Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN

Dalam kehidupan kita sehari- hari, terdapat banyak kasus trauma fisik dan kimia yang beranekaragam bentuknya. Trauma ini dapat mengenai bagian gigi dan mulut sehingga hal ini dapat menjadi masalah bagi kesehatan kita khususnya kesehatan di dalam rongga mulut. Trauma fisik dan kimia ini dapat berasal dari dalam diri kita sendiri (oleh penyakit tertentu) maupun dari luar diri kita (oleh listrik/zat kimia). Istilah-istilah trauma pada gigi antara lain abrasi (oleh trauma fisik), erosi (oleh trauma kimia), dan atrisi gigi(oleh proses mekanis yang fisiologis). Trauma fisik dan kimia dapat memberikan dampak baik langsung maupun tidak langsung terhadap fungsi organ-organ di dalam rongga mulut sehingga berpotensi dalam meningkatkan angka morbiditas dalam ilmu kesehatan mulut. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan pencegahan, pengenalan serta penatalaksanaan secara dini dan tepat terhadap trauma untuk mengembalikan fungsi dan mencegah terjadinya kecacatan. Jenis-jenis trauma fisik dan kimia yang berhubungan dengan rongga mulut antara lain linea alba, morsicatio buccarum, ulserasi traumatik / granuloma traumatik, luka bakar listrik / luka bakar karena panas, luka karena zat kimia, komplikasi dari terapi kanker, nekrosis karena zat anestesi, cheilitis eksfoliatif, perdarahan submukosa, trauma oral karena aktifitas seksual, tatto amalgam dan pigmentasi eksogen lain. Tulisan ini akan mengemukakan mengenai jenis-jenis trauma fisik dan kimia yang berhubungan dengan rongga mulut. Selain itu, akan dikemukakan juga mengenai epidemiologi, gambaran klinis, gambaran histopatologis, terapi dan prognosis dari masing-masing jenis trauma tersebut. Dengan mengetahui mengenai trauma fisik dan kimia yang terdapat pada rongga mulut, diharapkan angka morbiditas akibat trauma ini dapat menurun.

BAB II Trauma Fisik dan Kimia Pada Rongga Mulut

LINEA ALBA Linea alba (garis putih) merupakan bentuk gangguan yang umum terjadi pada mukosa bukal yang berhubungan dengan tekanan, iritasi karena gesekan dan trauma pada bagian muka gigi karena kebiasaan menghisap. Tanda klinis yang terlihat sesuai dengan namanya yaitu lesi berupa garis putih yang biasanya bilateral. Linea alba terletak pada mukosa bukal setinggi oklusal gigi yang di dekatnya. Garis yang terbentuk lebih terlihat jelas pada mukosa bukal yang berbatasan dengan gigi posterior.Tidak ada pengobatan khusus pada penderita dan tidak ada komplikasi.

Gambar 1 Linea alba pada mukosa bukal sebelah kiri

MORCASIO BUCCARUM (CHRONIC CHEEK CHEWING) Morcasio berasal dari bahasa Latin yang berarti gigitan. Kebiasan menggigit-gigit yang kronis dapat menimbulkan lesi yang umumnya terletak pada mukosa bukal, walaupun bisa juga ditemukan pada mukosa labial (morsicasio labiorum) dan bagian samping lidah (morsicasio linguarum). Prevalensi morsicatio buccarum lebih tinggi pada orang stres atau orang dengan masalah psikologis. Lesi morsicasio buccarum biasanya ditemukan bilateral pada mukosa bukal. Selain itu, lesi murcasio buccarum juga dapat ditemukan unilateral pada mukosa bukal disertai lesi pada bibir atau lidah, juga dapat ditemukan hanya pada bibir atau lidah saja. Terkadang lesinya disertai eritem, erosi, atau ulkus. Mukosa yang terkena biasanya pada mukosa bukal anterior sepanjang bidang oklusal gigi. Lesi

yang luas bisa mengenai sebelah atas atau bawah mukosa tersebut seperti pada pasien yang memiliki kebiasaan menekan pipi dengan jari diantara gigi. Penampilan klinis mucasio buccarum biasanya cukup memberikan petunjuk untuk menegakkan diagnosis sehingga jarang dilakukan biopsi. Biopsi pada mucasio buccarum menunjukkan hiperkeratosis yang luas terkadang diteumkan juga sel bervakuola pada lapisan mukosa. Pola histopatologis tersebut tidak khas, dan bisa tertukar dengan linea alba dan oral hairy leukoplakia yaitu lesi yang sering terjadi pada orang dengan HIV. Tidak ada pengobatan khusus pada penderita dan tidak ada komplikasi.

Gambar 2 Mukosio Buccarum

ULKUS TRAUMA (TRAUMATIK GRANULOMA) Trauma akut atau kronis pada mukosa oral dapat menyebabkan ulkus yang dapat bertahan beberapa waktu, tapi biasanya sembuh dalam beberapa hari. Tipe histopatologis khas pada ulkus trauma adalah traumatic granuloma yang menunjukkan reaksi inflamasi yang dalam dan butuh waktu lebih lama untuk sembuh. Tanda klinis yang dapat dilihat yaitu ulkus trauma yang kronis pada lidah, bibir, dan mukosa bukal yang merupakan tempat yang dapat terlukai oleh gigi. Selain itu bisa juga ditemukan pada gingiva, palatum, dan mucobuccal fold yang disebabkan karena iritasi. Lesinya sendiri berupa area eritrem mengelilingi membran kuning fibropurulen yang dapat diangkat. Pasien ulkus trauma dengan sumber trauma yang dapat ditemukan maka harus sumber tersebut harus dihilangkan. Kemudian diberikan dyclorine HCI atau hydroxypropyl cellulose film untuk mengurangi rasa sakit.Jika sumber trauma tidak ditemukan atau tidak respon terhadap terapi maka diindikasikan biopsi.

Gambar 3 Ulkus Trauma

LUKA TERBAKAR LISTRIK DAN PANAS Luka terbakar listrik yang mengenai rongga mulut dibagi dua yaitu tipe kontak dan tipe ach. Tipe kontak memerlukan lantai yang tepat dan arus listrik yang melewati badan dari tempat listrik masuk ke lantai. Sebagian besar luka bakar listrik yang mengenai rongga mulut adalah tipe arc, dimana saliva bertindak sebagai medium dan arus listrik mengalir diantara tempat listrik masuk dan mulut. Luka bakar panas rongga mulut sebagian besar disebabkan karena memakan makanan atau minuman yang panas. Penggunaan microwave meningkatkan angka kejadian luka bakar panas karena dapat membuat makanan yang dingin di bagian luar tapi sangat panas di bagian dalam. Luka bakar pada awalnya berupa area kuning yang tidak sakit, hangus dan sedikit berdarah. Edema akan muncul pada beberapa hari kemudian dan akan bertahan sampai 12 hari. Pada hari keempat, area yang terkena akan nekrotik dan mulai mengelupas. Pendarahan akan mulai terjadi pada periode tersebut karena terbukanya vaskuler di bawah jaringan yang nekrosis. Gigi di sekitarnya akan menjadi nonvital dengan atau tanpa nekrosis tulang alveolar sekitarnya. Lesi karena makanan panas biasanya terdapat pada palatum atau mukosa bukal posterior. Lesi berupa zona eritem dan ulserasi dengan nekrosis epitel disekitarnya. Terapi diberiakn imunisasi tetanus dan antibiotik propilaksis.

Gambar 4 Trauma Terbakar Listrik

LUKA KIMIA PADA MUKOSA ORAL Banyak zat kimia dan obat-obatan yang kontak dengan jaringan oral. Sebagian zat tersebut dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan. Sebagian pasien, terutama anak-anak dan pasien psikiatri, tidak menelan obat yang diberikan tetapi menyimpannya di dalam mulut. Beberapa zat yang dapat melukai mukosa oral: Aspirin Hidrogen peroksida Perak nitrat Fenol Bahan endodontik

Agen penyebab yang disebutkan di atas memberikan kerusakan yang serupa. Masa paparan yang singkat membuat mukosa yang terkena menjadi putih dan keriput. Bila paparan dilanjutkan akan terjadi nekrosis dan epitel yang terpapar akan terpisah dari jaringan di bawahnya dan mudah terkelupas. Bila epitel yang nekrotik dihilangkan, akan terlihat jaringan pengikat yang eritem dan berdarah. Area superfisial yang nekrosis akan sembuh tanpa parut dalam 10 hingga 14 hari setelah penghentian agen penyebab.

Gambar 5 Trauma Akibat Aspirin

PERDARAHAN SUBMUKOSA

Setiap orang pernah mengalami memar yang disebabkan oleh trauma minor. Hal ini terjadi ketika trauma tersebut menyebabkan perdarahan dan terkumpulnya darah di dalam jaringan. Jenis-jenis perdarahan berdasarkan ukurannya: 1. Perdarahan sedikit di kulit, mukosa, atau serosa disebut ptekiae. 2. Perdarahan yang melibatkan area sedikit lebih besar disebut purpura. 3. Akumulasi perdarahan >2 cm disebut ekimosis. 4. Akumulasi darah dalam jaringan yang memunculkan massa disebut hematoma. Trauma tumpul pada mukosa mulut terkadang mengakibatkan terbentuknya hematoma. Ptekiae dan purpura dapat muncul karena tekanan intratoraks tinggi yang lama dan berulang (maneuver valsalva), berkaitan dengan aktivitas seperti batuk yang berulang-ulang, muntah, kejang, atau bersalin. Dalam mendiagnosis perdarahan traumatik, harus dipertimbangkan kemungkinan perdarahan berasal dari penyebab bukan trauma seperti thrombositopenia, DIC, dan beberapa infeksi virus (infeksi mononucleosis dan campak). Gambaran Klinis Perdarahan mukosa terlihat datar , tidak pucat, atau berupa zona yang menonjol berwarna merah atau ungu kebiruan atau biru kehitaman. Lesi trauma paling sering terdapat di mukosa bibir atau pipi. Trauma tumpul pada muka dapat menyebabkan terjadinya hematoma, tetapi luka minor seperti gigitan pada pipi dapat juga menyebabkan hematoma atau purpura. Rasa sakit ringan dapat juga terjadi. Perdarahan yang berkaitan dengan tekanan intratoraks yang meningkat biasanya terdapat pada kulit wajah dan leher dan muncul sebagai ptekiae yang menyebar dan hilang dalam 24-72 jam. Perdarahan mukosa juga memunculkan gejala yang sama dan biasanya berupa ptekiar atau purpura di soft palate.

TRAUMA ORAL DARI AKTIVITAS SEKSUAL Walaupun aktivitas seksual orogenital ilegal secara hukum, tetapi aktivitas ini sangat umum terjadi. Pada kalangan homoseksual pria dan wanita, aktivitas seksual orogenital hampir universal. Frekuensi aktivitas orogenital mencapai angka 90% untuk pasangan menikah heteroseksual. Walaupun angka kejadiannya cukup tinggi, tetapi angka kejadian trauma oral yang disebabkan oleh aktivitas ini rendah.

Gambaran Klinis Lesi yang paling sering dilaporkan berkaitan dengan seks orogenital adalah perdarahan submukosa palatum akibat fellatio. Lesi berupa eritema, ptekiae, purpura, atau ekimosis dari soft palate. Area luka ini tidak memunculkan gejala dan dapat sembuh tanpa terapi dalam 7-10 hari. Rekurensi mungkin terjadi dengan pengulangan aktivitas seksual orogenital. Ektravasasi erytrocytic kemungkinan berasal dari kenaikan muskular soft palate dan penekanan terhadap lingkungan dengan tekanan negative. Lesi yang mirip juga dapat disebabkan oleh proses menyedot sedotan yang terlalu kuat atau dorongan kuat berlawanan dengan vaskular soft palate. Lesi oral juga dapat terjadi karena melakukan cunnilingus, lesi berupa ulkus horizontal dari frenulum lidah. Ketika lidah didorong keluar, frenulum tergesek bagian insisal gigi seri mandibula. Lesi ini dapat sembuh dalam 7-10 hari, tetapi dapat rekuren bila aktivitas ini diulangi kembali.

Gambaran Histopatologi Kasus ini sebenarnya tidak membutuhkan biopsi, tetapi biopsy yang pernah didapatkan dari lesi oleh aktivitas fellatio menunjukkan akumulasi sel darah merah subepitel yang cukup luas sehingga memisahkan permukaan epitel dari jaringan ikat di bawahnya serta adanya migrasi sel darah merah dan leukosit dari lamina propria.

AMALGAM TATTOO DAN PIGMENTASI EKSOGEN LOKAL LAINNYA Amalgam tattoo adalah diskolorisasi jinak pada membrane mulut karena partikel amalgam yang berjatuhan pada luka kecil yang terbuka saat terapi gigi atau trauma setelah terapi gigi di mana partikel amalgam yang kecil dan baru masih menempel di mukosa. Partikel asing cukup jelas tampak pada x-ray dan terkadang tattoo terlihat selalu meluas seiring dengan sel inflamasi di bawah membran mencoba membersihkan area tersebut. Implantasi materi gigi sehingga menyebabkan luka ringan atau inflamasi 7

jaringan mukosa periodontal pada restorasi karies gigi bukanlah suatu peristiwa yang tidak biasa. Materi dari amalgam yang dapat menyebabkan diskolorisasi adalah dari komponen peraknya. Amalgam merupakan kombinasi raksa, perak, tin, tembaga, dan zinc. Setengah dari komponen amalgam mengandung raksa dan jarang menimbulkan nekrosis jaringan yang nyata walaupun bersifat toksik. Secara umum, amalgam tattoo ditemukan pada 1 dari 1000 orang dewasa.

Gambaran Klinis Amalgam tattoo terlihat berupa macula yang lembut, tidak nyeri, tidak berulkus, berwarna biru/abu-abu/hitam tanpa adanya reaksi eritematous di sekelilingnya. Lesi ini banyak ditemukan di gusi atau mukosa alveolar dan lebih banyak ditemukan pada wanita (karena keterlambatan ke dokter gigi) dan usia lanjut (karena terapi gigi yang berulang-ulang). Tattoo dibatasi oleh mukosa yang diameternya < 0.5 cm. Beberapa pasien dapat mengalami respon inflamasi dalam waktu lama di mana terdapat papule kecil atau patch yang luas yang disebabkan oleh makrofag yang memakan materi asing.

Pathology

Gambar 6 Amalgam Tattoo

Gambaran Mikroskopis Gambaran mikroskopis amalgam tattoo berupa area stroma submukosa yang tidak berkapsul dengan adanya kelompok partikel bundar berwarna hitam/coklat , terkadang didapatkan juga serat retikulin. Selain itu, juga ditemukan reaksi benda asing berupa histiosit dan multinucleated giant cells. Ketika jumlah partikel cukup banyak, terjadi fibrosis yang difus di region yang luas di sekelilingnya. Hal ini sangat terlihat ketika amalgam tertanam di sum-sum tulang. Fibrosis avaskular dan tidak ada limfosit.

INTOKSIKASI METAL SISTEMIK Intoksikasi metal sistemik dapat terjadi bila terdapat riwayat memakan atau terpapar beberapa metal berat. Paparan metal berat mungkin dapat bersifat masif karena reaksi akut atau minimal dalam periode yang lebih lama menyebabkan perubahan kronis. 8

Jenis-jenis metal berat dan gambaran klinisnya: 1. Timah Timah dapat berasal dari air minum yang telah terkontaminasi timah, memakan cat, atau menghisap asap atau debu.Pada orang dewasa hal ini berkaitan dengan industri seperti memegang baterai yang mengandung oksidasi timah atau industri timah itu sendiri. Intoksikasi timah tidak menunjukkan tanda dan gejala yang khas, tergantung dari tipe timahnya (organik/inorganik) dan usia pasien. Pasien dalam keadaan akut mengalami abdominal colic dengan anemia, mudah lelah, iritabilitas, lemas, encephalopathy, dan disfungsi ginjal. Keadaan kronis menyebabkan disfungsi sistem saraf, ginjal, sum-sum tulang, dan sendi. Secara keseluruhan, gejala meliputi mudah lelah, sakit muskuloskeletal, dan sakit kepala. Manifestasi oral berupa stomatitis ulkus dan garis timah pada gingival. Garis timah tersebut berupa garis kebiruan di sepanjang marginal gingiva yang disebabkan aksi bakteri hidrogen sulfida pada timah yang terdapat di sulkus gingiva. Bakteri ini memproduksi endapan timah sulfida. Area abu-abu juga terlihat pada mukosa buccal dan lidah. Manifestasi lainnya termasuk: 2. Raksa Raksa digunakan pada serbuk gigi, obat pencuci perut, obat cacing, dan amalgam. Namun raksa yang terkandung dalam amalgam tidak terlalu tinggi untuk menyebabkan penyakit. Keracunan raksa dapat bersifat akut atau kronik. Pada keadaan akut, menunjukkan gejala sakit perut, muntah, diare, haus, faringitis, dan gingivitis. Pada keadaan kronis menunjukkan gejala gangguan pencernaan dan sistem saraf. Perubahan pada mulut berupa terasa metal di mulut, stomatitis ulkus, inflamasi dan pembesaran kelenjar saliva, gusi, dan lidah. Gusi berwarna biru keabuan hingga hitam. Keadaan keracunan raksa yang kronis pada anak-anak disebut sebagai acrodynia dengan gejala flu, kulit lembab terutama di tangan, kaki, hidung, telinga, dan pipi. Gejala tersebut disertai rash yang gatal dan merah, berkeringat berlebih, lakrimasi meningkat, imsomnia, fotofobia, hipertensi, lemah, takikardia, dan gangguan pencernaan. Gejala oral berupa salivasi berlebihan, gingivitis ulkus, bruxism, dan gigi tanggal prematur. 3. Perak Intoksikasi perak berasal dari obat-obatan ulkus gastrointestinal. Intoksikasi perak sistemik disebut argyria berupa diskolorosasi kulit sehingga kulit berwarna hitam keabuan yang 9 Tremor lidah pada saat menjulurkan lidah. Penyakit periodontal lanjut. Salivasi berlebihan. Terasa metal di mulut.

difus terutama di area yang terpapar sinar matahari. Sklera dan kuku juga terpigmentasi. Rongga mulut juga mengalami diskolorisasi yang sama seperti pada kulit. 4. Bismuth Intoksikasi bismuth dapat berasal dari paparan lingkungan kerja dan terapi dermatoses. Paparan bismuth yang kronis menyebabkan diskolorisasi kulit berwarna biru keabuan yang difus, di mana konjungtiva dan rongga mulut terlibat. Selain itu, juga didapatkan stomatitis dan ulkus serta rasa terbakar.

5. Arsenik Intoksikasi arsenik bisa didapatkan dari terapi dermatoses seperti psoriasis. Gejalanya berupa hiperpigmentasi makula yang difus pada kulit. Diskolorisasi ini disebabkan karena adanya arsenik dan meningkatnya produksi melanin. Gejala lainnya berupa palmar-plantar keratose atau yang disebut juga arsenikal keratoses. Manifestasi oral berupa salivasi berlebihan dan area nyeri pada stomatitis ulkus yang nekrosis. 6. Emas Intoksikasi emas dapat berasal dari terapi rheumatoid arthritis aktif dan penyakit imunologi lainnya. Komplikasi dari terapi emas ialah dermatitis dengan keluhan rasa gatal, alopecia, dan kuku tanggal. Komplikasi kedua yang sering ialah mucositis oral yang parah yang melibatkan mukosa buccal, tepi lateral lidah, palatum, dan faring. SMOKERS MELANOSIS Produksi melanin pada mukosa oral dari perokok merupakan respon pertahanan tubuh terhadap zat-zat perusak yang terkandung dalam rokok. Gambaran Klinis Smokers melanosis biasanya terdapat di bibir depan mukosa alveolar. Pada perokok yang menggunakan pipa, lokasi pigmentasi di mukosa buccal dan commissural. Perokok yang merokok kembali menunjukkan adanya perubahan pada hard palate. Area pigmentasi meningkat dalam tahun pertama merokok dan kembali normal setelah berhenti merokok selama 3 tahun.

Gambaran Histopatologi Spesimen biopsi menunjukkan adanya peningkatan pigmentasi melanin di lapisan sel basal pada permukaan epitel seperti makula melanotik.

10

Gambar 7 Smokers Melanosis

EMFISEMA SERVIKOFASIAL Emfisema servikofasial yaitu masuknya udara ke dalam ruang subkutan atau fasia di wajah dan leher. Udara yang masuk dan tertekan dapat menyebar ke spatium retrofaringeal dan mediastinal. Emfisema servikofasial yang berhubungan dengan gigi dapat disebabkan karena: Penggunaan udara yang terkompresi oleh dokter Ekstraksi yang lama dan sulit Peningkatan tekanan intraoral setelah tindakan pembedahan Penyebab yang tidak jelas

Lebih dari 90% kasus emfisema servikofasial terjadi selama pembedahan dan satu jam pertama setelah operasi. Perubahan awal yang terjadi yaitu pembesaran jaringan lunak karena terdapat udara di dalamnya. Rasa sakit minimal, dan krepitus mudah dideteksi dengan palpasi. Kemudian, pembesaran jaringan halus akan bertambah dan menyebar karena terjadi inflamasi sekunder dan edema. Eritem pada wajah dan demam ringan dapat terjadi.

11

Gambar 8 Emfisema Servikofasial

MYOSPHERULOSIS Penggunaan tetrasiklin dalam petrolum pada tempat pembedahan terkadang memberikan reaksi yang unik dan disebut myospherulosis. Myosherulosis dapat terjadi pada semua tempat dimana tetrasiklin digunakan. Sebagaian besar kasus pada gigi terjadi setelah penggunaan tetrasiklin pada tulang untuk mencegah alveolar osteotis setelah pencabutan. Area yang terkena akan bengkak, atau asimptomatik tapi memberikan gambaran radiolusen yang mengelilingi tempat ekstraksi sebelumnya. Pada beberapa kasus terdapat rasa sakit dan drainase purulen dan pada lesi ditemukan material yang hitam, berlemak dan mirip getah.

KOMPLIKASI NON INFEKSI ORAL DARI TERAPI ANTINEOPLASTIK Tidak ada terapi antikanker saat ini yang bisa menghancurkan sel tumor tanpa turut menghancurkan sel lain yang masih normal, dan daerah yang cepat berubah (seperti mukosa oral) sangat rentan untuk terkena. Terapi radiasi dan terapi kanker sistemik keduanya dapat menyebabkan masalha yang berat pada mulut. Sekitar 400.000 orang yang mendapt terapi kanker di USA mendapatkan masalah di mulut, dan angka ini terus berkembang dikarenakan kenaikan angka harapan hidup.

Gambaran Klinis Biasanya pada pasien dengan pengobatan kanker berupa kemoterapi akan terdapat 2 perubahan yang sering ditemukan, yaitu mucositis dan pendarahan, terutama pada jenis kanker yang mendapatkan

12

dosis pengobatan yang banyak, seperti leukimia. Pada pasien dengan pengobatan radioterapi, perubahan yang paling sering didapatkan adalah mucositis akut dan dermatitis. Selain itu juga dapat ditemukan : Xerostomia Penurunan ketajaman rasa (hypogeusia) Osteoradionecrosis Trismus Dermatitis kronik Gangguan pertumbuhan

a. Pendarahan Biasanya didapatkan karena adanya trombositopenia, karena supresi sumsum ulang. Gangguan pada usus ataupun hati akan dapat menyebabkan gangguan pada absorpsi vitamin K sehingga faktor-faktor pembekuan darah yang brgantung pada vitamin K akan mengalami penurunan. Sebaliknya, kerusakan jaringan akibat dari terapi juga bisa menimbulkan disseminated intravascular coagulation. Bisa juga ditemukan ptechiae dan ekimosis akibat adanya trauma minor. Semua bagian mukosa dapat terkena, namun yang paling sering adalah mukosa labial, lidah, dan gingiva.

b. Mucositis Manifestasi mucositis ini biasanya timbul setelah beberapa hari dilakukan kemoterapi, ataupun 2 minggu setelah dilakukan terapi radiasi, dan biasanya akan menghilang setelah minggu ke 2 sampai ke 3 setelah terapi dihentikan. Manifestasi awal dari mucositis ini adalah perubahan warna akibat deskuamasi akibat kekurangan keratin. Hal ini akan berlanjut menjadi penggantian daerah ini dengan mukosa yang mengalami atrofi, dimana mukosa ini bengkak, kemerahan, dan rapuh. Selanjutnya daerah ini akan membentuk ulkus dengan membran permukaan yang fibrinopurulen. Biasanya rasa sakit yang ditimbulkan adalah rasa sakit yang sangat dan dapat diperparah dengan makan dan menggosok gigi. Biasanya diobati dengan analgetik, anestetik, ataupun agen pelapis

c. Dermatitis Biasanya terdapat pada daerah terapi dan sejalan dengan jumlah terapi yang diberikan. Pasien biasanya mengalami kemerahan, rasa terbakar, serta gatal pada daerah terebut. Kondisi ini 13

akan menghilang setelah 2-3 minggu setelah terapi dihentikan. Setelah 3 bulan lesinya biasanya akan digantikan dengan hiperpigmentasi dan kehilangan rambut , bekas luka juga mungkin akan timbul. Dapat terjadi nekrosis dan ulkus yang dalam pada kasus yang parah. Dermatitis yang terjadi karena radiasi dapat menjadi kronis dan mempunyai ciri-ciri yaitu : daerah yang kering, berkilau, atrofi, nekrotik, atau daerah yang mempunyai ulkus

d. Xerostomia Kelenjar ludah biasanya sangat sensitif terhadap radiasi, sehingga xerostomia merupakan gejala yang sering ditemukan, terutama bila radiasi mengenai kelenjar parotid. Jika salah satu kelenjar ludah terkena, maka biasanya kelenjar ludah yang lain akan mengalami hiperplasia unruk mengkompensasi kerusakanyang terjadi di kelenjar yang terkena tersebut. Jika semua kelenjar terkena, maak kehilangan saliva akan menetap dan tidak dapat disembuhkan. Perubahan terjadi pertama kali dalam minggu pertama pengobatan , dengan penurunan saliva dramatis terjadi dalam 6 minggu pertama. Selain rasa tidak nyaman yang ditimbulkan karena mulut kering, xerostomia ini juga akan mengakibatkan penurunan efek bakterisidal, seingga akan meningkatkan resiko terjadinya karies. Biasanya diobati menggunakan pengganti air liur dan sialogogues. Permen yang tidak mengandung gula dan permen karet juga sering digunakan, namun yang paling memberikan efek adalah penggunaan agen kolinergik pilokarpin. Untuk mengurangi resiko karies maka penggunaan fluoride di topikal juga harus diperhatikan.

e. Penurunan ketajaman rasa Pada pasien yang menerima terapi dalam jumlah yang banyak, akan terjadi kehilangan indra pencecap terhadap keempat rasa setelah beberapa minggu. Biasanya keadaan ini akan menghilang setelah 4 bulan, meskipun ada juga yang menetap

f.

Osteoradionekrosis Osteoradionekrosis merupakan salah satu komplikasi yang parah yang dapat terjadi pada radiasi daerah kepala dan leher, meskipun sekarang komplikasi ini jarang terjadi karena tindakan preventif yang baik. Radiasi tulang akan menyebabkan kerusakan permanen kepada osteosit dan sistem mikrovaskuler. Tulang yang terkena akan menjadi hipoksik, hipovaskular, dan hiposelular. Mandibula merupakan daerah yang paling sering terkena. Daerah yang terkena akan menimbulkan tampilan yang radiolusens dengan batas yang tidak jelas. Pasien mungkin mengalami nyeri yang parah, pembentukan fistula, ulkus, dan patah tulang. 14

Resiko nekrosis meningat pada keadaan di bawah ini : 1. Di gigi 2. Trauma tulang 3. Penyakit periodontal 4. Kemoterapi berulang Ekstraksi postradiasi harus dihindari karena merupakan faktor resiko terjadinya osteoradionekrosis. Pencegahan dari osteoradionekrosis ini adalah perbaikan gigi sebelum dilakukan terapi radiasi, perbaikan higineitas oral harus diulakuakn dan dipertahankan. Setelah dilakukan prosedur dental, terapi radiasi sebaiknya ditunda 3 minggu setelahnya. Meskipun pencegahan telah dilakuakn, osteoradonekrosis tetap mungkin terjadi. Penggunaan oksigen bertekanan tinggi akan meningkatkan keadaan pasien. Terapi ini digunakan bersamaan dengan antibiotik dan debridement dari tulang yag mengalami nekrosis dan infeksi.

g. Trismus Terjadi karena adanya spasme otot dengan atau tanpa fibrosis dari otot mastikasi dan temporomandibular joint. Jika daerah ini teradiasi dengan kuat, maka latihan membuka rahang mungkin akan diperlukan.

h. Gangguan perkembangan Terapi antineoplastik ketika anak-anak akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan. Radiasi dapat mengubah tulang muka sehingga bisa menghasilkan micrognathia, retrognathia atau maloklusi. Gigi yang berkembang akan menjadi sangat sensitif dan bisa

menyebabkan beberapa perubahan seperti akar yang terlalu kecil, kalsifikasi yang tidak komplit, penutupan prematur pada kanalis pulpa pada gigi sulung, pembesaran kanal pada gigi permanen, microdontia, dan lain-lain.

15

Gambar 9 Komplikasi Oral dari Terapi Antineoplastik

ANESTHETIC NECROSIS Penggunaan lokal anestesi dapat menyebabkna ulkus dan nekrosis pada tempat injeksi, meskipun jarang. Nekrosis ini terjadi mungkin karena iskemia jaringan di sekitar tempat yang diinjeksi, meskipun penyebab yang pasti belum dapat diketahui. Tehnik yang salah, seperti penggunaan yang berlebihan ataupun injeksi subperiosteum sering mengakibatkan keadaan ini. Kandungan epinephrin yang terdapat pada banyak obat anestesi juga sering disebut sebagai salah satu penyebab keadaan ini.

Gambaran Klinis Biasanya nekrosis ini akan terjadi beberapa hari setelah prosedur dan biasanya tampak pada hard palate. Daerah ulkus yang berbatas jelas aka nampak pada daerah bekas injeksi. Ulkus yang terdapat biasanya dalam.

Gambar 10 Anesthetic Necrosis

EXFOLIATIVE CHEILITIS Penjilatan, penggigitan, sedotan, dan pencubitan terhadap bibir secara kronis akan dapat menyebabkan perubahan signifikan pada batas vermillion dar bibir ataupun pada kulit perioral, yang sebagian besar adalah exfoliative cheilitis. Sebagian besar pasien menyangkal perbuatan yang 16

menyebabkan iritasi pada bagian bibir tersebut. Sebagian besar pasien mengalami gangguan personalitas, gangguan psikologis, atau stres.

Gambaran Klinis Biasanya ditemukan pada wanita berumur kurang dari 30 tahun. Kasus yang ringan ditunjukkan dengan adanya kekeringan yang kronis, pembentukan fissure dan scar di batas vermillion dari bibir. Jika berkembang, maka vermillion akan tertutup dengan krusta hiperkeratotik yang menebal dan berwarna kuning. Kulit di sekeliling lesi akan membentuk daerah seperti lingkaran yang melingkari bagian bibir tersebut. Kasus ini juga dapat ditimbulkan dari reaksi alergi ataupun sensitif terhadap cahaya, meskipun keadaan ini jarang. Jika keadaan ini disebabkan oleh infeksi, maka keadaanya akan disebut dengan angular cheilitis.

Gambar 11 Exfoliative Cheilitis

PERUBAHAN WARNA MUKOSA MULUT YANG BERKAITAN DENGAN OBAT Banyak pengobatan sekarang yang dapat mengubah warna mukosa mulut. Biasanya disebabkan karena obat tersebut dapat merangsang produksi melanin oleh melanosit, maupun bisa juga disebabkan karena deposisi dari hasil metabolit obat. Biasanya perubahan warna ini terjadi pada panggunaan penolphtalein, minocycline, penenang, pengobatan antimalaria, estrogen, kemoterapi, dan beberapa pengobatan yang digunakan dalam pengobatan AIDS. Obat malaria yang biasanya berhubungan dengan perubahan warna ini adalah klorokuin, hidroklorokuin, quinidine, dan quinacrine. Selain malaria, obat ini juga digunakan untuk mengobati penyakit seperti SLE dan rheumatoid arthritis. Obat penenang yang biasanya digunakan adalah klorpramazine. Pengobatan oral yang berkaitan dengan kemoterapi adalah doxorubicin, busulfan, siklofosfamid, atau 5-fluorouracil. Pengobatan AIDS yang berkaitan adalah zidovudine, clofazimide, ataupun ketokonazole

Gambaran Klinis 17

Bervariasi tergantung obat yang digunakan. Kebanyakan menghasilkan melanosis difusa pada permukaan kulit dan mukosa. Biasanya perempuan lebih rentan menderita perubahan ini, karena berkaitan dengan terapi hormone. 1. Penophtaleine Terdapat lesi hiperpigmentasi yang banyak, kecil, dan berbatas tegas di kulit maupun mukosa oral 2. Minocycline Terdapat diskolorasi dari tulang dan gigi yang berkembang. Tulang yang terpengaruh berwarna seperti hijau kehitaman dan menyebabkan diskolorasi berwarna biru-abu dari mukoa mulut. 3. Obat antimalaria dan obat penenang Biasanya terdapat lesi biru kehitaman di hard palate, ataupun lesi berwarna kecoklatan yang lebih menyebar 4. Estrogen, agen kemoterapi, terapi AIDS Biasanya terdapat melaonis kecoklatan yang menyebar pada permukaan kulit dan mukosa, semua permukaan mukosa bisa terkena, namun gingival dan buccal mucosa merupakan daerah yang paling sering terkena.

TRAUMA OSSEUS DAN CHONDROMATOUS METAPLASIA (CUTRIGHT LESION) Pada pemakai gigi palsu, dapat terjadi kelunakan pada daerah alveolar yang menonjol, disebabkan oleh iritasi mekanis gigi palsu sehingga menimbulkan hiperplasia fibrosa di area yang mengalami resorpsi alveolar yang luas. Gambaran radiologi menunjukkan atrofi alveolar dengan hiperplasia fibrosa sekunder pada daerah tonjolan alveolar yang terutama terjadi di anterior maksila yang disebabkan tekanan gigi palsu maksila.

Gambaran Klinis Gambaran klinis penyakit ini bervariasi mulai dari area ulkus yang menonjol, berwarna merah, bernanah hingga polip yang kuat dan dapat digerakkan.

Gambaran Histopatologi Jaringan ikat fibrosa yang diambil dari tonjolan lunak tersebut lunak bervariasi kepadatannya dan mengelilingi area metaplastik tulang atau tulang rawan secara penuh. Chondroid metaplasia memiliki ciri adanya hialin kartilago/fibrokartilago dan secara sitologi tampak jinak.

18

Kartilago terkadang tampak atipikal dengan pleomorphism dan nukleus yang multipel dalam sato kondrosit. Pada osseus metaplasia , tulang tampak bergelombang dengan ostoid yang melingkari, tetapi jarang terdapat osteoblas.

Gambar 12 Lesi Cutright

ANTRAL PSEUDOCYSTS Antral pseudocysts merupakan kelainan yang sering ditemukan pada pemeriksaan radiograf panoramic. Mereka tampak sebagai lesi yang berbentuk kubah, sedikit radioopaque dan timbul dari sinus maxilla. Antral pseudocysts ini dapat dibedakan menjadi: 1. Antral pseudocyst Lesi berbentuk kubah yang terdapat di bawah sinus. Biasanya lesi ini terdiri dari eksudat sel radang (serum, bukan mukus) yang telah berakumulasi dalam mukosa sinus maksilla dan dapat menyebabkan elevasi yang terikat pada bagian bawahnya. Eksudat ini akan dikelilingi leh jaringan ikat, dan bagian epitel dari sinus terletak di bagian atas dari kista. Antral pseudocyst ini muncul pada sekitar 10-15 % populasi. Penyebabnya tidak diketahui, namun pada pemeriksaan radiologis, kebanyakan pasien mengalami infeksi odontogenik. Iritasi dari sinus juga bisa menyebabkam infiltrate radang di subperiosteum 2. Sinus mucocele Sinus mucocele merupakan akumulasi dari musin yang sepenuhnya dikelilingi oleh epitel. Hal ini dapat terjadi dalam 2 kondisi : a. Surgical ciliated cyst/ postoperative maxillary cyst Terjadi setelah trauma atau operasi. Biasanya epitel sinus terlepas dari bagian utama dari sinus dan membentuk lubang yang dilapisis dengan epitel, dimana di tempat ini musin disekresikan. b. Obstruksi dari sinus ostium

19

Obstruksi ini akan menyebabkan pengliran normal menjadi terhambat . Sinus yang alirannya terhambat ini akan menjadi tempat dimana musin berkumpul Sinus mucocele ini dapat berkembang sehingga bisa melebarkan dinding sius dan keluar melalui tulang, sering menyerupai kanker . 3. Kista retensi (retention cyst) Retensi kista dari sinus maxillary ini berasal dari hambatan dari kelenjar seromukous atau berasal dari invaginasi dari epitel respiratorik. Musin ini dikelilingi oleh epitel. Kista ini berukuran kecil dan tidak tampak secara klinis

Gambaran Klinis dan Radiologis Biasanya antral pseudocysts ini asimtomatik. Pseudokista yang asli akan membesar dan membuat tulang menjdi terdesak, maka gejala sakit akan muncul dan bervariasi tergantung dari ukuran dan letak dari pseudocyst ini. Secara radiologi, pseudocyst tampak berbentuk seperti kubah (kecuali pada surgical ciliated cyst) dan sedikit opak pda lantai yang masih intak dari sinus maksilaris. Jika lesi membesar, maka dindingnya akan menipis dan pada akhirnya akan mengalami erosi

20

BAB III TERAPI DAN PROGNOSIS


LINEA ALBA Biopsi jarang dilakukan pada linea alba, namun apabila dilakukan maka akan terlihat hiperkeratosis terkadang disertai edema intraselluler epitelium dan inflamasi kronik ringan pada jaringanpengikat dibawahnya. Tidak ada pengobatan bagi penderita linea alba, karena biasanya akan sembuh dengan sendirinya.

MORCASIO BUCCARUM (CHRONIC CHEEK CHEWING Tidak ada pengobatan khusus pada penderita, dan tidak ada komplikasi. Bagi pasien yang menginginkan pengobatan, dapat diberikan oral acrylic shield yang akan menutupi permukaan gigi sehingga mencegah kontak antara gigi dan mukosa bukal. Sebagian peneliti juga menyarankan untuk melakukan psikoterapi.

ULKUS TRAUMA (TRAUMATIK GRANULOMA) Pasien ulkus trauma dengan sumber trauma yang dapat ditemukan maka harus sumber tersebut harus dihilangkan. Kemudian, dapat diberikan dyclorine HCl atau hydroxypropyl cellulose film untuk mengurangi rasa sakit. Jika sumber trauma tidak ditemukan atau pasien tidak memberikan respon terhadap terapi maka diindikasikan biopsi. Penggunaan kortikosteroid pada ulkus trauma masih kontrovesi, sebagian klinisi beranggapan bahwa kortikosteroid bisa menghambat penyembuhan, namun sebagian yang lain beranggapan penggunaan kortikosteroid dapat mengobati ulkus traumatic yang kronis.

LUKA BAKAR LISTRIK DAN PANAS Pasien dengan luka bakar pada rongga mulut diberikan imunisasi tetanus. Sebagian besar dokter memberikan antibiotik propilaksis, biasanya penisillin, pada kasus yang berat untuk mencegah infeksi sekunder. Masalah utama pada luka bakar mulut adalah kintraktur mulut selama masa penyembuhan. Tanpa intervensi akann terjadi mikrostomia dan membatasi pembukaan mulut sehingga sulit untuk makan dan membersihkan mulut. Pada pasien yang tidak diobati akan terjadi luka parut yang luas dan cacat pada mulut. Untuk mencegah cacat dapat menggunakan bebat (splinT0 intraoral yang menutup sempurna sehingga dapat memfiksasi maksilla. Sedangkan luka bakar panas jarang menimbulkan akibat klinis yang parah dan sembuh tanpa pengobatan. 21

LUKA KIMIA PADA MUKOSA ORAL Terapi terbaik bagi luka kimia adalah pencegahan terpaparnya mukosa oral oleh agen penyebab. Area superfisial yang nekrosis akan sembuh sempurna tanpa parut dalam 10-14 hari setetlah penghentian agen penyebab. Sebagian dokter menggunakan pasta pelindung atau hydroxypropyl cellulose film untuk pelindung sementara. Dyclonin HCl topikal dapat digunakan untuk menghilangkan rasa sakit walaupun hanya sementara. Apabila terdapat jaringan nekrosis yang luas maka diperlukan tindakan pembedahan dan antibiotic.

PERDARAHAN SUBMUKOSA Tidak ada terapi yang dibutuhkan jika perdarah tidak berkaitan dengan penyakit sistemik dan area perdarahan dapat hilang secara spontan. Hematoma yang besar memerlukan beberapa minggu untuk pulih. Bila perdarahan merupakan akibat sekunder dari penyakit tertentu, maka terapi difokuskan pada penyakit tersebut.

TRAUMA ORAL DARI AKTIVITAS SEKSUAL Lesi ini tidak membutuhkan terapi dan prognosisnya baik. Untuk pasien yang meminta saran, ptekiae palatum dapat dicegah dengan tidak mengurangi tekanan negative dan hindari mendorong terlalu kuat. Kemungkinan ulkus frenulum dapat dikurangi dengan melicinkan permukaan kasar insisal dari gigi seri mandibula.

AMALGAM TATTOO DAN PIGMENTASI EKSOGEN LOKAL LAINNYA Diagnosis dapat ditegakkan dengan radiografi dari area mukosa yang terdiskolorisasi terutama untuk melihat fragmen metalnya. Tidak ada terapi khusus jika fragmen terlihat di gambaran radiografi. Bila tidak ada fragmen metal dan lesi yang ditemukan, maka membutuhkan biosi untuk menyingkirkan kemungkinan melanocytic neoplasia. Pencegahan almagam tattoo dapat dilakukan dengan cara menggunakan bendungan karet di dalam mulut selama prosedur gigi. Bendungan tersebut berupa latex yang datar yang mengisolasi gigi yang spesifik. Namun, penggunaan bendungan ini tidak menjamin amalgam tattoo tidak akan terjadi.

INTOKSIKASI METAL SISTEMIK Chelating agents (Dimecaprol /BAL, dimercaptosuccinic acid, calcium EDTA, D- penicillamine, dan edathamil calcium sodium). 22

Batasi paparan terhadap agen yang bersangkutan.

SMOKERS MELANOSIS Terapi untuk smokers melanosis yaitu dengan menghentikan kebiasaan merokok. Pigmentasi akan hilang dalam 3 tahun setelah berhenti merokok.

EMFISEMA SERVIKOFASIAL Semua servikal emfisema yang berhungan dengan gigi harus diberikan antibiotik spektrum luas. Udara yang terperangkap di dalam jaringan akan berkurang setetlah 2-5 hari. Sebagian besar kasus akan sembuh sendiri tanpa kesulitan yang signifikan.

MYOSPHERULOSIS Myosperulosis diterapi dengan pembedahan untuk menghilangkan material asing dan jaringan yang rusak.

ANESTHETIC NECROSIS Biasanya pengobatan tidak diperlukan kecuali jika ulserasinya gagal tumbuh. Rekurensi biasanya jarang, namun dapat ditemukan, sehingga pada pasien yang pernah mengalami kejadian ini maka sebaiknya digunakan anestesi yang tidak menggunakan epinephrine.

EXFOLIATIVE CHEILITIS Pada sebagian besar kasus exfoliative cheilitis, biasanya tidak terdapat penyebab fisik, infeksi, atau alergi yang jelas. Biasanya dibutuhkan terapi psikoterapi dan penenang, ataupun pencegahan stres utnuk medapatkan resolusi dari penyakit ini. Pada pasien yang mendapat infeksi candida, maka lesinya tidak akan sembuh keculai jika trauma kronis sudah dapat dihilangkan.

PERUBAHAN WARNA MUKOSA MULUT YANG BERKAITAN DENGAN OBAT Biasanya menghilang jika penggunaan obat-obatan tersebut tidak dilanjutkan. Melanosis ini tidak akan menimbulkan masalah jangka panjang.

23

TRAUMA OSSEUS DAN CHONDROMATOUS METAPLASIA (CUTRIGHT LESION) Tonjolan lunak dapat dibentuk kembalidan gigi palsu dikonstruksi ulang. Tonjolan yang tipis dapat dibentuk kembali atau dibari graft untuk meningkatkan bentuk dan mengurang gejala yang berkaitan dengan hiperplasia periosteal lokal.

ANTRAL PSEUDOCYSTS Pseudocyst dari sinus maksilaris tidak berbahaya, dan biasanya tidak membutuhkan terapi. Gigi yang berdekatan harus dievaluasi secara menyeluruh dan setiap fokus infeksi haruis dihilangkan. Biasanya lesi ini dapat didiagnosis dengan menggunakan drainage dari lei ini untuk menyingkirkan kemungkina tumor. Kista yang sebenarnya harus dikeluarkan karena dapat berkembang dan merupakan lesi yang destruktif.

24

BAB IV PENUTUP

Sebagian besar trauma fisik dan kimia pada rongga mulut dapat dicegah atau dihindarkan morbidaitas yang lebih parah jika penangannannya tepat dan cepat. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui tentang trauma fisik dan kimia yang terdapat pada rongga mulut, pencegahannya serta penanganannya. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, trauma fisik dan kimia pada rongga mulut dapat disebabkan oleh penyakit atau akibat yang beraneka ragam. Oleh karena itu kita juga harus mengetahui bagaimana penampilan fisik dari setiap trauma fisik dan kimia, sehingga kita dapat mengenali trauma tersebut untuk selanjutnya dapat memberikan penangana yang tepat. Mengingat trauma ini banyak disebabkan karena keteledoran maupun ketidaktahuan dari pasien maka sebaiknya kita sebagai petugas kesehatan dapat memberikan saran maupun pencegahan yang tepat kepada pasien. Dengan pencegahan dan saran yang baik, maka trauma akibat fisik dan kimia ini dapat diminimalisir, baik dari jumlah maupun dari tingkat keparahannya.

25

DAFTAR PUSTAKA

1. Neville, Brad W, et.al. Oral and Maxillofacial Pathology. USA : WB Saunders Company. 1995. Pages : 211- 234 2. Sapp JP, Eversole LR, Wysocki GP. Contemporary oral and maxillofacial pathology. Mosby; St. Louis, 1997. 3. Odell EW, Morgan PR. Biopsy pathology of the oral tissues. London; Chapman & hall Medical, 1998. 4. [Cited from] : http://screening.iarc.fr/picoral/D6000011.jpg . on June 2 2010. 5. [Cited from] : http://images.pennnet.com/articles/rdh/thm/th_284275.gif .on June 2 2010. 6. [cited from]:http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:VZIfFqIajQVkmM::screening.iarc. fr/picoral/F1100001a.jpg. on June 2 2010. 7. [Cited from] : http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:a42UKT52C0DLkM::bms.brown.edu/ pedisurg/images/ImageBank/Trauma/oralburn.jpg. on June 2 2010. 8. [Cited from] http://www.gatordental.com/images/clinical_photos/aspirincheek.jpg. on June 2 2010. 9. [Cited from] : http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:L_1fC8ZvVRrigM::www.ncbi.nlm. nih.gov/bookshelf/picrender.fcgi%3Fbook%3Dcmed%26part%3DA40626%26blobname%3Dch1 53f1.jpg. on June 2 2010 10. [Cited from] : http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:D0JDcTzFHu9vGM::www.oralcancer foundation.org/dental/images/mucositis.jpg. on June 2 2010 11. [Cited from] : http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:lyAQOQNouRY8ZM::anestheticnews.com/wpcontent/uploads/2008/09/necrosis.jpg&t=1&h=183&w=275&usg=__4lpcKGP4H6TLK0BjT0Ajx 13FIWQ= on June 2 2010

26

12. [Cited from] : http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:Qp4qqsuiHja8oM::curezone.com/upload/_O_P_Forums/Peeli ng_Lips/Male_29_years/Exfoliative_cheilitis_after_12_years_5_.jpg. on June 2 2010. 13. [Cited from] : http://www.simplyteeth.com/images/4_0018_s.jpg on June 2 2010. 14. [Cited from] : http://img.medscape.com/pi/emed/ckb/dermatology/1048885-1077501-1653tn.jpg on June 2 2010. 15. [Cited from] : http://www.dentistrytoday.net/Media/EditLiveJava/Slide4.jpg .on June 2 2010. 16. Cited from] : http://img.medscape.com/fullsize/migrated/575/586/eop575586.fig8.gif. on June 2 2010.

27