Anda di halaman 1dari 30

Mayat dengan leher terjerat dan luka pada bagian ketiak dan tungkai

Jasreena Kaur Sandal 102010362


Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Arjuna Utara No.6 Jakarta 11510 blacksheep_rockz@hotmail.com

Skenario 1: Seorang laki-laki ditemukan di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam keadaan mati tertelungkup. Dia mengenakan kaus dalam oblong dan celana panjang yang di bagian bawahnya di gulung hingga setengah tungkai bawahnya. Lehernya terikat lengan baju (yang kemudian diketahui sebagai baju miliknya sendiri) dan ujung lengan baju lainnya terikat kesebuah dahan pohon perdu setinggi 60 cm. posisi tubuh relative mendatar, namun leher memang terjerat oleh baju tersebut. Tubuh mayat tersebut telah membususk, namun masih dijumpai adanya satu luka terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki cirri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam. Perlu di ketahui rumah terdekat dari TKP adalah kira-kira 2 km. TKP adalah suatu daerah perbukitan yang berhutang cukup lebat.

Pendahuluan
Kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan adalah permasalahan yang harus dapat dijawab, dibuat terang dan jelas oleh dokter dan khususnya oleh penyidik. Kejelasan tersebut memang diperlukan dan harus diusahakan oleh karena, baik kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan membawa implikasi yang berbeda-beda, baik ditinjau dari sudut penyidikan maupun dari sudut proses peradilan pada umumnya.1

Pembahasan
Identifikasi Forensik Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang. Identifikasi personal sering merupakan suatu masalah dalam kasus pidana maupun perdata.Menentukan identitas personal dengan tepat amat penting dalam penyidikan karena adanya kekeliruan dapat berakibat fatal dalam proses peradilan.1,2 Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah tidak dikenal, jenazah yang rusak , membusuk, hangus terbakar dan kecelakaan masal, bencana alam, huru hara yang mengakibatkan banyak korban meninggal, serta potongan tubuh manusia atau kerangka.Selain itu identifikasi forensik juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak, bayi tertukar, atau diragukan orangtuanya.2,5 Identitas seseorang dipastikan bila paling sedikit 2 metode yang digunakan memberikan hasil positip (tidak meragukan).2 Penentuan identitas personal dapat menggunakan metode identifikasi sidik jari, visual, dokumen, pakaian dan perhiasan, medik, gigi, serologic, dan secara eksklusi. Akhir-akhir ini dikembangkan pula metode identifikasi DNA.1

Pemeriksaan Sidik Jari Metode ini membandingkan sidik jari jenazah dengan data sidik jari antemortem.Sampai saat ini, pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang diakui paling tinggi ketepatan nya untuk menentukan identitas seseorang. Dengan demikian harus dilakukan penanganan yang sebaik-baiknya terhadap jari tangan jenazah untuk pemeriksaan sidik jari, misalnya dengan melakukan pembungkusan kedua tangan jenazah dengan kantong plastik.1,5

Metode Visual Metode ini dilakukan dengan memperlihatkan jenazah pada orang-orang yang merasa kehilangan anggota keluarga atau temannya.Cara ini hanya efektif pada jenazah yang belum membusuk, sehingga masih mungkin dikenali wajah dan bentuk tubuhnya oleh lebih dari satu orang.Hal ini perlu diperhatikan mengingat adanya kemungkinan faktor emosi yang turut berperan untuk membenarkan atau sebaliknya menyangkal identitas jenazah tersebut.1

Pemeriksaan Dokumen Dokumen seperti kartu identitas (KTP, SIM, Paspor) dan sejenisnya yang kebetulan ditemukan dalam dalam saku pakaian yang dikenakan akan sangat membantu mengenali jenazah tersebut. Perlu diingat pada kecelakaan masal, dokumen yang terdapat dalam tas atau dompet yang berada dekat jenazah belum tentu adalah milik jenazah yang bersangkutan.1,5

Pemeriksaan pakaian dan perhiasan Dari pakaian dan perhiasan yang dikenakan jenazah, mungkin dapat diketahui merek atau nama pembuat, ukuran, inisial nama pemilik, badge yang semuanya dapat membantu proses identifikasi walaupun telah terjadi pembusukan pada jenazah tersebut.Khusus anggota ABRI, identifikasi dipemudah oleh adanya nama serta NRP yang tertera pada kalung logam yang dipakainya.1

Identifikasi Medik Metode ini menggunakan data umum dan data khusus. Data umum meliputi tinggi badan, berat badan, rambut, mata, hidung, gigi dan sejenisnya.Data khusus meliputi tatto, tahi lalat, jaringan parut, cacat kongenital, patah tulang dan sejenisnya.1 Metode ini mempunyai nilai tinggi karena selain dilakukan oleh seorang ahli dengan menggunakan berbagai cara/modifikasi (termasuk pemeriksaan dengan sinar-X) sehingga ketepatan nya cukup tingi.Bahkan pada tengkorak/kerangka pun masih dapat dilakukan metode identifikasi ini.1,5 Melalui identifikasi medik diperoleh data tentang jenis kelamin, ras, prkiraan umur dan tingi badan, kelainan pada tulang dan sebagainya.1

Pemeriksaan Gigi Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi (Odontogram) dan rahang yang dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan manual, sinar-X dan pencetakan gigi dan rahang.Odontogram memuat data tentang jumlah,bentuk, susunan, tambalan, protesa gigi dan sebagainya.1 Seperti hal nya dengan sidik jari, maka setiap individu memiliki susunan gigi yang khas.Dengan demikian dapat dilakukan indentifikasi dengan cara membandingkan data temuan dengan data pembanding antemortem.1,5

Pemeriksaan Serologik Pemeriksaan serologik betujuan untuk menentukan golongan darah jenazah.Penentuan golongan darah pada jenazah yang telah membusuk dapat dilakukan dengan memeriksa rambut, kuku dan tulang. Saat ini telah dapat dilakukan pemeriksaan sidik DNA yang akurasi nya sangat tinggi.1.5

Tanatologi Tanatologi berasal dari kata thanatos (yang berhubungan dengan kematian) dan logos (ilmu). Tanatologi adalah bagian dari Ilmu Kedokteran Forensik yang mempelajari kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.2 Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang mati, antara lain : 1. Mati somatis disebut juga mati klinis yang terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga sistem penunjang kehidupan, yaitu susunan saraf pusat, sistem kardiovaskular dan sistem pernapasan, yang menetap (irreversible). Secara klinis tidak ditemukan refleks-refleks, EEG mendatar, nadi tidak teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerak pernapasan dan suara nafas tidak terdengar pada auskultasi. 2. Mati suri (suspended animation, apparent death) adalah terhentinya ketiga sistem kehidupan di atas yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. Dengan peralatan kedokteran canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi. Mati suri sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam. 3. Mati seluler (mati molekuler) adalah kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah kematian somatis. Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau jaringan tidak bersamaan. Pengetahuan ini penting dalam transplantasi organ. 4. Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang irreversible kecuali batang otak dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernapasan dan kardiovaskular masih berfungsi dengan bantuan alat. 5. Mati otak (mati batang otak) adalah bila telah terjadi kerusakan seluruh isi neronal intrakranial yang irreversible, termasuk batang otak dan serebelum. Dengan diketahuinya mati otak (mati batang otak) maka dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi, sehingga alat bantu dapat dihentikan.2 Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang berupa tanda kematian, yaitu perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan tersebut dapat timbul dini pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian, misalnya kerja jantung dan peredaran darah berhenti, pernapasan berhenti, refleks cahaya dan refleks kornea mata menghilang, kulit pucat dan relaksasi otot. Setelah beberapa waktu timbul perubahan pascamati yang jelas yang
5

memungkinkan diagnosis kematian lebih pasti. Tanda-tanda tersebut dikenal sebagai tanda pasti kematian berupa lebam mayat (hipostasis atau lividitas pascamati), kaku mayat (rigor mortis), penurunan suhu tubuh, pembusukan, mummifikasi dan adiposera.2 Tanda kematian tidak pasti, antara lain : 1. Pernapasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit (inspeksi, palpasi, auskultasi). 2. Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba. 3. Kulit pucat, tetapi bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya, karena mungkin terjadi spasme agonal sehingga wajah tampak kebiruan. 4. Tonus otot menghilang dan relaksasi. Relaksasi dari otot-otot wajah menyebabkan kulit menimbul sehingga kadang-kadang membuat orang menjadi tampak lebih muda. Kelemasan otot sesaat setelah kematian disebut relaksasi primer. Hal ini mengakibatkan pendataran daerah-daerah yang tertekan, misalnya daerah belikat dan bokong pada mayat yang terlentang. 5. Pembuluh darah retina mengalami segmentasi beberapa menit setelah kematian. Segmensegmen tersebut bergerak ke arah tepi retina dan kemudian menetap. 6. Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang masih dapat dihilangkan dengan meneteskan air.2 Tanda pasti kematian, antara lain : 1. Lebam mayat (livor mortis) Setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya tarik bumi (gravitasi), mengisi vena dan venula, membentuk bercak berwarna merah ungu (livide) pada bagian terbawah tubuh, kecuali pada bagian tubuh yang tertekan alas keras. Darah tetap cair karena adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal dari endotel pembuluh darah. Lebam mayat biasanya mulai tampak 20-30 menit pasca mati, makin lama intensitasnya bertambah dan menjadi lengkap dan menetap setelah 8-12 jam. Sebelum waktu ini, lebam mayat masih hilang (memucat) pada penekanan dan dapat berpindah jika posisi mayat diubah. Memucatnya lebam akan lebih cepat dan sempurna apabila penekanan atau perubahan posisi tubuh tersebut dilakukan dalam 6 jam pertama setelah mati klinis. Tetapi, walaupun setelah 24 jam, darah masih tetap cukup cair sehingga sejumlah darah masih dapat mengalir dan membentuk lebam mayat di tempat terendah yang baru. Kadang-kadang dijumpai bercak perdarahan berwarna
6

biru kehitaman akibat pecahnya pembuluh darah. Menetapnya lebam mayat disebabkan oleh bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi. Selain itu, kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah ikut mempersulit perpindahan tersebut.2 Lebam mayat dapat digunakan untuk tanda pasti kematian; memperkirakan sebab kematian, misalnya lebam berwarna merah terang pada keracunan CO atau CN, warna kecoklatan pada keracunan anilin, nitrit, nitrat, sulfonal; mengetahui perubahan posisi mayat yang dilakukan setelah terjadinya lebam mayat yang menetap; dan memperkirakan saat kematian. Apabila pada mayat terlentang yang telah timbul lebam mayat belum menetap dilakukan perubahan posisi menjadi telungkup, maka setelah beberapa saat akan terbentuk lebam mayat baru di daerah dada dan perut. Lebam mayat yang belum menetap atau masih hilang pada penekanan menunjukkan saat kematian kurang dari 8-12 jam sebelum saat pemeriksaan.2 Mengingat pada lebam mayat darah terdapat di dalam pembuluh darah, maka keadaan ini digunakan untuk membedakannya dengan resapan darah akibat trauma (ekstravasasi). Bila pada daerah tersebut dilakukan irisan dan kemudian disiram dengan air, maka warna merah darah akan hilang atau pudar pada lebam mayat, sedangkan pada resapan darah tidak menghilang.2

2. Kaku mayat (rigor mortis) Kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan karena metabolisme tingkat seluler masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi. Energi ini digunakan untuk mengubah ADP menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP maka serabut aktin dan miosin tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot habis, maka energi tidak terbentuk lagi, aktin dan miosin menggumpal dan otot menjadi kaku.2 Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai tampak kirakira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) ke arah dalam (sentripetal). Teori lama menyebutkan bahwa kaku mayat ini menjalar kraniokaudal. Setelah mati klinis 12 jam kaku mayat menjadi lengkap, dipertahankan selama 12 jam dan kemudian menghilang dalam urutan yang sama. Kaku mayat umumnya tidak disertai pemendekan serabut otot, tetapi jika sebelum terjadi kaku mayat otot berada dalam posisi teregang, maka saat kaku mayat terbentuk akan terjadi pemendekan otot.2
7

Faktor-faktor yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah aktivitas fisik sebelum mati, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot-otot kecil dan suhu lingkungan tinggi. Kaku mayat dapat dipergunakan untuk menunjukkan tanda pasti kematian dan memperkirakan saat kematian.2 Terdapat kekakuan pada mayatyang menyerupai kaku mayat, antara lain : a) Cadaveric spasm (instantaneous rigor), adalah bentuk kekauan otot yang terjadi pada saat kematian dan menetap. Cadaveric spasm sesungguhnya merupakan kaku mayat yang timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer. Penyebabnya adalah akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal. Cadaveric spasm ini jarang dijumpai, tetapi sering terjadi dalam masa perang. Kepentingan medikolegalnya adalah menunjukkkan sikap terakhir masa hidupnya. Misalnya, tangan yang menggenggam erat benda yang diraihnya pada kasus tenggelam, tangan yang menggenggam senjata pada kasus bunuh diri. b) Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas. Otot-otot berwarna merah muda, kaku, tetapi rapuh (mudah robek). Keadaan ini dapat dijumpai pada korban mati terbakar. Pada heat stiffening serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, paha dan lutut, membentuk sikap petinju. Perubahan sikap ini tidak memberikan arti tertentu bagi sikap semasa hidup, intravitalitas, penyebab atau cara kematian. c) Cold stiffening, yaitu kekauan tubuh akibat lingkungan dingin, sehingga terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan lemak subkutan dan otot, sehingga bila sendi ditekuk akan terdengar bunyi pecahnya es dalam rongga sendi.2

3. Penurunan suhu tubuh (algor mortis) Penurunan suhu tubuh terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu benda ke benda yang lebih dingin, melalui cara radiasi, konduksi, evaporasi dan konveksi. Grafik penurunan suhu tubuh ini hamper berbentuk kurva sigmoid atau seperti huruf S. Kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh suhu keliling, aliran dan kelembaban udara, bentuk tubuh, posisi tubuh dan pakaian. Selain itu, suhu saat mati perlu diketahui untuk perhitungan perkiraan saat kematian. Penurunan suhu tubuh akan lebih cepat pada suhu
8

keliling yang rendah, lingkungan berangin dengan kelembaban rendah, tubuh yang kurus, posisi terlentang, tidak berpakaian atau berpakaian tipis, dan pada umumnya orang tua serta anak kecil.2 Penelitian akhir-akhir ini cenderung untuk memperkirakan saat mati melalui pengukuran suhu tubuh pada lingkungan yang menetap di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Caranya adalah dengan melakukan 4-5 kali penentuan suhu rectal dengan interval waktu yang sama (minimal 15 menit). Suhu lingkungan diukur dan dianggap konstan karena faktor-faktor lingkungan dibuat menetap, sedangkan suhu saat mati dianggap 37oC bila tidak ada penyakit demam. Penelitian membuktikan bahwa perubahan suhu lingkungan kurang dari 2oC tidak mengakibatkan perubahan yang bermakna. Dari angka-angka di atas, dengan menggunakan rumus atau grafik dapat ditentukan waktu antara saat mati dengan saat pemeriksaan. Saat ini telah tersedia program komputer guna penghitungan saat mati melalui cara ini.2

4. Pembusukan (decomposition, putrefaction) Pembusukan adalah proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolisis dan kerja bakteri. Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril. Autolisis timbul akibat kerja digestif oleh enzim yang dilepaskan sel pasca mati dan hanya dapat dicegah dengan pembekuan jaringan.2 Setelah seseorang meninggal, bakteri yang normal hidup dalam tubuh segera masuk ke jaringan. Darah merupakan media terbaik bagi bakteri tersebut untuk bertumbuh. Sebagian besar bakteri berasal dari usus dan yang terutama adalah Clostridium welchii. Pada proses pembusukan ini terbentuk gas-gas alkana, H2S dan HCN, serta asam amino dan asam lemak.2 Pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada perut kanan bawah, yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan bakteri serta terletak dekat dinding perut. Warna kehijauan ini disebabkan oleh terbentuknya sulf-methemoglobin. Secara bertahap warna kehijauan ini akan menyebar ke seluruh perut dan dada, dan bau busuk pun mulai tercium. Pembuluh darah bawah kulit akan tampak seperti melebar dan berwarna hijau kehitaman.2 Selanjutnya kulit ari akan terkelupas atau membentuk gelembung berisi cairan kemerahan berbau busuk. Pembentukan gas di dalam tubuh, dimulai di dalam lambung dan usus, akan
9

mengakibatkan tegangnya perut dan keluarnya cairan kemerahan dari mulut dan hidung. Gas yang terdapat di dalam jaringan dinding tubuh akan mengakibatkan terabanya derik (krepitasi). Gas ini menyebabkan pembengkakan tubuh yang menyeluruh, tetapi ketegangan terbesar terdapat di daerah dengan jaringan longgar, seperti skrotum dan payudara. Tubuh berada dalam sikap seperti petinju (pugilistic attitude), yaitu kedua lengan dan tungkai dalam sikap setengah fleksi akibat terkumpulnya gas pembusukan di dalam rongga sendi.2 Selanjutnya, rambut menjadi mudah dicabut dan kuku mudah terlepas, wajah mengembung dan warna ungu kehijauan, kelopak mata membengkak, pipi tembam, bibir tebal, lidah membengkak dan sering terjulur di antara gigi. Keadaan seperti ini sangat berbeda dengan wajah asli korban, sehingga tidak dapat lagi dikenali oleh keluarga.2 Hewan pengerat akan merusak tubuh mayat dalam beberapa jam pasca mati, terutama bila mayat dibiarkan tergeletak di daerah rumpun. Luka akibat gigitan binatang pengerat khas berupa lubang-lubang dangkal dengan tepi bergerigi.2 Larva lalat akan dijumpai setelah pembentukan gas pembusukan nyata, yaitu kira-kira 3648 jam pasca mati. Kumpulan telur lalat telah dapat ditemukan beberapa jam pasca mati, di alis mata, sudut mata, lubang hidung dan di antara bibir. Telur lalat tersebut kemudian akan menetas menjadi larva dalam waktu 24 jam. Dengan identifikasi spesies, lalat dan mengukur panjang larva, maka dapat diketahui usia larva tersebut, yang dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat mati, dengan asumsi bahwa lalat biasanya secepatnya meletakkan telur setelah seseorang meninggal (dan tidak lagi dapat mengusir lalat yang hinggap).2 Alat dalam tubuh akan mengalami pembusukan dengan kecepatan yang berbeda. Perubahan warna terjadi pada lambung terutama di daerah fundus, usus, menjadi ungu kecoklatan. Mukosa saluran napas menjadi kemerahan, endokardium dan intima pembuluh darah juga kemerahan, akibat hemolisis darah. Difusi empedu dari kandung empedu mengakibatkan warna coklat kehijauan di jaringan sekitarnya. Otak melunak, hati menjadi berongga seperti spons, limpa melunak dan mudah robek. Kemudian alat dalam akan mengerut. Prostat dan uterus non-gravid merupakan organ padat yang paling lama bertahan terhadap perubahan pembusukan. Pembusukan akan timbul lebih cepat bila suhu keliling optimal (26.5oC hingga sekitar suhu normal tubuh), kelembaban dan udara yang cukup, banyak bakteri pembusuk, tubuh gemuk atau menderita penyakit infeksi dan sepsis. Media tempat mayat terdapat juga
10

berperan. Mayat yang terdapat di udara akan lebih cepat membusuk dibandingkan dengan yang terdapat dalam air atau dalam tanah. Bayi baru lahir umumnya lebih lambat membusuk, karena hanya memiliki sedikit bakteri dalam tubuhnya dan hilangnya panas tubuh yang cepat dan bayi akan menghambat pertumbuhan bakteri.2

5. Adiposera atau lilin mayat. Adiposera adalah terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak atau berminyak, berbau tengik yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca mati. Dulu disebut sebagai saponifikasi, tetapi istilah adiposera lebih disukai karena penunjukan sifat-sifat di antara lemak dan lilin.2 Adiposera terutama terdiridari asam-asam lemak tak jenuh yang terbentuk oleh hidrolisis lemak dan mengalami hidrogenisasi sehingga terbentuk asam lemak jenuh pasca mati yang tercampur dengan sisa-sisa otot, jaringan ikat, jaringan saraf yang termumifikasi dan kristalkristal sferis dengan gambaran radial. Adiposera terapung di air, bila dipanaskan mencair dan terbakar dengan nyala kuning, larut dalam alkohol dan eter.2 Adiposera dapat terbentuk di sembarang lemak tubuh, bahkan di dalam hati, tetapi lemak superficial yang pertama kali terkena. Biasanya perubahan berbentuk bercak, dapat terlihat di pipi, payudara atau bokong, bagian tubuh atau ekstremitas. Jarang seluruh lemak tubuh berubah menjadi adiposera.2 Adiposera akan membuat gambaran permukaan luar tubuh dapat bertahan hingga bertahun-tahun, sehingga identifikasi mayat dan perkiraan sebab kematian masih dimungkinkan.2 Faktor-faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera adalah kelembaban dan lemak tubuh yang cukup, sedangkan yang meghambat adalah air yang mengalir yang membuang elektrolit.2 Udara yang dingin menghambat pembentukan, sedangkan suhu yang hangat akan mempercepat. Invasi bakteri endogen ke dalam jaringan pasca mati juga akan mempercepat pembentukannya.2 Pembusukan akan terhambat oleh adanya adiposera, karena derajat keasaman dan dehidrasi jaringan bertambah. Lemak segar hanya mengandung kira-kira 0.5% asam lemak bebas, tetapi dalam waktu 4 minggu pasca mati dapat naik menjadi 20% dan setelah 12
11

minggu menjadi 70% atau lebih. Pada saat ini, adiposera menjadi jelas secara makroskopik sebagai bahan berwana putih kelabu yang menggantikan atau menginfiltrasi bagian-bagian lunak tubuh. Pada stadium awal pembentukannya sebelum makroskopik jelas, adiposera paling baik dideteksi dengan analisis asam palmitat.2

6. Mummifikasi Mummifikasi adalah proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan. Jaringan berubah menjadi keras dan kering, berwarna gelap, berkeriput dan tidak membusuk karena kuman tidak dapat berkembang pada lingkungan yang kering. Mummifikasi terjadi bila suhu hangat, kelembaban rendah, aliran udara yang baik, tubuh yang dehidrasi dan waktu yang lama (12-14 minggu). Mummifikasi jarang dijumpai pada cuaca yang normal.2 Pemeriksaan medis yang dilakukan juga yaitu pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam.1 Penyebab kematian Dengan adanya perlukaan atau penyakit yang menimbulkan kekacauan fisik pada tubuh yang menghasilkan kematian pada seseorang. Berikut ini adalah penyebab kematian: luka tembak pada kepala, luka tusuk pada dada, adenokarsinoma pada paru-paru, dan aterosklerosis koronaria.2,3 Mekanisme kematian Merupakan kekacauan fisik yang dihasilkan oleh penyebab kematian yang menghasilkan kematian. Contoh dari mekanisme kematian dapat berupa perdarahan, septikemia, dan aritmia jantung. Ada yang dipikirkan adalah bahwa suatu keterangan tentang mekanime kematian dapat diperoleh dari beberapa penyebab kematian dan sebaliknya. Jadi, jika seseorang meninggal karena perdarahan masif, itu dapat dihasilkan dari luka tembak, luka tusuk, tumor ganas dari paru yang masuk ke pembuluh darah dan seterusnya. Kebalikannya adalah bahwa penyebab kematian, sebagai contoh, luka tembak pada abdomen, dapat menghasilkan banyak kemungkinan mekanisme kematian yang terjadi, contohnya perdarahan atau peritonitis.
12

Cara kematian Cara kematian secara umum dapat dikategorikan sebagai wajar, pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan, dan yang tidak dapat dijelaskan (pada mekanisme kematian yang dapat memiliki banyak penyebab dan penyebab yang memiliki banyak mekanisme, penyebab kematian dapat memiliki banyak cara). Seseorang dapat meninggal karena perdarahan masif (mekanisme kematian) dikarenakan luka tembak pada jantung (penyebab kematian), dengan cara kematian secara pembunuhan (seseorang menembaknya), bunuh diri (menembak dirinya sendiri), kecelakaan (senjata jatuh), atau tidak dapat dijelaskan (tidak dapat diketahui apa yang terjadi). Berdasarkan sifat serta penyebabnya, kekerasan dapat dibedakan atas kekerasan yang bersifat: 1. Mekanik Kekerasan oleh benda tajam Kekerasan oleh benda tumpul Tembakan senjata api2 2. Fisika Suhu Listrik dan petir Perubahan tekanan udara Akustik Radiasi 3. Kimia Asam atau basa kuat

Pada kematian akibat kekerasan, pemeriksaan terhadap luka harus dapat mengungkapkan berbagai hal tersebut di bawah ini 2. 1. Penyebab luka. Dengan memperhatikan morfologi luka, kekerasan penyebab luka dapat ditentukan. Pada kasus tertentu, gambaran luka seringkali dapat memberi petunjuk mengenai bentuk benda yang mengenai tubuh, misalnya luka yang disebabkan oleh benda tumpul berbentuk bulat panjang akan meninggalkannegative imprint oleh timbulnya marginal haemorrhage. Luka lecet jenis tekan memberikan gambaran bentuk benda penyebab luka.

13

2. Arah kekerasan. Pada luka lecet jenis geser dan luka robek, arah kekerasan dapat ditentukan. Hal ini sangat membantu pihak yang berwajib dalam melakukan rekonstruksi terjadinya perkara.

3. Cara terjadinya luka. Yang dimaksudkan dengan cara terjadinya luka adalah apakah luka yang ditemukan terjadi sebagai akibat kecelakaan, pembunuhan atau bunuh diri. Luka-luka akibat kecelakaan biasanya terdapat pada bagian tubuh yang terbuka. Bagian tubuh yang biasanya terlindung jarang mendapat luka pada suatu kecelakaan. Daerah terlindung ini misalnya adalah daerah sisi depan leher, daerah lipat siku, dan sebagainya. Luka akibat pembunuhan dapat ditemukan tersebar pada seluruh bagian tubuh. Pada korban pembunuhan yang sempat mengadakan perlawanan, dapat ditemukan luka tangkis yang biasanya terdapat pada daerah ekstensor lengan bawah atau telapak tangan. Pada korban bunuh diri, luka biasanya menunjukkan sifat luka percobaan (tentative wounds) yang mengelompok dan berjalan kurang lebih sejajar.

4. Hubungan antara luka yang ditemukan dengan sebab mati. Harus dapat dibuktikan bahwa terjadinya kematian semata-mata disebabkan oleh kekerasan yang menyebabkan luka. Untuk itu pertama-tama harus dapat dibuktikan bahwa luka yang ditemukan adalah benar-benar luka yang terjadi semasa korban masih hidup (luka intravital). Untuk ini, tanda intravitalitas luka berupa reaksi jaringan terhadap luka perlu mendapat perhatian. Tanda intravitalitas luka dapat bervariasi dari ditemukannya resapan darah, terdapatnya proses penyembuhan luka, sebukan sel radang, pemeriksaan histo-enzimatik, sampai pemeriksaan kadar histamin bebas dan serotonin jaringan2

14

Traumatologi Luka akibat kekerasan benda tajam. Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka seperti ini adalah benda benda yang memiliki sisi tajam, baik berupa garis mahupun runcing, yang bervariasi dari alat-alat seperti pisau, golok, dan sebagainya hingga keeping kaca, gelas, logam, sembilu, bahkan tepi kertas atau rumput. Gambaran umum luka yang diakibatkannya adalah tepi dan dinding luka yang rata berbentuk garis, tidak terdapat jembatan jaringan dan dasar luka berbentuk garis atau titik. Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa luka iris atau sayat, luka tusuk dan luka bacok. Luka iris atau luka bacok mempunyai kedua sudut luka lancip dan dalam luka tidak melebihi panjang luka. Sudut luka yang lancip dapat terjadi dua kali pada tempat yang berdekatan akibat pergeseran senjata sewaktu ditarik atau akibat bergeraknya korban. Pada luka tusuk, sudut luka dapat menunjukkan perkiraan benda penyebabnya, apakah pisau bermata satu atau bermata dua. Kulit disekitar luka akibat kekerasan benda tajam biasanya tidak menunjukkan adanya luka lecet atau memar, kecuali bila bagian gagang turut membentur kulit. Pada luka tusuk, panjang luka biasanya tidak mencerminkan lebar benda tajam penyebabnya, demikian pula panjang saluran luka biasanya tidak menunjukkan panjang benda tajam tersebut. Umumnya luka akibat kekerasan benda tajam pada kasus pembunuhan , bunuh diri, atau kecelakaan memiliki ciri-ciri berikut :1,4

15

Pembunuhan Lokasi luka Jumlah luka Pakaian Luka tangkis Luka percobaan Cedera sekunder Sembarang Banyak Terkena Ada Tidak ada Mungkin ada

Bunuh diri Terpilih Banyak Tidak terkena Tidak ada Ada Tidak ada

Kecelakaan Terpapar Tunggal/banyak Terkena Tidak ada Tidak ada Mungkin ada

Tabel 1.Perbedaan luka pada kasus pembunuhan ,bunuh diri dan kecelakaan. Ciri-ciri pembunuhan diatas dapat dijumpai pada kasus pembunuhan yang disertai perkelahian. Tetapi bila tanpa perkelahian maka lokasi luka biasanya pada daerah fatal dan dapat tunggal. Luka tangkis merupakan luka yang terjadi akibat perlawanan korban dan umumnya ditemukan di telapak dan punggung tangan, jari-jari tangan, punggung lengan bawah dan tungkai. Pemeriksaan pada kain yang terkena pisau bertujuan untuk melihat interaksi antara pisau-kaintubuh, yaitu melihat letak lokasi kelainan, bentuk robekan, adanya partikel besi, serat kain dan pemeriksan terhadap bercak darahnya. Bunuh diri yang menggunakan benda tajam biasanya diarahkan pada tempat-tempat yang mematikan seperti leher, dada kiri, pergelangan tangan, perut, dan lipat paha. Bunuh diri dengan senjata tajam tentunya akan menghasilkan luka pada tempat yang terjangkau oleh tangan korban serta biasanya tidak menembus pakaian karena umumnya korban menyingkap pakaian terlebih dahulu. Luka percobaan khas ditemukan pada kasus bunuh diri yang menggunakan senjata tajam, sehubungan dengan kondisi kejiwaan korban. Luka percobaan tersebut dapat berupa luka sayat atau luka tusuk yang dilakukan berulang dan biasanya sejajar. Pada kematian akibat kekerasan, pemeriksaan terhadap luka harus dapat mengungkapkan berbagai hal berikut di bawah ini : Penyebab luka
16

Arah kekerasan Cara terjadinya luka Hubungan antara luka yang ditemukan dengan sebab mati.

Berdasarkan kasus yang didapat, dijumpai luka terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus, dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki cirri-ciri sesuai dengan akibat kekerasan tajam. Ukuran luka pada ketiak kira-kira 6 cm dengan kedua sisi tajam dengan kelebaran kira-kira 2 cm dan juga memiliki kedalaman kira-kira 4 cm. Di daerah tungkai, terdapat 6 luka akibat kekerasan tajam di tungkai kanan dan 7 luka akibat kekerasan tajam di tungkai kiri. Masing-masing luka bersisi tajam dan panjang kali lebar kira-kira 2 cm dengan kedalaman rata-rata 2 cm. pada setiap luka, tidak ada kesan lecet ataupun mamar.1,4

Penjeratan

Penjeratan adalah penekanan benda asing berupa tali, ikat pinggang, rantai, stagen, kawat, kabel, kaos kaki dan sebagainya., melingkari atau mengikat leher yang makin lama makin kuat, sehingga saluran pernapasan tertutup.2 Berbeda dengan gantung diri yang biasanya merupakan bunuh diri, maka penjeratan biasanya adalah pembunuhan. Mekanisme kematian pada penjeratan adalah akibat asfiksia atau refleks vaso-vagal (perangsangan reseptor pada carotid body).2 Pada gantung diri, semua arteri di leher mungkin tertekan, sedangkan pada penjeratan, arteri vertebralis biasanya tetap paten. Hal inidisebabkan oleh karena kekuatan atau beban yang menekan pada penjeratan biasanya tidak besar.2 Bila jerat masih ditemukan melingkari leher, maka jerat tersebut harus disimpan dengan baik sebab merupakan benda bukti dan dapat diserahkan kepada penyidik bersama-sama dengan Visum et Repertum-nya.
17

Terdapat dua jenis simpul jerat, yaitu simpul hidup (lingkar jerat dapat diperbesar atau diperkecil) dan simpul mati (lingkar jerat tidak dapat diubah). Simpul harus diamankan dengan melakukan pengikatan dengan benang agar tidak berubah pada waktu mengangkat jerat.2,6 Untuk melepaskan jerat dari leher, jerat harus digunting serong (jangan melintang) pada tempat yang berlawanan dari letak simpul, sehingga dapat direkonstruksikan kembali di kemudian hari. Kedua ujung jerat harus diikat sehingga bentuknya tidak berubah. Jejas jerat pada leher biasanya mendatar, melingkari leher dan terdapat lebih rendah daripada jejas jerat pada kasus gantung. Jejas biasanya terletak setinggi atau di bawah rawan gondok.2 Keadaan jejas jerat pada leher sangat bervariasi. Bila jerat lunak dan lebar seperti handuk atau selendang sutera, maka jejas mungkin tidak ditemukan dan pada otot-otot leher sebelah dalam dapat atau tidak ditemukan sedikit resapan darah. Tali yang tipis seperti kaos kaki nylon akan meninggalkan jejas dengan lebar tidak lebih dari 2-3 mm.2 Bila jerat kasar seperti tali, maka bila tali bergesekan pada saat korban melawan akan menyebabkan luka lecet di sekitar jejas jerat, yang tampak jelas berupa kulit yang mencekung berwarna coklat dengan perabaan kaku seperti kertas perkamen (luka lecet tekan), pada otot-otot leher sebelah dalam tampak banyak resapan darah.2,5,6 Pemeriksaan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) Bila mana pihak penyidik mendapat laporan bahwa suatu tindak pidana yang mengakibatkan kematian korban telah terjadi, maka pihak penyidik dapat meminta/ memerintahkan dokter untuk melakukan pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP) tersebut sesuai dengan Hukum Acara Pidana yang berlaku dan sesuai pula dengan Undang-Undang Pokok Kepolisian tahun 1961 no. 13 pasal 13 atau sesuai dengan ketentuan pasal 3 Keputusan Men Han Kam/ Pangab No. Kep/B/17/V1/1974. Bila dokter menolak maka ia dapat dikenakan hukuman berdasarkan pada Kitab UndangUndang Hukum Pidana (K.U.H.P.) pasal 224. Selama melakukan pemeriksaan harus dihindari tindakan-tindakan yang dapat mengubah, menganggu atau merusak keadaan di TKP tersebut walaupun sebagai kelanjutan dari pemeriksaan itu harus mengumpulkan segala benda bukti (trace evidence) yang ada kaitannya
18

dengan manusia, seperti mengumpukan bercak air mani atau darah yang terdapat pada pakaian atau benda-benda di sekitar korban, yang pada dasarnya tindakan pengumpulan benda bukti tadi akan merusak keadaan di TKP itu sendiri. Dengan demikian sebelum pemeriksaan dilakukan, TKP harus diamankan, dijaga keasliannya dan diabadikan dengan membuat foto-foto dan atau sktesa sebelum para petugas menyentuhnya. 5 Sebelum datang di TKP ada beberapa hal yang harus dicatat sehubungan dengan alasan atau persyaratan yuridis, demi kepentingan kasus itu sendiri, yaitu: a. Siapa yang meminta/ memerintahkan datang ke TKP, otoritas, bagaimana permintaan/ perintah itu sampai keterangan dokter, di mana TKP dan kapan saat permintaan/ perintah tersebut dikeluarkan. Dokter dapat meminta sedikit gambaran mengenai kasus yang akan diperiksa dengan demikian ia dapat mempersiapkan perlengkapannya dengan baik. b. Perlu diingat motto : to touch as little as possible and to displace nothing Ia tidak boleh menambah atau mengurangi benda bukti: tidak boleh sembarangan membuang puntung rokok, perlengkapan jangan tertinggal, jangan membuang air kecil di kamar mandi oleh karena ada kemungkinan benda-benda bukti yang ada di tempat tersebut akan hanyut dan hilang. c. Di TKP dokter/ penyidik membuat foto dan sketsa yang mana harus disimpan dengan baik, oleh karena kemungkinan ia akan diajukan sebagai saksi selalu ada; foto dan sketsa tersebut berguna untuk memudahkan mengingatkan kembali keadaan yan sebenarnya.

Metode pencarian barang bukti Untuk dapat memperoleh barang bukti yang diperlukan didalam proses penyidikan dikenal 5 macam metode, yaitu: strip method, double strip or grid method, spiral method, zone method, dan wheel method.
5

Metode-metode tersebut tentu sudah diketahui penyidik, namun

perlu juga diketahui oleh dokter yang melakukan pemeriksaan di TKP agar tidak mengubah atau merusak keaslian keadaan TKP.

19

Pemeriksaan darah di TKP Pemeriksaan darah di TKP kasus kriminal dapat memberikan informasi yang berguna bagi proses penyidikan.5,6 Pemeriksaan yang sederhana dan dapat dilakukan oleh setiap penyidik adalah: Dari bentuk sifat bercak dapat diketahui

- Perkiraan jarak antara lantai dengan sumber perdarahan - Arah pergerakan dari sumber perdarahan baik dari korban maupun dari si pelaku kejahatan - Sumber perdarahan, darah yang berasal dari pembuluh balik (pada luka yang dangkal), akan berwarna merah gelap, sedangkan yang berasal dari pembuluh nadi (pada luka dalam) akan berwarna terang. Darah yang berasal dari saluran pernafasan atau paru-paru berwarna merah terang dan berbuih (jika telah mengering tampak seperti gambaran sarang tawon). Darah yang berasal dari saluran pencernaan akan berwarna merah-cokelat sebagai akibat dari bercampurnya darah dengan asam lambung. Darah dari pembuluh nadi akan memberikan bercak kecil-kecil menyemprot pada daerah yang lebih jauh dari daerah perdarahan; sedangkan yang berasal dari pembuluh balik biasanya membentuk genangan (ini karena tekanan dalam pembuluh nadi lebih tinggi dari tekanan atmosfir sedangkan tekanan dalam pembuluh balik lebih rendah sehingga tidak mungkin menyemprot). - Perkiraan umur/ tuanya bercak darah. Darah yang masih baru bentuknya cair dengan bau amis, dalam waktu 12-36 jam akan mengering sedangkan warna darah akan berubah menjadi cokelat dalam waktu 10-12 hari. Oleh karena banyak faktor yang memengaruhi darah maka didalam prakteknya hanya disebutkan bahwa darah tersebut sangat baru (beberapa hari), baru, tua, dan sangat tua (beberapa tahun): yaitu berdasarkan perubahan-perubahan warna serta perbandingan jumlah dengan intensitas reaksi terhdap uji-uji yang dilakukan di laboratorium.

20

Dari distribusi bercak darah pada pakaian dapat diperkirakan posisi korban sewaktu terjadinya perdarahan. Pada orang yang bunuh diri dengan memotonong leher dalam posisi tegak atau pada kasus pembunuhan di mana korbannya sedang berdiri, maka bercak/ aliran darah akan tampak berjalan dari atas ke bawah

Dari distribusi darah yang terdapat di lantai dapat diduga apakah kasusnya kasus bunuh diri (tergenang, setempat), ataukah pembunuhan (bercak dan genangan darah tidak beraturan, sering tampak tanda-tanda bahwa korban berusaha menghindar atau tampak bekas diseret).

Di dalam melakukan pemeriksaan bercak darah yang telah kering di TKP atau pada barang-barang bukti seperti pisau, palu, tongkat pemukul, dan lain sebagainya, penyidik harus memperoleh kejelasan di dalam 3 hal yang pokok, yaitu:

- apakah bercak tersebut memang bercak darah? - jika bercak darah, apakah berasal dari manusia? - Jika berasal dari manusia, apakah golongan darahnya? Kejelasan dari ketiga hal yang pokok tersebut penting dalam penyelesaian kasus, oleh karena bercak darah yang kering tidak dapat dibedakan dari bercak-bercak lainnya.

21

Contoh

Jumlah yang dibutuhkan Kemasan kontrol Barang bukti

Prosedur

AMUNISI Patrum Anak peluru Kelongsong


Dalam amplop kecil dengan pengait Seperti di atas (satu amplop satu peluru) Seperti di atas (amplop yang terpisah bila Seluruhnya secara terpisah Seluruh yang ditemukan Seluruh yang ditemukan Tandai pada tempat dekat ujung peluru Tandai pada bagian

dasar atau hidung Tandai luar. bagian pada Jangan luar/ bagian pada tempat

didapatkan pada tempat yang berbeda)

kontak dengan picu. Seluruh yang ditemukan Tandai pada tembaga dekat plastik kertas atau

Kelongsong shotgun Pellets

Seperti di atas

Seperti di atas

Seluruh yang ditemukan

Tandai pada tembaga dekat plastik kertas atau

Tutup (Wadding)

Seperti di atas, bila dari dalam tubuh keringkan dahulu

Seluruh yang ditemukan

Tandai amplopnya

DARAH Bercak kering pada Kemasan yang kuat seluruhnya tekstil


5ml druggist dari atau fold korban dengan EDTA dan Pada objek kecil kirim semuanya. Pada objek besar, bercak dikerok dan ditaruh pada kertas yang bersih Jika basah keringkan dahulu, jangan diberi pengawet.

tersangka

Bercak

pada Seperti di atas. Dalam seluruhnya


kantong Bungkus terpisah. kertas. secara

pakaian, tekstil, dll.

PAKAIAN

Dalam kantong kertas. Bungkus secara terpisa

seluruhnya

Seutuhnya, dipotong. kering sendiri

jangan Biatkan

DOKUMEN
Surat anonim/ surat Dalam kantong plastik Dokumen yang asli, Seluruh dokumen asli Jangan dengan memegang tangan ancaman, dll

22

reproduksi tidak boleh

telanjang. Taruh dalam amplop dan direkat.

Beri perincian bila akan diambil latent print. Kertas yang terbakar atau hangus Kemasan kuat seluruhnya Jangan dengan telanjang dipegang tangan

GORESAN KUKU (fingernail scrapings)

Botol

plastik

atau

Semua yang ada

Pisau dipakai

yang

bersih untuk

druggist fold

mengorek kulit yang tergores dibawah kuku. Satu tempat untuk kuku dalam kemasan yang terpisah, beri tanda

pada setiap kemasan dari jari yang mana

SENJATA API Pistol automatik


Senjata kosong, jangan dipegang kecuali ada barang rambut, bukti darah, lain: dsb. Semua yang ditemukan Beri label yang berisi nama, kaliber, nomor seri senjata dan tandatanda akan pemeriksaan penyidik. Jika

Senjata ditaruh dalam amplop ditulis: berisi. diluarnya kosong atau

dilakukan terhadap

barang bukti lain yang ada pada senjata,

seperti darah, rambut, latent print, maka

pengemasan harus hatihati sekali dalam peti kemas karton. Pada

bagian luar dari karton ditulis: senjata dalam keadaan kosong atau berisi. Permintaan harus

pemeriksaan

jelas. Inisial penyidik pada magazine dan

23

pada laras.

bagian

bawah

revolvel Senjata panjang

Sama seperti di atas

Semua yang ditemukan

Sama seperti di atas, inisial ujung laras

laras Jika ada barang bukti Semua yang ditemukan


lain melekat: dll. darah, Dapat rambut,

Ikatkan

label

yang

berisi nama, kaliber, nomor seri, dan inisial penyidik

diambil dengan tangan, selanjutnya seperti di atas. sama

RAMBUT

Druggist fold/ kotak obat. Jangan dalam

Semua yang ada

Kemasan untuk yang

terpisah

rambut-rambut berasal dari

amplop. Beberapa beberapa Rambut dicabut. harus lusin dari

masing-masing tempat. Beri label: tempat

tempat. utuh,

daerah pengambilan.

NARKOTIKA DAN OBAT-OBAT BERBAHAYA Puyer, tablet, dan Kotak obat, druggist Semua yang ada kapsul tanaman
fold botol, dsb. Kantung plastik atau kantung kertas Semua yang ada Seperti di atas Tiap obat satu kemasan

ORGAN TUBUH (HIDUP) Darah


Tabung reaksi bersih atau botol 5ml untuk pemeriksaan 5 ml untuk alkohol Dokter mengambil, yang dapat

diberi pengawet, taruh dalam lemari pendingin sampai dikirim ke

laboratorium

Urine

Botol bersih

Semua dikeluarkan

yang

Simpan dalam lemari pendingin dikirim laboratorium. sampai ke

ORGAN TUBUH (MAYAT) Darah


Tabung reaksi bersih atau botol 25ml obatan, untuk 5ml obatuntuk Beri pengawet dan anti pebeku. Simpan dalam

24

alkohol.

lemari sampai

pendingin dikirim ke

laboratorium.

Otak

Kemasan dari plastik

300gr

Dalam pendingin

lemari sampai

dikirim ke laboratorium

Empedu Hati Ginjal Urin Kulit di

Seperti di atas Seperti di atas Seperti diatas Seperti di atas

Semuanya 300gr Keduanya Semua yang ada dalam kandung kencing

Seperti di atas Seperti di atas Seperti di atas Seperti di atas

sekitar Seperti di atas

semuanya

Seperti di atas

tempat suntikan Tabel 2. Petunjuk pengumpulan barang bukti

Autopsi Pada pembunuhan dengan menggunakan kekerasan tajam, luka harus dilukiskan dengan baik, dengan memperhatikan bentuk luka, tepi luka, sudut luka, keadaan sekitar luka, serta lokasi luka. Dalam peristiwa pembunuhan, cari pula kemungkinan terdapatnya luka tangkis di daerah ekstensor lengan bawah serta telapak tangan. Pada autopsi kasus dengan luka yang menembus ke daam tubuh, misalnya tembakan senjata api atau tusukan senjata tajam, perlu ditentukan arah serta jalannya saluran luka dalam tubuh mayat1.

Pemeriksaan pada kasus dengan mengunakan senjata tajam Pada bunuh diri daerah yang dipilih adalah daerah leher, dada, perut bagian atas, atau pergelangan tangan, sering ditemukan luka-luka percobaan yang berjalan sejajar baik di sekitar luka yang fatal meupun pada bagian tubuh lain.
5

Senjata yang dipakai sering dijumpai masih

dalam keadaan tergenggam di tangan korban (cadaveric spasme). Pada pembunuhan tidak ada tempat khusus, jumlah luka sering lebih dari satu, adanya luka pada bagian belakang merupakan ciri khas pembunuh, pada lengan dan telapak tangan sering didapat
25

luka-luka tangkis; pada beberapa kasus kadang-kadang korban selain ditusuk juga dihantam dengan benda tumpul dari senjata sehingga selain luka akibat benda tajam didapatkan luka akibat benda tumpul. Autopsi pada kasus kematin akibat penjeratan Pada kasus penjeratan, kadangkala masih ditemukan jerat pada leher korban. Jerat harus diperlakukan sebagai barang bukti dan dilepaskan dari leher korban dengan jalan mengguntingnya secara miring pada jerat, di tempat yang paling jauh dari simpul, sehingga simpul pada jerat tetap utuh. Pada kasus penjeratan, jerat biasanya berjalan horizontal/ mendatar dan letaknya rendah. Jerat ini biasanya meninggalkan jejas jerat berupa luka lecet jenis tekan yang melingkari leher. Catat keadaan jejas jerat dengan teliti, dengan menyebutkan arah, lebar, serta letak jerat yang tepat.5 Perhatikan apakah jejas jerat menunjukkan pola (pattern) tertentu yang sesuai dengan permukaan jerat yang bersentuhan dengan kulit leher. Pada umumnya, simpul mati ditemukan pada kasus pembunuhan, sedangan simpul hidup ditemukan pada kasus bunuh diri. Namun perkecualian selalu terjadi.4

Prosedur medikolegal Kewajiban dokter dalam membantu peradilan tercantum dalam Pasal 133 KUHAP3: (1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya. (2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. (3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehamikan atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang diletakkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.
26

Visum et Repertum Pemeriksaan medik untuk tujuan membantu penegakan hukum antara lain adalah pembuatan Visum et Repertum terhadap seseorang yang dikirim polisi (penyidik) karena diduga sebagai korban suatu tindak pidana, baik dalam peristiwa kecelakaan lalu-lintas, kecelakaan kerja, pennganiayaan, pembunuhan, perkosaan, maupun korban meninggal yang pada pemeriksaan pertama polisi, terdapat kecurigaan akan kemungkinan adanya tindak pidana. Mengenai kepangkatan pembuat surat permintaan Visum et Repertum telah diatur dalam Peraturan Pemerintah no 27 tahun 1983 yang menyatakan penyidik Polri berpangka serendahrendahnya Pembantu Letnan Dua, sedangkan pada wilayah kepolisan tertentu yang komandannya adalah seorang bintara (Sersan), maka ia adalah penyidik karena jabatannya tersebut. Kepangkatan bagi penyidik pembantu adalah bintara serendah-rendahnya sersan dua. Untuk mengetahui apakah suatu surat permintaan pemeriksaan telah ditandatangani oleh yang berwenang, maka yang penting adalah bahwa si penandatangan menandatangani surat tersebut selaku penyidik.2 Visum et Repertum adalah keterangan yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup atau mati ataupun bagian atau diduga bagian dari tubuh manusia, berdasarkan kelilmuannya dan dibawah sumpah, untuk kepentingan peradilan. Visum et Repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam pasal 184 KUHAP. Visum et Repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Visum et Repertum menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian Pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti benda bukti. Visum et Repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian kesimpulan2.

Penulisan Visum Et Repertum Visum et Repertum terdiri dari 5 bagian yang tetap, yaitu2: 1. Kata Pro justitia, yang diletakkan di bagian atas. Kata ini menjelaskan bahwa Visum et Repertum khusus dibuat untuk tujuan peradilan. Visum et Repertum tidak

27

membutuhkan materai untuk dijadikan sebagai alat bukti di depan sidang peradilan yang mempunyai kekuatan hukum. 2. Bagian Pendahuluan. Kata pendahuluan sendiri tidak ditulis di dalam Visum et Repertum, melainkan langsung dituliskan berupa kalimat-kalimat di bawah judul. Bagian ini menerangkan nama dokter pembuat Visum et Repertum dan institusi kesehatannya, instansi penyidik pemintanya berikut nomor dan tanggal surat permintaannya, tempat dan waktu pemeriksaan serta identitas korban yang diperiksa. Dokter tidak dibebani pemastian identitas korban, maka uraian identitas korban adalah sesuai dengan uraian identitas yang ditulis dalam surat permintaan Visum et Repertum. Bila terdapat ketidaksesuaian identitas korban antara surat permintaan dengan catatan medik atau pasien yang diperiksa, dokter dapat meminta kejelasan dari penyidik. 3. Bagian pemberitaan. Bagian ini berjudul Hasil Pemeriksaan dan berisi hasil pemeriksaan medik tentang keadaan kesehatan atau sakit atau luka korban yang berkaitan dengan perkaranya, tindakan medik yang dilakukan serta keadaannya selesai pengobatan/ perawatan. Bila korban meninggal dan dilakukan autopsi, maka diuraikan keadaan seluruh alat dalam yang berkaitan dengan perkara dan matinya orang tersebut, Yang diuraikan dalam bagian ini merupakan pengganti barang bukti, berupa perlukaan/ keadaan kesehatan/ sebab kematian yang berkaitan dengan perkaranya. Temuan hasil pemeriksaan medik yang bersifat rahasia dan tidak berhubungan dengan perkaranya tidak dituangkan ke dalam bagian pemberitaan dan dianggap tetap sebagai rahasia kedokteran. 4. Bagian Kesimpulan. Bagian ini berjudul Kesimpulan dan berisi pendapat dokter berdasarkan keilmuannya, mengenai jenis perlukaan/ cedera yang ditemukan dan jenis kekerasan atau zat penyebabnya, serta derejat perlukaan atau sebab kematiannya. Pada kejahatan susila, diterangkan juga apakah telah terjadi persetubuhan dan kapan perkiraannya, serta usia korban atau kepantasan korban untuk dikawin. 5. Bagian Penutup. Bagian ini tidak berjudul dan berisikan kalimat baku Demikianlah visum et repertum ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuan saya dan dengan mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.

28

Kesimpulan

Ditemukan mayat laki-laki yang sudah membusuk di sebuah suangai kering yang penuh batubatuan dalam keadaan mati tertelungkup. Lehernya terikat lengan baju dan ujung lengan baju lainnya terikat ke sebuah dahan pohon perdu. Pada mayat terdapat satu luka terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus, dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri. Kematian yang dialami korban adalah cara kematian yang tidak wajar yaitu pembunuhan dan sebab kematiannya adalah karena kekerasan tajam bila dilihat dari luka-luka yang dialami oleh korban. Diperlukan pemeriksaan autopsi dan pemeriksaan mikroskopik (histolopatologi) agar dapat menentukan waktu terjadinya perlukaan, di dalam hubungannya dengan penentuan apakah luka yang terdapat pada korban itu didapat sewaktu hidup ataukah sesudah korban mati.

Daftar Pustaka
1. Idries, A.M., Tjiptomartono, A.L. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik Dalam Proses Penyidikan. Jakarta : Sagung Seto; 2008: h. 1-52. 2. Budiyanto, A.,Widiatmaka, W., Sudiono, S., Winardi, T., Idries, AM., Sidhi, dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik Universitas Indonesia; 1997: h. 25-43. 3. Peraturan Perundang-Undangan Bidang Kedokteran. Jilid I. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik Universitas Indonesia; 1994: h.11-6, 37-9. 4. Staf Pengajar Bagian Forensik FKUI. Teknik Autopsi Foresik. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik Universitas Indonesia; 2000: h.7. 5. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Autopsi. Kapita Selekta Kedokteran. Ed.3. Jilid II. Jakarta : Media Aesculapius; 2000: h. 171-82. 6. Idries, A.M. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Ed I. Jakarta : Bina Rupa Aksara; 1997 : h. 35-47.
29

30