Anda di halaman 1dari 30

KUNJUNGAN LAPANGAN

Kelompok 2

Waktu: 24 September 2008, 08.00-12.00 Lokasi: RSUD Mataram IRD, instalasi Radiologi, pasien rawat inap trauma muskuloskletal

UNIT GAWAT DARURAT RSUD MATARAM

KASUS

KELAINAN KELAINAN ANATOMI YANG DIDAPATKAN PADA KASUS


fraktur os. tibia dextra jejas pada muka mengakibatkan gangguan pada struktur integument daerah tersebut fraktur scapula dekstra

GANGGUAN FISIOLOGIS PADA KASUS


A. akibat fraktur os. Scapula dextra Tidak bisa rotasi, elevasi, depresi, retraksi, protrusi, dan gerakan lengan dextra pasien juga menjadi lebih terbatas akibat dari fungsi scapula yang terganggu.

B. akibat fraktur os. Tibia dextra tidak bisa berdiri dan berjalan secara normal Gangguan pada otot-otot disekitar tibid Kesulitan menggerakkan pedis dan gangguan kestabilan ankle

PENYEBAB TERJADINYA KELAINAN-KELAINAN PADA KASUS

PEMERIKSAAN UNTUK MENGIDENTIFIKASI KELAINAN PADA KASUS TERSEBUT


Menanyakan, melihat, meraba, dan menggerakkan anggota tubuh pasien yang dicurigai mengalami patah tulang.

Inspeksi Pemeriksaan umum dalam mengindentifikasikan fraktur adalah dengan cara dicari kemungkinan komplikasi umum seperti syok pada fraktur: tandatanda sepsis pada fraktur terbuka yang mengalami infeksi.

PROSES PENYEMBUHAN DAN REGENERASI PADA KASUS REGENERASI TULANG

Penyembuhan patah tulang

FASE HEMATOMA FASE JARINGAN FIBROSIS FASE PENYATUAN KLINIS FASE KONSOLIDASI

PRINSIP PENANGANAN PADA KASUS TRAUMATIK (PATAH TULANG)


Penanganan pasien sesuai dengan prioritas utama dalam penganan (TRIASE) Pada kasus dengan tarumatik maka akan mendapat penanganan yang utama seperti penghentian pendarahan , penanganan infeksi pada farktur terbuka dan proses imobilisasi Fraktur terbuka > fraktur tertutup

Penanganan luka: Bersihkan Tutup dengan pembalut kering

Prinsip Penanganan untuk Fraktur


Tindakan Medik / Operasi Perawatan Rehabilitasi Fisioterapi Terapi Okupasi Ortosis dan Protesis Terapi wicara Pelayanan Psikologi Pelayanan social medik Pendidikan khusus

Penanganan pada fraktur tertutup Penanganan pada kasus fraktur terbuka

POLI RADIOLOGI RSUD MATARAM

PEMERIKSAAN RADIOLOGI
Pemeriksaan radiologi sederhana Pemeriksaan radiologi khusus menggunakan zat kontras Dental X-Ray Panoramic Mammografi CT-Scan MRI

RADIOGRAFI (ROENTGEN)
Pemeriksaan foto roentgen (radiografi) Indikasi Pemeriksaan Radiografi

Fraktur Dislokasi Trauma pada tulang belakang & pada tengkorak Infeksi tulang dan sendi Tumor tulang dan lesi yang menyerupai tumor tulang Perubahan degeneratif tulang Anomali kongenital

Kontraindikasi Pemeriksaan radiografi Pasien hamil, terutama trimester pertama

CT-SCAN
Prinsip sifat fisika yang sama dengan sinar X konvensional masing-masing struktur tubuh dibedakan berdasarkan kemampuannya menyerap energi sinar-X. Sinar-sinar X yang telah melalui kepala dikumpulkan dengan detector sinar X khusus. Informasi yang diperoleh diproses di dalam computer sensitivitasnya tinggi, CT dapat dengan mudah memperlihatkan perbedaan absorpsi sinar-X, meskipun perbedaanya kecil. Zat yang mengandung yodium intravascular kontras jaringan-jaringan dg aliran darah yang berbeda.

Indikasi Pemeriksaan CT Scan dapat digunakan untuk memeriksa seluruh tubuh. Khusus untuk CT-scan kepala: adanya dugaan yang kuat

Edema serebri Lesi kontusio serebri Infark serebri Perdarahan serebral/intracranial Lesi demielinisasi Hidrosefalus internus dan eksternus

Kontraindikasi Pemeriksaan CT Scan Pasien hamil, terutama trimester pertama.

MAGNETIC RESONANCE IMAGING (MRI)


Prinsip dasar MRI Prinsip dasar MRI adalah inti atom yang bergetar dalam medan magnet. Tembak inti H (proton), tegak lurus, frek tinggi proton akan bergetar/bergerak menjadi searah/sejajar. bila radio frekuensi tinggi ini dimatikan proton tadi akan kembali ke posisi semula menginduksi dalam satu kumparan, menghasilkan sinyal elektrik yang lemah. terjadi berulang-ulang sinyal elektrik ditangkap kemudian diproses dalam computer gambar.

Kontraindikasi Pemeriksaan MRI Pasien hamil, terutama trimester pertama Pasien dengan alat pacu jantung Indikasi Pemeriksaan MRI hampir seluruh organ tubuh dapat diperiksa, Hampir 90% pemeriksaan kepala dan vertebrae/sumsum tulang belakang, sisanya 10% untuk pemeriksaan organ lain.

Kepala Indikasi MRI kepala: tumor stroke/CVD infark hemorhagik atau non hemorhagik penyakit demyelinisasi (multiple sclerosis) kelainan vascular seperti anurisma, AVM maupun stenosis infeksi metastase kelainan pada kelenjar pituitary, lubang telinga dalam, rongga mata, sinus

Tulang Belakang Indikasi pemeriksaan MRI tulang belakang: tumor infeksi penyakit degeneratif/HNP trauma metastase kelainan vascular

Pemeriksaan Musculo-skeletal Untuk organ : lutut, bahu ,siku, pergelangan tangan, pergelangan kaki, kaki, untuk mendeteksi robekan tulang rawan, tendon, ligamen, tumor, infeksi/abses dan lainlain.

PROSEDUR PEMERIKSAAN CT-SCAN


Pemotretan awal/permulaan dilakukan dengan tabung yang dibiarkan diam topogram/skanogram. Skanogram ini dibuat untuk memogramkan potongan-potongan mana saja yang akan dibuat. Kemudian satu persatu dibuat scan-nya menurut program tersebut. Pasien tetap diam ditempat, sehingga arah scan-nya dapat ditentukan dengan tepat, sedangkan tabung detektornya memutari pasien. Ketebalan scan dapat diatur (3mm, 5mm, dll).

INTERPRETASI HASIL PEMERIKSAAN


Benda-benda yang mudah ditembus sinar X bayangan hitam (radiolucent). benda-benda yang sukar ditembus bayangan ptih (radioopaque). Diantaranya terdapat bayangan perantara : moderately radiolucent dan moderately radioopaque diantara kedua kategori di atas intermediate.

Berdasarkan kategori-kategori diatas, maka bagian-bagian tubuh dapat dibedakan menjadi : Radiolucent : Gas Atau Udara Moderately Radiolucent : Jaringan lemak Intermediate :

Jaringan ikat Otot Darah Kartilago Epitel Batu Kolesterol Batu Asam Urat

Moderately Radio-Opaque :
Tulang Garam Kalsium

Radio-Opaque

: Logam-logam Berat.

Fraktur Adanya Darah akan terlihat intermedia Fraktur tulang terlihat tergantung dari jenis frakturnya. Biasanya terlihat adanya garis atau daerah yng terlihat lebih gelap dari daerah sekitarnya. Lempeng epifisial yng akan terlihat gelap.

RAWAT INAP TRAUMA


MUSKULOSKELETAL

DAFTAR PUSTAKA
Sjamsoehidayat, R , Wim De Jong. 2003. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC. Kapita Selekta Kedokteran FKUI. Rasad. 2005. Radiologi Diagnostik. Balai Penerbit FKUI, Jakarta Mardjono, Mahar. 1967. Neurology Klinis Dasar. Dian Rakyat.Jakarta Notosiswoyo Mulyono, Susy Suswati. PEMANFAATAN MAGNETIC RESONANCE IMAGING (MRI) SEBAGAI SARANA DIAGNOSA PASIEN. Media Litbang Kesehatan Volume XIV Nomor 3 Tahun 2004

TERIMA KASIH