengan

aspek-aspek kelakuan yang mungkin belum termasuk (dimasukkan) dalam perumusan check list tersebut. Metode Checklist merupakan metode yang lebih baik dibandingkan dengan metode Ad-Hoc karena telah ada susunan aktivitas kegiatan proyek dan komponen lingkungan. Metode ini telah berkembang dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. Mula-mula dibuat dulu daftar dari berbagai macam dampak yang mungkin terjadi berkaitan dengan kegiatan yang direncanakan dan rencana alternatifnya. Hal ini dapat diambil dari faktor lingkungan seperti : air, udara, tumbuhan, hewan, manusia, dll. Dapat juga melalui daftar kegiatan yang direncanakan dan dampak yang mungkin terjadi, misalnya : jual beli tanah,pengambilan bahan (batu), pengangkutan barang, prsiapan/perubahan bentuk tanah, dst. Metode Checklist adalah salah satu metode informal observasi dimana observer sudah menentukan indikator perilaku yang akan di observasi dari subjek dalam satu tabel. Checklist merupakan metode dengan dua cara pencatatan yaitu tebuka dan tertutup. Metode ini memiliki derajat selektivitas yang tinggi karena perilaku yang diamati sudah sangat selektif, juga memiliki derajat inferensi yang tinggi karena observer hanya fokus pada kategori perilaku yang sudah ditentukan saja. Untuk memulai observasi dengan metode ini, terlebih dahulu observer harus menentukan indikator perilaku yang didapat melalui sumber-sumber baik berupa buku, jurnal, artikel ilmiah, maupun literatur-literatur lain sebagai dasar teori. Setelah itu, observer menjadikan satu seluruh indikator tersebut dalam satu tabel indikator dan menambahkan tabel diskripsi, serta tabel koding di sampingnya. Tabel diskripsi berfungsi sebagai tempat pencatatan perilaku anak secara spesifik. Pada saat observasi berlangsung, observer hanya memberikan tanda berupa plus (+) yang berarti perilaku muncul, atau minus (-) yang berarti perilaku tidak muncul pada tabel koding setiap kali perilaku yang tercantum dalam tabel indikator muncul dari subjek. Alasan dipilihnya metode ini adalah karena mudah dan simple serta mampu fokus hanya pada perilaku yang

diinginkan terjadi. Prosedur umum untuk membuat checklist adalah sebagai berikut: 1. Tentukan sasaran dari checklist. Apa tujuannya, di mana akan digunakan, dan hasil akhir apa yang diharapkan? Yang paling penting adalah hal-hal apa saja yang tidak dapat dicapai dengan hanya menggunakan metode ini, dan metode apa lagi yang diperlukan? Kenali keterbatasan tersebut sebelum memulai. 2. Identifikasi cakupan wilayah keahlian yang diperlukan dalam checklist, dan pilih orang-orang yang berkompetensi dalam masing-masing bidang. 3. Mulailah kembangkan checklist. Kemudian bagilah project tersebut ke dalam beberapa subsistem untuk memudahkan analisis 4. Ambillah penilaian independen dari manajer atau project engineer berpengalaman. Langkah ini sangat krusial untuk mengidentifikasi kemungkinan kelebihan prediksi atau bahkan kelalaian menentukan prediksi. 5. Perbaharui checklist jika diperlukan, ketika informasi-informasi

tamabahan tentang project terebut diproleh. Secara garis besar metode checklist dapat dibagi menjadi: a. Checklist sederhana (simple checklist) Checklist sederhana (simple checklist)merupakan suatu bentuk metode checklist yang paling sederhana. Pada dasarnya berbentuk sebagai daftar dari komponen lingkungan yang akan diduga dampaknya baik yang menguntungkan ataupun merugikan terhadap tiga tingkat atau fase pembangunan yaitu: 1. Tingkat perencanaan atau desain proek. 2. Tingkat konstruksi proyek. 3. Tingkat proyek berjalan. Metode ini menjadi sederhana karena dalam mengidentifikasi berbagai potensi dampak tidak disajikan informasi dalam bentuk ukuran dan interpretasi. Untuk mendapatkan interpretasi dampak ditempuh dengan membentuk tim yang interdisiplin untuk mengevaluasi dampak proyek yang nyata dengan memberi skala dari nol sampai sepuluh.

Dapat pula disertakan keterangan yang berhubungan dengan potensi dampak lingkungan dari proyek yang disusun berdasarkan batasan ruang atau tempat misalnya sebagai berikut: 1. Areal yang langsung terkena proyek yaitu pemukiman, perdagangan,industri, fasilitas umum, dan seterusnya. 2. Wilayah pelayanan hukum dan lintasannya karena adanya fasilitas 3. Dalam wilayah mana proyek dibangun. b. Checklist dengan uraian (descriptive checklist) Komponen lingkungan yang diamati ekologi, kesehatan, kualitas udara, air permukaan, air bumi, sosiologi, ekonomi, bumi, penggunaan tanah,kebisingan, dan transportasi. Tiap kelompok komponen lingkungan tersebut terdiri dari banyak pembagian komponen kira-kira 1000 komponen lingkungan. Tanda tiap dampak interaksi dapat digolongkan ke dalam empat kategori sebagai berikut: 1) Kategori menunjukkan bahwa potensi dampak harus dinilai atau diperkiraansetiap kali aktivitas dilakaukan. 2) Dampak yang biasa timbul tetapi mungkinjiga tidak ada, hal ini tergantung padakeadaan masing-masing. 3) Dampaknya kecil tetapi dapat diduga masalahnya dan timbulnya akan ditetapkan berdasrkan kedaan masing-masing. 4) Tidak ada indikasi mengenai potensi dampak, sehingga aktivitas tertentu dapat ditetapkan sebagai aktivitas yang tidak menimbulkan dampak lingkungan. c. Checklist berskala ( scaling checklist) Metode ini dikembangkan oleh Adkins dan burke untuk melakukan pendugaan dampak lingkungan dari beberapa alternatif dari proyek. Metode merupakan teknik pendugaan dampak lingkungan dengan skala yang dibuat mulai dari minus lima sampai positif lima. Komponen dampak dari proyek yang digunakan oleh Adkins dan Burke dikelompokkan menjadi sebagai berikut: 1. Transportasi 2. Lingkungan 3. Sosiologi

4. Ekonomi Untuk setiap kelompok tersebut dapat dibuat checklist terdiri untuk menentukaan dampak daari beberapaa alternatif dari proyek. Gabungan checklist ringkasan keempat kelompok komponen terhadap alternatif-alternatif proyek disusun bersama menjadi nilai komprehensif keseluruhan dari dampak. d. Checklist berskala dengan pembobotan (sclaling wighling checklinst) Metode ini telah dikembangkan oleh Biro Reklamasi. Laboratorium Battelde Columbus pada tahun 1972 untuk proyek bangunan air dan juga dikembangkan oleh Odum pada tahuntahun 1971 untuk proyek jalan raya di Atlanta Utara, Amerika Serikat. Metode ini berisi uraian mengenai komponenkomponen lingkungan yang tersusun dalam cheklist seperti cara penyusunan checklist berskala, yang memberi penilaian dari tiap parameter dan kepentinan yang telah ditetapkan. Keuntungan metode Checklist adalah sederhana untuk dilakukan. Selain itu, metode dengan adanya pencatatan pada diskripsi memungkinkan observer mengetahui konteks perilaku secara lengkap. Namun, kelemahan dari metode ini adalah metode ini sedikit menguras energi, karena selain observer mencantumkan koding pada tabel yang sudah disediakan, observer juga harus memberikan diskripsi perilakunya. Namun checklist juga memiliki kekurangan: a. Karena tidak memiliki standard khusus, item-item dalam checklist sangat tergantung pada pengetahuan dan pengalaman para penyusun checklist. Oleh karena itu, pemilihan personel penuyusun checklist sangat menentukan keberhasilan projuct. b. Checklist hanya merupakan yes or no question yang tidak dapat menggambarkan secara detil efisiensi dari suatu subsistem dalam project yang dilaksanakan. c. Checklist tidak dapat mengurutkan skala prioritas (rangking) suatu hazard. d. Apabila checklist disusun oleh orang yang kurang berpengalaman, kemungkinan terlewatnya suatu hazard menjadi lebih besar.

4. Metode Matrices Metode matriks adalah metode yang menggunakan daftar uji (checklist) dua dimensi, yaitu daftar horizontal yang memuat acuan kegiatan pembangunan yang potensial menimbulkan dampak dan daftar vertikal yang memuat daftar komponen lingkungan hidup yang mungkin terkena dampak. Beberapa metode matriks interaksi yang sangat terkenal antara lain: matrik interaksi Leopold, Fisher and Davies, Moore, Philips and Defilipi, Welch and Lewis, Lohani and Thank, Ad-hoc, dan checklist. a) Metode Leopold Metode Leopold ini juga dikenal sebagai Matriks Leopold atau Matriks interaksi dari Leopold. Matriks yang diperkenalkan adalah matriks dari 100 (seratus) macam aktivitas dari suatu proyek dengan 88 (delapan puluh delapan) komponen lingkungan. Identifikasi dampak lingkungan dari proyek ditulis dalam interaksi antara aktivitas dan komponen lingkungan. Langkah pertama setelah matriks dibuat ialah menentukan dampak dari tiap aktivitas proyek pada komponen lingkungan. Apabila diduga akan terjadi dampak pada suatu komponen lingkungan dari suatu aktivitas maka kotak pertemuan pada matriks dari keduanya diberi tanda diagonal. Langkah kedua adalah dari tiap kotak yang berdiagonal ditetapkan besar (magnitude) dan tingkat kepentingan (importance) dampaknya. Bersama dari dampak yang diduga dinyatakan dalam nilai angka atau skala dari satu sampai sepuluh serta diberikan catatan uraian atau kriteria yang jelas dari tiap nilai tersebut. Nilai satu merupakan besaran terkecil sedang sepuluh merupakan terbesar. Penyusunan skala sebaiknya didasarkan pada evaluasi nilai yang objektif. Dampak yang positif diberi tanda +, yang negative diberi tanda -. Metode Leopold yang asli tidak memasukkan dampak positif. b) Metode Matriks dampak dari Moore Keistimewaan dari metode Moore ini adalah dampak lingkungan dilihat dari sudut dampak pada kelompok-kelompok daerah yang sudah atau sedang dimanfaatkan manusia atau dapat digambarkan pula sebagai proyek-proyek pembangunan manusia lainnya.

Filosofi dasar metode Moore adalah analisis dari penyebab atau pembuat dampak lingkungan yang nyata, yang didasarkan pada determinasi dari dampak langsung dan tidak langsung pada sumberdaya lain yang sedang dimanfaatkan manusia atau daerah pemanfaatan lain. Matriks Moore dibagi menjadi empat kategori yang berbeda yaitu: a. Pembentuk timbulnya aktivitas dan aktivitas lainnya berhubungan; b. Potensi perubahan lingkungan; c. Pengaruh pada lingkungan yang utama; d. Pemanfaatan oleh manusia yang terkena. e. Potensi kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas; f. Besaran umum dari potensi pengurangan daripemanfaatan manusia. c) Metode Sorenson Metode yang dikembangkan Sorenson pada tahun 1971 merupakan Analysis Network yang pertama, disusun untuk digunakan pada proyek pengerukan dasar laut (dredging). Bentuk jaringan kerja ini lebih cocok kalau diberi nama sebagai aliran dampak. Dalam analisis jaringan kerja ini diidentifikasikan berbagai hubungan timbal-balik atau sebab-akibat antara factor-faktor penyebab yang timbul akibat adanya aktivitas dari proyek pengerukan, yang berarti pula suatu usaha pemindahan bahan dari suatu lapisan bawah, dan aktivitas tersebut akan menghasilkan bahan-bahan galian, sehingga ada komponen-komponen

lingkungan yang terkena dampaknya. Sorenson juga telah mengembangkan metode pendekatan tipe aliran dampak untuk menentukan dampak lingkungan dari berbagai pembangunan proyek di pantai. Sorenson juga telah mengembangkan bentuk matriks interaksi untuk proyek di daerah. d) Metode MacHarg Metode yang dikembangkan tahun 1968 oleh MacHarg juga dikenal sebagai metode Overlay atau teknik Overlay. Metoda ini menggunakan berbagai peta yang digambarkan dalam lembar-lembar transparansi.

Daerah yang akan dianalisis dibagi dalam beberapa satuan. Satuan tersebut dapat disusun berdasarkan topografi atau penggunaan lahan atau dasar-dsar lainnya. Untuk tiap satuan dikumpulkan keterangan mengenai keadaan lingkungannya dengan berbagai cara, baik dengan survei lapangan (wawancara, pengamatan, pengukuran dan lain sebagainya) maupun dengan potret udara dan peta-peta yang telah ada. Langkah berikut melakukan identifikasi dari dampak yang diduga akan terjadi pada berbagai komponen lingkungan dari setiap satuan daerah. Setiap komponen lingkungan dan dampaknya digambarkan dalam satu transparansi tersendiri. Transparansi-transparansi dari berbagai dampak yang telah tergambar saling ditumpukkan atau ditampalkan (dari satuan geografis yang sama). Maka akan dapat dilihat daerah tataguna lahan yang cocok, aktivitas yang cocok dan pembangunan rekayasa yang dapat dilaksanakan. Dengan demikian kombinasi yang berbaik dari keadaan-keadaan tersebut dapat diidentifikasi. Metode banyak digunakan dalam menganalisis dampak lingkungan proyek pembangunan jalan mobil, jaringan pipa-pipa, jalan kereta api dan lain sebagainya. Kelemahan metode ini ialah apabila komponen lingkungan yang digunakan terlalu banyak sehingga hasil penampalan dari peta-peta menjadi gelap dan dampaknya tak dapat terlihat. Metode ini dapat digunakan dengan komponen lingkungan yang banyak setelah diketemukan mesin computer. Dengan bantuan komputer penampalan peta dampak dan penggabungan peta dapat dilakukan oleh komputer dengan mudah. Masalah lain yang dihadapi kemudian ialah cara memindahkan peta ke dalam komputer, cara manual yang telah dikenal akan memerlukan waktu yang lama sekali. Penggunaan komputer ini akan dapat cepat apabila dibantu dengan mesin untuk membantu memindahkan peta ke dalam komputer yang pada tahun 1986 telah mulai ada yang menggunakan, yang dikenal sebagai sistem scanning. Metode ini biasanya digunakan untuk proyek pembangunan jalan, pipa dan lain sebagainya.

Penggunaan komputer biasanya akan lebih mahal dan lebih lama dibanding dengan penampalan dari peta-peta transparansi. e. Metode Fisher dan Davies Metode yang dikembangkan oleh Fisher dan Davis pada tahun 1973 juga dikenal sebagai Matriks dari Fisher dan Davies. Kekhususan dari metode ini ialah tiga macam matriks yang disusun secara bertahap. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut: a. Tahap pertama: Matriks mengenai evaluasi lingkungan sebelum proyek dibangun atau disebut keadaan lingkungan awal (Envirtonmental baseline) b. Tahap kedua: Matriks dampak lingkungan (Environmental compatibility matriks) c. Tahap ketiga: Matriks keputusan (Decision matriks) Dalam tahap pertama disusun matriks dari komponen-komponen lingkungan yang dinilai penting, kemudian dievaluasi dan diberi nilai skala tingkat kepentingannya pada waktu penelitian dan kepekaannya terhadap pengelolaan. Tim multidisiplin yang dibentuk harus melakukan orientasi lapangan terlebih dahulu untuk menetapkan batas-batas penelitian karena baik secara langsung atau tidak langsung batas wilayah yang diorientasi akan terkena dampak. Pada tahap matriks yang disusun adalah matriks dampak lingkungan. Bentuk matriksnya hampir sama dengan matriks Leopold, hanya saja dalam

matriks ini komponen lingkungan dan macam aktivitas yang dimasukkan lebih sederhana bentuknya. Dampak dari setiap aktivitas pada suatu komponen lingkungan diberi tanda plus (+) untuk dampak yang menguntungkan dan diberi tanda (-) untuk yang berdampak merugikan. Periode dampak diberi tanda S (short) untuk yang berdampak dalam periode waktu pendedk dan L (long) untuk periode waktu yang berdampak panjang. Pada tahap ketiga dalam penyusunan matriks keputusan. Matriks disusun berdasarkan hubungan antara kriteria komponen lingkungan yang akan terkena dampak bernilai skala 4 dan 5 baik yang menguntungkan maupun yang merugikan dari matriks tahap kedua alternatif yaitu kedaaan lingkungan tanpa proyek dan keadaan lingkungan dengan adanya proyek. Dalam penyusunan kolom kriteria

pengambilan keputusan haruslah dipertimbangkan kriteria pengambilan keputusan seperti siapa yang akan terkena damapak, ketidakpastian, kompensasi, keperluan pengelolaan, keanekaragaman dan lain sebagainya.

5. Metode Netwoks Metode Network ( skema aliran / flowchart / bagan alir): Metode berupa susunan daftar aktivitas proyek yang saling berhubungan dan komponenkomponen lingkungan yang terkena dampak. Kemudian dari kedua daftar tersebut disusun lagi hingga dapat menunjukkan aliran dampak yang dimulai dari suatu aktivitas proyek. Susunan aliran dampak ini menggambarkan adanya dampak langsung dan tidak langsung serta hubungan antara komponen-komponen

lingkungan, sehingga dapat mengevaluasi dampak secara keseluruhan, dapat dicari aktivitas pokok mana yang harus dikendalikan. Merupakan pengembangan dari metode matriks sehingga kelemahan matriks dapat dihilangkan.

6. Metode Modifikasi dan Kombinasi Bentuk modifikasi dan kombinasi dari kelima metode tersebut untuk mengurangi kelemahan tim maupun metode Amdal , disesuaikan dengan proyek yang akan dikerjakan, hasil penilaian tim dan pertimbangan-pertimbangan lain.(Metoda Sorenson) (Adiwibowo : matriks dan bagan alir).

7. Metode Checklist Metode checklis merupakan metode dasar yang digunakan dalam melakukan pendugaan dampak lingkungan. Metode ini telah banyak

dikembangkan oleh para ahli. Secara garis besar metode checklist dapat dibagi menjadi: a. Checklist sederhana (simple checklist) Checklist sederhana (simple checklist)merupakan suatu bentuk metode checklist yang paling sederhana. Pada dasarnya berbentuk sebagai daftar dari komponen lingkungan yang akan diduga dampaknya baik yang menguntungkan ataupun merugikan terhadap tiga tingkat atau fase pembangunan yaitu:

4. Tingkat perencanaan atau desain proek. 5. Tingkat konstruksi proyek. 6. Tingkat proyek berjalan. Metode ini menjadi sederhana karena dalam mengidentifikasi berbagai potensi dampak tidak disajikan informasi dalam bentuk ukuran dan interpretasi. Untuk mendapatkan interpretasi dampak ditempuh dengan membentuk tim yang interdisiplin untuk mengevaluasi dampak proyek yang nyata dengan memberi skala dari nol sampai sepuluh. Dapat pula disertakan keterangan yang berhubungan dengan potensi dampak lingkungan dari proyek yang disusun berdasarkan batasan ruang atau tempat misalnya sebagai berikut: 1. Areal yang langsung terkena proyek yaitu pemukiman, perdagangan,industri, fasilitas umum, dan seterusnya. 2. Wilayah pelayanan hukum dan lintasannya karena adanya fasilitas 3. Dalam wilayah mana proyek dibangun. b. Checklist dengan uraian (descriptive checklist) Komponen lingkungan yang diamati ekologi, kesehatan, kualitas udara, air permukaan, air bumi, sosiologi, ekonomi, bumi, penggunaan tanah,kebisingan, dan transportasi. Tiap kelompok komponen lingkungan tersebut terdiri dari banyak pembagian komponen kira-kira 1000 komponen lingkungan. Tanda tiap dampak interaksi dapat digolongkan ke dalam empat kategori sebagai berikut: 1) Kategori menunjukkan bahwa potensi dampak harus dinilai atau diperkiraansetiap kali aktivitas dilakaukan. 2) Dampak yang biasa timbul tetapi mungkinjiga tidak ada, hal ini tergantung padakeadaan masing-masing. 3) Dampaknya kecil tetapi dapat diduga masalahnya dan timbulnya akan ditetapkan berdasrkan kedaan masing-masing. 4) Tidak ada indikasi mengenai potensi dampak, sehingga aktivitas tertentu dapat ditetapkan sebagai aktivitas yang tidak menimbulkan dampak lingkungan. c. Checklist berskala ( scaling checklist)

Metode ini dikembangkan oleh Adkins dan burke untuk melakukan pendugaan dampak lingkungan dari beberapa alternatif dari proyek. Metode merupakan teknik pendugaan dampak lingkungan dengan skala yang dibuat mulai dari minus lima sampai positif lima. Komponen dampak dari proyek yang digunakan oleh Adkins dan Burke dikelompokkan menjadi sebagai berikut: 1. Transportasi 2. Lingkungan 3. Sosiologi 4. Ekonomi Untuk setiap kelompok tersebut dapat dibuat checklist terdiri untuk menentukaan dampak daari beberapaa alternatif dari proyek. Gabungan checklist ringkasan keempat kelompok komponen terhadap alternatif-alternatif proyek disusun bersama menjadi nilai komprehensif keseluruhan dari dampak. d. Checklist berskala dengan pembobotan (sclaling wighling checklinst) Metode ini telah dikembangkan oleh Biro Reklamasi. Laboratorium Battelde Columbus pada tahun 1972 untuk proyek bangunan air dan juga dikembangkan oleh Odum pada tahuntahun 1971 untuk proyek jalan raya di Atlanta Utara, Amerika Serikat. Metode ini berisi uraian mengenai komponen-komponen lingkungan yang tersusun dalam cheklist seperti cara penyusunan checklist berskala, yang memberi penilaian dari tiap parameter dan kepentinan yang telah ditetapkan.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Kesimpulan dari makalah ini adalah 1. Metode AMDAL yang terkenal adalah overlay, checklist, matrik (leopold, fisher & davies, jain, moore), network analysis (sorensen), cost-benefit analysis, ecological-economic input-output (isard), kombinasi (jain & urban). 2. Dalam menganalisis dampak lingkungan yang terjadi perlu dilakukan pemilihan metode yang cocok. 3. Dalam metode AMDAL dilakukan pengaitan antara komponen lingkungan yang akan terkena dampak dengan masyarakat. 4. Metode AMDAL memudahkan dalam menganalisis lingkungan.

B. Saran Saran penulis kepada para pembaca adalah bahwa dalam makalah ini terdapat kekurangan dalam menncontohkan setiap metode yang ada dalam AMDAL. Untuk itu, penulis menyarankan supaya pembaca dapat melanjutkan pembuatan makalah tentang contoh penerapan makalah AMDAL.

DAFTAR PUSTAKA

Raharjo, mursid. 2007. Memahami AMDAL. Yogyakarta: Graha Ilmu Soemarwoto, otto. 2005. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Suratmo, F. gunawan. 2004. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press