Anda di halaman 1dari 6

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Pendahuluan Lesi vaskular di susunan saraf bisa berarti lesi di otak dan batang otak di satu pihak dan lesi di medula spinalis di pihak lain. Penyakit-penyakit dengan lesi vaskular di otak dikenal sebagai penyakit serebrovaskular atau disingkat dengan CVD (cerebral vascular disease). Penyakit serebrovaskuler atau stroke yang menyerang kelompok usia diatas 40 tahun adalah setiap kelainan otak akibat proses patologi pada sistem pembuluh darah otak.(Misbach, 2009) Proses ini dapat berupa penyumbatan lumen pembuluh darah otak oleh trombosis atau emboli, pecahnya dinding pembuluh darah otak, perubahan permeabilitas dinding pembuluh darah dan perubahan viskositas maupun kualitas darah sendiri.(Tandian, 2011) Stroke sudah dikenal sejak dulu kala, bahkan sebelum zaman Hippocrates. Kala itu, belum ada istilah stroke. Hipocrates menyebutnya dalam bahasa Yunani: Apopleksi, yang artinya tertubruk oleh pengabaian. Sampai saat ini, stroke masih merupakan salah satu penyakit saraf yang paling banyak menarik perhatian.

B. Latar Belakang Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan untuk mencapai kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan upaya pengelolaan berbagai sumber daya pemerintah maupun masyarakat sehingga dapat disediakan sarana kesehatan yang berkesinambungan, efektif, efisien, bermutu dan terjangkau. Sarana kesehatan perlu didukung komitmen dan semangat yang tinggi dengan prioritas terhadap upaya kesehatan dengan pendekatan peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan kesehatan (preventif), penyembuhan (kuratif), dan pemulihan (rehabilitatif). (SK Menkes No.778, 2008). Fisioterapi adalah salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukkan kepada individu atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutis dan mekanis), pelatihan fungsi dan komunikasi. (SK Menkes No.376, 2007). Stroke adalah salah satu gangguan pada jaringan otak akibat kelainan kardivaskular. Kelainan ini dapat disebabkan kondisi iskemik ataupun perdarahan.

Stroke iskemik terjadi sekunder akibat oklusi arteri pada 80% kasus. Sebagian besar oklusi arteri akibat trombo embolisme. Istilah trombo embolisme menggambarkan oklusi sekunder dari sumbatan dalam arteri. Pada sisi yang lain, otak dapat pula mengalami stroke perdarahan atau yang disebut stroke hemmoragik. Perdarahan intraserebral spontan bukan akibat trauma. Hematoma intraserebral non trauma adalah perdarahan ke dalam parenkim otak yang bisa meluas ke dalam ventrikel dan pada kasus yang jarang ke ruang subaraknoid.(Tandian,2011) Stroke adalah penyebab kematian tersering ketiga pada orang dewasa di Amerika Serikat. Angka kematian setiap tahun akibat stroke baru atau rekuren adalah lebih dari 200.000. Insiden stroke secara nasional diperkirakan adalah 750.000 pertahun dengan 200.000 merupakan stroke rekuren. (Price,2006) Stroke selain penyebab kematian juga merupakan penyebab kecacatan utama pada orang dewasa. Empat orang Amerika mengalami defisit neuroligik akibat stroke, dua pertiga dari defisit ini bersifat sedang sampai parah. Kemungkinan meninggal akibat stroke adalah sekitar 30% sampai 35% dan kemungkinan kecacatan mayor pada yang selamat adalah 35% samapai 40%.(Price, 2006) Setiap tahun tidak kurang 37.000 sampai 52.400 orang di Amerika menderita stroke perdarahan. Insiden tersebut diperkirakan meningkat dua kali lipat selama 50 tahun mendatang karena perubahan penyebaran ras. Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun terjadi 500.000 penduduk terkena

serangan stroke, sekitar 2,5 % atau 125.000 orang meninggal, dan sisanya cacat ringan maupun berat. (Tandian, 2011). Evaluasi database mortalitas World Health Organization

mengisyaratkan bahwa faktor utama yang berkaitan dengan epidemi penyakit kardiovaskular adalah perubahan global dalam gizi dan merokok, ditambah urbanisasi dan menuanya populasi.(Price,2006) Banyak penderita yang menjadi cacat, menjadi invalid, tidak mampu lagi mencari nafkah seperti sediakala, menjadi tergantung pada orang lain, dan tidak jarang yang menjadi beban keluarganya (Lumbantobing, 2012). Penanggulangan penderita stroke hendaknya dilakukan secara

komprehensif oleh suatu tim, diantaranya adalah fisioterapi yang akan memberikan penanganan untuk mengajarkan kembali gerak dan fungsi pada penderita stroke. Modalitas fisioterapi untuk penanganan stroke yaitu dengan terapi latihan dan stimulasi elektrik dengan menggunakan TENS (Transcutaneous electrical nerve stimulation). Terapi latihan merupakan suatu upaya pengobatan/penanganan fisioterapi dengan menggunakan latihan-latihan gerakan tubuh baik secara aktif maupun pasif. Sedangkan stimulasi elektrik merupakan modalitas yang dipakai oleh fisioterapi untuk mengontrol fungsi motorik pada pasien monoparese dan memfasilitasi otot-otot yang mengalami kelemahan.

C. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka penulis dapat merumuskan pokok permasalahan antara lain : 1. Apakah terapi latihan dan TENS dapat bermanfaat dalam meningkatkan lingkup gerak sendi dan kekuatan otot pada pasien monoparese paska stroke hemoragik? 2. Apakah terapi latihan dapat bermanfaat meningkatkan kemampuan fungsional pada pasien monoparese paska stroke hemoragik? D. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah : 1. Untuk mengetahui manfaat terapi latihan dalam meningkatkan lingkup gerak sendi dan kekuatan otot pada pasien monoparese paska stroke hemoragik. 2. Untuk mengetahui manfaat TENS dalam meningkatkan lingkup gerak sendi pada pasien monoparese paska stroke hemoragik. 3. Untuk mengetahui manfaat terapi latihan dalam meningkatkan

kemampuan fungsional pada pasien monoparese paska stroke hemoragik.

E. Manfaat Penulisan Dalam penulisan ini penulis berharap akan bermanfaat bagi : 1. Bagi penulis Mengetahui manfaat yang dihasilkan modalitas terapi latihan dan TENS dalam meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan lingkup gerak sendi pada pasien monoparese paska stroke hemoragik.. 2. Bagi intitusi pendidikan Untuk dapat menambah wawasan dalam pemberian intervensi fisioterapi dalam memilih modalitas yang paling efektif untuk meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan lingkup gerak sendi pada pasien monoparese paska stroke hemoragik. 3. Bagi masyarakat Hasil penelitian di harapkan dapat memberikan informasi bagi masyarakat tentang stroke. 4. Bagi ilmu pengetahuan dan teknologi Ikut serta dalam menambah wacana ilmu pengetahuan khususnya mengenai tentang panatalaksanaan terapi latihan dan TENS paska stroke.