Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Rheumatoid Arthritis adalah suatu penyakit kronis,dimana kadangkadang bersifat asimptomatik (tanpa gejala) yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Rheumatoid Arthriritis merupakan penyakit progresif yang biasanya memiliki potensi untuk menyebabkan kerusakan sendi dan ke a atan fungsional. !enyakit ini telah tersebar luas yang melibatkan berbagai ras dan etnis. Rheumatoid Arthritis lebih sering dijumpai pada "anita dibandingkan dengan pria dengan perbandingan # $ 1. !enyebab penyakit Rheumatoid Arthritis sampai saat ini belum sepenuhnya diketahui. %eskipun agent seperti &irus,bakteri dan jamur telah lama di urigai, namun tak satu pun telah terbukti sebagai penyebabnya. 'al ini diyakini bah"a ke enderungan untuk terkena penyakit Rheumatoid Arthritis dapat di"ariskan se ara genetik selain itu hormon se( juga merupakan salah satu penyebab Rheumatoid Arthritis. 'al ini juga diduga infeksi tertentu atau lingkungan yang mungkin memi u pengaktifan sistem kekebalan tubuh pada indi&idu yang rentan. !enyakit ini lebih sering menyerang orang diantara umur )* sampai ** tahun. !enyakit ini memungkinkan membuat kelemahan dan sangat menyakitkan diantara penyakit arthritis yang lain. +angguan yang terjadi pada pasien Rheumatoid Arthritis lebih besar kemungkinannya untuk terjadi pada suatu "aktu tertentu dalam kehidupan pasien. Rheumatoid Arthritis dapat mengan am ji"a pasien atau hanya menimbulkan gangguan kenyamanan, dan masalah yang disebabkan oleh penyakit Rheumatoid Arthritis tidak hanya berupa keterbatasan yang tampak jelas yang dapat menimbulkan kegagalan organ atau mengakibatkan masalah seperti rasa nyeri, keadaan mudah lelah, perubahan itra diri serta gangguan tidur.

1.).

,ata !engantar
!uji syukur penulis panjatkan kehadirat -uhan .ang %aha /sa,yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan hingga penulis dapat menyelesaikan paper ini mengenai Rheumatoid Arthritis. !enyusunan paper ini didasarkan karena keingintahuan dan untuk memenuhi tugas yang telah diberikan kepada kami. !aper ini mengenai Rheumatoid Arthritis yang merupakan salah satu penyakit autoimun yang sering menyebabkan kerusakan pada sendi sehingga pasien sering kaku pada pagi hari (morning stiffness). ,ami berharap dengan terselesaikannya paper ini dapat bermanfaat utnuk membantu mengurangi faktor risiko terhadap penyakit Rheumatoid Arthritis yang lebih sering menyerang "anita daripada pria. Akhirnya mengharapkan segala masukkan baik berupa kritik maupun saran demi perbaikan paper ini dan yang tinggi agar paper yang sederhana ini dapat dengan suatu harapan

memberikan sumbangan pikiran demi pembangunan bangsa dan negara.

BAB II ISI
).1. 0efinisi
Arthritis rheumatoid adalah gangguan kronik yang menyerang berbagai sistem organ. !enyakit ini adalah satu dari sekelompok penyakit jaringan ikat difus yang diperantai oleh imunitas dan tidak diketahui penyebabnya. !ada pasien biasanya terjadi destruksi sendi progresif, "alaupun episode peradangan sendi dapat mengalami masa remisi (suatu periode ketika gejala penyakit berkurang atau tidak terdapat).(Robbins,dkk )11*) Arthritis rheumatoid biasanya bersifat simetris. -erutama mengenai tangan menyebabkan pembengkakan sendi jari tangan proksimal dan de&iasi ulnar jari-jari tangan juga pergelangan tangan dengan kelemahan otot di sekitar sendi yang terkena. 2odul rheumatoid dapat timbul pada ulnar di ba"ah siku. ( 3ohn Bradley,dkk )111) !ada penyakit rheumatoid yang telah lama (dan juga penyakit neurologis yang melumpuhkan). ,etidakmampuan yang timbul dapat sangat berat dan dibagi menjadi empat derajat$ 1. ,etidaktergantungan yang komplit-tidak diperlukan sokongan4 ). ,etidaktergantungan tetapi memerlukan sokongan, alat - alat khusus yang memerlukan penyesuaian pada pekerjaan dan alat 5 alat rumah tangga. #. ,etergantungan parsial,memerlukan bantuan untuk pergerakan kompleks seperti mandi dan berpakaian dan 4 6. ,etergantungan total, di atas kursi roda atau tempat tidur. (Robbins,dkk )11*) Rheumatoid Arthritis kira 5 kira )17) kali lebih sering menyerang perempuan daripada laki 5 laki. 8nsidens meningkat dengan bertambahnya usia, terutama pada perempuan. 8nsidens pun ak adalah antara usia 61 hingga 91 tahun. !enyakit ini menyerang orang- orang di seluruh dunia dari berbagai suku bangsa. :ekitar 1 ; orang de"asa menderita arthritis rheumatoid. (Robbins,dkk )11*)

).).

/pidemiologi
!ada kebanyakan populasi di bumi, pre&alensi Rheumatoid Arthritis relati&e konstan yaitu berkisar antara 1,*-1;. !re&alensi yang tinggi didapatkan di !ima 8ndian dan <hippe"a 8ndian, masing-masing sekitar *,#; - 9,=;. !re&alensi Rheumatoid Arthritis di 8ndian dan di 2egara Barat kurang lebih sama yaitu sekitar 1,>*;. :edangkan di <hina, 8ndonesia, ?ilipina, pre&alensinya kurang dari 1,6; ,baik di daerah urban maupun Rural. 'asil sur&ey yang dilakukan di 3a"a -engah mendapatkan pre&alensi Rheumatoid Arthritis sebesar 1,); di daerah Rural dan 1,#; di daerah @rban. :edangkan penelitian yang dilakukan di %alang pada penduduk berusia di atas 61 tahun mendapatkan pre&alensi Rheumatoid Arthritis sebesar 1,*; di daerah ,otamadya dan 1,9; di daerah ,abupaten. 0i poliklinik rheumatologi R:@!2 <iptomangunkusumo 3akarta, kasus baru AR merupakan 6,1; dari seluruh kasus baru tahun )111 dan pada periode 3anuari sampai dengan 3uni )11> didapatkan sebanyak )1# kasus dari jumlah seluruh kunjungan sebanyak 1#69 orang. !re&alensi Rheumatoid Arthritis lebih banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan dengan lakilaki dengan rasio # $ 1 dan dapat terjadi pada semua kelompok, umur, dengan angka kejadian tertinggi didapatkan pada dekade keempat dan kelima.(:udoyo )111).

).#.

/tiologi
1.?aktor +enetik /tiologi dari Rheumatoid Arthritis tidak diketahui se ara pasti. -erdapat interaksi yang kompleks antara faktor genetik lingkungan. ?aktor genetik berperan penting terhadap kejadian Rheumatoid Arthritis, dengan angka kepekaan dan ekspresi penyakit sebesar 91;. 'ubungan gen 'LA-0RB1 dengan kejadian Rheumatoid Arthritis telah diketahui dengan baik, "alaupun beberapa lokus non-'LA juga berhubungan dengan Rheumatoid Arthritis seperti
4

daerah 1=A)1 dari gen -2?R:R11A yang mengkode akti&ator reseptor nu lear faktor kappa B (2?-kB). +en ini berperan penting dalam resorpsi tulang pada Rheumatoid Arthritis. ?aktor genetik juga berperanan penting dalam terapi Rheumatoid Arthritis karena akti&itas enBim seperti methylen eletrahydrofolate redu tase dan thiopurine methyltransferase untuk metabolism methotre(ate dan aBathioprine ditentukan oleh fa tor geneti . !ada kembar monoBigot mempunyai angka keseuaian untuk berkembangnya Rheumatoid Arthritis lebih dari #1; dan pada orang kulit putih dengan Rheumatoid Arthritis yang mengekspresikan 'LA-0R6 mempunyai angka kesesuaian sebesar =1;.(:udoyo )111). ).'ormon :e( !re&alensi AR lebih besar pada perempuan dibandingkan dengan lakilaki, sehingga diduga hormone seks berperanan dalam perkembangan penyakit ini. !ada obser&asi didapatkan bah"a terjadi perbaikan gejala AR selama kehamilan, !erbaikan ini diduga karena $ 1. Adanya aloantibody dalam sirkulasi maternal yang menyerang 'LA-0R sehingga terjadi hambatan fungsi epitop 'LA-0R yang mengakibatkan perbaikan penyakit. Adanya perubahan profil hormone se ara langsung menstimulasi sekresi dehidroepiandrosteron, yang merupakan androgen utama pada perempuan yang dikeluarkan oleh sel-sel adrenal fetus. Androgen bersifat imunosupresi terhadap respon imun seluler dan humoral. 0'/A merupakan substrat penting dakam sintesis estrogen plasenta. /strogen dan progesterone menstimulasi respon imun humoral dan menghambat respon imun selular. Cleh karena pada AR respon -h1 lebih dominan sehingga estrogen dan progesterone mempunyai efek yang berla"anan terhadap perkembangan AR. !emberian kontrasepsi oral dilaporkan men egah perkembangan AR atau berhubungan dengan penurunan insiden AR yang lebih berat. (:udoyo )111). #.?aktor 8nfeksi Beberapa &irus dan bakteri diduga sebagai agen penyebab penyakit. Crganisme ini diduga menginfeksi sel induk semang. 0an merubah reakti&itas atau respon sel - sehingga men etuskan timbulnya penyakit. Dalaupun belum

ditemukan agen infeksi yang se ara nyata terbukti sebagai penyebab penyakit. (:udoyo )111).

).6.

%orfologi dari Rheumatoid Arthritis


Arthritis rematoid menyebabkan perubahan morfologis yang luas, perubahan terberat terjadi pada persendian. RA se ara khas mun ul sebagai arthritis simetris,yang menyerang sendi ke il pada tangan dan kaki,pergelangan kaki,pergelangan tangan,siku,dan bahu.:e ara klasik,sendi interfalang proksimal dan metakarpofalang akan terserang,tetapi sendi interfalang distal tidak terserang .3ika terjadi pada aksial,serangan pada sendi panggul sangat jarang terjadi.:e ara histologist,sendi yang terserang menunjukkan sino&itis kronis,yang ditandai dengan (1)hyperplasia dan proliferasi sel sino&ial ())inflitrat sel peradangan peri&askuler padat(sering kali membentuk folikel limfoid)dalam sino&ium yang tersusun atas sel <06E,sel plasma,dan makrofag,(#)!eningkatan &askularitas akibat angiogenesis,(6)neutrofil dan agregat fibrin yang mengalami organisasi pada permukaan syno&ial dan dalam ruang sendi,serta(*)!eningkatan akti&itas osteoklas pada tulang diba"ahnya sehingga terjadi penetrasi syno&ial dan erosi tulang.+ambaran klasik adalah terdapatnya panus,yang dibentuk oleh sel epitel syno&ial yang berproliferasi dan ber ampur dengan sel radang,jaringan granulasi,dan jaringan ikat fibrosa,pertumbuhan jaringan ini sangat berlebihan sehingga membran syno&ial yang biasanya tipis dan halus berubah menjadi tonjolan yang banyak sekali,edematosa,dan menyerupai daun pakis(&ilosa).!ada peradangan sendiFsempurnaF(full blo"n),biasanya akan mun ul edema jaringan lunak periartikular,yang fusiformis se ara pada klasik sendi pertama kali tampak sebagai 0engan pembengkakan interfalang proksimal.

berkembangnya penyakit,tulang ra"an sendi yang berdekatan dengan panus mengalami erosi dan pada saatnya akan dihan urkan.-ulang subartikular dapat pula diserang dan mengalami erosi.pada akhirnya,panus akan meengisi rongga sendiri,dan ?ibrosis dan kalsifikasi selanjutnya dapat mengakibatkan Ankilosis permanen pda gambaran radiografi terlihat efusi sendi serta osteopenia jukstaarikular yang disertai erosi dengan penyempitan rongga sendi serta hilangnya
6

tulang ra"an sendi.!erusakan tendo,ligamentum,dan kapsul sendi menimbulkan deformitas yang khas, yaitu defiasi radial, pergelangan tangan, dan kelainan fleksi, hiperekstensi pada jariF tangan(deformitasleher angsa7s"an7ne k),deformitas boutenniere.2odulus subkutan rematoid terjadi pada kira-kira seperempat dari para pasien, yang terjadi di sepanjang permukaan ekstensor lengan ba"ah atau pada tempat yang mudah terkena tekanan mekanisme,nodulus ini jarang terbentuk dalam paru,limfa,jantung,aorta,dan organ &isera lainnnya.2odulus remahtoid adalah massa yang kenyal,tidak nyeri tekan,o&al atau bulat diameter men apai ) m.se ara makroskopis nodulus ini ditandai dengan suatu fo us sentral nekrosis fibrinoid yang ipagari oleh suatu falisade makrofag,yang kemudian akan dikelilingi oleh jaringan granulasi.!asien dengan penyakit erosif berat nodulus rheumatoid,se ara titer faktor rheumatoid yang tinggi (ig% dalam sirkulasi yang mengikat ig+) berisiko mengalami sindrom &askulitis.Gaskulitis nekrotikans akut dapat menyerang arteri ke il atau besar.:erangan pada serosa dapat mun ul sebagai pleuritis fibrinosa atau perikarditis atau keduanya sekaligus.!arenkim paru dapat dirusak oleh fibrosis intertisial progesif. !ada beberapa kasus, perubahan pada mata, misalnya u&eitis dan keratokonjuti&itis(mirip dengan yang terjadi pada syndrome sjorgen)dapat timbul men olok. (:yl&ia A.!ri e,dkk )11*).

).*.

?aktor Risiko
?aktor risiko yang berhubungan dengan peningkatan terjadinya Rheumatoid Arthritis antara lain jenis kelamin perempuan, ada ri"ayat keluarga yang menderita Rheumatoid Arthritis, umur lebih tua, paparan salisilat dan perokok. ,onsumsi kopi lebih dari tiga kali sehari, khususnya kopi decaffcinated mungkin juga berisiko. %akanan tinggi &itamin 0, konsumsi the, dan penggunaan kontrasepsi oral berhubungan dengan penurunan risiko. -iga dari empat perempuan dengan Rheumatoid Arthritis mengalami perbaikan gejala

yang bermakna selama kehamilan dan biasanya akan kambuh lagi setelah melahirkan.(:udoyo )111)

).9.

!atogenesis
,erusakan sendi pada AR dimulai dari proliferasi makrofag dan fibroblast sino&ial setelah adanya faktor pen etus berupa autoimun dan infeksi. Limfosit menginfiltrasi daerah peri&askuler dan terjadi proliferasi sel-sel endotel yang selanjutnya terjadi neo&askularisasi. !embuluh darah pada sendi yang terlibat mengalami oklusi oleh bekuan-bekuan ke il dan sel inflamasi. -erjadi pertumbuhan yang irregular pada jaringan sino&ial yang mengalami inflamasi sehingga membentuk jaringan panus. !anus mengin&asi dan merusak ra"an sendi dan tulang. Berbagai ma am sitokin, interleukin, proteinase, dan fa tor pertumbuhan dilepaskan, sehingga mengakibatkan destruksi sendi dan komplikasi sistemik.(:udoyo )111). Peran sel T 8nduksi respon sel - pada arthritis rheumatoid dia"ali oleh interaksi antara reseptor sel - dengan sel share epitope dari major histo ompability omple( lass 88 (%'<88-:/) dan peptida pada antigen presenting ell(A!<) sino&ium atau sistemik . %olekul tambahan (a essory) yang diekspresikan oleh A!< antara lain 8<A%-1 (intra ellular adhesion mole ule-1) (<0*A6), CH61L(<0)*)), indu ible ostimulator (8<C:) ligand (<0)>*), B>-1(<0=1) dan B>-)(<0=9) berpartisipasi dalam akti&asi sel - melalui ikatan dengan lympho yte fun tion-asso iated antigen (L?A)-1 (<011a7<01=), CH61(<01#6),8<C:(<0)>=), dan <0)=. ?ibroblast-like syno&io ytes(?L:) yang aktif mungkin juga

berpartisipasi dalam presentasi antigen dan mempunyai molekul tambahan seperti L?A-#(<0*=), dan AL<A% (a ti&ated leuko yte dan ell adhesion <09. mole ule) (<0119) yang berinteraksi dengan sel - yang mengekspresikan <0) 8nterleukin(8L-9) dan transforming gro"th fa tor-beta (-+?-I) kebanyakan berasal dari A!< aktif, signal pada sel -h-1> menginduksi pengeluaran 88-1>
8

8L-1> mempunyai efek independen dan sinergistik dengan sitokin proinflamasi lainnya (-2?-J dan 8L-I) pada sino&ium, yang menginduksi pelepasan sitokin, produksi metalloproteinase, ekspresi ligan RA2,7RA2, (<0)9*7<0)*6), dan osteoklastogenesis. 8nteraksi <061L(<01*6)dengan <061 juga mengakibatkan akti&asi monosit7makrofag(%o7%a )syno&ial,?L:,dan sel B. Dalaupun pada kebanyakan penderita AR didapatkan adanya sel - regulator <06E<0)*hi pada sino&ium, tetapi tidak efektif dalam mengontrol inflamasi dan mungkin dinonaktifkan oleh -2?J syno&ial. 8L-11 banyak didapatkan pada airan sino&ial, tetapi efeknya pada regulasi -h-1> yang belum diketahui. /kspresi molekul tambhan pada sel -h-1> yang tampak adalah perkiraan berdasarkan ekspresi yang ditemukan pada populasi sel - he"an oba. !erlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan struktur tersebut pada subset sel -h-1> pada sino&ium manusia. (:udoyo )111). Peran sel B !eran sel B dalam immunopatogenesis AR belum diketahui se ara pasti, meskipun sejumlah peneliti menduga ada beberapa mekanisme yang mendasari keterlibatan sel B. ,eterlibatan sel B dalam pathogenesis AR diduga melalui mekanisme sebagai berikut $ 1. :el B berfungsi sebagai A!< dan menghasilkan signal kostimulator yang penting untuk lonal e(pansion dan fungsi efektor dari sel - <06E. ). :el B dalam membrane syno&ial AR juga memproduksi sitokin proinflamasi seperti -2?-J dan kemokin. #. %embran syno&ial AR mengandung banyak sel B yang memproduksi faktor Rheumatoid (R?). AR dengan R? positif(seropositif) berhubungan dengan penyakit artikular yang lebih agresif, mempunyai pre&alensi, manifestasi, ekstraartikular yang lebih tinggi dan angka morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi. R? juga bisa men etuskan stimulus diri

sendiri untuk sel B yang mengakibatkan akti&asi dan presentasi antigen kepada sel -h, yang pada akhirnya proses ini juga akan memproduksi R?. :elain itu kompleks imun R? juga memperantarai akti&asi komplemen, kemudian se ara bersama-sama bergabung dengan reseptor ? g, sehingga men etuskan kaskade inflamasi. Akti&asi sel - dianggap sebagai komponen kun i dalam pathogenesis AR. Bukti terbaru menunjukkan bah"a akti&asi ini sangat bergantung kepada adanya sel B. Berdasarkan mekanisme di atas mengindikasikan bah"a sel B berperan penting dalam penyakit AR sehingga layak dijadikan target dalam terapi AR. (:udoyo )111).

).>.

%anifestasi ,linis
1.A"itan(onset) ,urang lebih )7# penderita AR, a"itan terjadi se ara perlahan, arthritis simetris terjadi dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan dari perjalanan penyakit. ,urang lebih 1*; dari penderita mengalami gejala a"al yang lebih epat yaitu antara beberapa hari sampai beberapa minggu. :ebanyak 11-1*; penderita mempunyai a"itan fulminami berupa arthritis poliartikular, sehingga diagnosis AR lebih mudah di tegakkan . pada =-1*; penderita, gejala mun ul beberapa hari setelah kejadian tertentu (infeksi). Artritis sering kali diikuti oleh kekakuan sendi pada pagi hari yang berlangsung selama 1 jam atau lebih. Beberapa penderita juga mempunyai gejala konstitusional berupa kelemahan, kelelahan, anoreksia dan demam rinagan.(:udoyo )111) ).%anifestasi artikular !enderita AR pada umumnya datang dengan keluhan nyeri dan kaku pada banyak sendi, "alaupun ada sepertiga penderita mengalami gejala a"al pada satu atau beberapa sendi saja. Dalaupun tanda ardinal inflamasi(nyeri,bengkek, kemerahan dan teraba hangat) mungkin ditemukan

10

pada a"al penyakit atau selama kekambuhan (flare), namun kemerahan dan perabaan hangat mungkin tidak dijumpai pada AR yang kronik. !enyebab arthritis pada AR adalah sino&itis, yaitu adanya inflamasi pada membrane sino&ial yang membungkus sendi. !ada umumnya sendi yang terkena adalah persendian tangan, kaki dan &ertebra ser&ikal, tetapi persendian besar seperti bahu dan lutut juga bisa terkena. :endi yang terlibat pada umumnya simetris, meskipun pada presentasi a"al bisa tidak simetris. :ino&itis akan menyebabkan erosi permukaan sendi sehingga terjadi deformitas dan kehilangan fungsi. Ankilosis tulang (destruksi sendi disertai kolaps dan pertumbuhan tulang yang berlebihan) bisa terjadi pada beberapa sendi khususnya pada pergelangan tangan dan kaki. :endi pergelangan tangan hampir selalu terlibat, demikian jugasendi interfalang proksimal dan metakarpofalangeal. :endi interfalang distal dan sakroiliaka tidak pernah terlibat. (:udoyo )111) #.%anisfestasi ekstraartikular Dalaupun arthritis merupakan menifestasi klinis utama, tetapi AR merupakan penyakit sistemik sehingga banyak penderita juga mempunyai manifestasi ekastraartikular. %anifestasi ekastraartikular pada umumnya didapatkan pada penderita yang mempunyai titer faktotr rheumatoid (R?) serum tinggi. 2odul rheumatoid merupakan manifestasi kulit yang paling sering dijumpai, tetapi biasanya tidak memerlukan inter&ensi khusus. 2odul reumatoid umumnya ditemukan didarerah ulna, olekranon, jari tangan , tendon A hilles atau bursa olekranon. 2odul rheumatoid hanya ditemukan pada penderita AR dengan dengan faktor rheumatoid positif (sering titernya tinggi) dan mungkin dikelirukan dengan tofus gout , kista ganglion, tendon (anthoma atau nodul yang berhubungan dengan demam reumatik, lepra, %<-0,atau multi entri reti ulohistio ytosis . manifestasi paru juga bisa didapatkan, tetapi beberapa perubahan patologik hanya di temukan saat otopsi. Beberapa manifestasi ekstraartikuler seperti memerlukan terapi spesifik.(:udoyo )111) ,riteria dari American Rheumatism Association (ARA) yang dire&isi tahun 1K=> adalah$

11

1.

,aku pada pagi hari (morning stiffness). !asien merasa kaku pada persendian dan disekitarnya sejaka bangun tidur sampai sekurangkurangnya 1 jam sebelum perbaikan maksimal.

).

Arthritis pada # daerah. -erjadi pembengkakan jaringan lunak atau persendian (soft tissue swelling) atau lebih efusi, bukan pembesaran tulang (hiperostosis). -erjadi pada sekurang-kurangnya # sendi se ara bersamaan dalam obser&asi seorang dokter. -erdapat 16 persendian yang memenuhi kriteria, yaitu interfalang proksimal, metakarpofalang, pergelangan tangan, siku, pergelangan kaki, dan metatarsofalang kiri dan kanan.

#.

Arthritis

pada

persendian

tangan.

:ekurang-kurangnya

terjadi

pembengkakan satu persendian tangan seperti tertera di atas. 6. Arthritis simetris. %aksudnya keterlibatan sendi yang sama (tidak mutlak bersifat simetris) pada kedua sisi se ara serentak (symmetrical polyarthritis simultaneously). *. 2odul rheumatoid, yaitu nodul subkutan pada penonjolan tulang atau permukaan ekstensor atau daerah jukstaartikular dalam obser&asi seorang dokter. 9. ?aktor rheumatoid serum positif. -erdapat titer abnormal faktor rheumatoid serum yang diperiksa dengan ara yang memberikan hasil positif kurang dari *; kelompok kontrol. >. -erdapat perubahan gamabaran radiologis yang khas pada pemeriksaan sinar rontgen tangan posteroanterior atau pergelangan tangan, yang harus menunjukkan adanya erosi atau dekalsifikasi tulang yang berlokalisasi pada sendi atau daerah yang berdekatan dengan sendi. 0iagnosis Reuamtoid Arthritis ditegakkan sekurang-kurangnya terpenuhi 6 dari > kriteria di atas. ,riteria 1 sampai 6 harus terdapat minimal selama 9 minngu.(Arif %ansjoer,dkk )111)

12

).=.

,omplikasi
,omplikasi yang bisa terjadi pada penderita artritis reumatoid. KOMPLIKASI Anemia KETERANGAN Berkorelasi dengan L/0 dan akti&itas penyakit 4 >* ; penderita AR mengalami anemia karena penyakit kronik dan )*; penderita tersebut ,anker memberikan respon terhadap terapi besi. %ungkin akibat sekunder dari terapi yang diberikan4 kejadian limfoma dan leukemia )-# kali lebih seringterjadi pada penderita AR 4peningkatan resiko terjadinya berbagai tumor solid4penurunan resiko terjadinya kanker genitourinaria,diperkirakan karena penggunaan ,omplikasi kardiak CA82:. 17# penderita AR mungkin mengalami efusi perikardial asimptomatik saat diagnosis ditegakkan 4miokarditis bisa terjadi ,baik dengan atau tanpa gejala 4blok atri&entrikular jarang !enyakit tulang belakang leher ( er&i al spine disease) ditemukan. -enosino&itis pada ligamentum trans&ersum bisa menyebabkan instabilitas sumbu atlas ,hati-hati bila melakukan intubasi endotrakeal 4mungkin ditemukan hilangnya lordosis ser&ikal dan berkurangnya lingkup gerak leher ,subluksasi <6-<* dan <*-<9,!enyempitan elah sendi pada foto ser&i al lateral .%yelopati bisa terjadi yang ditandai +angguan mata !embentukan fistula !eningkatan infeksi oleh kelemahan bertahap pada ekstremitas atas dan parestesia. /piskleritis jarang terjadi. -erbentuknya sinus kutaneus dekat sendi yang terkena ,terhubungnya bursa dengan kulit. @mumnya merupakan efek dari terapi AR.

13

0eformitas sendi tangan

0e&iasi ulnar pada sendi metakarpofalangeal 4deformitas hiperekstensi (kebalikan boutonniere dari dari (fleksi !8! s"an ibu dan ne k jari 08!)4deformitas

deformitas

boutonniere)4hiperekstensi 0eformitas sendi lainnya

4peningkatan risiko ruptur tendon. Beberapa kelainan yang bisa ditemukan antara lain $froBen shoulder ,kista poplitel,sindrom tero"ongan karpal dan tarsal. 2odul paru bisa bersama-sama dengan kanker dan pembentukan lesi ka&itas 4bisa ditemukan inflamasi pada sendi ditemukan pada )1; ri oarytenoid dengan penderita 4fibrosis gejala suara serak dan nyeri pada laring $pleuritis interstitial bisa ditandai dengan adanya ronki

,omplikasi pernafasan

2odul rheumatoid

pada pemeriksaan fisik 0itemukan pada )1-#* ; penderita AR,biasanya ditemukan pada permukaan ekstensor ekstremitas atau daerah penekanan lainnya ,tetapi bisa juga ditemukan pada daerah sklera ,pita suara ,sakrum atau &ertebra. Bentuk kelainannya antara lain $ arteritis distal,perikarditis,neuropati koroner 4terjadi peningkatan ,titer R? perifer,lesi resiko ysng kutaneus ,arteritis organ &is era dan artritis pada$penderita perempuan

Gaskulitis

tinggi ,mendapat terapi steroid dan mendapat beberapa ma am 0%AR04berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya infark miokard.

14

,omplikasi pleuroparenkimal primer dan sekunder dari artritis rheumatoid$ !leural disease !leural effusions ,pleural fibrosi

8nterstitial lung disease @sual interstial pneumonia ,nonspesifi interstial pneumonia ,organiBing pneumonia,lympho yti damage,a ute interstial pneumonia ,diffuse al&eolar eosinophili pneumonia ,api al fibrobullous

disease,amyloid,rheumatoid nodules !ulmonary &as ular disease !ulmonary hypertension,&as ulitis,diffuse al&eolar homorrhage "ith apillaritis :e ondary pulmonary ompli ations Oppurtunististic infections !ulmonary tuber ulosis ,atypi al my oba terial infe tions,no ardiosis ,aspergillosis,pneumo ystis pneumonitis Drug toxicity %ethotre(ate ,gold ,0-peni illamin,sufasalaBin.(:udoyo )111) jero&e l pneumonia, ytomegalo&irus

).K.

0iagnosa Banding
Rheumatoid Arthritis harus dibedakan dengan sejumlah penyakit lainnya seperti atropati reaktif yang berhubungan dengan infeksi, spondiloatropati seronegatif dan penyakit jaringan ikat lainnya seperti Lupus /ritematosus :istemik(L/:), yang mungin mempunyai gejala menyerupai Rheumatoid

15

Arthritis, adanya kelainan endokrin juga harus disingkirkan. Arthritis +out juga bersama 5 sama dengan Rheumatoid Arthritis, bila di urigai ada Arthritis +out maka pemeriksaan airan sendi perlu dilakukan.(:udoyo )111).

).11.

!emeriksaan !enunjang
-idak banyak berperan dalam diagnosis arthritis rumatoid,namun dapat menyokong bila terdapat keraguan atau untuk melihat prognosis pasien.!ada pemeriksaan laboratorium terdapat$ 1. -es faktor reuma biasanya positif pada lebih dari >*; pasien arthritis reumatoid terutama bila masih aktif.:isanya dapat di jumpai pada pasien lepra,tuber ulosis paru,sirosis hepatis,hepatitis infeksiosa,lues,endokarditis bakterialis,penyakit kolagen,dan sarkoidosi. ). #. 6. *. 9. >. !rotein <-reaktif biasanya positif L/0 meningkat Lekosit normal atau meningkat sedikit Anemia normositik hipokrom akibat adanya inflamasi yang kronik -rombosit meningkat ,adar albumin serum turun dan globulin naik !ada pemeriksaan rontgen,semua sendi dapat terkena,tapi yang tersering adalah sendi metatarsofalang dan biasanya simetris.:endi sakroiliaka juga sering terkena.!ada a"alnya terjadi pembengkakan jaringan lunak dan demineralisasi juksta artikular.,emudian terjadi penyempitan ruang sendi dan erosi.

).11.
1.

!enatalaksanaan
!endidikan pada pasien mengenai penyakitnya dan penatalaksanaan yang akan dilakukan sehingga terjalin hubungan baik dan terjamin ketaatan

16

pasien untuk tetap berobat dalam jangka "aktu yang lama. (Arif %ansjoer,dkk )111) ). CA82: diberikan sejak dini untuk mengatasi nyeri sendi akibat inflamasi yang sering dijumpai. CA82: yang dapat diberikan$ a) Aspirin !asien diba"ah *1 tahun dapat mulai dengan dosis #-6 ( 1 gejala toksik. 0osis terapi )1-#1 mg7dl. b) #. 8buprofen, naproksen, piroksikam, diklofenak, dan sebagainya. g7hari,

kemudian dinaikkan 1,#-1,9 g per minggu sampai terjadi perbaikan atau

0%AR0 digunakan untuk melindungi ra"an sendi dan tulang dari proses destruksi akibat artritis reumatoid. %ula khasiatnya baru terlihat setelah #-1) bulan kemudian. :etelah )-* tahun, maka efekti&itasnya dalam menekan proses reumatoid akan berkurang. ,eputusan penggunaannya bergantung pada pertimbangan risiko manfaat oleh dokter. @mumnya segera diberikan setelah diagnosis artritis reumatoid ditegakkan, atau bila respon CA82: tidak baik, meski masih dalam status tersangka.3enis-jenis yang digunakan adalah$ a) ,lorokuin, paling banyak digunakan karena harganya terjangkau,

namun efekti&itasnya lebih rendah dibandingkan dengan yang lain. 0osis anjuran klorokuin fosfat )*1 mg7hari hidrosiklorokuin 611 mg7hari. /fek samping bergantung pada dosis harian, berupa penurunan ketajaman penglihatan, dermatitis makulopapular, nausea, diare, dan anemia hemolitik. b) :ulfasalaBin dalam bentuk tablet bersalut enteri digunakan dalam

dosis 1 ( *11 mg7hari, ditingkatkan *11 mg per minggu, sampai men apai dosis 6 ( *11 mg. :etelah remisi ter apai, dosis dapat diturunkan hingga 1 g7hari untuk dipakai dalam jangka panjang sampai
17

ter apai remisi sempurna. 3ika dalam "aktu # bulan tidak terlihat khasiatnya, obat ini dihentikan dan diganti dengan yang lain, atau dikombinasi. /fek sampingnya nausea, muntah, dan dyspepsia. ) 0-penisilamin, kurang disukai karena bekerja sangat lambat.

0igunakan dalam dosis )*1-#11 mg7hari, kemudian dosis ditingkatkan setiap )-6 minggu sebesar )*1-#11 mg7hari untuk men apai dosis total 6( )*1-#11 mg7hari. /fek samping antara lain ruam kulit urtikaria atau mobiliformis, stomatitis, dan pemfigus. e) Cbat imunosupresif atau imunoregulator,metotreksat sangat mudah

digunakan dan "aktu mula kerjanya relatif pendek dibandingkan dengan yang lain. 0osis dimulai *->,* mg setiap minggu. Bila dalam 6 bulan tidak menunjukkan perbaikan, dosis harus ditingkatkan. 0osis jarang melebihi )1 mg7minggu. /fek samping jarang ditemukan. !enggunaan siklosporin untuk artritis reumatoid masih dalam penelitian. f) ,ortikosteroid hanya dipakai untuk pengobatan artritis reumatoid

dengan komplikasi berat dan mengan am ji"a, seperti &askulitis, karena obat ini memiliki efek samping yang sangat berat. 0alam dosis rendah (seperti prednison *->,* mg satu kali sehari) sangat bermanfaat sebagai bridging therapy dalam mengatasi sino&itis sebelum 0%AR0 mulai bekerja, yang kemudian dihentikan se ara bertahap. 0apat diberikan suntikan kortikosteroid intraartikular jika terdapat peradangan yang berat. :ebelumnya, infeksi harus disingkirkan terlebih dahulu. (Arif %ansjoer,dkk )111) 6. -erapi non farmakologik,beberapa terapi non famakologik telah di oba pada penderita AR.-erapi puasa,suplementasi asam lemak esensial,terapi spa dan latihan menunjukkan hasil yang baik.!emberian suplemen minyak ikan(<od li&er oil) bisa digunakan sebagai 2:A80-spering agen pada penderita AR.%emberikan edukasi dan pendekatan multi disiplin dalam pera"atan penderita dapat memberikan manfaat jangka

18

pendek.!enggunaan terapi herbal,akupuntur,dan splinting belum . (:udoyo )111). *. Rehabilitasi, bertujuan meningkatkan kualitas hidup pasien.

aranya antara lain $ dengan mengistirahatkan sendi yang terlibat, latihan, pemanasan,dan sebagainya.?isioterapi dimulai segera setelah rasa sakit pada sendi berkurang7minimal.Bila tidak juga berhasil, mungkin diperlukan pertimbangan untuk tindakan operatif.:ering pula diperlukan alat-alat. ,arena itu, pengertian tentang rehabilitasi termasuk$ 1.!emakaian alat Bidai, tongkat atau tongkat penyangga,

"alkinma hine,kursi roda, sepatu, dan alat. ).Alat ortotik protetik lainnya. #.-erapi mekanik. 6.!emanasan $ baik hidroterapi maupun elektroterapi. *.C upational therapy.(Arif %ansjoer,dkk )111)

9.

!embedahan,jika berbagai ara pengobatan telah dilakukan dan tidak berhasil serta terdapat alasan yang ukup kuat, dapat dilakukan dapat dilakukan pengobatan pembedahan. didapatkan bukti yang meyakinkan.!embedahan harus dipertimbangkan bila$1.-erdapat nyeri berat yang berhubungan dengan kerusakan sendi yang ekstensif. ).,eterbatasan gerak yang bermakna atau keterbatasan fungsi yang berat.#.Ada ruptur tendon3enis pengobatan ini pada pasien Arthritis Rheumatoid umumnya bersifat ortopedik, misalnya sino&ektomi, artrodesis, total hip repla ement, memperbaiki de&iasi ulnar, dan sebagainya

@ntuk menilai kemajuan pengobatan, dipakai parameter$ 1. ). Lamanya morning stiffness. Banyaknya sendi yang nyeri bila digerakkan7berjalan.

19

#. 6. *. 9.

,ekuatan menggenggam (dinilai dengan tensimeter) Daktu yang diperlukan untuk berjalan 11-1* meter. !eningkatan L/0. 3umlah obat-obat yang digunakan.(Arif %ansjoer,dkk )111)

).1).

!rognosis
!rediktor prognosis buruk pada stadium dini AR antara lain $ skor fungsional yang rendah, status sosialekonomi rendah, tingkat pendidikan rendah, ada ri"ayat kga dekat keluarga dekat menderita AR, melibatkan banyak sendi, nilai <Rp atau L/0 tinggi saat permulaan penyakit, R? atau anti <<! positif, ada perubahan radiologis pada a"al penyakit, ada nodul rheumatoid7manifestasi ekstraartikular lainnya. :ebanyak #1; penderita AR dengan manifestasi penyakit berat tidak berhasil memenuhi riteria A<R )1 "alaupun sudah mendapat berbagai ma am terapi . sedangkan penderita dengan penyakit lebih ringan memberikan respon yang baik dengan terapi. !enelitian yang dilakukan oleh lindA&ist dkk pada penderita AR yang mulai tahun 1K=1-an, memperlihatkan tidak adnya peningkatan angka morbalitas pada = tahun pertama sampai 1# tahun setelah diagnosis. Rasio keseluruhan penyebab kematian pada penderita AR dibandingkan dengan populasi umum adalah 1,9 tetapi hasil ini mungkin akan menurun setelah penggunaan jangka panjang 0%AR0 terbaru.(:udoyo )111).

20

BAB 888 !/2@-@!


#.1.
1.

,esimpulan
Artritis reumatoid adalah gangguan kronik yang mengenai banyak organ yang merupakan salah satu kelompok penyakit jaringan ikat difus.gangguan ini diperantai imun dan etiologinya tidak diketahui. ). Artritis reumatoid menyerang perempuan sekitar dua setengah kali lebih sering daripada laki-laki ,dengan insiden pun ak antara 61 dan 91 tahun. #. !enyebab artritis reumatoid masih belum diketahui ,meskipun

patogenesisnya sudah diketahui. 6. -erdapat hubungan antara penanda genetik 'LA-0"6 dan 'LA-0R* pada ras kaukasia.pada orang Amerika-Afrika ,3epang ,dan 8ndian <hippe"a,hanya berhubungan dengan 'LA-0"6. *. !enghan uran jaringan sendi terjadi dalam ) ara .pertama,penghan uran digestif terjadi akibat produksi protease ,kolagenase dan enBim hidrolitik.penghan uran jaringan juga terjadi melalui kerja pannus reumatoid . 9. Beberapa gambaran klinis yang laBim men akup

(1)kelahan,anoreksia,berat badan turun dan demam.()) poliartritis simetri,terutama sendi perifer dan kaku di pagi hari lebih dari satu jam. (#)artritis erosif dan deformitas sebagai penghan uran struktur penunjang sendi.(6)nodul reumatoid ,yang merupakan massa subkutan dan (*)manifestasi ekstra-artikular yang dapat mengenai organ(misal jantung,paru ,mata,pembuluh darah). >. Beberapa uji laboratorium digunkan untuk diagnosis artritis

reumatoid.sebagai

ontoh faktor reumatoid ditemukan dalam serum

sekitar =*; orang yang menderita artritis reumatoid .


21

=.

,riteria diagnostik adalah sebagai berikut$ (1) kaku di pagi hari (berlangsung dalam 1 jam ).()) artritis pada # atau lebih sendi .(#) artritis sendi tangan .(6) artritis simetris .(*) nodul reumatoid .(9) faktor reumatoid serum .(>)perubahan radiograf (erosi atau dekalsifikasi tulang). 0apat disebut artritis reumatoid jika sedikitnya terdapat 6 dari > kriteria .

K.

!engobatan artritis reumatoid berdasarkan pada pemahaman patofisiologi gangguan .perhatihan harus diarahkan pada manisfestasi psikofisiologi dan gangguan psikososial yang menyertainya disebabkan oleh perjalanan masalah yang kronik yang berubah-ubah.

#.).

:aran
!asien harus mengetahui dan memahami tentang penyakit Rheumatoid Arthritis yang dideritanya, sehingga akan lebih mudah bagi pasien menerima kondisi dan prognosis dari penyakitnya.

22

0A?-AR !@:-A,A
Bradley,john,dkk.()111).Penuntun Klinis.3akarta $ 'ipokrates %ansjoer,Arif,dkk.()111).Kapita Aes ulapius. !ri e,:yl&ia A.()11*).Patofisiologi.Edisi !.3akarta $ /+< Robbins,dkk.()11>)."uku A#ar Patologi.Edisi $.3akarta $ 'ipokrates :udoyo,Aru.D.()111).%lmu Penyakit Dalam.Edisi &.3akarta$ 8nterna !ublising Selekta Kedokteran.Edisi .3akarta$ %edia

23