Anda di halaman 1dari 33

PENUNTUN KULIAH ETIKA PROFESI MEDIS

Dr. Danny Wiradharma, SH., MS Penerbit Universitas Trisakti

(keterampilan, kejuruan, dsb) tertentu. jadi profesi bukanlah pekerjaan atau mats pencaharian biasa, tetapi pekerjaan yang berdasarkan keahlian. Istilah ini secara rinci akan dibahas kembali pads Bab mengenai Profesi Medis. Adapun mengenai i s t i l a h m e d i s d a l am K B B a d a l a h m e n ge n a i o b a t d a n penggunaannya dalam bidang kedokteran. Dengan Profesi Medis, yang dimaksud adalah profesi yang berkaitan dengan b i d a n g k e d o k t er a n , baik k e d o kt e r a n umum,

m a u p u n kedokteran gigi. Dokter (physician) dan dokter gigi (dentist) adal ah

tenaga medi s yang menurut hukum kedokteran b e r b e d a d e n ga n t e n a ga k e s e h a t a n l a i nn y a d a l a m h a l kewenangannya untuk melakukan suatau tindakan medik. Sistematika penulisan berikutnya dimulai dengan Norma-norma Sosial yaitu Hukum, Etiket, Etika dan Agama, yang disertai suatu bagan

perbandingan keempat norma tersebut. Bab berikutnya adalah Pengantar Etika, yang dimulai dengan pembagian atau sistematikanya; diteruskan dengan Tema-terra Umum, dan Teori-teori Etika, serta Norma Moral yang bersifat absolut, universal dan obyektif, serta mengenai norma dasar terpenting yaitu martabat manusia. Bab yang selanjutnya adalah Profesi Medis yang menguraikan tentang Sumpah Dokter, Sejarah Kedokteran, Prinsip-prinsip Moral Dasar, dan Prinsip-prinsip Etika Medis, Pengertian dan Ciriciri Proffesi, serta kriteria Profesi medis dan Kode Etik Profesi dengan lafal sumpah tenaga medis Berikutnya diuraikan Pengantar Bioetika, tentang pengertiannya, sebab-sebab munculnya dan 8 terra-terra bioetika. Bab terakhir adalah mengenai Pengambilan Keputusan Etik, dengan ciri-ciri dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta metodenva.

B A B

I I

NORMA-NORMA SOSIAL

Di alam kita membedakan 3 jenis makhluk hidup yaitu manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Manusia berbeda dengan hewan. Aristoteles mengatakan bahwa manusia itu Adalah "Zoos Politicos", artinya bahwa manusia itu sebagai makhluk pada dasarnya ingin selalu berkumpul dengan sesamanya. Manusia adalah makhluk sosial yang hidup hersama dan berkelompok-kelompok. Kelompok-kelompok iiianusia yang berada di wilayah tertentu, dinamakan iiiasyarakat. Manusia hidup bermasyarakat untuk memenuhi kobutuhannya. Sebagai makhluk pribadi, pada dasarnya manusia bebas berbuat menurut kehendaknya. Akan tetapi m-bagai makhluk sosial tidak dapat bebas berbuat menurut kehendaknya. Ada ketentuan-ketentuan yang mengatur sikap (indak setiap anggota masyarakat, sebab apabila tidak dernikian, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam masyarakat tersebut. Ketentuan-ketentuan yang mengatur sikap tindak manusia, yang menjadi pedoman berperilaku agar t I . 1,j adi keseimbangan kepentingan seluruh anggota masyarakat Ivrsebut, disebut kaidah sosial atau norma-norma sosial atau kaidah kehidupan. Ada 4 norma sosial yang dapat dibedakan yaitu :
1. Norma 2. Norma 3. Norma 4.

Hukum Etiket Etika

Norma Agama

HUKUM Norma-norma sosial umumnya dibedakan menjadi norma hukum dan norma non hukum atas dasar bahwa norma hukum dibuat secara resmi oleh negara, sehingga dapat dipaksakan berlakunya. Oleh karena itu pada umumnya norma hukum lebih memberikan kepastian dan perlindungan kepada masyarakat. Hukum merupakan suatu sistem yang tersusun atas sejumlah unsur yang membentuk suatu kesatuan yang utuh. Ada 8 prinsip hukum di dalarn suatu

sistem hukum, yaitu :


1.

suatu sistem hukum harus mengandung peraturanperaturan, bukan hanya keputusan ad hoc.

2. 3. 4.

peraturan tersebut dirumuskan dengan susunan kata yang mudah dimengerti. antara masing-masing peraturan tidak boleh sating bertentangan. suatu peraturan tidak boleh mengandung ketentuan yang melebihi apa yang dapat dilakukan.

5. 6. 7.
8.

peraturan tersebut harus diumumkan. peraturan tersebut tidak boleh berlaku surut. h a r u s s e s u a i a n t a r a y a n g d i u n d a n g k a n d e n g a n pelaksanaannya. tidak boleh Bering berubah, agar masyarakat tidak kehilangan orientasi. Pengertian Norma Hukum perlu dibedakan den gan Azas Hukum. Azas

Hukum merupakan dasar-dasar umum yang mengandung nilai-nilal etis yang terdapat dalam peraturan hukum / kaidah hukum / norma hukum konkrit. Jadi Azas I hukum lebih bersifat abstrak sebagai suatu ide atau konsep, dan tidak mengandung sanksi. Norma Hukum merupakan aturan rill, sebagai penjabaran dari suatu konsep, dan mengandung sanksi. Oleh karma itu dapat dikatakan bahwa azas hukum .1 dalah jiwa dari norma hukum. Pada azasnya undang-undang tidak berlaku surut, dan peraturan hukumnya tercantum dalam pasal 1 ayat 1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana yaitu " hada suatu perbuatan yang dapat dihukum, kecuali atas kekuatan undang-undang yang telah ada sebelum perbuatan itu dilakukan". Azas hukum lain mengatakan bahwa apabila seseorang melakukan perbuatan buruk yang merugikan orang lain harus mengganti kerugian. Norma hukumnya tercantum dalam pasal 1365 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, di mana disebutkan bahwa barang siapa yang melakukan perbuatan yang melawan hukum dan menimbulkan kerugian bagi pihak lain, wajib mengganti kerugian. Azas-azas hukum lain misalnya : Azas praduga tidak bersalah (presumption ofinnocence), di mana seseorang dianggap tidak bersalah sebelum ada keputusan hakim yang mengatakan bahwa is bersalah clan keputusan ters'ebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Azas pasta sunt servanda, yaitu bahwa perjanjian yang suclah disepakati bersama berlaku sebagai undangundang bagi para pihak yang bersangkutan.

ETIKET Etiket sebagai suatu norma yang terutama mengatur Aspek kehidupan antar pribadi - seperti halnya hukum , perlu

dibedakan dengan etika karena banyak kemiripannya dari segi penulisan hurufnya, dan fungsinya yang mengatur perilaku manusia secara normatif. Dasar dari etiket adalah kepantasan, kebiasaan atau kepatutan yang berlaku dalam pergaulan di masyarakat, yang ditujukan kepada sikap lahir saja, sehingga tujuannya bukan manusia sebagai pribadi melainkan manusia sebagai makhluk sosial. Etika tidak tergantung pada ada tidaknya orang lain, karena menyangkut terutama segi batin manusia sebagai makhluk pribadi. Etiket atau norma kesopanan, tata krama atau adat hanya berlaku menurut kebiasaan saja. Untuk mengetahui apakah perilaku itu suatu etiket ataukah norma moral, dapat kita perhatikan bagaimana reaksi kita terhadap seorang asing yang melanggar norma tersebut. Apabila orang asing makan dengan menggunakan tangan, padahal menurut kita seharusnya ia menggunakan sendok-garpu, ia tidak kita anggap berkelakuan buruk. Hal makan tersebut bukan masalah moral atau etika, melainkan masalah sopan-santun. Sebaliknya apabila orang asing membohongi kita, kita akan menilai dia buruk, karena ini adalah persoalan etika. Dengan demikiai etiket dapat dikatakan bersifat relatif, yang dianggap tidak biasa dalam suatu kebudayaan, bisa saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain. Akan tetapi etika jauh bersifat absolut, seperti berbohong merupakan perbuatan yang dianggap buruk dalam kebudayaan manapun. Sesungguhnya etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan, sedangkan etika tidak terbatas pada cara dilakukannya suatu perbuatan. Etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri, menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleti dilakukan atau tidak.

ETIKA Etika sebagai suatu norma sosial yang terutama mengatur aspek kehidupan pribadi seperti halnya agama, inerupakan salah satu cabang filsafat. Filsafat dapat dikatakan sebagai produk akal budi manusia yang paling tua dalam seiarah manusia. Manusia adalah makhluk yang bertanya. Manusia tidak man menerima begitu saja hal-hal yang berkaitan dengan dirinya dan lingkungan sekitarnya. Apabila sesuatu itu

tidak sesuai dengan keinginannya, ia akan rnerubahnya. Kalau itu ternyata tidak mungkin maka ia akan merubah dirinya. Dalam hal ini ia menyesuaikan diri. Proses perubahan dan penyesuaian diri menghasilkan peradaban. Pada umumnya pertanyaan awal untuk mengetahui rasa ingin tabu manusia adalah, " Apa ? ". Jawabannya adalah sebuah nama. Setelah manusia mengetahui tentang sesuatu, ia akan bertanya lagi, "Mengapa begitu ? ". Untuk itu diperlukan suatu gagasan. Sebuah nama belum menjelaskan apa-apa. Jawaban untuk pertanyaan " Mengapa ? ", memerlukan upaya lain dari manusia. Apabila filsafat berusaha menjawab pertanyaan "Apa hakekat sesuatu?. ", maka i1mu berusaha menjawab pertanyaan " Mengapa hal itu begitu ? ". Dalam hal ini dengan akalnya manusia mencari - bukan menciptakan - hukum-hukum alam. Akan tetapi manusia umurnnya menyadari bahwa akalnya tidak selalu berhasil i i i enyingkapkan suatu rahasia alam semesta. Ilmu mempunyai keterbatasan. Pada saat manusia sampai pada batas kemampuan rasionalnya, ia terbuka untuk hal-hal yang sut)ra-raslonal, yang transenden, yang melampaui kenyataanKvIlyataan lahiriah yang dapat ditangkap oleh kelima inderanya. Manusia membutuhkan sesuatu yang lain, yaitu Agama. Kembali kita kepada kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang bertanya. Pertanyaan pertamanya adalah "Apa?". Kemudian ia bertanya lagi " Mengapa ? ". Setelah manusia tabu apa dan mengapanya, ia masih bertanya lagi, "Bagaimana seharusnya? ". Pertanyaan inilah yang sebenarnya merupakan pertanyaan pokok dalam buku ini yang akan kita pelajari lebih jauh lagi. sebagai ilmu, etika mencari kebenaran dan sebagai filsafat, etika mencari penyelesaian sedalam-dalamnya. Etika tidak menyuruh orang harus begini atau harus begitu, juga tidak melarang orang untuk ini atau untuk itu. Agar lebih mengerti apa yang disebut etika, kita harus membedakannya dengan ajaran moral.. Ajaran moral berisi pandangan-pandangan tentang nilainilai dan norma-norma moral yang terdapat di dalam suatu masyarakat, Keseluruhan nilai-nilai dan norma-norma Berta sikap-sikap moral seseorang atau suatu masyarakat disebut moralitas. Etika sebagai filsafat tentang ajaran moral, tidak mengajarkan bagaimana kita harus hidup, atauapa yang harus dilakukan seseorang dalam kehidupannya sehari-hari, akan tetapi etika mengajarkan mengapa kita harus mengikuti ajaran moral tertentu, atau berusaha untuk mengerti, atas dasar apa kita harus hidup menurut norma-norma tertentu. jadi

etika tidak mempunyai kewenangan untuk menetapkan apa yang boleh atau apa yang tidak boleh kita lakukan. Kewenangan semacam itu dianggap dimiliki oleh mereka yang memberikan ajaran moral. Berbagai moralitas yang terdapat di dalam suatu masyarakat, dapat berasal dari satu atau beberapa dari tiga cumber - yaitu adat-istiadat atau tradisi, agama, dan pandangan-pandangan yang berbeda-beda tentang nilai-nilai dan norma-norma moral dalam suatu masyarakat - dapat inembuat sebagian anggota masyarakat menjadi bingung dan rnemerlukan suatu orientasi untuk memilih moralitas mana yang akan digunakannya. Dalam hal ini etika merupakan sarana untuk menimbulkan suatu keterampilan intelektual dalam berargumentasi secara kritis, metodis dan sistematis. Jadi etika merupakan refleksi kritis, metodis dan sistematis tnengenai perilaku manusia yang berkaitan dengan norma. Karena refleksi tersebut dijalankan dengan kritis, metodis dan ~,istematis, pembahasan itu dapat disebut sebagai ilmu. Seorang Ilili etika memiliki keahlian teoritis yang dapat dipelajari, t. 1 11pa memperhatikan kebutuhan moral dari mereka yang mau mempelajari etika, sedangkan ahli moral bagaikan seorang y,tiru atau pandita yang memberikan wejangan-wejangan bagi iiwreka yang mengalami masalah kehidupan. Apabila ajaran i i i0ral langsung bersifat formatif bagi seseorang, maka ajaran flika hanya menyampaikan suatu kecakapan teoritis. Nhhasiswa yang

memperoleh nilai istimewa dalam mata kuliah etika kedokteran, belum tentu dalam melakukan t tiidakan medic akan berlaku paling etis. Meskipun demikian, pciigetahuan tentang etika merupakan unsur penting agar wworang dapat mencapai kematangan etis. Perasaan spontan ~.'Jja rupanya tidaklah cukup, harus pula disertai pengertian. t tituk memperoleh suatu sikap etis yang tepat, mempelajari 1,11ka dapat memberikan suatu sumbangan yang penting, 4\1111'lupun tidak menjamin terbentuknya perilaku etis yang tepat. Oleh karena itu, yang perlu diberikan di perguruan tinggi bukanlah pelajaran moral, melainkan pelajaran etika3 . Franz Magnis-Suseno berpendapat bahwa pelajaran moral tidak perlu diberikan di perguruan tinggi atas dasar bahwa : tujuan ajaran moral adalah pembentukan sikap moral, dan sikap itu tidak dapat dibentuk melalui pelajaran di lembaga pendidikan, sebab pembentukan sikap-sikap moral adalah kejadian dialogis dalam kebebasan; di camping itu pelajaran moral di tingkat perguruan tinggi akan menimbulkan rasa wegah pada mahasiswa, sebab pengajarnya harus orang yang lebih

maju dalam apa yang diajarkan daripada orang yang menerima ajarannya itu; juga dengan sendirinya, pelajaran moral hanya akan membuat mahasiswa menjadi sinis.

AGAM A Agama sebagai norma social yang terakhir, tidak akan dibahas disini. Hal itu dipelajari dalam Teologi. Dan yang paling penting ajaran agama harus dipraktekkan. Orang yang percaya, menemukan orientasi dasar kehidupan dalam agamanya. Agamalah nampaknya yang paling tepat untuk memberikan orientasi moral. Tetapi agama memerlukan keterampilan etika agar dapat memberikan orientasi dan bukan sekadar indoktrinasi (= cara mengajar di mans orang disuruh, menelan saja apa yang diajarkan tanpa boleh berpikir sendiri). Ada 4 alasan menurut F. Magnis- Suseno dkk ( 1991 ), yang menyebabkan mengapa agama-agama memerlukan etika, yaitu : 1. kalangan agamapun mengharapkan agar ajaran agamanya rasional, tidak pugs hanya mendengar bahwa Tuhan memerintahkan sesuatu, tetapi juga ingin mengerti mengapa Tuhan memerintahkan itu.
2.

ada ajaran-ajaran moral agama yang nampaknya s a l i n g b e r t e n t a n g a n d a n i t u m e m e r l u k a n keterampilan etika untuk menginterpretasikannya.

3.

etika dapat membantu memecahkan masalahmasalah moral yang barn seperti bayi tabung, yang sama sekali tidak disinggung dalam ajaran agama. setiap agama mendasarkan diri pada ajaran yang terdapat dalam kitab sucinya musing-musing. Etika semata-mata berdasarkan pertimbangan nalar yang terbuka bagi setiap orang dari semua agama dan pandangan dunia, sehingga memungkinkan adanya suatu dialog moral antar agama dan pandanganpandangan dunia

4.

j';TIKA & HUKUM Akhirnya, sesuai dengan salah satu tujuan penulisan huku ini, perlu kita tinjau hubungan antara Etika dan Hukum. Kodua norma ini mempunyai kaftan yang erat dan saling melciigkapi dalam arti saling menunjang tercapainya tujuan musing-musing. Hati nurani yang menghendaki agar manusia. "Vialu bersikap tindak yang baik akan membuat pergaulan pribadi-pribadi dalam suatu masyarakat menjadi lebih baik J)Lllil, sehingga

terwujud masyarakat yang tertib dan damai ,wsuai tujuan norma hukum. Akan tetapi apabila seorang pri hadi ii-iclakukan perbuatan buruk yang melanggar hukum, j.t ikmi mendapat sanksi yang tegas, misalnya hukuman penjara. Apabila selama clan setelah menjalani hukuman ia menyadari kesalahannya ia tidak akan pernah berbuat buruk lagi, dalam arti sikap batin atau pribadi manusia itu akan berangsur-angsur menjadi baik j uga. Dengan demikian norma etika akan terealisir. Kalau diperhatikan maka hampir semua norma hukum berasal atau berlandaskan norma-norma etika. Jadi secara konsep atau teoritis terutama norma hukum pidana seluruhnya timbul dari norma etika. Disamping itu dalam praktek atau pelaksanaannya norma etika pun seharusnya melandasi norma hukum. Hukum yang dilaksanakan secara imoral lebih buruk dari pada tidak ada hukum sama sekali. Norma hukum sesungguhnya tidak ada artinya tanpa etika. Ada teori-teori etika mengenai bagaimana suatu hukum legal dapat dibenarkan, yaitu retributivisme, yang mengajarkan bahwa suatu hukuman dibenarkan karena merupakan retribusi (= pembayaran sebagai balasan atau pelunasan ) terhadap pelanggaran atau kerugian yang sudah terjadi pada orang lain; utilitarianisme, yang meletakkan clasar pembenaran hukuman pada manfaat atau akibatakibat baik yang dapat dihasilkan oleh suatu hukuman; retributivisme teleologic, yang mencari jalan tengah yang merupakan kombinasi dari kedua teori sebelumnya.

BAB III PENGANTAR ETIKA

SISTEMATIKA ETIKA Ada berbagai arti dari etika seperti telah dibahas .sebelumnya, berikut ini yang akan ditelusuri lebih lanjut adalah pengertian etika sebagai ilmu yang membahas tentang i noralitas. Jadi etika akan dipelajari dalam arti ilmiah. Ada tiga pendekatan yang umum dilakukan, yaitu etika deskriptif, etika normatif dan meta-etika. Diantaranya, etika normatif sebagai bagian yang dianggap terpenting di mans diskusi mengenai iiiasalahmasalah moral sering dilakukan, akan dibahas lebih panjang lebar. Etika deskriptif mempelajari moralitas * pada individu- iiidividu tertentu, dalam kebudayaan tertentu, pada suatu periode tertentu, tanpa mengemukakan suatu penilaian moral, dari norms-norms dan konsep-konsep etis. Saat ini etika deskriptif dijalankan oleh ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, psikologi, sejarah dan lain-lain. Meta-etika merupakan aliran dalam filsafat moral yang sepertinva bergerak pada tahap yang lebih tinggi daripada membahas masalah-masalah etis, yaitu pada tahap "bahasa vtis" atau bahasa yang digunakan di bidang moral. Di sini tidak diselidiki baik buruknya perbuatan-perbuatan manusia, melainkan mengarah kepada bahasa moral atau ungkapan- ungkapan tentang baik dan buruk, misalnya spa yang dimaksudkan bila suatu perbuatan disebut baik atau buruk; gan demikian meta-etika justru menjauhi aktualitas di bidang moral. Etika normatif tidak berbicara lagi tentang gejala-gejala, melainkan apa yang sebenarnya harus merupakan tindakan seseorang. Dapat dikatakan bahwa etika normatif bertujuan merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggung jawabkan dengan cara rasional dan dapat digunakan secara praktis. Di sini norma-norma dinilai dan sikap manusia ditentukan. Ahli-ahli etika akan melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian tentang perilaku manusia. Meskipun selalu idealistic, moralitas dibentuk berdasarkan kenyataan. Penilaian moral tidak hanya dibuat berdasarkan norma-norma yang diuraikan dibelakang meja, karena beretika dengan baik berarti dekat dengan kenyataan zaman dan kebudayaan kita. Kenyataan tersebut harus diperiksa dalam segala keadaannya, harus diajukan sebanyak mungkin pertanyaan agar kenyataan tersebut dapat menampakkan dirinya setuntas mungkin. Dalam menghadapi permasalahan etis

menyangkut euthanasia misalnya, kita seharusnya tidak menilai kualitas moral dari suatu tindakan tanpa mengunjungi rum ah saki t di mana pasi en di raw at . Ba gai m an a penderitaannya, sudah sampai stadium mana penyakit tersebut dialami, bagaimana reaksi atau tanggapan sanak keluarganya, bagaimana keadaan sosial ekonomi dari mereka yang terbebani oleh keadaan pasien tersebut, apa arti penderitaan tersebut bagi pasien, dan sebagainya. Selanjutnya etika normatif dapat dibagi dalam etika umum dan etika khusus. Etika umum membahas terra-terra umum seperti kebebasan dan tanggung jawab, hati nurani, hakkewajiban; beberapa keutamaan seperti kelujuran; dan prinsipprinsip moral dasar yaitu berbuat baik, keadilan dan hormat terhadap diri sendiri. Etika khusi4s menerapkan prinsip-prinsip dasar tersebut pada masing-masing bidang kehidupan nanusia. Apabila etika umum disebut sebagai etika teoritis, inaka etika khusus disebut juga etika terapan. Jadi etika dapat diberi batasan sebagai cabang filsafat yang mengenakan refleksi dan metode pada tugas manusia untuk menemukan nilai-nilai moral atau menerjemahkan nilai-nilai itu ke dalam norma-norma (etika umum) dan menerapkannya pada situasi kehidupan konkrit ( etika terapan ). Etika terapan ada yang membaginya menjadi etika individual dan etika sosial, di mana etika individual membahas kewajiban manusia terhadap dirinya sendiri, sedangkan etika sosial membahas kewajiban manusia sebagai anggota suatu inasyarakat. Antara keduanya sebenarnya berkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan secara tajam, karena kewajiban terhadap diri sendiri dan sebagai anggota masyarakat memang berkaitan. Selanjutnya 4 etika terapan dapat dibedakan menurut dua wilayah besar yang diselidiki, yaitu berkaitan dengan suatu profesi, atau suatu masalah. Etika terapan yang membahas profesi misalnya etika kedokteran,.etika politik, etika bisnis dan sebagainya. Masalahmasalah yang dibahas oleh etika terapan dapat disebut : etika lingkungan hidup, etika tnengenai diskriminasi dalam berbagai bentuk, dan lain-lain. Pernbagian lain dari etika terapan adalah membedakan antara makro etika dan mikro etika. Makro etika membahas masalahinasalah moral pada skala besar yang menyangkut suatu bangsa atau seluruh umat manusia, misalnya lingkungan hidup. Mikro etika membicarakan pertanyaanpertanyaan etis di mana individu terlibat, seperti kewajiban dokter kepada pasiennya, atau kewajiban pengacara kepada kliennya.

Sesungguhnya ada satu lagi pembagian etika, yang diajukan oleh J. Verkuyl (1956), di mana dibedakan antara Etika Teologis dan Etika Falsafi; juga dinyatakan bahwa di dunia Timur, Etika Teologis lebih tua daripada Etika Falsafi, sedangkan di dunia Barat Etika Falsafi lebih tua daripada Etika Teologi. Verkuyl menjelaskan ini dalam bukunya Etika Kristen bagian umum yang pertama terbit 1956 dan cetakan ke 14-nya terbit tahun 1997. Dikatakan bahwa sumber yang mutlak dari pengetahuan tentang Etika Teologi (Kristen) hanyalah satu, yaitu Alkitab. Adapun antara Etika Falsafi yang formal dan Etika Teologi terdapat perbedaan. Diumpamakan sebagai perbedaan antara sebuah gelas kosong dan gelas yang berisi air. jika ada orang yang haws, kita dapat menunjukkan kepadanya suatu sumber air sambil memberikan gelas yang kosong, agar is dapat,menampung airriya, untuk kemudian meminumnya. Akan tetapi alangkah lebih baik lagi bila gelas kosong itu kita isi dengan air sumber tersebut, dan kita berikan kepada orang yang haul itu. Nampaknya yang dimaksud Verkuyl dengan Etika Falsafi yang formal adalah Etika falsafi yang terbatas pada uraian mengenai pengertian-pengertian pokok etika seperti terra-terra umum dan prinsip-prinsip moral dasar saja. Tetapi apabila Etika Falsafi itu juga mencoba menjawab mengenai p e r m a s a l a h a n b a i k b u r u k d a n t u j u a n h i d u p , t a n p a mengindahkan Allah dan firman-Nya, maka akan timbul suatu ketegangan yang luar biasa. Etika Teologi dari agama-agama lainpun mungkin pada prinsipnya sependapat dengan Verkuyl, namun hal itu di luar konteks dari buku ini yang ruang lingkupnya terbatas pada pengetahuan filsafat sehingga tidak akan dibahas di sim. 'retapi mengenai pernyataan bahwa di dunia Timur Etika Teologi lebih dahulu dari Etika Falsafi (= Filsafat Moral ), hal ini dapat kita mengerti karena agama-agama yang berkembang di dunia Timur seperti agama Hindu, Buddhisme, Taoisme dan Confucianisme, mencakup sekaligus sebagai agama dan " filsafat ". Memang ada dua pengertian baku yang umum dikenal tentang filsafat. Pertama, filsafat adalah kebijaksanaan hidup atau suatu pedoman hidup, yang diperoleh dari perenungan dan pergulatan mengenai kenyataan hidup yang menuntut manusia untuk bersikap tindak sesuai pandangan hidup tersebut. Kedua, filsafat dipahami sebagai suatu sistem pemikiran ilmiah, yaitu filsafat sistematis. Dalam hal ini filsafat merupakan sebuah ilmu, yaitu

pengetahuan atau pendekatan i?-ietodIs, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan. Ilmu pengetahuan (= science) adalah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang suatu bidang tertentu dari seluruh kenyataan. Sedikit berbeda dengan Verkuyl, Eka Darmaputra rupanya berpendapat bahwa Etika Teologi seperti Etika Kristen misalnya, memang oleh orang Kristen, tetapi bukan hanya untuk orang Kristen saja. prinsip " kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri " dikatakan sebagai prinsip di dalam Etika Kristen. Akan tetapi itu menjadi prinsip di dalam Etika Kristen bukan hanya karena dikutip dari Alkitab, melainkan karena merupakan prinsip yang dapat diterima secara universal, sebagai prinsip yang pada hakekatnya dapat secara rasional diterima oleh semua orang. Hal tersebut berlaku untuk etikaetika teologis lainnya. Etika Kristen dapat saja belajar bahkan menerima kebenarankebenaran di dalam Etika Islam-5 . Bila hal ini terjadi, itu karena secara intrinsik mengandung kebenaran yang universal, yang bukan semata karena terdapat di dalam Al Quran atau karena kebetulan cocok dengan yang tercantum di dalam Alkitab.

TEMA-TEMA UMUM

1. KEBEBASAN Moralitas sebagai suatu keseluruhan nilai-nilai dan norma-norma moral individu maupun masyarakat, hanya mungkin karena manusia bebas. Oleh karena itu etika umum dapat dimulai dengan pembahasan mengenai kebebasan, yang merupakan dasar moralitas' . Kita semua mengalami kebebasan, karena kita manusia. Kebebasan adalah salah sate hal yang membedakan manusia dengan binatang. Binatang tidak menentukan sendiri sikap tindaknya, akan tetapi dikendalikan oleh dorongandorongan naluri dari dalam, dan rangsangan-rangsangan yang datang dari luar. Manusia akan menentukan sendiri sikap tindaknya sebagai reaksi terhadap rangsangan dari luar maupun dorongan nalurinya, ia dapat menentukan dirinya. Apabila lapar, binatang akan langsung memakan makanan yang pertama ia jumpai; sedangkan meskipun lapar, manusia tidak akan begitu saja melahap makanan yang ada dihadapannya; misalnya karena sedang berpuasa. Dalam menentukan sikap tersebut, manusia

mengalami kebebasannya, kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri. Jadi kebebasan merupakan tanda martabat manusia sebagai makhluk yang tidak hanya secara

alamiah terikat kepada kekuatan-kekuatan alamiah, melainkan karena akal budinya ia dapat mengatasi keterbatasan alamiah. Martabat manusia dapat dikatakan merupakan norma dasar terpenting, karena manusia adalah satu-satunya inakhluk yang merupakan tujuan pada dirinya. Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman, merumuskan kewajiban untuk inenghormati martabat manusia sebagai berikut : "Hendaklah tnemperlakukan manusia selalu jugs sebagai tujuan pada dirinya dan tidak pernah sebagai sarana atau sesuatu yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu belaka". Jadi martabat manusia mengandung pengertian bahwa manusia harus dihormati sebagai manusia. Seseorang seyogyanya dihormati bukan karena kedudukannya dalam masyarakat, at au keka ya ann ya , m el ai nkan sem at a - m at s karena martabatnya sebagai manusia. Kebebasan mempunyai banyak arti. K. Bertens ( 1993 ) membedakan antara kebebasan sosial politik dan kebebasan individual berdasarkan siapa yang menjadi subyek, rakyat atau manusia perorangan. Kemudian dijelaskan pula berbagai arti kebebasan? , seperti kesewenang-wenangan, kebebasan fisik, kebebasan psikologis, kebebasan moral, kebebasan yuridis dan , k e b e b a s a n e k s i s t e n s i a l . B a r a n g k a l i u n t u k l e b i h iiienyederhanakan pembahasan sehingga mempermudah pengertian, akan ditinjau pembagian kebebasan sosial dan kebebasan eksistensial berdasarkan pemahaman secara positif Mau secara negatif dalam arti logika, bukan positif - negatif Wba gai penilaian, menurut F. Magnis-Suseno ( 1989 ).
p

emahaman arti kebebasan sebagai suatu yang positif, Iwrarti kemampuan

manusia untuk menentukan dirinya .,wiidiri. Ditekankan di sini, " bebas untuk .................................................................................. , yang mi-t1yangkut sikap tindak yang akan dilakukan. Ini disebut f4ebagai kebebasan eksistensia18 . Dari pemahaman secara w-gatif, kebebasan menunjukkan tidak adanya pembatasan oleh orang lain atau masyarakat, jadi maksudnya, " bebas dari ................ menyangkut orang lain atau masyarakat, clan disebut sebagai kebebasan sosial, Jadi kebebasan manusia mempunyai dua segi, yaitu kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri, dan ia tidak d i b a t a s i o l e h m a n u s i a l a i n a t a u m a s ya r a k a t d a l a m kemungkinannya untuk menentukan dirinya tersebut. Kedua segi kebebasan ini saling berkaitan sehingga sulit dipisahkan, tetapi dapat dibedakan. Dalam hubungan dengan

menentukan sikapnya sendiri, manusia mengalami kebebasan; bukan kebebasan dari sesuatu, melainkan bebas untuk melakukan suatu tindakan. Kemampuan manusia untuk menentukan tindakannya sendiri ini yang disebut sebagai kebebasan eksistensial, yaitu kebebasan menyangkut seluruh pribadi manusia dan tidak terbatas pada satu aspek saja. Jadi sikap tinuak yang dilakukan oleh manusia merupakan kegiatan yang disengaja, yang mempunyai motif-motif. Motif di sini adalah alasan yang diterima manusia untuk menentukan dirinya. Oleh karena itu pengertian yang paling mendalam dari kebebasan yang dirasakan seseorang adalah manusia merupakan makhluk yang menentukan dirinya sendiri. Manusia tidak ditentukan begitu saja oleh faktor-faktor dari luar, maupun dorongandorongan naluri dari dalam. Oleh karena itu kebebasan adalah tanda dan ungkapan martabat manusia. Seseorang akan merasa terhina apabila sesuatu dipaksakan kepaclanya baik dengan ancaman maupun bujukan. Bahwa kebebasan manusia itu tidak hanya bergantung kepada dirinya sendiri, barn disadari apabila ada orang lain yang akan membatasinya. Kebebasan di mana kemungkinan seseorang untuk bertindak tidak dibatasi dengan sengaja oleh orang lain disebut sebagai kebebasan sosial. Paling seclikit ada tiga cara orang lain membatasi kemungkinan seseorang untuk bersikap-tindak, yaitu melalui paksaan fisik, tekanan psikologis dan melalui larangan dan kewajiban. Kebebasan fisik, diartikan seseorang dapat bergerak ke inana saja tanpa hambatan, seperti penahanan, pemborgolan atau penyiksaan. Kebebasan psikologis dimaksudkan sebagai kemampuan untuk mengarahkan dan mengembangkan hidupnya berkaitan dengan kehendak bebasnya, meskipun ia dihadapkan pada berbagai pilihan yang dapat diambilnya. Sehubungan dengan kebebasan psikologis, ada yang disebut kebebasan moral. Apabila kebebasan psikologis dapat dibatasi melalui manipulasi informasi yang diperoleh, atau lewat ancaman, bujukan, juga karena obat-obat psikofarmaka, maka kebebasan moral tidak mungkin ada tanpa adanya kebebasan psikologis tersebut. Sedangkan adanya kebebasan psikologis belum tentu disertai adanya kebebasan moral, meskipun dalam keadaan normal, kebebasan psikologis biasanya disertai kebebasan moral. Suatu contoh, bila seseorang diancam akan dibunuh apabila tidak menyetujui suatu pernyataan yang sebenarnya tidak sesuai dengan hati nuraninyd, dalam hal ini ia mempunyai alternatif untuk memilih. Kalau ia berkehenclak untuk tetap hidup ia akan memberikan persetujuannya, dalam hal ini perbuatan tersebut dilakukan dengan bebas,

dalam arti kebebasan psikologis, tetapi tidak dengan sukarela; kalau tidak menyetujui pernyataan tersebut, yang dirasanya bertentangan dengan suara hatinya maka ia harus coati. Jadi dalam contoh ini i tidak ada kebebasan moral. Manusia adalah makhluk sosial, setiap dari kita adalah ,1119gota masyarakat. Oleh karena itu kebebasan manusia bukanlah
k es ew

enang-wenangan, melainkan ada

batasbatasnya. Batas tersebut ditemukan dalam hak setiap orang lain sesama anggota masyarakat. Oleh karena kebutuhan seseorang dipenuhi secara terus-menerus oleh orang lain atau oleh masyarakat itu sendiri, maka masyarakat mempunyai hak untuk membatasi
kes

ewenang-wenangan seseorang yang berada dalam kebebasannya dengan cara yang


kew

wajar yaitu menetapkan

ajiban-kewajiban dan/atau larangan larangan yang

kita sebut sebagai pembatasan normatif Artinya seseorang diberitahu tentang suatu norma atau pedoman untuk bersikap tindak dalam pergaulan di masyarakat. Cara ini menghormati martabat manusia sebagai makhluk yang dapat menentukan sendiri sikap tindaknya. Di sini tidak ada pembatasan fisik maupun psikis. Akan tetapi apabila seseorang tidak mau mengindahkan norma-norma yang telah disepakati oleh masyarakat (normanorma etis), maka masyarakat berhak mengambil tindakan untuk menjamin norma-norma itu tetap dihormati. Tindakan yang dilakukan adalah tindakan fisik, dalam bentuk
ket

entuan-ketentuan yang dapat dipaksakan berlakunya (norma-norma hukum), agar

tidak terjadi pelanggaran terhadap hak-hak orang lain atau masyarakat.Tekanan psikologis tidak dapat dibenarkan untuk digunakan sebagai cara agar orang mematuhi norma-norma yang telah disepakati, karena manipulasi psikis secara moral buruk dan hal itu akan merusak kepribadian seseorang dari dalam, merusak otonomi manusia.

!. TANGGUNG JAWAB Istilah tanggung jawab dan kebebasan sating berkaitan. kpabila kita menyatakan "manusia itu bebas ", hal ini berarti juga bahwa "manusia itu bertanggung jawab". Oleh karena itu pembahasan mengenai tanggung jawab berurutan dengan pembahasan mengenai kebebasan. Kebebasan yang diberikan masyarakat ( = kebebasan social ), yaitu dengan tidak adanya paksaan fisik atau tekanan psikologis, merupakan kesempatan Vai-ig harus diisi dengan sikap tindak yang mencerminkan ~,vbebasan eksistensial. Setiap akibat lanjut dari sikap tindak v,mg dilakukan akan menimbulkan suatu pertanggung jawaban yang tidak dapat diserahkan kepada orang lain.

,rn

n bertanggung jawab atas sesuatu yang disebabkan o1cf-inya. Akan tetapi untuk

bertanggung jawab tidak cukup ot'ang tersebut menjadi penyebab saja, melainkan harus Ill(Itijadipenyebabyangbebas.jadikebebasanatautidakadanya poinbatas,

merupakan syarat mutlak untuk tanggung jawab. Apabila seseorang tidak mau bertanggung jawab meskipun ia III(Illgetahui apa yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya - sesuatu yang mempunyai nilai, tetapi ia tidak mau iiielakukannya hal tersebut berarti mungkin dirasakan terlalu 4wrat, malas, tidak dapat mengatasi nafsu; ia mengalah terhadap segala macam perasaannya, ia adalah orang yang Ivinah. Sebaliknya , orang yang semakin bersedia untuk hertariggung jawab, akan semakin terbuka pada tantangan tarnan dan masyarakat, semakin kuat menentukan untuk thrhiya sendiri dengan mengalahkan hambatan-hambatan ivi-asional. Semakin bertanggung jawab, manusia itu semakin 1whas. Jadi segi terpenting kebebasan manusia adalah kvi ci-arahannya pada tanggung jawab. Tanggung jawab bisa bersifat langsung, di mana, si pelaku U1111dit'i yang bertanggung jawab atas perbuatannya; atau pada hal-hal tertentu orang bertanggungjawab secara tidak langsung, akibat perbuatan orang lain atau akibat kejadian tertentu. Misalnya anak yang merusakkan barang orang lain, orang tuanya yang bertanggung jawab. Jadi dapat dilihat bahwa apabila tidak ada kebebasan, maka tidak perlu ada tanggung jawab; atau apabila kebebasan berkurang maka tanggung jawab pun lebih ringan, seperti halnya pada anak-anak yang berada dibawah tanggung jawab orang tuanya. Menentukan bertanggung jawab tidaknya seseorang tidaklah mudah. Salah satu patokan adalah kematangan psikis. Untuk kepastian, norma hukum menetapkan umur tertentu di mana seseorang dianggap dapat bertanggung jawab. Batas usia itupun berbedabeda tergantung pada bidang hukum apa atau menurut ketentuan hukum positif yang mana. Sebenarnya hanya orang yang bersangkutan sendiri yang dapat mengetahui apakah dalam suatu kasas is bertanggung jawab dan sejauh mana tingkat tanggung jawab yang harus dipikulnya. Dan yang mungkin paling sulit dipastikan adalah seseorang yang melakukan suatu perbuatan tercela, pada kenyataannya tidak melawan dorongan pikiran atau batinnya, atau tidak dapat melawan dorongan batinnya tersebut. Hal ini berkaitan dengan kebebasan psikologis.

3. HATI NURANI Pengalaman tentang hati nurani nampaknya merupakan perjumpaan paling jelas bagi manusia dengan moralitas sebagai kenyataan. Karma itu. K. Bertens (1993) menganggap pengalaman tersebut merupakan jalan masuk yang tepat untuk suatu studi mengenai etika9 . Akan tetapi F. Magnis Suseno (1989) menyatakan bahwa setelah mulai dengan pembahasan mengenai kebebasan sebagai dasar moralitas, kemudian membahas segi terpenting kebebasan manusia yaitu keterarahannya pada tanggung jawab, sekarang pengertian tanggung jawab diperdalam, di mana bertanggung jawab sebagai manusia berarti bertindak sesuai dengan suara hati atau hati nurani-nya. Hati nurani adalah penghayatan tentang baik atau buruk berkaitan dengan tingkah laku konkri t kita, di mana hati nurani mengharuskan atau melarang kita untuk melakukan sesuatu saat ini dan di sini. Ada dua aspek dari hati nurani yang dapat kita. teliti. Aspek personal dan adipersonal. seperti dapat kita katakan bahwa tidak ada dua manusia yang sama, demikian pula tidak ada dua hati nurani manusia yang persis sama. Jadi hati nurani hersifat personal atau selalu berkaitan dengan pribadi yang bersangkutan. Di samping itu hati nurani hanya berbicara atas nama yang bersangkutan, hanya memberi penilaian tentang perbuatan kita sendiri dan tidak memberikan penilaian mengenai perbuatan orang lain. Apabila kita melihat suatu perbuatan buruk, misalnya penyiksaan sampai coati yang dilakukan seseorang, sering kita menilai itu sebagai hal yang tidak boleh dilakukan. Penilaian itu memang mengikuti apa yang dikatakan hati nurani kita. Akan tetapi meskipun hati kita sakit,.sedih, dan geram, integritas pribadi kita tidak merasa (I i perkosa oleh tindakan brutal orang lain tersebut; karma itu adalah perbuatan orang lain, bukan perbuatan sendiri. Selain bersifat pribadi, hati nurani jugs seolah-olah melebihi pribadi kita (adipersonal ) sepertinya merupakan ~-i.jatu instansi di atas kita. Dalam bahasa Latin conscientia, I lc~ras al dari scire mengetahui ) dan awalan con (= turut, hersama dengan). Jadi conscientia berarti "turut mengetahui", dan kata ini digunakan juga untuk menunjukkan "hati nurani". Hati nurani merupakan semacam "saksi" tentang perbuatanperbuatan moral kita. Istilah hati nurani dalam bahasa Indonesia berarti "hati yang diterangi" (nor = cahaya). Sinonimnya adalah suara batin, suara hati, kata hati. Kita seakan-akan membuka diri terhadap suara yang datang dari luar. Ada aspek transenden yang melebihi pribadi kita.

Apakah suara hati suara Tuhan? Kalangan agama menyatakan Tuhan berbicara melalui hati nurani. Tidak dapat dikatakan bahwa hati nurani merupakan hak istimewa orang beragama saja. Setiap orang mempunyai hati nurani karena is manusia. Hati nurani tidak langsung merupakan suara Tuhan, karena Tuhan tidak bisa keliru, sedangkan kita sebagai manusia bisa keliru. Ada banyak jenis hati nurani, ada yang halos dan jitu, ada pula yang longgar dan kurang tepat, atau ada juga hati nurani yang tumpul, bahkan dikatakan ada orang yang tidak mempunyai hati nurani. Seperti halnya akal budi, hati nuranipun harus dididik. Tempat pendidikan moral yang paling serasi adalah secara informal yaitu dalam keluarga. Para pendidik yaitu orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anak didiknya, karena kewajiban terhadap hukum moral mengikat semua orang. Pendidikan hati nurani akan berjalan dengan sendirinya, apabila anak dil iputi oleh suasana yang m en yokong di m ans m ereka m eli hat bahwa orang disekelilingnya memenuhi
k

ewajiban-kewajibannya dengan seksama dan mempraktekkan keutamaan-keutamaan

yang mereka ajarkan.

.1. HAK Paham " hak " nampaknya lebih banyak dibicarakan dalam pembahasan masalah hukum daripada masalah etika. I I al ini dapat dilihat misalnya pada zaman Yunani kuno tempat lisalnya filsafat barat, Plato dan Aristoteles, belum berbicara tentang hak dalam arti yang sebenarnya. Masyarakat di sang pada waktu itu masih mengenal sistem perbudakan yang sesungguhnya tidak dapat dibenarkan secara etis dalam kebudayaan atau periode sejarah manapun juga. Memang hak dalam bidang etika-moral yang ada sekarang merupakan hasil suatu proses sosial dan pistons yang panjang. Untuk menjelaskan tentang hak, mungkin kita bisa inelihatnya dari sudut peranan atau fungsi yang dilakukan seseorang dalam hubungannya dengan orang lain. Apabila peranan atau kegunaan diri itu ditujukan bagi dirinya sendiri, i iiilah yang disebut sebagai hak. Disamping itu pengertian hak 11dalah suatu peranan yang boleh dilakukan dan boleh juga tidak dilakukan. Berkaitan dengan ini, pengertian dari istilah kewajiban dapat dijelaskan sebagai peranan yang ditujukan bagi orang lain, atau kewajiban adalah suatu peranan yang harus dilakukan atau yang harus tidak dilakukan. Seperti halnya kita membedakan hukum dan etika, maka Oda hak legal, yang

didasarkan atas prinsip-prinsip hukum dan berfungsi dalam sistem hukum, disamping hak moral yang didasarkan atas prinsip-prinsip etis dan berfungsi dalam sistem moral. Kaitan antara etika dan hukum begitu erat sehingga pandangan-pandangan etis umumnya menjadi dasar bagi peraturan-peraturan hukum. Demikian pula yang ideal adalah bahwa hak legal pada dasarnya merupakan suatu hak moral juga.

Jenis-jenis hak yang lain, adalah hak umum dan hak khusus. Hak umum dimiliki manusia bukan karena hubungan atau peranan tertentu, melainkan semata-mata karena is manusia. Istilah lain untuk hak umum adalah natural right atau human right atau hak azasi manusia. Hak khusus, timbul dalam suatu hubungan khusus antara beberapa orang atau karena peranan tertentu yang dimiliki seseorang terhadap orang lain. N4isalnya hak orang tua : di mana orang tua mempunyai hak bahwa anaknya akan patuh kepadanya; sebaliknya anak mempunyai hak pula untuk diberi makan, pendidikan dan kebutuhan lainnya. Berkaitan dengan Deklarasi Universal tentang Hak-hak A,zasi Manusia yang diproklamasikan oleh Perserikatan 3angsa-Bangsa pada tahun 1948, dikemukakan hak individual tan hak sosial. Hak individual dimiliki individu-individu :erhadap negara; negara tidak boleh mengganggu individu ialam mewujudkan haknya itu. Contohnya adalah hak nengikuti hati nurani, hak menentukan bagi dirinya sendiri the right of self determination). Hak sosial, dimiliki manusia )ukan terhadap negara, tetapi sebagai anggota masyarakat )ersama dengan anggota-anggota yang lain. Contohnya adalah Zak atas pendidikan, hak atas pelayanan kesehatan.

KEWAJIBAN Sudah menjadi tradisi dalam etika bahwa yang liutamakan adalah kewajiban. Kode Etik tenaga kesehatan, elalu mencantumkan kewajiban-kewajiban kepada pasien. 4embicarakan kewajiban hampir selalu dikaitkan dengan hak. Jampaknya setiap kewajiban seseorang berkaitan dengan hak rang lain, dan sebaliknya, setiap hak seseorang berkaitan dengan kewajiban orang lain untuk memenuhi hak tersebut, rneskipun hubungan timbal balik tersebut tidak harus selalu seimbang. Dalam Kode Etik Kedokteran & Kedokteran Gigi Indonesia, tercantum kewajiban

terhadap diri sendiri. Setiap tenaga medis harus memelihara kesehatannya agar dapat bekerja dengan baik, disamping mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi. Semua hal itu sebenarnya secara tidak langsung adalah untuk kepentingan pasien. Setiap orang memang wajib ur i t uk m em p e rt ah an k an k e hi d up an n ya dan j u ga

mengembangkan bakatnya. Dalam hal ini, kewajiban terhadap diri sendiri tidak hanya semata-mata dilihat sebagai kewajiban terhadap diri sendiri saja. Kewajiban tersebut tidak terlepas dari hubungan seseorang dengan orang lain, seperti keluarga, Leman dan lingkungan tempat tinggal atau agar supaya dapat inengobati pasien dengan sebaikbaiknya. Disamping itu . 1 pabila dilihat dari sudut pandang religius, kewajiban terhadap diri sendiri dimaksudkan sebagai kewajiban terhadap Tuhan.

11"ORI - TEORI ETIKA Pendekatan terhadap berbagai masalah moral owmerlukan suatu sarana dalam bentuk teori atau kerangka t ~t i ka. Adapun yang dimaksud dengan teori etika di sini adalah I, roses yang ditempuh untuk membenarkan suatu keputusan ct i s tertentu, agar keputusan-keputusan moral yang dihasilkan hersifat konsisten dan koheren. Konsistensi dan koherensi ,,angat diperlukan untuk mencapai kepaduan intern dan integritas yang lebih besar dalam pengambilan suatu keputusan. Sepanjang sejarah filsafat begitu banyak dijumpai sistem-sistem etika karma adanya perbedaan yang mendasari sistem-sistem tersebut. Jadi begitu banyak uraian sistematis yang berbeda-beda mengenai hakikat moralitas dan peranannya dalam hidup manusia. Ada yang membagi teori dan metode etika atas dasar alarm / kodrat manusia dan atas dasar rohani / kejiwaan, mengenai apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia. Penggolongan lain yang paling banyak dipakai adalah melihat akibat dari perbuatan. Baik tidaknya perbuatan dianggap tergantung pada konsekuensinya. Untuk hal yang sama dapat juga dikatakan bahwa sistem-sistem etika tersebut berorientasi atau terarah kepada tujuan atau bersifat teleologis. Disamping sistem konsekuensialistis atau yang juga disebut bersifat teleologis tersebut, ada sistem etika lain yang mengukur baik buruknya suatu perbuatan hanya berdasarkan maksud si pelaku dalam melakukan perbuatan itu. Hal ini menunjuk kepada kewajiban dalam menentukan apakah sesuatu bersifat etis atau tidak. Teori ini disebut sebagai deoiito logi (dcoii, bahasa Yunani, berarti apa yang harus dilakukan, kewajiban). Sistem chka seperti hedomsnle (lietione, bahasa Yunani berarti kesenangan), eudeiiioliisnie (

ctide)lloilia' bahasa Yunani berarti mempunyai rob pengawal/ demon yang baik, artinya kebahagiaan) dan utilitarisme atau utilisme (it tills, bahasa Latin atau utilitarianism, bahasa Inggris, berarti bermanfaat) dapat dikelompokkan sebagai sistem etika yang bersifat teleologis (= terarah pada tujuan) atau yang memandang basil atau akibat perbuatan mengenai apa yang harus dilakukan. Sistem-sistem etika itu pun dapat dikatakan mengacu kepada kodrat manusia vaitu mencari kenikmatan. Mengenai sistem etika yang disebut deontologi, teori ini akan menjawab mengenai pertanyaan " apa yang harus saga lakukan ?" dengan menjelaskan kewajiban-kewajiban moral seseorang. Suatu perbuatan bersifat etis, apabila hal itu memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggung jawab si pelaku. Sebenarnya disamping kedua kelompok sistem etika utama yang diatas, ada sistem etika lain, yaitu etika hak dan intuisionisme. ntuisionisme. Etika hak menyelesaikan permasalahan moral dengan menentukan terlebih dahulu hak dan tuntutan moral apa yang terlibat di dalamnya. permasalahan tersebut dipecahkan dengan berpegang pada hirarki hak-hak. Paham hak memang nampaknya muncul belakangan dalam sejarah pemikiran Barat sejak zaman Yunani kuno. Dalam perdebatan moral yang berlangsung di masyarakat dewasa ini, paham hak memegang peranan penting. Di dalam bidang kedokteran ataupun bidang biomedis, hak pasien mulai dipertanyakan dalam hubungan dokter-pasien. perdebatan tentang abortus umumnya mempertentangkan hak ibu hamil dan hak janin yang belum lahir. Teori ini memang menempatkan hak individu dalam pusat perhatian, tetapi tidak menjelaskan bagaimana konflik antara hak individu-individu harus dipecahkan. Intuisionisme menyelesaikan permasalahan etis dengan berpegang pada intuisi, yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau tidak. Di sini yang menjadi titik tolak adalah perasaan moral yang urnurrmya memberikan keberanian untuk tetap berpegang pada keyakinannya sendiri. Akan tetapi metode ini tidak memberikan cara untuk meyakinkan orang lain mengenai kebenaran tersebut. Berikut ini akan diuraikan dua sistem etika yang paling banyak dikenal yaitu Utilitarianisme yang bersifat teleologic, dan Deontologi yang pertama kali dikembangkan oleh Immanuel Kant.

Utilitarianisme Teori ini bermula dari United Kingdom yang oleh Jeremy Bentham ( 1748-1832 ) dimaksudkan sebagai dasar etis pembaharuan hukum Inggris, terutama hukum pidana. i kat akan bahwa t uj uan hukum adal ah m em aj ukan kepentingan masyarakat, bukan hanya untuk memaksakan perintah-perintah Ilahi. Diusulkan mengenai klasifikasi kejahatan adalah berdasarkan berat ringannya pelanggaran dan diukur
r

berdasarkan

penderitaan

korban

dan

masyarakat,

di

mana

dipe timbangkan banyaknya suka dan duka yang dihasilkan. Hukum bagi Bentham harus diberlakukan jika bisa memaksimalkan suka dan meminimalkan duka bagii masyarakat. Kejahatan yang tidak merugikan orang lain, sebaiknya tidak dianggap sebagai perbuatan kriminal. Sepertinya Bentham melanjutkan begitu saja hedonisme klasik. John Stuart Mill ( 1806-1873 )" mengembangkan utilitarianisme, di mana is berpendapat bahwa kualitas dari kesenangan atau kebahagiaan harus dipertimbangkan juga, tidak hanya kuantitasnya saja, sebagaimana yang disebut Bentham " kebaikan umum" atau "kebahagiaan Terbesar dalam jumlah Besar". Moralitas utilitarian dapat dibuat kurang materialistic dengan menempatkan prioritas kebahagiaan budaya dan spiritual di atas kesenangan fisik yang lebih kasar. Lebih baik menjadi manusia yang tidak puas dari pada seekor babi yang puas. Disamping itu Mill berpendapat pula bahwa kebahagiaan yang menjadi norma etis adalah kebahagiaan sernua orang, yang terlibat dalam suatu kejadian; bukan kebahagiaan satu orang saja yang mungkin bertindak sebagai pelaku utama. Nampaknya bagi kaum Utilitarian motif tidak penting. Hanya hasil perbuatan yang perlu diperhitungkan. Tekanannya lebih pada tindakan dari pada pelaku. Bentham dan Mill berpendapat bahwa motif manusia tidak bisa dilihat atau Hal diukur; ini yang akan tetapi konsekuensi Utilitarianisme tindakan kadang bisa disebut

diperhitungkan.

menyebabkan

konsekuensialisme. Jika seorang dokrer dan seorang penganggur sama-sama berada diatas rakit yang hanya mampu memuat satu orang, si dokter "boleh" mendorong si penganggur ke luar. Dengan menyelamatkan nyawanya sendiri berikut keahlian medisnya, si "dokter pembunuh" itu akan menghasilkan kebahagiaan bagi lebih banyak orang dikemudian hari dari pada si penganggur.
p

rinsip kegunaan dari Utilitarianisme yang menyatakan bahwa suatu perbuatan

adalah baik bila menghasilkan kebahagiaan terbesar untuk jumlah orang terbesar, tidak

selamanya benar. Misalnya kalau satu orang dengan cars kejam disiksa oleh banyak orang, maka kesenangan pars penyiksa apabila melebihi penderitaan korban, ini bisa dinilai baik oleh prinsip tersebut. Juga prinsip kegunaan tersebut tidak menjamin bahwa kebahagiaan dibagi juga dengan adil. Misalnya dalam suatu masyarakat sebagian terbesar hidup nakmur, dan ada sedikit minoritas yang serba kekurangan. Menurut prinsip tersebut masyarakat tersebut sudah diatur dengan baik. Utilitarianisme tidak dapat menjamin hak individu atau minoritas dan tidak memenuhi prinsip keadilan. Utilitarianisme bersifat universal, artinya mengakui adanya kewajiban terhadap semua orang; dan utilitarianisme juga bersifat rasional karena is tidak bekerja dengan peraturanperaturan yang tidak jelas alasannya, dan di sini tercipta suasana pertanggung jawaban. Tuntutan bahwa seseorang harus selalu memperhatikan akibat-akibat dari tindakannya mengungkapkan suatu prinsip moral yang sangat penting. Seseorang harus bertanggung jawab atas akibat-akibat dari tindakan yang dilakukannya. Juga seseorang harus bertindak sedemikian rupa sehingga akibat-akibatnya paling sesuai dengan kepentingan, hak dan harapan sebanyak mungkin orang. Akan tetapi, utilitarianisme, dengan antara lain melihat contoh "dokter pembunuh", kasus sadisme oleh banyak orang terhadap satu orang, dan masyarakat yang mayoritas makmur tetapi minoritas miskii-i seperti di atas, tidak"dapat menjamin keadilan dan hormat terhadap hak-hak azasi manusia, sehingga dengan demikian tidak menjamin martabat manusia. Jenny Teichman (1996) mengemukakan kekurangank e k u r a n g a n u t a m a d a r i k o n s e k u e n s i a l i s m e d a n utilitarianismel I
1.

Konsekuensialisme tidak dapat dijalankan karena akibatakibat jangka pendek tidak dapat diduga dengan pasti, dan akibat-akibat jangka panjang tidak dapat diduga same sekali.

2.

Sesungguhnya tidak ada yang disebut "kalkulus kemanfaatan", di mana tidak mungkin kite membanding-bandingkan kebahagiaan atau kesenangan seseorang dengan orang lain, dan tidak mungkin pule membanding-bandingkan kebahagiaan seseorang pada saat ini dengan kebahagiaan yang dimungkinkan pada mesa mendatang.

3.

Prinsip 'hasil yang paling baik' membuat penguasa menentukan hasil mana yang lebih penting dari yang lain. Hal ini mengarah pertama-tama kepada pandangan yang

sekedar memberi kesenangan dari prinsip-prinsip penguasal, dan kemudian kepada korupsi. Begitu mudahnya kaum politisi memusatkan diri untuk menolong diri mereka sendiri dan pengikut-pengikutnya dalam memperoleh kebaikan-kebaikan sebanyak mungkin, sementara orang lain diabaikannya.
4.

Upaya untuk menjalankan konsekuensialisme akan mengorbankan hak-hak individual, dan kaum minoritas demi kebahagiaan kaum mayoritas.

5.

Apabila aturan yang tidak adil atau suatu tindak ketidakadilan individual dianggap mungkin sekali akan memberikan hasil-hasil yang, lebih baik dari pada keadilan, make tindakan atau peraturan itupun menjadi kewajiban moral. Konsekuensialisme akan berakhir dengan pelecehan terhadap keadilan.

Jadi konsekuansialisme bukanlah batu karang, melainkan paya atau rawa.

Deontologi Immanuel Kant (1724-1804) seorang filsuf Jerman yang lahir, menetap, bekerja dan wafat di Konigsberg kawasan Prussia Timur, beranggapan tidak ada hubungan antara i i i oralitas dan kebahagiaan. Menurut Kant, yang bisa disebut baik dalam arti sesungguhnya hanyalah kehendak yang baik. Kehendak menjadi baik bila bertindak karena kewajibai7. Kalau perbuatan dilakukan dengan suatu maksud atau motif lain, perbuatan itu tidak bisa disebut baik betapapun terpujinya motif tersebut. perbuatan adalah baik jika hanya dilakukan karena wajib dilakukan. Bertindak hanya sesuai saja dengan kewajiban disebut legalitas oleh Kant. Suatu perbuatan bersifat moral jika dilakukan semata-mata "karena hormat untuk hukum moral". Dengan hukum moral dimaksudkannya kewajiban. Tindakan moral adal ah tindakan ya ng dilaksanakan dari rasa a kan kewajiban, bukan sekedar m e n g i k u t i d o r o n g a n h a t i , K a n t d i k e n a l s e b a g a i deontologist, orang yang percaya dengan kewajiban. Karma moralitas melibatkan kewajiban, bukan keiinginan, maka ciri pembeda utama suatu tindakan moral adalah motif bukan konsekuensi. Kant juga membedakan antara tuntutan / perintah / imperatif, yang bersyarat (imperatif hipotetis) dan yang tidak bersyarat ( imperatif kategoris ). Imperatif hipotetis hanya berlaku atas dasar pengandaian. Perintah terhadap para atlit: "Jangan merokok !", bersifat hipotetis yaitu hanya berlaku atas dasar pengandaian bahwa apabila atlit tersebut ingin mencapai prestasi tinggi ia harus tidak merokok. Kewajiban moral mengandung

suatu imperatif kategoris, bersifat tanpa syarat atau absolut. Perintah, seperti "Jangan berdusta !" berlaku begitu saja, tanpa kekecualian. Perintah itu mutlak, tidak dapat ditawartawar. Imperatif kate g oris ini menjiwai semua peraturan etis. Mengenai sikap moral, Kant membedakan antara heteronomi moral dan otonomi moral. Kati ini berasal dari bahasa Yunani : heteros artinya lain, izornos artinya "hukum".

Heteronomi moral adalah sikap di mana seseorang memenuhi kewajibannya bukan karena ia sadar bahwa kewajiban itu pintas dipenuhi, melainkan karena ia tertekan, takut disalahkan, takut berdosa dan sebagainya, sehingga tidak berani mengambil sikap sendiri. Kewajiban itu dilakukan karena pihak lain, bukan ditentukan olehnya sendiri. Hal ini merendahkan manusia, tidak bebas, buta terhadap nilai-nilai dan tanggung jawab sebenamya. Sikap moral yang sebenarnya adalah sikap otonom (autos, Yunani, artinya sendiri). Otonomi moral berarti bahwa manusia menaati kewajibannya karena ia sendiri sadar, tact pada dirinya sendiri. Inti sikap moral otonom atau penghayatan moral yang sebenarnya ialah bahwa seseorang melakukan kewajibannya bukan karena dipaksa dari luar, melainkan karena menyadarinya sebagai sesuatu yang b e r n i l a i c l a n s e b a ga i p e r t a n g gu n g j a w a b a n ya n g sesungguhnya. Sistem moral Kant nampak sebagai suatu etika yang kaku dan suram. Apakah tidak mungkin seseorang berbuat baik karena dorongan cinta atau belas kasih. Di sini Kant menyatakan bahwa bertindak berdasar kecenderungan saja seperti itu artinya tidak bebas dan perbuatan yang tidak bebas tidak bisa dianggap perbuatan moral. Rupanya pengertian Kant akin kebebasan begitu sempitnya. Padahal ada suatu bentuk kebebasan

tertinggi yang disebut kebebasan eksistensial. K Bertens ( 1993) menggambarkan kebebasan eksistensial sebagai berikut Orang yang bebas secara eksistensial seakan-akan memiliki'dirinya sendiri. Ia mencapai taraf otonomi, kedewasaan, otentisitas, kematangan rohani; ia bebas dari segala alienasi atau keterasingan. Ia berbuat baik, bukan karena hal itu dinantikan daripadanya (di mata orang lain ), bukan karena itu ia dapat mengelak banyak kesusahan (teguran, denda, hukuman ), bukan karena itu diperintahkan oleh sesuatu instansi dari luar. Ia berbuat baik karena keterlibatan dari dalam. Ia berbuat baik karena hatinya melekat pads kebaikan dan justru karena hal itu baik, bukan karena alasan-alasan yang letaknya di luar yang baik. Tidak mungkin ia

berbuat jahat, tetapi hal ini bukan karena paksaan atau tanda bahwa ia tidak bebas. Ia tidak bisa berbuat jahat, karena mencapai sesuatu keterlibatan dan kesempurnaan dengan penuh kesadaran. Kebebasan eksistensial jarang sekali direalisasikan dengan sempurna, dan terutama merupakan suatu ideal atau cita-cita yang dapat memberi arah dan makna kepada kehidupan manusia.

Kewajiban atau Keutamaan ? Setelah mempelajari sekilas sistem-sistem etika yang penting nampaknya tidak ada yang sama sekali memuaskan, karena semuanya memiliki kelemahan-kelemahan. Dalam melakukan suatu penilaian etis, sebenarnya ada dua jenis pendekatan yang berbeda. Kits bisa melihatnya dari sudut perbuatan yang dilakukan seseorang, atau melihat secara menyeluruh kcadaan si pelaku itu sendiri. Dari sudut perbuatan, kits dapat mempelajari prinsip-prinsip atau aturan-aturan moral yang berlaku untuk suatu perbuatan, serta norms dan prinsip mans yang perlu diterapkan, juga urutan pentingnya yang berlaku diantaranya. Pertanyaan pokok di sini adalah : "Saya harus melakukan spa?", yang merupakan inti dari etika kewajiban. Apabila fokusnya adalah si pelaku atau manusianya, dipelajari sifat watak yang dimiliki manusia. Pertanyaan pokoknya adalah : " Saya harus menjadi orang yang bagaimana ? ", yang merupakan etika keutamaan. Kedua pendekatan etis ini saling melengkapi sate sama lain. Moralitas selalu berkaitan dengan prinsip serta aturan, dan serentak juga dengan kualitas manusia itu sendiri, dengan sifat-sifat wataknya. Pads awal sejarah filsafat di Yunani, filsuf-filsuf besar seperti Socrates, Plato dan Aristoteles sebenarnya telah meletakkan dasar bagi etika keutamaan. Keutamaan (= virtue, Inggris, atau virtus, Latin sebagai lawan dari vice, Inggris atau vitium, Latin atau keburukan ), adalah disposisi watak yang telah diperoleh seseorang, sehingga memungkinkannya untuk bersikap tindak baik secara moral. Disposisi artinya suatu kecenderungan tetap, yang tidak berubah-ubah. Keutamaan ini berkaitan dengan moral, bukan dengan sifat-sifat fisik atau psikis; juga berkaitan dengan kehendak, yang cenderung menuju ke arah tertentu. Keutamaan, diperoleh tidak sejak lahir, melainkan melalui suatu latihan selama suatu proses pendidikan yang cukup panjang. Banyak pandangan yang menyebutkan sifat watak yang dimiliki manusia, tetapi

adakah suatu keutamaan pokok ? Ada pandangan yang menyebutkan dua keutamaan pokok yaitu kebaikan hati dan keadilan. Ada lagi pandangan yang telah berakar sejak Plato dan Aristoteles yang menyebutkan empat keutamaan pokok yaitu : kebijaksanaan, ketangguhan atau keberanian, pengendalian diri atau keugaharian, dan keadilan. Thomas Aquinas ( 1225-1274 ) menambahkan lagi tiga keutamaan yang disebut keutamaan teologis, yaitu : iman, pengharapan dan kasih. F. Magnis-Suseno (1989) memilih lima keutamaan yang mendasari suatu kepribadian moral yang kuat, yaitu kejujuran, kesediaan untuk bertanggung jawab, kemandirian moral, keberanian moral dan kerendahan hati. Kejujuran merupakan langkah awal bagi siapa saja yang akan berusaha menjadi kuat secara moral, karena tanpa kejujuran, keutamaan moral lainnya akan kehilangan nilainya. Misalriya bersikap baik kepada orang lain tanpa disertai kejujuran ,adalah kemunafikan dan Bering beracun. Kejujuran mengandung dua arti, pertama artinya terbuka, mengatakan apa adanya, tidak menutupnutupi, muncul tanpa topeng, tetapi sebagai diri sendiri. Kedua, bersikap wajar, bertindak sesuai dengan keyakinan atau hati nurani dan tidak dikurangi atau dilebih-lebihkan. Syarat untuk bersikap jujur terhadap orang lain adalah bersikap jujur terhadap diri sendiri dahulu. Orang yang tidak jujur adalah orang yang selalu berada dalam pelarian, lari terhadap orang lain maupun lari dari dirinya sendiri. Untuk itu kita harus memiliki keberanian untuk berhenti melarikan diri dan melepas topeng-topeng untuk menjadi diri kita sendiri, otentik, ash. Kesediaan untuk bertanggung jawab merupakan operasionalisasi dari kejujuran. Hal ini berarti bahwa kita harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan, dengan sebaik mungkin; hal ini juga mengatasi segala etika peraturan yaitu etika yang melihat hakikat moralitas dalam ketaatan terhadap sejumlah peraturan yang tidak dapat mempertanggung jawabkan mengapa baik buruknya manusia diukur pada peraturan-peraturan itu; hal itupun secara principal membuat wawasan orang yang bersedia untuk bertanggung jawab adalah tidak terbatas. Kemandirian moral berarti tidak ikut-ikutan begitu saja dengan berbagai pandangan moral yang ada dilingkungannya, tapi membentuk penilaian dan pendirian sendiri Berta bertindak sesuai dengan itu. Apabila kemandirian moral terutama merupakan keutamaan intelektual atau kognitif, make keberanian moral merupakan tekad untuk tetap mempertahankan sikap yang telah diyakini sebagai

kewajiban dengan mengikuti hati nurani, meskipun tidak sejalan dengan pendapat mayoritas dalam lingkungan. Akhirnya, kerendahan hati, yang sesungguhnya merupakan prasyarat bagi kemurnian dari keberanian moral, adalah kekuatan batin untuk melihat diri sendiri sesuai dengan kenyataannya. Kerendahan hati tidak berarti merendahkan diri, melainkan melihat diri sendiri apa adanya, otentik, ash.

Etika tanggung jawab Sampai seat ini kita telah berbicara terutama mengenai dua cara berpikir etis, yaitu cara berpikir teleologis dan cara berpikir deontologis. Cara berpikir teleologis melahirkan etika tujuan dan akibat. Tindakan itu baik apabila tujuannya baik, juga akibatnya baik. Ukuran obyektif yang dipakai untuk menilai bahwa tindakan itu baik atau jahat, menurut J.S Mill, filsuf Inggris penerus faham utilitarianisme, adalah "the greatest good for the greatest number. Tindakan adalah baik bile bertujuan dan berakibat menimbulkan kebaikan yang terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Akan tetapi seperti telah disinggung sebelumnya banyak kelemahannya. Secara etis kita tetap harus menyatakan bahwa bukan hanya tujuan dan akibat -yang penting, tetapi cara pun penting. Tidak boleh kita menghalalkan segala cara untuk mencapai suatu tujuan. Cara berpikir deontologis mendasarkan diri pada prinsip atau hukum yang dianggap harus berlaku dalam situasi dan kondisi apa pun. Etika ini berbicara secara togas mengenai apa Yang benar dan apa yang salah, sehingga kita tidak perlu raguragu. Immanuel Kant memberikan dua ukuran obyektif untuk menjelaskan bahwa suatu tindakan itu benar atau salah. Pertama adalah universalitas, artinya apa yang kita lakukan adalah benar apabila di manapun dan kapanpun, apa yang dilakukan itu adalah yang seharusnya dilakukan oleh siapapun. Kedua, apa yang benar adalah apabila kita memperlakukan seseorang, baik itu orang lain maupun diri kita sendiri, di dalam setiap hal, sebagai tujuan dan bukan sekedar sebagai sarana. Jadi kita harus memperlakukan seseorang sebagai subyek, bukan sebagai obyek. Akan tetapi kehidupan manusia begitu kompleks dan selalu berubah, sehingga sangat sulit sekah mendapatkan aturan atau hukum-yang jelas bagi setiap kemungkinan. Merinci hokum sedemikan rupa sehingga diperoleh suatu daftar yang panjang tentang apa yang boleh din apa yang dilarang nampaknya tidak mungkin dikerjakan dengan lengkap dan sempurna. Daftar yang demikian inenimbulkan legalisms yang beku dan kaku.

Kita

melihat,

etika

teleologis

maupun

etika

deontologis

tidak

begitu

memperhitungkan situasi dan kondisi yang dihadapi, yang seharusnya dipertimbangkan pula dalam' mengambil keputusan etis. Mill berpendapat bahwa kebaikall torbesar bagi sebanyak mungkin orang tetap berlaku dalaiii situasi dan kondisi apapun. Demikian pula Kant menyatakan bahwa yang benar adalah yang sesuai dengan prbisipatau hUkL1111 Yang bersifat universal, berlaku di manapun dan kapanpun. Sebenarnya ada satu cara berpikir lain yang memperhatikan situasi dan kondisi secara kontekstual. Disini yang terpenting sebelum bertindak, bukan apa yang secara unisversal benar, atau secara universal baik, tetapi yang secara kontekstual paling bertatiggung jawab. Apabila pada suatu ketika beberapa orang teroris menyandera pesawat terbang Yang berpenumpang ratusan orang. Apa yang harus dilakukan? Secara deontologis, bila disusun rencana membunuh para teroris itu, salah; karena secara prinsip membunuh tidak diperbolehkan. Menempuh risiko untuk menyelamatkan penumpang dengan menyerang para teroris, secara teleologis juga jahat; karena dapat berakibat matinya banyak penumpang pesawat itu. Apakah yang paling tepat, tindakan yang paling bertanggung jawab untuk dilakukan dalam keadaan khusus tersebut. Di sini konteks situasi dan kondisi tertentu harus diperhitungkan secara seksama untuk mengambil keputusan. Sekarang kita dapat mengetahui bahwa tindakan etis vang dapat dipertanggung jawabkan adalah harus sekaligus baik, benar dan tepat. Hal ini memang sangat sulit dan sering t1dak mungkin. Akan tetapi kita tetap harus mengambil keputusan. Oleh karena itu kita harus sungguh-sungguh untuk hertisaha sedapat mungkin dengan rendah hati dan dengan negala kemampuan yang kita miliki untuk mengambil k.putusaii yang paling baik, paling benar dan paling tepat, fiwskipun tidak sempurna.

NOR MA MORAL Setclah mempelajari teori-teori moral, kita kembali pada jwdiiaii untuk bersikap tindak di dalam pergaulan dengan 41) -il IV, hAin, tetapi juga forhadap d i ri sendiri, yaitu norma moral. 11"I it, tit ini kilo Aam ivit-bbiAt bahwa nortna moral itu absolut, Univers al dan obyektif

Ada sarjana yang mengatakan bahwa moralitas sama saja dengan adat kebiasaan dan akibatnya mudah bisa berubah; ini yang disebut relativisme moral. Hal itu tidak benar, karena mutu etis dari setiap masyarakat tidak sama, ada yang tinggi ada yang rendah. Di samping itu pule dilihat dari sudut pandang sejarah, nampaknya pada umumnya ada perubahan ke arah kemajuan dibidang moral, sepertinya mutu etis semakin baik. Pada orang Eskimo pernah kita, baca adanya kebiasaan membunuh orang tua jika berada dalam keadaan lemah atau sakit. Di sini kita harus membedakan antara norma moral dasar dan norma moral konkrit. Bagi orang Eskimo, perbuatan tersebut merupakan norma moral konkrit, dan motif membunuh orang tua justru untuk berbuat baik, agar tidak mendapat nasib lebih buruk lagi. Karena itu dibalik norma konL'it itu ada norma dasar yaitu berbuat baik kepada sesame. Norma dasar itu akan diterima oleh semua orang, sedangkan norma konkrit tersebut akan ditolak oleh orang modern. Sejauh norma dasar itu dilihat dengan lebih jelas dan serentak juga keadaan beru bah, misalnya kontak dengan ilmu kedokteran, maka kebiasaan yang diclasarkan norma konkrit itu akan ditinggalkan. Jadi norma moral adalah absolut, ticlak relatif. Kalau norma moral absolut, maka norma itu juga harus universal, selalu berlaku kapanpun clan di manapun. Tidak mungkin norma moral yang berlaku di sate tempat, tapi tidak berlaku di tempat yang lain. Norma hukum bisa berbeda, tergantung undangundang dari negara masing-masing. Ada negara yang menghukum orang yang mencoba membunuh diri, ada yang tidak, karena berbeda-beda undang-undangnya. Tetapi norma kejujuran tentu akan berlaku atau diakui oleh siapapun, di manapun, dan kapanpun. Memang ada pemikiran yang menolak norma universal, yaitu etika situasi, yang nenyatakan bahwa ticlak mungkin ada norma-norma moral yang berlaku umum, sebab setiap situasi adalah unik, berbeda dan tidak ada dua situasi yang persis sama. Dalam hal ini ada unsur kebenarannya, tetapi bentuk ekstrim dari etika situasi tidak bisa dipertahankan. Karena kita akan langsung setuju bahwa perbuatan moral tertentu tidak tergantung situasi. Mi sal n ya pe rkosaan, t i dak pern ah dap at di t eri m a, bagaimanapun situasinya. Norma moral adalah obyektif, tidak subyektif. Kita yakin bahwa norma moral mewajibkan kita secara obyektif. Kita sendiri tidak menciptakan norma itu. Norma tidak tergantung pada selera subyektif kita.

Sekarang bagaimana dapat kita bedakan norma moral sungguhan dari norma moral semu, dan kita pastikan bahwa norma moral itu adalah benar. Suatu norma harus konsisten. Konsistensi adalah tuntutan logika. Akan tetapi konsistensi saja t i cl ak cukup. Norm a m or al adal ah bena r j i k a bi sa d i g e n e r a l i s a s i k a n d a n t i d a k b e n a r j i k a t i d a k b i s a digeneralisasikan. Menggenerali sasi norm a berarti memperlihatkan bahwa norma itu berlaku untuk semua orang. Generalisasi norma menjadi dasar bagi apa yang dalam etika dikenal sebagai the golden rule ("aturan emas " ) yaitu : " Hendaklah memperlakukan orang lain sebagaimana Anda sendiri ingin diperlakukan ", atau dalam bentuk lain, " Jangan lakukan terhadap orang lain apa yang Anda sendiri tidak ingin hal itu dilakukan terhadap diri Anda". Aturan ini digunakan dalam pasal 16 KODEKI 1991: " Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana is sendiri ingin diperlakukan", dan pasal 13 KODEKGI 1992: "Setiap dokter gigi Indonesia harus memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana is sendiri ingin diperlakukan ". Telah banyak kita lihat norma-norma moral, yang tentu tidak semua sama pentingnya. Pada umumnya diakui bahwa norma dasar terpenting adalah martabat manusia, dan kita harus menghormatinya. Kewajiban untuk menghormati martabat manusia, oleh Kant dirumuskan sebagai suatu perintah : "Hendaklah memperlakukan manusia selalu juga sebagai tujuan pada dirinya dan tidak pernah sebagai sarana belaka ". Manusia adalah satu-satunya makhluk yang merupakan tujuan pada dirinya. Hewan kita gunakan untuk tujuan-tujuan kita, tetapi manusia adalah tujuan sendiri yang tidak boleh dikalahkan pada tujuan lain, karena manusia adalah satusatunya makhluk bebas dan otonom yang sanggup mengambil keputusannya sendiri. Manusia adalah " persona ", yang memiliki harkat intrinsik dan karena itu harus dihormati sebagai tujuan pada dirinya. Apabila kita memakai jasa orang lain, artinya kita menggunakan orang itu sebagai "sarana". Akan tetapi disamping menggunakan jasanya, kita juga menghormatinya sebagai tujuan pada dirinya sendiri, dan tidak memakainya sebagai sarana belaka. Martabat manusia mengandung pengertian bahwa manusia itu harus dihormati sebagai manusia. Kita menghormati seseorang tidak karena status sosial ekonominya atau keturunannya, melainkan semata-mata karena martabatnya sebagai manusia.

Martabat manusia sebagai norma dasar moralitas tidak saja harus diterapkan terhadap orang-orang di sekitar kita, tetapi juga terhadap diri kita sendiri.