Anda di halaman 1dari 8

FILSAFAT.

MORAL DR MUMUH MUHSIN


FILSAFAT MORAL I. Pengertian 1. Etika dan Moral Pengertian etika: 1) Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Secara ringkas, pengertian tadi bisa disebut sebagai sistem nilai. Sistem nilai itu bisa berfungsi dalam hidup manusia perorangan maupun pada taraf sosial. 2) Kumpulan asas atau nilai moral atau, disebut juga, kode etik. 3) Ilmu tentang yang baik dan yang buruk. Pengertian moral: Sama dengan etika, yaitu nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. 2. Amoral dan Immoral Kata amoral dalam Concise Oxford Dictionary diartikan sebagai unconcerned with, out of the sphere of moral, non-moral. Jadi, amoral berarti tidak berhubungan dengan konteks moral, di luar suasana etis, non-moral. Kata immoral dalam kamus yang sama dimaknai sebagai opposed to morality; moralyy evil. Jadi, immoral berarti bertentangan dengan moralitas yang baik, secara moral buruk, tidak etis. 3. Etika dan Etiket Etika (ethics) berari moral, etiket (etiqutte) berarti sopan santun. Dua kata ini memiliki persamaan dan perbedaan makna. Persamaannya adalah: 1) Etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. 2) Baik etika maupun etiket mangatur perilaku manusia secara normatif, artinya, memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Perbedaannya adalah: 1) Etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan manusia. Etiket menunjukkan cara yang tepat atau cara yang diharapkan serta ditentukan dalam suatu kalangan tertentu. Etika tidak terbatas pada cara dilakukannya suatu perbuatan; etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh dilakukan atau tidak.

2) Etiket hanya berlaku dalam pergaulan. Bila tidak ada orang lain maka etiket tidak berlaku. Etika selalu berlaku, ada atau tidak ada orang lain. 3) Etiket bersifat relatif. Etika lebih absolut. 4) Etiket hanya memandang manusia dari segi lahiriah saja. Etika menyangkut manusia dari segi dalam. II. Peranan Etika dalam Masyarakat 1. Masyarakat tradisional (homogen dan agak tertutup): nilai-nilai dan norma-norma itu tidak pernah dipersoalkan. Secara otomatis orang menerima nilai dan norma yang berlaku. Individu dalam masyarakat itu tidak berpikir lebih jauh. Nila dan norma etis dalam masyarakat ini bersifat implisit. Akat tetapi bisa menjadi eksplisit bila nilai itu ditantang atau dilanggar karena perkembangan baru. 2. Situasi etis pada masyarakat modern ditandai tiga hal: 1) Pluralisme moral (komunikasi/informasi, transportasi/mobilitas, pariwisata, multinational corporation, eduducation) 2) Masalah etis baru (perkembangan iptek, biomedis, manipulasi genetika, reproduksi artifisial) 3) Kepedulian etis yang universal (globalisasi, LSM, ekologi, HAM. Hubungan kepedulian etis dengan pluralisme moral (untuk persoalan publik dan pribadi). Sumber-sumber nilai dan norma: 1) Agama 2) Kebudayaan 3) Nasionalisme III. Moral dan Agama Agama mempunyai hubungan erat dengan moral. Motivasi terpenting dan terkuat bagi perilaku moral adalah agama. Setiap agama mengandung suatu ajaran moral yang menjadi pegangan bagi perilaku para penganutnya. Jika dibandingkan pelbagai agama, ajaran moralnya barangkali sedikit berbeda, tetapi secara menyeluruh perbedaannya tidak terlalu besar. Atau dengan kata lain, ada nilai-nilai universal yang relatif sama. Mengapa ajaran moral dalam suatu agama dianggap begitu penting? Karena ajaran itu berasal dari Tuhan dan mengungkapkan kehendak Tuhan. Ajaran moral itu diterima karena alasan keimanan. Namun demikian, nilai dan norma moral tidak secara eksklusif diterima karena alasan-alasan keagamaan. Ada juga alasan-alasan lebih umum untuk menerima aturan-aturan moral, yaitu alasan-alasan rasional. Dalam etika filosofis atau filsafat moral justru diusahakan untuk menggali alasan-alasan rasional untuk nilai-nilai dan norma-norma yang dipakai sebagai pegangan bagi perilaku moral. Berbeda dengan agama, filsafat memilih titik tolaknya dalam rasio dan untuk selanjutnya juga mendasarkan diri hanya pada rasio. Filsafat hanya menerima argumen dan alasan logis yang dapat dimengerti dan disetujui oleh semua orang. Ia menghindari setiap unsur nonrasional yang

meloloskan diri dari pemeriksaan oleh rasio. Agama berangkat dari keimanan; kebenarannya tidak dibuktikan, tetapi dipercaya. Kebenaranyya tidak diterima karena dimengerti, melainkan karena terjamin oleh wahyu. Bila agama bicara topik etis, ia berusaha memotivasi dan menginspirasi supaya umatnya mematuhi nilai dan norma yang sudah diterimanya berdasarkan iman. Bila filsafat bicara topik etis, ia berargumentasi; ia berusaha memperlihatkan bahwa suatu perbuatan tertentu harus dianggap baik atau buruk, hanya dengan menunjukkan allasan-alasan rasional. Dalam konteks agama, kesalahan moral adalah dosa; orang beragama merasa bersalah di hadapan Tuhan, karena melanggar perintah-Nya. Dari sudut filsafat moral, kesalahan moral adalah pelanggaran prinsip etis yang seharusnya dipatuhi. Kesalahan moral adalah inkonsistensi rasional. Agama Filosof Sekular etika Etika humanis dan sekuler tanpa hubungan dengan agama Dalam dunia yang ditandai pluralisme moral semakin mendesak kehadiran etika filosofis yang berusaha memecahkan masalah-masalah etis atas dasar rasio saja. Pluralisme modern yang menandai zaman ini sebagian disebabkan adalanya etika humanistis dan sekular yang tidak lagi mengikutsertakan acuan keagamaan. Adanya pluralisme pandangan etis bukan saja karena adanya pelbagai agama dengan suasana moral yang berbeda-beda, melainkan juga, dan terutama, karena tembok pemisah antara pandangan etis orang beragama dengan dan orang sekuler. Jika ingin dicapai kesepakatan di bidang etis, kita hanya bisa berpedoman pada rasio, sebab sarana lain tidak dipunyai. IV. Moral dan Hukum Hukum membutuhkan moral. Hukum tidak berarti banyak, kalau tidak dijiwai oleh moralitas. Tanpa moralitas, hukum akan kosong. Kualitas hukum sebagian besar ditentukan oleh mutu moralnya. Karena itu hukum selalu harus diukur dengan norma moral. Di sisi lain, moral juga membutuhkan hukum. Moral akan mengawang-awang saja, kalau tidak diungkapkan dan dilembagakan dalam masyarakat, seperti terjadi dengan hukum. Walaupun ada hubungan erat antara moral dan hukum, namun perlu dipertahankan juga bahwa moral dan hukum tidak sama. Tidak mustahil adanya undang-undang immoral, undang-undang yang harus ditolak dan ditentang atas pertimbangan etis. Dalam kasus seperti itu terdapat ketidakcocokan antara hukum dan moral. Perbedaan antara hukum dan moral: 1. Hukum lebih dikodifikasi daripada moralitas. Oleh karena itu, ia mempunyai kepastian lebih besar dan bersifat lebih objektif. Norma moral bersifat lebih subjektif dan akibatnya lebih banyak diganggu oleh diskusi-diskusi

yang mencari kejelasan tentang yang harus dianggap etis atau tidak etis. 2. Baik hukum maupun moral mengatur tingkah laku manusia, namun hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriah saja, sedangkan moral menyangkut juga sikap batin seseorang. 3. Sanksi yang berkaitan dengan hukum berlainan dengan sanksi yang berkaitan dengan moralitas. Hukum dapat dipaksakan. Orang yang melanggar hukum akan terkena hukumannya, tapi norma etis tidak dapat dipaksakan. Satu-satunya sanksi di bidang moralitas adalah hati nurani yang tidak tenang. 4. Hukum didasarkan atas kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara. Moralitas didasarkan atas norma moral yang melebihi para individu dan masyarakat. Dengan cara demokratis orang bisa mengubah hukum, tapi tidak pernah masyarakat dapat mengubah norma moral. V. Hati Nurani Hati nurani adalah penghayatan tentang baik dan buruk berhubungan dengan tingkah laku konkret. Hati nurani memerintahkan atau melarang kita untuk melakukan sesuatu. Ia tidak bicara tentang yang umum, melainkan tentang situasi yang sangat konkret. Tidak mengikuti hati nurani berarti menghancurkan integritas pribadi kita dan mengkhianati martabat terdalam kita. Hati nurani berkaitan erat dengan kenyataan bahwa manusia mempunyai kesadaran. Untuk mengerti hal ini perlu kita bedakan antara pengenalan dan kesadaran. Kita mengenal bila kita melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu. Kesadaran adalah kesanggupan manusia untuk mengenal dirinya sendiri dan karena itu berefleksi tentang dirinya. Pengenalan bukan merupakan monopoli manusia. Binatang pun bisa mengenal objek. Akan tetapi kesadaran merupakan monopoli manusia. Dalam diri manusia bisa berlangsung semacam penggandaan, ia bisa kembali kepada dirinya. Dalam proses pengenalan dirinya manusia berperan sebagai subjek juga sebagai objek. Untuk menunjukkan kesadaran digunakan kata conscience; con (bersama dengan, turut) dan science (mengetahui). Kata conscience digunakan juga untuk menunjukkan hati nurani. Bukan saja manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang bersifat moral (baik atau buruk), tapi juga ada yang turut mengetahui tentang perbuatan moral kita. Dalam diri kita seolah-olah ada instansi yang menilai dari segi moral perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Hati nurani merupakan saksi tentang perbuatan-perbuatan moral kita. Hati Nurani: retrospektif dan prospektif. Hati nurani retrospektif adalah memberikan penilaian terhadap perbuatan-perbuatan yang telah berlangsung di masa lampau. Hati nurani dalam arti retrospektif menuduh atau mencela bila perbuatannya jelek; memuji atau memberi rasa puas bila perbuatannya dianggap baik. Jadi, hati nurani ini merupakan instansi kehakiman dalam batin kita tentang perbuatan yang telah berlangsung. Bila hati nurani menghukum dan menuduh kita, batin akan merasa gelisah. Ini berarti kita memiliki a bad conscience. Bila kita telah bertingkah laku baik, kita mempunyai a good conscience.

Hati nurani prospektif melihat ke masa depan dan menilai perbuatan-perbuatan kita yang akan datang. Hati nurani dalam arti ini mengajak kita untuk melakukan sesuatu atau melarang melakukan sesuatu. Hati Nurani: personal dan adipersonal Hati nurani personal selalu berkaitan dengan erat dengan pribadi bersangkutan. Hati nurani diwarnai oleh kepribadian kita. Hati nurani akan berkembang juga bersama dengan perkembangan seluruh kepribadian kita. Hati nurani hanya bicara atas nama saya. Hati nurani hanya memberi penilaiannya tentang perbuatan saya sendiri. Di samping aspek personal, hati nurani menunjukkan juga aspek adipersonal. Selain bersifat pribadi hati nurani juga seolah-olah melebihi pribadi kita. Aspek ini tampak dalam istilah hati nurani itu sendiri. Hati nurani berarti hati yang diterangi. Dalam pengalaman mengenai hati nurani seolah-olah ada cahaya dari luar yang menerangi budi dan hati kita. Perhatikan istilah: suara hati, kata hati atau suara batin. Terhadap hati nurani kita seakan menjadi pendengar. Hati nurani mempunyai suatu aspek transenden, artinya, melebihi pribadi kita. Bagi orang beragama hati nurani memiliki dimensi religius. Pembinaan Hati Nurani Ada banyak tipe hati nurani: ada yang halus dan jitu, ada yang longgar dan kurang tepat dan ada yang tumpul. Hati nurani yang dalam keadaan tumpul biasanya karena salah didik. Anak yang dididik dalam keluarga pencuri hampir tidak mungkin mempunyai putusan hati nurani yang baik tentang hak milik. Bagaimana keadaan hati nurani (jitu, longgar, tumpul), sebagian besar bergantung pada pendidikan dan lingkungan. Hanya hati nurani yang dididik dan dibentuk dengan baik dapat memberikan penyuluhan tepat dalam hidup moral kita. Hati nurani harus dididik. Pendidikan hati nurani bersama dengan seluruh pendidikan moral. Tempat yang serasi untuk pendidikan moral adalah keluarga, bukan sekolah. Pendidikan hati nurani itu harus dijalankan sedemikian rupa sehingga si anak menyadari tanggung jawabnya sendiri. Kebudayaan malu dan kebudayaan kebersalahan Antropologi budaya membedakan dua macam kebudayaan: kebudayaan malu (shame culture) dan kebudayaan kebersalahan (guilt culture). Kebudayaan malu seluruhnya ditandai oleh rasa malu dan di situ tidak dikenal rasa besalah. Kebudayaan kebersalahan terdapat rasa bersalah. Shame culture adalah kebudayaan di mana pengertian-penggertian seperti hormat, reputasi, nama baik, status, dan gengsi sangat ditekankan. Bila orang melakukan suatu kejahatan, hal itu tidak dianggap sesuatu yang buruk begitu saja, melainkan sesuatu yang harus disembunyikan untuk orang lain. Bukan perbuatan jahat itu sendiri yang dianggap penting; tetapi yang penting adalah bahwa perbuatan jahat tidak akan diketahui. Jika perbuatan jahat diketahui, pelakunya menjadi malu. Dalam shame culture sanksinya

datang dari luar, yaitu apa yang dipikirkan atau dikatakan oleh orang lain. Dalam shame culture tidak ada hati nurani. Guilt culture adalah kebudayaan di mana pengertian-pengertian seperti dosa (sin), kebersalahan (guilt), dan sebagainya sangat dipentingkan. Sekalipun suatu kesalahan tidak akan pernah diketahui oleh orang lain, namun si pelaku merasa bersalah juga. Ia menyesal dan merasa tidak tenang karena perbuatan itu sendiri, bukan karena dicela atau dikutuk orang lain. Jadi bukan karena tanggapan pihak luar. Dalam guilt culture, sanksinya tidak datang dari luar, melainkan dari dalam, dari batin orang bersangkutan. Dapat dimengerti bahwa dalam guilt culture semacam itu hati nurani memegang peranan sangat penting. VI. Kebebasan dan Tanggung Jawab Terdapat hubungan timbal-balik antara kebebasan dan tanggung jawab, sehingga jika dikatakan manusia itu bebas berarti manusia itu bertanggung jawab. Tidak mungkin kebebasan tanpa tanggung jawab dan tidak mungkin tanggung jawab tanpa kebebasan. Kebebasan Beberapa arti kebebasan: a. Kebebasan sosial-politik; subjek kebebasan sosial-politik adalah suatu bangsa atau rakyat. Subjek kebebasan individual adalah manusia perorangan. 1) Kebebasan rakyat v.s. kekuasaan absolut 2) Kemerdekaan v.s. kolonialisme b. Kebebasan individual: 1) Kesewenang-wenangan Kadang-kadang kebebasan dipahami sebagai kesewenang-wenangan (arbitrariness). Dengan demikian, orang disebut bebas bila ia dapat berbuat atau tidak berbuat sesuka hatinya. Di sini bebas dipahami sebagai terlepas dari segala kewajiban dan keterikatan. Bebas dalam arti kesewenang-wenangan individu dalam praktiknya mewujud dalam beberapa bentuk, yaitu: (1) Lepas dari kewajiban dan dapat mengisi waktu sekehendak hatinya. (2) Tidak terikat oleh janji atau komitmen lain. (3) Bebas, jika tidak ada regulasi, peraturan, atau campur tangan dari luar, khususnya pemerintah. 2) Kebebasan fisik Kebebasar fisik berarti tiada paksaan atau rintangan dari luar; bisa bergerak ke mana saja ia mau tanpa hambatan apa pun. Orang yang dipenjara atau dibelenggu tidak punya kebebasan fisik. 3) Kebebasan yuridis

Kebebasan yuridis berkaitan erat dengan hukum dan harus dijamin oleh hukum. Dengan kebebasan yuridis dimaksudkan semua syarat hidup di bidang ekonomi, sosial, dan politik yang diperlukan untuk menjalankan kebebasan manusia secara konkret dan mewujudkan kemungkinan-kemungkinan yang terpendam dalam setiap manusia. Kebebasan ini diperoleh dari negara. 4) Kebebasan psikologis Kebebasan psikologis adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk mengembangkan serta mengarahkan hidupnya. Kemampuan ini menyangkut kehendak, bahkan merupakan ciri khasnya. Nama lain untuk kebebasan psikologis adalah kehendak bebas (free will). Kebebasan ini berkaitan erat dengan kenyataan bahwa manusia adalah makhluk berasio. Ia bisa berpikir sebelum bertindak. Contoh orang yang tidak memiliki kebebasan psikologis adalah kleptoman. 5) Kebebasan moral Kebebasan moral berkaitan erat dengan kebebasan psikologis. Kebebasan moral mengandaikan kebebasan psikologis, sehingga tanpa kebebasan psikologis tidak mungkin terdapat kebebasan moral. Akan tetapi kalau terdapat kebebasan psikologis belum tentu terdapat kebebasan moral, juga walaupun dalam keadaan normal kebebasan psikologis akan disertai kebebasan moral. Orang yang tidak memiiki kebebasan moral misalnya orang yang disandera yang dipaksa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu di bawah ancaman; orang yang dihipnotis. 6) Kebebasan eksistensial Kebebasan eksistensial adalah kebebasan menyeluruh yang menyangkut seluruh pribadi manusia dan tidak terbatas pada salah satu aspek saja. Kebebasan ini mencakup seluruh eksistensi manusia. Orang yang memiliki kebebasan eksistensial seakan ia memiliki dirinya sendiri. Ia mencapai taraf otonomi, kedewasaan, otentisitas, kematangan ruhani. Orang tersebut bebas mewujudkan eksistensinya secara kreatif. Hidup orang yang bebas dalam arti ini tidak merupakan salinan hidup orang lain. Ia tidak mengekor saja. Seorang seniman dapat dianggap bebas dalam arti ini bila ia menciptakan karya secara otonom, kreatif dan bebas. Cendikiawan yang sudah mencapai taraf berpikir sendiri, tidak membeo saja; ia memiliki pendapat sendiri yang didasarkan pada pengertian sendiri. Ia hanya terikat pada kebenaran yang diyakininya. Ia sungguh-sungguh berpikir bebas dan mandiri. Cendekiawan seperti ini memiliki kebebasan eksistensial. Kebebasan eksistensial yang paling tepat adalah dalam konteks etis. Ia berbuat atau tidak berbuat sebagai ekspresi sebuah keyakinan dari dalam bahwa itu baik, bukan karena dorongan dari luar. Dalam situasi kita sekarang ini kebebasan eksistensial lebih sulit dicapai daripada masa-masa sebelumnya. Kebudayaan yang sedang berkembang dan yang lambat laun merembes ke seluruh dunia merupakan suatu mass culture. Media massa memainkan peranan besar dalam hal ini. Banyak manusia mengikuti apa saja yang trendy atau yang sedang in. Konsumsi, busana, musik, dan sebagainya banyak dipengaruhi oleh mass culture itu.

Beberapa Masalah Kebebasan a. Kebebasan negatif dan kebebasan positif b. Batas-batas kebebasan 1) Faktor-faktor dari dalam (fisik dan non-fisik) 2) Lingkungan (alamiah dan sosial) 3) Kebebasan orang lain 4) Generasi mendatang c. Kebebasan dan determinisme Hukum-hukum yang dihasilkan oleh ilmu-ilmu manusia dimungkinkan karena tiga alasan. Pertama, kebebasan manusia itu terbatas. Ada faktor dari luar yang membatasi kebebasan (lingkungna , pendidikan) dan faktor-faktor lain membatasi dari dalam (bakat, watak, sikap). Ini mengakibatkan bahwa banyak perbuatan manusia tidak bebas atau setengah bebas. Kedua, sering kali manusia tidak menggunakan kebebasannya. Ia merasa lebih senang untuk berprilaku menurut rutin, kebiasaan, atau adat. Ini mengakibatkan bahwa suatu masyarakat tertentu sering memperlihatkan pola kelakuan yang sama. Ketiga, kebebasan tidak berarti bahwa perbuatan manusia tidak ditentukan. Kebebasan adalah autodeterminasi, kehendak yang menentukan dirinya sendiri. Kala manusia menentukan dirinya sendiri, tentu ia memiliki suatu maksud atau tujuan. Dengan kata laiin, manusia mempunyai motif-motif. Perlu dibedakan antara motif dan penyebab. Dalam alam hanya ada penyebab-penyebab, tapi dalam tingkah laku manusia, di samping penyebab terdapat juga motif. Penyebab tidak tergantung pada kemauan, sedangkan motif bergantung pada kemauan. Penyebab berperan dalam konteks determinisme, sedangkan motif berperan dalam konteks kebebasan. Motif adalah alasan yang diterima yang diterima manusia untuk menentukan dirinya. Penyebab adalah alasan terjadinya sesuatu di luar kemauan manusia. Tanggung Jawab 1. Tanggung jawab dan kebebasan 2. Tingkat Tanggung Jawab 3. Masalah tanggung jawab kolektif Sumber: K. Bertens. 2002. Etika. Cetakan ke-7. Jakarta: Gramedia.