Anda di halaman 1dari 17

Kejahatan Seksual dan Persetubuhan Anak Dibawah Umur Jasreena Kaur Sandal (102010362) Mahasiswa Fakultas Kedokteran universitas

Ukrida Kristen Krida Wacana Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat blacksheep_rockz@hotmail.com

Pendahuluan
Di Indonesia diketemukan adanya kejahatan seksual yang sering terjadi, misalnya kejahatan seksual terhadap anak dibawah umur atau anak yang belum siap dikawin. Kejahatan seksual tidak hanya masalah antar individu, melainkan sebagai problem social yang terkait dengan masalah hak asasi, khususnya yang berkaitan dengan perlindungan anak. Mengenai analisa kasus seperti ini diperlukan keahlian seorang dokter. Sebagai seorang dokter seharusnya dapat membantu penyidikan, oleh karena itu dokter harus mengetahui bagaimanaprosedur pemeriksaan yang benar terhadap korban dengan dugaan kejahatan seksual, bagaimana tandatanda persetubuhan, tatalaksana terhadap korban dan hukum-hukum diIndonesia yang berhubungan dengan kasus kejahatan seksual sangatlah penting diketahui oleh dokter untuk membantu penyidikan tersebut.

Pembahasan

Aspek Hukum Pasal 286 KUHP Barangsiapa bersetubuh dengan wanita di luar perkahwinan, pada hal diketahui bahawa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.1 Pasal 287 KUHP (1) Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkahwinan, pada hal diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahawa umurnya belum 15 tahun, atau kalau umurnya tidak ternyata, bahawa belum mampu dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama 9 tahun. (2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umurnya wanita belum sampai 12 tahun atau jika ada salah suatu hal tersebut pasal 291 dan pasal 294.1 Pasal 288 KUHP (1) Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di dalam perkahwinan, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahawa belum mampu dikahwin, diancam, apabila perbuatan mengakibatkan luka-luka dengan pidana penjara paling lama 4 tahun. (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka berat, dipidana 8 tahun. (3) Jika mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama 12 tahun. UU No 1/74 tentang perkahwinan mensyaratkan usia kawin 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki laki1

Pasal 289 KUHP Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara maksimum 9 tahun. Sering digunakan sebagai tuntutan subside pada perkosaan yang persetubuhannya tidak terbukti1 Pasal 290 KUHP Diancam dengan pidana paling lama 7 tahun: 1. Barangsiapa melakukan perkara cabul dengan seseorang pada hal diketahui, bahawa orang itu pingsan atau tidak berdaya; 2. Barangsiapa melakukan perkara cabul dengan seseorang pada hal diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahawa umurnya belum 15 tahun atau kalau umurnya tidak ternyata, bahawa belum mampu dikawin; 3. Barangsiapa membujuk seseorang yang diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahawa umurnya belum 15 tahun atau kalau umurnya tidak ternyata, bahawa belum mampu dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar perkahwinan dengan orang lain.

Pasal 81 UU 23/2002 Tentang Perlindungan Anak Dengan kekerasan atau ancaman memaksa anak ( belum 18 tahun ) bersetubuh dengannya atau orang lain dipidana maksimum 3 hingga 15 tahun dan denda Rp 60 juta hingga Rp 300 juta.1,2 Pasal 82 UU 23/2002 Tentang Perlindungan Anak Dengan kekerasan atau ancaman tipuan, kebohongan, bujukan, terhadap anak ( belum 18 tahun ) berbuat cabul dengannya atau orang lain, dipidana maksimum 3 hingga 15 tahun dan denda Rp 60 juta hingga Rp 300 juta.1,2

Prosedur Medikolegal Prosedur medikolegal adalah tata-cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar prosedur medikolegal mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran. Pasal 133 KUHAP (1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. (2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. (3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuatkan identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.1 Penjelasan pasal 133 KUHAP (2) keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli, sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan. Keputusan Menkeh No. M.01PW.07-03tahun 1982 Tentang Pedoman Pelaksanaan KUHAP Dari penjelasan Pasal 133 ayat (2) menimbulkan beberapa masalah antara lain sebagai berikut: a. Keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman itu alat bukti sah atau bukan?

Sebab apabila bukan alat bukti yang sah tentunya penyidikan mengusahakan alat bukti lain yang sah dan ini berarti bagi daerah-daerah yang belum ada dokter ahli kedokteran kehakiman akan mengalami kesulitan dan penyidikan dapat terhambat. Hal ini tidak menjadi masalah walaupun keterangan dari dokter bukan ahli kedokteran kehakiman itu bukan sebagai keterangna ahli, tetapi keterangan itu sendiri dapat merupakan petunjuk dan petunjuk itu adalah alat bukti yang sah, walaupun nilainya agak rendah, tetapi diserahkan saja pada hakim yang menilainnya dalam sidang1. Pasal 183 KUHAP Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurangkurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benarbenar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melalukannya. Pasal 216 KUHAP (1) Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak Sembilan ribu rupiah. (2) Disamakan dengan pejabat tersebut diatas, setiap orang yang menurut ketentuan undangundang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan jabatan umum. (3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidananya dapat ditambah sepertiga1.

Pasal 222 KUHAP Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat unutk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.1

Prosedur Hukum Setiap pemeriksaan untuk pengadilan harus berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang. Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti. Kalau korban dating sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi, jagn diperiksa, suruh korban kembali kepada polisi. Setiap Visum et Repertum harus dibuat berdasarkan keadaan yang didapatkan pada tubuh korban pada waktu permintaan Visum et Repertum diterima oleh dokter. o Bila dokter telah memeriksa korban yang datag dirumah sakit, atau ditempat praktek atas inisiatif sendiri, bukan atas pemintaan polisi, dan beberapa waktu kemudian polisi mengajukan permintaan dibuatkan Visum et Repertum, maka ia harus menolak, kerana segala sesuatu yang diketahui oleh dokter tentang diri korban sebelum ada permintaan untuk dibuatkan Visum et Repertum merupakan rahasia kedokteran yang wajib disimpannya ( KUHP Pasal 322 ). o Dalam keadaan seperti itu, dokter dapat meminta kepada polisi supaya korban dibawa kembali kepadanya dan Visum et Repertum dibuat berdasarkan keadaan yang ditemukan pada waktu permintaan diajukan. o Hasil pemeriksaan yang lalu tidak diberikan dalam bentuk Visum et Repertum, tapi dalam bentuk surat keterangan. Hasil pemeriksaan sebelum diterimanya surat permintaan pemeriksaan dan bukan sebagai corpus dilicti ( benda bukti ).1 Ijin tertulis untuk pemeriksaan ini dapat diminta pada korban sendiri atau jika korban adalah seorang anak, dari oaring tua atau walinya. Jelaskan terlebih dahulu tindakan
6

tindakan apa yang akan dilakukan pada korban dan hasil pemeriksaan akan disampai ke pengadilan. Hal ini perlu diketahui walaupun pemeriksaan dilakukan atas permintaan polisi, belum tentu korban akan menyetujui pemeriksaan itu dan tidak menolaknya. Selain itu bagian yang akan diperiksa merupakan the most private part dari tubuh seorang wanita. Seorang perawat atau bidan harus mendampingi dokter ketika pemeriksaan korban. Pemeriksaan dilakukan secepat mungkin jangan ditunda terlampau lama. Hindarkan korban dari menunggu dengan perasaan was-was dan cemas dia kamar pemeriksaan. Apalagi bila korban adalah seorang anak. Semua yang ditemukan harus dicatat, jangan tergantung pada ingatan semata. Visum et Repertum diselesaikan secepat mungkin. Dengan adanya visum et Repertum, perkaea cepat dapat diselesaikan. Seorang terdakwa dapat cepat dibebaskan dari tahanan, bila ternyata ia tidak bersalah. Kadang-kadang dokter yang sedang berpraktek pribadi diminta oleh ibu atau bapa untuk memeriksa anak perempuannya, karena ia merasa sangsi apakah anaknya masih perawan, atau karena curiga jika atas diri anaknya baru terjadi persetubuhan. Dalam hal ini, perlu ditanyakan dahulu maksud pemeriksaan, apakah sekadar ingin mengetahui sahaja, atau ada maksud untuk melakukan penuntutan. Bila dimaksudkan akan melakukan penuntutan maka sebaiknya dokter jangan memeriksa anak itu. Katakana bahawa pemeriksaan harus dilakukan berdasarkan permintaan polisi dan biasanya dilakukan di rumah sakit. Ada baiknya jika dokter memberikan penerangan pada ibu atau bapa itu, bahawa jika umur anaknya sudah 15 tahun, dan jika terjadinya persetubuhan tidak dengan paksaan maka menurut undang-undang, lelaki bersangkutan tidak dapat dituntut. Pengaduan mungkin hanya akan merugikan anaknya saja. Lebih baik jika orang tua itu dianjurkan untuk meminta nasehat dari seorang pengacara. Jika orang tua hanya sekadar ingin mengetahui saja maka dokter dapat melakukan pemeriksaan. Tetapi jelaskan lebih dahulu bahawa hasil pemeriksaan tidak akan dibuat dalam bentuk surat keterangan, karena kita tidak mengetahui untuk apa surat keterangan itu. Mungkin untuk melakukan penuntutan atau untuk menuduh seseorang yang tidak
7

bersalah. Dalam keadaan demikian umumnya anak tidak mau diperiksa. Sebaliknya orang tua malah mendesaknya. Sebaiknya dokter meminta izin tertulis untuk memeriksa dan memberitahukan hasil pemeriksaan kepada orang tuanya1.

Anamnesis Pada umumnya anamnesis yang diberikan oleh orang sakit dapat dipercaya, sebaliknya anamnesis yang diperoleh dari korban tidak selalu benar. Pasien mungkin terdorong oleh berbagai maksud atau perasaan misalnya maksud untuk memeras, rasa dendam, menyesal atau karena takut pada ayah/ibu, sehingga korban mungkin mengemukakan hal yang tidak benar. Anamnesis merupakan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau atau ditemukan oleh dokter sehingga bukan merupakan pemeriksaan yang obyektif, seharusnya tidak dimasukkan dalam visum et repertum. Anamnesis dibuat terpisah dan dilampirkan pada visum et repertum dengan judul keterangan yang diperoleh dari korban. 1 Anamnesis Umum 1 Hal-hal yang dapat ditanyakan pada anamnesis umum antara lain umur, tempat dan tanggal lahir, status perkawinan, siklus haid, apakah ada penyakit kelamin atau penyakit kandungan, apakah sebelumnya pernah bersetubuh, apakah saat bersetubuh menggunakan kondom atau tidak. Anamnesis Khusus 1

Pada anamnesis ini yang ditanyakan adalah:

Waktu kejadian, tanggal dan jam. Bila waktu antara kejadian dan pelaporan telah berselang beberapa hari/minggu, dapat diperkirakan bahwa peristiwa itu bukan peristiwa perkosaan, tetapi persetubuhan yang pada dasarnya tidak disetujui oleh wanita yang bersangkutan. 3

Tanyakan pula dimana tempat terjadinya. Sebagai petunjuk dalam pencarian trace evidence dari tempat kejadian, misalnya rumput, tanah dan sebagainya yang mungkin melekat pada pakaian pada tubuh korban 3

Apakah korban melawan atau tidak. Selain itu perlu ditanyakan apakah korban pingsan. Ada kemungkinan korban menjadi pingsan karena ketakutan tetapi mungkin juga korban dibuat pingsan oleh si pelaku dengan pemberian obat bius.

Tanyakan apakah terjadi penetrasi dan ejakulasi, apakah setelah kejadian korban mencuci, mandi dan berganti pakaian.

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan kerokan kuku. Kerokan kuku mungkin menunjukkan adanya sel-sel epitel kulit dan darah yang berasal dari pemerkosa. 3,4 Pemeriksaan pakaian. Pakaian di teliti helai demi helai, apakah terdapat robekan, apakah kancing terputus, apakah ada bercak darah, air mani, lumpur, dan sebagainya yang berasal dari tempat kejadian.4 Pemeriksaan tubuh korban. Pada pemeriksaan ini dokter melihat bagaimana penampilan korban, apakah rapi atau kusut, keadaan emosional, apakah pasien tampak tenang, gelisah atau sedih. Periksan juga apakah ada tanda-tanda bekas kehilangan kesadaran atau diberi obat bius, apakah ada needle marks, adakah tanda kekerasan, memar atau lecet. Selain itu dicatat tanda perkembanga kelamin sekunder, pupil, reflex cahaya, tinggi dan berat badan, tekanan darah, keadaan jantung, paru dan abdomen. Pemeriksaan genitalia. Pemeriksaan ini meliputi ada tidaknya rambut kemaluan yang sering melekat menjadi satu karena air mani yang mengering. Cari pula bercak air mani di sekitar kelamin, atau dilakukan pemeriksaan swab pada vagina, swab anus, dan swab laring 3,4 Pada vulva, teliti adanya tanda-tanda bekas kekerasan seperti hiperemi, edema, memar atau lecet.
9

Periksa jenis selaput dara, adakah robek atau tidak. Bila ada, tentukan apakah robekan tersebut baru atau lama dan pada arah jam berapa. Periksa pula apakah frenulum dan commissural labiorum posterior utuh atau tidak. Periksa vagina dan serviks dengan speculum, liat apakah ada tanda penyakit kelamin.

Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan cairan mani. 2,4 Cairan mani merupakan cairan agak kental berwarna putih kekuningan, keruh dan berbau khas. Saat ejakulasi cairan ini kental kemudian akan menjadi cair akibat enzim proteolitik. Dalam keadaan normal, volume cairan 3-5ml pada satu kali ejakulasi dengan pH 7,2-7,6. Untuk menentukan adanya cairan mani perlu diambil swab dari forniks posterior vagina dan dilakukan pemeriksaan berikut: Pemeriksaan spermatozoa (mikroskopis) Tanpa pewarnaan Pemeriksaan ini beguna untuk melihat apakah terdapat spermatozoa yang bergerak. Umumnya disepakati bahwa dalam 3-5 jam setelah persetubuhan masih ditemukan spermatozoa di vagina. Cara pemeriksaan: satu tetes lender vagina diletakkan pada kaca obyek, dilihat dengan pembesaran 500x serta kondensor diturunkan. Perhatikan pergerakan sperma. Bila sperma tidak ditemukan, belum tentu dalam vagina tidak ditemukan ejakulat mengingat kemungkinan azoospermia. Dengan pewarnaan Dibuat sediaan apus dan difiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus tersebut pada nyala api. Pulas dengan HE, Methylene Blue atau Malachite green. Cara pewarnaan yang mudah dan baik untuk kepentingan forensic adalah pulasan malachite green dengan prosedur sebagai berikut: Warnai dengan larutan Malachite green 1% selama 10-15 menit, lalu cuci dengan air mengalir dan setelah itu lakukan counter stain dengan larutan Eosin Yellowish1% selama 1 menit, terakhir cuci lagi dengan air.
10

Penentuan cairan mani. Untuk membuktikan adanya cairan mani dalam sekret vagina, perlu dideteksi adanya zat-zat yang banyak terdapat dalam cairan mani dengan pemeriksaan laboratorium berikut. a. Reaksi fosfatase asam Dasar reaksi: adanya enzim fosfatase asam dalam kadar tinggi yang dihasilkan prostat. Dalam secret vagian setelah tiga hari ditemukan aktifitas 0-6 unit. b. Reaksi berberio Reaksi ini dilakukan dan mempunyai arti bila mikroskopik tidak ditemukan spermatozoa. Dasar reaksi: Menentukan adanya spermin dalam semen. Reagen: Larutan asam pikrat jenuh.

Cara pemeriksaan: hasil swab diekstraksi dengan dengan sedikit aquades. Ekstrak diletakkan pada kaca objek, biarkan mengering, tutup dengan kaca penutup. Reagen dialirkan dengan pipet. Hasil posil positif bila kristal spermin pikrat kekuningan berbentuk jarum denganujung tumpul. Kadang-kadang terdapat garis refraksi yang terletak longitudinal.

Pemeriksaan kehamilan, darah dan urin dapat dilakukan atas indikasi.

Berdasarkan contoh kasus di atas, maka didapatkan pasien dalam keadaan stabil, pada pemeriksaan didapatkan kelainan, pada pemeriksaan fisik dan penunjang didapatkan robekan selaput dara di arah jam 6, ditemukan tanda-tanda persetubuhan,ditemukan memar pada bagian atas paha dalam kiri,lecet di pergelangan tanda kekerasan, pada pemeriksaan penunjang ditemukan adanya spermatozoa, pemeriksaan kehamilan negative.

11

Pemeriksaan Pria Tersangka Untuk membuktikan bahwa seorang pria baru saja melakukan persetubuhan dengan seseorang wanita.

Cara lugol Kaca objek ditempelkan dan ditekan pada glans penis, terutama pada bagian kolum, korona serta frenulum, kemudian letakkan dengan spesimen menghadap kebawah diatas tempat yang berisi larutan ligol dengan tujuan agar uap yodium akan mewarnai sediaan tersebut. Hasil akan menunjukkan sel-sel epitel vagina dengan sitoplasma berwarna coklat karena mengandung banyak glikogen.

Untuk memastikan bahwa sel epitel berasal dari seorang wanita, perlu ditentukan adanya kromatin seks (barr bodies) pada inti. Dengan pembesaran besar, perhatikan inti sel epitel yang ditemukan dan cari barr bodies. Ciri-cirinya adalah menempel erat pada permukaan membran inti dengan diameter kira-kira 1 yang berbatas jelas dengan tepi tajam dan terletak pada satu dataran fokus dengan inti.

Kelemahan pemeriksaan ini adalah bila persetubuhan tersebut telah berlangsung lama atau telah dilakukan pencucian pada alat kelamin pria, maka pemeriksaan ini tidak akan berguna lagi.

Pada dasarnya pemeriksaan laboratorium forensik pada korban wanita dewasa dan anak-anak adalah sama, yang membedakan adalah pendekatan terhadap korban. Pengumpulan barang bukti harus dilakukan jika hubungan seksual terjadi dalam 72 jam sebelum pemeriksaan fisik.

12

Visum et Repertum Visum et repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter, berisi temuan dan pendapat berdasarkan keilmuannya tentang hasil pemeriksaan medis terhadap manusia atau bagian dari tubuh manusia, baik hidup maupun mati, atas permintaan tertulis (resmi) dan penyidik yang berwenang (atau hakim untuk visum et repertum psikiatrik) yang dibuat atas sumpah atau dikuatkan dengan sumpah, untuk kepentingan peradilan. 5 Visum et repertum adalah bukti yang sah berupa surat (pasal 184 jo pasal 187 butir c KUHAP)

Ketentuan umum pembuatan visum et repertum adalah: 1. Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa. 2. Bernomor, bertanggal di bagian kiri atasnya dicantumkan kata Pro Justitia 3. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tanpa singkatan dan tidak menggunakan istilah asing 4. Ditandatangani dan diberi nama jelas pembuatnya serta dibubuhi stempel instansi tersebut Visum et repertum dibuat sesegera mungkin dan diberikan kepada (instansi) penyidik pemintanya, dengan memperhatikan ketentuan tentang rahsia jabatan bagi dokter serta ketentuan kearsipan.

VISUM ET REPERTUM KORBAN KEJAHATAN SUSILA Pada umumnya, korban kejahatan susila yang dimintakan visum et repertumnya kepada dokter adalah kasus dugaan adanya persetubuhan yang diancam hukum oleh KUHP. Persetubuhan yang diancam pidana oleh KUHP meliputi pemerkosaan, persetubuhan pada wanita yang tidak berdaya, persetubuhan dengan wanita yang belum cukup umur. 1,5

Untuk kepentingan peradilan, dokter berkewajiban untuk membuktikan adanya persetubuhan, adanya kekerasan (termasuk pemberian racun/obat/zat agar menjadi tidak berdaya) serta usia korban. Selain itu dokter juga diharapkan memeriksa adanya penyakit hubungan seksual, kehamilan dan kelainan psikiatrik/kejiwaan sebagai akibat dari tindak pidana tersebut. 2,4,5Dokter
13

tidak dibebani pembuktian adanya pemerkosaan, karena istilah pemerkosaan adalah istilah hukum yang harus dibuktikan di depan sidang pengadilan.

Untuk dapat memeriksa korban wanita tersebut, selain adanya surat permintaan visum et repertum, dokter sebaiknya juga mempersiapkan si korban atau orang tuanya bila ia masih belum cukup umur, agar dapat dilakukan pemeriksaan serta saksi atau pendamping perawat wanita dan pemeriksaan sebaiknya dilakukan dalam ruang tertutup yang tenang.

Dalam kesimpulan visum et repertum korban kejahatan susila diharapkan tercantum perkiraan tentang usia korban, ada atau tidaknya tanda persetubuhan dan bila mungkin, menyebutkan kapan perkiraan terjadinya, dan ada tidaknya tanda kekerasan. Peran LSM 6 Dalam bidang perlindungan anak adanya eskalasi kriminalis terhadap anak belum banyak menunjukkan perlindungan yang maksimal. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan selama tahun 2007 terdapat 455 kasus kekerasan terhadap anak. Di samping itu, data dari Kejaksaan Agung selama tahun 2006 terdapat 600 kasus kekerasan terhadap anak yang telah diputus oleh peradilan. Anak masih dijadikan objek sasaran perlakuan yang tidak seharusnya atau menjurus ke bentuk kriminalitas oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, dan oleh oknum pelaku anak. Hal itu banyak dipengaruhi oleh lingkungan yang sarat dengan informasi dan teknologi, pornografi, dan lain-lain memicu kegiatan yang bersifat kriminal, seperti pencabulan, pelecehan seksual, perkosaan, perdagangan anak, penganiayaan sampai dengan pembunuhan. Bentuk kekerasan lain seperti perdagangan anak (trafficking), berdasarkan catatan Komnas Perlindungan Anak, jumlah yang terperangkap dalam perdagangan anak pada tahun 2006 adalah 42.771 oreang meningkat menjadi 745.817 orang pada tahun 2007 dan pada akhir Juni 2008 jumlahnya mencapai 400.000 orang. Di lingkungan pendidikan yang diharapkan sebagai wadah mendidik anak sebagai tunas bangsa pun tidak terlepas dari adanya bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak. Sebagai contoh, masih ada kekerasan di antara murid sekolah dalam bentuk bullying atau dengan dalih orientasi masa pendidikan sekolah, sampai kekerasan yang dilakukan oleh guru sekolah. Dalam bidang hukum, perlindungan terhadap anak juga menjadi fokus penting karenaperlindungan terhadap anak yang
14

terlibat dalam kasus hukum masih kurang mendapatkan penanganan yang semestinya. Perlindungan terhadap hak anak perlu dilakukan sejak tahap penyelidikan, penuntutan, persidangan bahkan sampai proses penghukuman. Bentuk penghukuman terhadap narapidana anak juga harus dipertimbangkan dengan baik. Pengaruh lingkungan penjara akan banyak mempengaruhi jiwa anak. Oleh karena itu, hukuman dapat diganti, misalnya dalam bentuk kerja sosial dan lain sebagainya. Di bidang kesehatan dan pendidikan, masih banyak anak Indonesia yang belum mendapatkan hak tersebut. Mengingat jumlah anak Indonesia sebesar 30% dari 243 juta jiwa penduduk Indonesia, anak merupakan potensi strategis dari sebuah bangsa yang perlu diberikan perlindungan semestinya.

Dalam UU Perlindungan Anak, kebijakan penangulangan kekerasan pada anak, dapat diidentifaksi pada bagian upaya perlindungan anak, yaitu mencakup: (1) Diwajibkannya ijin penelitian kesehatan yang menggunakan anak sebagai objek penelitian kepada orang tua dan harus mengutamakan kepentingan yang terbaik bagi anak (Pasal 47); (2) Diwajibkannya bagi pihak sekolah (lembaga pendidikan) untuk memberikan perlindungan terhadap anak di dalam dan di lingkungan sekolah dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya (Pasal 54); (3) Diwajibkannya bagi pemerinyah untuk menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan anak terlantar, baik dalam lembaga maupun di luar lembaga (Pasal 55); (4) penyebarluasan dan/atau sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, dan pelibatan berbagai instansi pemerintah, perusahaan, serikat pekerja, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat dalam penghapusan eksploitasi terhadap anak secara ekonomi dan/atau seksual (Pasal 66); (5) penyebarluasan dan sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan yang melindungi anak korban tindak kekerasan (Pasal 69).

15

Kesimpulan
Pada keterangan yang dibuat oleh dokter dicantumkan apakah adanya tanda-tanda persetubuhan atau tidak. Dokter tidak mempunyai wewenang untuk menilai apakah suatu kasus adalah permerkosaan atau tidak. Penting untuk dokter melakukan observasi lebih lanjut terhadap korban untuk mengetahui penemuan-penemuan yang dapat dianalisa lebih lanjut, sebab korban bukanlah hanya sebagai pasien, tetapi dia juga merupakan barang bukti yang sangat penting. Selain dari segi fisik korban, dokter juga harus memperhatikan bagaimana kesehatan mental korban. Untuk itu, untuk kasus dengan adanya tanda-tanda persetubuhan diperlukan observasi yang cukup lama2. Pada kasus ini, pasien ini telah disetubuhi oleh teman lelakinya dengan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh pasien,memar pada bagian atas paha dalam sebelah kiri,lecet di kedua pergelangan tangan,robekan selaput dara pada arah jam 6,ditemukan juga spermatozoa pada vagina pasien.Pada pemerikssaan pada pria pula ditemukan bekas gigitan di tangan dan cakaran di dada.

16

Daftar Pustaka
1) Slamet P, Djaja SA, Yuli B et al. Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran. Jakarta:FKUI;1994. 2) Budiyanto A, widiatmaka W, Sudiono S, Mun'im TWA, Sidhi, Hertian S et al. Ilmu Kedokteran forensik. Jakarta, Indonesia : Bagian Kedokteran Forensik

FakultasKedokteran Universitas Indonesia; 1997. 3) Budiyanto A, widiatmaka W, Sudiono S, Mun'im TWA, Sidhi, Hertian S et al. Teknik Autopsi Forensik . Jakarta, Indonesia : Bagian Kedokteran Forensik FakultasKedokteran Universitas Indonesia; 2000. 4) Stark MM. Medical Forensic Medicine A Physicians Guide. 2nd Edition. New Jersey: Humana Press Inc. 2005. Forensic science. (Online). [19 Januari 2011]. Diunduh dari http://www.forensicsciencesfoundation.org/career_paths/criminalistics.htm. pada 12 Januari 2012.
5) Visum et Repertum.2009 (Online). [19 Januari 2011]. Diunduh dari

Diunduh

http://www.klinikindonesia.com/forensik/artikel-forensik.php . 11 Januari 2012. 6) Lembaga Swadaya Masyarakat ( LSM )2010. (Online). [19 Januari 2011]. Diunduh dari :http://www.ireyogya.org/. Diunduh pada 11 Januari 2012.

17