Anda di halaman 1dari 6

Absorbsi CO

2
dengan Larutan Air 1
23

Laboratorium Proses Kimia 2011Laboratorium Proses Kimia 2011
PETUNJUK PELAKSANAAN
PRAKTIKUM PROSES KIMIA







Materi :
Absorbsi Gas Karbon Dioksida dengan Larutan Air






Disusun oleh:
Suryo Mail
Asisten: Muhamad Zainudin
Mayang Gita






LABORATORIUM PROSES KIMIA
TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2011
Absorbsi CO
2
dengan Larutan Air 2
23

Laboratorium Proses Kimia 2011Laboratorium Proses Kimia 2011
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Absorbsi
Absorbsi merupakan salah satu proses separasi dalam industri kimia
dimana suatu campuran gas dikontakkan dengan suatu cairan penyerap tertentu
sehingga satu atau lebih komponen gas tersebut larut dalam cairannya. Absorbs
dapat terjadi melalui dua mekanisme, yaitu absorbsi fisik dan absorbsi kimia.
Absorbsi fisik merupakan suatu proses yang melibatkan peristiwa
pelarutan gas dalam larutan penyerap, namun tidak disertai dengan reaksi kimia.
Contoh proses ini adalah absorbsi gas H
2
S dengan air, methanol, propilen
karbonase. Penyerapan terjadi karena adanya interaksi fisik. Mekanisme proses
absorbsi fisik dapat dijelaskan dengan beberapa model, yaitu: teori dua lapisan
(two films theory) oleh Whiteman (1923), teori penetrasi oleh Dankcwerts dan
teori permukaan terbaharui.
Absorbsi kimia merupakan suatu proses yang melibatkan peristiwa
pelarutan gas dalam larutan penyerap yang disertai dengan reaksi kimia. Contoh
peristiwa ini adalah absorbsi gas CO
2
dengan larutan MEA, Air, K
2
CO
3
dan
sebagainya. Aplikasi dari absorbsi kimia dapat dijumpai pada proses penyerapan
gas CO
2
pada pabrik Amonia seperti yang terlihat pada gambar 2.1







Gambar 2.1. Proses absorpsi dan desorpsi CO
2
dengan pelarut MEA di pabrik
Amonia
Proses absorpsi dapat dilakukan dalam tangki berpengaduk yang dilengkapi
dengan sparger, kolom gelembung (bubble column), atau dengan kolom yang
berisi packing yang inert (packed column) atau piringan (tray column). Pemilihan

a
b
s
o
r
b
e
r

s
t
r
i
p
p
e
r

Absorbsi CO
2
dengan Larutan Air 3
23

Laboratorium Proses Kimia 2011Laboratorium Proses Kimia 2011
peralatan proses absorpsi biasanya didasarkan pada reaktifitas reaktan (gas dan
cairan), suhu, tekanan, kapasitas, dan ekonomi.

B. Analisis Perpindahan Massa dan Reaksi dalam Proses Absorpsi Gas oleh
Cairan.

Secara umum, proses absorpsi gas CO
2
ke dalam larutan Air yang disertai
reaksi kimia berlangsung melalui empat tahap, yaitu perpindahan massa CO
2

melalui lapisan gas menuju lapisan antar fase gas-cairan, kesetimbangan antara
CO
2
dalam fase gas dan dalam fase larutan, perpindahan massa CO
2
dari lapisan
gas ke badan utama larutan Air dan reaksi antara CO
2
terlarut dengan gugus
hidroksil (OH
-
). Skema proses tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.2.















Gambar 2.2. Mekanisme absorpsi gas CO
2
dalam larutan Air

Laju perpindahan massa CO
2
melalui lapisan gas:
) ( pai pg kga Ra = (1)
Kesetimbangan antara CO
2
dalam fase gas dan dalam fase larutan :
pai H A . * = (2)
dengan H pada suhu 30
o
C = 2,88 10
-5
g mole/cm
3
. atm.
Laju perpindahan massa CO
2
dari lapisan gas ke badan utama larutan Air dan
reaksi antara CO
2
terlarut dengan gugus hidroksil:
] .[ . *] [
2

= OH k D a A Ra
A
(3)
Gas bulk flow
p
g

p
ai

A*
Liq. bulk flow Gas film Liq. film
Absorbsi CO
2
dengan Larutan Air 4
23

Laboratorium Proses Kimia 2011Laboratorium Proses Kimia 2011
Kedaan batas:
(a) 1
] .[ .
2
>>>

L
A
k
OH k D

(b)
B
A
L
A
D
D
A z
OH
k
OH k D
* .
] [
] .[ .
2

<<<< dengan z adalah koefisien reaksi


kimia antara CO
2
dan [OH
-
}, yaitu = 2.

Di fase cair, reaksi antara CO
2
dengan larutan Air terjadi melalui beberapa
tahapan proses:
Air (s) Na
+
(l) + OH
-
(l) (a)
CO
2
(g) CO
2
(l) (b)
CO
2
(l) + OH
-
(l) HCO
3
-
(l) (c)
HCO
3
-
(l) + OH
-
(l) H
2
O (l) + CO
3
2-
(l) (d)
CO
3
2-
(l) + Na
+
(l) Na
2
CO
3
(l) (e)
Langkah d dan e biasanya berlangsung dengan sangat cepat, sehingga
proses absorpsi biasanya dikendalikan oleh peristiwa pelarutan CO
2
ke dalam
larutan Air terutama jika CO
2
diumpankan dalam bentuk campuran dengan gas
lain atau dikendalikan bersama-sama dengan reaksi kimia pada langkah c (Juvekar
dan Sharma, 1973).
Eliminasi A* dari persamaan 1, 2 dan 3 menghasilkan :

Ga
A
A
k
OH k D H a
OH k D pg H a
Ra
] .[ . . .
1
] .[ . . . .
2
2

+
= (4)
Jika nilai k
L
sangat besar, maka: 1
] .[ .
2
~

L
A
k
OH k D
, sehingga persamaan di atas
menjadi:
Ga
L A
L A
k
k OH k D H a
k OH k D pg H a
Ra
2
2
2
2
] .[ . . .
1
] .[ . . . .
+
+
+
=

(5)
Jika keadaan batas (b) tidak dipenuhi, berarti terjadi pelucutan [OH
-
] dalam
larutan. Hal ini berakibat:


B
A
L
A
D
D
A z
OH
k
OH k D
* .
] [
] .[ .
2

~ (6)

Absorbsi CO
2
dengan Larutan Air 5
23

Laboratorium Proses Kimia 2011Laboratorium Proses Kimia 2011
Dengan demikian, maka laju absorpsi gas CO
2
ke dalam larutan Air akan
mengikuti persamaan:

Ga
L
L
k
k H a
k pg H a
Ra
. . .
1
. . . .
|
|
+
= (7)
Dengan | adalah enhancement factor yang merupakan rasio antara koefisien
transfer massa CO
2
pada fase cari jika absorpsi disertai reaksi kimia dan tidak
disertai reaksi kimia seperti dirumuskan oleh Juvekar dan Sharma (1973):

2 / 1
2
* .
] [
.
* .
] [
1
.
] .[ .
(
(
(
(

+
=

A
B
A
B
L
A
D
D
A z
OH
D
D
A z
OH
k
OH k D
|
| (8)
Nilai diffusivitas efektif (D
A
) CO
2
dalam larutan Air pada suhu 30
o
C adalah 2,1
10
-5
cm
2
/det (Juvekar dan Sharma, 1973).
Nilai k
G
a dapat dihitung berdasarkan pada absorbsi fisik dengan meninjau
perpindahan massa total CO
2
ke dalam larutan Air yang terjadi pada selang waktu
tertentu di dalam alat absorpsi. Semakin besar laju alir gas, fluks CO
2
yang
dihasilkan juga semakin besar. Hal ini disebabkan dengan kenaikan laju alir gas,
maka akan meningkatkan keturbulenan aliran gas CO
2
didalam membran,
keturbulenan dari aliran gas CO
2
ini, menyebabkan jumlah mol CO
2
yang masuk
ke pori-pori membran per satuan luas membran per satuan waktu akan
bertambah, sehingga jumlah CO
2
yang diabsorpsi meningkat. Semakin besar laju
alir absorben maka daya serapnya akan meningkat sehingga laju alir gas
berbanding lurus dengan laju absorpsi. Dalam bentuk bilangan tak berdimensi, k
Ga
dapat dihitung menurut persamaan (Kumoro dan Hadiyanto, 2000):

3 / 1
2
2
4003 , 1
2
2 2
2
. .
.
0777 , 4
.
|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|
=
A CO
CO
CO
CO CO
A
Ga
D a
Q
D
dp k

(9)
Dengan
dp
a
) 1 ( 6 c
= dan
T
V
Vvoid
= c
Secara teoritik, nilai k
Ga
harus memenuhi persamaan:

. . . .
) (
. . . .
) , (
2
3 2
lm lm
GA
p Z A
CO mol
p Z A
liq CO mol
k
c c

= = (10)
Absorbsi CO
2
dengan Larutan Air 6
23

Laboratorium Proses Kimia 2011Laboratorium Proses Kimia 2011
Jika tekanan operasi cukup rendah, maka p
lm
dapat didekati dengan Ap = p
in
-p
out
.
Sedangkan nilai k
la
dapat dihitung secara empirik dengan persamaan (Zheng dan
and Xu, 1992):

5 , 0 3 , 0
. .
.
2258 , 0
.
|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|
=
A
NaOH NaOH
A
la
D a
Q
D
dp k

(11)
Jika laju reaksi pembentukan Na
2
CO
3
jauh lebih besar dibandingkan
dengan laju difusi CO
2
ke dalam larutan Air, maka konsentrasi CO
2
pada batas
film cairan dengan badan cairan adalah nol. Hal ini disebabkan oleh konsumsi
CO
2
yang sangat cepat selama reaksi sepanjang film.Dengan demikian, tebal film
(x) dapat ditentukan persamaan:

T R CO mol
p p D
x
out in A
. ). (
) .(
2
3

= (12)