Anda di halaman 1dari 10

Paraf Asisten

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK Judul Tujuan Percobaan : Isolasi Eugenol :

- Mempelajari teknik pemisahan cara kimia (Cair-cair). - Mempelajari teknik isolasi eugenol dari minyak cengkeh. Pendahuluan Cengkeh dikenal dengan nama latin Syzygium aromaticum atau Eugenia aromaticum. Tanaman asli Indonesia ini tergolong ke dalam keluarga tanamanMyrtaceae pada ordo Myrtales. Cengkeh digunakan sebagai bahan campuran rokok kretek dan juga penyedap masakan. Aroma cengkeh yang khas dihasilkan oleh senyawa eugenol, yang merupakan senyawa utama (72-90%) penyusun minyak atsiri cengkeh. Eugenol memiliki sifat antiseptik dan anestetik (bius). Selain eugenol, minyak atsiri cengkeh juga mengandung senyawa asetil eugenol, beta-caryophyllene, dan vanilin. Terdapat pula kandungan tanin, asam galotanat, metil salisilat (suatu zat penghilang nyeri), asam krategolat, beragam senyawa flavonoid (yaitu eugenin, kaemferol, rhamnetin, dan eugenitin), berbagai senyawa triterpenoid (yaitu asam oleanolat, stigmasterol, dan kampesterol), serta mengandung berbagai senyawa seskuiterpen (Anonim, 2014). Minyak daun cengkeh diperoleh dari hasil distilasi uap daun pohon cengkeh (Eugenia Caryophyllata Thunberg) yang telah gugur. Minyak daun cengkeh banyak digunakan sebagai bahan penyedap makanan, kosmetik, parfum, obat-obatan, dan pestisida nabati. Komponen utama minyak cengkeh adalah senyawa aromatik yang disebut eugenol. Eugenol berupa zat cair berbentuk minyak, tidak berwarna atau sedikit kekuningan, menjadi coklat dalam udara, berbau dan berasa rempah-rempah. Eugenol dapat larut dalam alkohol, eter, kloroform, dan mudah menguap serta sedikit larut dalam air. Eugenol termasuk senyawa fenol, akan

bereaksi dengan alkali hidroksida membentuk senyawa fenolat yang meningkat kelarutannya dalam air. Prinsip ini dipakai untuk memisahkan eugenol dari senyawa lainnya yang terdapat dalam minyak cengkeh. Eugenol dengan kadar sekitar 80% merupakan bahan dasar yang dapat digunakan untuk mensitesis vanilin sebagai flavour makanan, isoeugenol dan benzil

isoeugenol sebagai bahan parfum (Sastrohamidjojo, 1981). Pemurnian minyak cengkeh dengan distilasi fraksinasi dilakukan didasarkan pada perbedaan titik didih antara eugenol, isoeugenol dan caryofilen yang merupakan komponen utama minyak cengkeh. Distilasi fraksinasi bertujuan untuk memisahkan campuran beberapa bahan menjadi masing-masing bahan dengan menggunakan prinsip kesetimbangan cair-uap. Minyak cengkeh diuapkan di dasar kolom dan dibuat setimbang dengan cairan dari destilat yang dikembalikan (refluk) dari puncak kolom. Kesetimbangan yang terjadi dalam kolom, menyebabkan komponen titik didih rendah cenderung ke atas dan keluar sebagai destilat dan komponen titik didih tinggi cenderung turun kebawah kembali ke bejana penguapan. Destilat yang diperoleh mengandung komponen ringan caryofilen lebih banyak dan eugenol sedikit. Komposisi destilat berubah sampai komponen ringan tersebut habis, dan yang keluar adalah eugenol. Dengan demikian, hasil destilat fraksinasi terdiri dari komponen yang dapat dikelompokkan berdasar titik didihnya. Produk dianalisis kandungan komponennya menggunakan gas kromatografi atau secara kasar bisa ditentukan berdasar kelarutannya dengan NaOH atau berdasar densitas destilatnya (Underwood, 1986). Isolasi eugenol dapat dilakukan melalui beberapa jenis proses pemurnian, diantaranya yaitu proses ekstraksi, distilasi fraksionasi (rektifikasi), kromatografi kolom, ekstraksi superkritik, dan distilasi molekuler. Selama ini, telah dilakukan pengambilan eugenol hanya dengan prosesekstraksimenggunakan NaOH dan menghasilkan kadar eugenol sebesar 82,6%. Selain itu juga telah dilakukan pengambilan dengan cara ekstraksi minyak daun cengkeh menggunakan NaOH berlebih dan dilanjutkan proses pengasaman dengan larutan HCl pekat, hanya mencapai kadar eugenol sekitar 86%. Jumlah mol NaOH yang digunakan harus proporsional dengan kandungan eugenol dalam minyak daun cengkeh, reaksi ini hanya eugenol yang bereaksi dengan NaOH membentuk Na-eugenolat yang larut dalam air. Setelah reaksi berlangsung akan diperoleh dua lapisan. Lapisan atas merupakan senyawa atau komponen dalam minyak daun cengkeh selain eugenol. Lapisan bawah yang mengandung eugenol dipisahkan dari lapisan atas. Eugenol dapat diperoleh dengan mengasamkan larutan eugenolat dengan menambahkan HCl hingga pH 3. Pada akhir reaksi terjadi dua lapisan, dimana lapisan atas mengandung eugenol (Sastrohamidjojo, 2004). Selain itu, pemisahan eugenol dapat dilakukan dengan ekstrasi cair-cair. Ekstraksi merupakan proses fisik (pemisahan) dimana suatu senyawa (atau campuran senyawa) ditransfer dari satu fasa ke fasa lainnya. Terdapat dua macam ekstraksi yaitu ektraksi caircair, dan ekstraksi padat-cair. Ekstraksi cair-cair merupakan operasi dasar yang harus dikuasai dalam kegiatan laboratorium Kimia Organik. Ekstraksi cair-cair dapat digunakan

untuk mengisolasi senyawa tunggal dari suatu campuran. Proses fisik yang mendasari ektraksi cair-cair tersebut adalah partisi pelarut-pelarut, atau distribusi solute diantara sepasang pelarut (Tim Penyusun, 2014). Proses ekstraksi pelarut berlangsung tiga tahap, yaitu: 1. Pembentukan kompleks tak bermuatan yang merupakan golongan ekstraksi. 2. Distribusi dari kompleks yang tereksitasi. 3. Interaksinya yang mungkin dalam fase organik. Hasil ekstraksi yang baik diperoleh jika jumlah ekstraksi yang dilakukan berulang kali dengan jumlah pelarut sedikit demi sedikit. Ekstraksi pertahap baik digunakan jika perbandingan distribusi besar. Alat yang digunakan pada ekstraksi ini adalah corong pemisah ( Underwood, 1986 ). Jenis ekstraksi yang selektif dapat dilakukan dengan cara pemilihan pelarut dengan polaritas yang tepat. Senyawa non polar, seperti lemak, wax, terpen,dan beberapa steroid dapat diekstrak dengan pelarut non polar, seperti petroleum eter. Metanol, pelarut dengan polaritas medium keatas, direkomendasikan untuk mengekstrak pigmen, alkaloid, tannin, flavonoid, dan senyawa polar lainnya. Sedangkan air mampu mengekstrak senyawa yang sangat polar seperti garam, gula berBM rendah, dan protein. Ekstraksi sejumlah senyawa terkait dapat juga dilakukan dengan menggunakan kombinasi pelarut atau dilakukan secara bertahap, misal dari polar ke non polar. Proses ekstraksi cair-cair tersebut dilakukan dalam corong pisah, yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 1. Proses Ekstraksi Cair-cair (Tim Penyusun, 2014). (Tim Penyusun, 2014). Percobaan ini sangat penting dilakukan agar mahasiswa mengetahui cara isolasi eugenol dari minyak cengkeh karena eugenol merupakan salah satu senyawa yang penting dalam industri yaitu digunakan untuk bahan dasar yang dapat digunakan untuk mensitesis vanilin sebagai flavour makanan, isoeugenol dan benzil isoeugenol sebagai bahan parfum.

Prinsip Kerja Prinsip yang mendasari percobaan isolasi eugenol adalah pemisahan campuran dengan ekstrasi cair-cair berdasarkan pada perbedaan kelarutan dan berat molekul dari senyawa yang dipisahkan. Alat Peralatan yang digunakan pada percobaan tentang isolasi eugenol adalah beaker glass, batang pengaduk, corong pisah, gelas ukur, pipet mohr 10 ml, pipet tetes, rotary evaporator, penangas air, termometer, timbangan, dan tabung reaksi. Bahan Bahan yang digunakan pada percobaan tentang isolasi eugenol adalah minyak cengkeh, NaOH 10%, dietil eter, HCl 25%, kertas lakmus biru, MgSO4 anhidrat, dan FeCl3. Prosedur Kerja 25 gram minyak cengkeh dimasukkan kedalam beaker glass dan ditambahkan 25 mL larutan NaOH 10%, kemudian diaduk sampai homogen. Selanjutnya, 10 mL dietileter ditambahkan dalam campuran dan dipindahkan ke corong pisah, dikocok kuat-kuat dan didiamkan selama 10 menit sampai terbentuk dua lapisan, dimana fasa polar (anorganik), yang berada dilapisan bawah, kemudian dipisahkan dan ditampung dalam beaker glass. Sedangkan, fasa non polar (organik) yang berada dilapisan atas, ditambahkan 10 mL larutan NaOH 10% kemudian dikocok kuat-kuat dan didiamkan sampai terbentuk dua lapisan. Fasa polar (anorganik) dipisahkan dan digabung dengan fasa polar sebelumnya (poin 2). HCl 25% ditambahkan tetes demi tetes kedalam fasa polar (bagian bawah) sampai terbentuk gumpalangumpalan coklat atau mempunyai pH 3 (tes menggunakan lakmus biru). Selanjutnya campuran dipindahkan dalam corong pisah, lalu ditambahkan dietileter 10 mL kemudian dikocok kuat-kuat dan didiamkan selama 10 menit sampai terbentuk dua lapisan dan fasa organiknya ditampung dalam beaker glass. Kemudian pelarut dietileter yang terdapat dalam fasa organik tersebut diuapkan dalam lemari asam menggunakan penangas air (suhu air 50C). Residu yang diperoleh ditambahkan sejumlah kecil kristal MgSO4. Selanjutnya residu yang mengandung eugenol tersebut didekantasi. Eugenol yang diperoleh ditimbang beratnya dan diukur volumenya menggunakan gelas ukur dan diitung rendemen/kadar eugenol dalam minyak cengkeh tersebut. Eugenol diuji positif untuk mengetahui adanya eugenol dalam residu yang diperoleh adalah terbentuknya warna ungu jika ditambahkan larutan FeCl3.

Waktu yang dibutuhkan No. 1. 3. 4. 5. Kegiatan Preparasi alat Proses pemisahan Proses dekantasi Uji positif Total Waktu 10 menit 60 menit 30 menit 20 menit 120 menit

Data dan Perhitungan Diketahui : Volume minyak cengkeh = 25 ml Massa sampel = 25 gram Massa minyak cengkeh yang diperoleh = 21,83 gr Volume minyak cengkeh yang diperoleh = 20 mL Sehingga diperoleh rendemennya yaitu : % rendemen = x 100%

x 100%

= 87,32 % Hasil
Gambar Keterangan

Campuran minyak cengkeh dengan NaOH 10%.

Pengocokkan dengan corong pisah.

Mendiamkan hingga terbentuk dua fase. Fase atas merupakan fase polar sedangkan fase bawah merupakan fase nonpolar.

Fase polar yang telah diasamkan dengan HCl 10%.

Fase atas merupakan NaCl sedangkan fase bawah merupakan eugenol.

Eugenol yang didapat.

Uji dengan FeCl3 terbentuk warna ungu menandakan hasilnya positif.

Massa eugenol yang diperoleh Volume eugenol yang diperoleh Uji FeCl3 Bau eugenol yang diperoleh

21 gram 20 mL Positif (+) Tidak sedap (sedikit pedas)

Pembahasan Hasil Percobaan ini tentang isolasi eugenol yang bertujuan untuk mempelajari teknik pemisahan cara kimia (cair-cair) dan mempelajari teknik isolasi eugenol dari minyak cengkeh. Teknik pemisahan cair-cair atau yang biasa dikenal dengan ekstraksi cair-cair adalah suatu metode yang digunakan untuk memisahkan satu atau lebih komponen dari suatu campuran dengan bantuan pelarut. Ekstraksi cair-cair didasarkan pada perbedaan kelarutan dan berat molekul antara zat yang akan dipisahkan dan pelarut yang digunakan. Percobaan ini menggunakan ekstraksi cair-cair untuk memisahkan eugenol dari minyak cengkeh. Proses pemisahan eugenol ini menggunakan prinsip like dissolve like yaitu suatu zat terlarut akan larut jika dilarutkan dengan pelarut yang memiliki kesamaan kepolaran dengan zat terlarut sehingga bisa saling melarutkan (seperti zat terlarut polar akan larut dengan pelarut polar). Pertama, minyak cengkeh dimasukkan kedalam gelas beaker sebanyak 25 gram dan ditambahkan dengan 25 mL larutan NaOH 10% fungsi dari penambahan NaOH adalah untuk menghasilkan produk Na-eugenolat yang dapat larut dalam air sehingga eugenol bisa diisolasi karena eugenol akan diikat kuat oleh ion Na+, reaksi yang terjadi antara NaOH dengan eugenolat adalah sebagai berikut:
OH OCH 3 NaOH ONa OCH 3

+ H2O
CH2

CH2

Reaksi diatas menunjukkan proses pembentukan garam Na-eugenolat dengan penggantian H+ pada gugus OH- eugenol dengan Na+ pada NaOH. Sedangkan senyawa lain yang terkandung didalam minyak cengkeh seperti kariofilen tidak mengalami reaksi dengan NaOH karena tidak mempunyai gugus OH pada strukturnya. Kemudian campuran diaduk sampai homogen, fungsi pengadukan ini adalah agar reaksi dapat berlangsung dengan sempurna mungkin dan agar minyak cengkeh dan NaOH bisa tercampur dan bereaksi sempurna membentuk Na-eugenolat. Eugenol dan kariofilen yang terkandung didalam minyak cengkeh larut dalam diklorometana yang bersifat nonpolar karena kedua senyawa ini bersifat nonpolar (like dissolve like) sehingga untuk mengisolasi eugenol maka eugenol diubah menjadi garam yang bersifat polar dan larut dalam air sedangkan kariofilen tetap larut didalam diklorometana. Untuk mengubah eugenol menjadi garam maka ditambahkan NaOH

sehingga didapatkan garam Na-eugenolat. Selanjutnya ditambahkan 10 mL diklorometana kemudian dipindahkan kedalam corong pisah, dikocok kuat-kuat dan sesekali corong pisah dibuka untuk mengeluarkan gas yang terbentuk pada saat pengocokan. Kemudian didiamkan selama 10 menit sampai terbentuk dua lapisan. Fungsi penambahan diklorometana adalah untuk memisahkan Na-eugenolat dan senyawa lainnya yang terkandung didalam minyak cengkeh (seperti kariofilen). Na-eugenolat ini akan larut dalam air yang bersifat polar karena Na-eugenolat bersifat polar sedangkan senyawa-senyawa lainnya (seperti kariofilen) yang terkandung didalam minyak cengkeh akan larut didalam diklorometana yang bersifat nonpolar karena senyawa-senyawa lainnya (seperti kariofilen) bersifat nonpolar. Fasa polar yang mengandung Na-eugenolat akan berada dilapisan atas sedangkan fasa nonpolar yang mengandung eugenol asetat dan kariofilen akan berada dilapisan bawah karena massa jenis air lebih rendah dibandingkan massa jenis diklorometana yaitu 1,00 g/cm3 (untuk air) dan 1,33 g/cm3 (untuk diklorometana) sehingga fasa atas adalah air dan fasa bawah adalah diklorometana. Selanjutnya fasa nonpolar ditambahkan dengan 10 mL NaOH 10%, dikocok kuat-kuat lalu didiamkan selama 10 menit sampai terbentuk dua lapisan. Fungsi penambahan NaOH adalah untuk menghasilkan Naeugenolat karena kemungkinan masih ada eugenol yang tersisa atau yang belum bereaksi dengan NaOH untuk menghasilkan Na-eugenolat didalam fasa nonpolar (diklorometana). Pada percobaan, setelah didiamkan selama 10 menit tidak ada pembentukan dua lapisan sehingga dapat disimpulkan bahwa semua eugenol yang berada pada minyak cengkeh sudah bereaksi dengan NaOH membentuk Na-eugenolat. Kemudian kedalam fasa polar ditambahkan HCl 25% setetes demi setetes sampai terbentuk gumpalan-gumpalan coklat atau larutan mempunyai pH 3 (larutan bersifat asam) yang ditandai dengan perubahan warna merah apabila larutan dites dengan menggunakan kertas lakmus biru. Fungsi penambahan HCl adalah untuk mendapatkan eugenol bebas kembali, reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
ONa OCH 3 HCl OH OCH 3

NaCl

CH2

CH2

Selanjutnya, campuran dipindahkan kedalam corong pisah dan ditambahkan 10 mL

diklorometana. Fungsi penambahan diklorometana ini adalah untuk mengikat eugenol bebas karena eugenol bersifat nonpolar sehingga eugenol akan larut dalam diklorometana yang juga bersifat nonpolar (like dissolve like). Sedangkan NaCl yang terbentuk akan larut dalam air karena NaCl bersifat polar sehingga akan larut dalam air yang bersifat polar. Campuran didalam corong pisah dikocok kuat-kuat untuk memisahkan larutan diklorometana yang mengandung eugenol bebas dan bersifat nonpolar dan larutan berair yang mengandung NaCl dan bersifat polar. Corong pisah sesekali dibuka saat pengocokan berlangsung untuk mengeluarkan gas yang terbentuk saat campuran larutan dikocok. Kemudian corong pisah didiamkan selama 10 menit sampai terbentuk dua lapisan. Fase bawah adalah diklorometana yang mengandung eugenol bebas dan fase atas adalah larutan berair yang mengandung NaCl karena diklorometana mempunyai densitas yang lebih besar daripada air yaitu 1,00 g/cm3 (untuk air) dan 1,33 g/cm3 (untuk diklorometana) sehingga yang ditampung adalah fasa bawah. Fasa bawah yang telah ditampung diuapkan pada penangas didalam lemari asam, penguapan ini bertujuan untuk menguapkan larutan berair yangg mengandung NaCl dan pelarut diklorometana sehingga diperoleh residu berupa minyak (eugenol bebas). Residu yang diperoleh ditambahkan kristal MgSO4 sesedikit mungkin, penambahan kristal MgSO4 berfungsi untuk mengikat air (H2O) yang kemungkinan masih tersisa didalam residu. Selanjutnya larutan didekantasi untuk memisahkan antara kristal MgSO4 dan minyak (eugenol bebas). Kemudian eugenol ditimbang dan diukur volumenya dengan gelas ukur, dari percobaan diperoleh massa eugenol sebesar 21,83 gram dan volume yang diperoleh sebesar 20 mL sehingga rendemen yang diperoleh adalah 87,32%. Eugenol yang diperoleh memiliki bau yang tidak sedap dan apabila minyak yang diperoleh diuji dengan FeCl 3 didapatkan larutan berwarna ungu setelah ditambah dengan FeCl3 sehingga dapat disimpulkan bahwa minyak yang diperoleh adalah eugenol. Berdasarkan rendemen yang diperoleh dapat diketahui bahwa metode ekstraksi cair-cair sangat cocok digunakan untuk mengisolasi eugenol didalam minyak cengkeh karena didapatkan eugenol dalam jumlah yang banyak dengan kemurnian yang tinggi. Kesimpulan
1.

Teknik ekstraksi cair-cair sangat cocok digunakan untuk mengisolasi eugenol dari minyak cengkeh.

2.

Eugenol yang diperoleh mempunyai massa 21,83 gram, volume 20 mL, dan rendemen 87,32%.

Referensi Anonim. 2014. http://id.wikipedia.org/wiki/cengkeh. Diakses tanggal 1 April 2014. Day, R. A. Jr dan A. L. Underwood. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga: Jakarta. Tim Penyusun. 2014. Penuntun Praktikum Kimia Organik. Jember : Universitas Jember. Saran Praktikan harus berhati-hati ketika memipet diklorometana dan mengocok campuran larutan agar tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain. Nama Praktikan Wardatul Baedho (101810301045)