Anda di halaman 1dari 19

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA Dr. Encep Syarief Nurdin, M.Pd., M.Si.

Ideologi di negara-negara yang baru merdeka dan sedang berkembang, menurut Prof. W. Howard Wriggins, berfungsi sebagai sesuatu yang confirm and deepen the identity of their people (sesuatu yang memperkuat dan memperdalam identitas rakyatnya). amun, ideologi di negara-negara tersebut, menurutnya, sekedar alat bagi re!im-re!im yang baru berkuasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Ideologi iala" alat untuk mendefinisikan akti#itas politik yang berkuasa, atau untuk men$alankan suatu politik cultural management, suatu musli"at mana$emen budaya (%bdulgani, &'(') *+). ,le" sebab itu, kita akan menemukan beberapa penyimpangan para pelaksana ideologi di dalam ke"idupan di setiap negara. Implikasinya ideologi memiliki fungsi penting untuk penegas identitas bangsa atau untuk men-iptakan rasa kebersamaan sebagai satu bangsa. amun di sisi lain, ideologi rentan disala"gunakan ole" elit penguasa untuk melanggengkan kekuasaan. Ideologi itu, menurut ,esman dan %lfian (&''+) .), berintikan serangkaian nilai (norma) atau sistem nilai dasar yang bersifat menyeluru" dan mendalam yang dimiliki dan dipegang ole" suatu masyarakat atau bangsa sebagai wawasan atau pandangan "idup bangsa mereka. Ideologi merupakan kerangka penyelenggaraan negara untuk mewu$udkan -ita--ita bangsa. Ideologi bangsa adala" -ara pandang suatu bangsa dalam menyelenggarakan negaranya. Ideologi adala" suatu sistem nilai yang terdiri atas nilai dasar yang men$adi -ita--ita dan nilai instrumental yang berfungsi sebagai metode atau -ara mewu$udkan -ita--ita tersebut. /enurut %lfian (&''+) kekuatan ideologi tergantung pada kualitas tiga dimensi yang terkandung di dalam dirinya.

Pertama, adala" dimensi realita, ba"wa nilai-nilai dasar yang terkandung dalam ideologi itu se-ara riil berakar dan "idup dalam masyarakat atau bangsanya, terutama karena nilainilai dasar tersebut bersumber dari budaya dan pengalaman se$ara"nya. 0edua, dimensi idealisme, ba"wa nilai-nilai dasar ideologi tersebut mengandung idealisme, bukan lambungan angan-angan, yang memberi "arapan tentang masa depan yang lebi" baik melalui perwu$udan atau pengalamannya dalam praktik ke"idupan bersama mereka se"ari-"ari dengan berbagai dimensinya. 0etiga, dimensi fleksibilitas atau dimensi pengembangan, ba"wa ideologi tersebut memiliki keluwesan yang memungkinkan dan ba"kan merangsang pengembangan pemikiran-pemikiran baru yang rele#an tentang dirinya, tanpa meng"ilangkan atau mengingkari "akikat atau $ati diri yang terkandung dalam nilai-nilai dasarnya (,esman dan %lfian, &''+) (-1). 2elain itu, menurut 2oer$anto Poespowardo$o (&''+), ideologi mempunyai beberapa fungsi, yaitu memberikan) &. 2truktur kognitif, yaitu keseluru"an pengeta"uan yang didapat merupakan landasan untuk mema"ami dan menafsirkan dunia dan ke$adian-ke$adian dalam alam sekitranya. *. ,rientasi dasar dengan membuka wawasan yang memberikan makna serta menun$ukkan tu$uan dalam ke"idupan manusia. 3. orma-norma yang men$adi pedoman dan pegangan bagi seseorang untuk melangka" dan betindak. 4. 5ekal dan $alan bagi seseorang untuk menemukan identitasnya. 6. 0ekuatan yang mampu menyemangati dan mendorong seseorang untuk men$alankan kegiatan dan men-apai tu$uannya.

.. Pendidikan bagi seseorang atau masyarakat untuk mema"ami, meng"ayati serta memolakan tingka" lakunya sesuai dengan orientasi dan norma-norma yang terkandung di dalamnya (,esman dan %lfian, &''+) 41). 7alam konteks Indonesia, Per"impunan Indonesia (PI) yang dipimpin ole" 7rs. /o". Hatta (&'*.-&'3&) di 5elanda, se$ak &'*4 mulai merumuskan konsepsi ideologi politiknya, ba"wa tu$uan kemerdekaan politik "arusla" didasarkan pada empat prinsip) persatuan nasional, solidaritas, non-kooperasi dan kemandirian (self-help) (8atif, *+&&) 6). 2ekitar ta"un yang sama, 9an /alaka mulai menulis buku Naar de Republiek ndonesia (/enu$u :epublik Indonesia). 7ia per-aya ba"wa pa"am kedaulatan rakyat memiliki akar yang kuat dalam tradisi masyarakat usantara. 0eterlibatannya dengan organisasi komunis internasional tidak melupakan kepekaannya untuk memper"itungkan kenyataan-kenyataan nasional dengan kesediaannya untuk men$alin ker$asama dengan unsur-unsur re#olusioner lainnya. 7ia perna" mengusulkan kepada 0omintern (0omunisme Internasional) agar komunisme di Indonesia "arus beker$asama dengan Pan-Islamisme karena, menurutnya, kekuatan Islam di Indonesia tidak bisa diabaikan begitu sa$a. Hampir bersamaan dengan itu, 9$okroaminoto mulai mengidealisasikan suatu sintesis antara Islam, sosialisme dan demokrasi (8atif, *+&&) .). 2oepomo, dalam sidang 5P;P0I pada tanggal 3& /ei &'46, memberikan tiga pili"an ideologi, yaitu) (&) pa"am ind#idualisme, (*) pa"am kolekti#isme dan (3) pa"am integralistik. 5eliau dengan sangat meyakinkan menolak pa"am indi#idualisme dan kolekti#isme, dan menyarankan pa"am integralistik yang dinilai sesuai dengan semangat kekeluargaan yang berkembang di pedesaan. Pa"am integralistik merupakan kerangka konseptual makro dari apa yang suda" men$iwai rakyat kita di kesatuan masyarakat yang

ke-il-ke-il itu (/oerdiono dalam ,esman dan %lfian (ed), &''+) 4+). Pan-asila sebagai ideologi Indonesia mempunyai a$arana$aran yang memang mengandung nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi lain. %$aran yang dikandung Pan-asila ba"kan dipu$i ole" seorang filsuf Inggris, 5ertrand :ussel, yang menyatakan ba"wa Pan-asila sebagai sintesis kreatif antara Declaration of !merican ndependence (yang merepresentasikan ideologi demokrasi kapitalis) dengan /anifesto 0omunis (yang mereprensentasikan ideologi komunis). 8ebi" dari itu, seorang a"li se$ara", :utgers, mengatakan, 7ari semua negara-negara %sia 9enggara, Indonesia-la" yang dalam 0onstitusinya, pertama-tama dan paling tegas melakukan latar belakang psikologis yang sesunggu"nya daripada re#olusi melawan pen$a$a". 7alam filsafat negaranya, yaitu Pan-asila, dilukiskannya alasan-alasan se-ara lebi" mendalam dari re#olusi-re#olusi itu (8atif, *+&&) 4(). 7ari pendapat tersebut, Indonesia pun perna" merasakan berkembangnya nilai-nilai ideologi-ideologi besar dunia berkembang dalam gerak tubu" pemerinta"annya.
A. Pancasila dan Liberalisme

Periode &'6+-&'6' disebut periode pemerinta"an demokrasi liberal. 2istem parlementer dengan banyak partai politik memberi nuansa baru sebagaimana ter$adi di dunia 5arat. 0etidakpuasan dan gerakan kedaera"an -ukup kuat pada periode ini, seperti P::I dan Permesta pada ta"un &'6( (5our-"ier dalam 7odo dan <nda" (ed), *+&+) 4+). 0eadaan tersebut mengakibatkan peruba"an yang begitu signifikan dalam ke"idupan bernegara. Pada &'6+-&'.+ partai-partai Islam sebagai "asil pemili"an umum &'66 mun-ul sebagai kekuatan Islam, yaitu /asyumi, ; dan P2II, yang sebenarnya merupakan kekuatan Islam di Parlemen tetapi tidak dimanfaatkan dalam bentuk koalisi. /eski P0I menduduki empat besar dalam Pemilu &'66, tetapi se-ara ideologis belum merapat pada pemerinta".

/engenai Pan-asila itu dalam posisi yang tidak ada peruba"an, artinya Pan-asila adala" dasar negara :epublik Indonesia meski dengan konstitusi &'6+ (=eit" dalam 7odo dan <nda" (ed.), *+&+) 4+). Indonesia tidak menerima liberalisme dikarenakan indi#idualisme 5arat yang mengutamakan kebebasan mak"luknya, sedangkan pa"am integralistik yang kita anut memandang manusia sebagai indi#idu dan sekaligus $uga mak"luk sosial (%lfian dalam ,esman dan %lfian, &''+) *+&). egara demokrasi model 5arat la!imnya bersifat sekuler, dan "al ini tidak dike"endaki ole" segenap elemen bangsa Indonesia (0aelan, *+&*) *64). Hal tersebut diperkuat dengan pendapat 0aelan yang menyebutkan ba"wa negara liberal memberi kebebasan kepada warganya untuk memeluk agama dan men$alankan ibada" sesuai dengan agamanya masingmasing. amun dalam negara liberal diberikan kebebasan untuk tidak per-aya ter"adap 9u"an atau at"eis, ba"kan negara liberal memberi kebebasan warganya untuk menilai dan mengkritik agama. 5erdasarkan pandangan tersebut, "ampir dapat dipastikan ba"wa sistem negara liberal membedakan dan memisa"kan antara negara dan agama atau bersifat sekuler (0aelan, *+++) *3&). 5erbeda dengan Pan-asila, dengan rumusan 0etu"anan >ang /a"a <sa tela" memberikan sifat yang k"as kepada negara Indonesia, yaitu bukan merupakan negara sekuler yang memisa"-misa"kan agama dengan negara (0aelan, *+++) **+). 9entang ra"asia negara-negara liberal, 2oer$ono Poespowardo$o mengatakan ba"wa kekuatan liberalisme terletak dalam menampilkan indi#idu yang memiliki martabat transenden dan bermodalkan kebendaan pribadi. 2edangkan kelema"annya terletak dalam pengingkaran ter"adap dimensi sosialnya se"ingga tersingkir tanggung $awab pribadi ter"adap kepentingan umum (2oeprapto dalam urdin, *++*) 4+-4&). 0arena alasan-alasan seperti itula" antara lain kenapa Indonesia tidak -o-ok menggunakan ideologi liberalisme.

B. Pancasila dan Komunisme

7alam periode &'46-&'6+ kedudukan Pan-asila sebagai dasar negara suda" kuat. amun, ada berbagai faktor internal dan eksternal yang memberi nuansa tersendiri ter"adap kedudukan Pan-asila. =aktor eksternal mendorong bangsa Indonesia untuk menfokuskan diri ter"adap agresi asing apaka" pi"ak 2ekutu atau I?% yang merasa masi" memiliki Indonesia sebagai $a$a"annya. 7i pi"ak lain, ter$adi pergumulan yang se-ara internal suda" merongrong Pan-asila sebagai dasar negara, untuk diara"kan ke ideologi tertentu, yaitu gerakan 7I@9II yang akan menguba" :epublik Indonesia men$adi negara Islam dan Pemberontakan P0I yang ingin menguba" :I men$adi negara komunis (/arwati 7$oned Poesponegoro dan ugro"o otosusanto, &'1*@13 kemudian dikutip ole" Pranoto dalam 7odo dan <nda" (ed.), *+&+) 3'). Pada tanggal 6 Auli &'6', Presiden 2oekarno mengeluarkan 7ekrit Presiden untuk kembali ke ;;7 &'46, berarti kembali ke Pan-asila. Pada suatu kesempatan, 7r. Ao"anes 8eimena perna" mengatakan, 2ala" satu faktor lain yang selalu dipandang sebagai sumber krisis yang paling berba"aya adala" komunisme. 7alam situasi di mana kemiskinan memegang peranan dan dalam "al satu golongan sa$a menikmati kekayaan alam, komunisme dapat diterima dan mendapat tempat yang subur di tenga"-tenga" masyarakat. ,le" karena itu, menurut 7r. Ao"anes 8eimena, "arus ada usa"a-usa"a yang lebi" keras untuk meningkatkan kemakmuran di daera" pedesaan. ?ara lain untuk memberantas komunisme iala" mempela$ari dengan seksama a$aran-a$aran komunisme itu. /empela$ari a$aran itu agar tidak muda" di$ebak ole" rayuan-rayuan komunisme. 5agi orang 0risten, a$aran komunisme bisa menyesatkan karena bertentangan dengan a$aran 0ristus dan falsafa" Pan-asila (Pieris, *++4) *&*). 0omunisme tidak perna" diterima dalam ke"idupan masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan negara komunisme

la!imnya bersifat at"eis yang menolak agama dalam suatu egara. 2edangkan Indonesia sebagai negara yang berdasar atas 0etu"anan >ang /a"a <sa, merupakan pili"an kreatif dan merupakan proses elektis inkorporatif. %rtinya pili"an negara yang berdasar atas 0etu"anan >ang /a"a <sa adala" k"as dan nampaknya sesuai dengan kondisi ob$ektif bangsa Indonesia (0elan, *+&*) *64-*66). 2elain itu, ideologi komunis $uga tidak meng"ormati manusia sebagai mak"luk indi#idu. Prestasi dan "ak milik indi#idu tidak diakui. Ideologi komunis bersifat totaliter, karena tidak membuka pintu sedikit pun ter"adap alam pikiran lain. Ideologi sema-am ini bersifat otoriter dengan menuntut penganutnya bersikap dogmatis, suatu ideologi yang bersifat tertutup. 5erbeda dengan Pan-asila yang bersifat terbuka, Pan-asila memberikan kemungkinan dan ba"kan menuntut sikap kritis dan rasional. Pan-asila bersifat dinamis, yang mampu memberikan $awaban atas tantangan yang berbedabeda dalam !aman sekarang (Poespowardo$o, &'1') *+3-*+4). Pelarangan penyebaran ideologi komunis ditegaskan dalam 9ap /P: o. BBC@/P:2@&'.. tentang pembubaran P0I, pernyataan sebagai organisasi terlarang di seluru" wilaya" egara :epublik Indonesia bagi Partai 0omunis Indonesia dan larangan setiap kegiatan untuk menyebarkan atau mengembangkan fa"am atau a$aran komunisme@marDisme dan leninisme yang diperkuat dengan 9ap /P: o. IB@/P:@&'(1 dan 9ap /P: o CIII@/P:@&'13.
C. Pancasila dan Agama

Pan-asila yang di dalamnya terkandung dasar filsafat "ubungan negara dan agama merupakan karya besar bangsa Indonesia melalui "he #ounding #athers egara :epublik Indonesia. 0onsep pemikiran para pendiri negara yang tertuang dalam Pan-asila merupakan karya k"as yang se-ara antropologis merupakan local genius bangsa Indonesia (%yat"ro"aedi dalam 0aelan, *+&*). 5egitu pentingnya memantapkan kedudukan Pan-asila, maka Pan-asila pun

mengisyaratkan ba"wa kesadaran akan adanya 9u"an milik semua orang dan berbagai agama. 9u"an menurut terminologi Pan-asila adala" 9u"an >ang /a"a <sa, yang tak terbagi, yang maknanya se$alan dengan agama Islam, 0risten, 5ud"a, Hindu dan ba"kan $uga %nimisme (?"aidar, &''1) 3.). /enurut otonegoro (dalam 0aelan, *+&*) 4(), asal mula Pan-asila se-ara langsung sala" satunya asal mula ba"an ($ausa Materialis) yang menyatakan ba"wa bangsa Indonesia adala" sebagai asal dari nilai-nilai Panasila, Eyang digali dari bangsa Indonesia yang berupa nilai-nilai adat-istiadat kebudayaan serta nilai-nilai religius yang terdapat dalam ke"idupan se"ari-"ari bangsa Indonesia. 2e$ak !aman purbakala "ingga pintu gerbang (kemerdekaan) negara Indonesia, masyarakat usantara tela" melewati ribuan ta"un pengaru" agama-agama lokal, (sekitar) &4 abad pengaru" Hinduisme dan 5ud"isme, (sekitar) ( abad pengaru" Islam, dan (sekitar) 4 abad pengaru" 0risten (8atif, *+&&) 6(). 7alam buku 2utasoma karangan <mpu 9antular di$umpai kalimat yang kemudian dikenal %hinneka "unggal ka. 2ebenarnya kalimat tersebut se-ara lengkap berbunyi %hinneka "unggal ka "an &anna Dharma Mangrua, artinya walaupun berbeda, satu $ua adanya, sebab tidak ada agama yang mempunyai tu$uan yang berbeda (Hartono, &''*) 6). 0uatnya fa"am keagamaan dalam formasi kebangsaan Indonesia membuat arus besar pendiri bangsa tidak dapat membayangkan ruang publik "ampa 9u"an. 2e$ak dekade &'*+-an, ketika Indonesia mulai dibayangkan sebagai komunitas politik bersama, mengatasi komunitas kultural dari ragam etnis dan agama, ide kebangsaan tidak terlepas dari 0etu"anan (8atif, *+&&) .(). 2e-ara lengkap pentingnya dasar 0etu"anan ketika dirumuskan ole" founding fathers negara kita dapat diba-a pada pidato Ir. 2oekarno pada & Auni &'46, ketika berbi-ara mengenai dasar negara (philosophische grondslag) yang menyatakan,

Prinsip 0etu"ananF 5ukan sa$a bangsa Indonesia ber-9u"an, tetapi masing-masing orang Indonesia "endaknya ber-9u"an. 9u"annya sendiri. >ang 0risten menyemba" 9u"an menurut petun$uk Isa %l /asi", yang Islam menurut petun$uk abi /u"ammad s.a.w, orang 5ud"a men$alankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. 9etapi marila" kita semuanya ber-9u"an. Hendaknya negara Indonesia iala" negara yang tiaptiap orangnya dapat menyemba" 9u"annya dengan leluasa. 2egenap rakyat "endaknya ber-9u"an. 2e-ara kebudayaan yakni dengan tiada egoisme agama. 7an "endaknya egara Indonesia satu negara yang ber-9u"an (Goel#a, *+&*). Pernyataan ini mengandung dua arti pokok. Pertama pengakuan akan eksistensi agama-agama di Indonesia yang, menurut Ir. 2oekarno, mendapat tempat yang sebaikbaiknya. 0edua, posisi negara ter"adap agama, Ir. 2oekarno menegaskan ba"wa negara kita akan ber-9u"an. 5a"kan dalam bagian ak"ir pidatonya, Ir. 2oekarno mengatakan, Hatiku akan berpesta raya, $ikalau saudara-saudara menyetu$ui ba"wa Indonesia berasaskan 0etu"anan >ang /a"a <sa. Hal ini rele#an dengan ayat (&) dan (*) Pasal *' ;;7 &'46 (%li, *++') &&1). Aelasla" ba"wa ada "ubungan antara sila 0etu"anan >ang /a"a <sa dalam Pan-asila dengan a$aran tau"id dalam teologi Islam. Aelasla" pula ba"wa sila pertama Pan-asila yang merupakan prima causa atau sebab pertama itu (meskipun istila" prima causa tidak selalu tepat, sebab 9u"an terusmenerus mengurus mak"luknya), se$alan dengan beberapa a$aran tau"id Islam, dalam "al ini a$aran tentang tauhidusshifat dan tauhidul-af'al, dalam pengertian ba"wa 9u"an itu <sa dalam sifat- ya dan perbuatan- ya. %$aran ini $uga

diterima ole" agama-agama lain di Indonesia (9"alib dan %wwas, &''') .3). Prinsip ke-9u"anan Ir. 2oekarno itu didapat dari - atau sekurang-kurangnya diil"ami ole" uraian-uraian dari para pemimpin Islam yang berbi-ara menda"ului Ir. 2oekarno dalam 5adan Penyelidik itu, dikuatkan dengan keterangan /o"amad :oem. Pemimpin /asyumi yang terkenal ini menerangkan ba"wa dalam 5adan Penyelidik itu Ir. 2oekarno merupakan pembi-ara terak"irH dan memba-a pidatonya orang mendapat kesan ba"wa pikiran-pikiran para anggota yang berbi-ara sebelumnya tela" ter-akup di dalam pidatonya itu, dan dengan sendirinya per"atian tertu$u kepada (pidato) yang terpenting. 0omentar :oem, Pidato penutup yang bersifat meng"impun pidato-pidato yang tela" diu-apkan sebelumnya (9"alib dan %wwas, &''') .3). Prinsip 0etu"anan >ang /a"a <sa mengandung makna ba"wa manusia Indonesia "arus mengabdi kepada satu 9u"an, yaitu 9u"an >ang /a"a <sa dan mengala"kan ilah-ilah atau 9u"an-9u"an lain yang bisa mempersekutukannya. 7alam ba"asa formal yang tela" disepakati bersama sebagai per$an$ian bangsa sama maknanya dengan kalimat 9iada 9u"an selain 9u"an >ang /a"a <sa. 7i mana pengertian arti kata 9u"an adala" sesuatu yang kita taati perinta"nya dan ke"endaknya. Prinsip dasar pengabdian adala" tidak bole" punya dua tuan, "anya satu tuannya, yaitu 9u"an >ang /a"a <sa. Aadi itula" yang men$adi misi utama tugas para pengemban risala" untuk menga$ak manusia mengabdi kepada satu 9uan, yaitu 9u"an >ang /a"a <sa (0itab ;langan .)4-6, /atius .)*4, 8ukas &.) &3, Iuran surat) %l /uJminun K*3L) *3 dan 3*) (/ulyantoro, *+&*). Pada saat kemerdekaan, sekularisme dan pemisa"an agama dari negara didefinisikan melalui Pan-asila. Ini penting untuk di-atat karena Pan-asila tidak memasukkan kata sekularisme yang se-ara $elas menyerukan untuk memisa"kan agama dan politik atau menegaskan ba"wa negara "arus tidak

memiliki agama. %kan tetapi, "al-"al tersebut terli"at dari fakta ba"wa Pan-asila tidak mengakui satu agama pun sebagai agama yang diistimewakan kedudukannya ole" negara dan dari komitmennya ter"adap masyarakat yang plural dan egaliter. amun, dengan "anya mengakui lima agama (sekarang men$adi . agama) Islam, 0risten 0atolik, 0risten Protestan, Hindu, 5ud"a dan 0ong"u-u) se-ara resmi, negara Indonesia membatasi pili"an identitas keagamaan yang bisa dimiliki ole" warga negara. Pandangan yang dominan ter"adap Pan-asila sebagai dasar negara Indonesia se-ara $elas menyebutkan tempat bagi orang yang menganut agama tersebut, tetapi tidak bagi mereka yang tidak menganutnya. Pema"aman ini $uga memasukkan kalangan sekuler yang menganut agama tersebut, tapi tidak memasukkan kalangan sekuler yang tidak menganutnya. 2eperti yang tela" ditelaa" /ad$id, meskipun Pan-asila berfungsi sebagai kerangka yang mengatur masyarakat di tingkat nasional maupun lokal, sebagai indi#idu orang Indonesia bisa dan ba"kan didorong untuk memiliki pandangan "idup personal yang berdasarkan agama (%naJim, *++() 43'). Magasan asas tunggal menimbulkan pro dan kontra selama tiga ta"un diundangkan dalam ;ndang-;ndang omor 1 ta"un &'16 tentang ,rganisasi 0emasyarakatan yang meng"aruskan mendaftar ulang bagi semua ,:/%2 dan sekaligus meng"aruskan semua ,:/%2 menerima asas tunggal yang diberi batas ak"ir sampai tanggal &( Auli &'1(. Molongan yang kontra bukan menolak Pan-asila dan ;;7 &'46, melainkan ada kek"awatiran ba"wa dengan meng"apuskan asas Islam, Pan-asila akan men$adi agama baru (/oesa, *++() &*3-&*4). 7alam perkembangannya, kyai yang tergabung dalam organisasi ; yang pertama kali menerima Pan-asila sebagai %sas 9unggal. 0H. %sJad 2yamsul %rifin menegaskan ba"wa sebagian besar kyai dan umat Islam Indonesia berpendapat ba"wa menerima Pan-asila "ukumnya wa$ib (/oesa, *++() &*4) .

7alam "ubungan antara agama Islam dan Pan-asila, keduanya dapat ber$alan saling menun$ang dan saling mengoko"kan. 0eduanya tidak bertentangan dan tidak bole" dipertentangkan. Auga tidak "arus dipili" sala" satu dengan sekaligus membuang dan menanggalkan yang lain. 2elan$utnya 0iai %-"amd 2iddiN menyatakan ba"wa sala" satu "ambatan utama bagi proporsionalisasi ini berwu$ud "ambatan psikologis, yaitu ke-urigaan dan kek"awatiran yang datang dari dua ara" (Gada dan 2$ad!ili (ed), *+&+) ('). Pan-asila men$amin umat beragama dalam men$alankan ibada"nya. 7alam kalimat /enteri %gama (&'13-&''3), H. /unawir 2$ad!ali menyatakan, 0ata-kata Onegara men$aminJ tidak dapat diartikan sekuler karena apabila demikian, negara atau pemerinta" "arus hands off dari segala pengaturan kebutu"an "ukum bagi para pemeluk agama@keper-ayaan ter"adap 9u"an >ang /a"a <sa. 7i negara sekuler Pemerinta" tidak akan mendirikan tempat-tempat ibada" (%"mad, &''.) '&+). %gama-agama dimandatkan ole" M5H &'11 ba"wa semua golongan beragama dan keper-ayaan ter"adap 9u"an >ang /a"a <sa se-ara terus-menerus dan bersama-sama meletakkan landasan moral, etika dan spiritual yang koko" bagi pembangunan nasional sebagai pengalaman Pan-asila (2oetarman, &''.) .4). 7alam konteks pelaksanaan mandat M5H ini (meskipun M5H se-ara formal suda" tidak berlaku tapi spirit "ubungan agama dan pembangunan masi" sesuai), maka agama-agama "arus mampu mengembangkan ker$a sama dalam rangka meng"adapi masala"-masala" yang di"adapi bersama (2oetarman, &''.) .6). Pan-asila dan agama dapat diaplikasikan seiring se$alan dan saling mendukung. %gama dapat mendorong aplikasi nilainilai Pan-asila, begitu pula Pan-asila memberikan ruang gerak

yang seluas-luasnya ter"adap usa"a-usa"a peningkatan pema"aman, peng"ayatan dan pengamalan agama (<ksan, *+++). %bdurra"man Wa"id (Musdur) pun men$elaskan ba"wa suda" tidak rele#an lagi untuk meli"at apaka" nilai-nilai dasar itu ditarik ole" Pan-asila dari agama-agama dan keper-ayaan ter"adap 9u"an >ang /a"a <sa, karena a$aran agama-agama $uga tetap men$adi referensi umum bagi Pan-asila, dan agamaagama "arus memper"itungkan eksistensi Pan-asila sebagai polisi lalu lintas yang akan men$amin semua pi"ak dapat menggunakan $alan raya ke"idupan bangsa tanpa terke-uali (,esman dan %lfian, &''+) &.(-&.1). /oral Pan-asila bersifat rasional, ob$ektif dan uni#ersal dalam arti berlaku bagi seluru" bangsa Indonesia. /oral Pan-asila $uga dapat disebut otonom karena nilai-nilainya tidak mendapat pengaru" dari luar "akikat manusia Indonesia, dan dapat dipertanggung$awabkan se-ara filosofis. 9idak dapat pula diletakkan adanya bantuan dari nilai-nilai agama, adat, dan budaya, karena se-ara de facto nilai-nilai Pan-asila berasal dari agama-agama serta budaya manusia Indonesia. Hanya sa$a nilai-nilai yang "idup tersebut tidak menentukan dasar-dasar Pan-asila, tetapi memberikan bantuan dan memperkuat (%ns"oriy, *++1) &((). 2e$alan dengan pendapat tersebut, Presiden 2usilo 5ambang >ud"oyono (25>) menyatakan dalam 2ambutan pada Peringatan Hari 0esaktian Pan-asila pada & ,ktober *++6. 5angsa kita adala" bangsa yang reli$iusH $uga, bangsa yang men$un$ung tinggi, meng"ormati dan mengamalkan a$aran agama masing-masing. 0arena itu, setiap umat beragama "endaknya mema"ami falsafa" Pan-asila itu se$alan dengan nilai-nilai a$aran agamanya masing-masing. 7engan demikian, kita akan menempatkan falsafa" negara di posisinya yang wa$ar. 2aya berkeyakinan dengan sedalamdalamnya ba"wa lima sila di dalam Pan-asila itu

selaras dengan a$aran agama-agama yang "idup dan berkembang di tana" air. 7engan demikian, kita dapat meng"indari adanya perasaan kesen$angan antara meyakini dan mengamalkan a$aran-a$aran agama, serta untuk menerima Pan-asila sebagai falsafa" negara (>ud"oyono dalam Wildan (ed.), *+&+) &(*). 7engan penerimaan Pan-asila ole" "ampir seluru" kekuatan bangsa, sebenarnya tidak ada alasan lagi untuk mempertentangkan nilai-nilai Pan-asila dengan agama mana pun di Indonesia. Penerimaan sadar ini memerlukan waktu lama tidak kurang dari 4+ ta"un dalam per"itungan /aarif, sebua" pergulatan sengit yang tela" menguras energi kita sebagai bangsa. 2ebagai bua" dari pergumulan pan$ang itu, sekarang se-ara teoretik dari kelima nilai Pan-asila tidak satu pun lagi yang dianggap berlawanan dengan agama. 2ila pertama berupa 0etu"anan >ang /a"a <sa dikun-i ole" sila kelima 0eadilan sosial bagi seluru" rakyat Indonesia, dari sudut pema"aman saya sebagai seorang /uslim, se$alan dan senyawa dengan doktrin tau"id yang menuntut tegaknya keadilan di muka bumi (/aarif, *+&*). 0aelan (dalam Wa"yudi (ed.), *++') *43-*4.) memetakan persoalan yang menyangkut "ubungan agama dengan Pan-asila, yang dikelompokkan dalam tiga ta"ap, yaitu) Pertama, ter$adi ketika kaum nasionalis menga$ukan Pan-asila sebagai dasar filsafat negara men$elang kemerdekaan Indonesia. Para toko" pendiri negara dari kelompok nasionalis Islam dan nasionalis terlibat perdebatan tentang dasar filsafat dan ideologi negara Indonesia yang akan didirikan kemudian. 0edua, respon umat Islam ter"adap Pan-asila tatkala pada ta"un &'(1 pemerinta" ,rde 5aru menga$ukan P-4 untuk disa"kan. 7alam "ubungan ini pada awalnya banyak toko"toko" Islam merasa keberatan, namun kemudian menerimanya.

0etiga, ketika ta"un &'16 pemerinta" menga$ukan Pan-asila sebagai asas tunggal bagi semua organsiasi politik dan kemasyarakatan di Indonesia. 0ebi$akan ini banyak mendapatkan tantangan dari umat Islam ba"kan terdapat beberapa ormas yang dibekukan karena asas tersebut. amun untuk menenga"i permasala"an tersebut, %bdurra"man Wa"id (,esman dan %lfian (ed), &''+) &.(-&.1) se-ara gamblang menyatakan ba"wa agama tetap men$adi referensi umum bagi Pan-asila, dan agama-agama "arus memper"itungkan eksistensi Pan-asila sebagai polisi lalu lintas yang men$amin semua pi"ak dapat menggunakan $alan raya ke"idupan bangsa tanpa terke-uali. 2e$alan dengan pendapat tersebut, toko" /asyumi, /u"ammad :oem, berpendapat ba"wa kita sepakat tentang dasar negara mengenai 0etu"anan >ang /a"a <sa, berarti ba"wa masing-masing per-aya kepada 9u"an menurut agamanya sendiri-sendiri, dengan kesadaran ba"wa bersama kita dapat mendirikan negara yang kuat sentosa karena esensi dari agama, iala" "idup berbakti, men$un$ung keadilan, -inta dan kasi" sayang ter"adap sesama mak"luk (:oem dan 2alim, &'(() &&.). 5ilamana dirin-i, maka "ubungan negara dengan agama menurut 0:I yang berdasarkan Pan-asila adala" sebagai berikut (0aelan, *+&*) *&6-*&.)) a. egara adala" berdasar atas 0etu"anan >ang /a"a <sa. b. 5angsa Indonesia adala" sebagai bangsa yang ber0etu"anan yang /a"a <sa. 0onsekuensinya setiap warga memiliki "ak asasi untuk memeluk dan men$alankan ibada" sesuai dengan agama masing-masing. -. 9idak ada tempat bagi at"eisme dan sekularisme karena "akikatnya manusia berkedudukan kodrat sebagai mak"luk 9u"an. d. 9idak ada tempat bagi pertentangan agama, golongan agama, antar dan inter pemeluk agama serta antar pemeluk agama.

e. 9idak ada tempat bagi pemaksaan agama karena ketakwaan itu bukan "asil peksaan bagi siapapun $uga. f. /emberikan toleransi ter"adap orang lain dalam men$alankan agama dalam negara. g. 2egala aspek dalam melaksanakan dan menyelenggatakan negara "arus sesuai dengan nilai-nilai 0etu"anan yang /a"a <sa terutama norma-norma Hukum positif maupun norma moral baik moral agama maupun moral para penyelenggara negara. ". egara pda "akikatnya adala" merupakan Eberkat ra"mat %lla" yang /a"a <sa. 5erdasarkan kesimpulan 0ongres Pan-asila (Wa"yudi (ed.), *++') 61), di$elaskan ba"wa bangsa Indonesia adala" bangsa yang religius. :eligiusitas bangsa Indonesia ini, se-ara filosofis merupakan nilai fundamental yang menegu"kan eksistensi negara Indonesia sebagai negara yang ber-0etu"anan >ang /a"a <sa. 0etu"anan >ang /a"a <sa merupakan dasar kero"anian bangsa dan men$adi penopang utama bagi persatuan dan kesatuan bangsa dalam rangka men$amin keutu"an 0:I. 0arena itu, agar ter$alin "ubungan selaras dan "armonis antara agama dan negara, maka negara sesuai dengan 7asar egara Pan-asila wa$ib memberikan perlindungan kepada agama-agama di Indonesia.
D. Penutu

:odee dkk (&''6) 64) menyatakan ba"wa "omogenitas kebudayaan adala" suatu kekuatan luar biasa yang beker$a atas nama identitas nasional. Pada paparan selan$utnya, se-ara implisit :odee menyatakan ba"wa identitas nasional akan berpengaru" ter"adap kestabilan negara. :ealitas negara dan bangsa Indonesia teramat "eterogen se-ara budaya, ba"kan paling "eterogen di dunia, lebi" dari itu merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. 0ondisi tersebut mensyaratkan "adirnya ideologi negara yang di"ayati dan diamalkan ole" seluru" komponen bangsa.

Implikasinya, fungsi ideologi negara bagi bangsa Indonesia amat penting dibandingkan dengan pentingnya ideologi bagi negara-negara lain terutama yang bangsanya "omogen. 5agi bangsa Indonesia, ideologi sebagai identitas nasional merupakan prasyarat kestabilan negara, karena bangsa Indonesia merupakan bangsa yang "eterogen. Hadirnya ideologi Pan-asila tersebut, paling tidak akan berfungsi untuk) &) menggambarkan -ita--ita bangsa, ke ara" mana bangsa ini akan bergerakH *) men-iptakan rasa kebersamaan dalam keluarga besar bangsa Indonesia sesuai dengan sesanti 5"inneka 9unggal IkaH dan 3) menggaira"kan seluru" komponen bangsa dalam mewu$udkan -ita--ita bangsa dan negara :epublik Indonesia. %da "a-"al yang amat penting dalam melaksanakan ideologi negara Pan-asila, agar ideologi tidak disala"gunakan terutama di$adikan alat untuk memperole" atau memperta"ankan kekuasaan ole" elit politik. /aka untuk itu, bangsa Indonesia "arus melaksanakan nilai-nilai instrumental ideologi Pan-asila yaitu taat asas ter"adap nilai-nilai dan ketentuan-ketentuan yang ada pada Pembukaan ;;7 &'46 dan Pasal-Pasal dalam ;;7 &'46.K L
Da!tar Pusta"a

%bdulgani, :oeslan, &'(', Pengembangan Pancasila di ndonesia, >ayasan Idayu, Aakarta. %"mad, %mrulla" dkk., &''., Dimensi &ukum slam Dalam Sistem &ukum Nasional, Mema Insani, 7epok. %li %sJad 2aid, *++', Negara Pancasila (alan $emaslahatan %erbangsa, Pustaka 8P3<2, Aakarta. %n- aJim, %bdulla"i %"med, *++(, slam dan Negara Sekular) Menegosiasikan Masa Depan Syariah, P9 /i!an Pustaka, 5andung. %ns"oriy, H/. asruddin, *++1, %angsa *agal) Mencari dentitas $ebangsaan, 80i2, >ogyakarta.

?"aidar, %l, &''1, Reformasi Prematur) (a+aban slam "erhadap Reformasi "otal, 7arul =ala", Aakarta. 7odo, 2urono dan <nda" (ed.), *+&+, $onsistensi Nilai-Nilai Pancasila dalam ,,D -./0 dan mplementasinya, P2P-Press, >ogyakarta. <ksan, /o-"., *+++, $iai $elana, 8ki2, >ogyakarta. Hartono, &''*, Pancasila Ditin1au dari Segi &istoris, P9 :ineka ?ipta, Aakarta. 0aelan, *+&*, Problem Epistemologis Empat Pilar %erbangsa dan %ernegara, Paradigma, >ogyakarta. PPPPP, *+++, Pendidikan Pancasila, Paradigma, >ogyakarta. PPPPP, dalam Pro-eeding 0ongres Pan-asila yang diselenggarakan di >ogtakarta pada tanggal 3+ /ei sampai & Auni *+&*. 8atif, >udi, *+&&, Negara Paripurna) &istorisitas, Rasionalitas dan !ktualitas Pancasila, P9 Mramedia Pustaka ;tama, Aakarta. /aarif, %"mad 2yafii. *+&*. 2trategi Pelembagaan ilaiilai Pan-asila dalam Perspektif %gama, 2osial dan 5udaya, /akala" pada 0ongres Pan-asila IC di ;M/ >ogyakarta tanggal 3& /ei-& Auli *+&*. /oesa, %li /as-"an, *++(, Nasionalisme $iai $onstruksi Sosial %erbasis !gama, 80i2, >ogyakarta. /ulyantoro, Heru. *+&*. Iuantum 8eap Pan-asila, /embangun Peradaban 5angsa dengan 0arakter 9u"an >ang /a"a <sa, /akala" pada 0ongres Pan-asila IC di ;M/ >ogyakarta tanggal 3& /ei-& Auni *+&*. urdin, <n-ep 2yarief, *++*, $onsep-$onsep Dasar deologi) Perbandingan deologi %esar Dunia, ?C /aulana, 5andung. ,esman, ,eto$o dan %lfian (<d.), &''+, Pancasila Sebagai deologi dalam %erbagai %idang $ehidupan %ermasyarakat, %erbangsa dan %ernegara, 5P-( Pusat, Aakarta.

Pieris, Ao"n, *++4, "ragedi Maluku) Sebuah $risis Peradaban!nalisis $ritis !spek) Politik, Ekonomi, Sosial-budaya dan $eamanan, >ayasan ,bor Indonesia, Aakarta. Poespowardo$o, 2oer$ono, &'1', #ilsafat Pancasila) Sebuah Pendekatan Sosio-%udaya, P9 Mramedia, Aakarta. :oem, /u"ammad dan %gus 2alim, &'((, $etuhanan 2ang Maha Esa dan 3ahirnya Pancasila, 5ulan 5intang, Aakarta. :odee, ?arlton ?lymer dkk., &''6, Pengantar lmu Politik, P9 :a$aMrafindo Persada, Aakarta. 2oetarman dkk., &''., #undamentalisme, !gama-!gama dan "eknologi, P9 5P0 Munung /ulia, Aakarta. 9"alib, /u"ammad dan Irfan 2 %wwas, &''', Doktrin 4ionisme dan diologi Pancasila, Menguak "abir Pemikiran Politik #ounding #athers Republik ndonesia, Wi"dag Press, >ogyakarta. Wa"yudi, %gus dkk. (ed.), *++', Proceeding) $ongres Pancasila, Pancasila dalam %erbagai Perspektif, 2ekretariat Aenderal dan 0epaniteraan dan /a"kama" 0onstitusi, Aakarta. Wildan, 7adan dkk. (ed.), *+&+, Perspektif Pemikiran S%2) Re5italisasi dan Reaktualisasi Nilai-Nilai !gama, Pendidikan dan Sosial %udaya, 2ekretariat egara :epublik Indonesia, Aakarta. Gada, 0"amami dan %. =awaid 2$ad!ili (<d.), *+&+, Nahdltul ,lama) Dinamika deologi dan Politik $enegaraan, P9. 0ompas /edia usantara, Aakarta. Goel#a, Hamdan, *+&*, Pelembagaan ilai-nilai Pan-asila dalam Perspektif 0e"idupan 5eragama, 2osial dan 5udaya /elalui Putusan /0, /akala" yang disa$ikan pada 0ongres Pan-asia IC di ;M/ >ogyakarta pada tanggal 3& /ei Q & Auni *+&*.