Anda di halaman 1dari 3

PERKEMBANGAN PENERAPAN KOMBINASI TRADISI HUKUM EROPA KONTINENTAL DAN ANGLO SAXON DI INDONESIA DAN JEPANG

1. JEPANG Tradisi hukum eropa kontinental menyebar ke luar dari Eropa terutama melaui penjajahan. Akan tetapi, terdapat pula Negara Negara yang menjalankan tradisi eropa kontinental meskipun tidak pernah dijajah dan Jepang merupakan salah satunya. Jepang banyak dipengaruhi oleh sistem hukum Jerman.1 Sistem hukum Jerman sendiri kemudian dikenal sebagai tradisi hukum Eropa Kontinental, dengan demikian dapat dikatakan bahwa Jepang menerapkan tradisi hukum Eropa Kontinental karena hukum yang berlaku di Jepang terpengaruh dari hukum Jerman. Penerapan tradisi hukum Eropa Kontinental di Jepang dapat dilihat dari adanya kodifikasi terhadap hukum pidananya, yaitu KUHP Jepang atau The Penal Code of Japan yang berakar dari Code Penal Perancis dimana telah diketahui bahwa tradisi hukum Eropa Kontinental lebih menekankan kepada sumber hukum tertulis dan terdapat kecenderungan dilakukan kodifikasi terhadap hukumnya. Selain itu, pentingnya sumber hukum tertulis dalam ketatanegaraan Jepang dapat dilihat dari Pasal 2 Konstitusi Jepang yang menyatakan bahwa T akhta Kekaisaran haruslah merupakan kedinastian dan diwariskan sesuai dengan Undang Undang Istana Kaisar yang dikeluarkan oleh Diet.2 Berdasarkan pasal tersebut, dapat dilihat bahwa ternyata sumber hukum tertulis, atau dalam hal ini Undang Undang di Jepang memiliki peranan yang penting. Dalam perkembangannya, sejarah hukum Jepang lebih beragam mengingat beberapa hukum Negara lain pernah dipakai dalam rangka pembentukan hukum di Jepang. Pembabakan hukum asing yang digunakan di Jepang dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu tahap I pada abad ke-7 dan 8, Jepang mengadopsi sistem politik dan hukum Cina. Tahap II pada pertengahan abad ke 19 dan awal abad ke-20, pada masa ini
1 2

Bagir Manan, Dasar Dasar Perundang Undangan Indonesia, Jakarta : IND-HILL.CO, 1992, hal. 7 Prajudi Atmosudirdjo, et.al., Konstitusi Jepang, Jakarta : Ghalia Indonesia, 1986, hal. 15

hukum Eropa (Perancis kemudian Jerman) diadopsi di Jepang. Tahap III pasca perang dunia ke-II, di masa ini Jepang kalah perang dari Amerika Serikat dan karenanya dalam periode ini beberapa undang undang diamandemen dengan didasarkan pada hukum Amerika. Selain konstitusi, jenis hukum lainnya yang dipengaruhi hukum Amerika adalah Hukum Acara Pidana Jepang yang mengadopsi Hukum Acara Pidana Amerika. Ini menjadi keunikan tersendiri, sementara Kitab Hukum Pidana Jepang mengadopsi Perancis/Jerman yang memiliki tradisi civil law/Eropa Kontinental, Hukum Acara Pidana Jepang mengadopsi Amerika (Common law/Anglo-Saxon) yang memiliki tradisi hukum yang berbeda dengan civil law.3 Pada saat pembabakan hukum asing di Jepang, di tahap II, yaitu saat Jepang membuka pintu bagi masuknya bangsa Barat ke negerinya, terdapat anggapan dari bangsa Barat yang menyatakan bahwa hukum Jepang itu kuno, dengan adanya anggapan tersebut Jepang cepat cepat memodernisasi hukumnya dengan mengikuti model Eropa dengan menjiplak hukum Perancis dan Jerman sehingga terbentuk Konstitusi Meiji.4 Akan tetapi hadirnya hukum modern Jepang terseut ternyata tidak menyentuh perilaku orang Jepang itu sendiri. Bagi bangsa Jepang, hukum tersebut lebih merupakan bunyi bunyian asing yang khas Eropa yang pada akhirnya mengakibatkan masyarakat Jepang tetap berpegangan pada tradisi dan kaidah asli yang telah mengatur kehidupan Jepang selama ratusan tahun. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hukum modern yang diadopsi oleh Jepang tidak serta merta membuat Jepang lupa pada hukum yang hidup dalam masyarakat atau tradisinya sendiri. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa Jepang pada awalnya menganut tradisi hukum Eropa Kontinental yang menekankan sumber hukumnya pada sumber hukum tertulis. Namun, seiring dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat, keberadaan

Ferry Fathurokhman, Antara hukum Indonesia dan Jepang, http://berita-iptek.com/antara-hukumindonesia-dan-jepang/) 4 Satjipto Rahardjo, Penegakan Hukum Progresif, Jakarta : Kompas, 2010, hal. 121

hukum tidak tertulis yang merupakan ciri tradisi hukum Anglo Saxon pun diakui di Jepang untuk mengakomodasi perkembangan dan kebutuhan masyarakat itu sendiri.

Anda mungkin juga menyukai