Anda di halaman 1dari 15

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Topik

PERAN SERTA KELUARGA DALAM MENCEGAH KEKAMBUHAN PASIEN GANGGUAN JIWA PASCA PERAWATAN DI RUMAH SAKIT

Sub Topik

gangguan jiwa Peran serta keluarga Cara mencegah kekambuhan pasca perawatan di rumah sakit

Waktu Hari / Tanggal Tempat Sasaran

: 45 menit : Rabu, 12 Maret 2014 : Poli klinik jiwa : Keluarga pasien

A. Tujuan 1. Tujuan Umum Setelah mengikuti pendidikan kesehatan, keluarga yang

berkunjung ke poli klinik jiwa RSUD Banyumas mampu melakukan perawatan dirumah untuk mencegah kekambuhan pasien pasca perawatan dirumah sakit. 2. Tujuan Khusus Setelah mengikuti pendidikan kesehatan selama 45 menit

digharapkan keluarga yang berkunjung ke poli klinik jiwa RSUD Banyumas mampu: a. Menjelaskan pengertian gangguan jiwa b. Menyebutkan peran serta keluarga dalam merawat pasien dirumah untuk mencegah kekambuhan pasien.

c. Menyebutkan cara mencegah kekambuhan pasien pasca perawatan dirumah sakit.

B. Metode Penyampaian Ceramah dan Tanya jawab

C. Media 1. LCD 2. Leaflet

D. Petugas 1. Moderator 2. Pemateri 3. Fasilitor : Retno Suci Wulandani : Alfian agustama : - Rini indrian - Aprilia Tri Sulistiyani 4. Observer : - Adi Kusuma Yudha

E. Materi 1. Gangguan jiwa 2. Peran serta keluarga 3. Cara mencegah kekambuhan pasien

F. Setting Tempat

P A

F O

Keterangan: F : Fasilitator P : Presentator M : Moderator A : Audience O : Observer G. Kegiatan Belajar Mengajar / Pendidikan Kesehatan Tahap Kegiatan Pengajar Memperkenalkan diri. Menjawab pertanyaan Penyajian (20 menit) Menjelaskan : a. Pengertian gangguan jiwa b. Peran serta keluarga c. Cara mencegah kekambuhan pasien Menanyakan tentang materimateri yang belum jelas Evaluasi (15 menit) Meminta peserta untuk menjelaskan pengertian gangguan jiwa Menjelaskan peran serta keluarga Menyebutkan cara mencegah kekambuhan pasien. Bertanya mengenai hal-hal yang belum jelas Menjawab Bahan dan alat sebagaimana atas di Memperhatikan LCD Leaflet Kegiatan Sasaran Pendahuluan (5 menit) Media & alat

Pengajaran

Penutup ( 5 menit)

Menutup pertemuan a. Memotivasi keluarga untuk mencegah kekambuhan pasien di rumah. b. Salam pamit meninggalkan ruangan. Menjawab Memperhatikan

H. Evaluasi a. Lisan Jelaskan pengertian gangguan jiwa Jawaban: Gangguan jiwa merupakan penyakit yang dialami oleh seseorang yang mempengaruhi emosi, pikiran atau tingkah laku mereka, diluar kepercayaan budaya dan kepribadian mereka, dan menimbulkan efek yang negative bagi kehidupan mereka atau kehidupan keluarga mereka Sebutkan peran serta keluarga Jawaban: - Bantu pasien untuk selalu berinteraksi dengan lingkungan Beri kegiatan yang positif untuk mengisi waktu pasien di rumah Jangan biarkan pasien menyendiri, libatkan pasien dalam kegiatan sehari-hari Memberi pujian jika pasien melakukan hal yang positif Jangan mengkritik pasien jika pasien melakukan kesalahan Menjauhkan pasien dari pengalaman atau keadaan yang menyebabkan penderita merasa tidak berdaya dan tidak berarti Sebutkan cara mencegah kekambuhan pasien dirumah Jawaban : Aktifitas teratur dan terjadwal Minum obat teratur sesuai aturan Control teratur Dukungan keluarga

Lampiran Materi A. GANGGUAN JIWA 1. Pengertian Menurut (Stuart & Sundeen, 1998) gangguan jiwa adalah gangguan yang mengenai satu atau lebih fungsi jiwa. Gangguan jiwa adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera). Gangguan jiwa ini menimbulkan keluarganya). Gangguan jiwa merupakan penyakit yang dialami oleh seseorang yang mempengaruhi emosi, pikiran atau tingkah laku mereka, diluar kepercayaan budaya dan kepribadian mereka, dan menimbulkan efek yang negative bagi kehidupan mereka atau kehidupan keluarga mereka. Dapat kita pahami bahwa gejala-gejala gangguan jiwa ialah hasil interaksi yang kompleks antara unsur somatik, psikologik, dan sosiobudaya. Gejalagejala inilah sebenarnya menandakan dekompensasi proses adaptasi dan terdapat terutama pada pemikiran, perasaan, dan perilaku (W.F. Maramis, 2005). Ciri-ciri orang yang mengalami gangguan jiwa menurut Kanfer dan Goldstein ( dalam Suliswati, 2005) adalah sebagai berikut: Pertama, hadirnya perasaan cemas (anxiety) dan perasaan tegang (tension) di dalam diri. Kedua, merasa tidak puas (dalam artian negative) terhadap perilaku diri sendiri. Ketiga, perhatian yang berlebihan terhadap problem yang dihadapinya. Keempat, ketidakmampuan untuk berfungsi secara efektif stress dan penderitaan bagi penderita (dan

didalam menghadapi problem. Penyebab Gangguan jiwa (psikopatologi) Proses terjadinya gangguan jiwa dapat digambarkan dalam fenomena model stres adaptasi sebagai berikut : (Stuart dan Sudeen, 1998) Gambar 1. Psikopatologi pada Gangguan Jiwa Faktor predisposisi

Bio

psiko

social

Stressor presipitasi Sifat asal Waktu jumlah

Penilaian terhadap stressor Kognitif afektif fisiologis perilaku 6ocial

Sumber-sumber koping Aset materi keyakinan (+) Kemampuan personal dukungan social

Mekanisme koping konstrukstif respon adaptif (sehat) destruktif respon maladiptif (sakit)

Faktor penyebab gangguan jiwa berdasarkan psikopatologi diatas dapat dibedakan menjadi 2 menurut (Stuart dan Sudeen, 1998) yaitu : 1. Faktor Predisposisi Faktor Somatogenik (fisik-biologis), terdiri dari : Nerokimia Nerofisiologi

Neroanatomi Tingkat kematangan dan perkembangan organic Faktor-faktor prenatal dan perinatal

2. Faktor psikologik ( psikogenik) Interaksi ibu anak Peranan ayah Persaingan antara saudara kandung Inteligensi hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat kehilangan yang mengakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu atau rasa salah Konsep dini : pengertian identitas diri sendiri lawan peranan yang tidak menentu Keterampilan, bakat dan kreativitas Pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya Tingkat perkembangan emosi

3. Faktor-faktor sosio-budaya (sosiogenik) Kestabilan keluarga Pola mengasuh anak Tingkat ekonomi Perumahan : perkotaan lawan pedesaan Masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka dan fasilitas

kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan yang tidak memadai

Pengaruh rasial dan keagamaan Nilai-nilai

4. Faktor presipitasi (faktor pencetus) Menurut Stuart dan Sundeen (1998) faktor Presipitasi yang mempengaruhi dalam kejiwaan seseorang yaitu ; Faktor stimulus dimana setiap individu mempersepsikan dirinya melawan tantangan, ancaman, atau tuntutan untuk koping. Masalah khusus tentang konsep diri disebabkan oleh setiap situasi dimana individu tidak mampu menyesuaikan. Stres Lingkungan yaitu Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku. Hilangnya bagian badan, tindakan operasi, proses patologi penyakit, perubahan struktur dan fungsi tubuh, proses tumbuh kembang, dan prosedur tindakan dan pengobatan. Sumber koping, sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor. 5. Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa Secara umum tanda dan gejala yang mungkin muncul pada gangguan jiwa menurut J Kozlak (dalam komarudin, 2009) meliputi : 1. Adanya perubahan kepribadian, 2. Proses pikir kacau (merasa asing atau ide-ide kebesaran), 3. Serangan depresi yang lama, apathi, ekstrem, 4. Asnsietas berlebihan, ketakutan, atau curiga, 5. Menarik diri dari lingkungan, merasa tidak punya teman, orientasi diri abnormal, 6. Menolak

masalah, resistensi, 7. Berpikir atau membicarakan bunuh diri, 8. Merasa ada keluhan fisik, perubahan pola makan dan tidur, 9. Marah atau permusuhan yang tidak proporsional, 10. Delusi, halusinasi, obat, alkohol, 12. Timbulnya 11.

Penyalahgunaan

ketidakmampuan

menyelesaikan masalah dan aktifitas sehari-hari. 6. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan Penatalaksanaan Medis a. Terapi Somatik Pengobatan penderita dengan gejala seperti gaduh, susah tidur, gelisah, agresif, delusi, halusinasi dapat diberikan dengan menggunakan antipsikotik dosis efektif besar seperti :

chlorphromazine 100 mg dalam bentuk oral/injeksi sesuai dengan keadaan klien. Dosis dapat dinaikan sesuai kebutuhan. Penderita dengan gangguan delusi menonjol, tidak ada gangguan tidur, tidak begitu gaduh, dapat diberikan trifluoferasine 5 mg 1-2 kali sehari atau stelazine 5 mg 1-3 kali sehari, merupakan obat penenang dengan daya kerja anti psikotik. b. Terapi Kejang Listrik Suatu pengobatan untuk menimbulkan kejang grand mal secara artificial dan melewatkan aliran listrik melalui elektrode yang dipasang pada satu atau dua temples. Terapi kejang listrik dapat diberikan kepada skizofrenia yang tidak mempan terhadap terapi

neuroleptika, oral dan injeksi. Dosis terapi kejang listrik yaitu 4-5 joule.

Penatalaksanaan Keperawatan a. Psikoterapi yaitu membantu klien mengidentifikasi mekanisme koping adaptif dalam mengatasi masalah yang dihadapi. b. Pendidikan Kesehatan pada keluarga yaitu membantu klien mengenal perilaku dan aspek positif, kekuatan dan kelemahan serta meningkatkan kemampuan dalam melakukan aktivitas yang positif. c. Terapi Lingkungan Yaitu termasuk menyiapkan keluarga agar memberikan lingkungan yang kondusif bagi perawatan klien. 2. DEFINISI KEKAMBUHAN a. Pengertian Adalah terulangnya tanda-tanda dan gejala gangguan jiwa seperti dulu bahkan bisa lebih parah (Razali, 1997).

b. Tanda-tanda Klien menolak minum obat secara teratur Klien tidak bisa tidur Klien mulai kelihatan bingung, mondar-mandir Klien mulai malas makan dan minum Klien mulai malas tidak mau bekerja atau bergaul Klien banyak diam dan jarang menjawab pertanyaan

c. Factor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan Factor penderita Tidak mau minum obat Kepribadian sebelum sakit Keterlibatan keluarga untuk control

Factor lingkungan Stress sosial atau kejadian yang mendadak Kondisi keluarga dengan emosi yang tinggi Factor pengobatan Kurangnya pengawasan keluarga

d. Peran serta keluarga Menurut (Shives, 1998) peran keluarga pada gangguan jiwa meliputi : Memberikan perhatian dan rasa kasih sayang serta penghargaan sosial kepada pasien. Mengawasi kebutuhan pasien dalam minum obat. Ketepatan minum obat Menjelaskan manfaat minum obat serta akibat jika lupa minum obat Beri pujian setelah minum obat

Bantu pasien untuk selalu berinteraksi dengan lingkungan Beri kegiatan yang positif untuk mengisi waktu pasien di rumah

Jangan biarkan pasien menyendiri, libatkan pasien dalam kegiatan sehari-hari

Memberi pujian jika pasien melakukan hal yang positif Jangan mengkritik pasien jika pasien melakukan kesalahan Menjauhkan pasien dari pengalaman atau keadaan yang

menyebabkan penderita merasa tidak berdaya dan tidak berarti Membawa pasien control rutin ke pelayanan kesehatan

e. Cara mencegah kekambuhan Aktifitas teratur dan terjadwal Perhatikan kegiatan sehari-hari pasien Jadwalkan kegiatan sehari-hari (menyapu,mengepel, menuci sendiri dll) Beri pujian jika berhasil Minum obat teratur sesuai aturan Perhatikan dosis, waktu dan cara minum obat Dorong pasien untuk minum obat secara mandiri Beri pujian jika pasien minum obat secara mandir

Control teratur Lakukan control secara teratur sebelum obat habis Dukungan keluarga Dukung pasien dalam segala aktifitas positif Beri semangat kepada pasien Dukung pasien untuk control teratur

f. Alasan pentingnya peran serta keluarga dalam mencegah kekambuhan : Keluarga adalah tempat individu membina hubungan belajar mengembangkan keyakinan,sikap dan perilaku

Perawatan kesehatan jiwa bukanlah tempat klien untuk seumur hidup Factor penyebab kekambuhan utama adalah keluarga yang tidak mengetahui cara menangani di rumah.

g. Aktivitas yang sesuai dilakukan di rumah : Terapi kerja, pekerjaan yang tidak membebani pasien Olahraga, membantu meningkatkan pasien bergaul Pergaulan, kegiatan sosial, keagamaan, kiliah,kursus, sekolah (Pedoman asuhan keperawatan jiwa, 2000)

DAFTAR PUSTAKA

Komarudin. 2009. Analisis Hubungan Antara Pengetahuan Keluarga Dalam Merawat Klien Isolasi Sosial Dengan Kemampuan Klien Bersosialisai Di Wilayah Kerja Puskesmas Nangkaan Kabupaten Bondowoso Jawa Timur. Tesis. Depok : Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia. (Tidak dipublikasikan) Maramis, W.F. (2005). Ilmu kedokteran jiwa. Edisi 9. Surabaya : Airlangga Razali, M.S dkk. (1997). Healt education and drug counseling for schizophrenia . Vol.4 No.3 .hal 187-189 Shives, LR (1998). Basic concept of psychiatric mental healt nursing.

Philadelphia Stuart, G.W., & Laraia M.T (1998). Principles and practice of psychiatric nursin g (8th ed), St. Louis: Mosby.Suliswati (2005). Konsep dasar

keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta : EGC Tim penyusun buku pedoman asuhan keperawatan jiwa 1. (2000). Keperawatan jiwa :teori dan tindakan keperawatan. Jakarta. Depkes RI

SATUAN ACARA PENDIDIKAN PERAN SERTA KELUARGA DALAM MENCEGAH KEKAMBUHAN PASIEN SKIZOFRENIA (GANGGUAN JIWA) PASCA PERAWATAN DI RUMAH SAKIT DI POLI KLINIK JIWA RSUD BANYUMAS

Disusun Oleh : 1. Adi Kusuma Yudha 2. Alfian Agustama 3. Aprilia Tri .S 4. Retno Suci Wulandanni 5. Rini Indrian

PROGRAM STUDY PROFESI NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO 2014