Anda di halaman 1dari 23

Pendahuluan

Tanaman asam jawa memilliki banyak kegunaan dalam kehidupan manusia. Daging buah asam jawa digunakan pada berbagai jenis makanan dan obat-obatan. Buahnya yang masih hijau digunakan untuk obat tradisional dan buah yang matang dapat dimakan begitu saja atau diolah ke dalam berbagai bentuk makanan, juga digunakan untuk campuran dalam minuman sari buah sebagai sumber asam ( Corone, R E, 1983 ).

Tujuan Penelitian
Mengisolasi senyawa bahan alam dalam jaringan tumbuhan kulit asam jawa melalui metode ekstraksi maserasi dan sokletasi Mengetahui kandungan alkaloid, flavonoid, triterpenoid, steroid, saponin, kuinon, polifenol dan tanin pada kulit asam jawa Mengetahui aktivitas antioksidan pada ekstrak kulit asam jawa. Mengetahui aktivitas antibakteri dari kulit asam jawa terhadapa bakteri Staphylococcus aureus dan E.Coli. Mengetahui sifat bioaktif dalam esktrak kulit asam jawa dengan uji toksisitas BSLT. Mengisolasi senyawa yang terdapat dalam ekstrak kulit asam jawa dengan TLC (Thin Layer Chromatography) dan menentukan nilai Rf

Persebaran
Tanaman asam pertama kali ditemukan di benua hitam Afrika sejak berabad-abad yang lalu, tepatnya di Madagaskar. Namun, bangsa Indialah yang pertama kali menggunakan asam sebagai salah satu tanaman produktif (Astawan, Made. 2009). Dari India dan Thailand tanaman asam menyebar ke Malaysia dan Laos. Selanjutnya, meluas mulai dari daerah tropis, subtropis, semiarid, sampai ke daerah monsoon yang bermusim kemarau panjang. Di Amerika, tanaman asam dikembangkan di Meksiko (Rukmana, Rahmat. 2005).

Morfologi

taksonomi
Kingdom Divisi Subdivisi Kelas Ordo Famili Subfamili Genus Spesies : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Leguminosales : Leguminoceae (Fabaceae) : Caesalpinioideae : Tamarindus : Tamarindus indica L.

Hasil Maserasi Kulit Asam Jawa


Pelarut Warna filtrat Warna ekstrak pekat

Kloroform

Hijau lumut

Hijau lumut

Etil asetat

Hijau lumut

Hijau lumut

Etanol

Hijau kehitaman

Hijau kehitaman

Metanol

Hijau kekuningan

Hijau kekuningan

Hasil Uji Fitokimia

Senyawa kuinon dalam ekstrak butanol

Senyawa steroid dalam ekstrak kloroform

Reaksi Flavonoid dengan larutan HCl dan Serbuk Mg

Reaksi Saponin

Hasil Antioksidan
Ekstrak Kloroform
Kadar (ppm)
50 100 200 400

Ekstrak Etanol
Kadar (ppm)
10

Absorbansi % Inhibisi
0.26 0.2445 0.2085 0.2425 19.003

Absorbansi

% Inhibisi

0.3515

29.3

23.831 35.046 24.43 20 0.271 45.47

40

0.207

58.35

800 1600

0.11 0.0815

64.79 74.61
50 0.1255 74.748

Grafik Uji Aktifitas DPPH Ekstrak Kloroform


90 80 70 60 % inhibisi 50 40 30 20 10 0 0 500 1000 kadar (ppm) 1500 2000 %inhibisi Linear (%inhibisi) y = 0.0357x + 23.844 R = 0.8923

Massa inkubasi 10 menit Absorbansi blanko = 0.321 Y = 0,0357x + 23.844 IC50 50 = 0,0357x + 23,844 X = 732,66

Grafik Uji Aktifitas DPPH ekstrak Etanol


80

70
60 % inhibisi 50 40 30 20

y = 1.0378x + 20.834 R = 0.9652

%inhibisi Linear (%inhibisi)

10
0 0 10 20 30 Kadar (ppm) 40 50 60

Masa Inkubasi = 10 menit Blanko (2ml methanol dan 2 ml DPPH) = 0.497 Panjang Gelombang = 518 nm Y= 1.0378x + 20,834 IC50 50 = 1.0378x + 20.834 X = 28.103

Uji Toksisitas
% mortalitas Konsentrasi (ppm) Jentik Nyamuk Lele

10
100 200

20
46.428 55.172

40 -

500 1000

79.310 90.909

100 100

Grafik uji toksisitas menggunakan lele


120 100 80 60 40 20 0 0 200 400 600 konsentrasi (ppm) 800 1000 1200 Series1 Linear (Series1) y = 0.0639x + 45.902 R = 0.6926

y = 0,063x + 45,90 50 = 0,063 x + 45,90 X = 747,75 ppm X = Lc50

% mortalitas

Grafik uji toksisitas menggunakan jentik nyamuk


100000 90000 80000 70000 60000 50000 40000 30000 20000 10000 0 0 200 400 600 konsentrasi (ppm) 800 1000 1200

% mortalitas

Series1

y = 0,0656 x + 32,75 50 = 0,0656 x + 32,75 x = 262,957 ppm X = Lc50

Uji kromatografi lapis tipis


Fasa Diam Fasa Gerak Nilai Rf 0.375 metanol-etil asetat (1:1) 0.25 0,24 0,383

Plat Silika
kloroform-metanol (1:5) kloroform-metanolair (8:1,2:0,2)

Pola Kromatogram

Metanol-etil asetat (1:1)

Kloroform-metanol (1:5)

Kloroform-metanolair (8:1,2:0,2)

Hasil Pengukuran Rata- Rata Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Kulit Asam Jawa (Tamarindus Indica L.) Terhadap Staphylococcus Aureus, Escherichia Coli
Rata- rata diameter zona hambat pertumbuhan bakteri (mm) Konsentrasi E. Coli 25% 50% 75% 8 10 12 S. Aureus 8 4,5 12

100%
Kontrol (+) Kontrol (-)

14
30 0

14
23,6 0

Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Terhadap Staphylococcus Aureus

Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Terhadap Escherichia Coli

Zona hambat terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.

14 12 10 8 E. Coli 6 4 2 0 25% 50% 75% S. Aureus

100%

Diameter kontrol positip


23.8

Diameter Zona Hambat (mm)

Diameter Zona Hambat Bakteri Uji Terhadap Kloramfenikol

23.6 23.4 23.2 23 22.8 22.6 22.4 22.2 22 S. Aureus E. Coli Bakteri uji

kesimpulan
a. Kulit asam jawa dapat diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi, dan sokletasi.

b.

Uji fitokimia kulit asam jawa dengan sampel hasil maserasi mengandung senyawa steroid dengan menggunakan pelarut kloroform, steroid dengan pelarut etil asetat, flavonoid dan kuinon dengan pelarut etanol, serta kuinon dengan pelarut butanol. Sedangkan hasil uji fitokimia kulit asam jawa sampel kering menghasilkan senyawa saponin dan flavonoid. c. Nilai IC50 pada uji antioksidan kulit asam jawa hasil ekstraksi menggunakan pelarut kloroform didapatkan sebesar 747,428 ppm. Sedangkan menggunakan pelarut etanol didapatkan nilai IC50 sebesar 28,103 ppm. Sehingga pelarut yang lebih baik digunakan untuk mengekstrak senyawa yang terdapat pada kulit asam jawa adalah etanol. d. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak menyebabkan semakin tinggi jumlah kematian jentik nyamuk. Dari hasil analisis probit didapatkan harga LC50 ekstrak etanol kulit asam jawa adalah sebesar 262,957 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit asam jawa memiliki potensi toksisitas akut dan bioaktif yang tinggi. e. Hasil Uji aktifitas antibakteri ini menunjukkan semakin tinggi konsentrasi ekstrak, maka semakin tinggi zona hambatnya terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. f. Berbagai jenis eluen menunjukkan pola kromatogram yang hampir sama, namun berbeda dalam hal intensitas dan ukuran bercak. Namun, eluen yang paling bagus untuk ekstrak kulit asam jawa adalah eluen metanol-etil asetat (1:1) didapatkan 2 spot dengan masing-masing nilai Rf nya sebesar 0.375 dan 0.25.