Anda di halaman 1dari 25

Makalah Persalinan kala II lama dan kala II memanjang

Oleh kelompok 1 : 1. Annisa Aprianti 2. Annisa Ul Ilmi 3. Marwani Destia Rizki

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES KEMENKES BENGKULU PRODY KEBIDANAN CURUP TH. 2013/2014

KATA PENGANTAR Puji dan Syukur penulis ucapkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang berjudul Persalinan kala II lama kala II memanjang tepat pada waktunya. Penulis menyadari bahwa di dalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Dosen Pembimbing dan semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca, atas kritik dan sarannya, penulis mengucapkan terimakasih.

Curup,

Februari 2014

Penulis

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR1 DAFTAR ISI....2 BAB IPENDAHULUAN A. Latar belakang....4 B. Tujuan.5 C. Manfaat...5 BAB IITINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian...6 B. Etiologi6 C. Gejala klinik ..9 D. Patofisiologi........6 E. Dampak Persalinan Lama Pada Ibu dan Janin.10 F. Penanganan13 G. Pengertian ..14 H. Etiologi 14 I. Gejala klinik ..14 J. Penatalaksanaan.15 BAB IIIPENUTUP A. Kesimpulan18 B. Saran..18 DAFTAR PUSTAKA 19

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Partus tak maju atau kala II lama adalah suatu persalinan dengan his yang adekuat yang tidak menunjukan kemajuan pada pembukaan servik. Turunnya kepala dan putaran paksi selama 2 jam terakhir. Persalinan pada prmitua bias any lebih lama. Menurut SDKI 2007, 53% ibu tidak mengalami komplikasi selama persalinan, persalinan lama sebesar 37%, perdarahan berlebihan sebesar 9% dan demam sebesar 7%, komplikasi kejang 2%, dan KPD lebih dari 6 jam 17%(depkes RI, 2007). Partus lama masih merupakan suatu masalah di Indonesia. Berdasar hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 2002-2003 dilaporkan bahwa dari seluruh persalinan, kejadian persalinan lama adalah sebesar 31%, perdarahan berlebihan terjadi pada 7% persalinan, dan angka kejadian infeksi sebesar 5%. Sementara ibu yang tidak mengalami komplikasi selama persalinan adalah sebesar 64%. Berdasarkan survei ini, maka pelayanan kesehatan ibu di Indonesia masih perlu peningkatan pelayanan dan harus dibenahi dengan berbagai pendekatan (Kusumawati, 2006). B. Rumusan Masalah -. Apa pengertian partus lama ? - Apa saja etiologi partus lama? -bagaimana gejala klinik partus lama ? -Bagaimana patofisiologi partus lama ? - Tindakan apa yang seharusnya dilakukan pada partus lama ?

C.Tujuan - Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan partus lama . -Untuk mengetahui penyebab,gejala dan patofisiologi partus lama . - Untuk mengetahui tindakan apa yang seharusnya dilakukan pada partus lama. D. Manfaat Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman bidan mengenai partus lama dalam hal pelaksanaan anamnesa, penegakan diagnosa,penatalaksanaan, monitoring, serta penanganan komplikasi.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian persalinan kala II lama Persalinan lama adalah dimana fase laten lebih dari 8 jam ,dan persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih bayi belum lahir. Persalinan kala II lama atau di sebut juga partus tak maju adalah suatu persalinan dengan his yang adekuat namun tidak menunjukkan kemajuan pada pembukaan servik, turunnya kepala dan putaran paksi selama 2 jam terakhir (Mochtar, 1998). Menurut Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH (1998), pengertian dari partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primigravida dan lebih dari 18 jam pada multigravida. Dilatasi serviks di kanan garis waspada persalinan fase aktif Menurut winkjosastro, 2002. Persalinan (partus) lama ditandai dengan fase laten lebih dari 8 jam, persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih tanpa kelahiran bayi, dan dilatasi serviks di kanan garis waspada pada partograf. Definisi (Menurut Prof. Dr. dr. Gulardi Hanifa Winkjosastro, SPOG, 2002. Buku PanduaPraktisPelayananKesehatanMaternaldanNeonatal) Partus lama adalah fase laten lebih dari 8 jam. Persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih, bayi belum lahir. Dilatasi serviks dikanan garis waspada persalinan fase aktif. Jadi, persalinan kala II lama adalah persalinan yang telah berlangsung selama 12 jam atau lebih bayi belum lahir,dan his adekuat namun tidak menunjukkan kemajuan pada pembukaan servik. 2.2 Etiologi Factor Ibu His tidak efisien (adekuat) Timbulnya his adalah indikasi mulainya persalinan, apabila his yang timbul sifatnya lemah, pendek, dan jarang maka akan mempengaruhi turunnya kepala dan pembukaan serviks atau yang sering disebut dengan inkoordinasi kontraksi otot rahim, dimana keadaan inkoordinasi kontraksi otot rahim ini dapat menyebabkan sulitnya kekuatan otot rahim untuk dapat meningkatkan pembukaan

atau pengusiran janin dari dalam rahim, pada akhirnya ibu akan mengalami partus lama karena tidak adanya kemajuan dalam persalinan. Faktor jalan lahir (pinggul sempit, kelainan serviks, vagina, tumor) Penyebab partus lama sebagian besar adalah karena panggul ibu yang terlalu sempit, atau gangguan penyakit pada tulang sehingga kepala bayi sulit untuk berdilatasi sewaktu persalinan. Faktor genetik, fisiologis, dan ingkungan termasuk gizi mempengaruhi perawakan seorang ibu. Perbaikan gizi dan kondisi kehidupan juga penting karena dapat membantu mencegah terhambatnya pertumbuhan. Selain itu servik yang terlalu kaku juga dapat berdampak pada lambannya kemajuan persalinan, karena akibat servik yang kaku akan menghambat proses penipisan portio yang nantinya akan berdampak pada lamanya pembukaan. Adanya tumor juga sangat berpengaruh terhadap proses lamanya persalinan. Jika terjadi tumor di organ reproduksi khususnya pada jalan lahir tentunya akan menghalangi proses lahirnya bayi yang kemungkinan besar akan mengakibatkan partus lama. Usia Jika dilihat dari sisi biologis manusia 20 - 35 merupakan tahun terbaik wanita untuk hamil karena selain di usia ini kematangan organ reproduksi dan hormon telah bekerja dengan baik juga belum ada penyakit-penyakit degenerative seperti hipertensi, diabetes, serta daya tahan tubuh masih kuat. Tidak semua ibu dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun dipastikan mengalami partus lama, akan tetapi pada sebagian wanita dengan usia yang masih muda organ reproduksinya masih belum begitu sempurna dan fungsi hormon-hormon yang berhubungan dengan persalinan juga belum sempurna pula. Ditambah dengan keadaan psikologis, emosional dan pengalaman yang belum pernah dialami sebelumnya dan mempengaruhi kontraksi uterus menjadi tidak aktif, yang nantinya akan mempengaruhi lamanya persalinan. Sedangkan pada ibu dengan usia lebih dari 35 tahun diketahui kerja organ-organ reproduksinya sudah mulai lemah, dan tenaga ibu pun sudah mulai berkurang, hal ini akan membuat ibu kesulitan untuk mengejan yang pada akhirnya apabila ibu terus

menerus kehilangan tenaga karena mengejan akan terjadi partus lama (Amuriddin, 2009) Paritas Menurut Wiknjosastro salah satu penyebab kelainan his yang dapat menyebabkan partus lama terutama ditemukan pada primigravida khususnya primigravida tua, sedangkan pada multipara ibu banyak ditemukan kelainan yang bersifat inersia uteri. Salah satu penyebab terjadinya partus lama menurut Moechtar (1998) adalah kelainan his, his yang tidak normal baik kekuatan maupun sifatnya ridak menghambat persalinan. Kelainan his dipengaruhinya oleh herediter, emosi, dan ketakutan menghadapi persalinan yang sering dijumpai pada primagravida. Dikatakan bahwa terdapat kecenderungan kesehatan ibu yang berparitas rendah lebih baik dari yang berperitas tinggi. Respons stress Stres psikologis memitiki efek fisik yang kuat pada persalinan. Hormon stres, seperti adrenalin, berinteraksi dengan reseptor-beta di dalam otot uterus dan menghambat kontraksi, memperlambat persalinan. Ini merupakan respons involunter ketika ibu merasa terancam atau tidak aman, persalinannya berhenti baginya untuk mencari tempat yang dirasakannya aman. Factor janin Faktor janin (mal presentasi, malposisi, janin besar) a. Mal presentasi dan mal posisi Mal presentasi adalah semua presentasi janin selain

varteks,sedangkan mal posisi adalah posisi kepala janin relative terhadap pelvis dengan oksiput sebagai titik referensi. Pada kejadian mal presentasi kerja uterus kontraksinya cenderung lelah dan tidak teratur.

b. Bayi yang besar Bayi yang besar merupakan faktor partus lama yang sangat berkaitan dengan terjadinya malposisi dan malpresentasi, janin yang dalam keadaan malpresentasi dan malposisi kemungkinan besar akan menyebabkan partus lama atau partus macet 2.3 Tanda dan gejala Pembukaan serviks tidak melewati 3 cm sesudah 8 jam in partu Frekuensi dan lamanya kontraksi kurang dari 3 kontraksi per 10 menit dan kurang dari 40 detik Kelainan presentasi Pembukaan serviks lengkap, ibu ingin mengedan, tetpi tak ada kemajuan penanganan GEJALA KLINIK

Menurut Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH (1998) gejala klinik partus lama terjadi pada ibu dan juga pada janin. a. Pada ibu : Ibu merasakan gelisah , letih, suhu badan meningkat, berkringat, nadi cepat, pernafasan cepat. Di daerah lokal sering di jumpai : lingkaran bandl, edema vulva, edema servik, cairan ketuban berbau, terdapat mekonium. b. pada janin : - Denyut jantung janin cepat atau hebat atau tidak teratur bahkan negative. - Air ketuban terdapat mekonium, kental kehijau- hijauan dan berbau. - Caput succedaneum yang besar. - Moulage kepala yang hebat . - IUFD (intra uterin fetal death)

Menurut Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, DSOG (1998), gejala utama yang perlu diperhatikan pada partus lama antara lain : 1. 2. 3. Dehidrasi Tanda infeksi : temperatur tinggi, nadi dan pernapasan, abdomen meteorismus Pemeriksaan abdomen : meteorismus, lingkaran bandle tinggi, nyeri segmen bawah rahim 4. Pemeriksaan lokal vulva vagina : edema vulva, cairan ketuban berbau, cairan ketuban bercampur mekonium 5. Pemeriksaan dalam : edema servikalis, bagian terendah sulit di dorong ke atas, terdapat kaput pada bagian terendah 6. 7. Keadaan janin dalam rahim : asfiksia sampai terjadi kematian Akhir dari persalinan lama : ruptura uteri imminens sampai ruptura uteri, kematian karena perdarahan atau infeksi.

2.4 Dampak Persalinan Lama Pada Ibu-Janin Persalinan lama dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi salah satu atau keduanya sekaligus. Efek pada ibu Infeksi Intrapartum Infeksi bahaya yang serius yang mengancam pada ibu dan janinnya pada partus lama, terutama bila disertai pecahnya ketuban. Bakteri didalam cairan amnion menembus amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh korion sehingga terjadi bakterimiaa dan sepsis pada ibu dan janin. Pneumonia pada janin, akibat aspirasi cairan amnion yang terinfeksi, adalah konsekuensi serius lainnya. Pemeriksaan serviks dengan jari tangan akan memasukkan bakteri vagina kedalam uterus. Pemeriksaan ini harus dibatasi selama persalinan, terutama apabila dicurigai terjadi persalinan lama. Ruptura uteri Penipisan abnormal segmen bawah uterus menimbulkan bahaya serius selama partus lama, terutama pada ibu dengan paritas tinggi dan pada mereka dengan riwayat
10

seksio sesarea. Apabila disproporsi antara kepala janin dan panggul sedemikian besar sehingga kepala tidak cakap (engaged) dan tidak terjadi penurunan, segmen bawah uterusmenjadi sangat teregang kemudian dapat menyebabkan rupture. Pada kasus ini mungkinterbentuk cincin retraksi patologis yang dapat diraba sebagai sebuah kista trasversal atau oblik yang berjalan melintang di uterus antara simfisis dan umbilicus. Apabila dijumpai keadaan ini, diindikasikan persalinan perabdominam segera. Cincin retraksi patologis Walaupun sangat jarang, dapat timbul kontriksi atau cincin local uterus pada persalinan yang berkepanjang. Tipe yang paling sering adalah cincin retraksi patologis Bandl, yaitu pembebtukan cincin retraksi normal yang berlebihan. Cincin ini sering timbul akubat persalinan yang terhambat, disertai peregangan dan penipisan berlebihan segmen bawah uterus. Pada situasi semacam ini cincin dapat terlihat sebagai suatu identitas abdomen dan menandakan ancaman akan rupturnya segnen bawah uterus. Kontriksi uterus local jarang dijumpai saat ini karena terhanbatnya persalinan secara berkepanjangan tidak lagi dibiarkan. Konstriksi local ini kadang-kadang masih terjadi sebagai konstriksi jam pasir (haourglass constriction) uterus setelah lahirnya kembar pertama. Pada keadaan ini, konstriksi tersebut kadang-kadang dapat dilemaskan dengan anestesi umum yang sesuai dan janin janin dilahirkan secara normal, tetapi kadangkadang seksio sesarea yang dilakukan dengna segera menghasilkan progonis yang lebih baik bagi kembar kedua. Pembentukan Fistula Apabila bagian terbawah janin menekan kuat ke pintu atas pinggul tetapi tidak maju untuk jangka waktu yang cukup lama, bagian jalan lahir yang terletak diantaranya dan dinding panggul dapat mengalami tekanan yang berlebihan. Karena gangguan sirkulasi, dapat terjadi narcosis yang akan jelas dalam beberapa hari setelah melahirkan dengan munculnya fistula vesikovaginal, vesikoservikal, atau rektovaginal. Umumnya narcosis akibat penekanan ini pada persalinan kala II yang berkepanjangan. Dulu saat tindakan operasi ditunda selama mungkin, penyulit ini sering dijumpai, tetapi saat ini jarang terjadi kecuali Negara-negara yang belum berkembang.
11

Cedera otot-otot dasar panggul Suatu anggapan yang telah dipegang adalah bahwa cedera otot-otot dasar panggul atau persarfan ata fasia penghubungannya merupakan konsekuensi yang tida terlelakan pada persalinan pervaginam, terutama apabila persalinannya sulit. Saat kelahiran bayi, dasar panggul mendapat tekanan langsung dari kepala janin serta tekanan kebawah akibat upaya mengejan ibu. Gaya-gaya inimeregangkan dan melebarkan dasar panggul selama melahirkan ini akan menyebabakan inkontinensa urin dan alvi serta prolaps organ panggul.

Efek pada janin : Partus lama itu sendiri dapat dirugikan. Apabila panggul sempit dan juga terjadi ketuban pecah lama serta infeksi intrauterus, risiko janin dan ibu akan muncul. Infeksi intrapartum bukan saja merupkan penyulit yang serius pada ibu, tetapi juga merupakan penyebab penting kematian janin dan neonates. Hal ini disebakan bakteri didalam cairan amnion menembus selaput amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh korion, sehingga terjadi bakteremia pada ibu dan janin. Pneumonia janin, akibat aspirasi cairan amnion yang terinfeksi, adalah konsekuensi serius lainnya. Kaput Suksedeneum Apabila panggul sempit, sewaktu persalinan sering terjadi kaput suksedeneum yang besar terjad terbawah kepala janin. Kaput ini dapat berukuran cukup besar dan menyebabakan kesalahan diagnostic yang serius. Kaput hamper dapat mencapai dasar panggul sementara kepala sendiri belum cakap. Molase kepala janin Akibat tekanan his yang kuat, lempeng-lempeng tulang tengkorak saling bertumpang tindih satu sama lain disutura-sutura besar, suatu proses yang disebut molase. Biasannya batas median tulang parietal yang berkontak dengan promotorium bertumpang tindih dengan tulang disebelahnya; hal ini sama terjadi pada tulang-tulang frontal. Namun tulang oksipetal terdorong kebawah tulang parietal. Perubahan-perubahan ini sering terjadi tanpa menimbulkan kerugian yang nyata. Di lain pihak, apabila distorsi yang
12

terjadi mencolok, molase dapat menyebabkan robekan tentorium, laserasi pembuluh darah janin, tanpa perdarahan intra karinial pada janin. Fraktur tengkorak kadang-kadang dijumpai, biasanya setelah dilakukan upaya paksa pada persalinan. Fraktur ini juga dapat terjadi pada persalinan spontan atau bahkan sekseo sesarea 2.4 Penanganan : Jelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga Mengobservasi keadaan umum ibu secara seksama Mengobservasi denyut jantung janin Berikan Larutan Glukosa 5% dan Larutan NaCL isotonic secara IV Memberikan dukungan emosi bila keadaan masih memungkinkan anjurkan bebas bergerak Anjurkan kepada ibu untuk mengosongkan kandung kemih Bila penderita memrasakan nyeri, berikan analgetik. Pertolongan Dapat dilakukan partus spontan, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep, manual aid pada letak sungsang, embriotomi bila janin meninggal, seksio sesarea dan lain-lain

13

1) Pengertian persalinan kala II memanjang Persalinan kala II memanjang (prolonged expulsive phase) atau disebut juga partus tak maju adalah suatu persalinan dengan his yang adekuat namun tidak menunjukkan kemajuan pada pembukaan serviks, turunnya kepala dan putaran paksi selama 2 jam terakhir. Biasanya persalinan pada primitua dapat terjadi lebih lama. Menurut Harjono, persalinan kala II memanjang merupakan fase terakhir dari suatu partus yang macet dan berlangsung terlalu lama sehingga timbul gejala gejala seperti dehidrasi, infeksi, kelelahan ibu serta asfiksia dan kematian janin dalam kandungan (IUFD). Persalinan pada primitua biasanya lebih lama. Pendapat umum ada yang mengatakan bahwa persalinan banyak terjadi pada malam hari, ini di sebabkan kenyataan bahwa biasanya persalinan berlangsung selama 12 jam atau lebih, jadi permulaan dan berakhirnya partus biasanya malam hari (prof.Dr. rustam mochtar, Mph 1998).

A. Etiologi Faktor faktor penyebabnya adalah : Kelainan letak janin, Kelainan kelainan panggul, Kelainan his dan mengejan, Pimpinan partus yang salah, Janin besar atau ada kelainan congenital, Primitua, Perut gantung atau grandemulti, Ketuban pecah dini

B. Gejala Klinik a) Pada ibu Gelisah, letih, suhu badan meningkat, berkeringat, nadi cepat, pernafasan cepat. Di daerah lokal sering dijumpai : Ring v/d Bandl, edema vulva, edema serviks, cairan ketuban berbau dan terdapat mekonium.

14

b) Pada janin Denyut jantung janin cepat/hebat/tidak teratur bahkan negatif. Air ketuban terdapat mekonium, kental kehijau-hijauan dan berbau Caput Succedeneum yang besar Moulage kepala yang hebat IUFD (Intra Uterin Fetal Death)

C. Penatalaksanaan Penatalaksanaan yang dilakukan pada ibu dengan kala II memanjang yaitu dapat dilakukan partus spontan, ekstraksi vakum, ekstraksi forceps, sectio caesaria, dan lainlain. Penatalaksanaannya yaitu sebagai berikut : a. Tetap melakukan Asuhan Sayang Ibu, yaitu : Anjurkan agar ibu selalu didampingi oleh keluarganya selama proses persalinan dan kelahiran bayinya. Alasan : Hasil persalinan yang baik ternyata erat hubungannya dengan dukungan dari keluarga yang mendampingi ibu selama proses persalinan (Enkin, et al, 2000). Anjurkan ibu untuk minum selama kala II persalinan Alasan : Ibu bersalin mudah sekali mengalami dehidrasi selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Cukupnya asupan cairan dapat mencegah ibu mengalami hal tersebut (Enkin, et al, 2000). Adakalanya ibu merasa khawatir dalam menjalani kala II persalinan. Berikan rasa aman dan semangat serta tentramkan hatinya selama proses persalinan berlangsung. Dukungan dan perhatian akan mengurangi perasaan tegang, membantu kelancaran proses persalinan dan kelahiran bayinya. Beri penjelasan tentang cara dan tujuan dari setiap tindakan setiap kali penolong akan melakukannya, jawab aetiap pertanyaan yang diajukan ibu, jelaskan apa yang dialami oleh ibu dan bayinya dan hasil pemeriksaan yang dilakukan (misalnya TD, DJJ, periksa dalam).

15

b. Melakukan kala II persalinan dan memulai meneran : Cuci tangan (Gunakan sabun dan air bersih yang mengalir) Pakai sarung tangan DTT/steril untuk periksa dalam Beritahu ibu saat, prosedur dan tujuan periksa dalam Lakukan periksa dalam (hati-hati) untuk memastikan pembukaan sudah lengkap (10cm) lalu lepaskan sarung tangan sesuai prosedur PI Jika pembukaan belum lengkap, tentramkan ibu dan bantu ibu mencari posisi nyaman (bila ingin berbaring) atau berjalan-jalan disekitar ruang bersalin. Ajarkan cara bernafas selama kontraksi berlangsung. Pantau kondisi ibu dan bayinya dan catatkan semua temuan dalam partograf Jika ibu merasa ingin meneran tapi pembukaan belum lengkap, beritahukan belum saatnya untuk meneran, beri semangat dan ajarkan cara bernafas cepat selama kontraksi berlangsung. Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang nyaman dan beritahukan untuk menehan diri untuk meneran hingga penolong memberitahukan saat yang tepat untuk itu. Jika pembukaan sudah lengkap dan ibu merasa ingin meneran, bantu ibu mengambil posisi yang nyaman, bimbing ibu untuk meneran secara efektif dan benar dan mengikuti dorongan alamiah yang terjadi. Anjurkan keluarga ibu untuk membantu dan mendukung usahanya. Catatkan hasil pemantauan dalam partograf. Beri cukup minum dan pantau DJJ setiap 5-10 menit. Pastikan ibu dapat beristirahat disetiap kontraksi. Jika pembukaan sudah lengkap tapi ibu tidak ada dorongan untuk meneran, bantu ibu untuk memperoleh posisi yang nyaman (bila masih mampu, anjurkan untuk berjalan-jalan). Posisi berdiri dapat membantu penurunan bayi yang berlanjut dengan dorongan untuk meneran. Ajarkan cara bernafas selama kontraksi berlangsung. Pantau kondisi ibu dan bayi dan catatkan semua temuan dalam partograf. Berikan cukup cairan dan anjurkan / perbolehkan ibu untuk berkemih sesuai kebutuhan. Pantau DJJ setiap 15 menit, stimulasi puting susu mungkin dapat meningkatkan kekuatan dan kualitas kontraksi.

16

Jika ibu tidak ada dorongan untuk meneran setelah 60 menit pembukaan lengkap, anjurkan ibu untuk mulai meneran disetiap puncak kontraksi.

Jika bayi tidak lahir setelah 60 menit upaya tersebut diatas atau jika kelahiran bayi tidak akan segera terjadi, rujuk ibu segera karena tidak turunnya kepala bayi mungkin disebabkan oleh disproporsi kepala-panggul (CPD).

Upaya mengedan ibu menambah resiko pada bayi karena mengurangi jumlah oksigen ke plasenta. Dianjurkan mengedan secara spontan (mengedan dan menahan nafas terlalu lama, tidak dianjurkan)

a. Jika malpresentasi dan tanda-tanda obstruksi bisa disingkirkan, berikan infus oksitosin b. Jika tidak ada kemajuan penurunan kepala : Jika kepala tidak lebih dari 1/5 di atas simfisis pubis atau bagian tulang kepala di stasion (O), lakukan ekstraksi vakum atau cunam Jika kepala diantara 1/5-3/5 di atas simfisis pubis, atau bagian tulang kepala di antara stasion (O)-(-2), lakukan ekstraksi vakum Jika kepala lebih dari 3/5 di atas simfisis pubis atau bagian tulang kepala di atas stasion (2) lakukan seksio caesarea.

17

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN Persalinan kala II memanjang (prolonged expulsive phase) atau disebut juga partus tak maju adalah suatu persalinan dengan his yang adekuat namun tidak menunjukkan kemajuan pada pembukaan serviks, turunnya kepala dan putaran paksi selama 2 jam terakhir. Biasanya persalinan pada primitua dapat terjadi lebih lama. Menurut Harjono, persalinan kala II memanjang merupakan fase terakhir dari suatu partus yang macet dan berlangsung terlalu lama sehingga timbul gejala gejala seperti dehidrasi, infeksi, kelelahan ibu serta asfiksia dan kematian janin dalam kandungan (IUFD). Persalinan pada primitua biasanya lebih lama. Pendapat umum ada yang mengatakan bahwa persalinan banyak terjadi pada malam hari, ini di sebabkan kenyataan bahwa biasanya persalinan berlangsung selama 12 jam atau lebih, jadi permulaan dan berakhirnya partus biasanya malam hari (prof.Dr. rustam mochtar, Mph 1998).

18

DAFTAR PUSTAKA

Hanifa,winkjosastro.2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Llewllyn-jones, Derek. 2001. Dasa-Dasar Obstetri dan Ginekologi Edisi 6. Jakarta : EGC Rustam, mochtar. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I. Jakarta : EGC

Mochtar, Rustam.(1998). Synopsis Obstetri. Jakarta. EGC

Prawirohardjo, Sarwono. (1976). Ilmu Kebidanan. Edisi ke 4. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Rustam. Prawirohardjo,sarwono.2009.Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.PT.bina pustaka sarwono prawirahardjo.Jakarta Saifuddin, A. (2010). Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

19

ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny. E UMUR 22 TAHUN G1P0A0 HAMIL 38 MINGGU DENGAN KALA II LAMA DI RUANG IGD RSUD X

No. Register/Rekam Medik Tanggal masuk Tanggal Pengkajian Pengkaji Tempat

: 233085 : 10 Februari 2014 jam 10.30 WIB : 10 Februari 2014 jam 10.30 WIB : MAAN : DI RUANG IGD RSUD X

A.

DATA SUBJEKTIF (S)

1.

Ibu mengatakan : Bernama Ny. E berumur 22 tahun hamil anak pertama sejak 9 bulan yang lalu, dan tidak pernah keguguran. Bekerja sebagai ibu rumah tangga, beragama islam dan bersuku sunda Melakukan 4 kali pemeriksaan kehamilan dengan bidan selama hamil Mengeluh mules-mules sejak kemarin tanggal 9 Februari 2014 dan keluar air-air dari tanggal 10 Februari 2014 pukul 06.30 WIB, jam 07.00 di lakukan pemeriksaan dalam oleh bidan pembukaan lengkap dan di pimpin mengedan oleh bidan sejak jam 07.00 tanggal 10 Februari 2014. Sudah dipimpin mengedan selama lebih dari 3 jam Merasakan kelelahan dan capek karena sudah lama mengedan Merasakan cemas karena bayi tidak juga lahir Sudah mendapat suntik TT pada saat umur kehamilan 5 bulan Tidak mengkonsumsi obat-obatan kecuali obat dari bidan seperti obat penambah darah dan tidak pernah minum jamu

20

Tidak pernah mempunyai penyakit yang berhubungan dengan alat reproduksinya seperti kista, kanker serviks,dll. Belum pernah memakai alat kontrasepsi metode apapun Merasa takut dan cemas dengan kehamilan pertamanya. Tidak menderita penyakit keturunan, menahun maupun menular.

A. DATA OBJEKTIF (O) a. Pemeriksaan Umum Keadaan umum Kesadaran Tanda-tanda vital TD Pernapasan Nadi Suhu Antropometri BB terakhir : 67 kg : 90/80 mmhg : 23x/menit : 84 x/menit : 360 C : Kesakitan : composmentis

BB sebelum hamil : 51 kg Kenaikan BB :16 kg

b. Pemeriksaan fisik 1. Kepala : Kulit kepala bersih, tidak berketombe, rambut tidak mudah dicabut, tidak ada benjolan dan tidak nyeri tekan. 2. Muka : Bentuk simetris, tidak terdapat chloasma gravidarum. 3. Mata : Simetris, konjungtiva merah muda, sklera putih, tidak mengalami gangguan fungsi penglihatan. 4. Mulut : Lembab, warna pucat, tidak ada stomatisis.
21

5.

Leher

: Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan limfe serta tidak ada pembesaran vena jugularis.

6.

Dada

Mamae simetris, puting susu menonjol, bersih, aerola mamae mengalami hiperpigmentasi dan colostrum sudah keluar.

7.

Abdomen - inspeksi : Tidak ada luka bekas operasi, Membesar sesuai dengan usia kehamilan, simetris, ada striae gravidarum. - Palpasi Leopold I : Di bagian fundus teraba kurang bulat, lunak tidak melenting, TFU 34 cm,3 jari di di bawah px. Leopold I : Sebelah kiri teraba panjang mendatar seperti ada tahanan, dan sebelah kanan teraba bagian-bagian kecil dan tidak rata(ekstremitas) Leopold III : Di bagian bawah teraba bulat, keras dan melenting, bagian bawah sudah masuk PAP. Leopold IV TFU TBJ : : : Divergen Penurunan kepala 3/5 34 cm 3105 3565 gram 4 x 10 x >40

His - Auskultasi DJJ 9. Ekstrimitas atas

: 138 x/menit : Tidak ada oedema/varises, bentuk simetris, tidak ada gangguan fungsi, jari lengkap.

10.

Ekstrimitas bawah :

Tidak ada oedema/varises, bentuk simetris,


22

tidak ada gangguan fungsi, jari lengkap Perkusi 11. Genetalia : Reflek pattela kanan kiri (+)/(+) : Tidak oedema/varises, perineum tidak ada bekas luka - Pemeriksaan dalam Vulva/Vagina : tidak ada kelainan, tidak

oedema, tidak varises, ada pengeluaran blood slym Portio Pembukaan Ketuban Presentasi Penurunan : tidak teraba : lengkap : (-)tidak ada : Kepala : Hodge III, Ubun-ubun kecil

kanan melintang, sisa cairan ketuban jernih. 14. Anus : h. Pemeriksaan penunjang i. Therapy Tidak ada haemoroid

Infus RL terpasang di tambah Phitogyn 1 ampul 20 tetes/menit

C.

ANALISA (A)

Ny. E umur 22 tahu, G1P0A0 Usia kehamilan 38 minggu, keadaan ibu dan janin baik, keadaan jalan lahir baik, Infartu Kala II lama

D.

PENATALAKSANAAN (P)

1. Pukul : 10.30 Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga. Ibu mengerti atas penjelasan yang telah disampaikan.
23

2. Pukul 10.34 Mengobservasi tetesan infus. Infus RL terpasang di tambah Phitogyn 1 ampul 20 tetes/menit 3. Pukul 10.35 Memposisikan ibu senyaman mungkin untuk mengedan. ibu memilih posisi litotomi 4. Pukul 10.40 Melakukan kolaborasi dengan dr. Sp.OG Advis : Cefotaxime 3x1mg IV selang RL 500ml di tambah oksitosin 1 ampul 20 tetes/menit

5. Pukul 10.45 Memimpin ibu mengedan yang baik ketika ada his kuat dan menganjurkan ibu istirahat jika tidak ada his. Ibu mengedan ketika ada his dan beristirahat jika tidak ada his 6. Pukul 10.48 Melakukan pemeriksaan kandung kemih. Kandung kemih teraba kosong 7. Pukul 10.52 Memberikan dorongan semangat kembali kepada ibu. ibu terlihat tetap semangat 8. Pukul : 11.05 Melakukan Episiotomi atas indikasi kala II lama dan perineum ibu tidak elastis. Episiotomi sudah dilakukan. 9. Pukul 11.07 Melakukan pemeriksaan DJJ. DJJ 138x/menit 10. Pukul 11.09 Memimpin ibu meneran ketika ada his dan istirahat ketika tidak ada his. Ibu mengerti dan bisa meneran saat ada his dan beristirahat jika tidak ada his.

11. Pukul 11.15 Melakukan tindakan vacuum dengan kolaborasi dengan dokter karena ibu masih mampu mengedan

24

12. Pukul 11. 30 Bayi lahir dengan tindakan vakum, bayi tidak langsung menangis kurang kuat, reflek (+) agak lemah, warna agak kebiruan, berjenis kelamin laki-laki. Ibu merasa senang mengetahui bayinya sudah lahir namun cemas karena bayinya tidak menangis 13. Pukul 11.16 Meletakan bayi di perut ibu, mengeringkan, mengganti kain dengan yang bersih dan hangat, Mengklem tali pusat dan memotongnya, melakukan penghisapan lendir dan rangsangan traktil . Bayi menangis kuat dan ibu tidak lagi merasa cemas. 14. Pukul 11.19 Mengatur posisi yang nyaman untuk ibu. Ibu merasa nyaman kembali. 15. Pukul 11.20 Memastikan tidak terdapat bayi kedua dan memberi tahu ibu bahwa ibu akan di suntik oksitosin untuk mempercepat kelahiran plasenta. Ibu mengerti dan bersedia untuk di suntik.

25